Disclaimer
Masashi Kishimoto
Pair
SasoGaa, NaruGaa, DeiGaa, DeiSaso dll..
Rate
K+T
Warning!
Ini hanya cerita ringan tentang kehidupan Sasori dan Gaara sebagai saudara kembar. Hiburan tersendiri bagi author yang penat mikirin banyak ff. Jadi enjoy aja..
** Twins **
Dua bocah merah terlihat mencolok dibawah teriknya terpaan sang surya. Hari ini sepulang sekolah Sasori lah yang mengayuh sepedanya dengan Gaara yang duduk manis diboncengan belakang. Peluh membanjiri wajah dan tubuh keduanya, sesekali tangan putih Gaara mengusap jejak aliran keringat yang menuruni wajahnya.
"Nii-chan aku capek.." Keluh Gaara sambil menyembunyikan wajahnya di punggung Sasori kedua tangannya merangkul pinggang sang kakak.
"Yang capek itu kan aku," Sasori speechless. "Kau ini dingin tidak kuat, panas juga tidak kuat. Payah!" Ejek sang kakak.
"Hmpp!" Gaara mengangkat wajahnya dan menggembungkan kedua pipi gempalnya.
"Kau mirip ikan fugu kalau seperti itu," Ucap Sasori datar tanpa menoleh dan asik mengayuh sepedanya.
"Kau kan tidak lihat!" Protes Gaara.
"Tidak perlu dilihat juga tahu," Sahut Sasori santai.
"Huh!" Gaara memalingkan wajahnya.
"Sembunyikan wajahmu," Ujar Sasori tersenyum tipis.
Mereka berdua memang kembar identik tapi tidak semuanya harus sama persis. Salah satunya yang berbanding terbalik adalah kondisi fisik mereka. Sasori memiliki fisik yang kuat dan jarang sakit sementara adik kembarnya memiliki fisik yang lemah.
Sepeda yang dikendarai Sasori dan Gaara menepi dan berhenti di sebuah toko kecil.
"Kau mau apa nii-chan?" Tanya Gaara. Si panda ikut turun dari sepeda saat melihat nii-channya turun.
"Membeli minuman," Jawab Sasori sambil menyandarkan sepedanya.
"Tapi kan uang saku kita sudah habis."
"Tidak perlu pakai uang."
"Mana bisa."
"Bisa,"
Lalu Sasori pun berjalan masuk ke toko tersebut. "Nee-san, aku minta minuman isotonic," Pintanya pada seorang penjaga toko berambut hitam.
"Boleh," Kemudian Ayame sang pelayan pun memberikan dua botol minuman isotonic pada kedua bocah kembar dihadapannya. 'Kyaaa! Imut-imut semuaaa...'Ucap Ayame dalam hati.
"Oh ya nee-san, aku tidak bawa uang. Jadi apa boleh ku tukar dengan yang lain?" Tanya Sasori.
"Tukar dengan apa?" Ayame yang bingung menaikkan sebelah alisnya.
"Ku tukar dengan adikku," Jawab Sasori enteng sambil menunjuk Gaara dengan dagunya.
"Eh?" Ayame makin bingung.
"Huh!?" Gaara menghentikan gerakan tangannya yang hendak membawa mulut botol ke mulutnya.
"Lihat, adikku ini lebih berharga dari pada uang.'' Ucap Sasori lagi.
Ayame Nampak memperhatikan Gaara. Wajah yang manis, pipi gempal, bibir mungil, kulit putih bersih dan mata yang besar. "Kalau begitu aku pinjam adikmu satu hari." Ucap Ayame girang.
"Silahkan," Jawab Sasori.
"Nii-chaaaaan!" Teriak Gaara kesal.
"Haaaaaa'iii..." Jawab Sasori santai dengan mata tertutup.
"Kalau gak punya uang jangan beli minum. Gak perlu menukarkan aku dengan sebotol minuman kan!" Protes Gaara.
"Dua botol Gaara, bukan satu." Sasori kembali menenggak minumannya. "Aku pulang duluan ya," Sasori melangkahkan kakinya menuju sepeda.
"Nii-chan! Huwaaa...!" Teriak Gaara saat Ayame memeluk tubuh mungilnya dari belakang.
"Kawaii...main sama kakak ya.."
"Gak mau! Nii-chaan!" Gaara meronta dan berusaha menggapai Sasori dengan kedua tangannya. Kedua matanya sudah hampir meneteskan air mata.
Grep!
"Mau kemana kau bocah?" Ucap Deidara yang entah sejak kapan sudah berada di sana dan menarik kerah seragam bagian belakang yang dikenakan Sasori membuat si pemilik pakaian menghentikan langkahnya.
'Pengganggu,' Batin Sasori saat menoleh ke belakang.
"Maaf tante, anak manis ini punyaku." Ucap Naruto dengan senyum coolnya membuat Ayame terpesona untuk beberapa saat dan tak menggubris panggilan yang digunakan oleh si pirang.
"Naruto-san..." Gaara tak melawan saat tangan kekar Naruto meraih pinggangnya dari belakang menggantikan pelukan Ayame.
"Nah Sasori-chan, biar aku yang bayar minumannya." Naruto tersenyum dengan Gaara yang masih diam dalam rangkulannya. "Sebagai gantinya Gaa-chan jadi milikku."
BUAGH!
Botol beserta isinya melayang dan tepat menghantam wajah Naruto.
"Ugh!" Naruto meringis kesakitan dan melepaskan tangannya dari pinggang Gaara. Deidara melongo.
"Mati saja kau!" Ucap Sasori sambil menarik tangan Gaara. Namun yang ditarik justru menahan langkahnya.
"Ada apa?" Tanya Sasori bingung.
"..." Gaara manyun dengan mata yang berkaca-kaca dan memalingkan wajahnya.
"Sudah-sudah jangan menangis.."
"..." Gaara masih saja diam dengan air mata yang nyaris meluncur. Ketiga orang lainnya melihat dalam diam.
"Haahh.." Menyerah... Sasori pun menghela nafas pasrah. "Aku Cuma bercanda tadi, cuacanya sangat panas jadi ku tinggalkan kau di sini. Nanti sampai rumah aku akan minta nii-san atau nee-chan menjemputmu pakai mobil." Jelas sang kakak.
"Hiks..hiks.." Tanpa di duga Gaara justru terisak membuat Sasori melebarkan kedua matanya. Ayame merasa bersalah, Naruto panic dan Deidara ikut nangis.
Grep!
"Sstt.. sudah sudah. Nii-chan kan cuma bercanda." Ucap Sasori sambil meluk Gaara yang mulai nangis meraung-raung.
"Huweeeee...aku mau ditukar dengan sebotol minuman..hiks.." Gaara nangis kenceng.
"Dua botol Gaara. Bukan satu," Sahut Sasori sambil ngusap-ngusap punggung Gaara.
"Huweee..aku benci nii-chan.." Gaara makin kejer.
"Iya iya aku tahu.."
Ketiga penonton pun malah berbalik speechless. Melihat Gaara yang menangis meraung-raung dan Sasori yang malah sangat tenang memeluk Gaara sambil sesekali meledek sang adik. Ditambah lagi Gaara yang bilang benci pada kakaknya dan malah justru memeluk Sasori dengan erat seolah tak ingin ditinggalkan.
Tapi mereka jadi menyadari satu hal. Sasori sebenarnya sangat menyayangi sang adik dan menaruh kepedulian yang besar namun terkadang tingkah jahil Sasori yang suka membully adiknya berhasil menutupi maksud baiknya.
.
.
.
"Apa?" Tanya Deidara dan Naruto saat melihat Sasori yang masih memeluk Gaara mengulurkan tangan kanannya pada duo pirang. Sementara tangan kirinya masih sibuk menepuk-nepuk punggung sang adik pelan.
"Pinjam hpnya," Jawab Sasori.
"Untuk apa?" Tanya Deidara.
"Kenapa cerewet sekali sih! Dasar transgender." Kesal Sasori.
"Hiks..nii-chan.." Gaara mengangkat wajahnya dan menatap Sasori dengan jejak air mata yang masih terlihat jelas. "Bukan transgender..hiks..cumi-cumi keriting..."
"Iya..iya..kau dengar itu cumi asin?" Sasori tersenyum mengejek pada Deidara.
"Cumi keriting nii-chaaann!" Protes Gaara.
Bugh..
Sasori membenamkan wajah Gaara secara paksa ke pundaknya. "Sudah menangis saja yang benar. Jangan banyak protes!" Ujar Sasori membiarkan Gaara yang meronta-ronta karena mulai susah bernafas.
"Wooaahhh! Sasori apa yang kau lakukan? Gaa-chan jadi susah bernafas tahu." Naruto segera menghampiri Sasori dan mencoba menolong Gaara.
"Anak ini!" Deidara ikut maju dan mencoba menarik Sasori agar mau melepaskan Gaara.
"Jangan sentuh Gaara!/Jangan sentuh Saso-nii!" Pekik keduanya bersamaan. Sasori menatap Naruto dengan tatapan predator membuat si pirang berjengit terkejut dan...
"Err...Na..Naru..to..." Deidara bergetar dan menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Eh? Kau kenapa Dei-nii?" Tanya Naruto melihat sang kakak.
'Mati aku' Batin Deidara yang ditatap Gaara dengan tatapan kesal, matanya yang besar terlihat menggiurkan karena basah oleh air mata yang baru saja berhenti, bibirnya mengerucut dan kedua pipinya menggembung. Benar-benar menggiurkan untuk segera dilahap bulat-bulat.
"Dei-nii?" Panggil Naruto lagi.
"Boleh...aku makan Gaara sekarang?" Tanya Deidara dengan tangan bergetar.
Pik!
Twich!
BUAGH!
BUGH!
"Mati kau Deidara!" Naruto menghantam sang kakak sampai tumbang.
"Mati kau cumi-cumi mesum!" Sasori menginjak wajah Deidara dengan aura raja neraka.
"Kyaaaaaa!" Ayame lari ketakutan.
"Wah..kakak cantinya jadi jelek." Celetuk Gaara dengan kedua mata melebar dan mulut yang ditutupi oleh kedua tangannya.
Akhirnya Sasori menggunakan hp milik Naruto untuk menelpon sang kakak agar datang menjemput Gaara.
"Saso-chan..Gaara-chan..apa kalian baik-baik saja sayang?" Tanya Temari yang baru turun dari mobil dan menghampiri kedua adiknya yang sedang duduk manis di sebuah toko.
"Kami baik-baik saja," Jawab Sasori.
"Yang gak baik-baik aja kakak cantik itu?" Ucap Gaara polos sambil menunjuk wajah Deidara yang lebam.
"Eh? Siapa?" Tanya Temari yang baru saja menyadari ada dua orang asing didekat si kembar.
"Bukankah kalian dou Uzumaki?" Tanya Kankuro yang baru saja muncul dengan satu tangan di pinggang.
"Ah iya, aku Uzumaki Naruto dan ini kakakku Uzumaki Deidara." Ucap Naruto ramah.
"Hai.." Sapa Deidara sambil memegangi pipinya yang memar.
"Kenapa wajahmu memar begitu?" Tanya Temari yang sedang setengah duduk didepan kedua adiknya.
"Di-..aw," Gaara merigis saat Sasori menjitak ringan kepalanya.
"Di apa Gaara?" Tanya Temari curiga sambil sesekali menatap Sasori yang malah asik bersiul-siul.
'Iblis.' Ucap duo Uzumaki dalam hati.
"Tidak kok nee-chan," Jawab Gaara dengan menunjukkan senyum manisnya.
"Sasori kemari." Panggil Kankuro menggerakkan tangannya agar Sasori mendekat.
Set
Sasori turun dari kusi dan berjalan ke arah nii-sannya. "Apa?" Tanya sang adik.
"Ayo naik ke mobil, kau harus segera pulang." Ucap Kankuro yang langsung mengangkat tubuh kecil Sasori kaya karung beras.
"Huwaa! Turunkan aku nii-san!" Teriak si kembar sulung.
"Huh?" Gaara menatap kedua kakaknya bingung. Temari hanya melirik dari ujung matanya.
"Ternyata ada pawangnya ya.." Gumam Deidara tak percaya.
"Sepertinya kau harus belajar darinya Dei-nii.." Naruto juga ikut bengong.
"Jadi...apa kau gak mau mengatakan sesuatu pada nee-chan mu Gaara-chan?" Tanya Temari yang masih berjongkok dihadapan Gaara.
"Hanya sesuatu saja kan.." Jawab Gaara.
"Seluruhnya."
"Tadi nii-chan mau menukarku dengan se-..eh dua botol air," Temari mengerutkan keningnya bingung."Tapi gak jadi karena nii-chan bilang dia cuma bercanda..lalu aku nangis..nii-chan memelukku..dan kakak cantik itu wajahnya memar karena di hajar oleh kakak pirang jabrik dan diinjak oleh Saso-nii." Jelas Gaara polos seeee polos polosnya.
"Di..diinjak?" Temari menatap horror pada Gaara.
"Yup! Diinjak." Gaara mengangguk dan tersenyum senang.
"Sudah ku duga.." Kankuro muncul kembali setelah mengunci Sasori di dalam mobil.
"Haah..ya Tuhan kalian ini." Temari memijit keningnya. "Kami benar-benar minta maaf, kedua bocah ini memang nakal." Ucap Temari merasa bersalah.
"Mereka memang sangat manis tapi kalau salah satunya diganggu aku juga gak bisa berbuat banyak." Tambah Kankuro.
"Hahahaa..tidak apa-apa kok. Aku yang salah," Deidara tertawa hambar.
"Iya Dei-nii yang salah." Tambah Naruto.
"Hey! Dasar adik durhaka!" Deidara menjitak Naruto.
"Aduuh..sakit Dei-nii.."
"Nii-san..Nee-chan aku capek.."
"Ki..kita pulang sekarang, gak ada yang sakit kan sayang?" Tanya Temari khawatir. Sang kakak perempuan menggendong Gaara dan segera membawanya ke mobil. Naruto melepas kepergian Gaara tanpa bisa menggapainya lagi (?)
"Sepedanya biar aku yang bawa," Ucap Kankuro.
"Gaa-chan..." Ratap Naruto.
"Jangan khawatir, dia baik-baik saja. Temari memang suka berlebihan," Ucap Kankuro yang melihat reaksi Naruto.
"Kenapa kalian pilih kasih?" Tanya Deidara yang sepertinya 'agak' gak terima.
"...?" Kankuro menaikkan sebelah alisnya.
"Sasori kau gendong seperti karung beras sementara Gaara di gendong oleh kakak perempaunnya dengan lembut."
"Oh itu, kami menyayangi keduanya dengan adil kok. Hanya saja seperti yang kalian tahu Sasori itu hobby nya membully Gaara. Dan lagi fisik Gaara itu lemah makanya Temari suka khawatir." Jelas Kankuro.
"Eh? Lemah?" Kedua Uzumaki saling bertukar pandang.
"Nah kalau begitu aku permisi," Pamit Kankuro yang sudah nangkring di atas sepeda adiknya. Semenatar Temari sudah lama memacu mobilnya.
.
.
.
.
"Huwaaaaa! Gaara tarik remnya!" Pekik Sasori yang duduk diboncengan.
"Sudah ku bilang remnya rusak kan!?"
"Kalau begitu arahkan ke semak-semak!"
"Semak-semak sebelah mana?"
"Mana saja yang penting semak-semak!" Kesal Sasori yang udah horror karena sepeda yang mereka naiki melaju dengan cepat. Ditambah lagi Gaara yang gak tahu kenapa malah gak terlihat takut sedikitpun.
Tiba-tiba saja muncul duo pirang dihadapan mereka.
Ckiiitt...
Tuiing..
"Huwaaaa!" Teriak keduanya yang malah terlempar dari sepeda.
Bruk!
Bruk!
"Ugh..."
Keduanya terjatuh tepat diatas punggung dou Uzumaki. Gaara di punggung Naruto dan Sasori di pungung Deidara.
"Kau bilang remnya rusak tadi!?" Sasori duduk dan mengglare Gaara.
Sang adik ikut duduk. "Yang rusak kan rem belakang bukan yang depan." Jawab Gaara gak terpengaruh sama tatapan sang kakak. "Oh ya Saso-nii, ternyata terjun dari sepedah itu menyenangkan ya? Empuk.."
"Itu karena kita jatuhnya diatas punggung mereka." Jawab Sasori cuek sambil menunjuk dua orang yang sedang asik mereka duduki.
"Benar juga, jadi lain kali kita gak usah cari semak-semak. Jatuh di semak-semak itu gak enak," Ujar Gaara sambil berdiri tanpa mengacuhkan Naruto yang masih setia dengan tanah halaman.
"Hmm..ide bagus. Ayo kita masuk," Jawab sang kakak setuju. Sasori berjalan menuju gerbang kedua dan berjalan cuek seakan deidara adalah daun kering yang tergeletak di tanah.
"Ugh.." Deidara kembali meringis saat dengan sadisnya Sasori melintas sambil menginjak kepalanya.
"Eh? Tunggu nii-chan," Gaara menyusul Sasori dan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan sang kakak pada korbannya dan Naruto lah yang menjadi korban injakan panda (?)
"Apa mereka masih dendam pada kita?" Tanya Deidara pada sang adik.
"Sepertinya begitu..."
.
.
.
"Hey Gaara, lihat dua orang payah itu sepertinya mencari kita." Ucap Sasori yang lagi asik nangkring diatas pohon bersama Gaara. Matanya yang terlihat mengantuk walaupun pada kenyataannya dia tidak sedang mengantuk atau lelah memperhatikan dua makhluk pirang yang lagi mondar mandir kaya setrikaan.
"Apa harus ku beritahu kalau kita ada di sini?" Tanya Gaara datar.
"Boleh, ayo cepat panggil."
"Naruto-san...cumi-cumi-san.." Panggil Gaara dari atas pohon.
Twich.. Twich..
Telinga Deidara bergerak-gerak. "Kau dengar Naruto?"
"Iya aku dengar, tapi dimana mereka?" Naruto celingukan.
"Diatas sini.." Ucap Gaara lagi.
"Gaara ayo senyum." Sepertinya Sasori belum puas mengerjai kedua makhluk pirang itu.
"Huwaa! Apa yang kalian lakukan diatas sana? Itu bahaya.." Naruto terkejut saat menemukan dua panda merah yang lagi bersantai di dahan pohon.
"Kali ini apa lagi yang kalian rencanakan?" Tanya Deidara.
"Kami tidak bisa turun, bisakah kalian menangkap kami?" Tanya Sasori yang ikut senyum bersama Gaara. Tapi senyum yang berbeda dengan milik Gaara. Jika sang adik tersenyum polos dengan banyak racun mematikan yang tersembunyi dengan baik maka senyum Sasori terlihat seperti senyum mencurigakan yang menyimpan sejuta bahaya terlihat.
Bibir Deidara berkedut melihat senyuman Sasori. "Aku punya firasat buruk," Ucapnya.
"Gaa-chan ayo turun," Bujuk Naruto. Mengulurkan kedua tangannya untuk menangkap Gaara.
"Tapi aku mau turun kalau Saso-nii juga turun," Ucap Gaara.
"Yang benar saja. Pinggangku saja masih sakit karena ulahnya tadi pagi," Keluh Deidara.
"Payah.." Ejek Sasori dengan senyum meremehkan.
"Apa!?" Deidara gak terima.
"Iya kakak cantik payah, padahal punya burung tapi lembek." Gaara ikut meledek Deidara dan kali ini dengan tampang stoicnya.
"Bu-burung!? Ini pasti ajaran Sasori!" Tuduh Deidara yang udah mulai mencak-mencak. Naruto melongon mendengar kalimat yang diucapkan Gaara.
"Hey Gaara, apa kau yakin kalau dia punya burung?" Sasori malah bertanya pada sang adik.
"Gak tahu. Kan nii-chan yang menendangnya waktu itu." Jawab Gaara cuek.
"Ada sih..tapi sepertinya kecil." Sasori memegang dagunya.
"Grr.." Telinga Deidara memanas.
"Burung pipit!" Seru Gaara.
Deidara makin panas.
"Gak terlalu kecil?" Tanya Sasori.
"Benarkah? Lalu apa?" Gaara balik bertanya.
"Burung kutilang." Jawab Sasori singkat. Gaara tertawa pelan.
Emosi Deidara naik ke ubun-ubun.
"Hoo.. kalau punya Naruto-san burung puyuh." Ucap Gaara lagi.
"Gak bisa terbang? Payah.." Cibir Sasori.
"DASAR BOCAH-BOCAH IBLIS! SEENAKNYA SAJA MEMBICARAKAN BURUNG ORANG LAIN SEPERTI ITU." Deidara menendang-nendang pohon.
"AYO TURUN! BIAR KU MAKAN KALIAN." Naruto ikut emosi.
"Lihat..sudah ku bilang mereka payah kan?" Ucap Sasori dengan pandangan malas sambil menopang dagu.
"Aku kan Cuma bercanda," Gaara speechless.
.
.
.
.
"Hah...hah..hah..." Deidara ngos ngosan dan tepar dibawah pohon.
"Kalian berdua ayo turuuun~" Pinta Naruto yang udah pasrah.
"Kau dengar Gaara? Ayo turun." Ucap Sasori dengan ancang-ancang akan melompat.
"Haaaa'iii..." Sahut Gaara yang ikut beranjak bangun dan siap melompat.
Hap..
Sasori melompat..dan...
Bruk!
"Gwaah!" Teriak Deidara yang baru saja kejatuhan bidadara (?) berbeda dengan Naruto yang berhasil menangkap Gaara menggunakan kedua tangannya.
"Kalian ini kenapa suka sekali mencari masalah sih?" Tanya Naruto sambil menurunkan Gaara dari gendonganya. Gaara hanya mengangkat bahu cuek.
"Gwah! Dasar kau iblis kecil." Deidara memeluk Sasori yang duduk di perutnya.
Duagh!
Lagi (?) dengan wajah lempengnya Sasori yang memunggungi Deidara menghantamkan kepalanya ke belakang dan tepat mengenai hidung Uzumaki sulung itu. "Minggir.." Ucapnya sambil melepaskan diri dan beranjak bangun mengacuhkan Deidara yang meraung-raung kesakitan.
Naruto sweatdrop. 'Ya Tuhan..anak itu..' Batinnya miris melihat sang kakak yang lagi-lagi menjadi korban Sasori.
"Gaara ayo pulang." Panggil Sasori.
"Sekarang? Kan ada pelajaran tambahan," Gaara berlari pelan mengejar sang kakak.
"Aku malas," Jawab Sasori.
"Kalau nee-chan tahu gimana?"
Sasori menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap Gaara yang juga berhenti. "Itulah gunanya aku punya adik," Ucapnya.
"Hah?" Gaara bingung tak mengerti apa maksud ucapan sang kakak.
"Jangan-jangan kau mau menggunakan wajah polos adikmu untuk melumpuhkan kakak perempuanmu." Tuduh Naruto.
"Yang satu ini memang benar-benar kelewatan," Tambah Deidara setuju dengan pemikiran Naruto.
"Gaara ayo kita makan ice cream," Ajak Sasori cuek seakan tak mendengar ucapan DeiNaru.
"Kau yang bayar nii-chan?"
"Iya.."
"Apa itu yang namanya menyogok?" Gumam Naruto sweatdrop.
"Dan sepertinya Gaara mudah sekali disogok," Sahut Deidara.
Akhirnya dua kitsune pirang memilih untuk mengikuti dua panda. Dan akhirnya pula Deidara lah yang membayari semuanya. Sepertinya dia sudah benar-benar terjerat oleh pesona dua bocah kembar itu sampai tak sadar kalau isi dompetnya habis.
TBC Dulu yaaa...
Thanks reviewnya di chap lalu.. boleh minta reviewnya lagi? Ada yang masih mau baca kelanjutan fic ini? Ada gak?
