Disclaimer: Naruto dan segala property bukan punya saya.
The Other Side
©Amu dröttningu
Naruto berjalan dengan tenang di koridor sekolahnya. Hari ini hari yang tidak biasa bagi Naruto. Kenapa? Karena Naruto sudah sampai di sekolah satu jam sebelum dibunyikan. Ajaib? Ya.
Bangun pagi bagi seorang trouble maker seperti Naruto memang hal yang amat sangat susah dilakukan, meskipun ia sudah memasang alarm. Tapi keesokan paginya, Naruto pasti akan menemukan alarmnya sudah tergeletak tak berdaya di dekat dinding. Artinya? 1) Naruto melemparkannya ke tembok secara tidak sadar ketika ia masih tidur 2) Jam itu berjalan sendiri dan menubrukkan dirinya ke tembok karena ia tidak mau dilempar oleh Naruto.
Dilihat dari segi relitasnya, alasan pertama jauh lebih bisa masuk di akal. Jadi mulai beberapa bulan yang lalu, ia berhenti memakai jam alarm. Toh tak akan memberi banyak perubahan untuknya.
Tapi hari ini berbeda. Ia sudah bangun mendahului sang ayam. Yang pertama kali dilihatnya ketika membuka mata adalah cahaya matahari yang baru saja muncul ke permukaan. Indah sekali.
Ia sudah hampir lupa bagaimana rasanya menikmati pemandangan matahari terbit. Dulu, ia sering melihatnya bersama Jiraiya. Namun setelah Jiraiya pergi, jangankan melihatnya. Membayangkannya pun sudah akan membuat hatinya berdesir miris.
Karena ia pikir percuma untuk memaksakan dirinya tidur, ia bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Naruto membuka pintu kelasnya perlahan dan mulai berjalan masuk ke kelas. Tatapannya kosong, matanya sendu, wajahnya menampakkan perasaan lelah yang amat sangat. Ada kantung mata di bawah mata safirnya. Ia memang kurang tidur tadi malam.
"Sampai kapan kau mau berdiri di situ?"
Naruto kaget ketika sebuah suara membuyarkan lamunannya. Ia mencari sumber suara itu. Matanya tertuju pada sosok Sasuke yang tengah duduk di pojokan, tangan kanannya memegang buku. Ia melihat sekeliling. Nampaknya belum ada orang lain selain ia dan Sasuke.
Dengan langkah yang ragu ia meninggalkan posisinya di tengah ruangan dan berjalan menuju Sasuke. Ia mendudukkan diri di samping Sasuke. Mereka terus berdiam diri. Naruto tidak berani untuk memulai pembicaraan. Sasuke pun seperti tidak menggubris kehadiran Naruto. Ia sibuk dengan bukunya.
"Jangan berpura-pura"
Ucapan Sasuke yang tiba-tiba itu tentu saja mengejutkan Naruto.
"Huh?"
Sasuke menutup bukunya. Ia menarik nafas sejenak.
"Jangan berpura-pura seolah semua baik-baik saja" ia berhenti untuk menatap kedua mata Naruto. "Itu akan membuat semuanya lebih berat lagi"
Naruto terus memandang Sasuke. Mencoba memikirkan apa yang baru saja ia katakan. Sebenarnya, sejak dari kemarin ada satu pertanyaan yang ingin Naruto tanyakan pada Sasuke.
"Kenapa kau peduli?" tanya Naruto.
Sasuke mengalihkan perhatiannya lagi pada sampul buku yang ia baca.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku hanya berpura-pura?"
Sasuke tersenyum miring. "Itu adalah salah satu keuntungan menjadi 'the quite one'" Sasuke menoleh lagi pada Naruto. "Kau bisa mengamati siapapun tanpa ada yang tahu. Tidak akan ada yang peduli"
"Kenapa kau memperhatikanku?" tanya Naruto lagi.
Sasuke menyeringai. "Bagaimana kalau kubilang aku tertarik padamu?"
Naruto mendengus. "Tidak terimakasih. Hidupku sudah cukup berantakan. Aku tidak perlu seorang nerdy sepertimu untuk menambah bebanku"
Naruto sudah akan beranjak pergi ketika Sasuke mulai bicara lagi.
"Kalau memang berat, kenapa kau masih dengan keras kepalanya menolak bantuan orang lain?"
Naruto kembali menatapnya. "Memangnya siapa yang mau membantuku?" ujarnya dengan mengangkat sebelah alisnya. "Orang-orang justru akan lebih senang kalau melihat aku gila karena semua masalah-masalah ini. Mereka akan lebih senang kalau melihatku menderita. Bahkan mereka pernah dengan sengaja membakar rumahku ketika aku masih tertidur! Kau pikir bagaimana rasanya itu?!" tubuh Naruto bergetar karena menahan emosi. Ia menutup kedua matanya, menolak kehadiran air matanya yang sudah akan tumpah.
Sasuke tetap terdiam di tempatnya. "Aku sudah bilang kan? Kau bisa datang padaku kalau mau" ujarnya tanpa memandang Naruto.
Naruto terdiam di tempatnya. Mereka terus terdiam begitu sampai sayup-sayup terdengar suara langkah kaki menuju ke kelas mereka. Naruto perlahan bangkit dan meninggalkan kursi yang ia tempati. Kali ini, Sasuke tidak menahannya. Ia membiarkannya pergi. Untuk saat ini saja.
*****
"Pagi Naruto" sapa Sakura.
"Pagi Sakura-chan!" jawab Naruto sambil memeluk Sakura.
Sakura adalah teman akrabnya. Dia adalah orang pertama yang mau mengajaknya bicara saat ia masuk ke sekolah pertamanya. Ia bahkan pernah membelanya saat anak-anak desa mengganggunya. Mungkin selama ini Sakuralah yang menjadi figure teladan bagi Naruto. Ia selalu bisa menyandarkan diri pada Sakura. Sampai pada suatu hari, ia mendengar kabar bahwa kedua orang tua Sakura tewas. Yang lebih mengejutkannya adalah ketika ia mengetahui alasan sebenarnya mengapa kedua orang tua Sakura tewas.
FLASHBACK
Naruto berjalan dengan riang menyusuri tepi sungai Konoha. Ia beru saja pulang dari rumah Sakura. Beberapa hari ini ia memang sengaja menginap di rumah Sakura, ia ingin menemani sahabatnya yang sedang berduka itu. Untungnya sekarang keadaan Sakura sudah membaik. Ia tidak lagi mengurung diri di kamar dan tidak menolak untuk makan. Mulai sekarang, ia bertekat untuk menjadi sahabat yang baik bagi Sakura.
Ia mulai agak was-was ketika melewati jalanan sempit di seberang sungai. Daerah itu terkenal rawan kejahatan, apalagi sekarang sudah melewati jam makan malam.
Rasa takut Naruto kembali memuncak ketika ia melihat segerombolan pria berkumpul di ujung jalanan sempit itu. Ia berusaha untuk pura-pura tidak melihat mereka, ia berusaha mengumpulkan keberaniannya dan lewat di depan orang-orang itu.
"Hei kau!"
Naruto menghentikan langkahnya.
"Ya, kau! Bocah berjaket orange!"
Naruto menarik napas dalam-dalam. Mencoba menenangkan deru jantungnya. Ia memang sengaja memakai jaket orange bertudung untuk menutupi wajahnya. Karena bisa gawat kalau ada orang yang mengenalinya berkeliaran malam-malam bergini.
"Kenapa kau diam disitu? Ayo kesini!"
Naruto membalikkan badannya perlahan. Ia masih menundukkan kepalanya, takut kalau salah satu dari mereka mengenali wajahnya.
"Ayo kemari!"
Dengan ragu, Naruto melangkahkan kaki mungilnya ke arah mereka. Ia lebih baik menuruti perintah mereka, lagi pula apa yang bisa dilakukan bocah berumur sepuluh tahun sepertinya? Melawan para preman lagi.
Naruto berdiri dengan takut ketika preman yang berjumlah lima orang itu bergerak mengelilinginya.
"Apa itu?!"
Naruto tidak berusaha melawan ketika salah satu dari mereka menarik paksa tas yang sedari tadi ia peluk. Mereka mulai menggeledah isi tas Naruto. Mengambil apa yang menurut mereka berharga dan membuang yang tidak berharga di lantai. Naruto mengepalkan kedua tangannya. Ia ingin sekali melawan, tapi ia tahu kalau lebih baik ia mengalah saja kalau masih ingin hidup lebih lama.
"Hei, sepertinya aku tahu anak ini" kata salah satu dari mereka. "Tunggu, jangan-jangan…"
Pria itu tiba-tiba menarik paksa tudung Naruto. Tapi Naruto berusaha mencegahnya. Ia terlibat aksi saling tarik-menarik dengan pria itu. Sampai sebuah tamparan mendarat di pipinya, membuatnya melepaskan pegangannya pada tudungnya dan memegang pipi kirinya yang terasa sakit akibat tamparan pria itu.
"Hah! Lihat siapa ini!" ujar salah satu preman itu sambil menjambak rambut Naruto ke belakang. Para preman itu menarik napas kaget.
"Oh, si setan cilik rupanya" ujar si pria yang berada di depan Naruto.
Naruto menatap tajam pria itu. Pria itu mengerutkan alisnya.
PLAKKK!!
"Jangan melihatku seperti itu!!" bentak si pria itu setelah menampar pipi kanan Naruto. "Dasar setan tengik! Jangan berlagak kau! Kau pikir kau itu siapa, hah?!" lanjutnya.
"Setidaknya aku lebih punya harga diri dari kalian! Kalian bahkan menyiksa seorang anak kecil untuk mencari makanan!" ujar Naruto.
Pria di belakang Naruto menjambak rambutnya lebih keras lagi, membuat dirinya mengernyit kesakitan. "Jaga bicaramu bocah!" ujar pria itu.
"Kenapa memangnya?" balas Naruto mengejek. "Apa kalian malu karena kalian merasa lebih rendah dari pada bocah yang kalian sebut anak setan ini? Apa kalian merasa malu untuk mengakui kalau kalian sebenarnya lebih BUSUK dari pada aku?! Hah?!"
PLAKKK!!
Satu tamparan lagi mendarat dengan mulus di pipi kanan Naruto. Si penampar menarik dagu Naruto sampai ia berhadapan dengannya. Ia tersenyum licik ketika ia melihat darah keluar dari sudut bibir Naruto, belum lagi kedua pipi Naruto yang lebam akibat tamparan-tamparan tadi.
"Setidaknya, kami tidak akan membunuh orang yang kami kenal" ujarnya. "Beda kan, dengan kau" ia tersenyum mengejek.
"Aku bukan pembunuh" ujar Naruto dingin.
"Bohong!" jawab pria itu tak mau kalah. "Kau bahkan membunuh orang tua 'teman'-mu sendiri" ujarnya dengan member penekanan pada kata 'teman'.
Naruto terkejut mendengarnya. "A-apa maksud kalian?"
"Huh, kau pikir kenapa kedua orang itu mati?" tanya pria itu balik. "Mereka mati karena mobil yang mereka tumpangi masuk ke jurang. Kau tahu apa penyebabnya?" Pria itu menyeringai puas ketika melihat wajah horror Naruto. "Rem mobil mereka sengaja dirusak" ujarnya. "Dan kau tahu kenapa?" Naruto menggelengkan kepalanya, tanda tak percaya akan apa yang baru saja ia dengar. "Karena mereka telah menolong si anak setan" ujar si pria dengan santai.
Tubuh Naruto bergetar hebat mendengar pengakuan itu. Sayup-sayup ia mendengar suara gelak tawa preman-preman itu. Ia begitu shocknya sampai tubuhnya sama sekali mati rasa terhadap pukulan demi pukulan yang mereka layangkan ke tubuhnya. Kelima orang itu secara bersamaan memukuli Naruto sampai ia babak belur. Tapi ia tidak melakukan bahkan merasakan apapun. Tubuhnya terkoyak. Sementara batinnya terus melolong meneriakkan dua kata, 'Maaf, Sakura'
FLASBACK OFF
Sejak saat itulah ia menjaga jarak dengan Sakura ataupun dengan 'teman-teman'-nya yang lain. Ia tidak ingin mereka semua mendapat getah karena berteman dengan si anak setan.
"Oi Naruto!"
Lambaian tangan di depan wajahnya membuat Naruto tersentak dari pikirannya.
"Huh?" Ia menengadah, mendapati Ino dsan Hinata telah berdiri di depannya. Ino meletakkan kedua tangannya di pinggang langsingnya, tanda pertama kalau ia sedang tidak senang.
"Apa sih yang kau pikirkan?" tanyanya dengan alis yang mengkerut.
"Ehehe" Naruto hanya menjawabnya dengan cengiran kudanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Handbandmu ganti lagi ya" ujar Ino sambil mengamit pergelangan tangan kirinya. "Seleramu bagus juga kalau soal handband. Buatan sendiri lagi?" tanya Ino.
Naruto memang selalu mengenakan handband untuk menutupi bekas sayatan di pergelangan tangan kirinya.
"I-iya. Na-Naruto-san memang pintar m-membuat hanband seperti it-tu" ujar si pemalu Hinata.
"Aduuh, Hinata ini. Aku kan sudah bilang, kalau memanggilku tidak usah pakai embel-embel segala" ujar Naruto.
"Ma-maaf… Na-Naruto" jawab Hinata blushing.
"Nah, begitu lebih baik!" ujarnya sambil 'tersenyum' lebar. "Dan terimakasih atas pujiannya.
Tanpa disadari Naruto, Sakura menatap pergelangan tangan yang ia tutupi dengan handband itu dengan wajah sendu.
Dari kejuhan pun, sepasang mata onyx tidak lepas memadang keempat perempuan itu. Tapi matanya hanya terfokus pasa satu objek.
*****
