CHAPTER SEBELUMNYA

"Sama-sama. Kau boleh tidur di kamar itu. Ini kuncinya," kataku sambil menyodorkan kunci kamar satu lagi.

"Terim…"

"Sudah, berhenti mengulang kata itu," potongku kesal. Akhirnya anak itu malah tinggal di rumahku. Apa jadinya ya hari-hariku nanti selama dia ada di sini? Tinggal bersama laki-laki yang jelas-jelas aku tidak suka pada kaum adam. Dan…

Ino…

Apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku…?

LOVE IS ABNORMAL

AUTHOR : Miko Yuuki

CAST: SasuSaku, Ino, Sai, dll

RATE : T semi M (sedikit unsur yaoi)

GENRE : Romance, friendship

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO.

WARNING: Alur muter2, TYPO, OOC, AU, gak sesuai EYD!?

Author POV

Jam 04:00 dini hari, Sasuke tersadar dari tidurnya oleh keributan di bawah. Dia buka matanya perlahan. Menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.

'Ini bukan mimpi. Aku memang tak ingat apa pun,' gumam Sasuke dalam hati. Padahal dia berharap apa yang dialaminya kemarin hanya mimpi, sehingga dia bisa terbangun kembali dengan ingatan yang utuh.

Sasuke terduduk. Tanpa sengaja dia melihat sesetel baju. Di atasnya ada sebuah kertas catatan.

Kalau kau sudah bangun, cepat mandi dan gunakan saja baju ini.

Kamar mandinya ada di sebelah kamarmu.

Setelah itu, jangan coba-coba kau mengotak-atik barang-barangku!

Begitu isinya. Sasuke bersyukur dia masih ingat cara membaca. Dia tersenyum melihat catatan itu .

"Betapa baiknya gadis itu. Sampai repot-repot menyediakan pakaian yang layak untukku. Semoga Tuhan membalas kebaikannya," ucap Sasuke. Lantunan kalimatnya itu terdengar seperti kalimat yang keluar dari mulut dewa. Merdu, halus, menenangkan, dan bijaksana.

Sasuke pun mengambil pakaian itu dan pergi ke kamar mandi yang dimaksud Sakura.

Selesai mandi. Sasuke penasaran dengan suara ribut yang membangunkannya tadi. Akhirnya dia memilih turun ke lantai 1. Ternyata di sana ada Sakura yang sedang sibuk memasak banyak kue.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, nona Sakura?" tanya Sasuke sopan.

"Oh, kau sudah bangun toh. Ternyata baju bekas papa pas dengan badanmu. Aku lagi masak kue buat dijual. Ini, ambillah satu. Hati-hati masih panas," kata Sakura sambil menyodorkan loyang berisi pizza mini. Sasuke mengambilnya dengan hati-hati.

"Panas," gumamnya pelan. Sakura tidak terlalu mempedulikan Sasuke. Dia terlalu sibuk menyiapkan dagangannya. Saat menyentuh pizza mini panas itu, sekilas muncul dibenak Sasuke. Suatu kekuatan maha dasyat yang membara dan panas terbayang dipikirannya.

'Apa itu?' pikir Sasuke bingung. Sasuke berusaha mengingat apa itu. Namun, justru itu membuat kepalanya nyeri.

"Akkhh…" rintih Sasuke pelan berusaha menahan sakit. Saat sakitnya hilang, Sasuke pun memilih tidak memikirkan hal itu dan memakan pizza mini itu.

"Hmm… enak. Ini buatanmu?" tanya Sasuke.

"Iya. Tuh, ambil aja lagi kalau mau. Tapi satu aja," kata Sakura sambil menunjuk loyang yang tadi.

"Terima kasih. Mau aku bantu. Sepertinya kau kerepotan," Sasuke menawarkan diri.

"Tidak. Aku udah biasa. Jadi, tidak usah ganggu aku dan tonton saja TV itu," perintah Sakura. Sasuke menatap polos Sakura. Dia tidak mengerti apa itu TV.

'Sepertinya aku lupa apa itu TV,' pikir Sasuke. Jadinya Sasuke hanya dia menatap gadis itu.

Sakura's POV

Aku sibuk membuat vla susu untuk isi kue sus dan pie mini buah. Pertama aku masak susu, larutan maizena, dan gula pasir dalam panci. Aku tambahkan pula beberapa elemen yang menjadi rahasia kenikmatan vlanya. Tentu tak akan ku sebutkan, ini resep rahasiaku. Setelah meruap, aku ambil dua sendok adonan untuk dicampurkan dengan kuning telur di wadah terpisah. Lalu, campuran adonan dan kuning telur itu aku masukan dalam panci. Setelah meletup-letup, aku matikan kompor. Aku masukan mentega, ku aduh hingga rata. Lalu aku nyalakan kipas angin dan ku arahkan pada adonan agar cepat dingin. Cara yang konyol memang, tapi aku harus cepat menyiapakan kue-kue ini.

TING TING TING

Tiga oven besarku berbunyi secara bersamaan menandakan kue-kue yang ada didalamnya sudah matang. Aku keluarkan satu demi satu loyang-loyang kue itu. Mulai dari loyang sus, brownis, muffin coklat, dan kulit pie mini. Setelah semua keluar, aku masukan loyang-loyang berisi adonan banana cake, pie appel, dan adonan muffin keju bertabur cornflake. Itu belum selesai, aku masih harus membuat tiramisu, coklat, selai, puding, dan oh, iya! Kemarin Hinata pesan chocoberry chesse cake. Katanya buat ibunya. Dasar anak baik. Aku saja sudah malas bertemu dengan ibuku.

Saat sedang sibuk, aku sadar sedang diperhatikan. Aku tengok ke sekitar. Anak itu!

"Heh, kenapa masih di sini. Sana, naik ke atas!" usirku.

"Nggak mau. Aku mau di sini," tolak Sasuke.

"Ini rumahku. Jadi ikutilah aturan di rumahku!" pekikku kesal.

"Kenapa kau begitu kasar?" tanya Sasuke tiba-tiba.

"Apa maksudmu?" kataku emosi.

"Kau punya masalah? Apa berhubungan dengan orang lain? Ceritakan padaku," ucap Sasuke lagi dengan pandangan serius.

"Kau tahu masalahku? Masalahku ada kau! Kau secara tidak sengaja sudah menggangu kesendirianku di sini!" bentakku.

"Bukan, bukan itu. Masalahmu yang lain. Aku bisa merasakannya. Sepertinya tentang cinta." Sasuke mendekatiku perlahan dengan tatapan menyelidik. Apa-apaan anak ini. Dia menatapku seolah ingin membaca pikiranku. Wajahku dan wajahnya sudah tinggal beberapa senti.

"Berhenti, jangan dekati aku. Ingat peraturannya, jangan sentuh aku, atau aku usir dari sini," kataku berusaha mencegah agar anak itu lebih dekat lagi denganku. Dia pun menjauh dariku. Akhirnya. Daripada anak ini bengong aja sambil menatapku dengan tatapan aneh, mending aku suruh kerja aja.

"Tunggu sebentar. Aku ingin kau mengerjakan sesuatu." Aku lihat vla yang tadi aku buat. Sudah dingin. Aku matikan kipas angin tersebut. Kemudian aku ambil beberapa sendok vla susu ke dalam plastik segitiga. Lalu aku gunting ujungnya dan aku beri corong alumunium di ujungnya. "Nih, bantu aku isi kue-kue sus itu make krim ini. Ingat, jangan terlalu banyak atau pun terlalu sedikit. Ngisinya pake perasaan. Ngerti?" kataku sambil menyodorkan kantung plastik itu dan menunjuk kue-kue sus yang sudah banyak aku buat. Sasuke tampak berbinar seolah berkata, 'akhirnya aku bisa melakukan sesuatu'.

"Mengerti, nona!" Dengan sigap dia menerima kantung vla itu dariku. Aneh deh, kenapa sih dia manggil aku nona. Kayak pelayan manggil majikan aja.

Sebenernya aku kasian juga sih sama dia. Dia hilang ingat dan terpisah dari keluarga mau pun teman. Tiba-tiba aku bentak-bentak gitu aja. Ternyata aku memang kejam ya. Tapi salah sendiri kenapa jadi laki-laki. Eh, bodohnya aku menyalahkan dia. Itu kan kehendak Tuhan. Tapi… Argghh, aku jadi bingung sendiri dengan pola pikirku. Oke, lupakan itu.

Aku melanjutkan rutinitasku. Aku mau selesaikan pai mini dulu. Selagi itu, lebih baik aku tim coklat untuk brownis dulu selagi mengerjakan pai mini.

Dengan cekatan aku siapan panci yang di isi air. Aku letakan mangkuk kaca berisi bongkahan coklat ke dalam panci. Tinggal nyalakan kompor, beres. Sekarang selesaikan pai mininya.

Aku ambil lagi beberapa sendok vla susu, memasukannya pada plastik segitiga, lalu mengunting ujungnya. Bukan untuk mengisi sus juga, tapi untuk mengisi kulit pie mini. Karena aku sudah berbiasa, kerjaku jadi lebih cepat dari Sasuke. Setelah semua kulit pie mini terisi, aku iris kecil-kecil buah kiwi, strawberi, dan jeruk mandarin. Lalu, aku tata 3 potongan buah itu masing-masing satu di setiap pie. Selesai, tinggal masak agar-agar bening, dan olesi pie mini dengan larutan agar-agar. Aku masak agar-agar sedikit saja. Setelah masak, aku ambil kuas lalu aku oleskan pada pie-pie mini itu.

Fiuuuhh… satu perkejaan lain selesai. Kompor yang aku pakai buat me-tim coklat aku matikan karena coklat sudah meleleh sempurna. Sesaat, aku tatap Sasuke. Wow, pekerjaannya rapi juga.

"Ini, sudah selesai," lapor Sasuke.

"Coba aku lihat dulu." Aku ambil salah satu kue sus, lalu aku sobek tepat di tengahnya. Mengeluarkan vla susu buatanku yang berbau khas.

"Ya, lumayanlah. Terima kasih. Kau mau satu? Ambillah. Sus buatanku spesial lho," tawarku. Aku makan sus yang sudah aku sobek tadi.

"Bolehkah?" kata Sasuke. Aku hanya membalas dengan anggukan. Dia ambil salah satu kue. Sementara aku kembali sibuk dengan coklat tadi, memasukan butter, essencevanila, dan krim kemudian mengaduknya (author : sumpah, untuk campuran ini aku ngasal lho. Nggak tau nih bener atau salah u.u).

"Hmm… enak sekali nona. Bagaimana kau membuatnya?" gumam Sasuke terkagum-kagum.

"Ah, itu rahasia. Resep ciptaanku sendiri. Yang pasti krim sus-nya sama sekali nggak pake air. Hanya pake susu," jelasku.

"Oooo…. begitu. Boleh minta lagi nggak?" tanya Sasuke dengan senyum manis sedikit memohon.

"Enak saja. Itu buat dijual. Makan saja vla sisa itu sana!" larangku tegas. Capek bener sih ngeladenin anak ini. Baiklah, sebelum dia mulai mengoceh lagi, mungkin aku harus sumbal mulutnya dengan 100, bukan, 1000 kue sus agar dia diam dan menjauhiku. Atau mungkin aku hanya perlu 2 untuk menyumbal telingaku agar bisa fokus memasak. Peraturan penting saat memasak! Jangan berbicara saat memasak, karena air liur kita bisa masuk ke dalam makanan. Oke, Sakura. Abaikan dia dan selesaikan urusanmu!

TBC

Mine to Review Please!?