Assassination Classroom © Matsui Yuusei. Universe yang dipakai dalam fanfiksi ini diambil dari drama Keizoku 2: SPEC (2010) yang disutradarai oleh Tsutsumi Yukihiko, Imai Natsuki, dan Kaneko Fuminori serta ditulis oleh Nishiogi Yumie. Tidak ada keuntungan material atau profit yang didapat dari penulisan fanfiksi ini.

WARNING: Crossover-AU (Fusion), slight gore and violence, murder theme, headcanon based, OOC may ensues, and slow update.


Isogai Yuuma merenung. Ia tidak tahu kesalahan apa yang pernah ia lakukan di kehidupan sebelumnya sampai-sampai ia layak untuk mendapatkan dua pelanggan yang tengah malam ini datang ke kedainya hanya untuk menghabiskan tiga perempat dari jumlah gyoza yang tersisa dan berdebat dengan suara yang kencangnya mengalahkan suara televisi di pojok ruangan.

Bukannya ia tidak bersyukur dengan kedatangan dua pelanggan itu, sama sekali bukan—hei, jika tidak ada mereka, mungkin gyoza yang dijualnya hari ini tidak akan laku. Masalahnya adalah mereka berdebat jauh lebih sengit dibandingkan anggota parlemen dan membuat pengunjung lain melirik ngeri ke arah mereka. Isogai meringis setiap kali melihat betapa laptop yang ditaruh di antara mereka berguncang hebat setiap kali ada salah satu dari mereka yang menggebrak meja—duh, orang kaya memang beda, begitu batin Isogai.

"Harus kubilang berapa kali, mencari di jurnal ilmiah tidak ada gunanya!" Salah satu dari perusuh, maksudnya tamu, itu menutup laptop dengan paksa. Tindakan itu disambut dengan tatapan tidak percaya dari sang lawan bicara.

"Kau mempermalukan almamater dengan mengatakan hal seperti itu, Nakamura!" Gakushuu membuka laptopnya lagi, membalikkan layarnya agar Nakamura mau melihat apa yang tampil di balik layar kristal itu. Sepuluh jendela menampilkan jurnal-jurnal ilmiah yang sama tentang fisika gerakan dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya. Bahkan membaca judulnya saja berhasil membuat Nakamura mendengus. "Kautahu, penelitian-penelitian ini dapat menjelaskan mengapa arah peluru berubah saat itu—"

"Gaku-chan, sudah berapa kali kubilang padamu, kita di sini bekerja dalam divisi yang tidak, maksudku, sangat-tidak-ilmiah," Nakamura memutar matanya. "Kau sudah ada di divisi ini selama sebulan dan kukira kau sudah berhasil menyingkirkan pola berpikir ilmiahmu itu. Kalau semua kasus bisa dipecahkan secara ilmiah, untuk apa divisi kita ada? Masalahnya adalah: tidak semua kasus memiliki penjelasan logis dan maka dari itulah divisi kita ada."

Gakushuu mendengus. "Masuk akal. Tapi—"

"Kau membantah senior," potong Nakamura tanpa ampun. "Sungguh junior yang tidak tahu diri. Akan kulaporkan pada papamu."

"Oi!"

"Kalau kau tak mau aku melakukannya, bagaimana kalau kau mulai menurut padaku—"

"Anuu …" akhirnya, setelah berdiam diri dengan gelisah, Isogai berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk menegur kedua pelanggan itu. "Bisa—"

"APA?"

Isogai tersentak, lalu mundur setengah langkah. "Bisakah … bisakah kalian tenang sedikit? Ada pengunjung lain yang sedang makan ..."

Nakamura menghela napas. "Kau benar. Ini ruang publik. Seharusnya kau menjaga volume suaramu, Gaku-chan."

"Kau sendiri, lebih berisik dibandingkan suara mesin pesawat."

"Kau lebih berisik dibandingkan suara kucing kawin!"

"Perumpamaan macam apa itu?"

"Nakamura-san, Asano-san, tolonglah …" keluh Isogai pelan. "Masih ada pengunjung lain—"

Gakushuu terdiam sejenak sambil menghela napas. "Hei, kaumasih punya berapa gyoza?"

"Eh?"

"Kubeli semua. Biar si perut karet ini yang makan. Jadi kaubisa menolak pelanggan yang baru datang dan voila, mereka tidak akan terganggu karena sepertinya, selama lawan bicaraku masih dia, kami tidak akan berhenti ribut."

Isogai mengerjapkan matanya menyaksikan Gakushuu yang mulai mengeluarkan uang dari dompetnya yang tebal.

"K-kau tidak bisa melakukan ini—"

"Oh, aku bisa. Pelanggan adalah raja. Cepat keluarkan semua gyoza-mu yang tersisa."

Nakamura menahan kikik melihat Isogai yang tampak gelisah, semua orang bisa membaca dilema yang tertera jelas di wajahnya. "B-baiklah! Tapi lain kali aku tidak akan membiarkan hal ini, oke?"

Isogai berlalu dengan langkah-langkah cepat dan kikuk. Gakushuu mendengus lagi.

"Aww, kau pengertian sekali, Gaku-chan. Tahu saja aku masih lapar."

"Terserah kaulah," gumam Gakushuu. "Oh hei, lihat, penelitian ini dilakukan oleh profesor dari Harvard—"

"Menyerahlah, Gaku-chan. Aku tidak akan mendengarmu." Nakamura menutup kedua telinganya sambil bersandar, dengan ekspresi wajah meledek. "Bahkan setelah aku bersumpah demi tangan kiriku yang dipotong, kau masih belum mempercayaiku?"

Tidak bijak membicarakan anggota tubuh yang terpotong di meja makan, maka kalimat Nakamura barusan membuat Gakushuu berjengit.

"Shinigami memiliki kekuatan yang sangat memungkinkan untuk mengubah arah peluru, dengan cara yang sederhana dan tidak mungkin terpikir oleh para profesor itu," gumam Nakamura, kini merubah posisi duduknya menjadi lebih condong ke depan dengan dagu disangga oleh tangan kanannya. "Oh well. Kau tidak mempercayaiku. Jadi kurasa, aku tidak perlu menjelaskan hal ini lebih lanjut. Oh ya, satu hal. Apakah kau menyadari keanehan lain pada kasus Yukimura-san?"

"Keanehan?" Gakushuu mengangkat alisnya. "Sesungguhnya, ya. Satu."

"Oh, kalau aku tiga." Nakamura tersenyum misterius. "Katakan apa yang kaupikirkan.

"Yukimura memiliki koneksi dengan Sakakibara. Koneksi yang kelewat bagus, malah." Gakushuu menopang dagunya dengan tangan. "Jika ia memang membutuhkan perlindungan, mengapa ia tidak meminta tolong pada Sakakibara—yang notabene memiliki reputasi sangat bagus di Kepolisian Tokyo? Yang ia lakukan justru meminta tolong pada divisi yang bahkan tidak diberikan fasilitas bagus oleh manajemen."

Senyum miring ditampilkan Nakamura. "Bingo. Seperti yang diharapkan dari mantan ketua skuad paling bergengsi di Kepolisian Tokyo, eh?"

"Ck, cukup dengan penekanan-penekanan itu! Sekarang katakan padaku apa yang aneh dari kasus ini menurut versimu."

Nakamura kembali menyandarkan punggungnya. Kakinya menendang-nendang udara kosong, nyaris membentur kaki meja dan tulang kering Gakushuu.

"Nyaris sama sepertimu, hanya saja aku sudah memiliki hipotesis tersendiri soal mengapa Yukimura-san mendatangi kita dan bukannya SIS. Aku baru menyadari saat pesta ulangtahunnya bahwa nama 'Yukimura' bukan nama yang asing untukku. Aku tidak tahu apakah ini kebetulan atau bukan, tapi … Koro-sensei pernah punya kekasih yang bernama Yukimura juga."

Gakushuu terdiam. Diteguknya sedikit ocha dalam keheningan.

"Ada banyak orang bernama Yukimura di Jepang."

"Siapa tahu." Nakamura mengangkat bahunya. "Hal lain yang membuat kasus ini aneh adalah nyaris tidak ada alasan bagi Sugino untuk membunuh Yukimura-san. Lebih buruk lagi, ia sudah mati, jadi kita tidak bisa menginterogasinya. Hal yang terakhir … aku belum memberitahukannya pada siapapun, tapi Yukimura-san memintaku untuk mengingat dua belas digit nomor tertentu."

"Dua belas digit nomor?"

Nakamura menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Dari caranya menyampaikan hal itu padaku, kau akan berpikir bahwa ia betul-betul sadar bahwa ia akan mati dan itu adalah dying message-nya."

Gakushuu mengosongkan cangkir ocha-nya dalam sekali teguk, kemudian bertanya dengan nada yang benar-benar penasaran. "Apakah aku bisa mempercayai ingatanmu?"

"Aku mengulang-ulangnya selama seratus kali di kepalaku sampai aku benar-benar hapal."

"Oke, katakan saja aku mempercayaimu. Lanjutkan."

"Terus terang, ketika aku mendengarnya pertama kali, angka-angka itu terasa familiar. Aku menggunakan waktu selama kau dirawat di rumah sakit untuk mencari tahu, dengan bantuan Nagisa tentu saja, dan ternyata angka-angka itu adalah nomor anggota Kepolisian Tokyo," lanjut Nakamura. "Tebak nomor anggota siapa yang Yukimura-san berikan padaku."

"Aku menyerah. Beri tahu aku." Gakushuu tampak enggan untuk berusaha. Nakamura menatapnya serius.

"Asano Gakuhou."

Gakushuu tertegun.


Ruangan itu gelap, sekaligus kelewat luas bagi dua orang yang berada di dalamnya. Satu orang mengenakan parka hitam panjang, berdiri menghadap jendela, bersandar pada dinding dengan santai. Ada bulan penuh menggantung di langit yang bersih, pemandangan yang cukup indah untuk dilihat berlama-lama. Satu orang lagi bekerja di balik monitor. Cahaya dari layar kristal itu terpantul dengan sempurna pada kacamata segiempatnya, menutupi biji mata tersebut dan apa ekspresi yang ditunjukkannya.

"Sudah siap untuk kembali ke panggung lagi, Shinigami-san?"

Sang pria berkacamata memecahkan keheningan, disambut dengan tawa kecil dari sosok yang menjadi lawan bicaranya.

"Heh-heh," kikiknya, parau. "Kapan saja, aku siap."

"Bagus kalau begitu."

Selanjutnya tidak ada lagi suara yang terdengar dari dalam ruangan selain suara jari yang beradu dengan keyboard. Sosok berparka hitam yang disebut Shinigami itu mendongak, menatap bulan penuh di langit sejenak, kemudian—

—menghilang.


"Permisi!"

Hari itu hanyalah hari bersantai biasa di ruangan Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural karena sedikitnya pekerjaan mereka. Gakushuu menyibukkan diri dengan berusaha mencari penelitian-penelitian ilmiah terkait perubahan trajektori peluru ("Keras kepala," begitu komentar Nakamura dengan dingin), Koro-sensei sibuk dengan ikan di akuarium, sementara Nakamura … menjadi Nakamura seperti biasa. Makan dua porsi nasi kari ditemani secangkir kopi hitam pekat yang sudah dicampur madu—Gakushuu tidak mau tahu bagaimana rasanya. Maka dari itu, teriakan dari Yada yang bertugas mengantarkan tamu barusan merupakan hal yang dapat menyelamatkan mereka dari kebosanan. Pajak yang sudah dibayarkan masyarakat untuk membayar gaji anggota kepolisian juga tidak akan menjadi sia-sia.

"Touka-chan~" Seperti biasa, Koro-sensei selalu berusaha menjadi orang pertama yang menyapa Yada setiap kali gadis manis itu memasuki ruangan Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural. "Ah, kau membawa tamu?"

"Anda bisa melihatnya sendiri, Koro-sensei," Yada tertawa geli. "Silakan, Maehara-san."

Mendengar kalimat barusan bergaung di seluruh ruangan, Nakamura—yang kelihatan paling tidak peduli dengan kedatangan tamu dan terus menerus mengunyah nasi kari—mendadak terlonjak dari tempat duduknya dengan mata terbelalak. Dengan secepat kilat ia berlari menuju lift-kerangkeng, mempertahankan ekspresinya, dan malah terlihat semakin kaget ketika ia mengenali siapa yang datang.

"Ha—"

"Siaga satu! Siaga satu! Koro-sensei, Gaku-chan, jangan dekat-dekat orang ini, dia berbahaya! Ia akan menularkanmu virus playboy cap jempol yang menjijikkan!" serunya panik. Gadis itu mendorong kembali sang klien, pemuda berambut cokelat terang yang wajahnya memerah karena malu, kembali ke lift-kerangkeng.

"Oi, aku klien! Kau tidak bisa melakukan hal ini pada klienmu!"

Nakamura menghentikan gerakannya. "Kau klien?"

Sang pemuda mengangguk perlahan.

"Cari divisi lain saja," tukas Nakamura ringan sambil kembali mendorong sang klien masuk lift.

Pemuda itu berdecak sambil berusaha bertahan di tempatnya dengan memegangi kerangkeng. "Kau tidak tahu sudah berapa divisi yang menolakku dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kalian menolakku juga. Ayolah, Rio."

"Tunggu—kalian saling kenal?" Mendengar sang klien memanggil Nakamura dengan nama kecil, Gakushuu menimpali dengan alis bertaut. Nakamura memandang sang klien sejenak, kemudian melepaskan tangan darinya sambil menghela napas panjang.

"Ya, em … aku teman sekelas Nakamura-san saat SMA—"

"Mantan pacar."

"Oi."

"HAH." Aklamasi tidak percaya terdengar dari tiga orang yang tampak terlalu terkejut dengan fakta ini, bahkan Koro-sensei sekalipun tampak meragukan apakah yang ia dengar barusan adalah kenyataan atau bukan. Yada selalu menganggap Nakamura kelewat eksentrik untuk mendapatkan pacar yang—menurutnya—cowok keren dan tampak popular ini, sementara Gakushuu mungkin membutuhkan puluhan tahun lagi untuk percaya. Diam-diam ia menilai klien satu ini punya selera yang aneh, kalau memang statemen Nakamura benar adanya.

"Kenapa kalian melihatku seperti itu? Kalian tidak punya pacar saat SMA dulu?" dengusnya sinis.

"Oh-oh, tidak, Nakamura-kun. Tidak." Koro-sensei menggelengkan kepalanya secepat kilat. "Kami hanya … ya. Terkejut. Terkejut sedikit. Sedikit kok. Oke, jadi …" dialihkannya pandangan pada sang klien yang tengah menggaruk tengkuk. "Maehara-san, benar?"

"Ah, ya." Ia membungkuk cepat. "Namaku Maehara Hiroto, aku di sini ingin meminta tolong untuk menginvestigasi soal … kelompok bunuh diri."

Gakushuu mengernyitkan alis. "Kelompok bunuh diri?"

"Um," Maehara mengangguk cepat. "Mantan pacarku terlibat di dalamnya."

"Mantan pacarmu yang keberapa?" Nakamura menimpali dengan sinis. Maehara meringis.

"Kau memintaku menghitung?"

Nakamura mendecih. "Tidak perlu buang-buang waktu. Lanjutkan."

"… Baiklah." Mengabaikan sarkasme Nakamura barusan, akhirnya Maehara melanjutkan ceritanya. "Aku mendapat kabar dari keluarganya kalau ia sudah mati bunuh diri, tapi sehari kemudian … aku mendapatkan pesan singkat yang berbunyi seperti ini."

Maehara mengeluarkan telepon genggamnya dan menunjukkannya pada keempat orang lainnya di ruangan tersebut. Sebuah pesan singkat tertera jelas pada layar telepon genggam tersebut. Pesannya singkat, hanya saja mengingat pengirimnya sudah mati, jelas saja pesan ini membawa makna lain yang tidak bisa dijelaskan secara langsung. Maehara menggigit bibirnya sambil menunggu respon para polisi tersebut.

2015/10/09

Pengirim: Kaho

Pesan:

Tolong aku, Hiroto.

"Pesan dari dunia orang mati, eh …" Nakamura memegang dagunya sambil mengangguk-angguk, wajahnya terlihat cerah seperti ketika ia sedang memakan gyoza yang masih hangat. "Menarik! Koro-sensei, kita akan mengambil kasus ini, kan? Ya? Ya?"

Tentu saja, sang kepala divisi tidak bisa menolak.


Mereka menyingkirkan peralatan kaligrafi Nakamura di atas meja ruang tatami dan menggantinya dengan benda-benda yang lebih relevan dalam kasus kali ini. Maehara menaruh foto-foto Kaho, mantan pacarnya tersebut, Gakushuu membuka situs mengenai kelompok bunuh diri yang diikuti Kaho lewat tabletnya, dan Nakamura menaruh teh serta cemilan—tentu saja ini relevan. Matanya melirik tajam pada foto Kaho, dan tampaknya Maehara menyadarinya, membuat pemuda itu mengembuskan napas panjang.

"Aku dan Kaho sudah lama putus. Mungkin dua tahun yang lalu. Tapi kami masih berteman," cerita Maehara, sambil mengetuk-ngetuk foto Kaho di meja dengan jarinya. "Setahun lalu, ia memberitahuku kalau ia didiagnosis dengan gangguan depresi mayor. Hanya saja ia tidak memberitahuku apa penyebabnya, dan aku sendiri juga tidak bisa menduga-duga kenapa. Kudengar ia sedang ada masalah keluarga."

"Depresi, eh … salah satu faktor pendorong yang paling umum untuk melakukan bunuh diri," Koro-sensei mengangguk-angguk. Pada saat yang sama, Gakushuu meletakkan tabletnya di atas meja. Layar tablet itu menunjukkan laman situs dengan nuansa hitam dan merah, judul situsnya terpampang besar-besar disertai dengan logo tengkorak yang retak-retak: Perfect Suicide.

"Apakah ini kelompok bunuh diri yang kaumaksud?" tanya Gakushuu. Maehara mengangguk.

"Ya. Kelompok bunuh diri ini … agak unik, kurasa." Maehara menopang dagunya. "Dari informasi yang kudapatkan, mereka memiliki cara bunuh diri yang sangat sistematis dan rapi."

"Rapi?" Nakamura mengerutkan alis.

"Mereka memulai dengan tujuh orang," jawab Gakushuu. "Jika sudah ada tujuh orang yang terdaftar, maka pertemuan untuk bunuh diri bisa dilaksanakan. Mereka menganggap bunuh diri sebagai upacara yang suci. Akan ada tujuh gelas minuman yang disediakan; satu berisi obat tidur dan sisanya adalah racun. Orang yang lolos dari kematian akan bertanggungjawab untuk menjadi manajer yang akan mengorganisir pertemuan bunuh diri selanjutnya. Manajer akan mengurus mayat-mayat dan menyampaikan surat wasiat dan peninggalan orang-orang yang mati sebelumnya pada keluarga mereka, setelah itu membuka pendaftaran untuk upacara bunuh diri selanjutnya. Siapapun yang menjadi manajer tidak boleh kabur dari tugasnya. Konon katanya, setiap manajer berada di bawah pengawasan ketat pengelola utama situs Perfect Suicide dan ada konsekuensi yang berat bagi manajer yang kabur dari tanggung jawabnya."

"Apa yang terjadi pada mayat-mayat itu?" Kali ini Koro-sensei yang bertanya.

"Apapun yang bisa dilakukan untuk menyembunyikannya. Dibakar, dibuang ke laut … apapun. Yang pasti, tidak meninggalkan jejak."

"Sebenarnya, yang menjadi masalahku adalah soal manajer itu," tukas Maehara. "Manajer upacara bunuh diri juga memiliki tugas untuk membunuh peserta upacara bunuh diri yang melarikan diri dari upacara tersebut. Kautahu, mungkin sebenarnya Kaho tidak benar-benar ingin mati, siapa tahu ia menemukan cara tertentu untuk pura-pura meminum minuman beracun itu. Bisa jadi Kaho melarikan diri dari sang manajer ketika orang itu berusaha membunuhnya, dan manajer tersebut tidak bisa menemukan Kaho. Karena ia terikat pada tugas, ia akhirnya memutuskan untuk mengirim barang peninggalan dan surat wasiat Kaho—meskipun sebetulnya ia belum mati, dan akhirnya Kaho meminta tolong padaku."

Ketiga orang polisi itu mengangguk-angguk dalam keheningan. Dugaan Maehara barusan terlalu masuk akal untuk diabaikan.

"Kapan terakhir kali upacara bunuh diri dilakukan?" tanya Gakushuu.

"Seminggu yang lalu, jika informasi yang kudapatkan tidak salah. Upacara itu adalah upacara yang diikuti Kaho," jawab Maehara sedikit ragu.

Keheningan menyelimuti ruangan tatami untuk sejenak sebelum Nakamura akhirnya bersuara.

"Jadi, Hiro, sebetulnya apa yang kauharapkan dari penyelidikan ini?"

"Eh?" Maehara mengernyitkan dahinya, tampak heran dengan pertanyaan Nakamura barusan. "Tentu saja aku ingin memastikan apakah Kaho masih hidup atau tidak, dan menolongnya seandainya ia masih hidup. Tentu saja aku juga ingin tahu kebenaran di balik upacara bunuh diri ini. Jika memang manajernya berakhir membunuh orang, bukankah ia bisa dikenai hukum pidana tentang penghilangan nyawa seseorang secara disengaja?"

Sekali lagi Nakamura mengangguk-angguk, kali ini sambil memasukkan manisan ke dalam mulutnya.

"Kalau begitu, kita bisa mulai dengan mencari sebenarnya siapa manajer yang terpilih di upacara bunuh diri sebelumnya," Nakamura merebut tablet Gakushuu secara halus, membuat sang pemilik otomatis mendelik. "Cara termudah untuk menyelidiki siapa manajer yang bertugas saat itu adalah menyelidiki siapa di antara tujuh orang itu yang keluarganya tidak menerima barang peninggalan dan surat wasiat, betul?"

"Tapi karena Perfect Suicide terorganisasi dengan begitu rapi, tidak mungkin mereka menggunakan jasa pengiriman barang untuk mengirimkan benda-benda tersebut …" Gakushuu menimpali, membuat Nakamura tersenyum puas oleh deduksinya. "Tidak mungkin jika kita melacak melalui database jasa pengiriman paket."

"Satu-satunya cara untuk melacaknya adalah dengan mengakses database situs Perfect Suicide karena orang-orang yang mendaftar untuk bunuh diri harus mencantumkan alamat mereka," tambah Maehara. "Dari rumor yang kudengar juga, website Perfect Suicide memiliki kode enkripsi yang sangat sulit ditembus. Bahkan ada seorang hacker profesional yang gagal meretasnya. Apa kira-kira kau bisa meretasnya, Asano-san?"

"Kurasa tidak," geleng Gakushuu. "Aku tidak pernah berurusan dengan hal seperti ini."

"Begitu ya …."

Tiba-tiba, Nakamura menyeringai. Tanpa alasan tertentu, tiba-tiba Gakushuu merasakan selintas firasat buruk.

"Tidak usah khawatir kalau soal itu. Untuk tujuan seperti inilah kita bisa minta bantuan Nagisa."


"Aku. Tidak. Maaaa-u!"

Minta bantuan, katanya.

Yang Gakushuu lihat saat ini tidak ada bedanya dengan adegan pemaksaan yang biasanya diselipkan sebagai humor dangkal di kartun-kartun komedi. Nakamura, dengan kekuatannya yang mungkin didapatkan dari makanan-makanan aneh yang tidak berhenti dimakannya, berusaha menarik seorang pemuda—yang bertubuh hampir sepantaran dengannya—keluar dari lift, sementara jelas-jelas sang pemuda enggan. Pemuda manis itu memeluk kerangkeng lift erat-erat, menolak untuk mengikuti apa kehendak Nakamura; Gakushuu bertanya-tanya apa yang telah dilakukan gadis itu untuk membawa sang pemuda dari ruangannya sampai kemari.

"Nagisa tolonglah, sekaliiii saja!"

"Aku sudah nyaris kena masalah waktu aku meretas database rumah sakit tempo hari, Nakamura-saaan!" teriaknya pilu. "Jika Koro-sensei tidak membelaku saat itu, aku pasti sudah dipecat!"

"Koro-sensei juga bisa membelamu untuk kali ini, kok!"

"… Tunggu, Nakamura-kun?" Koro-sensei menimpali tidak percaya.

"Tidaaaaak maaaaaauuuuuuuu." Pemuda berambut biru muda yang ditengarai bernama Nagisa itu memeluk kerangkeng lift semakin erat.

"Ini untuk kepentingan investigasi—"

"Tidak mau."

"Baiklah, kauingin aku menyebarkan fotomu yang mana? Waktu pesta akhir tahun di fakultas saat kita masih mahasiswa baru? Atau ketika pesta Halloween tahun la—"

"BAIKLAH NAKAMURA-SAN, BAIKLAH!"

Mengejutkan betapa ancaman seperti itu bisa ampuh, setidaknya bagi Gakushuu, karena bagi Nakamura, sudah pasti Nagisa tidak akan ingin fotonya mengenakan kostum-kostum aneh tersebar luas. Makanya Gakushuu hanya mengerutkan dahi pada seringaian lebar Nakamura, sementara Nagisa berjalan lemas menuju meja komputer. Pemuda malang itu terlihat seperti setengah jiwanya sudah dipaksa keluar dari tubuhnya.

"Memangnya kalian tidak diberikan izin khusus untuk meretas?" Gakushuu bertanya penasaran, dijawab dengan cibiran dari Nakamura.

"Sori, kami bukan SIS," jawabnya ketus. "Nagisa yang malang bahkan sampai kena teguran karena meretas untuk investigasi kasus Yukimura Akari waktu itu. Oh ya, dan kau tidak tahu, karena kau masih di rumah sakit saat Nagisa menerima tegurannya."

Raut wajah Gakushuu berubah masam. Mengingat ketimpangan fasilitas yang diterima oleh divisi lama dan divisi tempatnya berada sekarang, membuat Gakushuu menyadari betapa istimewanya SIS. Diliriknya Nakamura yang berlari pelan menuju tempat Nagisa mulai bekerja, kemudian berpikir bahwa sebetulnya, Nakamura juga memiliki kualifikasi untuk menjadi anggota Special Investigation Squad.

Hah?

Digelengkannya kepala keras-keras—ia sungguh-sungguh tak percaya dengan apa yang dipikirkannya barusan. Nakamura di SIS… jangan bercanda.


"Bagaimana, Nagisa-kun?" Koro-sensei berjalan mendekati tempat duduk Nagisa, menyimak sudah sejauh apa kemajuan peretasan yang sedang dilakukan pemuda itu. "Apakah kira-kira kaubisa meretasnya?"

"Ayolah Koro-sensei, jangan remehkan kemampuan Nagisa," pinta Nakamura, yang kini sedang menghangatkan air untuk kopinya yang kesekian gelas.

Nagisa menghela napas, dengan jari jemari yang masih lihai bergerak di keyboard. "Kurasa aku bisa menembus kode enkripsinya. Hanya saja ada sesuatu yang mengganjal, tidak penting sih, tapi itu cukup menggangguku."

"Hm?" Nakamura menoleh dari tempatnya mengaduk kopi, ekspresinya saat itu terlihat seperti anak kecil yang kebingungan. "Hal seperti apa?"

"Susunan kode enkripsi yang dibuat orang ini terasa begitu familiar, saking familiarnya aku sampai merinding begitu aku membaca kodenya untuk pertama kali," jawab Nagisa sambil menghentikan kegiatannya mengetik, lalu menopang dagunya dengan satu tangan. "Rasanya menakutkan. Seperti … kode enkripsi buatanku sendiri. Tapi bukan berarti aku yang membuat kode enkripsi untuk website ini. Maksudku, seandainya aku harus membuat sistem keamanan untuk website seperti ini, aku akan menggunakan kode yang hampir mirip."

"Whoa." Dengan langkah-langkah cepat Nakamura mendekat, nyaris menabrak meja dan menumpahkan kopinya ke atas tumpukan kertas di dekat komputer. Untungnya gadis itu berhasil mengerem langkahnya sebelum hal yang tidak menyenangkan itu terjadi. "Jadi? Apakah kaupikir …?"

Nagisa mengangkat bahunya sekilas. "Aku tidak mau berasumsi, tapi kemungkinannya besar."

"Kemungkinan apa?" Gakushuu menimpali dengan dongkol, tampak tidak senang karena merasa terpinggirkan dengan percakapan dimana ia sama sekali tidak mengerti konteks pembicaraan yang berlangsung. Nakamura dan Nagisa menggeleng dengan serempak, seperti anak kembar, kemudian kembali mengacuhkan Gakushuu dan fokus dengan layar monitor. Gakushuu mendengus kesal—dan tampaknya Maehara di sebelahnya juga kebingungan dengan apa yang Nakamura dan Nagisa bicarakan.

"Nah. Berhasil." Nagisa menekan tombol enter dengan wajah puas. "Aku sudah mengunduh database website tersebut. Pokoknya, aku tidak mau bertanggungjawab dengan segala bentuk penyalahgunaan data—"

"Aku kan sudah bilang, ini untuk keperluan investigasi …" keluh Nakamura, kemudian mengambil alih mouse dari Nagisa dan membuka file yang dimaksud. "Yeaaaah, sempurna! Terima kasih Nagisa, kau memang luar biasa!"

Nagisa mengangguk kikuk. "Pokoknya aku tidak mau bertanggungjawab kalau divisi ini kena teguran lagi."

"Nagisa-kun, terima kasih banyak atas bantuannya sekali lagi," ujar Koro-sensei, sementara Nakamura masih fokus pada monitor untuk memeriksa data yang baru saja diunduh, dan Gakushuu berusaha untuk mengintip monitor yang dikelilingi oleh empat orang selain dirinya. "Apakah kau sudah menemukan data yang kita perlukan, Nakamura-kun?"

"Sudah." Nakamura memutar-mutarkan kursor pada sebuah tabel yang terpampang di depan monitor. "Tujuh alamat ini adalah alamat para peserta upacara bunuh diri sebelum upacara bunuh diri yang diikuti oleh Kaho-san."

"Bagus sekali. Kalau begitu kita bisa memulai investigasinya sekarang. Ayo pergi, anak-anak!"

"Yosha! Off we go!" Nakamura melesat berlari ke arah tasnya diletakkan, kemudian membawanya menuju lift kerangkeng. "Ayo cepat, kalian tunggu apa lagi?"

Gakushuu mendengus sambil berpikir sudah berapa gram gula yang gadis itu konsumsi sehingga menjadi begitu bersemangat seperti ini. Maehara menyadari ekspresi Gakushuu, dan seolah bisa membaca apa yang ada di baliknya, ia berkata, "Dia memang selalu begitu dari dulu," membuat Gakushuu mendengus semakin keras. Ia meraih tasnya yang tergantung rapi di sisi meja, kemudian berlari menyusul Nakamura yang sudah mengetukkan kakinya keras-keras di lantai lift.

"Kalau begitu aku juga akan kembali ke ruanganku. Semoga beruntung dengan investigasinya, Koro-sensei," gumam Nagisa sambil membungkuk sopan pada Koro-sensei. "Jangan terlalu memaksakan diri."

Koro-sensei tersenyum. "Aku tahu. Terima kasih, Nagisa-kun."


Ketiga polisi beserta satu klien itu kembali ke markas Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural ketika malam sudah tiba. Gakushuu menghempaskan dirinya begitu ia mencapai kursi, tidak menyangka bahwa hari ini akan melelahkan—terima kasih pada Nakamura yang sebetulnya buta arah tapi memutuskan untuk tidak mempercayai GPS dan memaksa Gakushuu untuk mengikuti instingnya yang salah, sehingga ujung-ujungnya mereka harus berputar-putar. Oh, dan jangan lupakan selera musik gadis itu yang membuat kepala Gakushuu berdenyut.

Nakamura tidak kunjung duduk ketika sampai di kantor ("Tentu saja, si rakus itu masih punya banyak energi cadangan," begitu gumam Gakushuu, dan Nakamura mendengarnya lalu marah karena ia menganggap Gakushuu menyamakan dirinya dengan unta) melainkan ia berputar-putar sejenak mengelilingi kantor yang tidak seberapa luas itu, dengan sebuah clipboard di tangannya. Clipboard itu menjepit beberapa helai kertas yang merangkum hasil investigasi mereka hari ini.

"Jadi … dari ketujuh orang itu, hanya satu orang yang keluarganya tidak menerima paket, eh, dan keluarga tersebut masih tetap tidak tahu keberadaan orang itu …" Maehara menggumam setelah menyamankan posisi duduknya di atas kursi. "Horibe Itona … eh …?"

"ASTAGA."

Teriakan Nakamura barusan membuat Koro-sensei, Gakushuu, dan Maehara masing-masing terlonjak dari kursinya masing-masing. Nakamura melempar clipboard yang tengah ia pegang, kemudian berlari menuju sebuah loker besi besar yang terletak di dekat ruang tatami. Ia mengecek satu-persatu label yang tertempel pada pintu masing-masing loker, kemudian ekspresinya berubah seketika begitu melihat pintu loker dengan label tertentu. Dicobanya membuka kunci pintu loker tersebut, namun sia-sia—seberapapun kuatnya ia memutar kunci tersebut, kunci itu tetap tidak mau bergerak dari tempatnya.

"Demi Tuhan, belum setahun sejak aku mengunci loker ini terakhir kali dan sekarang sudah rusak lagi?" keluhnya keras, terdengar ke seluruh ruangan—mungkin terdengar ke tempat parkir juga. "Dasar loker murahan!"

"Ada apa, sih?" Terganggu, akhirnya Gakushuu pun menghampiri dengan raut wajah jengkel. "Kuncinya tidak mau terbuka?"

Nakamura mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya. Gakushuu mengeluh pelan.

"Sini kucoba."

Gakushuu membuat isyarat menyingkir pada Nakamura dan mencoba melakukan hal yang sama. Sekali, dua kali, tiga kali … puluhan kali mencoba, kunci itu tetap tidak mau bergerak. Gakushuu berpikir sebetulnya apa yang salah dengan loker ini, sampai-sampai membuka kunci saja susahnya minta ampun. Mungkin ia bisa mengusulkan pada ayahnya untuk menambah anggaran fasilitas untuk Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural? Mungkin.

"Kenapa susah sekali!" Darah Gakushuu mulai naik ke ubun-ubun, dirinya semakin panas oleh amarah. "Kenapa sih divisi ini mendapatkan fasilitas yang begitu murahan?"

"Mana kutahu, tanya ayahmu!" gerutu Nakamura. "Ayolah, aku butuh berkas yang ada di dalamnya."

"Aku menyerah." Gakushuu menunjukkan tangannya yang sudah dihiasi bekas-bekas merah. Nakamura mendengus.

"Mungkin kita melakukan pendekatan yang salah?" Nakamura kembali meraih kunci tersebut dengan tangan kanannya. "Kurasa, tadi kita terlalu kasar memperlakukan kunci ini, dan mungkin ia tidak menyukainya, maka mari kita coba memperlakukannya dengan lembut … wah."

Tepat setelah Nakamura memutar kunci tersebut ke kanan, terdengar bunyi klik keras dan pintu loker pun terbuka.

"Kau merusaknya dengan kelembutanmu itu," desis Gakushuu.

"Bukankah kau yang sedari tadi memperlakukannya dengan kasar?" tuding Nakamura. "Dengan ini kita punya alasan untuk meminta loker baru, hore. Tunggu sebentar, Gaku-chan, aku butuh bantuanmu untuk membawa berkas-berkas ini."

Gakushuu mendengus, tapi ia tidak bisa mengeluh dengan keras, bagaimanapun juga tangan Nakamura hanya satu dan tidak mungkin ia bisa membawa berkas-berkas sebanyak itu. Hebatnya, gadis itu bisa memindahkan berkas-berkas dalam loker ke tangan Gakushuu dengan cepat, mungkin karena ia sudah cukup terbiasa menggunakan hanya tangan kanannya untuk berbagai macam hal. Usai memindahkan berkas-berkas tersebut, Gakushuu membawanya ke meja kerja lalu meletakkannya dengan rapi di atasnya, hanya untuk diacak-acak lagi oleh Nakamura beberapa detik setelahnya.

Ketika tangan sang gadis sampai pada satu berkas tertentu, mata birunya membulat.

"Ini dia! Ini, kenapa aku baru ingat sekarang?" keluhnya sambil menunjuk-nunjuk foto yang tercantum dalam kertas itu penuh kefrustrasian. "Horibe Itona. Ia merupakan salah satu tersangka dalam kasus yang pernah kita tangani sebelumnya, Koro-sensei!"

Koro-sensei tampak terkejut. Ia bangkit dari kursinya untuk menghampiri Nakamura. "Oh, aku juga baru ingat! Kasus Perampok Tak Terlihat itu, kan?"

"Pe-perampok Tak Terlihat?" Gakushuu melongo.

"Meskipun tidak terbukti bersalah pada kasus itu, ia punya jejak rekam tindak kriminal yang cukup banyak." Nakamura menambahkan tanpa menanggapi Gakushuu sama sekali. "Aku tidak ingin berpikir terlalu jauh, tapi kurasa ada benang merah antara Perfect Suicide dan kasus-kasus criminal yang pernah melibatkan dirinya. Orang dengan kecenderungan antisosial seperti ini … aku merasa aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."

Mendengar pernyataan Nakamura barusan, Gakushuu mendengus. "Darimana kau bisa menyimpulkan seperti itu?"

"Insting," jawab Nakamura cepat.

"Insting seorang perempuan biasanya punya tingkat keakuratan yang tinggi, lho," timpal Koro-sensei sambil tersenyum. Gakushuu mengangkat bahu. Dulu ayahnya juga sering omong besar tentang insting seorang polisi, tapi bertahun-tahun menjadi anaknya tidak lantas membuat Gakushuu mempercayai kata-kata ayahnya begitu saja. Ia tipe yang lebih mengedepankan rasionalitas, deduksi dan logika. Insting mungkin bisa ditaruh di urutan terakhir saja.

"Jadi …?" Maehara memandangi ketiga polisi di depannya dengan bingung. Sudah berapa kali ia kebingungan untuk mengikuti percakapan mereka hari ini?

"Aku akan memikirkan sesuatu," ujar Nakamura sambil membereskan berkas-berkas yang diacak-acaknya. "Omong-omong Hiro, jika kau mau pulang, pulanglah. Besok aku akan punya rencana, percayalah."

Maehara terdiam sejenak. Melihat keyakinan yang terpantul di mata gadis itu membuatnya menghela napas lega.

"Baiklah. Terima kasih, Rio. Aku tahu aku bisa mengandalkan kalian semua."

"Ughh, dan aku tampaknya butuh minuman bersoda…" Nakamura meregangkan tubuhnya. "Ah, kalau Koro-sensei dan Gaku-chan juga ingin pulang silakan saja. Serahkan semuanya padaku."

"Tidak," tolak Gakushuu tegas. "Aku akan tetap di sini."

Nakamura memutar mata. "Oke, baiklah. Koro-sensei?"

"Aku mungkin akan pulang sebentar lagi, maafkan aku."

"Tidak apa-apa, kok. Tidak usah memaksakan diri," ujar Nakamura, tanpa disangka-sangka, dengan lembut. "Oke Gaku-chan, kaubisa mempelajari catatan kasus Horibe Itona yang sebelumnya sementara aku membeli minuman di bawah—"

"Biar kubelikan," tukas Maehara cepat. "Anggap saja hadiah kecil dari teman lamamu sebagai apresiasi kerja kerasmu hari ini."

Ajakan itu membuat Nakamura tersenyum, lebar. "Kalau begitu aku tidak akan menolak."


Malam sudah larut, namun jalanan di depan kantor Kepolisian Tokyo masih ramai oleh kendaraan. Nakamura duduk di depan konbini dengan beberapa kaleng minuman bersoda favoritnya (awalnya ia berniat untuk membelinya di vending machine kantor saja, sayang benda itu tidak menjual minuman dengan rasa yang ia suka sehingga ia harus menyeret Maehara ke konbini) dan tak lama kemudian, Maehara keluar dari konbini dengan dua bakpau panas. Sambil menaruh kantung berisi bakpau itu, ia menarik kursi dan duduk menyebelahi Nakamura, yang masih asyik memandangi situasi lalu lintas di depan konbini tersebut.

"Kau tidak berubah, ya."

Nakamura menoleh, hanya untuk melihat bagaimana Maehara kini sedang memandanginya.

"Benarkah?"

"Mungkin kau tidak merasakannya, tapi aku melihat perubahan itu. Sekelas denganmu selama tiga tahun plus berpacaran selama setengah tahun kurasa cukup untukku untuk mengenalmu, hm?" Maehara tertawa pelan. "Kau sudah melewati masa-masa sulit, dan kau tetap menghadapinya dengan tegar seperti Nakamura Rio yang kutahu."

Nakamura tidak menjawab. Ia hanya menggoyangkan kaleng di tangan kanannya dalam diam.

"Kau tidak memberitahuku apa-apa soal tanganmu," tukas Maehara dengan suara parau. "Apa yang terjadi?"

"Hanya kecelakaan kerja biasa." Nakamura menjawab ogah-ogahan. Maehara tidak mau menelan jawaban itu bulat-bulat.

"Apa aku bisa mempercayai jawabanmu itu?"

"Anggap saja aku berkata jujur."

Maehara menghela napas kecewa. "Kapan terjadinya?"

"Baru-baru saja, kok."

"Dan apa yang kaukatakan pada Obaasan perihal itu? Kecelakaan kerja juga?"

"Bedanya adalah Obaasan mempercayaiku dan kau tidak. Obaasan tahu profesiku memiliki banyak bahaya dan resiko, sementara kau tidak," gumam Nakamura nyinyir. "Atau sebenarnya kautahu tapi kau memutuskan untuk mengabaikan kenyataan itu."

"Sepertinya yang terakhir benar," keluh Maehara.

Kembali hening. Selama beberapa detik, suara yang terdengar hanyalah bel konbini atau deru mesin kendaraan yang lewat. Maehara mengetukkan kakinya, canggung. Meskipun ia dan Nakamura bisa dibilang pernah dekat, tidak pernah mengontak masing-masing selama bertahun-tahun cukup untuk membuat reuni seperti ini menjadi canggung. Terlebih, Nakamura adalah mantan kekasihnya—oke, mereka memang mengakhiri hubungan dengan baik-baik, tapi tetap saja hal itu tidak bisa mencegah munculnya kecanggungan.

"Kau salah soal tegar itu, Hiro." Nakamura mendesis, memulai lagi percakapan di antara mereka berdua. "Setelah aku kehilangan tanganku, aku menangis semalaman dan tidak mau makan selama seminggu."

Maehara tersenyum simpul.

"Manusiawi. Tapi kau tetap ada di sini, dan aku berterima kasih atas hal itu."

Nakamura menundukkan kepalanya, seolah-olah menyembunyikan ekspresi wajahnya dari pindaian mata Maehara.

"Hiro, boleh aku minta peluk?" gumamnya dengan artikulasi yang sedikit tidak jelas, seolah-olah ia tidak membuka mulutnya sama sekali. "Comfort hug. Seperti yang kauberikan setelah … kecelakaan itu?"

Maehara tersenyum simpul. Ia tidak bisa menolak.

"Bayi besar."

Lengannya melingkari tubuh Nakamura dengan tidak nyaman, namun setidaknya gadis itu mendapatkan kehangatan. Pemuda itu bisa merasakan bagaimana tulang dahi Nakamura menekan dadanya, dan ia tidak bisa menahan diri untuk tidak melarikan jari-jarinya di atas helai-helai rambut Nakamura yang beraroma sampo mint. Tanpa ia bercerita pun, Maehara lebih dari tahu bahwa Nakamura sudah mengalami terlalu banyak hal yang tidak menyenangkan, mungkin kelewat tidak menyenangkan untuk usianya yang terbilang masih muda. Maka dari itu, sekecil apapun bantuan yang bisa Maehara berikan, akan ia berikan pada Nakamura. Termasuk pelukan singkat ini.


"Kalian terlihat seperti baru saja bertengkar semalaman," gumam Koro-sensei, begitu ia memasuki kantor dan hal pertama yang ia lihat adalah aura permusuhan yang menguar begitu tajam dari kedua bawahannya. Nakamura duduk di salah satu kursi, kedua kaki dinaikkan, menggenggam ramen cup, dan menatap Gakushuu di seberangnya dengan tajam—sementara Gakushuu juga melakukan hal yang sama, minus menaikkan kaki dan menggenggam ramen cup. Koro-sensei memandang sekeliling, ah, setidaknya tidak ada fasilitas kantor yang rusak.

"Ng. Begitulah. Tapi setidaknya kami sudah sepakat," tutur Nakamura. Gakushuu mendelik.

"Apanya yang sepakat?" gerutu Gakushuu sinis. "Dengar ya, aku masih belum menyetujuimu soal yang terakhir. Kita tidak bisa membahayakan klien dan orang-orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kasus ini."

Nakamura mendengus. "Lalu kau mau tunggu berapa lama lagi sampai kuotanya terisi? Sebulan? Dua bulan? Perfect Suicide bukan satu-satunya cara untuk bunuh diri di dunia ini."

"Sebenarnya … apa yang terjadi?" Koro-sensei mengernyitkan alis. Melihat perdebatan kedua bawahannya ini, terkadang ia merasa bahwa pekerjaannya adalah guru taman kanak-kanak dan bukannya seorang polisi. "Kalian sudah punya rencana … kan?"

"Orang ini," Gakushuu menuding Nakamura dengan dagu, membuat sang gadis melotot, "mendaftarkan kita ke Perfect Suicide. Yang aku maksud dengan kita adalah aku, dia, dan kau, Koro-sensei."

"Whoa." Mata Koro-sensei membulat. Ia terkejut, tapi sama sekali tidak terlihat bahwa ia tidak menyetujui ide tersebut.

"Aku setuju dengan ide ini untuk memudahkan proses investigasi, tapi yang tidak bisa aku setujui dari tindakannya adalah ia juga mendaftarkan Maehara Hiroto-san dan Shiota Nagisa-san," terang Gakushuu. "Kita tidak bisa membahayakan klien dan orang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus ini. Bukan begitu, Koro-sensei?"

"Aku melakukannya agar kuota tujuh orang itu cepat terisi sehingga upacara bisa cepat digelar!" seru Nakamura. "Saat kita mendaftar, baru ada dua orang yang mendaftar. Kau mau menunggu berapa lama lagi sampai kuota itu terisi? Asumsikan bahwa Kaho-san masih hidup, kau mau ia menunggu lebih lama?"

Keduanya terdiam. Koro-sensei memandangi mereka satu persatu.

"Lagipula Hiro sudah mengiyakan, kok," tambah Nakamura. "Ia bilang ia akan berusaha semampunya untuk membantu investigasi."

"Lalu bagaimana dengan Nagisa-kun?" tanya Koro-sensei. Nakamura menyengir.

"Aku akan usahakan."

Gakushuu mencibir. "Blackmail lagi?"

Cengiran Nakamura melebar.


Menurut instruksi yang diberikan lewat e-mail dari Perfect Suicide, lokasi upacara bunuh diri yang akan diadakan selanjutnya adalah di sebuah pondok di tengah gunung. Gakushuu, yang lagi-lagi kebagian tugas menyetir, sempat mempertanyakan mengapa orang-orang itu mau melakukan perjalanan jauh ke pedalaman gunung hanya untuk bunuh diri sementara di rumah ada banyak benda yang bisa kaugunakan untuk mengambil nyawa sendiri—katakanlah pisau, kabel listrik, tali tambang, silet, atau kalau kau ingin akhir hidupmu tercantum di halaman koran pagi, kau bisa datang ke pusat perbelanjaan di Shinjuku dan melompat dari lantai teratas. Nakamura meledek Gakushuu tidak memiliki sense (entah sense apa yang ia maksud) dan setelah itu mereka kembali bertukar cercaan dan makian. Koro-sensei masih berusaha membiasakan dirinya dengan hal ini meskipun ia berharap kedua bawahannya itu bisa bersikap lebih dewasa, Maehara hanya bisa tertawa-tawa canggung, dan Nagisa—yang diseret secara paksa—masih duduk gelisah sambil memeluk tasnya dengan wajah nelangsa. Mungkin ia harus mempertimbangkan untuk berhenti berurusan dengan Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural—satu hal yang sebetulnya sudah muncul di benaknya sejak lama namun tak kunjung bisa ia lakukan.

Mobil berhenti di depan sebuah jalan setapak. Menurut peta yang terlampir pada e-mail instruksi tersebut, mereka memang harus melalui sebuah jalan setapak untuk mencapai pondok tersebut. Pada saat yang bersamaan, dua buah motor datang dari arah berlawanan dan menepi di seberang jalan. Kedua pengendaranya mengendarai jaket yang mirip. Mereka juga menempelkan stiker yang sama pada helm mereka. Salah satu dari mereka turun, melepas helm, kemudian mengecek kertas yang digenggamnya. Setelah beberapa saat, ia mengomandoi rekannya untuk mengikutinya.

"Apakah kaupikir kedua orang itu juga datang untuk bunuh diri?" tanya Gakushuu, ketika ia menyadari bagaimana mata Nakamura tampak tertuju pada dua orang pengendara motor itu. Nakamura mengangguk-angguk.

"Baiklah. Ayo kita turun."

Begitu mereka turun dari mobil, Nakamura berlari-lari kecil untuk menghampiri dua pengendara motor yang sudah berada beberapa meter di depannya dan menginisiasi percakapan kecil.

"Anu, apakah Anda datang kemari untuk … P.S?" Nakamura menggunakan singkatan Perfect Suicide yang cukup dikenal di ranah dunia maya, di sisi lain Gakushuu yang berjalan di belakangnya sedikit terkejut karena Nakamura menggunakan bahasa formal.

"Ah—begitulah. Anda juga?" Salah satu dari dua pengendara tersebut menjawab. Nakamura mengangguk sebagai jawaban. "Kalau begitu beruntunglah, saya kira saya tersesat."

"Saya juga merasa seberuntung itu." Nakamura tersenyum. "Oh, saya Nakamura. Anda punya motor yang bagus."

"Eh—terima kasih!" Pengendara tersebut mengangguk penuh apresiasi. "Saya Yoshida, dan ini Mimura."

Selanjutnya Gakushuu dapat mendengar percakapan-percakapan tentang motor dari mereka bertiga. Ketiga orang itu tampak bersemangat, sama sekali tidak terlihat bahwa mereka berniat untuk bunuh diri. Sejujurnya, ia cukup terkesan dengan kemampuan Nakamura dalam membawa percakapan dengan orang asing (mengingat bagaimana gadis itu menyuruh Gakushuu untuk membeli gyoza pada pertemuan pertama mereka) seolah ia sudah mengenal orang asing tersebut untuk waktu yang lama. Maehara, yang berjalan di sebelahnya, hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mengomentari.

"Kautahu, waktu kelas 1 SMA, ia biasa memperbaiki mobil keluarganya sendiri," komentar Maehara tanpa diminta. "Ia hobi otomotif. Oh, selain fashion dan makan."

"Mungkin ini baru pertama kalinya aku berjumpa dengan seseorang yang memiliki minat yang begitu luas," timpal Gakushuu dengan nada sedikit nyinyir.

Mereka membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit berjalan sebelum akhirnya sampai di sebuah pondok. Ada logo Perfect Suicide yang ditempelkan di pintu pondok itu, cukup untuk meyakinkan bahwa tempat ini betul-betul tempat yang ingin mereka tuju. Pondok itu kecil, mungkin hanya terdiri dari tiga atau empat ruangan, namun bisa dibilang relatif cukup bersih. Manajer itu pasti sudah membersihkan pondok ini sebelumnya.

"Gaku-chan, kau masuk duluan." Nakamura membuat gestur mempersilakan dengan raut wajah sok ramah yang menyebalkan. Gakushuu memutar matanya, kemudian menyambar kenop pintu dan membukanya.

Yang menyambut mereka di balik pintu adalah ruangan luas dengan meja makan di tengah-tengah, dengan sosok seseorang yang duduk di salah satu kursinya. Sosok itu misterius—wajahnya tertutup oleh tudung jubah hitam yang dipakainya. Meja makan telah ditata serapi mungkin. Tujuh gelas wine sudah tersedia di tengah meja. Tidak ada yang tahu gelas yang mana yang berisi obat tidur dan bukannya racun. Nakamura bisa mendengar Nagisa bergumam pada dirinya sendiri, "Apakah ini tidak apa-apa?" dan Koro-sensei menepuk pundaknya pelan. Nakamura tidak bisa menyalahkan Nagisa yang ketakutan—toh keberadaan pemuda itu di sini juga atas paksaannya. Diliriknya Maehara yang tampak serius, dan Gakushuu—ia terlihat tidak nyaman, namun entah kenapa Nakamura memutuskan untuk tidak mempercayai apa yang Gakushuu tunjukkan di luar. Ia merasa yakin bahwa di balik ketidaknyamanan yang Gakushuu tampakkan, ada ketenangan dan logika yang masih berjalan dengan sempurna. Gakushuu mungkin sengaja menampakkan kegelisahan agar ia tidak begitu dicurigai. Wujud profesionalitas yang sewajarnya dimiliki oleh seorang investigator.

"Selamat datang di Perfect Suicide. Saya adalah manajer untuk upacara hari ini." Suara yang terdengar aneh—terdistorsi—datang dari sosok bertudung hitam di kursi makan. "Silakan duduk di tempat yang sudah disediakan, sebelum kita memulai upacara suci ini."

Gakushuu ingin sekali berkomentar bahwa ia terganggu dengan penyebutan bunuh diri massal sebagai upacara suci, namun tentu saja ia harus mengunci mulutnya di saat-saat seperti ini. Ia menarik kursi di sebelah Nagisa, yang tampaknya masih cemas, kemudian duduk tanpa menimbulkan suara yang berarti.

"Baiklah, mari kita mulai." Setelah semuanya duduk, suara aneh itu terdengar kembali. "Pertama-tama, silakan letakkan barang peninggalan dan surat wasiat Anda di atas meja. Tolong pastikan Anda telah membungkus barang tersebut dan mencantumkan nama serta alamat Anda pada bungkusnya, seperti yang sudah dijelaskan dalam e-mail instruksi."

Semuanya menurut. Masing-masing mengeluarkan bungkusan dari tas—atau jaket, untuk Yoshida dan Mimura yang tidak membawa tas sama sekali—dan meletakkannya di atas meja. Tidak lama setelahnya, sang manajer kembali berbicara.

"Jika sudah siap, silakan masing-masing mengambil minuman yang sudah tersedia. Seperti yang sudah tertulis pada peraturan Perfect Suicide, peserta yang tidak memiliki racun dalam minumannya harus melakukan tugas-tugas manajer selanjutnya." Sang manajer berhenti berbicara sementara para peserta upacara bunuh diri mengambil masing-masing satu gelas. Gakushuu memeriksa cairan yang mengisi gelasnya baik-baik. Dari segi warna, minumannya tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan gelas-gelas yang lain. Semua gelas memiliki warna wine yang nyaris sama. Ia mencoba menganalisis racun apa yang digunakan dalam upacara ini.

"Mari bersulang untuk terakhir kali."

"T-tunggu!"

Semua mata beralih ke arah Maehara. Pemuda itu bergetar di tempatnya dengan kepalan tangan mengepal, tatapan matanya nanar mengarah pada sosok bertudung sang manajer. Nakamura meletakkan kembali gelas yang sudah ia angkat, juga beberapa orang yang lain. Fokus teralihkan pada Maehara yang tampaknya ingin mengatakan sesuatu.

"Ada apa?"

"Kau … kau adalah manajer upacara kali ini, berarti kau ada di sana saat upacara bunuh diri seminggu lalu, kan?" berondongnya setengan berteriak. "Apa-apa saat itu ada seseorang yang melarikan diri?"

"Tidak ada," jawab sang manajer tegas. "Semuanya meninggal berdasarkan prosedur—"

"Jangan bohong!" Kali ini Maehara benar-benar berteriak sampai Yoshida yang duduk di sebelahnya tersentak. "Kau … kau membunuh salah satu dari mereka, kan? Kau—"

"Jangan mengada-ada."

"Tidak usah berbohong!"

"Hiro!" Nakamura berseru panik ketika Maehara bangkit dari duduknya dan mulai menyerbu sosok sang manajer bertudung itu. Sambil berteriak-teriak dengan emosional, Maehara menggoyang-goyang sosok itu dengan keras, sampai akhirnya sesuatu jatuh melorot dari balik tudung hitam itu—kepala sebuah boneka yang dipasangi kabel-kabel transmiter dan pengeras suara.

Sosok bertudung itu hanya boneka. Gakushuu bangkit dari kursinya dengan cepat. Manajer yang asli tidak ada di sini.

"Bo-boneka?" Mimura berteriak sambil melompat mundur. "Di-dia bukan manajer yang asli."

"Manajer yang asli pasti masih ada di sini …" Gakushuu menggumam, lalu dengan gerakan cepat mengobservasi sekeliling. Tidak lama kemudian ia mendengar suara gemerisik daun dan ranting dari balik jendela—ada seseorang. Ada seseorang di luar pondok ini. Kemungkinan besar itu adalah sang manajer yang mengawasi dari luar. Gakushuu mendecih. Bersamaan dengan itu, Gakushuu merasakan ada tetes-tetes cairan yang jatuh dari atap. Tidak hanya mengenainya, tapi seisi ruangan tampak mulai becek oleh cairan tersebut. Baunya khas—gasolin? Oh tidak. Berbagai kemungkinan buruk segera melintasi benaknya dengan cepat. Apa sang manajer berniat untuk membakar mereka hidup-hidup? Ia harus segera bertindak.

"Shiota, Maehara-san, Yoshida-san, Mimura-san, cepat keluar, ini gasolin!" teriaknya memberi komando. "Nakamura, Koro-sensei, manajernya ada di sekitar sini!"

Berdasarkan komando Gakushuu, semua orang di dalam pondok segera berlari keluar. Di luar, Gakushuu bisa melihat dengan jelas sosok sang manajer yang asli, mengenakan jaket tebal dan helm, berlari di balik semak-semak.

"Oi, tunggu!"

Orang itu berlari semakin cepat. Mereka memutuskan untuk berpencar, dengan Gakushuu dan Nakamura mengejar sang manajer dan sisanya bergegas menuju jalan utama dan bersiaga di sana. Hanya ada satu jalan setapak sebagai akses utama menuju pondok sehingga awalnya Gakushuu mengira tidak akan sulit memprediksi ke mana sang manajer itu akan berlari, pada kenyataannya ia salah besar. Manajer itu menguasai medan gunung lebih daripada mereka dan ia bergerak dengan sangat lincah seperti kancil, menginjak-injak harga diri Gakushuu yang sudah pernah mengabdikan dirinya di unit investigasi paling bergengsi di Jepang. Nakamura menyusul di belakang Gakushuu, terengah-engah, sama kebingungannya dengan Gakushuu dalam menentukan arah.

"Gaku-chan, di sana!"

Nakamura menemukan manajer tersebut melompati suatu undakan tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Gakushuu mengejar, melompati undakan tersebut disusul dengan Nakamura—yang beruntungnya memilih flat shoes untuk hari ini. Sayang sekali, buruan mereka sudah bergegas menaiki sebuah motor yang kemungkinan sudah diletakkannya sejak awal di situ. Ia menjalankan motornya melewati jalan setapak yang ada—Gakushuu dan Nakamura masih berusaha untuk mengejar—namun motor itu mencapai jalan utama lebih cepat daripada yang mereka duga.

"Nakamura, request back-up!" seru Gakushuu. Selagi Nakamura berusaha meraih alat komunikasinya, Gakushuu berusaha menembak ban motor sang manajer dengan pistolnya, sayangnya tidak ada pelurunya yang berhasil menembus lapisan karet itu.

"Sial!" gerutunya.

"Mereka sedang dalam perjalanan kemari, kecepatan penuh!" seru Nakamura setelah menerima pesan lewat alat komunikasinya. "Setelah ini kita serahkan saja pada Koro-sen—"

Kalimat Nakamura barusan terhenti oleh suara tabrakan keras yang berasal tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Keduanya berpandangan, tampaknya memikirkan hal yang sama. Lalu lintas di tempat ini sangat, sangat sepi, sehingga kemungkinan bahwa suara tabrakan itu berasal dari motor yang mereka kejar sangatlah besar. Tanpa menunggu apa-apa lagi, mereka berdua berlari secepat mungkin dan menemukan asap membumbung dari balik pagar pembatas antara jalan dengan jurang. Pagar pembatas itu tampak bengkok di suatu bagian, dan hal itu cukup untuk menimbulkan firasat buruk.

Benar saja. Sosok berjaket dan berhelm yang mereka kenali sebagai sang manajer sudah tergeletak di atas bebatuan, dengan sepeda motor yang mengepulkan asap, rusak dan terbakar di beberapa bagian. Nakamura menelan ludahnya. Gakushuu terpaku.


Hal pertama yang dilakukan Nakamura setelah kembali ke kantornya adalah duduk di ruang tatami dan mengeluarkan peralatan kaligrafinya. Urusan otopsi mayat dan penyelidikan lainnya ia serahkan sepenuhnya pada Gakushuu—yang terpaksa bekerja sama (lagi) dengan Koyama, bawahannya di SIS, dalam proses identifikasi mayat. Koro-sensei, Nagisa, dan Maehara juga harus memberikan kesaksiannya. Kesaksian dariku bisa diberikan belakangan, begitu pikir Nakamura, ada hal penting lainnya yang harus kuselesaikan terlebih dahulu.

Tinta sumi menyatu dengan kertas. Kuas menari-nari membentuk huruf-huruf kanji.

Bunuh diri.

Kilasan-kilasan adegan muncul di kepala Nakamura dalam setiap torehan garis.

Racun.

Manajer.

Sepeda motor.

Obat tidur.

Nakamura mengangkat kuasnya. Bersamaan dengan itu, sebuah senyum tertoreh; senyum puas.

"Aku mengerti sekarang."


"Apa yang ingin kaubicarakan?"

Nakamura tahu, Maehara masih lelah setelah rentetan kejadian yang terjadi hari ini. Itu yang menjadi alasan raut wajah penuh penyesalan yang ditunjukkannya ketika menyeret kembali pemuda itu ke kantor Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural, dengan alasan hal yang ingin dibicarakannya ini sangat penting sehingga Maehara harus mengikutinya. Toh Maehara tidak punya kekuatan tersisa untuk menolak, sehingga ia mengikuti Nakamura dengan langkah-langkah gontai. Begitu bertemu dengan sofa, ia segera mendudukkan dirinya di sana, tampak begitu lelah setelah berjalan beberapa menit saja—padahal di ruang kesaksian tadi, ia selalu duduk. Nakamura duduk di seberangnya, memandangi dengan sedikit khawatir.

"Maaf, kau benar-benar capek, ya?" tanyanya. "Mau kubuatkan kopi? Teh?"

"Ngg, tidak usah. Sudah minum kopi banyak tadi," jawab Maehara. "Jadi, ada apa?"

"Sedikit saja, aku ingin bicara denganmu tentang kasus hari ini," Nakamura berujar sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.

"Kasus hari ini—bukankah orang itu, Horibe Itona, yang sudah membunuh Kaho?" gumam Maehara pilu. "Dia bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri ke jurang, bukan? Pasti pengecut itu tidak ingin perbuatan busuknnya ketahuan oleh polisi…."

Nakamura menaikkan salah satu sudut bibirnya.

"Sayangnya ia tidak bunuh diri seperti dugaanmu," tukasnya cepat. "Penyebab ia jatuh ke jurang adalah rem yang rusak."

"Rem?" Maehara mengerjapkan matanya. Nakamura mengangguk.

"Karena motor itu sudah berhasil membawa sang manajer sampai ke daerah pedalaman gunung seperti itu, maka aku berasumsi bahwa remnya masih baik-baik saja sampai pada saat ia melarikan diri dengan menggunakan motor itu," jelas Nakamura. "Kami menemukan bekas ban yang selip akibat rem yang rusak di aspal jalanan dekat pagar pembatas. Oleh karena itu, aku percaya bahwa remnya telah dirusak."

"Begitu …" desah Maehara pelan. "Tapi—siapa yang merusaknya? Apa jangan-jangan ada orang lain di pondok itu yang juga menyimpan dendam pada Horibe Itona?"

Nakamura menggeleng. Helaan napas panjang yang dilakukannya kemudian tiba-tiba menerbitkan hawa ketegangan di dalam ruangan.

"Tidak, di pondok itu tidak ada siapa-siapa lagi selain kita berdelapan," jelasnya. "Oh, aku tidak suka menjelaskan hal ini, tapi …."

"Jelaskan saja," ujar Maehara mantap. "Aku butuh tahu kebenaran di balik kasus ini, bukan?"

Kalimat Maehara barusan membuat Nakamura berdecak pelan.

"Oh ya, ya, kau butuh tahu. Hmm. Tapi sebetulnya kau sudah tahu kan, kebenaran di balik kasus ini?"

"Hah?" Maehara menatap Nakamura heran. "Apa maksudmu."

"Hiro, kau yang sudah membunuh manajer itu, bukan begitu?"

Tentu saja pernyataan barusan adalah sesuatu yang di luar prasangka Maehara. Dituduh seperti itu membuat pupilnya melebar dan dahinya mengernyit. Ditatapnya Nakamura dengan bingung.

"Hei, hei, jangan bercanda, Rio. Aku selalu bersama kalian dari awal sampai akhir. Lalu bagaimana bisa aku merusak rem motornya?"

Bibir Nakamura mengerucut, ekspresi yang sebetulnya tidak lazim ditunjukkan oleh seorang polisi yang baru saja menuduh kliennya sebagai pembunuh.

"Hhh, aku sudah bilang aku tidak suka menjelaskan hal ini, tapi tidak ada cara lain," gerutunya. "Oke, aku akan mengatakannya langsung saja. Tolong jawab aku dengan jujur. Kau punya kekuatan telekinesis. Ya atau tidak?"

Pertanyaan itu terdengar begitu aneh sehingga rasanya tidak salah bagi Maehara untuk menertawakannya.

"Telekinesis? Seperti … kekuatan untuk membengkokkan sendok hanya dengan menatapnya?" tanya Maehara setengah tidak percaya, setengah meledek. "Rio, jangan bicara yang tidak masuk akal—"

"Awalnya aku juga menolak untuk mempercayainya, tapi aku punya buktinya."

Nakamura bangkit dari duduknya, kemudian mengisyaratkan pada Maehara untuk mengikutinya. Dengan bingung, Maehara menuruti langkah-langkah Nakamura sambil bertanya-tanya. Bagaimanapun juga ia sudah mendapatkan dua tuduhan hari ini—tuduhan pembunuhan dan tuduhan kepemilikan kemampuan supernatural. Kebingungan adalah reaksi yang wajar.

Langkah-langkah Nakamura berhenti di depan pintu loker. Maehara ingat loker itu, loker yang awalnya tidak bisa dibuka karena entah apa yang salah dengan lubang kuncinya, namun akhirnya terbuka setelah Gakushuu tampaknya merusaknya. Maehara menatap Nakamura lurus-lurus, gadis itu masih mempertahankan ekspresi datar sambil menunjuk-nunjuk pintu loker itu.

"Apa hubungannya pintu loker dengan ini semua?"

"Coba kauperhatikan selot kuncinya," Nakamura menunjuk bagian dalam pintu loker itu. "Awalnya kukira pintu loker ini terbuka karena Gaku-chan merusaknya. Tapi seandainya memang Gaku-chan yang merusaknya, maka selot ini akan patah dan bukannya bengkok dan mengkerut seolah baru saja dipelintir seperti ini. Yang waktu itu merusak kunci loker ini saat itu kau kan, Hiro?"

Maehara tertawa geli. "Yang benar saja! Kaupikir hanya hal seperti ini bisa membuktikan bahwa aku yang melakukannya?"

"Aku menemukan bekas yang sama pada tuas rem motor yang dikendarakan oleh manajer," jelas Nakamura sambil mengeluarkan sesuatu dari saku blazernya. Benda itu adalah sebuah tuas rem motor yang sudah dibungkus plastik, ada bekas-bekas pelintiran pada ujungnya, bekas yang mirip dengan apa yang ada pada selot kunci pintu loker. Maehara meneguk ludahnya, pupil matanya melebar.

"Berdasarkan kesaksian dari Nagisa, saat itu kau tidak langsung berlari ke mobil, tapi ikut mengejar manajer itu bersama kami, tapi tidak lama. Mungkin saat itu kau memang berniat mengejarnya, namun begitu melihat manajer itu mengendarai motor, kau langsung berubah pikiran dan akhirnya memilih untuk merusak rem motornya saja. Tentu saja kau tidak perlu menyentuh atau mendekati motor itu karena dengan kemampuan telekinesismu, kau bisa merusak remnya dari jarak jauh."

Penjelasan Nakamura barusan membuat Maehara mundur selangkah. Ia menggertakkan gigi, terlihat sangat marah. Kepalan tangannya bergetar. Dipandangnya Nakamura dengan nanar.

"Kenapa kau melakukan hal itu?" Kali ini Nakamura melembutkan intonasi suaranya. "Kenapa kau harus membunuhnya?"

"Dia—dia membunuh Kaho!" seru Maehara terbata-bata. "Manajer itu … Horibe Itona, dia hanya seorang kriminal yang sudah membunuh orang yang tidak bersalah, bukan begitu? Aku hanya ingin membalaskan dendam Kaho!"

Nakamura menghela napas. Panjang. Ada kilatan emosi yang muncul pada matanya; rasa kasihan, dan rasa bersalah.

"Hiro, apa kautahu dimana Kaho-san sekarang berada?"

"Hah?" Maehara mengerjapkan matanya bingung. "Dia-dia sudah dibunuh, kan? Oleh Horibe Itona?"

"Kaho-san ada di ruang otopsi rumah sakit Kepolisian Tokyo saat ini." Gadis itu mengeluarkan sebuah foto dari saku blazernya, kemudian menunjukkannya pada Maehara yang terbelalak. "Karena sebetulnya, manajer upacara bunuh diri yang kita ikuti adalah Tsuchiya Kaho-san."

Maehara terpaku pada tempatnya. Ditatapnya foto yang ditunjukkan Nakamura dengan tidak percaya. Foto itu menunjukkan sosok Kaho, pucat dan tidak bernyawa, dengan balutan jaket yang sangat Maehara kenali. Jaket itu dipakai sang manajer yang ia kejar. Sang manajer yang ia rusak tuas rem motornya.

"Jangan bercanda!" teriak Maehara pilu. "Ini tidak mungkin—Kaho—seharusnya ini tidak—"

"Aku sudah membicarakan hal ini dengan Gaku-chan, dan kami sepakat bahwa kami menduga tidak ada pembunuhan apa-apa pada sesi upacara bunuh diri yang diikuti Kaho-san," terang Nakamura. "Semuanya berjalan sesuai prosedur. Hanya saja, Kaho-san mendapatkan obat tidur dan bukannya racun seperti yang ia harapkan. Ia terpilih menjadi manajer. Tidak ada pembunuhan."

"Tapi, hanya Horibe Itona yang tidak mendapatkan paketnya—keluarga Kaho mendapatkan surat wasiat dan barang peninggalannya, bukan? Dan hei, apabila ia memang benar-benar manajer, ia pasti melihatku saat itu, kan?" Maehara meraih bahu Nakamura dan mengguncang-guncangnya. "Kenapa ia berbuat seperti itu? Menumpahkan gasolin, membiarkanku minum wine yang siapa tahu bisa membunuhku—"

"… Ingat perkataan Tsuchiya-san saat kita bertanya padanya soal Kaho-san?" gumam Nakamura lirih. "Karena tekanan yang dirasakannya, Kaho-san mengancam pada ibunya bahwa ia akan bunuh diri. Pada kenyataannya, ia tidak mati, dan ia tidak ingin keluarganya tahu bahwa ia masih hidup. Kaho-san ingin keluarganya bersedih karena ia sudah mati. Maka dari itu ia memutuskan untuk tetap mengirim surat wasiat dan barang peninggalannya pada keluarganya, sebagai gantinya ia tidak mengirim surat wasiat dan barang peninggalan milik salah satu peserta lain yaitu Horibe Itona. Dan soal kejadian di pondok itu … Kaho-san sama sekali tidak berniat untuk membakar pondok. Ia tidak membawa pemantik atau korek untuk menyalakan api, mungkin ia menyiramkan gasolin itu hanya sebagai distraksi. Oh, dan kau juga harus tahu satu hal, semua wine yang ada di pondok saat itu hanya berisi obat tidur. Tidak ada racun."

Maehara menatap Nakamura tidak percaya. Gadis itu memalingkan wajahnya menghindari tatapan tajam Maehara.

"Kaho-san tentu saja tahu kau datang. Bagaimanapun juga, aku telah mendaftarkan namamu." Kembali Nakamura menjelaskan dengan lirih. "Mungkin ia tengah berada dalam tekanan yang begitu berat sehingga ia memutuskan untuk menghubungimu. Saat ia melihat namamu dalam daftar nama peserta upacara bunuh diri, tentu saja ia tidak bisa memberikanmu wine beracun … oleh karena itu ia tidak memberikan racun pada minuman kita. Ia mungkin ingin membawamu kabur dan menjelaskan segalanya setelah itu."

"Bohong … kau pasti bohong … kan …." Maehara merosot, lututnya membentur lantai. Jari-jemarinya bergetar, masih menggenggam blazer Nakamura seolah enggan untuk melepaskannya. "Hei, Rio, kau hanya mengada-ngada kan? Aku tidak membunuh—aku tidak membunuh—"

"Kau terlalu jatuh dalam kebenaran yang kaubuat-buat sendiri, Hiro," gumam Nakamura prihatin. "Seandainya kau bisa menunggu sedikit lagi…"

Teriakan pilu menggema di seluruh ruangan. Nakamura memalingkan wajahnya sekali lagi, tidak ingin memperlihatkan Maehara matanya yang kini sudah berair. Orang-orang itu benar, menyampaikan kebenaran memang kadang lebih sulit daripada berbohong. Maehara masih berteriak, kondisi emosionalnya benar-benar tidak stabil setelah penjelasan yang diberikan Nakamura barusan. Ia masih sulit mempercayai hal ini—sungguh, awalnya ia hanya ingin menyelamatkan Tsuchiya Kaho, namun sekarang apa yang terjadi?

Ia membunuhnya.

Kini teriakan tersebut berpadu dengan suara kaca yang pecah dan benda-benda yang berjatuhan. Dengan panik, Nakamura melihat ke sekitarnya—keadaan kantor mulai kacau dengan lampu-lampu yang pecah dan barang-barang yang bergetar di tempatnya, beberapa mulai berjatuhan. Salah satu lemari jatuh, dan pintu belakang penyok. Buru-buru Nakamura berjongkok kemudian mengguncangkan tubuh Maehara yang masih berlutut lemas sambil menggenggam pakaiannya.

"Hiro, Hiro, tenangkan dirimu!" seru Nakamura panik. "Kendalikan emosi dan pikiranmu! Hiro, kaudengar aku, Hiro!"

"Oi, oi, ribut-ribut apa ini!" Gakushuu tiba-tiba menyerbu masuk dari lift kerangkeng, dan begitu menemukan keadaan kantornya sudah kacau balau wajahnya langsung berubah terkejut. "Nakamura! Ada apa?"

"Gaku-chan, bantu aku menenangkan Hiro! Kalau ia begini terus, semuanya akan—"

Kalimat Nakamura terhenti.

Bukan—semuanya terhenti.

Gerakan Gakushuu yang berlari ke arah Nakamura juga terhenti. Kepingan-kepingan kaca dari pecahan lampu juga berhenti di langit-langit. Suasana sunyi. Pemandangan di ruangan ini sekarang tampak seperti adegan dalam film yang sedang dihentikan. Nakamura tidak bergerak. Bahkan Maehara yang tadinya sedang bergetar terisak juga berhenti bergerak, jam dinding berhenti berdetak. Waktu seolah membeku di tempat ini.

Segalanya masih membeku ketika seorang sosok misterius dengan tudung hitam menutupi sebagian wajahnya memasuki ruangan, lalu berjalan dengan santai di antara benda-benda yang mengambang di udara dan serpihan kaca. Beberapa serpihan kaca itu menggores parkanya, namun ia tidak peduli. Suara langkah kakinya menjadi satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu sekarang.

"Sayang sekali, Maehara-kun." Sosok itu berjongkok di dekat Maehara, berbisik di dekat telinganya. "Niatmu membalas dendam, tapi siapa yang tahu segalanya malah berakhir seperti ini."

Suara dengusan terdengar dari balik tudung hitam tersebut.

"Ditambah lagi kau juga gagal menjalankan misi yang kuberikan. Sial benar hidupmu, ya." Sosok itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tadinya kau mau kueksekusi di tempat sekarang, tapi kupikir aku masih bisa memanfaatkanmu untuk beberapa hal lagi. Kaubisa berterimakasih nanti, ya."

Ia mengulurkan tangannya yang diselimuti sarung tangan kulit hitam ke arah punggung Maehara, namun gerakannya terhenti ketika ia merasakan sesuatu. Sesuatu yang sangat aneh. Ia merasakan ada tatapan tajam mengarah ke arahnya. Begitu ia menoleh ke arah perasaan tajam itu berasal, ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutan akan apa yang ia lihat.

Nakamura menatapnya. Tajam. Satu hal yang nyaris tidak mungkin mengingat tadi, sebelum segalanya berhenti, Nakamura memandang ke atas, ke arah Gakushuu yang tengah berlari menghampirinya. Yang dilihatnya sekarang adalah sepasang mata yang memandang tajam ke arahnya, ke bawah, ke tempat dimana ia berjongkok di sebelah Maehara. Seolah kedua mata itu adalah satu-satunya hal yang tidak berhenti di ruangan yang segalanya serba diam ini.

"Bagaimana bisa—"

Sosok bertudung itu mendeteksi sebuah gerakan. Kecil, nyaris tidak terasa, tapi ia merasa hal tersebut adalah hal yang cukup berbahaya.

"—Sial."

Ia segera menggenggam lengan Maehara, kemudian menghilang bersamanya. Bersamaan dengan itu, waktu di dalam ruangan kembali mengalir—benda-benda yang melayang di langit berjatuhan, serpihan kaca mendarat di lantai. Ruangan tak lagi sunyi, suara benda berbenturan bergema, kepingan kaca yang berserakan menimbulkan suara derik yang mengganggu telinga. Tatapan Nakamura nanar, ekspresinya horor—sementara Gakushuu mengerem langkahnya cepat-cepat begitu menyadari bahwa Maehara sudah menghilang dari posisinya barusan.

"Apa yang—"

"Goddamn it!" Nakamura berseru seperti refleks dan mengacak rambutnya frustrasi. "Orang itu—orang itu tadi ada di sini!"

Gakushuu mengerjap-ngerjapkan mata cepat, bingung sekaligus panik. "Orang—orang mana? Siapa maksudmu? Dan—kenapa klien kita menghilang?"

"Shinigami tadi ada di sini! Bertudung hitam—aku tahu itu pasti dia, dan aku membiarkan dia lolos tepat di bawah hidungku sendiri, f—king shit!" Gakushuu bertaruh ini baru pertama kalinya ia mendengar Nakamura mengumpat begitu rupa. "Damn it, kenapa aku begitu bodoh!"

"Dia … dia ada di sini?" Gakushuu terdengar sedikit panik mendengar perkataan Nakamura barusan. "Shinigami … pemilik SPEC yang berbahaya itu?"

Kembali Nakamura mengacak-ngacak rambutnya seolah ia ingin melepaskan helai-helai pirang itu dari tengkorak kepalanya. Ia begitu kusut, kesal, dan marah, mungkin baru kali ini Gakushuu melihat Nakamura begitu emosional.

"Orang itu … Shinigami … punya SPEC yang sangat kuat," gumam gadis itu lirih, seolah ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya. "Ia bisa menghentikan aliran waktu."

Gakushuu tersentak. Ditatapnya Nakamura tidak percaya.

"Menghentikan … waktu?"

Wajah Nakamura tampak sedih di balik rambutnya yang kusut. Ada keperihan yang tidak bisa Gakushuu deskripsikan terpantul pada mata birunya.

"Makanya waktu itu pernah kubilang padamu kalau pemilik SPEC bisa menjadi orang yang sangat berbahaya. Sekarang percaya padaku?"


The power, hereinafter referred as SPEC, is a manifestation of one's brain's maximum potential, comes as a sort of idiosyncratic power depending on the owner's wish, passion, or aptitude. Source of the power is still unknown, but we do believe that the source of SPEC is irregular brainwaves emitted by a person who had break the 10% limit of brain usage. Due to this phenomenon, we conclude that human's brain still can evolve some more. Unlocking one's SPEC is a first step to a higher level of human brain evolution.

(Y.A & I.J)


"Ke mana Nakamura?"

Pagi ini, yang menyambut Gakushuu adalah pemandangan yang tidak biasa. Kantor Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural ramai, tapi oleh petugas-petugas yang datang untuk membetulkan aliran listrik, memasang lampu-lampu baru, dan berbagai perbaikan lainnya akibat kekacauan kemarin. Koro-sensei ada di kursinya, duduk tenang sambil membaca buku dan mengemil manisan—jika Nakamura masuk kantor hari ini, ia pasti sudah babak belur.

"Ah, Asano-kun, selamat pagi," sambut Koro-sensei begitu bawahannya itu berjalan mendekat. "Nakamura-kun minta cuti hari ini. Tampaknya ia benar-benar kelelahan, baik fisik maupun mental."

Gakushuu mengembuskan napas. "Mungkin aku tidak mengerti, tapi tampaknya aku bisa memaklumi. Ia mengalami begitu banyak hal kemarin," ujarnya sambil menaruh tas di atas meja kerjanya. "Tunggu, berarti yang harus memberikan kesaksian soal menghilangnya Maehara hanya aku? Sialan."

Koro-sensei tertawa. "Hanya satu kali ini saja. Kuharap kau bisa berempati dengan rekan kerjamu sendiri, Asano-kun. Bagaimanapun juga, Maehara-san merupakan orang yang signifikan untuknya."

"Ya, aku mengerti," Gakushuu mengeluarkan laptop dari tasnya, berniat untuk mengerjakan laporan sebelum tiba-tiba teringat sesuatu. "Ah, Koro-sensei, aku sudah membaca jurnal penelitian yang kauberikan kemarin. Penelitian tentang … SPEC."

Butuh tiga detik bagi Koro-sensei untuk mencerna perkataan Gakushuu barusan sampai akhirnya ia mengangguk-angguk mengerti. Seusai kekacauan kemarin, Koro-sensei diam-diam memberikan Gakushuu sebuah map kulit yang berisi data-data penelitian. Semua data tersebut ditulis dengan tangan, di atas kertas yang sudah mulai menguning. Data-data tersebut terdiri dari belasan kertas berisi angka-angka yang tidak bisa Gakushu mengerti maksudnya, dan dua halaman berisi coret-coretan serta abstrak penelitian.

"Aku tidak begitu mengerti dengan angka-angkanya, namun abstraknya … oke, aku mengerti dengan konsep SPEC yang dirumuskan para peneliti ini," gumamnya. "Aku sendiri kaget ternyata ada penelitian tentang SPEC, tapi kenapa para peneliti ini tidak memasukkannya ke jurnal-jurnal internasional? Alih-alih malah menuliskannya di kertas seperti ini … ini penelitian yang sangat penting, bukan? Maksudnya, ini menyangkut evolusi otak manusia ..."

Koro-sensei tersenyum mendengar komentar Gakushuu barusan.

"Aku sudah menduga kau akan berkata seperti itu, Asano-kun. Tapi, bisakah kau mengesampingkan dulu pertanyaan itu untuk sekarang?" ujar Koro-sensei bijak. "Aku memberikanmu jurnal itu hanya dengan satu tujuan—kau memiliki gambaran apa itu SPEC sebenarnya. Untuk kisah di balik penelitiannya … aku yakin, suatu saat kau akan mengetahuinya sendiri."

Gakushuu tertegun. Koro-sensei tersenyum, misterius, namun anehnya membuat wajahnya begitu teduh.

"Aku akan mengetahuinya sendiri?"

"Yup!" seru Koro-sensei ceria sambil mengempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Gakushuu terdiam, wajahnya penuh dengan rasa penasaran dan kebingungan. "Oh ya, Asano-kun, aku boleh minta tolong sesuatu?"

Pengalihan pembicaraan yang tiba-tiba ini membuat kebingungan Gakushuu bertambah. "Minta tolong apa?"

"Shift-mu selesai nanti sore, kan? Aku ingin kau mengantarkan ini ke rumah Nakamura." Koro-sensei menunduk, meraih laci di bawah mejanya kemudian mengeluarkan setumpuk berkas dari sana. "Ia meminta tolong dibawakan berkas lengkap kasus Perampok Tak Terlihat ke rumahnya sore ini."

Bahkan ketika ia tidak ada di sini juga tetap saja merepotkan, batin Gakushuu geram. Ia ingin menolak, namun mengingat Koro-sensei memintanya dengan begitu sopan dan terlebih lagi ia adalah atasannya, tentu saja akan sangat kasar dan tidak sopan bagi Gakushuu untuk menolak. Lagipula hanya mengantar berkas ke sebuah rumah yang pastinya masih ada di daerah Tokyo. Gakushuu akhirnya mengiyakan, mengabaikan kegeramannya sebelumnya. Tak lama kemudian ia baru teringat bahwa ia tidak tahu sama sekali di mana gadis itu tinggal.

"Alamatnya akan kukirim lewat pesan singkat," ujar Koro-sensei seolah ia bisa membaca pikiran Gakushuu.

"Baiklah." Gakushuu mengangguk.


Jika tidak diingatkan Koro-sensei beberapa menit yang lalu, Gakushuu pasti akan langsung membelokkan mobilnya ke apartemennya alih-alih menyusuri Minato-ku untuk mencari rumah Nakamura. Ia tahu ia sudah menerima tugas ini dengan (seharusnya) lapang dada, tapi tetap saja ia menemukan dirinya sedikit mengumpati Nakamura. Seharusnya sekarang ia sudah beristirahat di kamarnya yang hangat, mungkin sambil makan semangkuk katsudon atau minum sedikit bir.

Rumah Nakamura nyatanya tak begitu sulit dicari. Mobilnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana, mungkin berlantai dua, dengan cat berwarna krem dan halaman depan yang penuh tanaman bunga. Tampak seperti rumah-rumah pada umumnya. Entah kenapa Gakushuu memiliki bayangan bahwa rumah Nakamura mungkin berbentuk seperti kastil nenek sihir atau semacamnya, sehingga ketika mengetahui bahwa rumah Nakamura tak ubahnya rumah sederhana biasa, ia sedikit terkejut. Sekaligus ingin tertawa sedikit.

Pagar depan rumah itu tidak dikunci, sehingga Gakushuu mempersilakan dirinya sendiri untuk masuk dan memencet bel yang terletak di dekat pintu masuk utama. Begitu tangannya terangkat untuk memencet bel, pandangan matanya jatuh pada satu hal yang begitu menarik perhatiannya—papan nama di bawah bel tersebut. Dua kanji yang tercantum pada papan nama tersebut cukup untuk membuatnya kebingungan.

"… Akabane?" bisiknya bingung. "Tapi—dia Nakamura, kan?"

Suara ceklik dari kenop pintu terdengar. Dari balik pintu muncul seorang wanita separuh baya, dengan rambut merah lurus menjuntai sepanjang bahu, memandang Gakushuu penuh tanya.

"Ya?"

.

.

.

to be continued.