Jealousy Deer

At SM High School

Kim Minseok POV *

Akhirnya, aku sampai juga. Kenapa belum ada yang datang? Apa aku terlalu pagi datang kemari? Kulihat arlojiku, sekarang sudah jam 9 lebih 15 menit, apa yang lain sedang terjebak macet? Tapi mana mungkin, ini kan akhir pekan, ah sudahlah. Dari pada aku bosan, lebih baik aku ke kafe seberang saja, siapa tahu salah satu dari mereka sudah ada di sana.

Aku menyeberang jalan dan melihat ada kafe kecil yang terletak tak jauh dari sekolah. Semenjak awal aku masuk sekolah itu, aku sudah ingin sekali mampir ke kafe ini, baru sekarang bisa kesampaian. Aku masuk ke dalam kafe itu, di dalam ternyata sangat nyaman, lalu aku memesan kopi favoritku di konter. Saat aku ingin mencari tempat duduk selagi menunggu, seseorang dari arah pojok ruangan itu memanggilku.

"Minseok! Sini! Cepatlah!" rupanya Baekhyun sudah ada di sana bersama Jongdae.

Aku mulai berpikir, untung saja aku tak menunggu mereka di depan gerbang sekolah. Aku bergidik seandainya aku ada disana mungkin orang akan menganggapku seperti orang gila yang tersesat. Tapi aku kesal pada mereka, kenapa tidak sejak dari awal saja meminta berkumpul di sini. Tck.

"Kenapa kau tak bilang dari kemarin kalau kita berkumpul di sini? Untung ku tak menunggui kalian di gerbang sekolah tadi, huh," aku mengambil tempat duduk berhadapan dengan Baekhyun dan Jongdae.

"Maafkan aku, Minseok, kami lupa memberitahumu, aku berpikir akan memberitahumu lewat ponsel, tapi aku lupa kalau kau tidak punya ponsel, hehe," Baekhyun meringis.

Aku memutar bola mataku malas huh, ingin sekali aku melempari muka konyolnya itu dengan sedotan di hadapanku.

Kopiku sudah jadi dan aku ke konter untuk mengambilnya, namun tunggu, ada apa di belakangku, ya? Aku sedari tadi memang merasa merinding terus menerus, tapi selain hantu di sepanjang jalan yang berpapasan denganku tadi kurasa tidak ada yang sesuram ini. Perlahan aku menoleh ke belakang dan..

"Lu?" aku ternganga dan tak habis pikir

"Kenapa dia kurang kerjaan sekali mengikutiku sampai kemari sih?"

Aku kembali menuju meja dimana teman - temanku duduk tadi. Bagaimana aku bisa bersenang - senang jika si hantu mesum itu mengikutiku kesana kemari. Aku pura - pura tak melihatnya saja lah.

"Minseok, kenapa hari ini kau tidak sekalian membeli ponsel saja untukmu. Dengan begitu, kita lebih mudah saling berkomunikasi, kan?" bujuk Jongdae.

Setelah aku pikir - pikir, ide itu boleh juga.

"Baiklah, kalian temani aku beli ponsel. Lalu kita masih menunggu siapa lagi?"

"Aku menunggu Yixing, tapi dia lama sekali. Katanya dia akan mengajak temannya juga," terang Baekhyun.

Aku hanya mengangguk sembari melirik sekilas ke arah Lu yang kini berdiri di belakang Baekhyun menatapku tajam. Aku bergidik.

"Kau kenapa Min? Kau kedinginan? Sedari tadi bergidik melulu," tanya Jongdae ingin tahu.

"Ah, tidak. Aku hanya merasa tidak nyaman dengan kafe ini."

"Nah kan!" aku dan Jongdae terlonjak.

"Baek berhenti berteriak selantang itu di telingaku! Kau ini mau merusak pendengaran orang lain apa!" omel Jongdae.

"Ada apa memang?" tanyaku sambil melirik ke arah Lu, Baekhyun berpindah tempat duduk di sebelahku.

"Jadi Minseok, aku selalu merasa ada seseorang yang selalu mengawasiku dan aku juga selalu merasa ada yang mengikutiku," Baekhyun bercerita dengan serius, Minseok menggosok tengkuknya gugup sementara Jongdae mendengus.

"Baek, jangan lagi, kau selalu mengucapkan hal yang sama pada setiap orang," tegur Jongdae.

"Aku tidak pernah begitu, aku hanya bercerita padamu dan Minseok saja," sergah Baekhyun.

"Oh ya, lalu apa yang kau lakukan semalam dengan Yixing di depan rumahku? Aku juga dengar kau mengatakan hal yang sama padanya," cibir Jongdae.

"Ayolah, dia kan juga teman dekat kita, tak ada salahnya kan?" Baekhyun masih mencoba membela diri.

Aku memandang mereka kikuk, aku tahu apa yang sedang di alami Baekhyun memang benar adanya. Dan ini pasti akulah penyebabnya. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menceritakan hal yang sebenarnya pada mereka?

"Yixing! Disini!"

"Ugrh, Baek, kau berteriak tepat di telingaku!" aku mendelik kesal pada Baekhyun sembari menggosok telingaku.

"Tuh, kan, dia memang tak pernah berubah. Baru saja aku diam, dia sudah begitu lagi, tck," Jongdae menggeleng kearahku sambil menunjuk Baekhyun yang hanya meringis melihat kami berdua kesal.

Aku menoleh kearah pintu dan kulihat Yixing bersama orang lain bersamanya. Aku sepertinya pernah melihat orang itu, tapi dimana ya? Ah, sudahlah.

"Karena kita sudah berkumpul, mari kita pergi saja sekarang," Baekhyun yang paling bersemangat di antara kami semua.

"O, iya Minseok, kau pasti belum kenal teman Yixing kan, kenalkan namanya Sehun. Sehun ini Kim Minseok, dia teman baru kita," Baekhyun memperkenalkan kami.

Sehun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, aku membalasnya dengan gugup. Bagaimana aku tidak gugup jika Sehun terus menatapku penuh rasa ingin tahu dan 'seseorang' di belakangku terus saja mengomel melihat Sehun yang tak kunjung melepas genggaman tangannya.

"Ehem, Sehun ssi, bisakah kau melepas tanganku?" ucapku kikuk, sepertinya aku membuyarkan lamunannya. Sehun seperti sedang menyelami diriku lewat jabatan tangannya dan itu sungguh membuatku tak nyaman.

"Yaak! Sehun! Berhenti memandang Minseok dengan tatapan itu. Kau membuatnya tak nyaman," Yixing menepuk pundak Sehun.

"Ah, iya, aku minta maaf. Kalau begitu sebaiknya kita naik mobil saja. Aku dan Yixing membawa kendaraan kami sendiri," Sehun mengusulkan.

"Baiklah, aku akan naik mobil bersama Yixing saja. Jongdae kau bersama Sehun dan Minseok ya," Baekhyun kegirangan dan mulai bergelayut manja pada Yixing.

'Apa mereka berdua pacaran?' batinku.

"Eits, tidak boleh! Dilarang berduaan! Aku akan ikut kalian berdua, Sehun kau bersama Minseok saja ya," Jongdae lantas berlari menyusul Baekhyun dan Yixing yang sudah terlebih dahulu naik ke mobil.

Dan aku? Masih dengan suasana canggung berdiri menatap mereka semua. Lalu Sehun segera menarik tanganku menuju mobilnya. Sehun membukakan pintu mobilnya untukku, heh, apa - apaan ini, aku kan bukan perempuan. Aku memutar bola mataku malas, tapi aku tetap diam saja. Sepertinya Sehun juga merasakan kecanggungan yang sama seperti yang aku rasakan.

"Baozi, kalau kau berani macam - macam dengannya, aku tak akan tinggal diam," Lu berbisik padaku. Dia tiba - tiba saja sudah duduk di kursi belakang, membuatku hampir saja terlonjak kaget.

Aku berdehem," Sehun ssi, bisakah kau mengantarku ke toko ponsel? Aku ingin membeli sebuah ponsel sebelum kita bertemu dengan yang lain."

"Tentu saja. Tapi sebaiknya tak usah memanggilku dengan embel - embel ssi, oke? Panggil aku Sehun saja, kita kan teman." Sehun tersenyum padaku, lagi.

Aku merasa pernah melihat seseorang dengan senyum seperti itu juga. Tapi kapan? Di mana? Dan siapa? Urrgh, aku mulai membenci ingatanku sendiri. Aku memukul dahiku sendiri, merasa bodoh.

"Hei, hentikan memukuli dahimu, kau bisa jadi bodoh betulan nanti," Sehun menggenggam tanganku, aku melongo.

"Aku, ehem, hanya, eumm, berhentilah menyakiti dirimu sendiri. Kenapa kau memukuli dahimu seperti tadi? Apa kau melupakan sesuatu?" tanyanya padaku.

Dia jadi canggung, dan aku malah makin merasa tak nyaman.

"Eh, eoh, tidak, aku memang melupakan sesuatu, tapi aku yakin nanti aku kan mengingatnya lagi," ucapku sambil tersenyum, "Ayo kita jalan sekarang."

"Eh, iya, aku, maaf, malah lupa," Sehun juga gugup.

Aku terkikik sendiri, sebegitu terpesonanyakah dia padaku, hingga sedari tadi lupa menghidupkan mobilnya.

"Minseok! Berhenti tertawa seperti itu!" aku langsung diam begitu mendengar 'seseorang' di kursi belakang menegurku.

Kuperhatikan Sehun sering mencuri pandang ke arahku sembari menyetir. Aku tentu saja pura - pura tidak tahu. Dan ini menjadi semakin menjengkelkan dengan omelan Lu dari kursi belakang.

'Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan pada hantu ini, dia terus saja menggerutu tak jelas. Lagipula, salah sendiri dia mengikutiku, aku tak pernah meminta dia untuk menemaniku,' batinku ikut kesal.

"Kau kenapa Minseok? Sedari tadi kuperhatikan kau selalu menghela nafas kesal. Apa kau tak suka pergi bersamaku?" tanya Sehun.

"Tentu saja tidak, aku hanya merasa sedikit sakit kepala karena ada seseorang yang terus mengomel," jawabku asal sambil memijat kepalaku.

Sehun mendadak menepi dan mengerem laju mobilnya.

"Kau sakit? Lalu kenapa kau malah ikut jalan - jalan dengan yang lain?"

Aku kaget melihat reaksi Sehun yang berlebihan.

"Aa..aku tak apa - apa kok, sungguh. Aku hanya.."

"Lebih baik, aku akan mengantarmu pulang. Yang lain biar aku saja yang menghubungi mereka. Aku yakin mereka tak akan keberatan. Di mana rumahmu?" Sehun mengirim sms pada yang lain dan memutar mobilnya menuju ke arah lain.

"Sehun, aku tak apa, kau tak perlu begitu. Aku ingin jalan - jalan juga bersama yang lain. Ini pertama kalinya aku ke Korea, jadi aku mau berkeliling,"

"Tapi wajahmu tampak pucat. Coba kulihat dahimu,"

Sehun memeriksa dahiku, ya tuhan wajahku memerah sekarang, jarak Sehun terlalu dekat dengan wajahku.

"Kau demam, lihat, pipimu bahkan memerah, kita pulang saja. Aku akan mengajakmu jalan - jalan lain kali saja jika kau sudah sembuh."

Aku mengangguk dalam diam, apa aku sedang salah tingkah sekarang ini? Dan benarkah pipiku memerah? Oh, tidak ini sungguh memalukan.

"Jadi, Minseok, dimana rumahmu?"

Aku menggumamkan alamat rumahku dan Sehun bergegas mengantarku pulang.

Kim Minseok POV end *

Lu terus saja mengomel dan menggerutu sepanjang perjalanan. Tatapannya selalu menusuk pada Sehun dan dia selalu meluncurkan sumpah serapah saat tangan Sehun menyentuh setiap anggota tubuh Minseok yang tertangkap oleh matanya. Dia merasa frustasi dan ingin sekali melempari Sehun yang selalu menatap Minseok penuh pemujaan. Sehun pasti menyukai Minseok, Lu sangat yakin akan hal itu.

15 menit kemudian mereka telah sampai ke rumah Minseok. Sehun heran dengan rumah yang Minseok tinggali. Setahu Sehun, rumah ini dulu sangat terbengkalai, dan beberapa waktu lalu ia sempat tahu rumah ini direnovasi sedikit. Tapi tak menyangka sekarang menjadi sangat bagus dan rapi.

"Minseok, ini rumahmu? Sejak kapan kau tinggal disini? Aku tak pernah mengira rumah kuno ini akan menjadi sebagus ini setelah di renovasi," Sehun melihat - lihat bagian rumah Minseok.

"Kau sering lewat sini?" tanya Minseok. Sehun mengangguk.

"Aku sering main kerumah Baekhyun bersama yang lain, jadi aku cukup tahu daerah sini," jelas Sehun. Minseok mengangguk - angguk.

"Baiklah Sehun, terima kasih sudah mengantarku pulang. Aku merasa tak nyaman dengan yang lain karena harus membatalkan acara kita," Minseok menunduk sedih.

"Sudahlah, tak apa, mereka pasti paham dan memakluminya," hibur Sehun,

"Kau yakin tak ingin kutemani? Kau sendirian kan?"

Minseok menggeleng, lalu tersenyum. Sehun pamit akan pergi sebelum..

Brughh!!

"Minseok?!" Sehun menangkap tubuh Minseok yang mendadak jatuh pingsan.

Sehun menggendong Minseok masuk ke dalam kamarnya. Kemudian dia langsung mencari kompres dan beberapa obat - obatan dalam kotak p3k di mobilnya. Ia segera mengompres Minseok dan menyuapi Minseok obat. Sehun pun segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Minseok. Di belakang mereka berdua, Lu pun tak kalah panik. Ia merasa sangat kesal karena tak bisa menolong Minseok di saat terjadi hal genting seperti ini. Lu mengerang frustasi dan terus mondar mandir di sebelah tempat tidur Minseok.

Seseorang memencet bel pintu, dan Sehun bergegas menjemput.

5 menit kemudian, dokter mengatakan Minseok kelelahan dan dia kekurangan protein. Setelah di beri resep oleh dokter, Sehun mengantarkan dokter ke pintu. Sehun menghela nafasnya.

'Bagaimana Minseok bisa sakit sampai seperti ini? Apa karena ayahnya yang sudah meninggal, dia jadi merasa tak peduli pada dirinya sendiri?' batin Sehun.

Sehun lalu menuju dapur, berniat ingin membuatkan bubur untuk Minseok. Saat membuka persediaan makanan Minseok, dia kaget bukan main. Hanya ada beberapa potong roti tawar, beberapa buah apel dan mi instan.

'Pantas saja kau jadi sakit Minseok, makananmu seperti ini,' Sehun menggelengkan kepalanya.

Setelah itu, ia membuat bubur. Lalu tak lama kemudian ponselnya berdering. Sehun melihat siapa nama si pemanggil. Merasa kesal, ia menolak menjawab panggilan itu.

Tapi kemudian ponselnya berdering kembali, kali ini dia mengangkatnya.

"Halo? Iya kakek, aku tahu, aku sedang bersama teman. Sebentar lagi aku akan pulang, iya iya, cerewet sekali. Aku tak peduli, aku tetap akan kembali lagi besok!"

Sehun menutup panggilannya dengan kasar.

Bubur telah matang, ia menyiapkan segala sesuatunya dalam nampan dan membawa nampan itu ke kamar Minseok. Ia meletakkannya di samping meja nakas. Ia menulis catatan pada sticky note dan meninggalkannya untuk Minseok. Sebelum pergi, ia memandang Minseok cukup lama dengan pandangan sayu. Lalu sedetik kemudian, Sehun mencium kening Minseok dan bergegas pergi.

Lu yang sedari tadi memperhatikan adegan tadi melongo.

"Apa - apaan itu tadi?! Hei, berani sekali dia mencium baoziku! Asfgsjsnkksll!!"

Selagi Lu menyumpah serapah karena kelakuan Sehun, Minseok seperti mengigau dalam tidurnya, membuat Lu langsung bergegas mendekati Minseoknya.

"Aa..ayah, ayah? Jangan tinggalkan aku, aku tak mau sendirian," sedetik kemudian Minseok menangis masih dalam keadaan tidur.

"Minseok, Minseok, tenanglah, aku menemanimu di sini, jangan menangis, aku selalu di sisimu, hemm, sssh," Lu mencoba menenangkan Minseok.

"Ayaaah.." Minseok menangis makin hebat.

Entah kenapa, Lu seperti merasakan hal yang sangat menyakitkan saat melihat Minseok menangis seperti ini.

"Minseok, berhentilah menangis. Aku mohon, apa yang harus aku lakukan, ya Tuhan."

Lu sudah akan ikut menangis, namun mendadak Minseok berhenti menangis dan terbangun. Saat Minseok terbangun, hal yang pertama terjadi adalah dia mengerang kesakitan memegang kepalanya, bahkan Minseok merasa seperti tercekik dan sesak nafas. Lu yang melihatnya langsung panik.

"Apa? Kenapa ini? Minseok! Kau kenapa? Minseok! Sadarlah Minseok!" Lu mencoba menghalangi tangan Minseok yang mencoba melukai dirinya sendiri dengan gunting yang berada di meja nakas.

"Lepaskan aku! Aku ini monster! Aku tak seharusnya hidup! Aku seharusnya mati! Lepaskan aku! Aku harus mengakhiri hidupku sendiri sebelum aku mencelakakan orang yang ku sayangi lagi, kumohon lepaskan aku!" Minseok meronta sambil berteriak - teriak dalam dekapan Lu.

"Kau bukan monster Minseok! Kau bukan monster! Berhentilah, lepaskan gunting itu!"

Lu mencoba memegangi Minseok sambil merebut gunting yang di pegang Minseok. Mereka berguling ke tanah, saling berebut dan bergulat. Hingga akhirnya menyenggol kotak perkakas milik Minseok dan menjatuhkan sesuatu dari dalam kotak itu. Toples berisi serum. Mereka seketika berhenti dan langsung terdiam, kesempatan itu di pakai Lu untuk merebut gunting yg berada di tangan Minseok dan melemparnya keluar. Lu melihat - lihat sekeliling, kalau - kalau ada barang atau sesuatu yang sedikit tajam. Takut Minseok masih berpikir sesuatu yang gila lagi.

Tapi mata Minseok kini terpaku pada serum itu. Ia lupa bahwa ia masih punya serum peninggalan ayahnya. Isinya hanya tinggal setengah sekarang ini. Lu masih terus mengawasi Minseok. Memperhatikan apa yang setelah ini akan Minseok lakukan.

Minseok lalu memandangi tangannya sendiri, dalam bayangannya tangannya melebur dan berubah menjadi partikel kecil. Wajahnya penuh ketakutan. Tapi Lu merasa heran dengan Minseok, kenapa dia ketakutan melihat tangannya sendiri.

"Minseok, kau tak apa?" Lu mulai cemas.

Minseok terkejut dan mundur dari Lu, ia menoleh ke lemarinya dan memandang lewat cermin di lemari, wajahnya ikut memudar. Dia ketakutan setengah mati, hingga terhuyung jatuh dan menggapai - gapai.

"Minseok! Ada apa?" Lu langsung membungkuk mencoba memberi pertolongan pada Minseok.

'Sial! Aku tak bisa melakukan apapun untuk memolong Minseok! Sial! Sial! Sial!" Lu gemas pada dirinya sendiri.

"L..Lu! S..se..rum..nya!" Minseok mencoba meminta Lu untuk mengambilkan serumnya.

"Apa? Ada apa Minseok! Katakan lebih jelas," Lu ikut panik.

"S..se.rumnya!" Minseok mulai merasa kesakitan lagi sekarang, tangannya menunjuk ke arah toples.

Lu pun paham dan mengambilkannya untuk Minseok.

Minseok mengambil serumnya sebutir dan mulai memakannya. Perlahan Minseok mulai tenang. Lu pun menggendong Minseok dan menidurkannya pada tempat tidurnya. Lu lalu mengompres lagi dahi Minseok yang panasnya malah semakin tinggi, tapi mata Minseok telah terpejam.

"Apa dia tertidur?" ucap Lu masih belum hilang rasa cemasnya.

- Skip Time -

Tengah malam, Minseok tiba - tiba terbangun dari tidurnya, Lu kaget karena ternyata dia sendiri ikut tertidur. Padahal selama ia menjadi hantu, ia belum pernah tertidur nyenyak seperti tadi. Minseok mulai mengerang merasa kepanasan. Lu bingung, kenapa lagi dengan Minseok? Seharian ini ia melihat sisi lain dari diri Minseok dan kali ini, apa yang akan di lihatnya lagi.

Minseok terus menggeliat merasa panas, tapi apa yang bisa Lu lakukan untuk mendinginkan Minseok. Selagi ia berpikir Minseok tiba - tiba saja berdiri dan membuka jaketnya, Lu menganga. Tak berhenti sampai di situ, Minseok membuka kemeja yang dipakainya dan tak lupa kaus singlet nya.

"Aa..ap..apa - apaan ini? Ya..ya Minseok, kenapa kau melepas pakaianmu di sini?" Lu terus mengoceh tak karuan, tapi matanya tak bisa berhenti melotot.

Karena setelah Minseok membuka semua pakaian atasnya, dia juga membuka celananya. Lu mulai gelagapan.

"Minseok berhentilah, sudah cukup, aku antar kau ke kamar mandi," ucap Lu sembari menyampirkan selimut ke badan Minseok.

"Apa ini? Uurgh, panas Lu, aku tak mau pakai ini," Minseok sepertinya masih belum tersadar sepenuhnya dari pengaruh obat yang di minumnya tadi.

"Ini sangat panas. Pergi kau!" Minseok menceracau dan mendorong Lu supaya menyingkir.

"Minseok, aku tahu kau kepanasan, jadi aku antar kau ke kamar mandi ya? Kau bisa mandi di sana, ayo"

"Aku tidak mauuu, pergiii," Minseok masih terhuyung lemas.

"Minseok ini kenapa sih? Apa ini efek samping dari obat tadi atau apa?" Lu masih mencoba memapah Minseok untuk masuk ke kamar mandi. Selimut masih terbalut di badan Minseok.

Tapi di pertengahan jalan, Minseok mendadak menghentikan langkahnya dan mengganggam tangan Lu. Dengan bingung, Lu menoleh ke arah Minseok, berusaha keras untuk tidak melihat abs milik Minseok yang terlihat sempurna, mengintip dibalik celah selimut yang menutupi sebagian badan Minseok.

Di kesempatan itu, Minseok menarik bagian depan baju yang di pakai Lu.

"K..kau kenapa? Minseok, k..kau jadi aneh dan..."

"Cium aku!" mata Minseok menatap Lu tajam.

"A..apa..apa? Minseok kau sudah gi.."

"Aku bilang cium aku!" Minseok menarik kerah baju Lu supaya semakin mendekat kepadanya. Jarak mereka sangat dekat kali ini.

"K..kau.."

Belum sempat Lu menyelesaikan ucapannya, Minseok sudah terlebih dulu menempelkan bibirnya pada bibir Lu. Mata Lu terbelalak lebar, tangannya msih menggenggam ujung selimut yang ia pegang untuk menutupi badan Minseok. Namun Minseok seperti tak menyadari apapun, ia terus mencium Lu dengan penuh nafsu. Sedangkan Lu sendiri, mencoba untuk tak membalas ciuman Minseok. Tapi akhirnya pertahanan Lu runtuh saat Minseok mengalungkan jemarinya ke lehernya. Lu tak lagi memegangi selimutnya, namun tangannya telah melingkar erat di pinggang Minseok.

Mereka saling beradu lidah dan setelah itu, Minseok terjatuh kembali, pingsan.

Dan Lu..?

Dia tentu saja merasa aneh. Apa hantu juga masih bisa merasakan hal yang sedang dirasakannya ini? Merasakan nafsu? Ia menghela nafas berat. Menggelengkan kepalanya, mencoba tak memikirkan hal macam - macam.

Ia membungkuk dan bermaksud ingin menggendong Minseok untuk ia baringkan di tempat tidur. Tapi yang terjadi malah ia tak bisa menyentuhnya.

"Ada apa ini? K..kenapa aku tak bisa menyentuhnya?"

Lu mencoba lagi menyentuh benda lain, hasilnya sama saja. Ia tak bisa menyentuh. Lu mulai gemetar dan ketakutan. Ia memperhatikan rohnya makin memudar lalu muncul lagi, memudar lagi, muncul lagi.

"T..tidak mungkin, apa yang terjadi padaku? Kenapa?"

Sesaat kemudian, ia pun muncul kembali. Dan kali ini ia masih bisa menyentuh Minseoknya lagi. Ia takut sekali jika ia tak akan bisa bertemu lagi dengan baozi-nya.

Maka ia bergegas menggendong Minseok, menyelimutinya lalu berbaring memeluk erat Minseok disebelahnya, takut kehilangan.

- Kediaman Presdir Xi -

Seluruh anggota keluarga Xi tengah berkumpul di sebuah ruangan. Sepertinya sebuah kamar pribadi. Disana Tuan Xi beserta sekretaris pribadinya, beberapa dokter dan perawat, tak lupa, tentu saja Sehun juga berada di sana.

Dokter dan perawat yang ada di sana, sepertinya tengah merawat seorang pasien VIP yang berada di mansion itu. Selang infus dan beberapa alat medis tertempel di tubuh pasien itu. Pasien itu mungkin saja mengalami koma, karena matanya terus terpejam. Dan dari tampilan fisiknya, ia nampak masih sangat muda.

Kali ini, Presdir Xi memanggil semua dokter pribadi milik keluarganya. Pasalnya, seorang perawat yang kebetulan sedang membersihkan tubuh pasien, tangan si pasien menunjukkan pergerakkan.

Semua yang ada di sana terkejut, dan bersuka cita. Apalagi saat di periksa oleh dokter, tekanan darah dan detak jantung meningkat. Jemari pun sempat bergerak kembali. Maka dari itu, mereka kini menunggu hasil pemeriksaan dari para dokter.

"Dari hasil pemeriksaan, memang pasien menunjukkan gejala awal, yakni respon terhadap apa yang ia rasakan dan ia dengar di sekitarnya. Ini pun tak bisa di jadikan patokan, bahwa ia akan segera sadar atau tidak. Namun kita tak boleh menyerah dan berhenti berharap keajaiban akan segera datang. Tuan Xi, saya tahu anda sangat menyayangi cucu anda, tapi janganlah lupa, bahwa kehidupan itu bukan kita yang mengaturnya. Jadi saya harap anda masih bersedia untuk bersabar sedikit lagi," salah satu dokter menjelaskan hasil pemeriksaannya pada Presdir Xi.

Presdir Xi mengangguk mengerti dan menyuruh sekretrisnya untuk mengantar para dokter tadi pulang.

"Kakek, apa kakek masih berharap pada serum yang pernah di uji cobakan dulu? Berhentilah kek, sebelum semuanya terlambat. Jika kakek mau melihat kami sekali saja, kakek pasti akan tahu, apa yang di alami oleh kita selama ini adalah karma atas perbuatan kita sendiri," Sehun.

"Kau tak tahu apapun Sehun, kau tak paham," ujar Presdir Xi lirih.

"Apa yang aku tak tahu? Apa masih belum cukup kakek membuat kakakku terbaring antara hidup dan mati seperti ini? Apa aku harus ikut terbaring di sebelahnya juga?" Sehun kini mulai emosi dan merasa gusar.

"Sudah cukup! Itu hanyalah kecelakaan, Sehun! Jadi berhentilah mengeluh dan menyalahkan orang lain atas rasa bersalahmu sendiri!" Presdir Xi balas membentak.

"Apa? Rasa bersalahku? Apa aku tak salah dengar? Seharusnya ucapkan itu pada diri kakek sendiri!" Sehun marah dan pergi dengan emosi memuncak di kepalanya.

Sementara Presdir Xi masih berada di kamar itu. Duduk di kursi di samping cucu kesayangannya.

"Aku minta maaf, kakekmu ini memang tak bisa menjadi contoh yang baik untuk kalian. Seharusnya dari awal kakekmu tak menyuruh ayah ibu kalian melakukan hal konyol itu. Maafkan kakek, Luhan, maafkan kakek,"

Presdir Xi menggenggam tangan Luhan, cucunya dengan menunduk dan mulai menangis sendirian.

Sedangkan Luhan, si pasien koma sekaligus cucu Presdir Xi, masih tetap tertidur di alam mimpinya.

T * B * C

A/n :

Asssfgkllsjsjhsnkl...apa yang aku tulis ini? Huaaa...garing banget, mian author lagi ga enak badan, ini nulisnya terinspirasi dari diri sendiri wkwk.

Ketahuan otaknya author ini yadong ga ketulungan, hadeeh..

Ya sudahlah ya, di nikmati aja bacaannya. Maaf kalo masih ada typo atau ceritanya yang makin ngawur, moga kalian tetep suka ya,

Makasih buat yang udah sempet mampir buat review

Saranghae

/Bow