Disclaimer
Kuroko no Basuke © Fujisaki Tadatoshi
[A]LONE © crowdstroia
WARNING:
Beberapa karakter dalam suatu kesempatan akan terlihat OOC. Saya berusaha buat keep them in character. But, it's just not as easy as it sounds it would be.
.
.
.
Ni
.
.
.
Seumur hidup, Kise Ryouta hanya menemukan hal-hal berikut yang menarik perhatiannya:
Basket, basket, basket.
Kenapa?
Karena pasalnya, dibanding kegiatan lain, ia lebih memilih basket karena lebih menantang.
Karir modelnya? Tidak terlalu berarti dibanding basket.
Makanan favoritnya? Ia akan segera meninggalkannya apabila ada pertandingan mendadak.
Kekasihnya? Malah ia ajak untuk menonton pertandingannya dibanding kencan bersama.
Sahabat-sahabatnya? Rata-rata sih, pemain basket.
Basket bagi Kise adalah permainan yang sangat menarik; menguji fisik juga mental. Taktik, bakat, kerja keras dan—setelah disadarkan oleh kekalahan melawan Seirin—kerja sama, jelas memainkan peranan penting di sini. Kise tak begitu gemar dengan olahraga lainnya. Pemuda itu selalu bisa mempelajari dengan cepat setiap gerakan sehingga olahraga yang selain basket terasa membosankan di matanya. Maka, jangan heran jika terkadang, Kise suka bolos saat ada pelajaran olahraga yang mengharuskannya latihan sesuai materi.
Namun, khusus pagi ini, jam pelajaran olahraga malah diisi dengan kegiatan kebersihan sekolah. Karena sang guru pembimbing sedang ada urusan mendadak, ia pun menyerahkan tanggung jawab kegiatan ini ke masing-masing ketua kelas.
Sambil mengelap keringat di dahinya dengan baju, Kise kembali memungut sampah yang cuma sedikit berserakan di bangku penonton lapangan sepak bola. Matanya menangkap bungkus sisa permen di dekat tangga. Dengan malas, ia pun berjalan ke tempat tersebut, lalu membungkuk dan mengambil sampah kecil itu—
—hanya untuk didahului oleh tangan kecil di hadapannya.
Kise tidak bergerak. Matanya terpaku pada sepasang sepatu olahraga warna kuning-biru berukuran kecil di depannya. Ia mengerjap, sekali, dua kali. Jelas tahu benar siapa pemilik sepatu tersebut. Dan—oh, ya Tuhan, ia bahkan sampai hapal bentuk jejak sepatunya!
Kise bergidik oleh pikirannya sendiri. Memang sejak kapan ia jadi agak stalker begini?
(bukannya sudah dari dulu, ya?)
"Apa kau ada masalah dengan sepatuku, Kise Ryouta?"
Suara sejernih air yang terdengar polos itu bagai menyiram tubuhnya dengan es. Ternyata benar, ia langsung betah saat namanya diucap oleh gadis itu. Entah bagaimana nama Kise Ryouta jadi terasa begitu indah, membuatnya bersyukur pada orangtuanya yang telah menciptakan nama ini.
Namun beberapa saat kemudian, pemuda yang ditanya hanya tergugu. Perlahan, ia menegakkan punggung, mengalihkan pandangan dan menolak untuk bertatap mata dengan gadis incarannya.
Apa? Sebentar. Tadi dia berpikir apa barusan?
Gadis incaran?
Oi, oi, memang sejak kapan ia mengincar gadis ini?! Dan apa pula yang ia incar?!
Kise mengernyit. Malu dengan pikiran bodohnya.
"Kise Ryouta-san, apa kau mendengarku?"
Perhatian Kise teralih. Dan ketika menoleh ke sumber suara, tanpa sengaja mata topaznya bertemu dengan manik mata gadis itu.
Nafas Kise seperti diambil paksa dari paru-parunya.
"Eh? Kise Ryouta-san?" ulang gadis itu sambil memiringkan kepala, yang dimata Kise gestur itu malah membuat paras Sang Gadis makin menggemaskan. Mata gadis itu mengerjap dua kali. Bulu matanya panjang, pikir Kise, ah, tidak. Sekarang bukan saatnya berpikir begitu, bodoh. Dia sedang bertanya padamu dan membutuhkan jawaban dengan segera!
"Uh," ia tergagap. Matanya memandangi sepatu, lantai, apapun, pokoknya agar tidak menatap kembali mata gadis itu yang menghipnotisnya. "Uhm, uh, aku…"
"Kise Ryouta-san. Kau aneh," ujarnya sembari mendekat agar bisa melihat wajah Kise, memastikan pemuda itu tidak sakit dan baik-baik saja.
Dan ditatap oleh gadis itu, Kise mendadak lupa perbendaharaan kata warna-warni miliknya yang biasa ia lontarkan.
Astaga, apa-apaan ini?
Ia, Kise Ryouta, jadi gugup hanya karena ditatap perempuan?
Ayolah Ryouta, jantanlah sedikit. Kau sudah biasa, bahkan terlalu terbiasa menghadapi ratusan perempuan. Cuma satu perempuan manis saja yang menatapmu dan kau langsung jantungan begitu? Tidak mungkin, ah. Kau bisa jauh lebih baik dari pada ini.
Benar 'kan?
Iya 'kan?
Kok, ia jadi malah berusaha meyakinkan dirinya sendiri?
"Wajahmu merah, apa kau sakit?" tangan gadis itu mulai bergerak menyentuh dahi Kise, mengirimkan setruman halus yang menggelitik dadanya.
Dan, ya ampun, tolong, jantungnya itu bisa berhenti agar tak berpacu secepat ini tidak, sih? Kise itu tidak habis bertanding lawan anggota Generation of Miracles ataupun latihan basket dengan porsi besar-besaran! Ia hanya disetuh dahinya, DISENTUH DAHINYA! Ia sudah pernah melakukan yang lebih dari ini bersama perempuan lain (ayolah, dia itu seorang model for God's Sake!). Tapi kenapa, dengan gadis ini, sentuhan terkecil pun bisa terasa memabukkan?
Ia butuh Kasamatsu-senpai untuk mencecarnya, bahkan kalau perlu, menamparnya. Segera.
"Permisi," ujar Kise cepat, sampai-sampai ucapannya malah terdengar seperti berkumur. Ia langsung menarik karung sampahnya dan lari sprint menjauhi gadis itu. Tak memedulikan apakah gadis itu menganggapnya aneh atau tidak.
Uh, sebenarnya, masih agak peduli juga, sih.
Oh iya, mata gadis itu…
Ternyata bukan oranye, batin Kise, tapi juga bukan coklat. Warnanya lebih seperti…
Warna tembaga.
Dan mendadak, Kise jadi suka warna itu.
[ ].
