DESIRE

Story by: MagnaEviL

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: AU, Maybe OOC, yaoi, dll.

Don't Like Don't Read

ENJOY

Kubuka mataku ketika kurasakan sinar matahari menerpa wajahku. Hangat sekali rasanya. Mengerjapkan mataku agar membiasakan pencahayaan ruangan. Melalui telingaku bisa kudengar suara percikan air yang berasal dari kamar mandi. Aku menduga itu adalah Sasuke. Aku hanya membenamkan wajahku pada selimut yang menutupi tubuhku.

Pintu kamar mandi pun terbuka. Menampilkan sosok Sasuke dalam balutan jubah mandi. Rambut yang biasa tegak itu pun hanya tertidur dan juga basah. Dadanya dibiarkan terbuka, hingga siapapun yang memandangnya akan berkata bahwa dirinya seksi.

"Kau sudah bangun?" Sasuke menatapku sambil berjalan ke arahku. Ia juga tengah mengeringkan rambutnya yang basah itu.

Aku hanya mengangguk. Ketika aku bangkit, aku meringis saat bagian tubuhku yang di bawah terasa sakit.

"Kau tiduran saja. Kau lebih membutuhkannya. Jangan memaksakan diri." Sasuke berkata kepadaku.

Aku menggelengkan kepalaku. "Aku tidak tahan harus berlama-lama dengan cairan lengket ini. Aku ingin mandi."

"Baiklah. Kubantu."

Sasuke membelitkan selimut yang kupakai ke tubuhku. Aku terkejut saat dia membawaku dalam gendongannya. "Apa-apaan kau? Turunkan aku!" sengitku padanya. Aku tak suka diperlakukan layaknya perempuan seperti ini.

"Tidak kuijinkan. Kalau kuturunkan, kau takkan sanggup berjalan."

Ucapannya memang benar. Tapi—ah, sudahlah. Protes pun rasanya percuma.

Sasuke menurunkanku di lantai kamar mandi. Ia menyuruhku untuk tetap berdiri di sini sampai ia menyiapkan air untukku mandi di bath up.

"Sebaiknya kau mandi dengan air hangat. Cuaca seperti ini takkan cocok mandi dengan air biasa. Bisa-bisa kau malah sakit nantinya."

Aku mengangguk mengiyakan. Udara di luar yang sangat dingin memang cocok dengan hal yang berbau hangat.

"Aku keluar dulu."

Setelah Sasuke menutup pintu kamar mandinya, aku segera melepaskan selimut yang membelitku dan masuk dalam bath up. Jangan khawatir, aku memang sudah polos dari tadi.

Aku merendamkan tubuhku dalam hangatnya air. Sangat nyaman sekali rasanya. Sudah lama aku tak mandi air hangat seperti ini. Rasanya aku kembali ke masa lalu, dimana aku dan Sasuke sering kali pergi ke onsen kalau cuaca sedang dingin seperti ini. Aku merindukan masa-masa itu. Dan aku juga merindukan Jepang, negara kelahiranku.

Ah, Jepang… kapan aku akan ke sana lagi? Aku juga merindukan teman-temanku dan juga…

Orang tuaku.

Aku merindukan mereka. Sangat! Bagaimana kabar mereka sekarang? Kuharap mereka baik-baik saja.

.

#

.

Lagi-lagi aku mendesah kecewa. Bagaimana tidak? Sudah dua bulan ini aku berulang kali membeli test pack untuk mengetahui apakah aku hamil atau tidak. Dan beberapa kali pula dalam test pack itu menunjukkan tanda garis merah satu. Aku tahu apa artinya itu.

Aku mulai berpikir, apakah aku memang tidak bisa hamil?

Aku harus menahan malu saat membeli test pack ini. Berdalih membelinya untuk istriku yang baru saja kunikahi. Padahal sebenarnya alat ini kubeli untukku sendiri. Tak mungkin aku jujur kan untuk menjawab semua pertanyaan itu? Mau ditaruh dimana mukaku?

Tiba-tiba saja ada yang menyergapku dari belakang. Aku terlonjak kaget saat tangan kokoh itu memelukku tepat di pinggangku. Kepalanya ia sandarkan ke pundakku. Siapa lagi kalau bukan suamiku yang tercinta yang tengah memelukku sekarang?

"Kau sedang apa, Dobe?"

Aku tak menjawabnya. Hanya saja aku menunjukkan alat test pack ini kepada Sasuke sebagai pengganti jawaban. Kurasa ia tahu maksudnya apa.

"Bagaimana hasilnya, hm?"

Aku menggeleng. "Sama seperti sebelumnya. Mungkin memang aku takkan bisa hamil."

Kurasakan bahuku dipegang oleh Sasuke dan membalikkan tubuhku ke hadapannya.

"Tak apa jika memang kau tak bisa hamil. Aku cukup mensyukuri apa yang ada pada dirimu."

"Tapi semua yang kulakukan jadi sia-sia, Teme! Operasi itu menjadi percuma dilakukan."

"Ssstt!" Sasuke menempelkan jari telunjuknya di depan bibirku. Bermaksud menghentikan perkataanku. "Dua bulan adalah waktu yang terlalu dini agar bisa hamil. Masih banyak waktu. Tuhan belum memberikan ijin kepada kita."

Aku langsung saja memeluknya. Aku sandarkan daguku pada pundaknya meski harus berjingkit sedikit. "Bukankah lebih cepat lebih baik?"

Tangannya mengusap rambutku dengan lembut. "Memang. Tapi kita harus bersabar. Kita akan mencoba lagi nanti."

Aku mengangguk. Kunyamankan posisiku dalam pelukkannya.

Sasuke benar. Mungkin harus banyak bersabar agar aku bisa hamil. Semoga…

.

#

.

Sampai kapan aku harus menunggu, Tuhan? Hampir enam bulan aku menunggu. Hampir enam bulan aku menunggu karunia-Mu. Tapi kenapa Kau tak juga memberikanku buah hati?

Apa yang kurang dengan hamba-Mu ini? Hamba sudah melaksanakan semua perintahmu. Dan juga hamba sudah berdoa hampir setiap hari kepada-Mu. Dan semuanya masih kurang?

Hamba tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mungkin memang benar kalau seorang laki-laki tidak akan bisa hamil.

Oh… rasanya usahaku semuanya menjadi sia-sia.

Aku membuang test pack yang ada di tanganku ke dalam tempat sampah dengan kesal. Aku mengacak rambutku dengan gemas. Sepertinya aku berhenti saja berharap bahwa keajaiban itu akan datang. Usahaku cukup sampai di sini!

"Hei, hei. Ada apa ini?" suara Sasuke membuatku menghentikan acara mengacak rambutku.

"Tidak. Bukan apa-apa!" sahutku ketus. Aku masih saja kesal dengan yang tadi.

Sasuke menghampiriku dan memegang pundakku dengan tangannya. Melalui mata hitam itu ia menatapku.

"Mau cerita?"

Aku membuang wajahku. Tak ingin menatap wajah rupawannya.

"Biar kutebak." Ada jeda di antara perkataannya. "Kau kesal karena aku tak mengijinkanmu makan ramen seminggu ini?"

"Bukan." Masih dengan nada ketusku menjawab pertanyaannya.

"Hmm… apa kau kesal karena pembantu absen hari ini?"

"Bukan."

"Lalu apa?"

Aku masih saja memalingkan wajahku.

"Biar kutebak lagi." Sasuke memegang dagunya, berpose a la detektif. "Pasti tentang sesuatu yang berhubungan dengan kehamilan?"

Aku mengalihkan pandanganku dan menatap wajahnya. Dengan memicingkan mataku.

"Sepertinya benar." Kulihat ia tersenyum tipis. "Kemarilah… aku perlu berbicara padamu mengenai hal ini."

Sasuke menuntun tanganku keluar dari kamar mandi. Ia mengajakku duduk di sofa yang terdapat dalam kamar kami.

"Dengar. Aku tahu kau kesal dengan hal ini. Kau sudah bersusah payah melakukan semuanya agar mendapatkan sesuatu yang memang aku dan kau inginkan. Tapi ingat! Kita harus tetap berusaha dan bersabar agar mendapatkan hasil yang diinginkan."

"Tapi aku sudah tidak tahan, Sasuke. Kesabaran pun ada batasnya."

"Aku tahu hal itu, Naruto. Kau tahu ibuku? Kau pun tahu kalau ternyata ibuku menunggu kehamilan pertamanya itu hampir tiga tahun? Sedangkan kehamilan keduanya itu hampir empat tahun?" Sasuke bertanya kepadaku. Namun aku hanya berdiam diri saja. "Sedangkan kau baru enam bulan. Dan kau sudah menyerah saja? Dimana dirimu yang selalu pantang menyerah itu?"

Aku terdiam lagi. Sungguh aku tak tahu harus berkata apa. Sasuke benar, aku tidak boleh pantang menyerah. Aku tak mau kalah dengan ibu Sasuke atau bisa dibilang ibuku juga. Kalau aku menyerah begini, aku bukanlah orang yang kuat.

"Sebaiknya aku tinggal dulu. Kau lebih membutuhkan waktu sendiri untuk berpikir sekarang."

Sasuke pun beranjak dari duduknya. Sebelumnya ia sempat mengecup puncak kepalaku dan setelahnya ia meninggalkanku sendiri.

.

#

.

"Naruto! Kau tidak apa-apa?"

Sasuke mengedor pintu kamar mandi. Namun bukannya aku menjawab, malah aku sekarang memuntahkan isi perutku. Aku tak tahu ada apa denganku. Tiba-tiba saja saat sarapan tadi, aku merasakan mual yang luar biasa. Aku juga mendadak pusing setelah bangun dari tidurku.

"A—ku tidak… apa-apa…" lagi-lagi aku memuntahkan isi perutku.

"Buka pintunya, Naruto!" Sasuke masih berteriak di depan pintu.

Setelah merasa bahwa aku takkan muntah lagi, aku pun menuju pintu kamar mandi yang aku kunci dari dalam. Tubuhku terasa lemah sekali. Rasanya kakiku mendadak lumpuh. Belum lagi rasa pusing yang melanda. Sampai-sampai aku berpegangan pada dinding kamar mandi untuk menopang tubuhku.

Aku membuka pintu kamar mandi, dan langsung saja tubuhku menjadi limbung. Untung Sasuke ada di hadapanku sehingga ia dengan sigap menangkap tubuhku. Tak tahu apa jadinya kalau ia tak berada di sana.

"Hei—"

"Kepalaku pusing sekali, Sasuke…" gumamku lirih. Memang benar. Pusing ini semakin menjadi-jadi.

Tangan itu meraba keningku. "Badanmu biasa-biasa saja."

"Mungkin hanya masuk angin biasa."

Lalu kurasakan badanku tiba-tiba menjadi ringan. Ah! Ternyata Sasuke menggendongku. Mungkin dia tahu kalau aku tak sanggup berjalan.

Ia membaringkanku di kasur. Aku memejamkan mataku menikmati kenyamanan berbaring ini. Tak lupa juga ia menyelimutiku. Aku juga bisa merasakan tubuhku bergetar, meskipun pelan saja.

"Aku akan memanggilkan dokter. Kurasa aku takkan kerja dulu hari ini."

Aku membuka mataku dan memandang sayu ke arahnya. "TIdak. Kau tetap kerja hari ini. Tidak usah pedulikan aku. Aku baik-baik saja."

"Baik apanya? Wajahmu pucat begitu."

Aku tak menyahutinya. Mau bagaimanapun aku melarang, ia tetap pada pendiriannya.

Kulirik melalui mata ini ia tengah mencari telepon genggamnya di sakunya. Seperti yang ia bilang tadi, ia akan memanggil dokter.

"Aku membutuhkan dokter. Datanglah ke kediaman Uchiha jalan Gravity Hill. Aku tunggu secepatnya."

Begitu menyudahi percakapannya, Sasuke langsung berjalan ke arahku. Ia mengambil segelas air putih yang memang sudah ada di meja samping kasur ini.

"Minumlah… sebentar lagi dokter akan ke sini."

Aku bangun dengan dibantu Sasuke. Ia memegang belakang kepalaku dan aku meminum air yang ia sodorkan kepadaku.

Rasanya sudah lebih baik dari sebelumnya. Kembali aku membaringkan tubuhku dan memejamkan mata. Namun aku tak tidur.

Hampir sepuluh menit pada akhirnya dokter yang di tunggu pun datang. Seorang perempuan Asia dengan kulit yang putih. Tapi kurasa ia adalah orang Jepang juga dilihat dari wajahnya. Rambutnya berwarna hitam legam seperti Sasuke, dan ia terlihat manis dan cantik.

Mula-mula ia memeriksa denyut nadiku di tangan. Lalu memeriksa dadaku melalui stetoskop yang ia ambil dari tasnya. Tak lama kemudian ia mengeluarkan jarum suntik dan bersiap memasukkan cairan itu ke dalam tubuhku. Rasanya seperti di gigit semut.

Dokter yang diketahui bernama Shizune itu membereskan semua peralatannya ke dalam tas yang ia bawa. Ia tersenyum kepadaku kemudian mata onyxnya mengarah ke Sasuke.

"Kurasa ia hanya masuk angin biasa. Tak ada yang dikhawatirkan dari dirinya." Apa yang kubilang tadi. Aku hanya masuk angin saja 'kan?

"Terima kasih atas bantuannya, Dokter."

Dokter muda itu tersenyum pada Sasuke. "Sama-sama. Dan ini—" ia menyerahkan selembar kertas kecil pada Sasuke, "—adalah resep yang harus ditebus. Saya permisi dulu." Dokter itu berlalu dengan Sasuke yang mengantarkannya sampai depan rumah.

"Naruto, tak apa kalau kau kutinggal sebentar? Aku harus menebus resep ini."

Aku menganggukkan kepalaku saja. Lagipula keadaanku sudah lebih baik.

"Aku akan kembali secepatnya." Lagi-lagi aku menganggukkan kepalaku mengiyakan. Sempat ia mencium sekilas di bibirku. Aku suka sekali pada sikap perhatiannya.

.

#

.

Sudah tiga hari, rasa mual dan pusingku itu tak kunjung berhenti. Malah semakin menjadi-jadi saja. Dan selama tiga hari ini pula Sasuke ijin dari pekerjaannya. Ia selalu menemaniku setiap waktu. Aku beruntung memiliki suami sepertinya.

Di kamar mandi ini aku terus saja memuntahkan isi perutku. Padahal selama tiga hari ini aku tak makan banyak. Bagaimana tidak? Setiap aku makan, selalu saja apa yang aku makan langsung keluar dari mulutku. Dan juga semakin hari perutku semakin tak nyaman saja.

"Kau sudah selesai?" tanya Sasuke. Ia mengusap punggungku agar aku merasa tampak lebih nyaman.

Aku mengangguk. Ia menopang tubuhku menuju ke kasur. Dan kemudian merebahkanku sambil menyelimuti diriku.

"Obat ini sama sekali tidak berpengaruh."

"Apa… sebaiknya kita telpon nenek Tsunade saja? Hanya dia dokter yang cukup ahli dalam masalah ini." Usulku padanya. Kulihat Sasuke tengah berpikir dan akhirnya mengangguk.

"Aku akan menghubunginya."

Hampir satu jam kami menunggu nenek Tsunade ke rumah ini. Kami memakluminya karena kami tahu betapa sibuknya seorang dokter seperti nenek Tsunade di rumah sakit.

"Ada apa dengan bocah ini?" tanya beliau. Dan raut wajahnya terlihat agak kesal. Mungkin ia sedang kelelahan.

"Selama tiga hari ini aku terus saja muntah-muntah dan juga pusing mendadak."

"Benarkah?" ia memicingkan matanya dan menatap tajam ke arahku. Apa aku melakukan kesalahan? "Biar kuperiksa."

Sama seperti dokter Sakura yang waktu itu memeriksaku, nenek Tsunade memeriksa denyut nadiku. Kemudian dadaku dan semacamnya. Dan apa itu? Senyum di wajahnya?

"Dasar bocah!" beliau mendengus. "Kau mau tahu apa yang terjadi? Kau hamil, Bodoh! Janinmu sudah berumur satu bulan."

Aku membelalakkan mataku. Terkejut luar biasa saat mendengar pernyataan dari dokter Tsunade. "Nenek bilang apa? Aku hamil?"

"Memangnya aku tadi bilang apa? Kau keguguran, begitu?"

Rasa bahagia menjalari perasaanku. Tujuh bulan aku menunggu dan… aku tak bisa berkata apa-apa. Kulihat wajah Sasuke yang awalnya terkejut mendadak penuh senyum di wajahnya. Aku tertawa setelahnya.

"Nenek tak bercanda 'kan?"

"Buat apa aku bercanda?"

"Sebelumnya dokter yang memeriksaku dulu berkata bahwa aku hanya masuk angin."

"Kau pikir apa, Bocah? Dokter mana yang takkan heran kalau seorang pasien laki-laki hamil? Maka dari itu dia berkata hanya masuk angin biasa. Tak mungkin dokter awam yang tak tahu menahu tentang dunia laki-laki yang hamil bisa berkata kau hamil? Bisa-bisa dia dianggap gila."

Aku terkekeh pelan. "Benar juga, ya?"

Kemudian nenek Tsunade menghampiri suamiku. Aku tak tahu apa yang akan dilakukannya tapi kemudian nenekku itu menepuk punggung Sasuke.

"Kau akan menjadi calon ayah, Uchiha."

Awalnya Sasuke terkejut. Namun ia hanya tersenyum tipis. "Hn."

"Kuharap kau bisa menjaga Naruto dengan baik."

Lalu pandangan nenek Tsunade mengarah kepadaku. Ia tersenyum dan aku pun membalas senyumannya. "Kau juga, Bocah. Kuharap kau tak melakukan hal-hal aneh yang bisa membahayakan kandunganmu."

Aku mengangguk. "Terima kasih."

"Sebaiknya aku pergi dulu. Pekerjaan menunggu. Dan ingat, Bocah! Kau harus sering-sering memeriksakan dirimu ke rumah sakit. Supaya aku bisa mengontrolmu."

Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.

Oh, Tuhan… tidak ada yang lebih indah selain mendapatkan apa yang kuinginkan selama ini. Janin… janin itu sekarang ada di perutku. Aku mengelus perutku ini. Dalam perut ini ada buah hatiku bersama Sasuke. Terima kasih, Tuhan…

.

#

.

Usia kandunganku memasuki umur tiga bulan. Dan kau tahu apa yang terjadi? Sasuke selalu kesal karena permintaanku yang aneh-aneh. Aku benar-benar seperti perempuan sekarang. Selalu marah-marah tidak jelas, lebih banyak menggunakan perasaan daripada berpikir, dan sebagainya. Wajar saja kan? Apalagi sekarang aku tengah mengidam, apabila keinginanku tidak dituruti maka bersiap saja omelan panjang lebar keluar dari mulutku.

"Sasuke, aku ingin makan sushi." Kataku ketika kami sedang duduk di depan televisi.

"Sushi? Kau tidak ingat kita tinggal di Kanada?" Sasuke menaikkan alisnya sebelah.

"Aku tahu! Tapi aku memang benar-benar ingin makan makanan itu." Rengekku. Memang benar, aku menginginkan makanan itu.

"Kau gila? Mana ada makanan Jepang di kota ini."

"Jelas tidak ada kalau kau tidak mencarinya. Aku yakin pasti ada!" ucapku bersikeras.

Sasuke menghela napasnya. "Baiklah, aku akan mencarinya. Ada yang kau inginkan lagi?"

Aku memegang daguku berpikir. "Kurasa tak ada."

Sasuke mengambil kunci mobilnya dan segera mencari apa yang kuinginkan tadi. Aku sudah tak sabar ingin memakannya.

"Ini… sushi yang kau minta." Sasuke melemparkan sebuah bungkusan ke meja hadapanku.

"Enng… Sasuke?"

"Apa?" Nada suara Sasuke agak ketus saat menjawab panggilanku.

"Kurasa aku tak menginginkannya lagi. Aku ingin ramen porsi jumbo yang pedas sekarang."

"Kau bilang apa tadi?" Aku hanya menggaruk belakang kepalaku. "Aku akan membelikannya. Kuharap kau tidak menolaknya kali ini."

Aku melemparkan cengiranku padanya.

"Sesuai yang kau pesan, ramen jumbo rasa pedas. Kuharap kau tak meminta yang lain lagi, Dobe."

Aku mengibaskan tanganku di depan wajahnya. "Tidak. Aku memang menginginkannya." Ujarku dengan senyum. "Terima kasih, Teme."

Saat aku ingin memakannya, tiba-tiba ada sesuatu yang kurang di dalam ramen ini.

"Sasuke?"

"Ada apa lagi, Dobe? Kau ingin makan apa sekarang, hah?" sahut Sasuke dengan kesal.

Aku hanya memajukan bibirku. Kesal dengan sahutan Sasuke tersebut. "Aku hanya ingin ditambahkan tomat ke ramen ini. Bukankah di kulkas ada?"

"Ya, ya. Akan aku ambilkan." Ia tampak malas menyahuti permintaanku.

Tak berapa lama, Sasuke menyerahkan semangkuk kecil yang berisi potongan tomat kepadaku. Dan…

"Sasuke, daging di ramen ini sedikit. Aku butuh lebih banyak."

Tanpa jawaban Sasuke segera saja menuju dapur. Kurasa ia akan memasakkan daging untukku. Ah! Dengan begini aku jadi bernapsu makan.

Beberapa menit kemudian Sasuke datang dengan sepiring daging di tangannya. Dengan begini aku semakin berselera makan.

"Terima kasih, Sasuke."

Namun, sebelum ramen itu masuk ke dalam mulutku, aku lebih dulu menghentikannya dan meletakkan kembali dalam mangkuk ramen itu.

"Sasu—"

"Apalagi, Dobe? Tak tahukah kau kalau aku sekarang sedang lelah? Tak bisakah kau diam dan menikmati makananmu sendiri? Aku butuh istirahat, Dobe."

Belum apa-apa ia sudah menyelaku. Padahal aku hanya ingin minta tolong, tapi kenapa ia membalasnya seperti itu?

Aku menjauhkan mangkuk berisi ramen itu dari hadapanku. Kemudian kubawa kaki ini menjauh dari Sasuke. Aku kesal dengannya, dan aku tak mau dekat-dekat dengannya. Dan pilihanku adalah menuju kamar tidur. Kurasa aku membutuhkan tidur.

Pintu yang kubuka lalu kututup dengan menghempaskannya. Perasaanku lagi tidak enak sekarang. Kau tahu, Sasuke? Bahwa orang lagi hamil itu sedang dalam keadaan sensitif? Dan aku merasakannya sekarang.

Aku mengambil selimut dan menutupi seluruh badanku. Tak kupedulikan bahwa sekarang cuacanya sedang panas. Yang kuinginkan adalah tidur dan menghindari Sasuke.

Kudengar dari balik selimut ini pintu kamar pun terbuka. Aku yakin itu Sasuke. Aku memejamkan mata pura-pura tidur. Aku tidak ingin melihat Sasuke.

"Naruto."

Suara Sasuke memanggilku. Namun aku hanya mengacuhkannya. Tak peduli seberapa banyak ia memanggil namaku.

"Naruto, aku tahu kau belum tidur sama sekali."

"Memang, lalu kau mau apa?" jawabku tanpa sedikitpun membuka selimut yang kupakai. Dan—aku mulai merasa pengap sekarang.

"Soal yang tadi aku minta maaf karena sudah membentakmu." Kurasa ia berusaha membuka selimutku. Namun aku menahannya.

"Lupakan. Tak usah kau pedulikan." Oh, baiklah. Aku seperti wanita yang merengek-rengek sekarang.

"Dan kau juga harus makan. Sudah dari pagi tadi kau belum makan."

"Aku sudah tidak bernapsu lagi. Buang saja semua makanan itu."

"Hei, kau berniat menyiksa anak kita?"

Anak? Benar juga. Kalau aku tidak makan, bagaimana anak ini akan makan? Aku bisa saja tidak makan selama berhari-hari kalau aku mau, tapi janin yang ada di perutku harus mendapatkan asupan setiap hari.

"Aku akan makan kalau kau mau menyuapiku."

"Baiklah, baiklah. Sekarang kau harus duduk manis di tempat tidur. Jangan begini."

Aku membuka selimutku dan langsung memajukan bibirku. "Iya, Teme!"

Kulihat ada senyum puas di bibirnya itu. Kemudian ia melangkah ke luar kamar. Kurasa ia mengambil ramenku tadi.

Sasuke, kadang ia terlalu protektif terhadap janin ini melebihi aku sendiri. Tapi kurasa itu wajar karena ia adalah ayahnya. Kuharap ia benar-benar jadi ayah yang hebat nantinya. Dan juga bisa membimbing anak ini sesuai apa yang aku harapkan.

.

#

.

Badanku terasa lebih segar sekarang. Karena baru saja aku habis mandi air hangat di cuaca dingin seperti ini. Dan juga perutku semakin membesar, menjadikanku sulit berjalan. Wajar 'kan kalau umur janin ini sudah mencapai tujuh bulan? Tidak terasa sebentar lagi aku akan melahirkan. Kira-kira dua bulan lagi. Dan itu adalah waktu yang cukup pendek. Selain itu juga, di saat persalinan nanti…

Aku berada diambang hidup dan mati.

Memikirkan ini saja cukup membuatku gelisah. Apa memang takdirku nanti hanya sampai saat persalinan nanti? Lalu bagaimana nasib anak ini dan juga Sasuke saat kutinggal nanti?

Aku menggelengkan kepalaku. Tidak. Umurku masih panjang. Aku harus berjuang. Apa yang dikatakan nenek Tsunade tempo lalu ada benarnya. Hidupku berada di tanganku sendiri.

Aku mengambil pakaianku. Celana kain yang panjang, baju terusan sampai lutut dan juga rambut blonde palsu di tanganku. Untuk apa pakaian perempuan ini di tanganku? Tentu saja aku akan menyamar. Aku selalu melakukan ini ketika hendak berpergian keluar. Dan sekarang aku—bersama Sasuke akan pergi ke rumah sakit tempat nenek Tsunade bekerja. Tentu saja untuk memeriksa kandunganku.

"Aku tidak suka kau memakai pakaian itu." Suara Sasuke membahana di ruangan ini.

Aku tersenyum. "Kenapa?" Dan saat ini aku sedang memakai rambut palsuku.

"Kau seperti orang lain saja."

"Terpaksa."

Sasuke mendengus. "Kalau terpaksa kenapa tidak dilepas saja?"

Aku membalikkan tubuhku yang semula menghadap cermin ke Sasuke yang sedang duduk di kasur belakangku. "Kau tahu, Sasuke? Mungkin aku adalah laki-laki pertama yang hamil di kota ini. Apa kata orang-orang saat melihatku nanti?"

"Kau malu?"

"Tentu saja."

"Tapi ini bukan aib, Naruto."

"Aku tahu. Tapi—" aku menghela napasku, "—lebih baik seperti ini ketimbang aku harus menjadi laki-laki. Dibicarakan oleh orang lain tidak membuatku nyaman." Aku menunduk. Sesungguhnya Sasuke sejak dulu selalu memrotes kalau aku menyamar jadi perempuan. "Dan—apa aku sudah cantik?" aku mengalihkan pembicaraan. Dan aku pun kembali menghadap cermin.

Sasuke bangkit dari tempat duduknya. Lalu ia memelukku dari belakang. Ia juga mengelus perutku yang sudah membesar ini. "Kau akan lebih terlihat cantik kalau—" Ia mengecup pipi kiriku, "—kau menjadi dirimu sendiri."

Dengan cepat aku membalikkan tubuhku. "Hei, saat menjadi laki-laki aku tak suka dibilang cantik. Tampan lebih baik ketimbang cantik."

"Bagaimana kalau manis?"

Aku memutar bola mataku. Dan kembali pula menghadap cermin. "Apakah aku seperti gula?"

"Kau lebih terlihat seperti madu."

Aku memukul bahunya pelan. "Sialan, kau!"

.

#

.

Bangun di sore hari seperti ini membuatku nyaman. Setelah tadi disibukkan belajar memasak bersama pembantu—dengan berakhiran kekacauan di dapur—aku lebih memilih mengistirahatkan tubuhku. Beban yang ada di dalam perutku ini membuatku lebih mudah terasa lelah. Apa semua perempuan juga seperti ini?

Ketika aku ingin bangkit, tiba-tiba saja aku merasakan ada yang aneh dengan perutku. Ada apa ini? Perutku seperti dihantam sesuatu dan itu sangat sakit sekali.

Sekali lagi aku mencoba bangkit. Tapi—perutku rasanya benar-benar sakit.

Aku memegang perutku yang sangat besar ini. Mengelusnya agar sakit ini reda. Tapi bukannya mereda malah menjadi-jadi. Tuhan… apa yang terjadi.

Tanganku mulai bergetar dan juga keringat mulai mengalir dari keningku. Aku ingin berteriak. Tapi aku teringat kalau di rumah ini tak ada siapa-siapa. Pembantuku tadi meminta ijin kepadaku kalau ia pulang cepat karena ada sanak saudaranya yang sedang sakit. Aku harus meminta tolong dengan siapa?

"To—long." Aku bergumam lirih. Percuma, tak ada satu pun orang yang akan mendengarnya.

Perutku semakin menjadi-jadi sakitnya. Ada sesuatu yang ingin melesak keluar dari perutku. Oh, Tuhan… apa ini sudah waktunya?

"Sa—suke…" aku bergumam menyebut nama suamiku. Tapi… suamiku saat ini sedang berada di kantornya. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Jantungku berdetak cepat. Napasku tersenggal-senggal seperti habis berlari. Dan tubuhku juga bergetar hebat. Aku akan melahirkan. Tapi, aku tak bisa melahirkan dengan cara seperti ini. Satu-satunya cara agar bayi ini keluar dari perutku hanya dengan jalan operasi. Laki-laki tak bisa melahirkan dengan cara normal.

Bodohnya aku! Kenapa aku tidak menggunakan handphone saja? Tapi sepertinya itu tak mungkin. Handphone itu terletak jauh dari tempatku berbaring. Bagaimana mengambilnya sementara aku tak bisa bergerak sedikit pun dari tempatku?

Aku mencengkram seprai putih ini. Mencoba menahan sekuat mungkin rasa sakit ini. Aku tak pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya. Dan tak terasa air mataku meleleh saking sakitnya.

"Sa—suke… Sasuke…" Berulang kali aku menyebut nama suamiku itu. Berharap ia akan datang ke rumah dan membawaku ke rumah sakit. Sekecil apapun aku berharap, kuyakin dia pasti datang.

Aku mengatur napasku yang tersenggal. Menahan sakit yang mendera perutku. Aku sudah tidak tahan. Sasuke… sasuke… cepatlah datang…

Apa hidupku sampai di sini saja? Napasku mulai memendek. Aku kesulitan bernapas.

Sasuke… Sasuke… Sasu—

"Naruto?"

Kutorehkan kepalaku ke arah pintu. Dan di sanalah… suamiku berdiri dengan raut wajah yang tak bisa kutebak.

"Sasu—ke?"

Ia berlari mendekat kepadaku. Ia mengangkat kepalaku, menjadikanku bersandar padanya. "Apa yang terjadi?"

"Pe—rutku sakit se—kali." Mengucapkan tiga kata itu saja membuatku terengah.

"Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit."

Aku mengangguk lemah. Aku pasrah saja saat ia menggendongku dari kasur tempatku berbaring. Raut wajahnya… aku tak pernah melihat ia sepanik itu.

Kurasakan Sasuke agak kesulitan membawaku. Karena selain berat badanku bertambah, di dalam tubuhku juga ada kehidupan lain. Aku meremas bajunya menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi. Aku tidak kuat lagi rasanya.

Sasuke mendudukkanku di kursi mobil dan memakai sabuk pengaman setelah ia kesulitan membuka pintu mobil ini. Sasuke pun mengusap keringatku yang mengalir deras di keningku. Ia menggenggam erat tanganku. "Bertahanlah… cobalah untuk mengambil napas dan membuangnya pelan."

Aku mengangguk. Kuturuti saran Sasuke yang mungkin berguna itu.

Cukup membantu, tapi tetap saja rasa sakit itu tidak berkurang. Aku mencengkram perutku—meski tidak terlalu kuat—untuk menahan sakitnya, dan itu tidak membantu.

"Sasu—ke… a—ku sudah ti—dak tahan la—gi…" dan aliran airmata ini jatuh dari sudut mataku. Rasanya aku seperti berada di ujung maut. Tolong biarkan aku mati saja daripada menahan rasa sakit yang tak tertahankan ini.

Tangan suamiku mengusap air mata yang jatuh ke pipiku. Kemudian ia mengelus perutku dan pada akhirnya ia menggenggam erat tanganku yang berada di pangkuanku dengan tangannya yang tak memegang kendali. Aku balik meremas tangannya.

"Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit. Bertahanlah… ini demi anak kita."

Anak? Benar juga. Aku harus berjuang demi anakku. Aku juga harus hidup demi anakku dan Sasuke.

Pada akhirnya kami sampai di rumah sakit tempat nenek Tsunade bekerja. Sasuke dengan tergesa-gesa ia membuka pintu mobil dan mengeluarkanku. Lagi-lagi ia mengalami kesulitan.

Pandanganku mulai kabur. Dan aku pun merasa tubuhku lemas luar biasa. Aku tak sanggup lagi menggerakkan tanganku. Rasanya kesadaran aku pun menipis.

"Naruto! Naruto! Berbicaralah padaku!" Sasuke berteriak sambil mengguncangkan tubuhku.

"Sa—suke…" aku bergumam di saat aku memejamkan mataku.

"SUSTER! SUSTER! TOLONG AKU!" Sasuke berteriak kencang sekali dan itu sangat terdengar jelas di telingaku.

"Naruto, buka matamu!" Ucapnya saat aku diletakkan di suatu tempat yang tidak aku ketahui.

Tidak… aku tidak bisa bersuara lagi. Suaraku tidak bisa keluar lagi. Hanya desahan napasku yang tersenggal-senggal.

"Bocah, kalau kau menyerah sekarang, perjuanganmu akan jadi sia-sia selama ini. Pikirkan anakmu, pikirkan suamimu ini."

Suara itu… suara nenek Tsunade 'kah?

"Ne—nek…" mungkin ini adalah suara terakhirku yang bisa aku ucapkan.

Aku membuka mataku sekali lagi. Dan pandanganku semuanya menghitam. Setitik cahaya itu rasanya sudah tidak ada. Dan sakit itu pun perlahan-lahan menghilang dari perutku.

Sasuke…

Sasuke…

Sasu—

TBC

Naruto mau saya bikin mati /plak!

Berbahagialah yang meminta Mpreg \(-_-)/

Maaf update-an yang terlambat lagi. Salahkan dosen saya yang memberi saya tugas ini dan itu =.=

Dan sempat sakit-sakitan juga dalam beberapa hari ini.

Ada rasa nga puas dalam chapter ini, kenapa ya? Kok rasanya feelnya kurang? Bagaimana dengan reader sendiri?

Sempat deg-degan sendiri saat scene Naruto yang kesakitan itu. Rasanya scene itu kaya saya yang lagi kena maag kambuh. Mungkin rasanya seperti itu. Entahlah… bener apa nga :|

Special thanks for:

Ai HinataLawliet

Nine tailed

Kuro

Uchiha Uzumaki Hatake Hotaru

Superol

Fujita Hoshiko

ttixz lone cone bebe

zee raretsu

Uchizuku no RenMay

Vii no Kitsune

eLmaoo

Rosanaru

Lukiast

Lasanaru

Sasunaru4ever

Lovely orihime

Namikaze Reisen

Icha22madhen

Shiki Raven-Sakuraii

Versiera Shie Chibie

Ai

sizunT hanabi

CCloveRuki

Chiho Nanoyuki

Uzumaki Arisa *peluk cium* :*

Delta Dwina Alpha Fujoshi

Ukkychan

Ira Julian

And buat silent reader yang baca fic ini plus yang ngefave ama alert juga saya ucapkan thankiyu peri mach! XDD

Chap depan chap terakhir. Dan chap depan juga ada dua sudut pandang. Dari pihak Sasuke dan juga Naruto.

Nga yakin juga chap depan update cepet. Selain UAS udah di depan mata, trus bentar lagi ada SasuNaru day dan Insya Allah saya nyumbang fic aja *semoga tidak ada halangan*

Buat semuanya, Happy S.N Day! ^_^

Reviewnya lagi? :3

Buat yang nanya saya ELF apa bukan, and I say YES! I'm forever ELF!