Helloo reader, kisah cinta Baekhyun Luhan hadir kembali. Terima kasih yang udah jawab pertanyaan author di chap sebelumnya. Hampir semua jawaban kalian memang seperti ide author kok. Seneng dehh punya reader yang sehati ama author wkwkwk. Entah emang sehati atau emang ini alur ceritanya gampang ditebak -_-
Tapi tenang ajaaa ini beda kok, author berusaha sebisa mungkin bikin konflik yang cetarrrr. Ayo kita bikin hidup Baekhyun ama Luhan susah disini, menderita, dan nelangsa hhahahaha.
Let's write, let's read…
NO PLAGIAT!
Chapter 3 : normal day
Pagi di hari yang sama.
Baekhyun terbangun karena tidak tahan dengan rasa pegal pada punggung dan lehernya. Ia merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku dan mati rasa. Ketika matanya terbuka ia langsung berhadapan dengan layar komputer yang masih menyala dan speaker pun masih memainkan lagu SNSD. Ternyata semalam Baekhyun tanpa sadar tertidur setelah melakukan penelitian di berbagai macam media sosial yang ia kenal.
Jam di pojok kanan bawah layar menunjukkan angka 05:44. Baekhyun tersenyum kecil karena bangun di waktu yang tepat. Tapi sungguh, pegal-pegal di tubuhnya tidak dapat diabaikan. Dengan susah payah ia menggerakkan tangannya ke arah mouse untuk men-shutdown komputernya.
Baekhyun tersenyum selebar yang ia bisa ketika melihat background di desktop komputernya. Kini layar background desktop-nya bukan lagi gambar bawaan theme Windows 7.
Melainkan gambar wajah malaikatnya yang sedang tersenyum lebar padanya. Ia mendapat gambar tersebut dari Twitter Cho Kyuhyun tadi malam. Langsung saja dia crop bagian yang menurutnya tidak penting. Kalau hanya di crop di bagian Luhan benar-benar pecah.
Karena foto diambil saat sedang ramai, wajah Luhan kecil dan tidak terlalu jelas apalagi ketika di zoom. Maka dari itu Baekhyun hanya menandai wajah Luhan dengan tanda hati.
Selain menjadi background baru di desktop-nya, foto Luhan pun kini menjadi wallpaper baru di smartphone Baekhyun.
Dengan bersenandung riang, Baekhyun mengambil handuknya dan melangkah masuk ke kamar mandinya. Masih ingatkan kalau rumah Baekhyun besar dan kuno?
Begitu pun kamarnya yang luas dan memiliki aksen kuno dan klasik, kayu dan furnitur bercat gelaplah yang mendominasi.
Tapi tidak dengan kamar mandinya, Baekhyun bersusah payah dan merajuk mati-matian pada appa-nya untuk memiliki kamar mandi bergaya modern. Kesan horor lah yang ia rasakan jika mengingat kamar mandinya sebelum berubah indah seperti sekarang.
Ia memang tidak pernah mengunci pintu saat mandi. Setelah masuk ia menanggalkan bajunya satu persatu. Mulai dari kancing teratas piyamanya. Lalu…
-udah lah jangan ngintipin baekhyun mandi, ntar bisa naik rating-
..…..…...
Seperti biasa, Baekhyun memulai sarapannya dengan memuji-muji eomma-nya. Eomma Baekhyun selalu bersyukur memiliki anak seperti Baekhyun yang bermulut manis dan pandai sekali membuatnya bahagia. Seperti saat ini.
"ASTAGA, EOMMA!" teriak Baekhyun setelah menelan suapan sarapan pertamanya. Otomatis empat pasang mata lain melirik kepadanya.
"Beruntung sekali appa memiliki istri seperti eomma. Selain memiliki wajah yang cantik, masakan buatan eomma enak sekali" puji Baekhyun berlebihan dengan mata berbinar-binar.
Appa dan hyung-nya hanya menatap malas padanya. Sedangkan si kecil Baekhee bertepuk tangan bahagia menandakan kalau ia setuju dengan pernyataan hyung keduanya.
Eomma Baekhyun tersenyum bahagia tiada dua ke arah Baekhyun tanpa menjawab pujiannya, memang sejak anak keduanya bisa bicara yang ia dengar hanya pujian-pujian manis untuk dirinya. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Baekhyun menyakitinya.
"Hyun, ini hanya roti tawar dengan olesan selai. Eomma-mu tidak memasak apa pun hanya mengoles, karena dia tidak ingin kulit tangannya berubah kasar atau merusak nail art-nya" ucap appa-nya sambil mengangkat ujung roti tawarnya menggunakan ujung jari telunjuk dan ibu jarinya, tentu saja dengan pandangan meremehkan.
Suasana meja makan mendadak diam dan hening. Tidak ada satu pergerakkan pun. Kejadian seperti ini bukan pertama atau kedua, melainkan yah memang seperti inilah kehidupan keluarga Byun. Tuan dan nyonya Byun sering bertengkar.
Penyebabnya? Yah tentu saja karena mereka berdua memiliki pandangan hidup berbeda. Tuan Byun menginginkan istri yang berperan sebagai ibu rumah tangga yang baik, ia adalah pria paruh baya dengan pikiran kolotnya. Sedangkan nyonya Byun adalah korban salah kaprah 'emansipasi wanita'.
"hahaha, iya appa benar juga. Mungkin karena aku memakannya sambil melihat eomma makanya roti tawar pun terasa nikmat. Hhahaha" Baekhyun buru-buru berbicara riang dan tertawa bahagia ketika melihat eomma-nya membuka mulut untuk membalas ucapan appa-nya.
Keluarga ini bersyukur memiliki Baekhyun. Anak lelaki riang yang berusaha sebaik mungkin untuk keutuhan keluarga kecilnya.
Ada makna di balik kata yang diucapkan Baekhyun '…memakannya sambil melihat eomma…'. ketika Baekhyun kelas 7 Eomma-nya pernah kabur dari rumah dan hanya membawa lari Baekhee yang masih balita. Hati Baekhyun sangat hancur saat itu. Ingin ia lari mengejar eomma-nya, tapi ketika melihat appa-nya ternyata pria itu pun meneteskan air mata.
Suasana kembali mencair, mereka melanjutkan sarapan yang tertunda tapi tetap saja tidak ada suara setelah tawa riang Baekhyun.
...………...
Seperti biasa di pagi hari, Baekhyun dijemput Sehun menggunakan matic andalannya. Dan sekarang Baekhyun sedang turun dari motor matic itu hendak melayangkan protes.
"ugh, kenapa setiap hari menggunakan motor sih? Sekali-kali pakai mobil dong seperti saat kerumah Luhan kemarin. Tatanan rambutku kan jadi berantakan"
Dan seperti biasa juga Baekhyun secara otomatis merapikan rambutnya setelah turun dari motor.
Dan seperti biasa juga Sehun akan selalu mendengar ocehan tidak berguna atau keluhan tidak mutu dari orang tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih yang setiap pagi menumpang motornya.
Tanpa mempedulikan ucapan tidak tahu malu Baekhyun, Sehun langsung tancap gas meninggalkan gerbang.
"benar-benar tidak sopan" Baekhyun memperhatikan Sehun yang makin dalam memasuki kawasan parkir.
Gadis-gadis yang melihat interaksi Baekhyun dan Sehun terlihat senyum-senyum dan tertawa cekikikan. Lucu sekali melihat dua orang tampan dengan predikat bestfriend saling melemparkan tatapan tidak suka.
…….……...
Jam 7 malam di hari yang sama.
Dalam sebuah mobil putih yang sedang melaju membelah pekat malam terlihat seorang pria berdandanan rapi dengan setelan jas mahal sedang mengemudikan setirnya.
Dia berhenti di depan gerbang sebuah rumah mewah tanpa keluar dari mobil.
Ternyata sudah ada seorang gadis menunggunya. Berpakaian santai dengan rok selutut dan kaus lengan pendek. Rambutnya dikuncir cukup tinggi, memperlihatkan tengkuknya yang tanpa cela.
Tanpa disuruh, sang gadis membuka pintu di samping pengemudi lalu duduk manis. Dengan cekatan mengambil headset dan memasangnya di kedua telinga tanpa menghiraukan sedikit pun siapa pria yang sedang duduk di kursi pengemudi.
Si pria tersenyum remeh melihat kelakuan si gadis, dia terlihat muak ketika sadar alas kaki yang dipakai si gadis hanya sandal rumahan yang murahan.
Si gadis pun tidak membawa tas atau bawaan lain, hanya ponsel dan headsetnya.
"kita akan makan malam di hotel berbintang dan setelah itu aku berencana membawamu bersenang-senang di pub sampai subuh. Apa ini kostummu?" si pria berkata pelan tapi penuh penekanan di setiap katanya.
Si gadis tetap mengabaikannya dan malah bermain dengan ponselnya.
Si pria memberi kesempatan selama beberapa waktu pada si gadis untuk menjawabnya. Tapi ternyata ia tetap diabaikan. Akhirnya ia menarik headset si gadis. Si pria tahu bahwa si gadis hanya memakai headset tanpa menyalakan suara apa pun.
Si gadis tetap tidak peduli ketika headset nya dicabut paksa, ia malah menyilangkan tangannya.
"kita tidak akan pergi kemana pun, aku tidak akan membiarkanmu mempermalukanku" kali ini si pris berdesis dingin dan bercampur emosi.
Si gadis masih tetap tidak menatapnya dan juga tidak menjawabnya, ia kini sibuk menatap kuku-kuku-nya yang indah.
Si pria mendekatkan wajahnya pada sisi wajah si gadis dan mengendus aromanya. Membisikkan kata-kata dengan bibir tepat di telinga sang gadis.
"aku berubah pikiran, kita bersenang-senang di hotel saja sampai pagi"
Secara naluriah tangan si gadis menahan tubuh si pria agar berhenti mendekatinya.
"tsk, men-ja-uh" satu decihan dan satu kata, tapi berhasil menghentikan bibir liar si pria.
"aku serius, kita tidak akan pergi kemana pun. Tidak akan kubiarkan kau mempermalukanku"
"aku memang berniat mempermalukanmu tapi tentu saja tanpa mempermalukan diriku sendiri…" akhirnya si gadis melihat si pria, hanya tatapan tajam penuh amarah. Mata mereka akhirnya bertemu. Dan si gadis melanjutkan ucapannya.
"…aku sudah memesan satu set pakaian di suatu butik dan juga sudah membuat reservasi di sebuah salon. Aku yakin saat ini satu set pakaian itu sudah sampai di salon. Dan yang perlu kau lakukan sekarang hanya mengantarku ke salon itu. Kau tahu salon yang ku maksud kan?" setelah bicara panjang lebar dengan nada tidak bersahabat si gadis langsung mengalihkan wajahnya dari si pria.
Si pria pun tidak ada tanda-tanda akan menjawab ucapan si gadis. Ia menyalakan mobilnya dan dengan cepat meninggalkan rumah besar tersebut. Bergerak menuju salon yang dikatakan si gadis.
Setelah beberapa saat dalam keheningan, akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju.
"sebentar" ketika mobil berhenti si gadis langsung keluar tanpa menunggu jawaban si pengemudi. Dengan langkah anggun si gadis berjalan memasuki gedung tiga lantai tersebut.
Sesampainya di front office, si gadis langsung bicara tanpa basa-basi.
"reservasi atas nama Xi Luhan" si gadis bicara tegas dan cukup angkuh.
Seakan sudah tahu sikap gadis bernama Xi Luhan, resepsionis langsung menelepon entah kepada siapa. Tidak sampai tiga menit, seorang wanita menyambut Luhan dengan senyuman bisnisnya.
Luhan mengikuti si wanita menaiki tangga menuju lantai dua. Sesampai di lantai dua wanita tersebut memberi dua buah paperbag yang satu berisi gaun dan satu lagi berisi sepatu.
Setelah berganti pakaian, ia langsung duduk di salah satu kursi rias.
Lalu memilih model rambut dan makeup sesuai keinginannya, setelahnya dua orang pegawai salon bagian hairstyle dan makeup tanpa banyak bicara mulai mendandani Luhan.
………
Tidak sampai setengah jam, si pria melihat Luhan sudah keluar dari gedung itu dengan dandanan berbeda. Tentu saja Luhan yang ini sejuta kali lebih menarik dibanding yang tadi.
Dengan highheel yang memamerkan kaki jenjangnya. Gaun hitam diatas lutut yang kontras kulit putih mulusnya. Dan rambut yang disanggul cantik memamerkan tengkuknya yang indah. Bagaimana dengan makeup? Lapisan kosmetik itu hanya pelengkap, pria ini tahu bahwa Luhan akan tetap sempurna meskipun tidak menggunakannya. Tangannya yang lentik itu memegang tas kecil dan bungkusan lain.
Setelah sampai di mobil si pria, Luhan membuka pintu mobil tersebut dan melempar paperbag ke jok belakang mobil. Sedangkan tas kecilnya ia taruh pangkuannya.
"aku baru ingat, dimana kardigan kesayanganmu? Kapan pun dan dimana pun kau selalu membawanya" si pria berucap dingin ketika Luhan memakai sabuk pengaman.
Muka Luhan berwajah agak muram ketika mengingat hal tersebut, tapi sayang sekali si pria tidak melihatnya. Dan tentu saja Luhan menjawab dengan satu kata dan nada ketus.
"kotor"
Si pria mengendikkan bahu sambil sedikit melirik Luhan.
Tidak seperti perjalanan menuju salon yang hening. Di perjalanan ini mereka mengobrol cukup banyak, meski pun adu kata adalah istilah yang lebih tepat. Mereka berbicara dengan intonasi angkuh dan dingin.
"bagaimana perkembangan perseteruan hukummu?"
"bukan urusanmu"
"sayang sekali padahal aku ingin membandingkan tuntutan dari pihakmu dengan pembelaan dari pihak nenekmu"
"aku bukan cucunya lagi"
"hoo, menarik sekali"
"apa yang mau kau bandingkan?"
"kau mau tahu apa pembelaan nenekmu?"
"ck, bukan nenekku lagi. Jawab saja"
"aku juga tidak tahu, ketika dia bercerita aku tidak mendengarkannya"
"kau itu benar-benar bodoh"
"hey, nenekmu bercerita di jam makan siangku yang berharga. Kau pikir aku bisa fokus mendengarkan ketika perutku keroncongan dan dihadapanku tersaji makanan?"
"hidupmu menyedihkan"
"hidupmu tidak lebih baik dari hidupku"
"aku heran apa yang dilihat nenek tua itu darimu"
"dia memang tidak melihat apa pun, tapi dia juga tidak buta. Dia menginginkanku karena aku tidak masalah jika nanti kita menikah dan menghasilkan anak, anak itu akan bermarga Xi seperti kalian. Ada yah orang yang memuja-muja marganya sampai seperti itu"
"lalu kau tidak masalah jika benar nanti kita menikah dan menghasilkan anak, anak itu bermarga Xi? Padahalkan normalnya seorang anak mengikuti marga ayahnya"
"aku tidak khawatir dengan margaku, marga tidak penting menurutku. Lagi pula ada jutaan orang yang memiliki marga sepertiku"
"lalu apa yang membuatmu khawatir? Perusahaanmu? Investasinya? Kerjasama kalian? "
"jangan mengalihkan pembicaraan, kita sedang berbicara mengenai marga"
"ahh aku baru ingat, sampaikan pada wanita itu ketika masalah hukum ini selesai dan aku memenangkannya. Aku akan merubah marga Xi menjadi Cho, sesuai dengan marga ibuku. Biar saja marga Xi yang dia bangga-banggakan itu punah"
"hidupmu tidak semudah itu, nona Xi. Kau tahu wanita macam apa dia, kau hidup dengannya sejak kecilkan? Dan ingat betapa dia membencimu tetapi juga membutuhkanmu sebagai penerus? Dia tidak akan semudah itu melepasmu"
"dia benar-benar dendam padaku, dia tidak berpikir jika semua yang terjadi diluar kuasaku? Dia benar-benar wanita tua gila berpikiran sempit"
"oke, sepertinya cukup sampai sini pembicaraan kita mengenai masalah keluargamu"
Pria itu menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama sebuah hotel besar. Luhan keluar mobil lebih dulu dan dengan cepat membukakan pintu pengemudi sebelum para pelayan melakukannya, mengulurkan tangannya untuk membantu si pria keluar mobil. Para security dan tukang parkir terheran-heran melihat apa yang dilakukan Luhan, biasanya seorang pria lah yang membukakan pintu untuk gadisnya tapi ini kebalikannya.
Luhan mengulurkan tangannya dan disambut oleh tangan si pria. Si pria menurunkan kaki kanannya terlebih dahulu, tapi selanjutnya bukan kaki kiri yang ia injakkan pada tanah. Melainkan sebuah tongkat. Orang yang awalnya bingung menjadi mengerti sekarang, si gadis membukakan pintu untuk si pria dan membantunya keluar dari mobil karena si pria itu cacat.
"terima kasih" ucap si pria pada Luhan ketika dia sudah berdiri tegak dan menyerahkan kunci mobilnya pada tukang parkir yang siap menerima perintahnya. Tidak ada yang salah dengan tubuhnya, semua tampak utuh sempurna. Tidak akan ada yang tahu ia cacat jika ia tidak bertopang pada tongkat kayu di lengan kirinya.
"sebenci apapun aku padamu, aku tidak akan mengabaikan orang cacat" Luhan menjawab pelan sambil tersenyum manis, gadis ini benar-benar menyindir pria di disampingnya yang kini menggenggam telapak tangannya. Si pria tidak ambil pusing dan memilih mengacuhkannya.
Dengan berpegangan tangan mereka memasuki lobi hotel, dan hampir semua mata tertuju pada pasangan itu. Pasangan yang indah dipandang sebenarnya jika si pria tidak berjalan terseok-seok dengan dibantu tongkat. Dia pria tampan dengan tubuh tegap dan tinggi, karisma kepemimpinannya terpancar kuat. Wajah asia asli dengan rambut hitam yang berkilau tertimpa cahaya lampu kristal. Sekali melihatnya saja orang pasti tahu jika pria ini bukan dari kalangan biasa.
"aku dapat menebak apa yang orang-orang itu pikirkan mulia sekali hati gadis cantik itu mau menerima pria cacat sepertinya atau beruntung sekali pria cacat itu dapat berdampingan dengan gadis secantik itu" Luhan berbisik di telinga si pria. Membuat mata orang-orang makin membulat melihat kemesraan mereka.
Si pria tertawa mendengar ucapan Luhan dan memberikan kecupan singkat di bibir Luhan. Membuat Luhan berdecih muak.
to be continued...
hayooo tebak siapa yang tahu "si pria?" terus apa hubungannya ama bebeb Luhan?
okee pertanyaan chapter sebelumnya udah kejawab yaa. wanita tua itu nenek luhan dari pihak ayah. kyuhyun itu paman luhan dari pihak ibu.
see you next chapter :*
kalo ada jalan cerita yang ngga ngerti tanya aja. maaf chapter yang ini pendek yaa soalnya emang cuma segini aja yang mau author ceritain.
LOVE you READER ;*
REVIEW ditunggu :D
Note: di cerita ini Appa Baekhyun memang menyebut nama anaknya dengan suku nama terakhir, karena dua suku nama pertama anak-anaknya sama: Byun Baek. Byun Baek Beom, Byun Baek Hyun, Byun Baek Hee.
Just info: dalam kehidupan nyata Baekhyun adalah anak bungsu. Dan hyungnya memang byun baek beom, silakan googling kalau gak percaya. Kalau Byun baek hee Cuma karangan author. Gadis kecil ini mirip banget ama baek hyun, yah anggap aja ini versi cewek baekhyun.
