Little Romance Between Them
.
Durarara! Owned by Ryohgo Narita
.
Little Romance Between Them Owned by RuikaNanami
.
Pair : DeliRoppi ( Delic x Hachimenroppi )
.
Request from Kouhaimu Tersayang belum bikin account and Shirasaka Konoe
Warning :
OOC, Typo, Misstypo, Drabble, Pendek, Gak Jelas, dan lain-lain. Merasa ada hal yang tidak disukai dari peringatan ini, silahkan klik tombol 'back' sekarang.
ENJOY!
3 – Mark
Orihara Hachimenroppi sangat benci jika waktu tenangnya diganggu.
Apalagi jika orang yang mengganggunya bermarga Heiwajima. Roppi benci Heiwajima, ingat itu.
Persetan dengan Tsugaru yang ramah, Shitsuo yang sigap dalam menangani masalah, ataupun Tsukishima yang mempunyai senyum seramah malaikat. Jangan masukkan Shizuo dalam hitungan, karena dia memang otak protozoa sejati.
Dan kembali ke topik semula, intinya, apapun sifatnya, Roppi membenci keluarga Heiwajima.
Terutama yang playboy.
Terutama yang bermata magenta.
Terutama yang memberikan embel-embel '-chan' pada namanya.
"Roppi-chan~"
Dan tentunya, Roppi paling benci kepada Heiwajima Delic.
Dan karena itulah Roppi berusaha mati-matian untuk menahan dorongan untuk membunuh laki-laki yang sedaritadi berusaha untuk melakukan pendekatan dengannya. Roppi hanya sedang duduk tenang di sofa ruang tengah kediaman Orihara, lalu si host ini datang, dan seketika ketentraman Roppi pecah dan hancur tak bersisa.
Apa si playboy mesum satu ini tidak mengerti tentang privasi? Oh ya, Roppi pasti lupa bahwa ia sedang membicarakan tentang Heiwajima Delic. Orang paling lancang di keluarga Heiwajima. Setidaknya begitulah menurut Roppi.
Roppi sedikit melirik ke laki-laki yang kini sedang tidur-tiduran di sebelahnya. Yang dilirik malah tersenyum jahil.
Roppi menghela nafas sebelum memberikan tatapan tajam kepada lawan bicaranya. "Apa?" ucapnya dengan nada yang amat sangat tidak ramah.
"Aku bosan~"
Dan Roppi harus memberinya sebuah tinju nanti.
Roppi mendengus pelan, "kalau begitu, kenapa kau tidak bermain dengan Psyche saja?"
"Karena kalau begitu Roppi-chan akan cemburu."
Aku tidak cemburu. Itu yang Roppi ingin katakan, tapi kenapa wajahnya terasa panas tiba-tiba?
Delic menyeringai lebar. Tidak, jangan katakan kalau laki-laki ini melihat wajahnya yang memerah.
"Wajahmu merah, Roppi-chan~"
Ralat, Roppi harus memberinya dua tinju. Roppi memalingkan mukanya dan berkata, "itu hanya perasaanmu." Dan kemudian ia membuka flip handphone berwarna merahnya dan mencoba mengalihkan perhatiannya ke layar handphone tersebut. Meskipun Roppi tahu bahwa ia pasti gagal.
Senyum Delic melebar, "Roppi-chan kawaii~" Roppi merasakan wajahnya makin memanas. Playboy terkutuk.
"Diamlah."
"Tapi aku bosan..."
"Lalu kau mau aku melakukan apa supaya kau diam?"
Delic terdiam sebentar dan memasang pose berpikir. Tetapi Roppi tahu bahwa itu hanya sekedar akting belaka. Pasti Delic sudah merencanakan sesuatu. Tidak lama kemudian, wajah Delic berubah cerah, "kita main saja!"
"Boleh saja."
"Eh, boleh?"
"Kalau kau mau diam setelah ini, akan kuturuti apapun itu."
Delic beranjak dari sofa tempat ia berbaring, "kalau begitu kita ke kamar seka–ADUH!"
Dan sebelum Delic menyelesaikan kalimatnya, Roppi melemparinya dengan pisau lipat. Entah milik siapa. Milik Izaya, mungkin?
"Aw... yang tadi itu cukup sakit, Roppi-chan..."
"Baguslah kalau begitu."
"Tapi bagaimana kalau nanti berbekas? Nanti ketampananku hilang..." Roppi rasanya ingin muntah saja mendengar kalimat yang terakhir.
"Lebih bagus kalau berbekas. Jadi kau tidak perlu membawa perempuan lagi ke tempatku."
"Tapi~ Roppi-chan curang~! Kau boleh bersenang-senang di depan layar komputer, kenapa aku tidak?"
Dahi Roppi berkedut kesal. Bersenang-senang, katanya? Jadi selama ini Delic tidak merasa senang jika sedang bersama Roppi? Brengsek, si mesum satu ini–
... hei, tunggu dulu. Bukankah barusan Roppi baru saja cemburu?
"Roppi-chan curang~!"
Ucapan Delic menyadarkan Roppi dari lamunannya. Ya, tenang. Tidak mungkin itu cemburu, batin Roppi berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Curang apanya, mesum?"
"Roppi-chan membuat bekas luka di dahiku, tapi Roppi-chan tidak mau kuganggu. Itu curang!"
Oke, si mata keranjang ini mulai bersikap kekanak-kanakan. Kalau sudah begini, satu-satunya cara adalah menuruti kemauannya.
"Kalau begitu, lakukan saja apa maumu."
Delic mengerjapkan matanya beberapa kali, "Roppi-chan?"
"Asal kau berjanji untuk diam setelah ini."
Setelah terdiam untuk beberapa saat, Delic menyeringai. "Tidak akan. Aku janji."
"Baiklah kalau begi–Ah!"
Dan dengan satu gerakan cepat, Roppi terdorong hingga tertidur di kasur. Matanya terpejam karena dorongan yang tiba-tiba. Saat ia membuka matanya perlahan, yang ia lihat adalah Delic berada di atas tubuhnya, dengan senyum yang tidak bisa dijelaskan maknanya tersungging di bibirnya.
Roppi yakin wajahnya pasti memerah sekarang.
Senyum Delic melebar melihat wajah memerah Roppi. Imut. Namun sasarannya sekarang hanya satu.
Leher Roppi yang terekspos jelas.
Delic bergerak maju. Menjilat leher jenjang Roppi. Yang menyebabkan sang pemilik bola mata merah rubi tersebut menggigit bibir bawahnya untuk tidak mengeluarkan suara apapun.
Namun tidak hanya sampai disitu saja. Delic mulai menggigit leher Roppi, dan kali ini Roppi tidak bisa menahan jeritannya.
"A-ah! M-matte yo, De-ah!"
Dan Delic mulai menghisap leher jenjang Roppi. Menyebabkan sang uke harus memberontak dan mulai mencakari punggung Delic.
Akhirnya setelah entah-berapa-lamanya, Delic menjauhkan dirinya dari badan Roppi. Senyum tersungging di bibirnya melihat pemandangan di depannya.
Roppi, dengan wajah memerah dan sebuah bitemark yang terlihat sangat jelas di leher putih dan jenjang miliknya, dan penampilannya yang berantakan serta nafasnya yang tersenggal-senggal.
"Hehe, Roppi-chan tambah imut~"
Dengan cepat Roppi menendang perut Delic, dan pergi dari ruangan itu saat itu juga.
Dan sialnya, ia bertemu dengan Psyche sebelum sempat menutupi bekas gigitan nakal dari mulut Delic.
"Nee, Roppi-kun terluka!" Ucap Psyche sambil menunjuk ke arah leher Roppi.
Dengan cepat Roppi menutupinya dengan tangannya. "Ini... bukan apa-apa."
"Tapi, luka itu harus disembuhkan, Roppi-kun! Biar–"
"JANGAN!"
Tersadar bahwa ia berteriak lebih kencang dari yang seharusnya, Roppi menutup mulutnya dan berbalik membelakangi Psyche, "hanya yang ini saja... jangan."
Roppi tidak mau mengakui, bahwa bekas dari Delic hanyalah satu-satunya dari bitemark yang ia terima, dan juga ia tidak ingin hal itu menghilang. Sebab, hanya itu saja cara untuk membuktikan bahwa ia hanyalah milik Delic seorang.
~END~
A/N : Oke, saya niatnya mau apdet tiap tiga hari sekali atau enggak lebih cepet. Dan nyatanya? Ngaret. *dihajar massa*
Nyaa... Roppi OOC berat, ya... *author dibunuh menggunakan sedotan*
Ini sebenernya request dari Kouhaimu Tersayang belum bikin account dan katanya Konoe-chan juga setuju buat bikin DeliRoppi... ya, saya buat aja.
Gimana? Jelek? Abal? Katakan semuanya lewat review! XD
Terima kasih untuk Shirasaka Konoe, Aerish,dan Narin kimi chan yang telah mereview di chapter sebelumnya! \(^o^)/
Berkenankah meninggalkan review?
