Malam yang dingin. Hujan yang begitu deras mendominasi suara percikan diatas genting, tidak ketinggalan suara petir dan kilatan yang menyala, menjadi pelengkap malam dalam keheningan didampingi rintik hujan yang lebat.

Seperti pada halnya, mungkin sebagian orang akan berkutat didalam selimut, memasuki dunia fantasi yang disebut mimpi, mengingat jam hampir memasuki tengah malam.

Mungkin tidak untuk pemuda yang satu ini. Ya, Sasuke Uchiha. Ia tengah asyik duduk di sofa putih dengan televisi yang menyala, menampilkan film yang membuat bulu kuduk meremang. Apalagi kalau bukan film horor, yang baru saja ia beli kemarin.

Rasanya kurang menyenangkan jika menonton film yang menunjukkan para makhluk astral ini tidak pas pada jam tengah malam. Entahlah, mungkin karena ia menyukai ketegangan, misteri yang begitu sulit untuk di pecahkan, dan rasa penasaran.

Sekarangpun mungkin bisa dikatakan mencengkam. Lampu disekitar sudah dimatikan, hanya ada cahaya televisi yang menjadi penerangan. Penghuni rumah ditempat itu sudah berlabuh ke pulau mimpi masing-masing. Hanya ada dia seorang, dan juga mungkin makhluk yang tak kasatmata. Tiba-tiba saja Sasuke merasakan angin berhembus mengenai permukaan tengkuknya. Ah, ternyata jendela itu terbuka.

Pemuda emo itupun berjalan menghampiri jendela yang terus bergoyang-goyang seirama dengan angin malam yang berhembus, memberikan suara decitan seram dan dingin yang merasuk ke tulang.

Sebelum menutup jendela Sasuke mengamati kearah luar. Benar sekali. Bahkan tetesan hujan itu turun begitu cepat dengan petir yang kadang menimbulkan suara nyaring. Terlalu dingin diluar sana, dan juga gelap.

Lampu halaman pun tak dapat memberikan sinar yang cukup, ia baru sadar kalau di halaman rumahnya cocok untuk tempat uji nyali. Benar-benar tak habis pikir dengan tetangga barunya yang kadang tak pulang. Seharusnya mereka menyalakan lampu sebelum berpergian lama.

Kembali menghela nafas. Sepertinya tubuhnya mulai dingin, segera pemuda bungsu itu menutup jendela dengan gorden putih rapat-rapat dan menguncinya. Rasa kantuk mulai menyerang, ia sedikit menguap dan meregangkan otot-otot tubuhnya. Mungkin ia akan tidur jika filmnya sudah selesai, sepertinya film itu menunggu untuk ditonton.

Dengan langkah pelan, ia menuju kearah sofa putih itu tadi. Karena daya penerangan yang minim dan jarak yang sedikit jauh dari televisi, kadang-kadang tangannya meraba dinding rumah atau benda-benda yang bisa saja mengenai dirinya.

Terlihat televisi lebar duapuluh sembilan inch itu tengah mempertontonkan adegan seorang gadis pucat dengan bibir yang robek hampir mendekati telinga, tengah berjalan di udara dibawah guyuran hujan. Menekan bel setiap rumah yang ia lewati, mendekati siapa yang terlihat oleh matanya yang tidak memiliki bola mata seperti manusia.

Hampir saja bokong itu merasakan empuk-nya sofa jika saja suara bel tidak menghentikan pergerakan-nya. Sasuke berdiri dengan wajah kesal. Iapun berjalan kearah pintu depan yang syukurnya masih berdekatan dengan ruang tamu, tempat ia menonton tadi.

Orang gila mana yang bertamu tengah malam seperti ini. Pemuda itu hanya menggeleng dan menghidupkan lampu ruang tamu menggunakan sakelar yang ada di dinding. Secara serentak tiga bola lampu yang berukuran besar menyala.

Ritme suara bel itu semakin cepat, begitu juga dengan Sasuke yang mempercepat langkahnya sembari terus menggerutu. Ada rasa yang tak dapat dijabarkan sebenarnya, seperti ada sedikit perasaan yang mengganjal. Namun, pemuda itu menepisnya dan perlahan mendekati pintu besar bercat coklat tua itu.

Hujan semakin lebat, begitupula dengan petir yang menyambar. Perlahan Sasuke memegang gagang pintu itu dan menariknya, tiba-tiba saja suara petir datang dengan kilatan tajamnya yang membuat Sasuke terkejut bukan kepalang. Apalagi adanya seorang perempuan di hadapannya yang terlihat basah kuyup. Rambut pink itu, tidak salah lagi.

"Sakura?!" Pemuda itu sedikit histeris dengan kekasihnya yang baru beberapa hari dipacarinya. Sangat basah, bahkan gadis itu hanya memakai tanktop dan celana tidur.

Rasanya Sasuke ingin sekali memarahi gadis dihadapannya yang sedang mendongak sambil memeluk dirinya sendiri. Tapi, mengingat diluar sangat dingin dan terlihat sangat kalau gadis mungil ini menggigil, Sasuke mengurungkan niatnya.

"Ayo masuk." Dengan pandangan yang mulai melembut, Sasuke menarik sebelah pergelangan tangan Sakura yang terasa dingin.

Mereka berjalan memasuki ruangan rumah yang sederhana namun elegan.

Sekarang rumah minimalis itu benar-benar terang karena Sasuke menghidupkan hampir semua lampu, kecuali dibagian dapur. Lantas ia mematikan televisi yang sekarang menampilkan layar hitam dengan tulisan selesai. Ia menghela nafas sembari menaruh remote televisi di tempat semestinya.

Pemuda itu berbalik, berjalan menghampiri kekasihnya yang masih berdiri tengah memeluk sesuatu. Sekilas ia melirik kearah dinding, tepatnya kepada jam dinding bulat besar yang menampilkan waktu setengah sebelas malam. Ya ampun, ia tidak tahu apa yang dipikirkan Sakura sekarang, apa gadis itu mengigau.

"Sakura kau-"

"Ini gakuran milik Sasuke-kun." Dengan cepat Sakura menyodorkan seragam berwarna hitam yang sedikit basah itu ketika Sasuke menghentikan langkahnya tepat satu meter dari Sakura.

Pemuda itu terdiam, menatap lekat-lekat seragam yang baru lusa kemarin ia pinjam' kan ketika mereka pulang kehujanan. Sekarang memang memasuki musim penghujan, yang berarti peralihan antara musim semi ke musim panas. Ia beralih menatap Sakura, seketika rona samar kemerahan muncul di kedua pipi pemuda itu. Terlihat jelas tanktop gadis yang basah kuyup itu mencetak lekuk tubuhnya. Bahkan tonjolan kedua puting itu begitu menantang. Ini benar-benar gila. Apa Sakura tidur tidak memakai bra.

"Hanya ini? Kenapa harus tengah malam?" Sasuke berucap dengan nafas yang sedikit tersengal, sepertinya adiknya yang ada dibawah terasa sakit entah kenapa.

"Tadi aku menelpon tapi tidak diangkat. Dan kau tahu, rumah kita tidak begitu jauh, hanya berbeda blok saja. Itupun tidak sampai satu kilometer." Gadis itu berucap dengan wajah polos, tidak tahu bahwa pemuda dihadapannya tengah menahan sesuatu hasrat yang bisa saja lepas kendali.

"Tapi diluar hujan, besok juga hari minggu." Dengan tangan yang gemetar Sasuke menutupi selangkangnya yang dibalut boxer tipis selutut tanpa sepengetahuan si gadis, lebih tepatnya mengelus-elus benda yang mulai mengeras itu secara perlahan. Rasanya sangat berkedut-kedua dibawah sana.

Gadis itu menggeleng, membuat beberapa tetes air berjatuhan, tidak ketinggalan dadanya yang sedang juga ikut bergoyang. "Besok siang aku berkunjung kerumah nenek." Gadis itu kembali memeluk dirinya setelah pemuda emo itu mengambil gakuran miliknya.

"A-a. Tunggu sebentar." Dengan gesit dan cepat, Sasuke berbalik dan berjalan dengan langkah terburu-buru menuju tangga yang menghubungkan dengan kamarnya.

Sakura hanya menghela nafas dengan wajah kelelahan. Padahal disaat ia mau berangkat kerumah Sasuke cuacanya baik-baik saja, tidak juga terlalu dingin dan mendung. Dan sialnya, saat ia sudah sampai setengah perjalanan, tepatnya hampir menuju rumah Sasuke, tiba-tiba saja hujan turun dengan deras. Ia ingin kembali ke rumahnya. Namun, mengingat rumahnya lebih jauh lagi, Sakura segera berlari secepat mungkin menuju rumah sang kekasih.

Rasanya sangat dingin. Ia benar-benar tidak tahan lagi. Ia membutuhkan kehangatan. Seluruh tubuhnya basah, begitupula dengan celana dalamnya. Sudah beberapa menit berlalu setelah Sasuke pergi, Sakura mendudukkan dirinya diatas sofa putih nan elegan itu. Mungkin sofa itu sudah pasti basah oleh tubuhnya. Tapi, gadis itu tidak terlalu memperdulikan, ia lebih memilih menghangatkan dirinya sendiri.

Suara derap kaki dari belakang samar-samar terdengar beriringan dengan suara hujan, semakin peka oleh indra pendengaran Sakura. Ya, siapa lagi kalau bukan kekasihnya Si pemilik rumah, Sasuke. Pemuda itu berdiri dihadapan Sakura dengan wajah yang tak bisa didefinisikan, terlihat di tangannya sebuah handuk putih nan hangat.

Pemuda itu duduk disamping Sakura, ingin menyodorkan benda berkain tebal itu jika saja Sakura tak memeluknya secara tiba-tiba. Sangat erat, sampai-sampai ia bisa merasakan benda kenyal itu menempel ketat di dadanya. Sekarang nafasnya benar-benar memberat, entah mengapa rasanya tangan ini sangat ingin memegang benda kenyal itu.

"Sasuke-kun, dingin..." Sakura bergumam pelan, ia menutup matanya dengan kepala yang menyender di bahu tegap Sasuke. Sepertinya gadis ini mulai demam.

Sasuke melepaskan pelukan intim mereka secara tak rela. Bagaimanapun juga ia pemuda normal, apalagi usianya masih diambang masa labil, jika terlalu dirasakan bisa-bisa ia kelepasan. "Pakai ini saja," segera pemuda beriris hitam kelam itu memberikan handuk yang sedari tadi ada ditangan kanannya.

Dengan mata yang sayu, Sakura meraih handuk itu. Pertama-tama diusapkan mulai dari rambut, hingga akhirnya setengah tubuh mungil itu terbalutkan kain hangat dan nyaman, membuat badan itu menjadi sedikit relaks.

Sedangkan sang pemuda masih setia berada disamping, dengan atensi mata yang terus menatap tak berkedip liang kenikmatan milik seorang gadis yang begitu jelas tercetak di celana tipis panjangnya. Sungguh, sepertinya otak mesum Naruto merasuki pikirannya. Berani sumpah, Sasuke tidak tahu cara untuk meniduri sang adik yang sekarang meminta untuk keluar.

Sakura menatap bingung wajah rupawan itu terlihat seperti menahan sesuatu, sedikit dengan warna kemerahan tipis. Kesadarannya sudah mulai pulih, kelopak mata yang dihiasi bulu mata lentik itu sepenuhnya terbuka. Netra indah itu tidak sengaja berpapasan dengan tonjolan besar yang ada diantar selangkangan yang tertutup boxer warna putih. Air muka gadis manis itu berubah penasaran, sementara yang menjadi objek langsung menutupi benda masa depannya.

"Sasuke-kun, apa itu?" Tanya gadis softpink itu, semakin mendekat ke tubuh pemuda yang kini juga menjauh hingga menyentuh sandaran sofa.

Handuk yang tadi membalut tubuh mungil Si gadis, kini terjatuh hingga ke lantai, otomatis membuat tubuhnya yang dilapisi kain tipis itu terlihat jelas di mata tajam milik si empunya. Apalagi belahan dada yang begitu nampak jelas ketika Sakura mengapit-nya menggunakan kedua belah lengannya. Kalau boleh dibilang, sekarang kejantanan milik pemuda itu sudah siap untuk bertempur.

"Sakura jangan!"

Terlambat. Sasuke tidak dapat menahan tangan mungil itu, yang dengan mudahnya meloroti celana boxer putih itu hingga sampai lutut. Sekarang benda keras itu hanya tertutup celana dalam berwarna hijau tua. Tonjolan itu semakin terlihat, membuat tangan Sakura gatal ingin memegang dan melihatnya. Tidak ada yang tergambar diwajah manisnya selain kepolosan dan rasa ingin tahu.

"Sahh..." Sasuke menutup mulutnya menggunakan sebelah tangan, rasa nikmat yang tidak bisa dijabarkan membuatnya menutup mata serapat mungkin.

Entah mengapa sekarang semua darahnya mengalir ke satu titik disekitar selangkang-nya. Sakura begitu intens mengelus Sasuke kecil, mata emerald-nya begitu berbinar. Sedangkan Sasuke hanya bisa merasakan kenikmatan yang baru kali ini dirasa, tubuhnya menyeder di sandaran sofa dengan tangan yang masih membekap mulut sendiri.

Ah, begini lebih baik. Rasanya sekarang adiknya bebas dari sangkar, tidak merasakan lagi ketatnya celana dalam yang membuat benda kesayangannya terasa ngilu. Kejantanannya terasa dingin, tiba-tiba Sasuke tersentak dengan kelopak mata yang terbuka lebar. Berarti...

"Be-besar sekali..." Gadis itu ternyata sudah menanggalkan celana dalam Sasuke hingga ke lutut, sama seperti celana boxer tadi.

Dan benar saja. Kejantanan berukuran diatas rata-rata anak remaja itu mengacung keatas dengan gagahnya, yang ujungnya berwarna kemerahan. Mata yang menyiratkan kepolosan itu berkilat girang, sepertinya suhu tubuhnya sekarang tidak diacuhkan lagi. Perlahan tangan putih itu meraba dengan pasti benda yang keras hampir seperti batu itu, menggenggam-nya dengan satu tangan.

"Ahn!" Satu desahan meluncur begitu saja di bibir Sasuke yang sekarang memegang kedua pundak Sakura.

Seperti insting dari diri sendiri, gadis manis itu menggerakan tangannya dengan ritme lambat dari ujung hingga ke pangkal mengenai dua benda bulat seperti telur kecil itu, terus begitu hingga cairan putih pelumas terlihat dari tempat keluarnya kemih.

"Jadi, ini milik lelaki? Pantas saja nilai biologi reproduksi ku rendah. Aku tak pernah melihatnya." Dengan wajah cemberut Sakura menyentuh cairan putih yang ada diujung benda panjang nan berotot itu menggunakan jari telunjuknya. Terlihat lengket, namun karena naluri tersendiri, Sakura menjilat cairan yang ada di jarinya itu dengan gerakan sensual-di mata Sasuke yang kini tengah memegang kedua pinggan sang gadis.

"Sakh!"

Kembali pemuda itu mengerang rendah ketika lidah lembut itu berputar-putar dengan gaya amatir di area sensitive milik para lelaki. Posisinya kini mengangkangi tubuh Sakura yang terlihat berlutut setengah menungging. Wajah rupawan itu menyiratkan kenikmatan yang sangatlah lebih.

"Masukkan, Sakurahh..." Dengan wajah yang sedari tadi sudah memerah, Sasuke mendorong kepala Sakura hingga gadis itu hampir tersedak. Bagaimana tidak, kejantanan itu hanya muat seperempat di mulut mungilnya.

Gadis itu sendiripun tak tahu kenapa. Hanya saja, terasa basah dan berkedut-kedut dibawah sana. Ia ingin liang miliknya disentuh, apalagi jika menggunakan tangan milik. kekasihnya. Ah, tidak. Setelah melihat keperkasaan milik Sasuke, ia ingin benda tumpul itu memasukinya, sangat ingin.

Memikirkan hal itu saja, membuat Sakura menggerakan kepalanya naik-turun dengan gerakan yang semakin cepat. Terkadang giginya mengenai kejantanan Sasuke, namun gadis itu cukup pintar untuk tidak mengulanginya karena merasakan kalau Sasuke juga meringis kesakitan. Sebagai gantinya, dengan mulut yang masih mengulum benda keras itu, sesekali ia menjilat atau menyedot dengan kuat ujungnya yang membuat Sasuke kembali memdesah nikmat.

"Ahn..ahn!" Seolah bagai melodi tak kasatmata, suara seksi milik Sasuke membuat Sakura bersemangat. Kali ini tangannya juga ikut andil mengocok kejantanan Sasuke dengan mulut yang masih aktif mengulum ujung puncaknya.

Selang beberapa menit kemudian, pemuda itu mendesah' kan nama Sakura dengan nyaring, menandakan ia telah klimaks dengan cairan yang menyembur memenuhi mulut mungil Sakura hingga menetes keluar. Untunglah hujan masih deras, bisa mengalihkan suara desahan Sasuke.

Sakura menelan semua cairan sperma Sasuke tanpa ada rasa jijik. Menjilati telapak tangannya yang dipenuhi cairan berwarna putih pekat dan lengket. Agak pahit sebenarnya.

"Wah... burungnya sudah layu, ya?" Gadis polos itu menatap bosan dengan milik Sasuke yang sudah tidak aktif lagi.

Sasuke yang melihat hanya bisa mengatur nafas kembali seperti semula. Ia sepertinya kesal dengan apa yang kekasih merah jambu-nya lakukan. Alih-alih memasang celana dan celana dalamnya, Sasuke kini menanggalkan-nya hingga tubuh bagian bawahnya tak tersisa apapun. Ia mendekati Sakura yang kini balik menatap polos dirinya. Sejurus kemudian, tubuh mungil itu sudah berada dibawah, dengan tubuh tegap yang menindihnya diatas. Sempat berteriak, namun Sakura tidak berontak.

"Sasuke-kun, apahmm!" Perkataan gadis itu terputus ketika benda kenyal dan basah membungkam mulutnya. Apalagi kedua bukit kembarnya tengah digerai dengan tangan besar yang kini meremas dengan lembut.

Desahannya tertahan dengan lidah Sasuke yang bertarung didalam mulut Sakura. Entah dengan cara apa, sekarang tanktop yang ia pakai sudah tersingkap diatas dada yang sedang namun berisi.

Mungkin karena Sasuke sedari tadi ingin menjamah dan merasa bagaimana kedua bukit kembar milik Sakura, ia langsung menurunkan kepalanya tepat diantara kedua belahan dada milik kekasihnya. Mengecup beberapa kali permukaan daging lembut itu dan mengulum puncaknya yang menantang berwarna cokelat kemerahan.

"Sasuke-kunh... geli." Sakura sedikit tertawa, nyaris seperti desahan. Ia mengelus rambut mencuat kekasihnya yang sedang menyusu dikedua buah dadanya secara bergantian.

"Ahn.. jangan terlalu kencang." Kali ini Sakura mengacak dengan kasar rambut Sasuke, menekan dengan kencang hingga kepala pemuda itu tenggelam diatas puting yang di kulum-nya.

Merasa kurang, kali ini tangan kiri Sasuke memelintir dan sesekali menekan puting keras yang belum terjamah itu. Sebelah tangan kanannya yang sedari tadi menganggur, kini mulai aktif mengelus permukaan perut rata milik Sakura. Sementara mulut dan tangan kirinya masih memanjakan kedua daging kenyal itu, Perlahan menelusuri pinggul itu, hingga dengan cekatan menurunkan celana tidur milik Sakura.

Jari-jari besar Sasuke mengelus dengan gerakan lembut permukaan organ intim yang masih tertutup celana dalam itu, sesekali jari telunjuknya menekan sesuatu yang menonjol hingga membuat Sakura tanpa sadar mendesah. Sangat basah. Pemuda itupun menurunkan celana dalam milik Sakura, hingga terasa bulu-bulu halus mengenai tangannya.

"Ughh, Sasukehh-kunh..." Sakura menutup matanya dengan mulut yang setengah terbuka ketika jari besar itu berputar disekitar lorong-nya.

Sasuke menarik puting Sakura menggunakan mulutnya hingga terdengar bunyi sensual. Ia bangkit, duduk diantara kedua sisi kaki Sakura yang mengangkangi-nya. Segera pemuda itu menanggalkan semua pakaian Sakura hingga tak tersisa sedikit kain pun.

Begitu indah, Sasuke tidak dapat menahan hasratnya lagi ketika menatap mata indah itu terlihat sayu, pipi yang merona memerah dengan bibir yang berisi. Perlahan wajah pemuda emo itu mendekati wajah ayu sang gadis, mengulum bibir yang sekarang mulai membengkak dan bertarung lidah bersama.

Berbekal ilmu menonton video panas dewasa milik Naruto, pemuda rupawan itu mencoba mengikuti. Jari tengahnya mencoba untuk memasuki lubang panas itu. Agak sulit memang, mengingat ia yang pertamakali menjamah organ nikmat itu. Dengan bibir dan lidah yang semakin panas melakukan aksinya, lewat sekali tusukan jari tengah Sasuke sepenuhnya masuk.

"Ahhhhh!" Sakura mengerang keras didalam mulut Sasuke. Ia memeluk erat leher pemuda itu, mencoba menyalurkan rasa sakit di organ intim-nya.

"Ahn! Ahn! Sahhsuke-kunh..." sepertinya gadis itu mendapatkan kenikmatan-nya kembali. Terdengar jelas dari suara desahan yang berubah menjadi hasrat ketika Sasuke menggerakan jarinya dengan tempo sedang.

"Lebih cepath!" Sakura melepaskan ciuman antara mereka. Ia menutup matanya rapat-rapat dengan bibir yang terus meracau kenikmatan.

Tanpa disuruh dua kali pun Sasuke paham. Ia langsung menambahkan jari manisnya dan menggerakan kedua jarinya semakin cepat. Benar-benar hangat dan sempit. Rasanya kedua jarinya dicengkeram dan disedot kedalam, bagaimana seandainya jika benda yang ngilu ini dimasukkan. Jari-jari itu semakin cepat dan cepat, begitupula dengan suara desahan dari kekasih manisnya.

"Akuhh, akk.. Sasuhhhkehhh!" Gadis itu semakin erat memeluk pemuda-nya, nafasnya begitu menggebu-gebu. Dan cairan organisme Sakura keluar melumuri kedua jari Sasuke. Sekujur tubuh mungil itu langsung lemas ketika Sasuke menarik jarinya.

Pemuda beriris hitam pekat itu menatap penuh tanya cairan milik Sakura yang melumuri jarinya. Jujur saja, ia kadang bingung kepada pria yang sering ada di blue film dengan tanpa rasa jijik menjilat-nya. Akhirnya, tanpa berfikir panjang, Sasuke menjulur' kan lidahnya sedikit. Agak asin memang, tapi entah kenapa begitu nikmat. Ia terus menjilati dengan rakus-nya hingga tak tersisa.

Sasuke terdiam. Selangkang-nya masih terasa ngilu, apalagi kejantanannya kembali mengeras, mengacung kedepan minta dipuaskan.

"Sakura? Aku..." pemuda bungsu itu menatap Sakura dengan pandangan memohon.

Seperti mengerti maksud sang kekasih, Sakura mengangguk malu-malu. Sebenarnya gadis itu sedikit merasa iba melihat burung Sasuke kembali hidup, pasti nanti celana dalam Sasuke sempit dan tidak muat. Dengan gerakan perlahan, Sakura menggesek' kan permukaan organ intim-nya dengan benda keras nan panjang itu, hingga mereka mendesah bersamaan.

Pemuda itupun memegang kejantanannya dan mengarahkan di lorong hangat itu, "Aku masukkan." Kedua paha gadis itu terbuka lebar. Sebagai pemanasan, Sasuke menggesek kejantanannya di lubang kehangatan Sakura.

"Ini agak sakit, Sakura. Tapi, kalau tidak kuat jangan ditahan." Ujung dari kejantanan itu sudah masuk, hingga sudah seperempat didalam lorong, Sasuke merasakan suatu menghalangi jalannya.

Pemuda itu menarik pinggul-nya, matanya terpejam seiring dengan tarikan nafas yang kuat, ia kembali membuka mata dan menghembuskan nafas. "Aku mencintaimu." Dengan sekali hentakan yang kuat, seluruh kejantanan itu sudah masuk, Sakura berteriak didampingi hujan yang semakin deras.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto belongs Masashi Kishimoto

Story by Aisiya Scarlet

Au, Ooc(mungkin), miss-typo, dan lain sebagainya.

Enjoy

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tas ransel hitam, jaket baseball hitam dengan dalaman putih polos, serta celana training. Sepertinya pemuda yang satu ini sudah sangat siap. Ia tersenyum tipis dengan kedua tangan memegang erat tas ransel yang terlihat sangat penuh entah apa isinya.

Ya, Sasuke. Di hari minggu yang cerah ini, ia terlihat senang. Berjalan disebuah gang perumahan elite, ia menengadah' kan kepalanya, menatap mentari yang sepertinya bersimpati kepada dirinya. Kaki besar itu melangkah kembali dengan jarak lebar dan bertempo cepat.

Mutiara hitam itu berbinar dengan kedua sudut bibir yang berkedut tipis. Matanya tertuju kepada rumah bertingkat dua bercat putih porselin dengan pintu coklat tua. Kakinya dipercepat, memasuki area pekarangan rumah itu. Ia bersyukur pagar-nya tidak dikunci.

Mengela nafas sejenak ketika sudah sampai didepan pintu, pemuda berkulit putih itu menekan bel rumah yang ada disamping pintu. Beberapa kali jari telunjuk itu bergulat, hingga suara memekik dari dalam menghentikan pergerakan jarinya. Seperti suara ibu Sakura, ia sempat berpapasan beberapa kali ketika dijalan. Ya, ia berencana menjenguk Sakura, lebih tepatnya menemui gadis itu.

Dan, benar sekali. Pintu itupun terbuka, menampakan wanita berambut pendek dengan kerutan dikedua sisi bibirnya, tengah memakai apron putih yang sedikit bernoda minyak dan saos. Wajahnya hampir mirip seperti kekasihnya, Sakura. Sepertinya, wanita yang ada dihadapannya ini tengah berkutat di dapur, terlihat tangan kanannya memegang sendok wajan.

"Selamat pagi," pemuda bertubuh tinggi itu sedikit membungkuk. "Aku mencari Sakura, kami memiliki tugas kelompok." Bukan datar, tapi polos. Ia berkata dengan nada biasa, namun masih tersirat kesopanan.

Wanita bermarga Haruno itu tersenyum lembut, senyum seorang ibu pada halnya. Ia membuka pintu itu lebih lebar, sedikit mundur memberi jalan masuk untuk Sasuke. "Sakura ada dikamar lantai dua."

Sasuke mengangguk paham, melangkah masuk kedalam mengekori calon mertua. Sebelumnya, ia mengganti sepatunya dengan sendal rumahan yang sudah tersedia. Pemuda itu mengikuti langkah wanita yang adalah ibu Sakura, Mebuki Haruno. Sepertinya wanita beranak satu ini menggerutu kepada anak semata wayangnya sendiri. Samar-samar terdengar suaranya yang kadang-kadang membawa nama gadis itu.

"Kau tahu, anak itu sakit, tapi tidak mau pergi ke rumahsakit." Wanita itu menghela nafas, langkahnya terhenti didepan tangga yang menghubungkan ke lantai dua. "Kau bisa melihat nama Sakura di pintu. Ah, iya. Aku rasa soup ku sudah mendidih."

Sekali lagi, Sasuke mengangguk.

Ia tahu betul dan yakin alasan Sakura yang sebenarnya enggan untuk menginjakkan kaki di rumahsakit, walaupun sebenarnya itu hanya spekulasi dari pemikirannya saja. Wanita muda itu menjaga rahasia kehamilannya. Itu fakta.

Didalam pikiran pemuda ini sekarang hanya ada anaknya dan ibu Si jabang bayi. Ia terus berdoa agar janin yang ada di perut Sakura baik-baik saja. Pemuda itu melangkahkan kembali kakinya menaiki tangga, ketika ibu Sakura sudah menghilang dibalik pintu berwarna putih.

Hal yang pertamakali terjamah oleh manik hitam pemuda itu adalah mentari pagi yang menembus beberapa kaca jendela yang hampir berukuran setengah dari tubuh orang dewasa. Tembok itu dicat warna biru diatas dan putih dibawah, dinding beton itu dihiasi dengan foto-foto keluarga besar Haruno.

Langkah kaki berotot itu tiba-tiba berhenti. Tatapan matanya tertuju pada sebuah figuran yang lumayan besar. Seorang pemuda remaja yang tengah memeluk gadis kecil berambut merah jambu sebahu. Tentu, pemuda itu sangat familiar dengan bocah yang diperkirakan masih berusia rata-rata anak sekolah dasar itu. Siapa lagi orang yang memiliki rambut pink pucat selain gadis itu. Ya, Sakura.

Hanya saja, ia tidak pernah nampak pemuda remaja yang terpampang di foto itu selama hidupnya mengenal Sakura. Saudara gadis itu, mungkin? Sepertinya tidak, mengingat gadis itu anak satu-satunya dari Kizashi dan Mebuki.

Tangan kekar itu terulur meraba permukaan kaca datar yang pinggiran-nya dihiasi warna kuning keemasan bercorak bunga abstrak. Terlihat dua orang itu sangat bahagia dengan bibir yang mengembang lebar keatas. Pemuda yang sedang berdiri menghadap figuran itu terdiam dengan tatapan biasa, tanpa ekspresi.

Ia segera menarik tangannya. Tujuannya sekarang bukanlah melihat isi dari rumah Sakura, atau apalah itu yang membuat ia semakin memperlambat waktu. Tetapi, misinya adalah menemui gadis itu dan memaparkan hal yang sebenarnya. Hal opini yang membuat hubungan keduanya diambang antara perpisahan.

Di lorong rumah yang memiliki lebar empat meter itu terpampang tiga pintu yang memiliki warna tersendiri. Dua pintu disebelah kanan putih dan kuning pucat, satu pintu dengan warna marun di kiri. Seperti mencari sebuah pintu di masa depan, pemuda itu terkekeh pelan.

Tanpa harus meneliti satu-persatu, ia tahu kamar gadis itu dimana. Pintu yang paling banyak tempelan stiker tokoh-tokoh anime. Pemuda itu tersenyum tipis melihat gantungan nama yang dibawahnya bertuliskan tanggal lahir, ditulis dengan pahatan kayu yang memang sudah disempurnakan bentuknya. Tanpa mengetuk pintu terdahulu, tangan putih itu langsung memegang knop pintu.

.

~OoO~

.

Menatap diri sendiri dari pantulan kaca cermin. Ia merengut memegangi perutnya yang terekspos terlihat sedikit membuncit. Tanktop putihnya ia naikkan hingga bawah dada. Terlihat dari rambut pink-nya yang basah, gadis itu baru saja membersihkan diri. Namun, jika ditelusuri secara telit, wajahnya terlihat pucat dengan kelopak mata yang agak membengkak.

Masih menggunakan celana hotpans yang bahkan terlihat hampir mirip bentuknya dengan celana dalam, gadis itu membalut bagian perutnya menggunakan korslet dengan sangat ketat. Ia mengusap sebentar perutnya yang sekarang kembali rata karena korslet hitam itu, sebelum membenahi tanktop-nya seperti semula.

Dengan aura malas, gadis pink itu berjalan menuju lemari berbentuk persegi panjang bergambarkan bunga ciri khas dirinya. Sedikit mengobrak-abrik sesuatu yang ada didalamnya, ia mengambil sebuah semprotan pembasmi nyamuk berwarna hijau. Entah apa yang akan dilakukan gadis itu, ia mengangkat tinggi-tinggi tangan kirinya yang memegang botol panjang itu.

Suara pintu kamar yang berdecit beradu dengan lantai kamar, membuat sang gadis segera menolehkan kepala dengan posisi yang masih sama. Ia terbelalak ketika seseorang yang membuka pintu itu berlari ke arahnya.

"Sakura, apa yang kau lakukan?!"

Tangan kekar itu segera menepis pergelangan mungil itu. Hingga sedikit menimbulkan bunyi benda jatuh yang di timbulkan dari benda berwarna hijau yang terbuat aluminium.

Untuk sementara keadaan hening. Gadis itu dengan wajah terkejutnya menatap sosok yang selama dua hari belakang ini dirindukan-nya. Ya, gadis itu Sakura.

Sedangkan pemuda bertubuh tegap itu tersenyum lembut. Senyum yang memiliki arti ambigu. Ia Sasuke. Seribu macam perkataan yang sudah ia persiapkan, entah sudah kemana larinya. Rasanya bibirnya kaku untuk bergerak. Wajah itu. Wajah yang sudah dua hari tak nampak di mata. Wajah yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Begitu rapuh dan pucat.

Dengan segenap rasa kerinduan dan bersalah. Tubuh yang lebih besar itu langsung merengkuh tubuh mungil yang terlihat terluka. Begitu erat hingga tubuh yang ada didalam dekapan itu hampir tenggelam. Tidak ada pergerakan lain selain itu, keduanya sama-sama terdiam dalam keheningan. Tidak lama setelah itu, terdengar suara isak pilu, yang makin lama semakin terdengar.

"Bodoh!" Dalam tangisnya, ia sempatkan untuk memukul dada itu.

Satu kata lima huruf. Satu kata yang mewakilkan beribu-ribu kata celaan yang sedari kemarin ingin dilontarkan. Ia ingin sekali mencaci maki pemuda berengsek yang dengan kurang ajar memeluknya seperti sekarang, menyumpahi dengan perkataan tak seronok. Namun, semua itu tercekat diujung lidahnya, hanya tangis yang bisa menjabarkan bagaimana perasaan lukanya.

Ia ingin lepas dari sosok itu, sosok ayah kandung dari anaknya di masa depan. Tetapi, perasaan dan keinginannya begitu bertolak belakang. Pelukan ini begitu damai, menghangatkan, terasa nyaman. Ia ingin melupakan sejenak beban yang dipikir, walaupun hanya sekejap tak selamanya.

Kepala dengan mahkota merah muda itu mendongak keatas, menatap pemuda yang juga membalas tatapan-nya. Sakura terkesip, bibirnya yang mungil terkatup rapat dengan airmata yang terus meleleh. Dua pasang mata berbeda warna, beradu dalam tatapan intens.

Perlahan sebelah tangan yang tadinya melilit di perut Si gadis, kini beralih kepermukaan wajah yang hampir setiap malam di mimpikan. Mengusap cairan yang terus keluar tanpa disuruh dengan gerakan penuh kasih sayang.

"Untuk apa kau kesini?" Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Sakura. Cengkeraman kepada kain warna putih itu semakin erat, bulir-bulir airmata yang sempat tersendat kembali mengalir bagai sebuah perosotan meluncur dari kelopak mata.

Sekuat apapun dirinya, ia bisa menangis. Hal yang wajar bagi manusia biasa seperti dirinya yang hanyalah seorang gadis remaja. Mungkin, jika gadis yang juga sebaya sepertinya akan melakukan hal yang sama, mencurahkan perasaan dan beban dalam sebuah tangisan. Bahkan jika mereka ada di posisinya sekarang, mungkin para gadis lain akan menggugurkan darah dagingnya sendiri. Hal yang hanya menguntungkan sepihak.

"Aku pulang." Dengan suara baritone yang terkesan lembut, ia kembali mempererat pelukan hangatnya. Tangisan gadis itu semakin pecah. .

~OoO~

.

Berkali-kali Sakura menghela nafas, mencoba memecahkan keheningan yang beberapa detik menyerang. Pemuda itu telah menceritakan semuanya. Hal-hal yang membuat dirinya merasa dibuang bagai sebuah sampah. Meski begitu, ia tidak sepenuhnya percaya.

"Kalau kau tidak melakukannya, kenapa tidak mengejar ku waktu itu?" Wajah itu terlihat sendu, kepalanya menunduk kebawah dengan beberapa helai rambut yang menjuntai menutupi parasnya.

Perlahan kepalanya kembali mendongak ketika jari-jari besar itu menarik dagu-nya. "Aku mengejar mu. Kau lihat ini?" Sasuke memajukan sedikit wajahnya, memperlihatkan lebam disekitar area kelopak matanya yang terlihat samar-samar.

Gadis itu terpaku ditempat. Matanya sedikit melebar dengan raut kekhawatiran. Tangan putihnya dengan refleks meraba permukaan kulit kemerahan di sebagian kelopak mata. Pemuda itu meringis. Sedikit menjauhkan wajahnya, memberi peringatan dengan raut wajah kecut merasakan sedikit denyutan.

"Maaf," berucap pelan, Sakura menarik tangannya kembali, memangku kedua tangannya diatas paha. Kembali menatap lantai kamar.

Sekarang mereka duduk dengan kaki menjuntai dipinggir ranjang, meski sebelumnya ada sedikit perdebatan menguras emosi. Akhirnya, dengan memaksa gadis itu untuk berfikir secara jernih, hatinya luluh juga.

Sesaat setelah mendudukkan diri diatas ranjang, barulah Sasuke menceritakan semuanya. Ya, walaupun itu, ia harus mengucapkan banyak kalimat, membuat hari ini adalah rekor terbanyak mulutnya bersuara. Baru pertamakali tenggorokan-nya kering, hanya untuk membuat gadis itu kembali mempercayainya.

Mata jelaga itu tidak pernah lepas dari tubuh yang dibalut pakaian minim. Tanpa sengaja, ia melihat semprotan nyamuk yang masih pada tempatnya pertamakali jatuh. Pemikiran melenceng membuat pemuda itu kembali menatap gadis yang telah menjadi wanita dengan tatapan tajam.

"Apa kau berniat bunuh diri?" Suara khas remaja menuju kedewasaan itu terdengar mengintropeksi.

Kepala yang sedari tadi menunduk, kini kembali mendongak. Menatap wajah tegas yang menjulang dihadapannya dengan raut tak mengerti. Antara bingung, polos, tanpa celah membaur menjadi satu. Apa maksud dari kalimat yang dua katanya terasa ambigu. Bunuh diri? Lelucon darimana itu. Hei, Sakura masih ingin hidup dan membesarkan anaknya.

Lama gadis itu terdiam. Mencerna kalimat tanya yang dilontarkan pemuda dihadapannya. Saling bertukar pandang, menunggu suara yang diucapkan. Seperkian detik kemudian, arah pandang jelaga hitam pemuda itu beralih, membuat Sakura juga mengikuti lirikan mata dari Sasuke.

Tepat kepada benda berwarna hijau, yang tergeletak begitu saja diatas lantai dua meter dari ranjang. Sepertinya otak gadis itu baru saja bekerja. Ia mengangguk-angguk tanpa mengeluarkan suara. Tatapan permata hijau itu beralih kembali kesatu objek manusia dihadapannya.

"Kau tahu, disini banyak nyamuk." Bibirnya agak mengerucut kedepan. Mood-nya sekarang mulai membaik, ah, atau memang mudah berubah-ubah.

Secara telak pemuda itu bungkam. Berniat untuk memberikan nasihat, agar supaya ia bisa menjadi seorang ayah yang baik nantinya, sepertinya mungkin ialah yang harus diberikan petuah agar tidak selalu berfikir yang bukan-bukan. Ia jadi memikirkan bagaimana perasaan dan pikiran wanita dihadapannya ketika melihat seperti apa dirinya lusa kemarin, bersama Karin.

Sasuke jadi sedikit meringis, menggaruk tengkuknya, mengurangi rasa canggung yang datang tiba-tiba. "Jadi, apa kau memaafkan ku?"

Beberapa lama menunggu, Sakura masih diam. Sebenarnya kejadian beberapa hari lalu bukanlah murni dari kesalahan Sasuke. Tapi, ayolah, bisakah pemuda itu mengatakan satu kali saja kata maaf. Itu hanyalah satu kata, daripada berpuluh-puluh kata yang beberapa menit lalu dilontarkan Sasuke.

Mungkin, karena sudah tahu tabiat dari Sasuke. Akhirnya, dengan hati yang mulai membaik, ia mengangguk beberapa kali sebagai jawaban. Jangan berfikir konyol jika Sasuke akan memekik kegirangan. Itu adalah sifat Sakura. Pemuda itu hanya menghela nafas lega dengan senyum menawan.

Tidak selang beberapa saat kemudian, Sasuke merapatkan tubuhnya pada tubuh mungil itu. Dengan cepat bagai kilat, kepalanya segera menyusup kepermukaan perut Sakura. Lebih tepatnya, telinga pemuda itu mencoba mencari getaran yang ada, memastikan masih ada kehidupan disana.

Sebelah tangan pemuda itu terkadang mengelus dengan ritme lambat terkesan lembut perut yang terlihat masih sama dari terakhir bertemu. Sakura yang terkesip, tidak dapat berucap. "Apa dia masih hidup?"

Pandangan mata itu langsung tajam. Kalimat itu langsung membuat hati Sakura hancur. Apa Sasuke masih berencana untuk menggugurkan anaknya sendiri? Persetan jika itu memang benar. Ia tidak bisa menampik kalau cinta kepada buah hatinya lebih besar. Sangat besar, karena ia baru tersadar bagaimana pengorbanan yang sebenarnya seorang ibu. Dan satu hal lagi, ia bukanlah seorang pembunuh dan sampai kapanpun tidak akan membunuh anaknya sendiri.

Bahkan, kalaupun ia nanti akan membunuh anaknya. Mungkin dirinya tidak lebih baik dari seorang pembunuh. Beringas dan kejamnya pembunuh, ia tidak sampai hati membunuh darah daging hasil dari dirinya sendiri.

Sakura segera menjauh, memundurkan dirinya ke tengah ranjang hingga kakinya tidak lagi menjuntai.

Kepala berambut mencuat yang tadi masih nyaman menempel dipermukaan perut, sedikit kehilangan keseimbangan namun dengan cepat segera diatasi. Sasuke bingung sekaligus terkejut, kembali duduk dipinggiran ranjang dengan masih menatap wajah Sakura yang sepertinya ketakutan.

Wanita yang masih berusia gadis itu memeluk perutnya sendiri dengan kedua lengan, mencoba memberi peringatan agar orang yang dihadapannya ini tak menyentuhnya.

"Kalau kau tak menganggapnya, aku bisa mengurusnya seorang diri. Tapi, kumohon nanti jangan ganggu kehidupan ku lagi. Biarlah aku bersamanya, pergi ketempat dimana orang-orang tak saling mengenal." Perlahan namun pasti, mata yang sudah bengkak itu kembali memerah, dengan memproduksi cairan yang meluncur tanpa diminta.

Ia meringkuk memeluk kedua lututnya, memeluk tubuhnya sendiri dari hidup dalam realita yang menghancurkan masa depannya. Jika bisa mengendalikan waktu, ia tak pernah ingin mengenal pemuda itu, berada dalam masalah besar seperti ini yang menitikberatkan ia sebagai tokoh yang terpedaya.

Sasuke tersenyum. Gadis itu tidak salah lihat. Sasuke tersenyum ketika ia dalam kondisi terpuruk seperti ini. Heh, lucu sekali. Sebagai seorang lelaki, tentulah Sasuke tidak memiliki bekas apapun. Bahkan jika pemuda itu melakukan hal intim berkali-kali.

Lain halnya dengan perempuan. Sekali ia melakukannya, saat itupula-lah semuanya rusak hingga membekas. Ibaratkan sebuah kain. Ketika sudah sobek, benda itu tak akan kembali mulus seperti semula, walau telah di jahit dengan benang apapun. Bekasnya pasti ada. Tak bisa disembunyikan. Kalimat yang membuat Sakura tersadar, betapa menyedihkan dirinya. Jika tahu begini, ia tak akan pernah mau melakukannya.

Sakura kembali menangis sesenggukan. Menenggelamkan kepalanya diantara kedua lutut. Menangis sejadi-jadinya tanpa harus malu karena wajah menyedihkan-nya tak terlihat. Ia mengecewakan kedua orangtuanya, terlebih untuk ayahnya yang masih di luar negeri bekerja demi mencari uang hanya untuk menyekolahkan dan memberi sesuap nasi.

Walaupun orang berfikir bekerja di perkantoran lebih mendapatkan hasil yang menggiurkan. Tetapi, apalah arti jika dibandingkan dengan keluarga. Tujuan untuk bekerja. Sakura teringat, sekarang genap satu bulan ayahnya mengurus sebuah proyek di Singapura. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan ayahnya jika tahu anak perempuan semata wayangnya menjadi seperti sekarang. Rusak.

Tak terasa tangisan itu berangsur-angsur mulai reda, ketika sebuah telapak tangan hangat dengan telaten mengelus puncak kepalanya secara lembut. Gadis itu tidak ingin mengubah posisi tubuhnya atau sekedar bergerak, ia sudah tahu siapa yang melakukan hal seperti ini. Hanya ada ia dan pemuda itu. Terlalu menyakitkan untuk menatap paras yang telah menghancurkan hati dan dirinya.

"Ketika kita memulainya, kita pula yang harus mengakhirinya. Aku, kau dan bayi kita. Yang nantinya akan menjadi sebuah keluarga."

Terlihat tubuh mungil itu menegang dalam tangisnya. Terlalu terkejut dengan apa yang didengar, tutur kalimat langsung dari bibir Sasuke yang membuatnya setengah tak percaya. Kali ini, kepala merah mudanya bangkit dari kedua lutut. Cahaya sinar mentari yang menembus kaca jendela kamar membias' kan wajahnya yang berlinang airmata. Tubuhnya masih bergetar dengan isak tangis yang lolos begitu saja, menatap penuh keraguan pemuda dihadapannya yang masih mempertahankan senyum lembutnya.

"Aku tahu, sebisa apapun kita menyembunyikannya, semua orang akan tahu. Maka dari itu, aku akan selalu ada disini, disisi mu. Aku, maksudku kita akan merawat bayi kita bersama. Jika nanti mereka tidak menyetujuinya, kita akan pergi bersama, membina keluarga kecil yang selalu kita impikan. Hanya aku, kau dan bayi kita." Tangan besarnya tak henti-henti mengusap wajah yang memerah itu, menghapus semua airmata kesakitan dan akan menggantinya dengan beribu-ribu pelangi.

Sakura tidak dapat menjabarkan bagaimana perasaannya sekarang. Pemuda itu tidak mudah ditebak jalan pikirnya. Kalimat yang membuat hatinya menjadi hangat, membuat dirinya merasa ia memang tak sendiri. Ada Sasuke. Pemuda yang kelak akan menjadi ayah dari anak yang dikandungnya.

Dengan segenap harapan yang menjadi satu. Kepercayaan yang kembali membuncah mengalahkan rasa kecewa, Sakura menerjang tubuh tegap itu. Ia menumpahkan semua apa yang dirasakan, yang sudah dipendam sendirian. Sekarang ada Sasuke di sisinya. Ia tidak sendirian lagi berada di jurang kegelapan.

Menangis. Ya, hanya untuk hari ini saja. Kerena besok, ia akan memulai hidup baru berdua dengan Sasuke. Bersama-sama menjaga benih yang telah tertanam. Mungkin ini karma untuk mereka, tetapi tidak untuk buah hati dan cinta mereka. Dia adalah anugrah. Bayi mereka adalah titipan yang Maha Kuasa. Sebuah cahaya pengiring dari ketakutan dalam gelap gulita.

Lama mereka saling memeluk. Membagi kehangatan, perasaan yang campur aduk menjadi sebuah emosi kerinduan. Hingga sekitar limabelas menit kemudian, Sasuke melemahkan eratan kedua lengannya ditubuh Sakura. Lantas membuat gadis itu bingung. Pemuda itu membuat sedikit jarak hingga tubuh mereka tidak lagi menempel.

"Ah, iya, ada sesuatu." Sasuke dengan sigap menarik tas ransel yang memang sejak pertamakali masuk menginjakkan kaki tetap setia bertengger dibelakang punggungnya.

Tangan kekar itu mengobrak-abrik isi dari tas yang terlihat penuh yang belum diketahui muatan apa didalamnya. Tidak sampai beberapa detik kemudian, Sasuke mengeluarkan bungkusan merah terisi penuh dengan buah-buahan berbagai macam. Bungkusan plastik itu terlihat basah dari luar dan terasa dingin.

"Aku membawakan buah. Makanan yang berserat akan bagus untukmu." Pemuda itu berkata dengan wajah tenang, sembari menyodorkan bungkusan merah dihadapan Sakura.

Sedikit ragu, tangan putih itu nyatanya terulur juga. Bungkusan plastik itu berpindah tangan. Sakura membuka bungkusan itu, mengintimidasi isi buah-buahan berbagai macam warna. Ada anggur, apel, jeruk, jambu dan lainnya. Gadis itu membeo. Yang dirasakannya, buah-buahan itu terlihat sangat segar. Seperti disimpan di kulkas.

"Sasuke-kun, ini...?" Sakura menggantungkan kalimatnya dengan wajah penuh tanda tanya. Tangan kanannya yang memegang buah merah itu terangkat setinggi kepala.

"Aku mengambilnya di kulkas." Ucap Sasuke kalem, tangannya kembali mengobrak isi tas hitam itu.

Mulut Sakura langsung menganga. Entah mungkin wajahnya sekonyol apa sekarang. Ia tidak tahu bagaimana tanggapan ibu Sasuke ketika melihat isi kulkas-nya sekarang. Ini berarti, antara pemuda itu yang polos atau memang ia terlalu nekad.

"Ini. Aku melihat kak Konan meminum susu merk seperti ini. Jadi, aku ambil saja. Kulihat untuk ibu hamil. Lagipula aku tidak tahu dimana ia membelinya."

Sebuah kotak persegi yang didominasi warna biru, bergambarkan seorang ibu hamil dengan perut yang membuncit. Susu rasa coklat, karena disitu terlihat gelas berisi air kecoklatan yang berada di sisi sang wanita bule.

Perlahan tangan Sakura yang tidak lagi memegang buah apel segar itu, mengambil kotak susu dari tangan Sasuke. Ia terkesip. Sebegitu berharganya kah dirinya dan anaknya? Gadis itu tersenyum menatap kotak yang ada di tangannya. Mungkin, bagi orang harga sekotak susu tidaklah ada apa-apanya. Tetapi, baginya sangatlah berharga. Salah satu hal kecil yang berakibat besar. Sekarang ia benar-benar percaya. Kepada Sasuke dan anaknya. Ya, anaknya pasti kuat menghadapi semuanya.

"Terimakasih, Sasuke-kun." Gadis itu tersenyum malu-malu dengan rona merah yang menyeruak disekitar wajah.

"Upahnya mana?" Sasuke memajukan wajahnya, jari telunjuk itu mengarah ke pipi, meminta agar bibir Sakura menempel dikedua pipinya.

"Sasuke-kun!" Sakura sedikit menjerit, tanpa sengaja memukul kepala Sasuke dengan kotak susu yang ada di tangannya.

"Hei, hati-hati dengan itu." Sasuke sedikit meringis mengusap keningnya yang memerah. Melihat wajah Sakura yang merasa bersalah, pemuda itu langsung menerjang kekasihnya hingga kedua anak remaja terbaring diatas ranjang.

.

~OoO~

.

"Iya, Sakura sudah besar tak usah khawatir. Aku akan memberitahunya kalau dia akan berkunjung."

Langkah kaki Sakura terhenti tepat di lantai satu ketika sudah turun tangga. Tidak jauh dari tempatnya, sang ibu tengah berbicara dengan seseorang dari telpon rumah. Dengan ayahnya, mungkin? Rasanya tidak, mengingat waktu seperti sekarang bukanlah jam istirahat ayahnya, walau hari libur sekalipun. Jika memang benar, berarti ada hal yang penting.

"Sakura?"

Bagai sebuah seruan, Sakura langsung tersadar dari lamunan-nya. Gadis itu langsung melangkah ketika baru tersadar kalau Sasuke beberapa langkah mendahului-nya. Tak lagi memikirkan ibunya, Sakura mengantarkan Sasuke sampai diambang pintu.

"Besok pagi tunggu dirumah saja. Aku akan menjemputmu." Sasuke berdiri didepan Sakura, bersiap untuk pergi. Ia sudah menganti sendal rumahan itu dengan sepatu miliknya.

"Tapi rumahku lebih jauh dari rumahmu menuju ke halte."

Sasuke hanya tersenyum mendengarnya. "Besok aku bawa motor." Sebelum benar-benar menjauh melangkahkan kaki, Sasuke sempatkan untuk mengelus puncak kepala gadisnya.

Gadis itu tersenyum manis. Tangannya melambai kearah punggung Sasuke . Terus tersenyum hingga punggung tegap itu sudah tak nampak lagi. Setetes airmata jatuh. Bukan airmata penderitaan, tetapi arti dari sebuah kebahagiaan.

Bagaimana jika seandainya hal yang baru saja terjadi adalah saat beberapa tahun yang akan datang. Ia berdiri diambang pintu, mengucapkan kalimat penyemangat untuk suaminya yang akan pergi bekerja. Bersama anaknya pasti.

Sakura mengusap airmatanya yang semakin banyak berjatuhan. Kepala merah mudanya menunduk, mentap perutnya yang berisi janin dari Sasuke. Ia beralih mengusap perutnya.

"Lihat, papamu tampan sekali bukan?" Gadis itu terkekeh.

Belum ada pergerakan memang, mengingat Si jabang bayi baru seumur jagung. Benar juga, selama mengandung ia tidak pernah memeriksakan ke dokter kandungan. Belum tahu usia janinnya. Mungkin ia bisa pergi ke rumahsakit bersama Sasuke. Ya, seperti sepasang suami-istri dewasa lainnya

.

.

.

.

.

~OoO~

.

.

.

.

.

Sepertinya Itachi harus membeli penutup telinga musim dingin sekarang. Mendengar suara ibu dan istrinya bagai klakson mobil tanpa henti. Apalagi ia yang menjadi korban kekesalan dua wanita cerewet itu.

Baru kali ini, selama hidupnya duapuluh lima tahun ada orang yang mencuri buah-buahan dan kotak susu ibu hamil, bekas pula. Kalau mencuri ponsel dan perhiasan wajar saja. Apa pencuri itu memiliki otak tak normal. Untuk apa buah-buahan sebanyak itu? Atau susu ibu hamil bekas yang baru ia beli kemarin. Sebagai ganjaran, ia dituduh memakannya. Hei, ia rasa perut karet pun tak kuat memakan buah-buahan sebanyak itu.

"Sasuke, kau darimana?" Pria sulung itu bangkit, menatap adiknya yang baru saja memasuki rumah.

"Ketempat teman." Sasuke melirik sekilas, lalu melangkahkan kakinya kembali.

Itachi hanya mengangguk mengerti. Sebenarnya agak aneh juga melihat anak itu pergi kerumah temannya, mengingat tabiat-nya yang susah untuk bersosialisasi.

"Itachi!"

Pria berwajah asia itu langsung tersentak kaget. Ya ampun, ia lupa untuk membeli bahan-bahan yang sudah diceramahi oleh ibunya. Sebelum kena omel oleh wanita yang hampir memasuki umur setengah abad, Itachi langsung meraih kunci mobilnya diatas sofa.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung.

Oke, aku tahu ini cerita ada nganu-nya :v tapi ini pertamakali aku bikin cerita adegan nganu :v haha...

Ah, iya... chapter sebelumnya itu emang ke copas :')) gimana, ya... aku itu kalau nulis fic di dulu baru aku salin, dan lagi stiap aku nulis itu pasti malemm.. Makasih ya udah ngerti dan kasih tau. :')

Aku juga sekarang nggak bisa bls review. Soalnya ditempat ku ada 7 tower roboh. Katanya sih perbaikannya sekitar 1-3 bulan kadang2 mati lampunya bisa sampe 24 jam, makanya aku lama update :". Ini aja aku nulis pas mati lampu dg daya bertai sedikit :'D

Mohon review nya yahhh.. Concirt, kritik dan saran. Karna kalian lah aku bisa semangat buat cerita *eakk

krna tdi sbelumnya chapter 3 ada gangguan nggak bisa buka. Jadi aku kirim lgi

Makasih sebelumnya,

Aisiya