Hai, terima kasih telah me-review JMA chapter 2: Dark Blue Song, Guest, Rise Star, Bigfan, Devia Purwanti, Yanchan, Chalttermore3-23, megu takuma, ochan malfoy, WatchFang, Rin, driccha, Kira, claire nunnaly, Girloflibra, SeiraAiren, zean malfoy, Cecilia Bong, Akane Fukuyama, Yuiki Nagi-chan, Ameliasinta5, lilysander, Fu, Lily Purple Lily, Alf Velyta, a will a. Selamat membaca JMA chapter 3!
Disclaimer: J. K. Rowling
Prequel: KNG 1,2,3,4,5,6,7,8 dan sequel-sequelnya.
JANGAN MENG-IMPERIUS AKU!
Chapter 3
Tanggal: Sabtu, 8 Januari 2023
Waktu: Setelah sarapan.
Tempat: Kamar anak-anak perempuan kelas tujuh Ravenclaw
Dear Diary,
Monster Potter mengajakku kencan, akhirnya. Bukan ajakan kencan ala roman-roman remaja, seperti yang selalu kubayangkan: si pemuda dengan wajah memerah mengajak kencan, dan si gadis juga dengan wajah memerah menerima ajakan kencan itu. Nah, kalau berbicara tentang Potter dan aku, frase 'ajakan kencan' mungkin agak berlebihan. Atau lebih tepat kukatakan frase itu tidak cocok, karena ini bukanlah 'ajakan kencan', tapi sebuah perintah agar aku menemaninya ke Hogsmeade hari ini. Kukira frase 'perintah kencan' lebih cocok untuk menggambarkan situasi kami.
Perintah kencan ini sangatlah tiba-tiba. Baru pagi tadi, saat sarapan, dia menyampaikan perintah itu lewat telepati, sehingga aku tidak bisa mempersiapkan diri. Aku tidak bisa melakukan segala persiapan kencan, seperti yang biasa dilakukan gadis-gadis untuk kencan pertama: luluran, maskeran, manicure, pedicure, creambath,memilih baju, sepatu, make-up. Aku tidak bisa melakukan semua itu. Kukira aku hanya punya waktu beberapa menit untuk sekedar berganti pakaian.
Sebenarnya, aku sungguh-sungguh berharap perintah kencan ini tidak pernah diucapkan Potter, karena aku takut Farley dan para anggota JPLC akan semakin membenciku. Beberapa hari ini, aku memang berhasil menghindari mereka, tapi aku tahu aku tidak bisa menghindar selamanya. Tidak setiap saat seseorang menemaniku berjalan di koridor. Aku juga tidak akan selalu bertemu satu dari anggota keluarga Potter/Weasley, Helen and the gang atau Bryan di perpustakaan dan di Aula Depan. Aku bisa diserang setiap saat. Apalagi jika perintah kencan ini tersebar luas. Aku hanya bisa berharap Potter menyimpan hal itu untuk dirinya sendiri.
Tetapi harapanku sia-sia, karena saat pintu kamarku terbuka dan Rose serta Roxanne masuk, aku langsung tahu bahwa sebagian penghuni Hogwarts sudah tahu bahwa James Potter akan ke Hogsmeade bersama Selina Fluge hari ini.
Aku memandang Roxanne dan Rose dengan kening berkerut. Kurasa para anggota keluarga Potter/Weasley tidak mengenal kata privacy. Mereka selalu ingin tahu dan suka sekali mencampuri urusan orang lain. Orang lain yang dimaksudkan di sini adalah aku. Aku tahu, aku beruntung bisa mengenal mereka karena mereka adalah perisaiku dalam menghadapi Farley dan para anggota JPLC. Tetapi, aku tidak suka seseorang—dalam hal ini beberapa orang—menyelonong, masuk begitu saja ke dalam zona pribadiku. Aku bahkan tidak bisa melewatkan satu hari tanpa berbicara dengan salah satu dari anggota keluarga Potter/Weasley. Mereka selalu menyempatkan diri untuk menyapaku, dan mengambil tiga puluh menit dari waktuku yang berharga hanya untuk menceritakan kisah masa kecil Potter yang membosankan. Kurasa aku akan berpikir lagi; apakah aku akhirnya akan menyayangi mereka, ataukah aku harus bersyukur karena aku tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka.
Kembali pada Roxanne dan Rose yang masuk begitu saja ke kamarku, seakan mereka telah terbiasa melakukan itu seumur hidup mereka. Roxanne berdiri di dekat meja rias sambil mengamatiku dengan serius, seperti sedang mengamati barang dagangan di Diagon Alley. Sementara Rose, dengan bersemangat, melambaikan setelan berkombinasi aneh yang tidak akan pernah kupakai di musim dingin.
"Bagaimana kalian bisa masuk?" Aku bergeser dari tempatku berdiri di depan lemari pakaian. Tadinya aku berniat mencari pakaian paling jelek untuk kupakai sebelum menemui Potter.
"James berkata pada Fred dan Louis bahwa dia akan ke Hogsmeade bersamamu," jawab Roxanne, masih mengawasiku. Kali ini sambil memiringkan kepala ke kiri dan ke kanan seakan sedang memastikan sesuatu.
"Itu tidak menjawab pertanyaannya, Roxy," kata Rose, meletakkan setelan aneh itu di tempat tidur Helen yang kosong. Helen and the gang telah berangkat ke Hogsmeade bersama pasangan masing-masing tepat setelah sarapan. "Aku menjawab teka-teki dengan benar pada kesempatan pertama."
"Oh." Kalau bicara tentang teka-teki Rose adalah ahlinya, aku ragu Roxanne tahu jawaban sebuah teka-teki sederhana.
Aku masih memandang mereka bergantian, tak tahu apa yang harus kulakukan. Yang pasti aku tidak akan mengusir mereka, meskipun aku ingin sekali melakukannya.
"Lalu apa yang kalian lakukan di sini?" aku bertanya, menaikkan alisku tinggi-tinggi, berharap mereka mengerti bahwa aku tidak suka mereka ada di sini.
"Untuk membantumu berdandan," jawab Roxy, tak peduli dengan rasa tak sukaku. Dia melangkah ke arahku dan menarikku ke depan cermin. "Kau hanya punya waktu 15 menit untuk bersiap-siap karena James sudah menunggumu di Aula Depan. Rose, kemarikan pakaiannya!"
"James sudah menunggu? Tapi dia baru saja mengajakku ke Hogsmeade lima menit yang lalu?" Aku menggelengkan kepala, tak percaya.
Roxanne memakai kesempatan untuk mencoba melepaskan pakaianku. Aku menyingkirkan tangannya, sementara Rose sekali lagi melambaikan setelan itu di depanku dengan penuh semangat.
"James mungkin berpikir bahwa kau akan tetap cantik, meskipun hanya memakai karung," kata Roxanne, mendelik. "Tapi aku tidak berpendapat begitu. Kau harus tampil lumayan untuk kencan pertama."
Tampil lumayan? Bukannya cantik?
Seolah mengerti apa yang kupikirkan, Roxanne segera menambahkan, "Aku tidak bisa membuatmu jadi cantik dalam lima belas menit. Sepuluh menit kalau kau bergegas dan tidak mengajak kami berdebat."
"Aku tidak mau memakai itu!" tolakku, memandang setelan aneh itu: rok pendek berenda dengan stoking warna gelap dan sweater berwarna jingga mencolok.
"Selera pakaian Rose memang agak aneh, tapi kau tidak punya waktu untuk membongkar lemarimu."
"Selera pakaianku tidak aneh." Rose mendelik pada Roxanne. "Kukira jingga sangat cocok dengan rambut merah gelap-mu." Dia tersenyum padaku.
Jingga dan merah gelap? Apanya yang cocok!
"Aku akan memakai pakaianku sendiri," aku mengelak, memandang lemari pakaianku. Aku sudah memutuskan untuk memakai rok panjang norak bermotif bunga-bunga Poppy dan sweater rajutan milik Daniel. Aku kan tidak sedang ingin membuat Potter terkesan. Setidaknya warna pakaian itu tidak bertolak belakang dengan warna rambutku.
"Aku sudah bilang kita tidak punya waktu untuk memilih pakaian lain," cegah Roxanne segera, kemudian menyulap kotak kecil yang tampaknya berisi make-up dari udara kosong.
"Aku tidak akan memakai make-up." Aku tidak ingin membuat Potter berpikir aku tampil cantik untuknya.
"Kau akan memakainya." Roxanne mengatakan itu dengan sangat tegas.
Aku mendelik padanya, dia balas mendelik. Lalu, setelah sekitar lima menit berdebat dan saling mendelik, aku akhirnya menyadari bahwa Roxanne Weasley tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya. Jadi, dengan sangat terpaksa aku mengenakan pakaian aneh Rose, didandani oleh Roxanne dan siap berangkat lima menit kemudian.
"Lumayan," kata Roxanne, ketika aku berdiri di depan cermin dan menyesali rokku yang berenda. "Sebenarnya aku bisa membuatmu jadi sangat cantik jika aku punya waktu untuk menata rambutmu. Tetapi kita tidak punya waktu. Kau harus bergegas."
Mereka menyeretku ke pintu ruang rekreasi Ravenclaw bahkan sebelum aku bisa mengambil tongkat sihirku. Dan aku baru ingat bahwa kantong Galleon-ku tertinggal di meja, saat aku tiba di lantai satu. Yah, aku hanya berharap Potter bersedia membelikanku Butterbeer.
Sincerely,
Selina Fluge
PS: Aku tidak bisa kembali untuk mengambil tongkat sihirku, karena Potter sudah melambai padaku di pintu depan.
Tanggal: Sama
Waktu: 10.25 a.m
Tempat: Aula Depan dan jalan ke Hogsmeade.
Dear Diary,
Kurasa James Sirius Potter bukanlah orang yang romantis. Ucapan salamnya adalah: "Pakaian apa yang kaukenakan?" Sebenarnya tidak ada salahnya mengawali pertemuan ini dengan mengatakan 'kau cantik.' Kukira gadis-gadis akan lebih menghargai pemuda yang mengucapkan pujian seperti itu. Meskipun sesungguhnya aku tidak merasa cantik, dengan sweater jingga, rok berenda dan stoking. Setidaknya, dia bisa pura-pura menganggapku cantik, kan?
"Mana mantelmu?" dia bertanya lagi, memandangku dari atas ke bawah, seolah mengharapkan sebuah mantel berwarna kuning menyala muncul begitu saja di depanku.
Aku baru saja ingin berkata bahwa aku akan ke atas untuk mengambil mantel, tongkat sihir, juga kantong Galleon-ku, saat ia menyelaku dan tidak memberiku kesempatan untuk bicara. "Tidak apa-apa. Ayo, kita harus segera berangkat!"
Dia berjalan lebih dulu ke luar kastil, tanpa mempedulikanku yang tertinggal beberapa langkah di belakang. Salju ada di mana-mana, dan dengan tubuh mengigil kedinginan, aku berusaha menyusulnya sambil menyesali pakaian yang dipilihkan Rose untukku. Rok norak bermotif bunga-bunga Poppy dan sweater rajutan Daniel lebih merupakan pilihan yang sempurna untuk musim ini. Dan jika tongkat sihirku ada di sini, aku tentu bisa mencairkan salju ini dan berjalan di tempat kering. Yah, kurasa aku tidak perlu mengkhayalkan yang tidak ada, aku harus bisa menembus salju ini. Namun, mengatakan sesuatu tidaklah semudah melakukannya, karena sepatu boot-ku yang cantik ini sama sekali tidak bisa mencegah salju untuk masuk ke kakiku. Terima kasih, Rose, setelah ini aku akan dibawa ke rumah sakit karena terkena radang dingin. Dan Monster Potter, cowok paling brengsek yang pernah kukenal, sama sekali tidak mempedulikanku. Dia tidak mencairkan salju untukku. Kukira dia bahkan dengan sengaja membawaku melewati salju yang tingginya sampai ke lututku, sehingga stoking warna gelap pilihan Rose ini basah.
"James..."
"Hai, James!"
"Wow, James!"
Suara-suara cempreng itu terdengar dari kiri kami, dan aku bisa melihat Farley juga para anggota JPLC yang berjumlah sekitar delapan orang tersenyum genit pada Potter.
"Hai, apa kabar?" Potter balas melambai. Dan seperti Bowtruckle yang menyerbu telur Doxy, gadis-gadis itu segera menyerbu Potter, bahkan sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
"James, ini pertama kalinya kau menyapa kami."
"Biasanya kau selalu menganggap kami tidak ada. Tapi kami senang akhirnya kau mau berbicara pada kami."
"James, bisakah kau menemani kami seharian ini. Kami akan bersikap manis."
"James, aku ingin sekali foto bersamamu..."
"James, bisakah kau menandatangani tasku?"
"Tenang... tenang, Girls!" Potter mengangkat tangannya, menyuruh rombongan Bowtruckle itu untuk tenang. "Perkenalkan ini Selina Fluge... Kurasa kalian sudah mengenalnya."
"Hai." Aku mencoba bersikap ramah, tapi para Bowtruckle memberiku pandangan tajam. Bahkan ada beberapa yang memberiku pandangan jijik setelah memandangku dari atas ke bawah. Ya, aku memang tidak mengharapkan kalian menyukaiku.
"Mereka akan menemani kita hari ini. Kau tidak keberatan, kan?" Potter bertanya padaku. Kukira hanya sekedar basa-basi karena dia tahu aku tidak akan keberatan.
Aku mengangguk.
"Oke, Girls," kata Potter lagi. "Ayo ke Hogsmeade!"
Para Bowtruckle berjalan berdampingan dengan Potter sambil tertawa genit mendengarkan lelucon tak lucu yang diceritakan Potter. Sedangkan aku, berjalan agak ke belakang mencari celah untuk kembali ke Hogwarts. Kurasa Potter tidak akan merasa kehilangan, karena para Bowtruckle tentu akan membuatnya sibuk.
Jangan coba-coba kembali ke Hogwarts. Tetap ikuti aku!
Dengan perintah itu, Potter sudah menutup semua kemungkinan yang kumiliki untuk kembali ke Hogwarts. Duduk di depan perapian ruang rekreasi dengan sebuah selimut tebal hanyalah tinggal khayalan.
Sincerely,
Selina Fluge
PS: Aku bertanya-tanya mengapa Potter memaksaku ke Hogsmeade kalau dia sama sekali tidak ingin bersamaku. Dia tampaknya lebih suka ditemani para anggota JPLC, daripada ditemani olehku.
Tanggal: Sama
Waktu: 11.00 a.m
Tempat: Hogsmeade.
Dear Diary,
Aku tidak sanggup lagi melangkah. Tubuhku sudah hampir membeku kedinginan. Kurasa aku memilih untuk berbaring di atas salju, jika Potter tidak segera mengajak kami ke tempat yang hangat. Para Bowtruckle dengan penuh semangat mengusulkan tempat minum teh Madam Puddifoots, tetapi dengan bijaksana Potter menolaknya. Dia lalu mengusulkan tempat yang lebih masuk akal, yaitu Three Broomsticks. Jadi, kami masuk ke Three Broomsticks—aku dengan tertatih-tatih—dan memesan Butterbeer. Beberapa saat kemudian, dengan penuh syukur, aku duduk bersandar di sebuah kursi dan sebuah kaleng Butterbeer hangat ditangan.
"James, setelah ini kita Honeydukes, ya!"
"Bagaimana kalau Gladrags Wizardwear? Aku ingin membeli jubah baru."
"Madam Puddifoots..."
"Kantor Pos..."
"Ke Dominic Maestro's saja, James. Ada lagu baru Snow Plan yang sering diputar di radio. Kita bisa membeli CD-nya di sana."
Para Bowtruckle kembali bercicit dengan ribut, berebutan menyampaikan pendapat ke mana mereka akan pergi setelah ini, pada Potter, yang tampaknya menikmati Butterbeernya dengan santai. Sementara aku benar-benar tak tahan lagi. Aku ingin sekali menyingkir dari tempat ini. Tetapi tidak ada seorangpun yang bisa menyelamatkan aku dari ini. Tidak ada para anggota keluarga Weasley/Potter, Helen and the gang dan Bryan. Aku terjebak di sini sampai Potter memutuskan ke mana lagi kami akan pergi.
"Lagu baru Snow Plan?" Potter memandang Farley dengan tertarik.
"Sebenarnya bukan lagu baru..." Farley tersenyum manis, karena perhatian Potter sekarang tertuju padanya. Para Bowtruckle yang lain tampak sebal. "Lagu itu adalah single lain dari album Dekat dengamu."
"Itu adalah lagu ballad yang benar-benar bagus, James," kata seorang gadis pirang Ravenclaw.
"Judulnya Jika, dan liriknya sungguh menyentuh. Kau harus mendengarkannya," sambung yang lain.
Potter tak menjawab, tapi memandangku yang duduk di depannya.
"Kau tahu lagu itu?" dia bertanya.
Aku tak bisa mengerutkan kening atau memelototinya, tapi aku ingin sekali melakukannya. Sebenarnya apa yang dia pikirkan? Dia tidak akan menyuruhku menyanyikan lagu itu, kan?
"Oh, Selina Fluge tahu lagu itu." Seorang gadis kelas tiga Ravenclaw dengan sukarela segera menyampaikan informasi. "Dia sering menyenandungkan lagu itu saat lewat di koridor."
"Benarkah?" Potter masih memandangku. "Aku belum pernah mendengarmu bernyanyi."
Oh Circe, aku tahu dia akan menyuruhku menyanyikan lagu itu.
"Suaranya sangat jelek..." tukas Farley sebal. "Kau tidak akan tahan mendengar suaranya yang seperti suara kodok."
Ya, Farley, bagaimana denganmu? Apakah suaramu seperti suara malaikat?
"Tapi aku ingin mendengarnya bernyanyi..."
Tidak. Tidak. Kumohon jangan menyuruhku menyanyi di sini, di depan banyak orang yang sebagian bukanlah murid Hogwarts. Aku berjanji akan menyanyi khusus untukmu setelah kita kembali ke Hogwarts.
Bangun! Mainkan musiknya dan mulailah bernyanyi!
Aku tak ingin melakukannya, tapi aku harus melakukannya. Aku bangun, berjalan menuju Jukebox yang terletak di dekat bar dan memandang benda itu dengan bingung. Aku bisa mendengar para Bowtruckle mengeluarkan cicit kesenangan. Senang, karena aku tampak seperti orang bodoh.
Apa yang kaulakukan? Mainkan musiknya!
Apa yang kauharapkan dariku, Mister? Bagaimana aku bisa memutar musiknya kalau aku tidak memiliki tongkat sihir?
"Tampaknya dia tidak membawa tongkat sihirnya," seseorang di belakangku berseru dan aku bersyukur karena akhirnya Potter menyadari keadaanku.
Potter melangkah ke arahku. "Mengapa kau tidak membawa tongkat sihirmu?" tuntutnya setelah tiba di dekatku.
Kau tidak memberiku kesempatan untuk kembali mengambilnya.
Dia memandangku dari atas ke bawah, berlama-lama pada stokingku yang basah dan kembali memandang wajahku. Aku sungguh berharap dia mengayunkan tongkat sihirnya untuk mengeringkan stoking dan sepatuku. Tetapi dia tidak melakukannya, dia malah mengacungkan tongkat sihir pada dirinya sendiri sambil bergumam "Sonorus."
Brengsek!
"Perhatian," dia berkata, suaranya terdengar keras. Kukira orang yang berbelanja di luar Three Broomsticks bisa mendengarnya. "Temanku, Selina Fluge, akan mempersembahkan sebuah lagu untuk para pengunjung Three Broomstick," dia melanjutkan setelah mendapatkan perhatian penuh dari semua orang di ruangan itu. "Dan inilah dia Selina Fluge dengan Jika. Selamat mendengarkan!"
Tepuk tangan yang antusias memenuhi tempat itu. Tidak setiap hari ada murid Hogwarts yang bernyanyi di bar ini, kukira. Dan aku adalah orang pertama yang akan melakukannya. Tentu saja, ini adalah rencana Potter untuk mempermalukanku di depan orang-orang ini. Dia tahu aku demam panggung dan dia tahu suaraku tidaklah semerdu Celestina Warbeck. Tetapi, aku sedang di-Imperius, aku harus melakukannya. Aku harus bernyanyi, meskipun mereka akan menertawakanku setelah ini.
Setelah men-Sonorus-ku dan mengacungkan tongkat sihirnya pada Jukebox, Potter segera kembali ke tempat duduknya. Sementara aku berdiri disana, mendengarkan denting piano dengan konsentrasi penuh. Aku memusatkan seluruh perhatianku pada musik dan mulai bernyanyi:
Jika semuanya harus berakhir, jika aku harus pergi
Maukah kau melepaskanku? Maukah kau melupakanku?
Ataukah kau berpikir aku tidak memiliki keberanian untuk pergi darimu?
Aku ingin segalanya berakhir, karena ini begitu menyiksa
Kau mengurungku dalam sebuah sangkar yang indah
Dengan cinta dan kehangatan palsu
Aku ingin kembali terbangun, terbebas dari semuanya
Karena aku mengharapkan cinta sejati dan kasih sayang nyata
Bisakah kau memberikannya?
Jika aku tak ingin semuanya berakhir, jika aku tak ingin melepasmu
Maukah kau mendengarkanku? Maukah kau tetap di sini?
Ataukah kau berpikir aku tidak memiliki keberanian untuk sungguh-sungguh mencintaimu?
Jika, jika itu yang terjadi, biarkan aku pergi
Dan lupakanlah aku selamanya...
Aku menghentikan nyanyianku bersama denting piano terakhir. Tepuk tangan memenuhi ruangan dan beberapa pengunjung memberikan standing ovation. Oh, kurasa suaraku jauh lebih baik dari suara kodok. Tepuk tangannya tidak akan semeriah ini, jika mereka tidak puas mendengarkan nyanyianku.
Dengan penuh percaya diri, aku tersenyum dan melambai pada para penonton, seperti penyanyi tenar yang baru saja selesai menyanyikan sebuah lagu di panggung besar. "Terima kasih... Terima kasih!"
Jangan bergaya! Ayo kembali!
Aku melangkah ke tempat dudukku, setelah mengumpat dalam hati. Potter rupanya tidak ingin berbagi ketenaran. Para Bowtruckle mendelik padaku, saat aku kembali duduk di dekat mereka, sementara Potter dengan wajah tanpa ekspresi mengangkat Mantra Pengeras Suara itu dariku.
"Suaramu benar-benar merdu," kata Potter tiba-tiba, membuatku dan para Bowtruckle tersentak.
Oh, benarkah pendengaranku ini? Apakah dia baru saja memujiku?
"Tidak perlu memandangku seperti itu," katanya lagi, tampak sebal. "Seharusnya kau mengucakan terima kasih, kan?"
Ucapkan terima kasih!
"Terima kasih," kataku dengan nafas tertahan. Dan tiba-tiba saja seluruh darah seolah terpompa ke wajahku. Wajahku terasa sangat panas.
Nah, nah, aku tidak memerah hanya karena dipuji Potter, kan?
Aku tidak punya waktu untuk memikirkan itu karena para Bowtruckle, yang tampaknya tidak ingin aku menjadi pusat perhatian Potter, kembali ribut menyuarakan keinginan mereka.
"James, lagu itu bagus, kan? Kita bisa ke Dominic Maestro's untuk membeli CD-nya."
"James, menurutku kita ke Honeydukes saja. Kita tidak bisa melewatkan permen-permennya."
"James, bagaimana kalau kita ke kantor Pos? Menurut pamanku yang bekerja di sana, kantor Pos baru saja mengimpor burung hantu dari Asia."
"James, aku lebih suka kita ke Gladrags Wizardwear. Ada beberapa gaun malam yang ingin kucoba... Kau bisa memilihkannya untukku."
"James, menurutku—"
"James, ada sesuatu yang ingin kubeli di Dogweed and Deathcap."
"James, aku—"
James ini, James itu... Apakah para Bowtruckle ini tidak bosan?
"Oke, oke..." Potter menenangkan mereka, seperti seorang guru yang menenangkan sekumpulan anak-anak prasekolah yang hiperaktif. "Catat apa yang ingin kalian beli di sini!" Potter menyulap sebuah perkamen dan pena bulu dari udara, lalu memberikannya pada Farley, yang dengan senang hati menerimanya.
Para Bowtruckle beramai-ramai menyampaikan apa-apa saja yang mereka inginkan pada Farley, yang mencatatnya dengan penuh semangat. Aku memandang mereka dan mereka-reka dalam hati, apa yang akan dilakukan Potter. Aku yakin Potter cukup mampu membelikan barang-barang dalam daftar. Tetapi dia tidak akan melakukan itu, kan? Dia tidak akan mengeluarkan Galleon hanya untuk menyenangkan fangirl-nya, bukan?
"Nah, Selina, ambil ini!" Potter menyerahkan perkamen yang telah selesai ditulis Farley itu padaku.
Apa? Dia tidak akan melakukannya, kan? Dia tidak akan menyuruhku berkeliling toko untuk membelikan sesuatu bagi fangirl-nya, kan?
"Belikan mereka barang-barang yang ada dalam daftar! Kami akan menunggumu di sini!"
Tidak. Aku tidak mau melakukannya. Kumohon, jangan menyuruhku melakukan ini!
"Apa yang kaulakukan? Pergilah!"
Kau mendengarku, pergi sekarang!
Sekali lagi aku bangun dari tempat dudukku dengan terpaksa. Kali ini bukan menuju Jukebox, tapi menuju pintu keluar. Aku langsung disambut oleh angin dingin yang membekukan, saat pintu bar mengayun tertutup di belakangku. Dan dengan daftar belanja di tangan, aku berjalan menuju Honeydukes. Menggigil kedinginan setiap kali kakiku melangkah. Setibanya aku di pintu depan Honeydukes, barulah aku sadar bahwa mereka tidak memberiku Galleon. Bagaimana aku bisa berbelanja, jika aku sendiri tak memiliki Galleon?
Aku berdiri di emperan Honeydukes, seperti orang bodoh, sambil memikirkan apa yang harus kulakukan. Aku tidak bisa kembali karena ini adalah perintah langsung; aku baru bisa kembali setelah aku mendapatkan barang-barang dalam daftar. Tetapi aku juga tidak bisa selamanya berdiri di sini dan bersikap seperti semuanya baik-baik saja.
"Selina!" seseorang memanggilku. Ah suara ini, begitu hangat dan menenangkan.
"Bryan," aku mendesah lega, memandang Bryan yang sedang berjalan cepat ke arahku.
"Apa yang terjadi?" Bryan memandangku dari atas ke bawah dan mengerut kening. "Wajahmu membiru... Kau kedinginan." Dia mengambil tongkat sihirnya dan memproduksi udara hangat untukku, membuat stoking dan sepatu bootku kering seketika. Setelah itu, dia melepaskan mantelnya dan menyelubungi tubuhku dengannya. "Kau baik-baik saja, kan?"
Sikap Bryan yang penuh perhatian dan kepeduliannya membuatku terharu.
"Bryan..." Aku memeluknya dengan erat, dan membiarkan airmata mengalir deras di pipiku. "James... James, dia—"
"Shutt, sudahlah, aku mengerti," kata Bryan halus, mengusap punggungku.
Aku tidak tahu apa yang dimengerti Bryan, tapi aku tidak akan bertanya, karena aku sendiri tidak mengerti. Aku tidak tahu apa yang kutangiskan. Kuharap aku tidak sedang menangisi kencan yang buruk ini. Terlebih lagi, aku ingin berharap, aku tidak menangisi Potter yang lebih mengutamakan para Bowtruckle daripada aku.
"Nah sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Bryan, setelah aku melepaskan diri dan mengeringkan airmataku.
"Aku harus membeli barang-barang dalam daftar ini..." Aku menunjukkan daftar belanja padanya. "tapi aku lupa membawa Galleon... Bisakah kau meminjamiku beberapa Galleon? Aku akan segera menggantinya setelah kita kembali ke Hogwarts. Aku punya—"
"Baiklah," sela Bryan cepat, mengambil daftar belanja dari tanganku, membacanya sebentar, lalu mengangkat wajah beberapa detik kemudian. "Kau tampak berbeda..." Dia memandangku dari atas ke bawah. "Kau cantik..."
Belum pernah ada yang mengatakan aku cantik. Tidak saat bekas airmata masih menempel di pipiku dan aku sendiri tidak merasa cantik. Tapi, meskipun Bryan sedang berbohong, aku tak peduli. Aku senang.
"Er, terima kasih..."
Dia tersenyum dan mengedipkan mata. "Tentunya kita tidak boleh melewatkan kesempatan untuk memamerkanmu, bukan? Ayo. Kita berkencan sambil berbelanja..."
Diary, kurasa hari ini tidak sepenuhnya buruk.
Bryan dan aku menghabiskan dua jam berkeliling toko-toko di Hogsmeade untuk mencari barang yang ada dalam daftar. Aku bersenang-senang, melupakan Potter dan para Bowtruckle yang sedang menungguku di Three Broomsticks. Persetan dengan mereka! Kami malah berlama-lama di Dominic Maestro's, toko terakhir dalam daftar, mendengarkan Snow Plan dengan Jika-nya.
"Mana Potter? Seharusnya kau bersamanya, bukan?" tanya Bryan, saat kami keluar dari Dominic Maestro's.
Aku sebenarnya berharap nama Potter tidak akan disebutkan. Merusak suasana saja!
"Dia di Three Broomsticks," jawabku apa adanya. "Bagaimana denganmu? Kau bersama Yolanda, kan?"
"Yolanda kembali ke Hogwarts lebih cepat. Ada beberapa hal yang harus dilakukannya."
Kami terus melangkah menjauhi Dominic Maestro's, dengan Bryan memegang sebagian besar dari kantong-kantong belanjaku.
"Omong-omong, mengapa Potter tidak menemanimu belanja?" tanya Bryan, terus membicarakan Potter. Nama yang sangat ingin kuhindari.
"Oh, dia sibuk," jawabku. Sibuk bersama para Bowtruckle.
Dia memandangku, mengangguk. "Aku mengerti..." katanya seakan dia mengerti banyak hal yang tidak kuketahui.
Gaya sok mengerti Bryan membuatku agak sebal. Tetapi, aku cepat-cepat membuang perasaan itu dan tersenyum padanya.
"Kau tidak mengerti, Bryan," kataku sabar. "Ada beberapa hal yang sulit dikatakan..."
"Sebenarnya aku mengerti, Selina," katanya, berkeras. "Aku tahu kau melakukan apapun untuk Potter, karena kau sangat mencintainya. Itu daftar belanja milik Potter, kan?"
"Kalau kau yakin, ya..." Aku tak ingin menjelaskan bahwa ini adalah daftar belanja para anggota JPLC. Kalau Bryan membaca daftar belanja ini dengan benar, dia tentu akan melihat bahwa pembalut wanita berada di daftar nomor sepuluh, dan Potter tidak mungkin memakai pembalut wanita.
"Mengapa kau melakukan ini, Selina?" Bryan berhenti melangkah dan menatapku. "Potter tidak mencintaimu... Dia memanfaatkanmu... Dia hanya menjadikanmu—" dia mencari kata yang tepat. "—pesuruhnya."
"Dia mencintaiku," kataku yakin, teringat apa yang dikatakan Potter saat kami duduk di tangga batu yang menuju halaman Hogwarts. "Hanya saja caranya menunjukkannya agak berbeda."
Aku tidak yakin mengapa aku mengatakan itu, tapi aku tidak bisa mengatakan hal lain selain itu.
"Kau yakin, kau bisa bertahan dengannya?"
"Ya... sampai dia melepaskanku..." Sampai kutukan Imperius ini terlepas dariku.
"Mengapa bukan kau yang melepaskan diri darinya? Kau bisa mengakhirnya sekarang, Selina."
"Aku tidak bisa, Bryan... aku terikat padanya. Dia adalah—" tuan atas tubuh dan pikiranku.
"Orang yang kaucintai? Ya, aku tahu..." Bryan tampak benar-benar kesal.
"Maafkan aku, Bryan!"
"Oh, tidak usah minta maaf... Aku tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang."
Kami bertatapan beberapa saat. Aku ingin sekali menjelaskan situasiku pada Bryan. Ingin dia mengerti. Tetapi, aku tidak bisa melakukannya.
"Jika... Yah, jika suatu saat nanti Potter melepaskanmu, kau bisa datang padaku."
Aku ingin bersorak gembira mendengar kata-kata itu, tetapi tidak bisa. Sesuatu menghambatku.
"Bagaimana dengan Yolanda?" tanyaku heran.
"Kenapa dia? Dia baik-baik saja..."
"Bukankah kalian berkencan?"
"Kami berkencan, tapi ini tidak seperti yang kaupikirkan."
"Bryan, aku berterima kasih karena kau sangat baik padaku. Tapi aku tidak bisa melihat Yolanda sedih..."
"Baiklah, aku mengerti..."
"Apa yang kau mengerti?" tanyaku, menahan diri untuk tidak menaikkan nada suaraku.
"Aku tahu, kau tidak akan meninggalkan Potter. Tidak ingin melihat Yolanda sedih hanya alasanmu saja."
"Itu berarti kau sama sekali tidak mengerti," seruku, sebal.
Bryan memandangku, terkejut.
"Kau sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, dan apa yang tidak terjadi... Menurutku, ini bukan tentang James dan Yolanda, tapi kita. Kalau kau benar-benar menyukaiku, kau tidak akan pergi ke Yolanda, saat aku sangat membutuhkan kehadiranmu. Seharusnya kau percaya padaku, tetap menungguku. Tetapi apa yang kaulakukan? Aku di—" Imperius. "—aku tidak bahagia, dan kau malah menghindariku."
Dia mendelik. "Apakah kau tahu bagaimana perasaanku melihatmu berpelukan dan berciuman dengan Potter di koridor? Kalian bahkan tidak berusaha untuk menyembunyikan hubungan kalian. Dan kau memintaku menunggumu? Sampai kapan, hah? Beri aku waktu yang tepat!"
"Aku hanya ingin kaupercaya padaku... Percayalah padamu!" Kami bertatapan dan sesuatu dalam matanya membuatku tahu bahwa aku tidak punya harapan. "Tetapi karena kau merasa itu sulit, dan karena kurasa Yolanda bisa menghiburmu, ya sudah, aku tidak akan peduli lagi!" Aku menyambar kantong-kantong belanja dari tangannya dan berjalan terhuyung-huyung menghindari orang-orang yang lalu-lalang di jalanan Hogsmeade.
"Sialan! Selina, kau tidak bisa pergi begitu saja, kita masih harus bicara!"
Aku mendengar Bryan memanggilku, tapi syukurlah, dia tidak menyusulku. Aku tidak ingin bicara dengannya sekarang.
Three Broomsticks masih sama seperti saat kutinggalkan tadi, tapi Potter dan para Bowtruckle telah menghilang. Benar-benar cowok brengsek! Teganya dia meninggalkanku. Aku membanting kantong-kantong belanja di salah satu meja dan mengenyakkan diri di kursi dengan sebal.
"Miss Fluge, kan?" Madam Rosmerta, yang wajah dan bentuk tubuhnya tidak berubah sejak dulu, sudah berdiri di depanku. "Mr Potter menitipkan tagihan ini untukmu... " Dia menyerahkan carikan perkamen yang berisi tagihan untuk sebelas kaleng Butterbeer.
Aku menerima tagihan itu sambil memaki-maki Potter dalam hati. Nah, bagaimana aku bisa membayar tagihan ini? Kalau saja aku tidak membuat Bryan marah...
"Er, terima kasih!" Aku tersenyum ceria pada Madam Rosmerta, yang balas tersenyum, lalu kembali ke balik bar.
Sejujurnya, tak ada lagi Galleonku yang tersisa. Aku berencana memberikan semua Galleonku pada Bryan untuk mengganti Galleon yang telah kuhabiskan hari ini. Dan aku tidak bisa hanya membayarnya separuh, setelah apa yang terjadi tadi. Kurasa aku harus berbicara pada Madam Rosmerta tentang ini. Kalau saja, dia memerlukan seseorang untuk mencuci piring atau membersihkan penginapan di lantai atas?
Pintu bar terbuka dan Albus Potter masuk dengan seorang gadis Hufflepuff yang bergantung manja di lengannya. Oh, Al, malaikat penyelamatku.
"Al..." Hampir saja aku menjerit kegirangan. Aku segera berjalan menghampirinya.
"Selina?" Al memandangku dengan heran. "Mana James?"
"Entahlah... Pinjamkan aku Galleon!" kataku langsung.
"Ha?" Mulut Al terbuka lebar, lalu cepat-cepat menutupnya. "Mengapa aku harus meminjamkanmu Galleon?"
"Aku harus membayar Butterbeer. Ayolah, Al, nanti James akan mengganti Galleonmu!"
"Tidak mau... James orangnya kikir. Mana mau dia mengganti Galleonku..."
"Kau kan bisa langsung mengambilnya sendiri dari kantong Galleon-nya."
"No way, aku bukan pencuri! Ayo, Crissy!" Al dan cewek Hufflepuffnya segera berjalan pergi, mencari meja yang jauh dariku.
Sial!
Dan sebuah ide cemerlang segera masuk ke otakku. Aku tidak akan melakukan hal ini kalau aku masih Selina Fluge yang dulu saat belum bergaul dengan para Potter/Weasley. Namun, karena para Potter/Weasley ada di dekatku setiap hari, aku merasa agak seperti mereka. Dan kalau salah satu dari mereka mengalami kejadian seperti yang kualami sekarang, aku yakin mereka akan melakukan hal yang sama.
Aku segera berjalan menuju bar.
"Madam," aku menyapa Madam Rosmerta, yang sibuk menuangkan minuman dalam gelas.
"Miss Fluge?"
"Tagihan ini..." Aku meletakkan carikan perkamen berisi tagihan itu di meja bar, "akan dibayar oleh Albus Potter. Anda mengenalnya, kan? Dia yang duduk bersama cewek berambut merah..." Aku mengangguk pada Al, yang duduk di meja paling jauh dari meja bar.
"Aku tahu... Dia sangat mirip Harry..." Madam Rosmerta memandang Al dengan pandangan menerawang. Mungkin sedang mengingat kisah lama yang melibatkan James Potter senior dan Harry Potter.
"Ya, dia..." kataku segera. "Wajahnya memang sangat mirip Harry Potter." Aku belum pernah melihat Harry Potter secara langsung, tapi Madam Rosmerta takkan tahu itu. "Dia akan membayar tagihan ini... Nah kalau begitu aku pergi dulu!"
Madam Rosmerta masih memandang Al. Dan aku, dengan gerakan secepat kilat, segera berlari ke mejaku, menyambar kantong-kantong belanja dan kabur ke pintu, sebelum Madam Rosmerta berubah pikiran.
Oh, ya ampun, mengapa rasanya aku seperti penjahat?
Di luar Three Broomsticks, aku langsung berhadapan dengan Potter yang tanpa basa-basi menyambar lenganku dan membawaku menuju jalan kecil yang menuju Hog's Head.
Hei, hei! Oh, tidak... Dia tidak akan membawaku ke Hog's Head, kan?
"Kita akan minum-minum untuk merayakan kencan pertama kita," katanya datar.
Kencan yang tidak pantas untuk dirayakan.
Para Bowtruckle sudah ada di dalam bar Hog's Head yang remang-remang, duduk mengelilingi meja yang tampaknya tak pernah dibersihkan. Mereka menyapa Potter dengan riang dan mendelik padaku.
"Ini belanjaan kalian, Girls," kata Potter, mengambil kantong-kantong belanja dari tanganku dan meletakkannya di meja.
Dan tanpa berterima kasih padaku, para Bowtruckle segera berebutan mencari pesanan mereka. Beberapa detik kemudian, mereka mulai memprotes.
"Apa ini? Ini bukan permen yang kuinginkan. Aku ingin permen rasa melon, bukan rasa lemon. Apakah kau tidak bisa membaca dengan benar, Fluge?"
"Fluge, ini bukan parfum yang kuinginkan."
"Fluge, mengapa kau membelikanku pena bulu elang, aku ingin pena bulu burung unta..."
"Fluge, bukan ini yang kuinginkan..."
"Fluge, kau salah membelikan—"
"Fluge—"
Aku menulikan telingaku, berpura-pura tak mendengar protes itu dengan memikirkan apa yang akan dilakukan Al saat dia menyadari aku telah menipunya. Kurasa dia akan marah besar.
"Tenang, semua," suara Potter mengagetkanku dari khayalan tentang Al yang memantraiku dengan Kutukan Cruciatus saking dendamnya. "Sekarang saatnya untuk minum-minum... Selina akan mentraktir kita!"
Selina akan mentraktir kita? Dia bercanda!
Para Bowtruckle bersorak gembira. Mereka segera memesan Wiski Api, saling bersulang dan menghabiskan gelas masing-masing. Aku terpaku di tempat. Bagaimana ini? Aku tidak bisa terjebak dalam situasi yang sama untuk kedua kalinya. Baiklah, aku hanya punya satu cara: minum sampai pingsan. Potter tidak akan memaksaku membayar Wiski Api kalau aku pingsan.
Aku menyambar botol Wiski Api di atas meja, meneguknya sampai habis dan langsung terjatuh ke lantai beberapa detik kemudian.
Sincerely,
Selina Fluge
PS: Kuharap Potter bisa bersikap ksatria dengan tidak meninggalkanku sebagai jaminan di bar ini.
Tanggal: Sama
Waktu: 3 p.m
Tempat: Sama.
Dear Diary,
Baru kali ini aku mengalami sakit kepala yang benar-benar menyiksa. Rasanya seperti ada ribuan palu yang secara bersamaan menghantam kepalaku. Susah sekali untuk duduk, bahkan untuk membuka mata, tanpa mengalami rasa pusing yang hebat. Tetapi aku tidak bisa berbaring di sini selamanya. Aku harus bergerak. Aku mencoba untuk duduk, lalu meringis saat rasa pusing itu datang.
"Kau sudah bangun?"
Mendengar suara ini, berhasil membantuku mengalahkan sakit kepala. Aku duduk tegak dengan mata berkunang-kunang, tapi berhasil memandang Potter beberapa detik kemudian.
"Minum ini!" Dia duduk di sisi tempat tidurku dan meletakkan ramuan berbau tajam di bawah hidungku.
"Tidak mau..." Aku berusaha mendorong tangannya.
"Ini ramuan untuk hangover, kau harus meminumnya."
Dia menuangkan minuman itu ke tenggorokanku dan aku terpaksa menelannya. Rasanya aneh, seperti kulit kayu mentah. Tetapi aku bisa menikmati khasiatnya beberapa detik kemudian. Sakit kepalaku berkurang dan anggota tubuhku yang lain kembali berfungsi. Pikiranku mulai terbuka, mengingat beberapa hal yang sudah terjadi, dan dengan tersentak, sadar bahwa Potter duduk sangat dekat denganku.
"Apa yang kaulakukan di kamarku?" gertakku, menarik selimut sampai ke bawah daguku.
"Kamarmu?" Potter mengangkat alis.
Aku memandang berkeliling dan saat itulah aku menyadari bahwa aku tidak ada di kamarku. Aku bukan berbaring di tempat tidurku, tapi di atas permukaan datar yang tampaknya adalah batu.
"Di mana kita?" tanyaku.
"Dalam goa..." jawab Potter, menjauh dariku dan meletakkan gelas ramuan di atas meja batu di tengah ruangan.
Ya, aku memang berada dalam sebuah goa sempit yang tidak dalam, karena aku bisa melihat langit berawan di mulut goa. Selain tempat tidur batu dan meja batu, di ruangan itu juga ada sebuah kursi empuk yang terletak di seberang tempat tidur. Kursi itu adalah satu-satunya benda di tempat ini yang tidak terbuat dari batu.
"Apa yang kita lakukan di sini?" tanyaku, memandang berkeliling dengan cemas. Biasanya tempat-tempat seperti ini sangat tidak bisa dipercaya. Ada banyak ular dan berbagai binatang melata lainnya.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan, kau aman di sini," katanya, memandangku dari kursi tempatnya duduk. "Ini adalah goa tempat Sirius Black bersembunyi dari kejaran para Auror tahun 1994... Aku sering datang ke sini kalau sedang mabuk, atau sedang ingin sendiri. Ini adalah tempat rahasiaku." Dia memandang cerukan di dinding, di mana berjejer botol-botol minuman dan ramuan, juga beberapa makanan ringan dalam plastik.
"Tapi, bagaimana aku bisa ada di sini?" tanyaku, tak peduli bagaimana Potter telah menjadikan goa ini tempat peristirahatan.
"Kau mabuk jadi aku membawamu ke sini..."
"Mengapa kau membawaku ke sini? Mengapa kau tidak membawaku kembali ke Hogwarts?" tuntutku, menjauhkan selimut dariku dan duduk di pinggir tempat tidur seraya memandangnya dengan tajam.
"Aku tidak mau seluruh Hogwarts tahu kau mabuk," jawabnya santai. "Seharusnya kau berterima kasih, karena tidak mudah membawamu dari Hog's Head ke sini. Aku harus menggendongmu di punggungku, mendaki bukit terjal dan—"
"Tak masalah. Kau memang menginginkannya. Kau sengaja membuatku mabuk, bukan?"
"Aku tidak membuatmu mabuk... Kau sendiri yang menghabiskan sebotol Wiski Api."
"Yeah, kalau kau tidak memaksaku membayar minuman, aku pasti tidak akan melakukannya."
Dia mengerutkan kening.
Aku segera melanjutkan, memberinya pandangan mencela, "Apakah kau selalu menyuruh teman kencanmu untuk membayar minumanmu?"
"Tidak, bukan begitu..."
"Aku heran, bagaimana cewek-cewek itu tetap mau berkencan denganmu... Kau—" Aku menudingnya dengan dramatis. "—benar-benar brengsek! Kau bahkan menyuruhku berbelanja untuk fangirl-mu."
Dia menggelengkan kepala. "Aku lupa membawa Galleon..." katanya pelan, wajahnya memerah. "Aku—yeah, ini kencan pertama kita, jadi aku sangat bersemangat dan—" Dia berhenti bicara dan mengalihkan pandangannya ke mulut goa.
Bagus, kami sama-sama lupa membawa Galleon, meskipun dengan alasan yang berbeda.
"Setidaknya kau membawa tongkat sihir dan mantel. Aku bisa saja mati kedinginan setiap saat dan kau bahkan tidak menyadarinya," kataku agak menyesal, seraya menggelengkan kepala.
"Aku tahu kau tidak mati kedinginan... Eastley memberikan mantel itu padamu, kan?"
Aku menunduk memandang pakaianku dan menyadari bahwa aku masih memakai mantel Bryan.
"Bagaimana kau mengetahuinya?"
"Aku pergi mencarimu untuk memberikan Galleon dari Gemma dan teman-temannya. Aku melihatmu dan—" Dia berhenti bicara, mengangkat bahu dan melanjut, "Kau terlihat lebih bahagia bersama Eastley daripada bersamaku."
"Wajar saja, aku menyukainya..."
"Aku takkan pernah punya kesempatan, kan?" Dia menghela nafas. "Nah, karena itu kau harus tetap berada di sisiku sampai aku merasa bosan... Kencan ini memang tidak berakhir dengan baik, tapi kita masih punya banyak waktu."
"Kencan kita tidak akan seburuk ini, kalau kau tidak mengajak fangirlmu bergabung. Kau yang membuatnya jadi buruk!" Sekali lagi aku menudingnya.
Dia bergerak tak nyaman di kursinya, tampak salah tingkah. "Aku bingung dan gugup," katanya. "Kita tidak pernah keluar berdua saja, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan denganmu. Jadi, aku mengajak Gemma dan teman-temannya untuk menemani kita."
Aku menatapnya, tak percaya. "Kau mengajak mereka karena kau tidak ingin berdua saja denganku? Tak bisa dipercaya. Jangan ajak aku keluar kalau kau tidak ingin bersamaku!"
"Kau salah mengerti," katanya cepat. "Aku suka keluar bersamamu, tapi aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Kita kan tidak mungkin hanya duduk saja, saling berpandangan, atau berciuman, atau—"
"Kita kan bisa saling bicara..."
"Bicara? Siapa? Aku?" Dia menaikkan alis. "Aku tidak ingin melakukan pembicaraan satu arah..."
"Tidak apa-apa, kan? Kau bisa bercerita tentangmu dan keluargamu. Aku senang mendengar ceritamu tentang mereka... Dan lagi, berbicara tentang Galleon, ada kencan yang tidak memerlukan Galleon, kita bisa ke Shrieking Shack, atau—" Aku berhenti bicara karena dia memandangku dengan aneh. "Apa?"
"Nah, Miss Fluge, mendengarmu bicara seperti ini, kurasa kau sebenarnya senang keluar bersamaku."
Aku menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak, aku tidak senang... Aku hanya ingin memberitahumu bahwa ada banyak tempat yang bisa dikunjungi dan juga, Galleon bukanlah segalanya. Omong-omong, siapa yang membayar Wiski Apinya?"
"Al..." Potter kelihatannya salah tingkah. "Er, aku meninggalkan tagihannya untuk dibayar Al. Dia kebetulan ada di sana bersama, er, pacar Hufflepuffnya."
"Oh..." Dari sikap Potter, aku tahu, dia melakukan persis seperti yang sudah kulakukan dengan tagihan Butterbeer itu. Kasihan Al, dia pasti murka.
Kami tenggelem dalam pikiran masing-masing selama beberapa saat. Aku memikirkan reaksi Al, sedangkan Potter berlama-lama memandangku.
"Jadi, kapan kau mau melepaskanku?" tanyaku merasa kurang enak, karena terus dipandangi. "Aku tidak bisa di-Imperius selamanya—"
Aku tersentak, berhenti bicara dan memandangnya. Kutukan Imperius! Aku tidak merasakan kutukan itu. Aku tidak terikat kutukan itu lagi. Tubuh dan pikiranku adalah milikku sekarang. Pantas saja aku banyak bicara.
"Aku melepaskan kutukan itu saat kau pingsan," katanya, menyadari apa yang kupikirkan.
"Oh..."
"Ini hanya untuk sementara, aku belum akan melepaskanmu. Aku hanya ingin mendengarmu bicara tanpa harus terikat pada kutukan itu."
"Oh..." Dia belum akan melepaskanku. Baik, yang perlu kulakukan adalah memberitahu seseorang sebelum aku kembali di-Imperius.
Kami saling pandang beberapa detik. Aku menghitung sampai lima dalam hati, melompat dari tempat tidur dan segera berlari ke mulut goa.
Dia lebih cepat, menyambar pinggangku dari belakang dan menahanku di tempat. "Tidak... Kau tidak akan ke mana-mana."
"Lepaskan aku! TOLONG! TOLONG! TOL—"
Dia mengatup mulutku dan teriakkanku berhenti.
"Tenang, aku sudah bilang aku tidak akan melukaimu..."
Tidak, kau memang tidak akan melukaiku, tetapi aku tidak ingin jadi budakmu lagi.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Namun, apalah dayaku, dia sama sekali bukan tandinganku dalam hal kekuatan fisik.
"Apakah kalau aku melepaskanmu, kau tidak akan menjerit?"
Apakah kau bodoh? Tentu saja aku akan menjerit. Namun, aku menggelengkan kepala, mencoba meyakinkannya bahwa aku tidak akan menjerit.
"Kau berbohong. Kau pasti akan menjerit. Walaupun suaramu tidak akan sampai ke desa, tetap saja aku tidak boleh mengambil resiko."
Kalau begitu lakukan sesuatu, jauhkan tubuhmu dariku. Aku tidak mau berdiri seperti ini selamanya.
"Baiklah, sebelum aku meng-Imperiusmu lagi, aku ingin melakukan satu hal..."
Aku tidak tahu apa yang ingin dilakukannya, tapi aku mempersiapkan diri untuk menghadapi tindak kekerasan.
Dia melepaskan tangannya di mulutku, dan sebelum aku bisa menjerit dia menciumku.
Well, Diary, aku tidak di-Imperius, jadi apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus berpura-pura tidak menyukai ciuman ini, mendorongnya dan berpura-pura marah? Tentu saja aku tidak akan melakukan itu. Aku menyukai ciuman ini, mengapa harus berpura-pura tidak menyukainya? Jadi, kami berciuman. Dan karena aku tidak di-Imperius, aku bebas melakukan apa pun yang kusukai, seperti mengalungkan tanganku ke lehernya, menariknya ke arahku dan memperdalam ciuman kami. Lalu ciuman yang tadinya lembut, sekarang menjadi panas dan menuntut. Punggungku sekarang telah bersentuhan dengan dinding goa yang kasar dan tubuhnya sangat dekat dengan tubuhku. Aku menikmati ciuman itu sampai dia mendorongku menjauh dengan tiba-tiba. Dan aku harus bersusah payah menjaga keseimbanganku agar tidak terjatuh di lantai goa.
"Apa yang kaulakukan?" Dia memandangku dengan marah.
Hello? Pertanyaan apa itu? Kau menciumku, aku menciummu. Di mana salahnya? Bukankah kita menikmati ciuman itu?
"Apa?" Aku balas memandangnya dengan marah, kemudian memejamkan mata untuk menenangkan diri dan mengatur nafasku yang agak memburu setelah ciuman itu. Saat aku membuka mata lagi, dia sedang mengamatiku dengan sungguh-sungguh, seperti sedang melihatku dari sudut yang berbeda.
"Well, apa kesimpulanmu, Mr Potter?" tanyaku dengan nada mengejek.
"Kau—"
"Aku apa?"
"Kau benar-benar adalah Persephone di malam Halloween." Itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan dan kurasa aku tidak bisa mengelak lagi.
"Benar," jawabku. "Bagaimana kau mengetahuinya?"
"Kau menciumku dengan cara yang sama, seperti saat kau menjadi Persephone."
"Aku tidak tahu kau ahli mengenal orang hanya dengan sebuah ciuman," kataku, memberinya pandangan sinis.
"Meskipun aku sering berciuman dengan banyak cewek, tapi ciuman denganmu berbeda. Kau membuatku—" Wajahnya berubah merah padam.
"Membuatmu apa?" tanyaku.
Dia memberiku pandangan jengkel. "Apakah kau sedemikian polosnya?"
"Ha?" aku memandangnya tak mengerti.
"Tak usah dibahas," katanya.
Aku mengerutkan kening, kebingungan.
Dia menggelengkan kepala, lalu bertanya, "Jadi?" seolah mengharapkanku menarik kesimpulan untuk sesuatu yang tidak kuketahui.
"Jadi apa?" tanyaku masih bingung.
Dia tampak benar-benar jengkel. "Jadi, mau berkencan denganku tanpa Kutukan Imperius?"
"Berkencan denganmu?" Aku tertawa, dan langsung berhenti saat melihat dia memandangku dengan marah dan sedih sekaligus.
"Kau melakukannya lagi... Kau menertawaiku."
"Er, yeah, aku minta maaf..."
Dia tak menghiraukanku dan bertanya, "Mengapa kau menciumku?"
"Well, karena aku suka menciummu..."
"Kalau begitu mengapa kau tidak mau berkencan denganku?"
"Karena itu tidak akan mungkin terjadi. Aku memang suka menciummu, tapi kau bukan orang yang tepat untukku. Aku memilih Bryan dan akan tetap begitu."
"Apakah kau playgirl?"
Aku mendelik padanya. "Aku hanya sekali berciuman dengan Bryan dan berkali-kali dipaksa berciuman denganmu. Dan kau mengataiku playgirl?"
"Dipaksa berciuman denganku?" Potter balas mendelik.
"Oke, ciuman di malam Halloween dan ciuman tadi memang bukan paksaan, tapi ciuman-ciuman yang terjadi saat aku di-Imperius adalah ciuman paksaan."
Potter mengerut kening, tapi tak berkata apa-apa.
"Nah, sekarang setelah kau tahu perasaanku yang sebenarnya, apakah kau akan melepaskanku?" tanyaku, memandang ke mulut goa, memikirkan kemungkinan untuk berlari keluar tanpa terlihat olehnya.
"Tentu saja, tidak..." Dia mencabut tongkat sihirnya dengan cepat, dan sebelum aku sempat menghindar dia sudah mengucapkan, "Imperio!"
Nah, kita kembali ke awal lagi.
Sincerely,
Selina Fluge
PS: Aku memang tidak bisa tutup mulut. Seharusnya aku berpura-pura menyukainya dan mencari cara untuk memberitahu seseorang tentang peristiwa ini.
Review, please!
RR :D
