Disclaimer:
Bang Masashi Kishimoto,kapan mau jadi pasangan ane dikontes Abang-None di Spanyol ? :v #plak!
.
.
Welcome to Konohagakure Academy
.
.
.
3
.
.
Remember
.
.
"Ahhhh…. Sa-sakit, Teme!"
"Sudahlah…. Tenang Dobe. Kalau kau tidak tenang posisinya nggak akan pas."
"Ta-tapi…. Akh! Ini sakit!" Pemuda itu menggigit bibirnya. Kedua tangannya bertumpu pasrah pada tembok putih kusam didepannya.
"Sa….kit…." Pemuda itu mendesah keras. Tangannya menggaruk tembok dengan kasar.
"Che, berhentilah mengeluh…." Pemuda berambut hitam kebiruan dibelakangnya melakukan sekali sentakan dan sukses membuat pemuda berkulit karamel dihadapannya berteriak.
"SAKIT TEME! NGGAK USAH TERLALU KENCANG MASANG KORSETNYA!"
Pemuda yang dipanggil 'Teme' itu pun hanya mengikat tali korset si 'Dobe' dan menatapnya.
"Kau pikir aku suka disuruh memakaikan gaunmu? Andai saja kau perempuan aku tak perlu melakukan semua ini, bodoh."
Naruto memandang pemuda itu marah. Namun kencangnya korset yang memeluk pinggangnya membuat ia sesak dan malas untuk adu mulut dengan orang itu.
Sasuke melemparkan gaun berwarna thistle pada Naruto.
"Pakai sendiri."
Tanpa kau suruh pun aku lebih baik memakainya sendiri!"
"Ya sudah."
Sasuke duduk diatas kursi panjang yang ada diruang ganti dadakan tersebut. Ia menyeka keringat yang mengucur dari dahinya akibat panasnya siang itu. Ditambah lagi kostum bangsawan jaman Renaissance yang digunakannya membuatnya merasa gerah.
Naruto menatap gaun didepannya.
Alisnya mengernyit.
"Gimana cara memakai nya?"
Sempat terlintas dalam pikirannya untuk meminta tolong pada Sasuke, namun gengsinya membuatnya batal melakukan hal tersebut.
Ia pun mencoba menerka-nerka bagian-mana-yang-harus-dipakai-dimana dengan kemampuannya sendiri.
"Haaaaaaahhhhh, kenapa harus begini sihhh?"
_Flashback_
"Yak, jadi kalian sudah mengerti peran masing-masing kan? Sekarang kalian cepat ganti pakaian kalian dengan baju-baju yang telah kusiapkan. Untuk persiapan pemilihan baju mana yang akan kalian pakai saat pementasan nanti."
Pain-sensei menunjukkan tiga kardus lumayan besar yang masing-masing berisi lima-set pakaian. Dua kardus berisi pakaian-pakaian pria dan satu kardus berisi pakaian-pakaian wanita.
Naruto, Sasuke, dan Sai yang saat itu baru saja diberi pengarahan tentang jalan cerita drama, lagu-lagu yang harus dimainkan dan karakteristik peran masing-masing pun berdiri dan menatap kardus-kardus yang ditunjukkan oleh Pain-sensei.
Naruto, yang saat itu masih dalam keadaan setengah sadar karena shock akibat terpilihnya dia sebagai ratu kecantikan-plak-pemeran wanita utama dalam drama tersebut hanya menatap kardus dihadapannya dengan pandangan tolol.
"Tunggu apalagi? Cepat coba pakaian kalian." Pain Sensei mendorong mereka menuju ruang ganti dadakan yang ia buat didalam ruang kelas yang sangat besar itu.
Tiba-tiba, Sakura muncul dari balik pintu, ia nampak sangat manis dengan gaun putih sederhana yang ia kenakan. Ia berperan sebagai teman Freedert, Lucia.
"Sai, bisa aku minta bantuanmu?" Gadis itu menghampiri Sai dengan wajah agak kebingungan.
Sai tersenyum.
"Tentu saja, bantuan untuk apa?"
"Itu, piano di aula sedikit aneh. Sepertinya ada senar yang putus atau apa…."
"Oh, OK aku akan mengeceknya sekarang. Sasuke, Naruto, kalian ganti baju duluan ya. Nanti aku menyusul."
Pemuda berambut royalblack itu mengikuti Sakura menuju aula tempat mereka latihan yang terletak satu lantai diatas kelas mereka.
Sasuke mulai mengganti bajunya.
Namun berbeda dengan Naruto, pemuda itu menatap bingung kepada korset berwarna krem yang ia pegang.
"Gimana cara memakai nya?"
Sasuke menghampiri pemuda itu dan 'membantu' nya memasang olahan tulang ikan paus itu ditubuhnya.
_Flashback end_
Sasuke menatap pemuda yang tengah bersusah payah memakai kostumnya itu.
Ia sendiri telah selesai memakai kostumnya dari tadi. Tentu saja karena kostumnya tidak serumit kostum Naruto.
Ia pun berdiri dan melepaskan resleting dibagian belakang gaun itu.
"Puwaaaaahhh…." Kepala berambut kuning cerah itu menyembul dari bagian kerah gaun. Ia nampak ngos-ngosan.
Sasuke tersenyum sinis.
"Bodoh."
"Urusai, Teme! Aku bukan perempuan, mana aku tahu cara untuk memakai baju seperti ini!"
Naruto menatap pemuda bermata raven itu kesal. Sasuke hanya menyeringai.
"Oh. Padahal kupikir kau itu perempuan."
Ia pun keluar dari ruang ganti. Meninggalkan Naruto yang masih mencak-mencak tidak karuan.
.
Sasuke menatap ke kejauhan. Dilihatnya lapangan sekolah yang dikelilingi oleh pohon-pohon flamboyant.
Angin sepoi-sepoi menyentuh wajahnya. Menerbangkan helaian rambut sewarna malam miliknya dengan gerakan anggun.
Ia menutup matanya sejenak.
Sebutir keringat dingin jatuh didahinya.
Pintu terkuak.
Seorang gadis berambut darkblue memasuki ruangan.
"Sasuke?"
Sasuke menoleh. Dilihatnya Hinata berjalan pelan ke arahnya. Gadis itu mengenakan gaun putih panjang yang Nampak simple namun memberikan kesan dewasa baginya. Hinata memerankan Second Hand of Time. Roh dalam karya seni keramat bernama sama yang menjadi kunci cerita tersebut.
"Hm."
Gadis itu meraba-raba bagian depan kostum Sasuke. Berusaha merasakan bahan kain yang digunakan pemuda tersebut dengan tangannya.
"Ah, lycra. Sepertinya itu kostum yang bagus. Kau pasti terlihat sangat tampan."
Sasuke masih mempertahankan ekspresi stoic nya.
"Kau juga. Gaun itu tidak terlalu jelek."
Hinata tersenyum tipis. Namun, ekspresi wajahnya agak berubah saat mendengar hembusan berat nafas Sasuke.
"Kamu kenapa?" Tanya gadis itu pelan.
Tiba-tiba terdengar suara agak ramai. Sai dan siswa-siswa yang lain masuk kedalam ruangan. Dibelakangnya, Pain-sensei nampak mengikuti.
Sepertinya mereka akan beristirahat.
Sai menghampiri Sasuke dan Hinata.
"Hai, mana Naruto?"
Sasuke menunjuk ke ruang ganti dengan dagunya. Sai nyengir.
"Naru-chan, ayo keluar! Kami ingin melihatmu!"
"Ah, tapi…."Terdengar balasan dari dalam bilik.
"Ayolah. Semua sudah tidak sabar." Sai berjalan ke depan bilik itu dan menyingkap satu-satunya tirai yang menjadi pintu masuk atau keluar bilik.
"Eeeeeh!"
Semua orang ternganga.
Semua mata memandang kearah Naruto yang berdiri dibelakang tirai yang disingkap Sai.
Semuanya terpana pada apa yang mereka lihat.
Oh, tentu saja kecuali Hinata yang hanya diam dan berusaha memahami apa yang sedang terjadi dihadapannya.
"A-apa?"
Naruto menunjukkan wajah kesal bercampur malu. Wajahnya memerah.
Ia mengenakan gaun thistle yang dipilihkan Sasuke tadi. Selain itu, ia juga memakai wig berwarna serupa dengan rambutnya. Wig panjang yang ia biarkan terurai menutupi punggungnya yang terbuka.
"Alamak…." Mata sipit Sai membulat.
"Kenapa?" Balas Naruto.
"CANTIK BANGEEEEETTTTT!" Semua orang ditempat itu serentak menyuarakan ketakjuban mereka pada mahluk Tuhan paling seksi (?) yang berdiri mematung dihadapan mereka semua. Membuat Naruto menjadi salah tingkah.
"Ap-apa? Aku nggak cantik!" Bantahnya kasar. Ia sendiri tidak mengetahui bagaimana penampilannya saat ini karena ia belum berkaca tadi.
Tiba-tiba Lee membawa sebuah cermin rias besar dan meletakkannya dihadapan Naruto.
"Eh? Ini aku?" Tanyanya tak percaya sembari menatap bayangannya sendiri dicermin. Ia menyentuh permukaan cermin itu dengan tangan kirinya yang ditutupi oleh lengan gaun yang panjang.
Sai tersenyum simpul.
"Wah, nampaknya kita nggak salah pilih, nih."
Semua orang menjadi sangat bersemangat untuk latihan, apalagi setelah melihat pemeran utama dari drama mereka adalah 'gadis' super-cantik seperti ini.
.
.
.
"CUT!"
Pain menghampiri Naruto yang tengah membawakan dialog Freedert.
Pria itu memukul kepala Naruto menggunakan gulungan naskah yang ia bawa.
"Aduuuhh! Sakit Sensei…."
"Sudah aku bilang, kau harus menampakkan wajah malu-malu. Seperti Freedert yang tersipu saat bertemu dengan Elliot." Kata pria itu dingin.
"Mungkin saja bisa, kalau saja lawan main ku bukan si Teme menyebalkan ini."
Sasuke menaikkan satu alisnya.
"Memangnya, menurutmu aku senang mendapatkan peran ini? Lebih baik aku menjadi pohon daripada harus memerankan kekasih 'gadis' kasar sepertimu."
"Apa kau bilang? Teme!"
"Cerewet! Dobe!"
"DUAAAK!"
Sakura melemparkan keranjang roti yang sedari tadi ia pegang kepada dua orang itu sampai-sampai mereka terjatuh.
"Kalian latihan yang serius dong! Yang lain aja serius!"
Naruto dan Sasuke bangkit dengan wajah marah. Naruto melepas wig yang ia pakai.
"Aku nggak bakal bisa meranin Freedert dengan baik kalau Eliotnya kayak kamu!"
"Oh, tidak bisa berakting karena aku atau jangan-jangan kau memang tidak bisa berakting?" Sasuke menyunggingkan senyum kemenangan.
Naruto menelan ludah.
"Aku bisa!" Balasnya kasar.
"Sudahlah Naru-chan, istirahat saja dulu. Nanti latihan lagi. Sepertinya kamu udah kecapean." Sai menghampiri mereka dan tersenyum pada Naruto. Sebaliknya Naruto justru merasa tersudutkan.
"Wah, ternyata pemeran utama perempuannya nggak bisa akting. Gimana nih?" Sasuke menyeringai dan memanas-manasi Naruto. Pemuda itu berteriak kesal.
"AKU BISA, TEME!"
Ia memakai kembali wignya dengan sembarang.
'Gadis' itu menutup matanya.
"Kau bisa Naruto. Kau bisa. Jadilah Freedert. Gadis yang manis dan ceria…. Gadis yang mencintai Elliot…."
Ucapnya dalam hati. Berusaha men-sugesti dirinya sendiri.
'Gadis' itu membuka mata dan tersenyum lembut.
Ia membuang kertas naskahnya kelantai.
"Maafkan aku, Elliot…. Aku tahu, kau harus pergi…. Aku tahu…."
Sai dan Sakura terdiam. Terpukau oleh aura aneh yang dipancarkan oleh Naruto.
Sasuke tertegun.
Ia mengernyitkan alisnya dan menyelipkan kertas naskah miliknya di saku celana kostumnya.
"Aku tak bisa, Freedert…. Pergi berperang dan meninggalkanmu sendiri? Aku takkan sanggup…."
Beberapa orang yang masih latihan di aula itu menghentikan aktivitas mereka. Pandangan mereka tersita oleh akting dua orang pemeran utama drama itu.
Hinata menghentikan nyanyiannya, telinganya terfokus pada suara-suara yang dikeluarkan oleh dua orang yang diketahuinya sebagai Naruto dan Sasuke.
Naruto tersenyum sedih. Ia bergerak maju mendekati Sasuke dan menggenggam jemari dingin pemuda itu.
"Kau mencintaiku bukan? Ayahanda hanya akan mengijinkan kita menikah apabila kau menjadi seorang satria yang gagah berani dan mampu menjagaku selamanya. Kau tahu itu kan, Elliot?"
Sasuke menatap wajah 'gadis' yang menggenggam jemarinya itu. Ia merasa ada yang berbeda pada diri Naruto. Ia benar-benar bertransformasi menjadi Freedert. Sasuke seakan dibawa ke alam kisah tersebut dan menjadi Eliot yang sebenarnya.
"Aku tahu, Freedert…. Maafkan aku yang menjadi lemah seperti ini…. Aku hanya ingin bersamamu, aku terlalu takut meninggalkanmu."
Naruto tersenyum. Matanya berkaca-kaca.
"Jangan khawatir. Ada Kyle disini. aku tidakakan apa-apa selama kau pergi. Aku akan setia menunggumu kembali…."
Sasuke merengkuh Naruto lembut. Membiarkan kepala 'gadis' itu bersandar di dadanya.
Semua orang ditempat itu mulai meneteskan airmata.
Lee dan Chouji bahkan sudah menangis saking terharunya pada adegan tersebut.
"Freedert…." Sasuke menatap wajah Naruto sendu.
"Iya, Elliot…." Naruto balas menatap wajah Sasuke.
Wajah mereka saling mendekat. Beberapa gadis terpekik pelan.
Saat jarak antara wajah mereka sudah tinggal beberapa senti lagi…..
"Yak, Cut. Bagus sekali." Pain Sensei tersenyum tipis.
Sontak Naruto dan Sasuke menjauhkan wajah mereka secara spontan. Terdengar beberapa suara yang nampak kecewa terhadap dipotongnya adegan romantis itu.
"Kita lanjutkan latihan ini besok. Naruto, Sasuke, kalau kalian bisa mempertahankan akting kalian yang tadi aku jamin kelas kita pasti menjadi yang paling hebat diantara yang lain." Pain-sensei melemparkan dua buah handuk pada Naruto dan Sasuke.
Naruto hanya menutupi wajahnya dengan handuk itu. Berusaha menghilangkan bayangan wajah Sasuke yang sangat dekat tadi.
Sebaliknya,Sasuke bergegas pergi dari tempat itu menuju kelasnya untuk mengganti kostumnya dan kembali ke asrama.
Naruto melepas handuk dari wajahnya dan menatap punggung pemuda itu.
"Teme?"
.
.
.
Sasuke menatap bayangannya sendiri didepan cermin kamarnya.
Ditatapnya tato bercorak tribal yang menghiasi pundak sebelah kirinya.
Angannya beralih kemasa beberapa tahun yang lalu.
.
"Sasu?"
Seorang gadis kecil memasuki kamar Sasuke.
Sasuke, yang saat itu masih berusia tujuh tahun, menoleh pada gadis itu.
"Kenapa?"
Hinata mendekati Sasuke. Bibir mungilnya tersenyum.
"Apa yang sedang kau lakukan Sasu?"
"Tidak ada."
Hinata memperhatikan Sasuke yang tengah memakai bajunya. Dilihatnya bekas luka didada anak itu.
"Kau melihat bekas lukamu lagi?"
Sasuke mengeryitkan alisnya.
"Tidak."
Hinata termenung sejenak. Kemudian ia tersenyum.
"Ayo ikut aku!"
"Eh?"
Hinata memanggil Geki, salah seorang pengasuh dipanti asuhan miliknya, dan menyuruh laki-laki setengah baya itu untuk mengantar dirinya dan Sasuke menuju suatu tempat yang tidak diketahui oleh Sasuke.
"Kita mau kemana?" Tanya Sasuke pelan.
Hinata tersenyum lebar.
"Kita akan membuatkan tato untukmu."
Mata Sasuke membulat.
"Tato? Bukankah itu akan sangat sakit?"
Hinata menggeleng.
"Aku tidak tahu, tapi itu bisa menutupi bekas luka itu. Lagipula tato lebih murah daripada operasi plastik." Balasnya dengan wajah polos.
Sasuke hanya terdiam.
Sesampainya ditempat yang diminta Hinata, Geki memimpin masuk kedalam.
Seorang pemuda dengan piercing menyapa mereka.
"Maaf pak, tapi disini dilarang membawa anak kecil." Sapa orang itu ramah.
"Hm, tapi yang ingin di tato adalah anak ini, bukan saya." Kata Geki sembari menepuk pundak Sasuke.
Pemuda itu memiringkan kepalanya.
"Anak ini?"
Sasuke menatapnya tajam.
"Cerewet. Memangnya kenapa?"
Pemuda bernama Haku itu tertawa. Ia mulai mengerti kenapa anak sekecil itu sudah berani menghiasi tubuhnya dengan tato.
"Baiklah baiklah, tapi aku tidak mau kau menjerit ya. Mungkin akan agak sakit sih."
Sasuke membuang muka.
"Che, aku tidak akan menjerit."
Haku tersenyum tipis.
"OK, motif apa yang kau inginkan? Dan dimana mau ditatonya adik kecil?"
"Motif tribal yang itu, dipundak sebelah kirinya." Kali ini Hinata yang menjawab. Rupanya sedari tadi ia memperhatikan jenis-jenis tato yang tertempel didinding.
Haku melihat gambar yang ditunjuk Hinata sejenak dan mengangguk. Ia menyentuh pundak Sasuke dan mengajaknya ketempat pembuatan tato.
.
"Nah bagaimana?"
Hinata berdiri dibelakang punggung Sasuke.
Sasuke, yang tengah menatap cermin besar dikamarnya hanya diam.
Beberapa detik kemudian, bibir tipisnya membentuk sebuah senyuman.
"Bagus, terimakasih."
Hinata tersenyum lebar.
"Sama-sama, Sasu."
.
Pemuda itu menyentuh tatonya, tato yang diukir untuk menutupi kenangannya.
'Nyuuut…'
Sasuke menggigit bibirnya.
Mata ravennya nampak berkilat tertimpa cahaya lampu.
Keringat dingin membanjiri kening dan lehernya.
"Sial…. Kenapa aku malah sakit disaat seperti ini?" Bisiknya pada diri sendiri.
Tiba-tiba, kepalanya terasa sangat pusing.
Ia memegang ujung tempat tidurnya, meletakkan seluruh massa tubuhnya disana.
Pandangannya memudar.
'Bruuk.'
Ia terjatuh.
.
.
.
"Ah…. Aku pingsan lagi…."
Pemuda itu memandang hamparan putih disekitarnya.
Kepalanya begitu pening.
"Dulu, kalau aku sakit seperti ini pasti Itachi-nii akan menjagaku seharian, walau sedang bekerja dia pasti minta cuti. Lalu sewaktu di panti, Hinata pasti akan membuatkan berbagai macam makanan 'sehat' untukku…."
Pemuda itu tersenyum tipis.
"Kini, aku tidak punya tempat bergantung lagi. Tak ada orang yang bisa aku andalkan lagi. Itachi-nii sudah tak ada…. Dan aku tidak mungkin merepotkan Hinata…."
"Sasuke!"
"Siapa itu?"
"Sasuke? Ah dia pingsan."
"Iya aku pingsan. Siapa kau?"
"Sasuke?"
"Siapa itu?"
"Sasuke? Kau bisa bangun?"
"Siapa kau? Itachi-nii? Hinata?"
Sasuke merasakan pandangannya mulai berwarna.
Dilihatnya sekilas bayangan kuning dihadapannya.
"Siapa…."
Sasuke merasa pandangan semakin buram.
Kesadarannya perlahan pudar kembali.
.
.
.
Sasuke membuka matanya.
Kepalanya masih terasa pening, namun panas tubuhnya sudah mulai menurun.
Ia merasakan ada sesuatu yang dingin diatas keningnya.
"Siapa yang meletakkan kompres ini dikepalaku?"
Pintu terbuka.
Seorang pemuda berambut goldenrod memasuki kamar.
Ia membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih. Tak hanya itu, sebuah plastik kecil berisi obat nampak disudut nampan.
"Ah, kau sudah bangun?" Naruto menghampiri Sasuke dan menaruh nampannya diatas meja kecil disamping ranjang Sasuke.
"Kau yang mengangkatku ke tempat tidur?"
Naruto mengangguk.
"Iya, berterimakasihlah. Kau berat tahu."
Sasuke hanya terdiam.
Tak lama kemudian ia berbisik.
"Terimakasih."
Naruto tersenyum.
"Sama-sama."
Mereka terdiam. Naruto melepas sepatunya, sepertinya ia belum sempat berganti baju sejak tadi.
"Kenapa kau bisa tahu?"
Naruto menoleh. Ditatapnya pemuda berambut raven disebelahnya.
"Soalnya tadi mukamu merah. Kukira kamu sakit jadinya aku kesini." Balas pemuda itu polos.
Sasuke hanya ber-oh-ria.
Suasana kembali hening.
Naruto merasa tidak nyaman dengan suasana itu, ia mendekati ranjang Sasuke dan duduk dipinggir ranjang pemuda itu.
"Makan dong. Susah-susah aku bawain bubur dari kafetaria kok nggak kamu makan? Itu, aku juga sudah minta obat penurun demam pada Tsunade –sensei. Sehabis makan kamu harus langsung meminum obat itu."
Sasuke menatap mangkuk bubur di sebelahnya dengan tidak berselera.
"Nanti saja."
Naruto merengut.
"Ya sudah kalau kamu mau tetap sakit."
Sasuke menatap mata royalblue milik Naruto. Mencoba masuk ke relung hati pemuda berdarah Inggris itu.
"Aku…."
"Atau kau mau kusuapi?"
Sasuke terhenyak.
Ia mengerutkan alisnya.
"Nggak."
"Terus?"
"Nanti saja makannya."
Naruto menjadi jengkel. Ia mengambil mangkuk bubur yang telah agak dingin itu dan menyendoknya.
"Makan!" Katanya sembari menyodorkan sendok itu kemulut Sasuke.
Sasuke membuang mukanya. Disuapi? Jangan bercanda! Itu hanya terjadi saat ia masih kecil!
"Tidak mau."
"Ayolah, bubur ini enak lho." Naruto berusah membujuk pemuda berdarah Jepang itu dengan bujukan yang sering digunakan oleh ibu-ibu untuk anak mereka. Tentu saja ini membuat Sasuke makin merasa kesal.
"Aku bukan anak kecil lagi, Dobe!"
"Kalau begitu makan dong."
"Aku sudah bilang nanti."
Naruto menatap pemuda itu sendu. Ia tidak ingin orang yang telah ia anggap sahabat, karena sering bertengkar, itu sakit. Entah mengapa ia benci melihat Sasuke, orang yang ia anggap rival, atau saingannya atau apalah namanya itu begitu tak berdaya seperti tadi.
Ia takut apabila terjadi hal yang buruk pada Sasuke.
Sasuke menjadi tidak enak sendiri.
Naruto seperti tengah melakukan 'Puppy Eyes no Jutsu' padanya.
"Errrrr…."
Naruto tersenyum senang. Sekali lagi ia menyodorkan sendok berisi bubur itu pada Sasuke.
Kali ini, dengan enggan Sasuke membuka mulutnya dan memakan bubur itu.
"Nah, kan bagus kalau kau mau makan."
"Che." Balas Sasuke disela-sela kunyahannya.
Sebenarnya Sasuke bisa saja mengambil mangkuk bubur dan sendok itu dari Naruto dan memakannya dengan tangan sendiri. Tapi entah mengapa terlintas pikiran jahil diotaknya untuk terus merepotkan si Dobe. Hm, benar. Dobe-nya.
Setelah buburnya habis, Naruto menyerahkan sebutir obat dan segelas air pada Sasuke.
"Minum sendiri, atau aku juga harus meminumkannya untukmu?"
"Che, tidak perlu."
Sasuke mengambil air dan obat yang diserahkan Naruto padanya dan meminum obat itu.
Naruto membereskan mangkuk dan juga gelas yang dipakai Sasuke tadi dan bergegas membawanya kembali ke kafetaria.
Sebelum menghilang dari balik pintu, sekali lagi ia menoleh pada Sasuke.
"Take a rest, and get well soon." (Beristirahatlah, dan lekas sembuh ya.) ucapnya dengan logat Inggrisnya yang khas.
Sasuke mengangguk.
"Ha'i." Ia membalas dengan bahasa ibu nya.
Naruto menutup pintu kamar dan pergi.
Setelah derap sandal Naruto tak terdengar lagi, Sasuke membaringkan dirinya dengan nyaman kembali ditempat tidurnya. Ia menutup matanya, bibir tipisnya tersenyum.
"Ternyata, masih ada…. Tempatku untuk bergantung…. Arigatou Naruto…."
.
"Naruto?"
Pemuda berambut kuning cerah itu menoleh.
Dilihatnya Sai berjalan kearahnya sambil tersenyum.
"Ada apa, Sai?"
"Tidak ada apa-apa. Oh, kau habis makan bubur?" Tanya Sai heran sambil menatap ke nampan yang dibawa Naruto. Tidak biasanya pemuda itu makan makanan yang begitu sederhana seperti itu.
"Tidak, ini Teme yang makan. Dia sakit."
"Lalu kau menyuapinya?" Tebak Sai dengan nada menyelidik.
Naruto hanya mengangguk.
"Ya begitulah. Habisnya dia nggak mau makan." Naruto nyengir kuda.
"Ohhh…."
"Engh, sudah ya. Aku harus mengembalikan semua ini ke dapur. Bisa-bisa Pak Ichiraku ngamuk kalau barang-barang didapurnya ada yang kurang. Daagh~"
Naruto menuruni tangga asrama dan berjalan cepat-cepat menuju kafetaria.
Sai menatap kearah deretan kamar ditempat itu.
Ia tersenyum. Senyum yang lebih mirip dengan seringaian.
"Hmmmm…. Begitu rupanya…."
.
TBC
ayo kita balas reviewnya :D
Sabaku no Uzumaki
Tapi ini udah dilanjutin lagi kok =w=
Thx udah Rnr lan :D
Yashina Uzumaki
Hidup fujoshi! (?) XDD
Ini udah apdet, thx uda RnR ya :DD
Ariza
Maaf saya udah hiatus TwT
Ini udah apdet, Thx udah Rnr :D
Okumura Arale
Mii juga mau liat XDD
#plakk!
Maaf gabisa apdet cepet =w=
Monggo diamati dulu, kalao bagus silahkan dibeli (?)
Thx udah rnr :D
tsukiyomi hikari
ga ada lo ga rame~ (?)
ada ceritanya XDD
nanti perlahan akan kebuka deh hubungan sasu n hinata :D
mengecewakan karena….
APDETNYA KELAMAAN TTOTT
#nangis bombay
thx Rnrnya :D
Lady Spain
Ada rahasianya kenapa dia ga skamar sama sai, fufufu :3
dia mah emang dingin ._. #dijadiin umpan Manda
thx udah review :D
Micon
Iya :'(
(sasuke: nah, kenapa lu yg nangis? ==)
Ini udah apdet, maaf gabisa cepet bahkan cenderung Sangat-amat-terlalu-lama =w=
Thx udah rnr :D
Misyel
HAi :D
Lanjtuannya? Ini dia lanjutannya XDD
Makasi buat reviewnya :D
ruika
Mkasi :D
bener juga ya ._. # mandangin ayam tetangga (?)
tomat oh tomat, kau membuatku penasaran =="
Thx buat reviewnya :D
Pochi Yuna
Masa lalu mereka mmg bisa dibilang aneh =w=
Makasi :D
#minum hemaviton n tolak angin = overdosis (?)
fuyuki aiko
Maaf mii hiatus untuk beberapa (Beberapa? Itu lama bgt dasar author dodol!) saat =w=
Nah itu juga yg bikin mii penasaran –"
Kalo soal pantat ayam ya agak jelas tapi TOMAT? =="
Thx buat Rnr :D
Chary Ai TemeDobe
Semoga harapan anda terkabul XDD
Tomat itu bikin penasaran aja =="
3mikir ampe otak ngeluarin asep menyan (?)
Thx buaw reviewnya :D
raa'cii'calon'uke'suke
makasi :D
romantic? Noh diatas udah romantis2n si sasu n naru XDD
maaf apdetnya lama sangat TwT
thx uda review :D
Yuuchan no Haru999 males login
MAaf updatenya lama sangat .
Thx bwat reviewnya :D
Chiuzuka (Sparky-Cloud)
Kalo gitu nakama aja :D
Kita adalah teman~ :D
#kena virus one piece
Wah gimana yah :3
Di main characternya ada kok : Sasuke Uchiha and Naruto Uzumaki XDD
Ada dong ^^
Tpi belom kebongkar :3
Kelas 3 smp pas ngetik chap 2, dan sekarang mii kelas 1 smk! w
Wah makasih buat infonya :D
Ga discont kok, ini buktinya dilanjutin X3
Thx reviewnya :D
Akhirnya fic ini apdet juga TwT
Naruto: Kelamaan tau! readers udah pada jamuran nunggunya! ==
Sasuke: Dasar author dodol ._.
Mii: Jahat akh TT
mii baru bangkit dari kubur tahu! setelah mengalami masa2 penerimaan (penggojlokan) #sfx: glek , jadi OSIS, akhirnya liburan tiba dan mii bisa mengetik lagi! XDD
Sakura: Tapi lama . bilang aja kamu buntu ide ._.
Mii: ah saku kok gitu sih? DX
All: Intinya,review pleaseeee~?
