Naruto © Masashi Kishimoto
suzanessa Presents :
.
TO BE YOUR STAR
.
Attention!
This is Gaa x Ino pairing..
Some English dialogues may appear.
Gajenism, miss-typos,Alur gampang ditebak.
Di sini, Ino jadi ninja Suna, jadi maaf kalo ga sesuai harapan… -_-"
Anda muntah karena keabalan fic? Author ga mau nanggung, wkwkwkwkwk…
.
Pojok Review
Kureviewer : Hahaha, makasih yaa! Ni aku dah update!
el Cierto : Iya ini re-publish dr lama sih, jd baru nongol di timeline skarang. hehehe..udah update ni…monggo diliat.
vaneela : Oooemji! Ternyata tetep humornya masuk, padahal pengen srius deh beneran..kan masih blajar. Matsuri tetep ada kok. Ino ngegantiin Matsuri dalam hal lain…itu tuuuh…hmmm…baca aja deh apdetannya..hehehehe
okeh, Enjoy this Fic!
.
**************************** Chapter 3 : Tragedy *******************************
.
Ino POV
3 jam sebelum mengirimkan pesan…
"Cih….hanya sebegini jounin Suna?" cibir salah satu Akatsuki, Kisame Hoshigaki.
"Sial….sial!" ujar pasukanku. Sementara, partner Kisame yang bernama Itachi Uchiha melawan kelompok lain. Para ANBU Suna juga sudah dikerahkan, namun Itachi terlalu tangguh. Aku melirik sedikit kantong pasir Gaara. Tidak! Aku tak bisa memanggil dia sekarang. Aku tak bisa membiarkan dia meninggalkan desa. Dan…aku tak bisa membiarkannya khawatir.
.
JGAAAAAARR!
.
Aku terhempas oleh Samehada-nya Kisame. Kantong pasirku terlempar. Aku melihat salah satu pasukanku mengambilnya. Aku harus mundur untuk sementara.
"Kapten, apa tak sebaiknya kita-….." kata pasukanku, sebelum akhirnya terpotong olehku.
"Tidak….jangan…Jangan gunakan pasir itu. Kita tak bisa membiarkan desa kosong tanpa pengawasan Kazekage. Percayalah pada dirimu, Matsuri!" kataku, terengah-engah berbicara ke Matsuri, salah satu anggota pasukanku. Uuuugh….Luka di punggungku semakin bereaksi. Ternyata Samehada itu….ada racunnya. Uh, sial!
End of Ino POV
.
Matsuri POV
Tidak…Kapten…Kau tak boleh memaksakan diri. Aku tak menyangka kalau Akatsuki akan sekuat ini. Kalau begitu, aku terpaksa harus melapor. Segera kutulis pesan dan segera kuterbangkan bersama merpati penghubung. Kukeluarkan kantong pasir milik Kapten Yamanaka. Lalu kualirkan chakraku pada pasir itu.
"Maafkan aku, Kapten Yamanaka… Maafkan aku, Kazekage-sama…" lalu aku pun jatuh pingsan. Sementara itu, Kapten Yamanaka berhasil dilumpuhkan dan dibawa oleh Akatsuki.
End of Matsuri POV
.
Gaara POV
"This way, Gaara!" Teriak Kankuro. Benar saja, tak jauh kemudian aku melihat salah satu anggota pasukan Ino, tergelatk lemas. Tim medis langsung menanganinya, dan ia pun tersadar.
"Ah, semua….Uuugh, aku tak mengira (uhuk) kalian semua menyusulku. Sampai Kazekage-sama juga (uhuk)…"ia terlihat lemah sambil memaksakan diri.
"Diamlah, jangan banyak bicara dulu," teriak medis.
"Jadi kau yang menghubungi kami lewat pasirnya Gaara, eh?" teriak Kankuro.
"Kazekage-sama, maafkan aku," lirih Matsuri, anggota pasukannya Ino.
"Sekarang dimana dia?" tanyaku pada Matsuri.
"Uuuugh…di-dia…dibawa…oleh..A-Akatsuki," jawabnya dengan susah payah. Lalu aku segera memerintahkan satu unit untuk berjaga.
"Sisanya, ikuti aku!" perintahku. Aku terus memasuki kuil, dan aku melihat semua biksu terbunuh. Lalu dari kejauhan, aku mendengar suara pertarungan. Segera aku meyusul ke sumber suara itu. Dan yang kutemukan adalah ANBU dan yang lainnya sedang terpengaruhi oleh genjutsu dari Itachi Uchiha. "Bebaskan mereka!" perintahku, pada pasukanku. Kami langsung bergerak, membebaskan genjutsu mereka.
"Hey, kalian tak apa-apa?" tanya Kankuro pada tim lain pimpinan Temari. Mereka semua takjub melihat kami.
"Temari-nee," sapakau lirih kepada Temari.
"Gaara! Kau…" kata Temari, kelelahan.
"Kuil ini terletak di tanah Suna. Itu kekuasaanku, dan juga warisan dari Suna. Aku akan melindunginya! Selain itu, aku akan menyelamatkan seseorang yang sangat penting bagiku. Tak peduli apa yang kana terjadi denganku, aku akan melindunginya!" jawabku, pada semuanya. Lalu, Kankuro mengeluarkan Karasu.
"Gaara, serahkan yang di sini pada kami. Kau harus kejar dia," ujarnya padaku. Aku percaya padanya.
"Aku mengandalkanmu, Kankuro-nii," lalu aku meninggalkan mereka. Tetapi sebelum pergi, aku berbalik, "Kankuro, hati-hati pada Akatsuki, terutama Itachi Uchiha itu. Walaupun ia hanya bunshin, hindari kontak dengan mata dan jarinya."
"I understand," jawabnya. Lalu aku pergi. Aku mendengar Temari terperanjat, 'It's just a bunshin?'
.
.
Aku terus mencari dan mencari dimana Ino berada. Kucari ke berbagai ruangan di dalam kuil ini, tetapi hasilnya nihil. Aku berlari…dan berlari…berlari… "Ino, dimana kau?" teriak batinku yang mulai putus asa. Sampai tak sadar kalau aku sekarang sudah sampai di sebuah aula besar. Kulihat Ino tergeletak lemah di tengahnya.
"INO!" Aku berlari menyongsongnya. Namun, tiba-tiba ada puluhan kunai yang mengarah ke Ino, hanya beberapa saja yang berhasil mengenainya. Rupanya musuh itu sengaja. Ino berteriak kesakitan, teriakkannya membuatku miris. Aku ingin segera menolongnya, tapi gerakanku terhenti oleh cemeti bunga milikknya. Pelan-pelan, Ino berbicara padaku.
"Gaara-kun, Kumohon jangan keluar!" Sementara itu, kunai-kunai menyerangnya lagi. Aku…aku melihatnya menderita! Tetap ia tetap bertahan dan tak mengendorkan cemetinya sedikit pun. "Jangan keluar, Gaara-kun! Mereka menyerangku untuk memancingmu keluar! KYAAAAAHH!" Kunai-kunai menyerangnya lagi.
"INOOOOOO!" Aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku berusaha menggerakkan tubuhku, tetapi cemeti Ino jauh lebih kuat. Sudah jelas, Ino menginginkan aku tetap diam.
"Please, selamatkan dirimu, Gaara-kun! Selamatkan desa!" Lalu ia tak sadarkan diri. Sementara itu, Kisame berdiri di atas altar, memandang kami dengan puas.
"Hahahahaha! Kau harus berterima kasih padanya. Kalau bukan karena gadis ini, kau pun akan bernasib sama dengannya," cibirnya. Namun aku tak peduli dengan apa yang dikatakannya. Shukaku dalam diriku mulai keluar. Membuatku jadi hilang kendali. Tidak! Aku harus mengendalikannya!
"DIAM KAU! BERISIK SEKALI!" Teriakku. Lalu aku langsung menyerang dengan pasirku. Kekuatan Shukaku mulai merembes keluar menguasaiku. Sementara itu, dinding pasir terus menyerang Kisame. Aku harus menghentikannya. Kalu tidak, Ino akan ikut terluka.
Ino….
'The way she walks… The way she talks… The way she laughs… The she treats me… The way she fights… The way she look at me…' renungku dalam batin, mengingat segala kenangan tentangnya, 'Apapun itu, aku merindukannya! Dan aku… tak… akan membiarkan… hal seperti ini…. mengontrolku!'
Lalu perlahan-lahan kekuatan Shukaku berhasil kutekan, dan akhirnya menghilang total. Aku kembali ke kesadaranku seutuhnya. Aku merasa lebih kuat sekarang.
"He..he..he…Are you ready now, Mr. Shark?" kataku pada Kisame.
Kisame rupanya sudah lebih siap. Aku menyerang dengan pasirku. Ia bertahan dengan Samehada-nya. Ternyata sangat sulit. Aku harus memisahkan Samehada darinya. Kupancing dia untuk melempar si Samehada yang rupanya sudah sehati dengan Kisame. Ketika aku menyerang Samehada, pedang besar itu malah berbalik menyerangku. Masih ada jalan lain! Aku tak akan kalah! Aku akan melindungi desaku, penduduk, orang-orang yang selalu mendukungku. Karena aku… Karena aku adalah Kazekage!
End of Gaara POV
.
Ino POV
Ah… Dimana ini? Masih di Kuil Suna? Itu…siapa yang sedang bertarung itu? Gaara-kun? Lagi-lagi Gaara-kun bertarung dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Maafkan aku. Tapi…. aku percaya padamu. Jangan kalah. Karena kau masih punya tugas penting, sebagai Kazekage. (Lalu aku pingsan lagi. Kali ini tenagaku benar-benar habis).
End of Ino POV
.
Gaara POV
Satu jam kemudian…
Hhh…hh..hhh..Akhirnya aku dapat melumpuhkannya, setidaknya, membuat Kisame itu terukul mundur. Tak kusangka akan sesulit ini. Aku berhasil mematahkan Samehada-nya, dan Kisame terjebak dalam dinding pasirku.
Oh, iya! Ino!
Aku menghampirinya, dan menyandarkan kepalanya di lenganku. Thank, God, she's still alive! Aku menyebut-nyebut namanya, tetapi ia tetap diam. Di saat yang sama, Kankuro, Temari, dan yang lainnya datang.
"Hey, kau berhasil, Gaara!" ujar Kankuro.
"Belum…" jawabku, tanpa mengalihkan pandanganku dari wajah Ino. Semua terdiam. "Ayo kembali ke Suna," perintahku.
.
.
Akhirnya kami tiba di rumah sakit Suna. Syukurlah semua tak apa-apa. Para perawat langsung mengerubungiku. Matsuri mengambil alih pengobatan Ino.
"Kami akan menangani Kapten Yamanaka. Semua, tolong rawat Kazekage-sama dan yang lainnya," seru Matsuri pada paramedik yang lain. Lalu, ia membawa tubuh Ino ke ruang operasi. Tapi, aku menahannya sebentar.
"Matsuri!" seruku. Ia langsung berhenti, terdiam menatapku, kulanjutkan lagi, "Kumohon…selamatkan Yamanaka." Semua yang di ruangan itu terkejut. Matsuri menghela nafas panjang.
"Kami akan lakukan yang terbaik," jawabnya, penuh keyakinan. Lalu ia masuk ke ruang operasi. Aku bersandar di kasurku, memohon sesuatu yang baik. Termenung, sedih, khawatir.
"Gaara," sapa Temari di sebelahku. Nadanya terdengar sedih.
End of Gaara POV
.
Temari POV
Baru kali ini kulihat Gaara yang begitu mengkhawatirkan orang lain sampai seperti ini. Wajahnya pucat, berkeringat, dan bergetar. Dia hanya tertunduk, tangannya saling mengepal. Aku baru mengenal sisi Gaara yang satu ini. Kucoba berbicara padanya, "Gaara, you should take a rest. You're not in your full health." Tetapi dia hanya diam. Pandangannya menerawang kosong, memandang ke bawah.
"Gaara," lanjutku lagi, "Akhirnya, kau memilikinya juga, ya?"
"Memiliki apa?" tanyanya, memandangku dengan keheranan. Aku tersenyum kecil.
End of Temari POV
.
.
.
To be continued
.
Faynelih, bisa update kilat juga…mhehehehe…
Kuharap semua suka..
Gomen kalau hasilnya di luar ekspektasi.
Hmm, untuk yang bertanya-tanya kenapa Gaara masih punya Shukaku di tubuhnya. Gini ceritanya. Pas Gaara ditangkep ama Akatsuki, Shukaku ga berhasil dikeluarkan dari tubuhnya. Jadi aja Shukaku masih diem di tubuh Gaara dan masih ngeganggunya. Gituu…ahhahaha.
Yah, walopun di anime aslinya Shukaku udah ga ada, tapi toh.. ini fiksi kan? *ngeles mode: on*
So, do you like it?
Still wanna continue?
Oke, but first, please gimme you REVIEW ya! Ehehehehe,,
See you!
*** suzanessa ***
