Ini khusus chapter galau...

Niat nya sih mau bikin hurt, tapi kok rasanya...

Ya, reader aja yang baca dan nilai sendiri aja..

HIK,HIK..(Eri jadi ikut galau)

Chapter 3

***Suaraku tak sampai padamu?***

salam eri,

Happy food (mat makan)


" Aku takut..."

Isak tangis menggema di ruangan lantai tujuh. Tadinya itu sebuah kelas tapi sekarang sudah tidak bisa di kenali lagi, begitu kumuh dan dan kursi patah tercecer tak beraturan di sekitar ruangan. Pecahan kaca bertebaran di lantai. Semua seperti baru saja terkena angin taifun.

" Jangan menangis lagi..." Kata Naruto lembut.

Hinata, gadis itu begitu menyaksikan Naruto di keroyok ramai-ramai dengan benda keras oleh orang-orang Akatsuki, rasanya melihat Naruto masih bernafas adalah mimpi di atas mimpi. Suatu mukzizat...

"Mereka sudah pergi, tersenyumlah," Pinta Naruto sambil memeluk tubuh Hinata yang bergetar hebat.

Naruto membuka jas sekolahnya, lalu dilanjutkan melepaskan baju seragam putihnya. Sehingga Kini Naruto tak memakai atasan sama sekali, hanya tertinggal celana panjang. Matanya menatap lekat Hinata yang meringkup ditembok tanpa busana (hanya pakaian dalam)

" Pakai ini!" Perintah Naruto sambil menyodorkan terpaku, menatap seragam lalu ke Naruto bergantian.

"Apa harus ku pakaikan...?" Tanya Naruto.

Bluush...

Wajah Hinata seperti terpanggang. Belum pernah ada seorang laki-laki pun yang melihatnya memakai baju. Lebih memalukannya lagi dia memakai baju orang yang di sukainya, penyelamatnya.

"Hei, aku ingin kamu berjanji satu hal,"Kata Naruto tiba-tiba. Gadis itu berhenti mengancing baju seragam Naruto yang kebesaran. Menatapnya.

"Tidak boleh ada yang tahu ' keadaanku ' ini..." Ucap Naruto serius.

"Na-Naruto-kun...?"

Ohok...ohokk, Naruto merasakan dadanya sesak dan perih. Batuknya kembali kumat, dia tak bisa tahan yang satu ini. Seperti ada tangan besi yang mencengkram kepalanya..

Pandangannya mulai tak jelas, berat dan terbalik..

Dia sempat merasakan cairan hangat keluar dari hidungnya.

"Naru~~" suara gadis itu terdengar semakin jauh.

Semua mendadak sunyi seyap.

Dingin...

dan putih..

DUMmm!

Naruto jatuh seketika, membentur lantai yang dingin.

Naruto-kun!?" Jerit Hinata.


Hospital Konoha, 9.12 a.m.

"...Naru-chan, ini Kaa-san. Buka matamu ..."

"Mohon tinggal diluar, bu"

"Apa anakku baik-baik saja? kapan dia akan membuka matanya?"

" Mungkin akan tertidur lebih lama, nyonya. Tolong bersabarlah..."

Suara sayup-sayup itu terdengar tidak jelas, bercampur bau khas rumah sakit. Bau obat dan alchohol sterilisasi.

Naruto seperti setengah tidur, matanya tak mau terbuka tapi dapat mendengar suara itu.

0o0o0o0o

Kushina Prov

Naruto room's. 05.00 P.M.

"Ini semua salahku.." Kata Kushina untuk kesekian kalinya. Wanita cantik berambut merah itu sudah lembur menjaga Naruto 3 hari lebih. Kini matanya memiliki lingkar hitam seperti mata lelah dan pucat.

Kushina duduk di samping anaknya terbaring. Tangannya menggenggam lembut tangan kiri Naruto yang tergeletak tak berdaya.

" Semua hancur karena Kaa-san sendiri.."

Sebuah selang infus menempel erat menghubungkan Naruto dengan suplemen makanan cairnya. Malaikat kecilnya terbaring koma, entah sampai kapan.

" Apa yang harus kaa-san lakukan agar Naru-chan mau memaafkan kaa-san?" Tanpa sadar air mata mengalir di pipinya.

" Kushina. Sudah saatnya kita pulang. kau juga butuh istirahat " Kata Minato sambil merangkul kedua pundak istrinya.

' harus menjaga Naru-chan. Bagaimana jika dia bangun dan tidak melihat siapa-siapa di sini..."

" suster akan menceknya 24 kau butuhkan hanya istirahat."

"Tapi.."

" Kushina, dengarkan aku... Naruto tidak akan suka Kaa-sannya ikut sakit!" Seru Minato untuk terakhir kalinya. Matanya menatap penuh arti kepada Kushina.

"Dasar bodoh, mana mungkin dia yang melakukan itu semua kepada kalian, " Kata Sasuke sore itu.

Dia datang menjenguk kakaknya yang dirawat di bangsal umum rumah sakit.

Tiga hari yang lalu Sasuke melihat anikinya beserta anggota geng akatsuki lain terkapar bersimpah darah di dekat tangga. Sasuke pikir riwayat mereka sudah tamat dan kemudian dia melihat Neji berlari menuju lantai tujuh. Karena penasaran Sasuke ikut mengejar Neji.

Di atas sana, lantai tujuh, ada ruangan terbuka pintunya, mereka mendapai Hinata menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh tergeletak dilantai.

"Percaya atau tidak, ini buktinya" Kata terbaring dengan perban sana-sini.

" Aku tidak pernah tahu aniki dikalahkan anak kelas satu"

Ejek sasuke,"dengan mudahnya!"

"Dia melempariku kursi!Tepat dikepala, tanpa persiapan!" Gerutu Itachi, membela diri.

"DIA BUKAN MANUSIA, DIA MALAIKAT MAUT!OH DEWA JASHIN, LINDUNGILAH AKU!" Jerit Hidan dramatis, tempat tidurnya di sebelah Pein dan Itachi.

"Tuan Hidan mohon tenang! anda mengganggu pasien lain!" Seru suster bertampang galak, melempar tatapan mematikan.

"Kenapa aniki tidak di kamar VIP saja?" Tanya Sasuke prihatin melihat kondisi bangsal umum itu. Kakaknya Uchiha, kenapa tidak menggunakan layanan VIP?pikir Sasuke.

"Hahaha...kau lucu. Aniki tidak mungkin pamer di depan teman-temanku sendiri. Lagi pula otou-san sedang marah di blokir semua" Kata Itachi santai.

"Hn" Dengus Sasuke. Dia tidak pernah bisa membaca jalan pikiran anikinya ini. Menyebalkan.

"Bukankah kau datang ingin menengoknya ?" Tanya Itachi.

Sasuke Prov

Room no. 675, Konoha Hospital. 5.20 p.m.

Klik.

Sasuke melangkah masuk. Sasuke akui kamar Naruto termaksud mewah untuk ukuran kamar pasient. Semua tembok berwallpaper emas indah dan memiliki ruang tunggu sofa empuk serasi sendiri, kulkas 1 pintu dan TV kabel.

Sasuke melihat Naruto terbaring sendirian ditemani bunyi 'pip' pelan monitor. Di kanan-kirinya berderet alat rumah sakit yang rumit dan semua menyambung lewat selang infus ke tangan dan perban dikepala Naruto.

'Separah itukah keadaanmu, dobe?' Kata Sasuke setengah berbisik.

pip...pip...pip..

Yang di ajak bicara tidak merespon.

"Bangunlah. Kau masih ada urusan ?"

pip...pip...pip

" ...Ada yang ingin ku katakan, bodoh!" Sasuke kesal. Benci di kacang-mahalin,

"Heh! Kau tak boleh diam, hanya aku yang boleh diam!Bangun Brengsek!" Sasuke tak tahan lagi dan langsung menarik kasar kerah baju Naruto.

"DOBE! " Teriaknya.

Hening...

Sasuke berlahan mengembalikan Naruto kekasur.

Nafasnya memburu mengeluarkan asap tatapnya wajah pucat itu lekat-lekat.

Sasuke jadi teringat dongeng yang sering dibacakan Itachi padanya. Kisah putri yang terbangun dari tidur abadinya berkat ciuman sang pangeran.

apa cara itu patut coba?

DEG

"Cih...!"

'Pikiran bodoh...'

Di tatap lagi wajah Naruto. Dia terbaring begitu damai. Nafasnya terdengar menderu teratur lewat alat bantu pernafasan.

Di sentuhkan jidatnya dengan jidat Naruto. Wajah kedua pemuda itu hampir tak memiliki jarak pemisah lagi. Berlahan Sasuke melepas alat bantu pernafasan itu. Di pandangnya bibir pucat Naruto.

'Kenapa tak mencobanya ?' Batin Sasuke.

Dikecup lembut bibir pemuda pirang itu. Terasa dingin dan lembut.

' Bodoh sekali. Mungkin aku sudah gila...' Pikir Sasuke.

Tapi dia tak bisa berhenti. Seperti ada perasaan lain yang menahannya. Di lumat bibir Naruto. Belum cukup, Sasuke mencoba memasuki rongga hangat Naruto. menjilati tiap kerongkongan. Lidahnya memainkan lidah Naruto dengan penuh perasaan.

Sasuke tidak hanya bermain di bibir Naruto, ciuman turun keleher jenjang Naruto. Coba di hirupnya aroma khas tubuh Naruto, begitu menggoda dan memabukkan. Sasuke tak tahan lagi, dengan mengikuti narulinya Sasuke langsung memberi kecupan lembut pada leher tan Naruto

...Tunggu dulu!

Sasuke langsung melompat menjauh, sadar apa yang baru saja di lakukan 5 menit yang lalu.

Sasuke mencoba mencernah apa yang baru saja terjadi. Apa yang dia lakukan? Apa dia kesuran atau apa? ini buruk!

" Aku mau kau tak mendekati bocah Namikaze itu lagi!" Ucap Hiashi serius .

Sebenarnya dia tidak pernah sudi repot-repot mengantar putrinya kesekolah tapi karena masalah penting ini dia harus membicarakan secara empat mata.

"Tapi dia sudah menolongku, Ayah.." Jawab Hinata takut-takut. Belum pernah putrinya membantah Hiashi.

" Aku sudah tahu latar belakang keluarga mereka. Darah dan pikiran mereka tidak jauh dari dunia hiburan. " Kata Hiashi.

"Mereka tidak sederajat dengan jiwa bisnis keluarga kita"

Hinata tetap menunduk mendengarkan. Hiashi tak bermaksud kejam menutup masa depan anaknya.

" Aku sudah menemukan calon untukmu. Dia lebih menghargai dunia bisnis karena dia juga anak pengusaha sukses. Nanti akan kukenalkan" Seru Pria setengah baya ini. Mobil terasa melambat dan berhenti tepat di gerbang KHS.

Hinata turun tanpa sepata kata apapun, menghilang diantara punggung siswa-siswi lain.

"Dasar anak jaman sekarang, cium tangan saja tidak!" gerutu Hiashi lalu.

0O0O0O0

Sasuke prov

Konoha High School, 07.32 m.a

" Hari ini kita akan diijinkan memilih club di sekolah" Kata Sakura bersemangat. Dia sekarang di tunjuk menjadi wakil ketua kelas. Jadi dia otomatis mengumumkan di depan kelas.

Pelajaran pertama sengaja di kosongkan untuk ini tiap kelas satu.

' CLUB DAN EKSTRAKULER SEKOLAH 'bunyi tulisan di papan putih kelas.

Semua tampak senang dan memperhatikan Sakura.

"Ne-minna. Aku yangterpaksa akan mendata kalian sekarang" Seru Sakura sambil melempar pandangan kesal ke ketua yang gak bertanggung jawab dan malas, Shikamaru. Si ketua sedang menikmati sekali tidur siangnya di barisan belakang.

"Akan ku bacakan club legal apa saja pilihannya. DAN DENGERIN BAIK-BAIK!" Teriak Sakura ke pada empat orang biang onar :Kiba, Natsu, Grey dan Edward.

" ,aku dengerin kok" Jawab si ayam kate ketus.

" Nanti cepat tua,loh..marah itu tidak baik" kata Grey.

"SIAPA YANG TUA?!" Sembur Sakura.

"Grey, baju mu," Tegur Kiba.

"hwa~!"

Jya... bener aja,lagi-lagi ni orang tinggal pake boxer .

Sasuke menatap hampa lembar formulir penaftaran clubnya.

Sudah seminggu lebih Sejak insiden di rumah sakit itu. Sasuke memang tak bisa melupakannya tapi ada hal lain yang lebih jauh dipikirkannya, Naruto belum bebas dari obnamenya.

Menurut Itachi Naruto tidak terkena pukulan cukup serius saat di keroyok (tetap saja ini tindakan pengecut), tapi kenapa dia lebih lama terbaring koma (Itachi saja 3 hari dirawat besoknya langsung pergi berselancar ke pantai bareng the geng).

Apa ada penyakit lain?

Ekor mata Sasuke tak sengaja menangkap sosok Hinata di depannya. Gadis pendiam ini sudah berada di samping mejanya. Tangannya menyodorkan tas kertas entah apa.

"Apa maumu ?" Kata Sasuke datar.

"Ini seragam Naruto yang dipinjamkan berikan padanya." Pinta Hinata.

"Kembalikan sendiri" Jawabnya ini menggangu saja.

"A-aku tak bisa," Hinata terbata-bata.

"Kalau begitu simpan saja! Dia tak akan berhenti berangkat sekolah hanya karena kehilangan satu lembar saja!" Bentak Sasuke.

" T-Tapi me-memang..." Gadis itu seperti ingin menangis lalu berlari meninggalkan kelas.

Sasuke bengong.

" Tu cewek emangnya slalu gitu,ya?" Tanya yang paling suka nimbrung urusan orang ini datang mendekat di ikuti Edward, Natsu dan Grey ( sambil pake baju).

"Kayaknya terpukul banget karena pacarnya blom sadar dari komanya" Kata Natsu sok prihatin.

" Siapa pacar-siapa?" Tanya Karin. Nah, ini lagi ikut-ikutan.

"Masa lo gak tahu. Naruto kan pacar Hinata. Apa mungkin tunangan, " Seru Edward sok tahu.

"He, ayam kate, diem lo!" Bentak Karin.

Edward melotot sengit.

"Aku pernah dengar sih kalau Naruto di temukan di lantai tujuh bareng Hinata" Sekarang Sakura yang bersuara.

'' Jangan-jangan mereka sedang 'ehem-ehem' tapi Naruto gak kuat jadinya~mmm!" Belum selesai mulut Edward langsung di bekap Alponso .

"Kakak ngomong apa sih!?"

Mendadak hubungan Hinata dan Naruto jadi bahan gosipan panas. Berbagai asumsi saling adu.

Sasuke yang sudah tak tahan langsung berdiri angkat bicara,

" Kalian ini manusia atau bukan?" Tegurnya.

Semua langsung melirik.

" Dia sedang berduka dan Naruto antara hidup dan mati. Bisa Hargain dikit gak!?"

Sunyi.

Semua menunduk menyesal.

Sasuke muak dan ikut pergi meninggalkan kelas dengan disusul menutup pintu kasar.

Semua menatap pintu dengan ekspresi salah tingkah dan menyesal sekali.

Sasuke benar.

Naruto prov

Naruto mencoba menggerakkan tangannya, kaku sekali... begitu sulit.

Ada yang memegang tangannya. Sebuah tangan hangat. Siapa ? Tangan siapa?anya jarinya yang berhasil digerakkan, itupun pelan.

Sekarang dia mencoba membuka mata.

Dimana ini? kamarku tak sesempit begini... Asing sekali.

Dia menemukan sosok pria entah siapa berambut oranye gaya harazuku, tertidur pulas di sampingnya.

Pria ini yang menggandeng tangannya.

Naruto mencoba memangil dengan membuat suara tapi tenggorokannya terasa kering . Yang terdengar hanya suara erangan serak putus-putus.

Ng...?" Kyubi terbangun karena merasa tangan Naruto bergetar sedikit.

'NARUTO-CHAN!" Kyubi terlonjak kaget mendapi adiknya membuka mata.

"Naruto kamu sudah bangun!?" Kyubi tidak percaya dan langsung memeluk adik kesayangannya itu.

Naruto sempat kaget dan mendorong tubuh Kyubi dengan kasar tiba-tiba.

"Kamu siapa ?" Bentak Naruto. Terlihat takut dan bingung.

Wajar saja adiknya tak mengenalnya, sudah 9 tahun lebih mereka kedunya tak berubah banyak.

"Aku Kyubi. Kakakmu!" Seru Kyubi girang. Tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum.

Naruto melotot. Memandangnya seperti tak mengenalinya.

"Jangan Bercanda! Bicara yang jelas! Kamu s-siapa...!?"

" I,m Kyubi! Namikaze Kyubi. Your big brother!" Jelas Kyubi berlahan plus bahasa tubuh ngawur.

Mungkin adiknya sudah terlalu lama di luar negeri sampai kemampuan bahasa ibunya menurun drastis begini.

Kenapa dengan Orang ini ? Dia memeluknya tiba-tiba lalu bicara tanpa suara.

Sekarang Naruto melihat pria itu betingkah aneh dan bicara bisu seperti orang bodoh.

"Apa kau dengar? Bicara yang JELAS!" Pinta Naruto. Naruto mulai takut kewarasan pria itu. Bagaimana jika dia menyerangnya...

Pria itu menatapnya heran lalu mengguncang-guncang pundaknya.

Dia bicara tanpa suara lagi. Terlihat cemas.

"Jangan permainkan aku! Aku tak bisa mendengarny!" Bentak Naruto.

Pria itu terus mengguncangnya. Alisnya mengkerut.

Pria itu bicara tanpa suara.

" Aku tak deng~!" Naruto terpekik kaget.

Dia bahkan tak mendengar suaranya juga dari tadi.

Ada yang tidak beres. Apa dia memakai busa penyumbat kuping?

Tangan Naruto meraba liar kedua kupingnya.

Tak ada apa-apa...

Di coba bicara lagi. Tak ada suara yang keluar.

Kenapa dengan dirinya? kenapa tak ada suara ?

Naruto mencoba menjerit, berteriak sambil memegang kupingnya.

tetap tak ada yang terdengar.

Pria yang disana juga terus mengatakan sesuatu tanpa ada satupun yang bisa di dengar.

Naruto ketakutan.

Tidak ! Jangan bilang ...

Naruto meraih gelas kaca di meja kecil dekat ranjangnya. Melemparkan asal ke tembok di depan.

Gelas itu menghantam tembok, pecah dan pecahannya mendarat di karpet tak beraturan bercampur air sisa.

Hanya saja dia tak mendengar apa apa...

Tidak ada suara gelas pecah...

Kyubi Prov

Naruto terdiam seketika setelah membanting gelas ketembok.

"Naru-chan? Tenanglah, ini kakak" Kyubi mencoba menenangkannya.

"HUAAAAA~!" Teriak Naruto. Dia menangis dan mencoba menahan Naruto menjambak rambutnya sendiri tapi yang ada dia malah mendorong Kyubi sampai terjatuh.

Kemudian terdengar suara ribut orang masuk kamar.

" Naru-chan...?" Kushina masuk dan menghambur memeluk Naruto.

"Suster tolong siapkan obat penenangnya!" Seru dokter paru baya.

" Baik, dok!" Si suster langsung sibuk dengan suntikkan.

"HWAAAA~"

"Naru-chan! Jangan hanya teriak ayo bilang mana yang sakit!" Kushina terlihat panik mencoba menenangkan adiknya. Memeluk Naruto erat-erat.

"Aku tak bisa mendengar suara Kaa-san!"

"Apa ?"

Bicaralah...!" Tangis Naruto.

"Naru kenapa? Naru pasti bisa dengar..."

"BICALAH KAA-SAN ! " Perintah Naruto frustasi.

"Dokter! Naru-anakku kenapa ?"

"Saya rasa kambuh kembalinya luka di otak kemarin membuat anak anda kehilangan panca indra pendengarannya karena tepat-"

"APA? PENDENGARANNYA, DOK!'' Kushina seperti di sambar petir.

"ya"

"Naru-chan lihat Kaa-san! LIHAT KAA-SAN!" Kata Kushina keras.

Naruto diam sambil menahan isak tangis.

"Akan Kaa-san akan obati! Jangan cemas, Kaa-san tak akan biarkan ini terjadi!" Hibur Kushina sunguh-sungguh.

"Naru-chan, kenapa ini bisa terjadi.." Seru Kyubi berlahan mendekati Naruto yang terisak.

"Naru-chan, ingat Kyubi? Ini Kyu-nii mu." Kata Kushina sambil menarik tangan Kyubi. Naruto menatapnya tidak mengerti.

"Kyubi..." Kyubi mengabil notebook kecil di laci bufet dan menuliskannya disana,

kyubi.

Naruto menatap bergantian Kyubi dan tulisan itu.

lalu...

Berlahan wajahnya berubah ekspresi.

Naruto tersenyum dan langsung melompat kepelukan Kyubi.

"Kyu-nii...?" Guman Naruto dalam dekapan sang kakak yang sudah lama ditunggu.

TBC

****balasReview***

Duh eri mau nangis terharu saking senangnya dapat review dari author and reader lain (croo~t# ngelap ingus di sarung Natsu)

Makasih yang sudah review, as you know, review mmebuat kebahagiaan saya meningkat 80 -99 % (ketahuan banget gak gak pernah bahagi semasa hidupnya )

Nanti eri janji bakal ngajak traktir [ara review di ayam bakar Mbo Darmi yang bakal di bayar full sama om BATMAN # PLAKK

Meski baru segini yang review tapi eri merasa fanficnya dihargai banget(niat bunuh diri kalau jelek gak jadi dehh^^) dan hasilnya Positip !( ingat bukan hamil loh!)

WKWKWKWW….(BACA: waka waka waka waka waka…)

Yuk kita balas dulu!:

GerhardGeMi : "Keren keren...smoga ada kyunaru,jgn buat naru tuli permanen senpai,stahu gege yg benar tu 'genre' bkn gender y? Msi ada typo(s),smoga mkin baik,cepat update...! yosh lanjut! "

Eri Ai : " duh soal masalah tulinya ai belum pasti,terakhir jenguk malah di tendang keluar sama Kushina secara tidak terhormat …apesbgt. Semoga Naru-chan dapat dokter yang bagus (Amin).Gendery atau genre ?kayanya emang Eri yang error (bhs inggrisnya F- sih disekolah).Nah loh, Typo ITU APA LAGI COBA? Makasih-makasih (berkaca2)! Maaf juga untuk ke dodolan saya ini.

D'Lotus :" saya pertama liat fanfic ini di Just In langsung baca,
ceritanya bagus loh author-san,
tapi typos-nya bertebaran dimana-mana #plakkk

ahahaha... maaf yah author #wink
oh ya, pair disini apa sih sebenarnya?
sasunaru atau kyuunaru?
kasih keterangan dong :)

udah deh, segitu aja
ditunggu update-nya! "

Eri Ai :"TIPES ITU APA! (JERIT FRUSTASI)

Sasuke :" Types? Gak salah tuh?"

Edward :" TYPOS WOI! Bolot banget pada! (anak punk blok M mode on)

Eri Ai :" maaf eri sulit kalau memutuskan siapa yang akan pantas akhirnya jadi pasangan Naru-chan. Makanya Kita tunggu saja. Semoga gak basi ya…

Ai sih lebih suka yang campur aduk-compleks- jadi para reader dikasih bonus untuk memilih siapa yang pantas jadi pasangan Naru (asal jangan yang aneh2 kaya NaruLee, Naru Akamaru, atau yang lebih ekstrem Naru Kisame"

Jadi order aja, akan eri usaha'in (kerasa jual prodeuk)

Makasih banyak para kru akan mengusahakan chapter selanjutnya.

Good play ('mat main)

Iya tahu inggrisnya ngawur banget…(-.-)ZZZ