Last Chap

"Hyuuga Hinata dengan Uchiha Sasuke." Mata Hinata sontak membulat sempurna. 'A-apa? aku dengan cowok menakutkan itu?' Hinata melirik meja Sasuke sekilas dengan mimik takut dan. . . mata lavendernya bertumbukan dengan mata onyx hitam milik Sasuke. Hinata menelan ludah saat melihat senyum sinis terkembang di bibir Sasuke. Got You! Batin Sasuke memekik senang.

Let's Find New Love, Hinata!

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto, this Fic belongs to me

Warning: OOC, school life, Geje-ness and little mess

.

.

.

"Nah, semuanya sudah mendapat pasangan kelompok masing-masing kan? nah sekarang kalian duduk bersebelahan dengan orang yang menjadi pasangan kelompok kalian agar tugasnya bisa segera kubagi." Instruksi Kakashi. Semua murid pun bergerak mengikuti instruksi Kakashi. Suasana kelas menjadi ramai untuk beberapa waktu.

"Sasuke, kau kutinggal tidak apa, kan?" Tanya Sakura dengan mimik bercanda.

"Huh, pergi sana." Jawab Sasuke dengan wajah cuek. Sakura hanya tertawa lalu beranjak ke belakang, menuju ke meja Hinata yang berada di samping partner kelompoknya, Naruto.

"Hinata, boleh aku duduk disini?" Tanya Sakura sambil tersenyum manis.

"Oh, silahkan Sakura san." Balas Hinata sambil tersenyum. Hinata sendiri kemudian berdiri dan beranjak melangkah ke depan kelas, menuju meja Sasuke. Sasuke yang sebenarnya sadar bahwa kini Hinata sudah berdiri di samping meja Sakura, hanya pura-pura tidak menyadari keberadaan Hinata.

"Ma-maaf, U-uchiha san. Bo-boleh aku duduk disini." Hinata bertanya dengan nada super gugup. Wajahnya menunduk dengan semburat merah tipis menghias pipi putihnya.

"Hn." Hanya itu respon Sasuke. Hinata yang awalnya gugup ternyata cukup tersinggung dengan respon Sasuke tersebut.

"Kau ini irit bicara sekali." Balas Hinata dengan nada yang menunjukkan bahwa dia sedikit kesal. Tanpa mempedulikan Sasuke, Hinata langsung duduk di bangku sebelah Sasuke dengan menjaga jarak minimal 60 cm. Sasuke memperhatikan Hinata sebentar. Hinata yang dipandangi ternyata merasa risih.

"Apa?" Tanya Hinata sambil balas memandang Sasuke.

"Kau ini. padahal manis, tapi ternyata frigid ya?" goda Sasuke dengan senyumnya yang menggoda.

"Huh." Hinata tidak membalas kata-kata Sasuke dan membuang muka kearah lain.

"Nah, perwakilan kelompok maju kedepan untuk mengambil tugas yang telah kupersiapkan." Kakashi kembali bersuara setelah yakin semua siswa telah duduk dengan pasangan kelompoknya. Beberapa siswa pun maju untuk mengambil kertas berisi penjelasan tugas yang harus mereka kerjakan, begitu juga dengan Hinata. Dengan berbagai macam ekspressi mereka mengambil kertas-kertas yang telah digulung rapid an baru membuka gulungan kertas itu setelah mereka kembali ke bangku mereka masing-masing.

"Jadi, apa tugasnya?" Tanya Sasuke saat Hinata sudah kembali duduk di bangku sebelahnya.

"membuat presentasi powerpoint tentang logaritma lalu pada pertemuan berikutnya hasil presentasi itu dijelaskan pada murid-murid yang lain." jelas Hinata.

"Ya sudah kau kerjakan sendiri saja. Kau bisa kan, Hinata?" Kata Sasuke dengan tenang. Mendengar apa yang diucapkan Sasuke barusan, sukses membuat segi empat didahi Hinata muncul. 'cowok brengsek macam apa yang menyuruh-nyuruh perempuan untuk mengerjakan sendiri tugas yang mestinya dikerjakan bersama?!' batin Hinata terbakar emosi.

"BRAKK!" Hinata menggebrak meja didepan Sasuke dengan cukup keras. Hinata cukup menyadari bahwa ini ada di dalam kelas yang ramai manusia dan ini juga awal kelas baru. Tapi, kelakuan cowok berambut harajuku nyentrik ini benar-benar keterlaluan menurutnya. Beberapa murid yang tengah asyik berdiskusi langsung mengalihkan pandangan mereka ke pasangan kelompok Sasu-Hina tersebut.

" Ada apa Hinata?" Tanya kakashi sensei yang langsung merespon gebrakan Hinata tadi.

" Tidak. Saya. . saya tidak ingin sekelompok dengan dia." Ujar Hinata dengan cukup tegas. Beberapa murid perempuan yang mendengar ucapan Hinata tersebut langsung teriak – teriak geje,

"Kakashi sensei, saya mau ditukar kelompok dengan Hinata!"

"Saya bersedia bersama Sasuke kun!"

Ah, tidak. Saya saja kakashi sensei."

Kakashi hanya menggeleng pelan lalu menatap Hinata. Hinata yang selama ini ia kenal tidak pernah komplain terhadap pasangan kelompok tiba-tiba keberatan dipasangkan dengan seorang Uchiha Sasuke. 'Ada apa ini?' batin Kakashi. Tapi ekor mata Kakashi kemudian menangkap sosok Uchiha Sasuke yang saat ini duduk sambil menatapnya dengan tatapan death glare seakan memberi pesan ancaman yang berkata, "jangan ubah kelompok Sasu-Hina ini, atau kau kupecat!" ingat! Sasuke adalah anak kepala yayasan pemilik Sekolah, yang merupakan hal yang mudah baginya untuk memecat guru seperti Kakashi. Apalagi Kakashi selama ini sering mengajar sambil membaca buku yang mencurigakan.

GLEKH! Kakashi menelan ludah lalu berkata sabar pada Hinata yang masih memasang wajah jengkel.

"Maaf, Hinata tidak bisa. Ini sudah jadi keputusanku." Sasuke tersenyum tipis mendengarnya sementara Hinata yang mendengarnya tidak bisa berkata apa-apa. Hanya terduduk lesu di bangkunya. Beberapa siswi yang sudah teriak-teriak minta sekelompok sama Sasuke juga ikut-ikutan lesu. Nah lho?

"Baiklah anak-anak sekarang waktunya istirahat." Kata Kakashi dan bersamaan dengan itu bunyi bel tanda istirahat pun berbunyi nyaring. KRINNG. . .!

"Kenapa kau tampak lesu begitu Hinata? Bukannya senang sebangku dengan pangeran macam Uchiha Sasuke? Tenten terlihat khawatir dengan wajah Hinata yang sedari tadi tampak masam.

"Iya, nih Hinata. Sebangku dengan cowok super tampan, malah ingin pindah. Kalau aku sih, pasti ingin deket terus sama Sasuke." Lanjut Ino cengar-cengir. Hinata tidak membalas ucapan dua temannya itu dan melanjutkan acara mengunyah onigiri yang dibawanya.

"Hinata. . . kau kenapa? Apa yang membuatmu menggebrak meja Sasuke tadi?" Tanya Tenten dengan ekspressi yang benar-benar khawatir. Hinata jadi merasa bersalah melihatnya. Bagi Hinata, Tenten adalah teman yang paling memperhatikan dan selalu tampak khawatir jika Hinata sedang uring-uringan.

"Tidak apa Tenten. Aku hanya kesal saja saat dia menyuruhku mengerjakan semua tugas itu sendiri." ucap Hinata sambil tersenyum tipis pada Tenten.

"Apa? Yang benar Hinata? Masak Sasuke kun sejahat itu?" Tanya Ino antusias.

"Benar Hinata. Selama ini yang kutahu, semua orang ingin sekelompok dengannya bila ada tugas kelompok. Kenapa? Karena Uchiha Sasuke itu sangat bisa diandalkan dan jenius. bahkan, aku pernah dengar jika dia sendiri yang mengerjakan tugas kelompoknya, karena anggota kelompoknya yang lain tidak peduli pada tugas yang diberikan." Terang Tenten panjang lebar. Hinata mendengarkan penjelasan Tenten dengan mimik seakan tidak percaya. Apa benar Uchiha Sasuke orang seperti itu? Lalu cowok yang tadi menyuruhnya mengerjakan semua tugas sendiri itu Uchiha Sasuke kan?

"Sudahlah Hinata. Tidak usah terlalu dipikirkan. Sebentar lagi bel masuk berbunyi, habiskan makananmu." Suara Tenten membuyarkan lamunan Hinata. Hinata hanya mengangguk pelan dan memakan sashimi terakhirnya. Bersama Tenten dan Ino, Hinata kemudian kembali ke kelasnya, kelas 2A.

# # #

"Yo, Hinata. Terima kasih untuk bekalnya. Enak sekali. Sakura juga memuji bekal buatanmu." Naruto yang melihat kedatangan Hinata dkk ke dalam kelas, langsung memberikan apresiasi untuk bekal buatan Hinata yang tadi dimakannya. Hinata hanya tersenyum dan mengangguk pelan membalasnya. Ingat, selama ini Hinata selalu membuatkan Naruto bekal. Terlepas dari rasa sukanya pada cowok pirang itu, kebiasaan membuatkan bekal untuk Naruto seakan menjadi rutinitas hariannya. Apalagi, Naruto sekarang tinggal sendirian dirumahnya karena Ayah dan Ibunya sering menjalankan misi sebagai mata-mata Negara dan detektif. What? Kenapa Naruto malah seblo'on ini ya?

"Eh, tunggu. Tadi kau bilang bersama Sakura san, Naruto?" Tanya Tenten tiba-tiba.

"Hehe. . iya. Aku tadi makan siang bareng Sakura. Cuma berdua." Jawab Naruto sambil tertawa lebar sampai mata birunya tertutup rapat. Tenten mulai merasa tidak enak. Ino juga langsung cepat mengerti keadaan. Mereka berdua melihat Hinata yang saat ini sedang tertunduk dalam dengan ekspressi yang sulit untuk digambarkan. Perpaduan antara rasa cemburu, sedih, kesal, dan sakit yang menjadi satu.

"Eh, Hinata mau kemana?" Tenten berteriak tertahan saat dilihatnya Hinata melangkah dengan gontai menjauh dari mereka.

"Aku . . . mau ke UKS. Aku merasa tidak enak badan. Tolong ya, Tenten, pelajaran berikutnya tolong ijinkan aku pada Kurenai sensei." Nada suara Hinata terdengar datar dan sedih. Namun, ia masih sempat tersenyum sedikit untuk menghilangkan kekhawatiran Ino dan Tenten terhadap dirinya. Ino dan Tenten hanya memandangi punggung Hinata yang mulai menjauh dengan tatapan kasihan.

"Eh, Hinata. Kutemani, ya?" Ino bergerak menyusul Hinata namun langkah kakinya terhenti saat sekelebat sosok melewatinya dari samping dengan cepat. Lalu sosok itu berlari kearah Hinata dan menggandeng tangan Hinata dengan tiba-tiba, sehingga membuat langkah Hinata terhenti.

"Eh?" mata lavender Hinata membulat saat dilihatnya tangan dingin seorang. . . Uchiha Sasuke menggandeng tangannya dengan tiba-tiba. Warna merah merona dengan cepat menjalari wajahnya.

"Aku akan ikut Hinata ke UKS. Jadi, tolong ijinkan aku juga." Perintah Sasuke dengan wajah stoicnya yang benar-benar keren. Ino dan Tenten yang melihat pemandangan diluar skenario namun so sweet itu seakan terpaku sejenak sebelum megangguk-angguk mengerti.

"Nah, Hinata. Ayo pergi." Sasuke mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Hinata dan menarik tangan Hinata untuk ikut melangkah bersamanya, meninggalkan Ino, Tenten dan juga Naruto yang memasang ekspressi berbeda-beda. Tenten dengan wajah cerah ceria karena melihat temannya dibawa kabur cowok super ganteng, Ino dengan mata berbinar dan pipi merona karena membayangkan dirinya berada pada posisi Hinata sekarang, dan Naruto yang Cuma garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal . . . *_*

"Tu-tunggu, U-Uchiha san." Seorang gadis berambut panjang indigo dengan mata lavender tampak berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan kekar Uchiha Sasuke.

"Ada apa,Hinata?" Tanya Sasuke tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Em. . bisa kau lepaskan tanganku? aku merasa tidak nyaman ." ucap Hinata malu-malu dengan wajah yang tertunduk.

"tidak mau." Jawab Sasuke singkat sambil menyeret Hinata lagi menuju UKS yang tinggal beberapa meter lagi didepannya. Hinata mengembungkan pipinya yang chubby hingga dia kelihatan sangat sangat imut. . . tanpa menyadari bahwa kini orang yang sedang menyeretnya sedang tersenyum gembira.

"Ah, Sasuke kun. Tumben kemari. Sakit apa?" seorang perempuan berusia sekitar 26 tahun tersenyum ramah pada Sasuke yang memasuki ruangan kerjanya, ruang UKS.

"hn, aku mau istirahat sebentar, Suzune senpai. Dia juga." Terang Sasuke sambil melirik Hinata. Suzune hanya mangut-mangut mendengarnya. Bagaimanapun dia tidak bisa menolak keinginan anak kepala yayasan satu ini. toh, saat ini juga tidak ada pasien yang harus ia rawat.

"baiklah kalau begitu. Kalian berdua boleh istirahat. Aku masih ada pekerjaan sebentar, jadi kalian kutinggal." Suzune tersenyum sambil mulai beranjak pergi.

"Oh ya, satu lagi." Suzune yang hendak keluar dari pintu membalikkan badan sebentar dan menatap Sasuke dan Hinata bergantian.

"Selama aku tidak ada, kalian jangan berbuat yang aneh-aneh, ya.. ." kali ini senyum manis Suzune tampak mengerikan dengan aura hitam yang seakan mengancam. Hinata hanya sweatdrop sedangkan Sasuke stay cool.

"Memangnya kami mau apa?" kata Sasuke dengan angkuhnya. Suzune tidak membalas kata-kata Sasuke dan pergi sambil menutup pintu UKS. BLAM! Saat pintu tertutup sempurna, entah kenapa bulu kuduk Hinata berdiri menegak. Hinata menyadari sesuatu. Saat ini ia hanya berdua dengan seorang cowok bernama Uchiha Sasuke di ruang UKS yang hanya seluas 8m persegi.

"Kau kenapa? Jangan-jangan kau berharap aku melakukan sesuatu padamu, ya?" sasuke bertanya sambil merebahkan tubuhnya disalah satu kasur dalam ruangan itu.

"Eh? E-enak saja." Ujar Hinata dengan ketus. Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat. Memang benar, jika dirinya berpikir Sasuke akan berbuat macam-macam padanya. Uh, batin Hinata merutuk sebal sementara pipi mulusnya kini memerah, semerah buah tomat yang matang sempurna. Sasuke yang melihat itu hanya tersenyum jahil. Berhasil juga ia menggoda cewek manis ini, batinnya.

Hinata membaringkan tubuhnya dikasur yang berada disebelah kasur Sasuke, karena memang diruangan ini hanya ada dua kasur, yaitu kasur yang saat ini ditempati Sasuke dan satunya kini ia tempati. Hinata melirik Sasuke sekilas. Dilihatnya pemuda dengan model rambut harajuku itu tampak memejamkan mata sementara dada bidangnya naik turun dengan teratur bersama nafas lembut yang dikeluarkannya. Beberapa helai rambut Sasuke menutupi sebagaian keningnya. Lamat-lamat Hinata memperhatikan wajah Sasuke dengan lebih detail. Wajah tampan dengan kulit putih mulus bak porselen. Hidungnya yang besar dan mancung serta bibir yang mampu menyunggingkan senyum menawan yang mampu memikat hati kaum perempuan.

"Dia. . . tampan." Hinata bersuara lirih dengan pipi yang masih setia ditemani gurat-gurat merah merona. Eh, Hinata yang menyadari apa yang dikatakannya barusan langsung mem-Blush seketika. Ia memalingkan wajahnya kearah lain dan berusaha memejamkan mata untuk mengusir rasa malu yang sedang melandanya.

"Kau bilang aku tampan, Hinata?" sebuah suara pelan yang mirip bisikan menggoda terdengar begitu dekat ditelinga Hinata. Hinata dapat merasakan deru nafas seseorang yang menggelitik daun telinganya. Nafas yang segar dan lembut yang membuatnya nyaris terjengkang dari kasurnya.

"hah, U-uchiha san?" Hinata reflek membalikkan badannya dan itu malah membuat wajahnya kini berhadap-hadapan dengan wajah tampan Sasuke dengan jarak sekitar 5 cm. blush! Wajah Hinata memerah seketika!

"Kyaa. . !" hinata berteriak tertahan sambil menjauhkan tubuhnya dari tubuh Sasuke. Kini punggung Hinata sudah menempel pada tembok dibelakangnya. Posisi yang tidak menguntungkan bagi Hinata. Meskipun tubuh Hinata agak gemetaran karena takut, tapi Hinata bersumpah seandainya Uchiha Sasuke didepannya ini berbuat macam-macam, dia tidak akan segan meninju wajah tampan itu dengan Jyuukennya. Dan perlahan-lahan Sasuke mendekatkan tubuhnya pada Hinata, menghimpit gadis mungil dihadapannya. Hinata menundukkan wajahnya yang memerah, berusaha menghindari tatapan mata Sasuke yang entah bagaimana harus menggambarkannya.

"Kau. . ." Sasuke berkata pelan di depan wajah Hinata, sedikit menunduk untuk menyamakan tingginya dengan gadis imut itu. Sementara dada Hinata berdebar-debar tak karuan dengan posisi absurdnya bersama Sasuke. Pipinya semakin memerah seperti strawberry yang ranum saat dilihatnya wajah Sasuke begitu dekat dengan wajahnya. Napas Sasuke juga ikut menari dan menderu diwajah Hinata.

"Kau kenapa menyukai Naruto si baka itu?" Tanya Sasuke sambil menjauhkan tubuhnya sedikit dari Hinata.

"Eh?" hanya itu kata yang keluar dari bibir mungil Hinata. Berikutnya Hinata menatap Sasuke heran dengan tatapan kenapa kau bisa tahu?ekspressi Hinata yang seperti itu justru membuat Sasuke semakin gemas. Dengan dua tangannya yang kekar, Sasuke mencubit dua pipi tembem Hinata membuat gadis itu mengaduh kesakitan dengan wajah yang super cute menurut Sasuke.

"Bukan urusanmu, Uchiha Sasuke. ." jawab Hinata dengan nada sebal sambil mengembungkan pipinya.

"Cih." Sasuke mendecih pelan. Ditatapnya tajam wajah Hinata yang saat ini ada di rengkuhan tangannya itu. Hinata merasa kaget dengan perlakuan Sasuke. Ada pancaran marah, kesal, kecewa, dan . . cemburu yang terlihat diwajah Sasuke. Hinata memejamkan matanya erat-erat, entah kenapa ia merasa takut untuk melihat wajah Sasuke yang ada dihadapannya kini. Ya, takut. . karena ekspressi Sasuke itu terlihat seperti ekspressi orang terluka yang cintanya tidak terbalas. Cinta yang tidak dibalas oleh orang yang sangat kita cintai. Bukankah itu menyakitkan? Memendam rasa seorang diri tapi rasa itu justru terabaikan.

"Sudahlah. . ." Sasuke melepaskan kekangan tangannya dari wajah Hinata kemudian berbalik dan merabahkan tubuhnya diatas kasur.

"Sa-suke?" tanpa sadar bibir Hinata memanggil nama itu. Namun yang dipanggil tidak merespon dan membalikkan tubuhnya menghadap kea rah lain. hinata tidak terlalu mempedulikannya, ia berjalan ke kasur lain dan ikut merebahkan tubuhnya.

"Te-terima kasih sudah menemaniku." Ucap Hinata dengan agak tergagap sebelum mata lavendernya menutup pelan karena menahan kantuk.

"Hn. Sama-sama." Sekilas Hinata dapat mendengar suara pelan milik Sasuke, sebelum ia benar-benar terlelap. Hinata tidak menyadari bahwa kini Sasuke berbalik menghadap ke arahnya dengan menyunggingkan senyum yang err. . . sedikit mesum. Dengan gerakan pelan dan hati-hati, Sasuke bangkit dari ranjangnya menuju ke ranjang Hinata yang tidak begitu jauh darinya. Berikutnya, anak kepala yayasan Konoha High School itu sudah duduk manis di kursi sebelah kiri ranjang Hinata.

Sasuke menopang wajahnya dengan tangan kanannya sementara matanya tak lepas mengamati objek mengagumkan didepannya. Hinata tidur dengan wajah polos nan damai dengan selimut yang membungkus tubuhnya sampai sebatas leher. Wajah Hinata tampak sangat tidak berdosa dan imut. Napas Hinata yang lembut menjadi suara yang begitu menggoda di telinga Sasuke. Apalagi bibir merah mungil Hinata yang sedikit terbuka, membuat gadis manis itu terlihat tanpa pertahanan sama sekali.

'Ayolah Sasuke, tahan dirimu. masak kau mau menyerang cewek yang sedang tidur sih' Sasuke terus meneguhkan imannya untuk tidak menjadi 'serigala lapar yang menyerang domba yang sedang terlelap'. Namun, tak urung juga jemari Sasuke mengelus pipi Hinata yang putih mulus dan chubby itu membuat sensasi lembut dan nyaman bagi Sasuke. 'aduh, kalau begini mana bisa tahan? Menyentuh pipinya saja efeknya sudah begini. Kau pasti ingin lebih kan Sasuke?' kali ini sisi iblis Sasuke meneror Sasuke dengan bujukan-bujukan yang begitu menggoda.

"Ngh. ." desah Hinata sementara tubuhnya menggeliat perlahan. dan karena efek dari gerakan Hinata itu, membuat selimut dan kerah seragamnya sedikit tersingkap sehingga Sasuke bisa melihat bahu mungil Hinata yang sedikit tersingkap. Sasuke menelan ludah sejanak melihat pemandangan itu. Sementara sisi baik dan sisi buruknya terus memberikan nasehat-nasehatnya.

'Sial!' umpat Sasuke dalam hati lalu tangannya tergerak membetulkan selimut Hinata meski sebenarnya ia agak tidak rela melakukannya. Selesai dengan tugasnya, Sasuke segera berbalik dan berjalan keluar dari ruang UKS. Bukan apa-apa. Sasuke bukannya mau meninggalkan Hinata sendirian. Hanya saja, kalau terus terkurung bersama Hinata dalam ruang sempit begitu pasti 'berbahaya' kan? dan Sasuke yang gentleman tentunya tidak mau menyandang gelar lelaki serigala penyerang sleeping beauty.

.

.

.

TBC. . . Still wanna to continue, minna? ^-^

Special Thanks for:

Dewi Natalia : Fic ini Sasu-Hina. Dan maaf sebelumnya tidak terdapat tulisan TBC. Karena masih pemula dalam penulisan fic, sya akui masih banyak yang kacau dan amburadul. Terima kasih atas smua kritik.x yg membangun dan trima ksih mau lanjut m'bca crita sya! ^-^

Freeya Lawliet : Maaf! Maaf! Author memang masih pemula. So next chap, saya akan berusaha lebih keras lagi dalam pnulisan typo, tanda baca dan segala penulisan yang kurang. ^_^ Terima kasih sudah me-review fic ini. Oh, ya apakah fic ini terlalu OOC?

Kau-Tahu-Siapa : Salam kenal juga Kau-Tahu-Siapa :D
Eh, beneran crita ini bgus? Kukira crita ini OOC. untuk penulisan tanda baca yang kurang tepat dan lain sebagainya, ya, mungkin next chap akan diperbaiki lgi ;)

yuu detie-chan Indriani : Hm, , di fic ini memang Hinata sya buat sebagai cewek yang sebenernya anggun tapi mudah kesal terutama ktika berhadapan dengan naruto yg lemot maupun Sasuke yg seenaknya. Ya, sya cba bikin karakter Hinata yg sedikit brbeda dri biasa.x , smoga tdak trlalu OOC

Kazuko Nozomi : Hello,Kazoku! Salam kenal juga..
Terima ksih sdah menyukai fic GaJe ini :D Oh, ya pairing.x SasuHina koq. Pkoknya endingnya SasuHina ^-^

LylaAkariN : Terima ksih krena sdah menunggu update fic ini ^-^

Sbenernya ide fic ini jga karena sya menginginkan karakter Hinata yg sedikit berbeda. Hahha. . mungkin lucu jga klo di film.x ada adegan Hinata yg sdikit 'pemarah'

Moku-Chan : Salam kenal Moku chan

Gmana chapter ke-3 ini ? Sasu Hina udah sebangku, tpi maaf cma sbentar. -_- Mungkin chapter selanjut.x author bkal 'paksa' mreka berdua buat sbangku lbih lama. :D

Ryuka Kagare : Terima ksih krena sdah semangat m'baca fic sya. Ya, sperti yg kmu perkirakan, sifat blo'on Naruto terhadap perasaan Hinata krena naruto hnya menganggap hinata sbgai kawan dan adik perempuan, tdak lbih. -_- kasihan bnget y, Hinata. . . Tpi kan pairing.x emank Sasu-Hina. Jadi nanti.x Hinata bakal melihat Sasuke & melupakan Naruto, hehe. . :)

Dan untuk semua readers yg menyempatkan membaca Fic ini Terima kasih banyak! ^-^