Bandara Konoha, 11.00 a.m.

Ia berjalan di antara kerumuman penumpang yang juga baru saja turun dari pesawat. Dari posturnya, dapat dipastikan ia adalah seorang laki-laki muda usia sekolah. Tubuhnya tegap dengan tinggi dan berat ideal. Rambut merah spike serta tato ai di dahi kirinya, cukup menunjukkan bahwa pemuda itu tampan. Belum lagi kemeja putihnya yang berkibar-kibar karena kancing yang sengaja tak terpasang—memperlihatkan kaus kuning yang dikenakannya, serta celana jeans panjang dan sepatu kets.

Dan mata aquamarine yang tersembunyi di balik kacamata hitam itu, gadis mana yang tidak akan menoleh ke arahnya ketika ia berjalan pelan dengan anggunnya?

Tapi sayangnya, pemuda itu tidak sendiri.

Ia tampak berjalan beriringan dengan seorang wanita. Ya, wanita yang cukup dewasa—cantik. Rambutnya pirang jabrik terikat empat kuncir. Mata saphire-nya tajam menatap sekeliling bandara—tampak sedang mencari sesuatu.

"Kau bilang temanmu bakal datang." Wanita pirang itu angkat suara.

"Pacarku," koreksi pemuda tadi.

Wanita itu memutar bola matanya, bosan. Pemuda yang lebih muda empat tahun darinya itu memang agak sentimen jika menyangkut soal kekasihnya yang tinggal jauh dari tempat tinggal mereka di Suna.

"Iya, iya—pacar," lanjutnya. "Dia benar-benar akan datang, Gaara-kun?"

"Hm."

"Ah, yang itu, ya?"

"Mana?"

"GAARA-KUUUNN~!"


Little Brother vs Boyfriends

© Andromeda no Rei

.

Standard Disclaimer Applied

.

.

Kiroku 2 :

Lho? Anak Pejabat!

.

.

.

"Otoo-san, sepedaku?" tanya Sakura sesaat setelah ia menghabiskan sarapannya pagi itu, di ruang makan keluarga Uchiha. Ia melirik pria yang berdehem kebapakan di hadapannya takut-takut.

"Memangnya harus hari ini, ya?" Fugaku mendongak dari koran yang dibacanya seraya menyeruput kopinya. Mata onyx-nya menatap Sakura dengan pandangan bingung.

Sakura melirik Sasuke yang mencibir ke arahnya. Gadis itu kemudian menganggukkan kepalanya pelan. "Pengennya sih gitu," jawabnya pelan. Kakinya menginjak kaki Sasuke di bawah meja, membuat cowok berambut raven itu mengaduh pelan.

"Too-san sibuk, Sakura." Fugaku melanjutkan. "Nanti saja, ne?"

Sakura mengerucutkan bibirnya. Ah, ini dia yang paling Sakura benci dari pekerjaan ayahnya yang seorang kepala kepolisian. Memangnya kasus kriminal sebanyak itu sampai ia tidak sempat membelikan sepeda untuk Sakura?

"Baik, Inspektur," jawab Sakura akhirnya.

Sekali lagi ia melirik Sasuke yang kini sedang merapihkan kerah gakuran-nya di depan cermin westafel. Sedangkan si adik hanya menatap kakaknya sambil mencibir dengan ekspresi datar melalui pantulan bayangan cermin.

Oke.

Kemarin siang Gaara, pacar Sakura yang tinggal di Suna—datang. Dan hari ini ia akan berkunjung ke sekolah Sakura untuk menemui pamannya, Yashamaru, yang bekerja di sekolah itu sebagai guru sastra. Dan lagi, jika hari ini Sakura harus pulang-pergi dengan Sasuke, itu artinya ia tidak bisa pergi kencan dengan Gaara sepulang sekolah!

Ahh, padahal Sakura sudah janji mereka akan keliling Konoha dengan sepeda hari itu. Baiklah, ini pelajaran bagi Sakura untuk tidak lagi menjanjikan hal yang belum pasti terhadap seseorang—terutama pacar-pacarnya.

Oh tapi bukan itu yang membuat Sakura tidak bisa berhenti melirik teman-teman perempuannya di sekolah hari ini. Oke, bukan hanya teman-temannya. Tapi setiap anak perempuan di sekolah itu! Mengapa? Karena bahkan sejak bel aneh pertanda masuk pagi tadi berdering, anak-anak perempuan itu tampak lebih centil dari biasanya. Mereka berdandan—memoleskan bedak lebih tebal dari biasanya. Dan apa-apaan itu? Lipstik merah muda? Maskara? Tatanan rambut yang dibuat sedemikian rupa?

Risih—tentu saja.

Hanya karena ada kabar yang mengatakan bahwa anak laki-laki Wali Kota Suna akan datang ke sekolah itu mereka jadi super dramaqueen! Sakura mengerutkan keningnya, kesal. Ayolah, Gaara 'kan ke sekolah itu cuma karena ada perlu dengan Yashamaru-sensei. Mengapa anak-anak itu bertingkah seolah Gaara akan mengadakan pemilihan calon pendamping hidup? Hei, tidakkah mereka sadar bahwa cowok bermata aquamarine itu sudah punya pacar?

Uchiha Sakura namanya, salah satu murid penghuni kelas 3-2.

Tapi gadis itu melupakan satu hal.

Ia bahkan tidak sepopuler Yamanaka Ino, sahabatnya.

Jadi siapa yang akan tahu jika ternyata ia kekasih dari seorang Sabakuno Gaara? Well, mungkin hanya segelintir orang yang tahu. Tapi tetap saja ia tidak akan dipedulikan oleh (hampir) seluruh siswi SMA Konoha—bahkan oleh junior-juniornya.

Sakura tersentak kaget saat dirasakan ponselnya bergetar dalam saku roknya. Mata emerald-nya terbelalak ngeri. Siapa sih?, gerutunya dalam hati. Bagaimana tidak? Ini masih jam sebelas dan sekarang Asuma-sensei sedang menerangkan pembahasan soal-soal integral parsial. Dan Sakura adalah tipe Harmione Granger—yang paling suka mendengarkan pelajaran, mencatatnya dalam buku catatan, membaca dan mempelajarinya lagi, lalu dapat nilai terbaik dalam ulangan. Dan tentu saja, membaca e-mail saat jam pelajaran berlangsung, merupakan sesuatu yang—err... nggak Sakura banget!

Tapi walau bagaimanapun Sakura adalah anak SMA biasa, yang pasti—meski hanya sedikit—puas akan suatu pelanggaran peraturan (baca: nakal).

Gadis berambut bubble gum sebahu itu gantian melirik Asuma yang sedang menulis sambil menjelaskan dan ponsel dalam saku roknya. Dengan sedikit gemetar, tangan kanannya turun—meraba roknya, hingga tangan itu menyusup ke dalam saku. Sakura menarik tangannya perlahan-lahan, berusaha untuk tidak membuat gerakan yang mencurigakan.

Flip ponsel putihnya terbuka, menampakkan sebuah e-mail masuk;

From : Gaara-kun

Subject : penting

Sakura kau masih di kelas? Jam istirahat aku tunggu di kantin.

画亜羅

Ujung-ujung bibir Sakura terangkat membentuk seulas senyum, ditambah dengan pipinya yang kini merona. Meski sebelumnya ia sempat mengutuki orang yang iseng mengiriminya e-mail di saat yang tidak tepat, tapi gadis itu kini begitu berbunga-bunga(bangkai). Masih dengan senyum mengembang, ia memencet dengan cepat tombol-tombol pada ponselnya untuk mengirim pesan balasan.

Reply to : Gaara-kun

Subject : re[penting]

Baiklah, kapten (^.^)b

サクラ

SEND

Sakura mengangkat wajahnya yang masih tersenyum. Dan saat itu juga, saat Sarutobi Asuma menatapnya penuh curiga—senyum Sakura raib. Bibirnya komat-kamit tidak jelas, mungkin berdoa—atau membaca mantra untuk mengutuk sang guru matematika.

"Ada sesuatu yang lucu, Uchiha?" Asuma menatap Sakura intens.

"Ti-tidak, Sensei—sumimasen," jawab Sakura terbata. Kini mukanya memerah karena malu. Ia selalu jadi murid patuh yang hampir tidak pernah melalukan pelanggaran atau kecerobohan kecil lainnya, dan sekarang harus tertangkap basah karena tidak mendengarkan penjelasan guru dan asik ber-email ria? Oke, mungkin Sakura tidak tertangkap basah. Tapi, hei—! Kecurigaan Asuma cukup beralasan.

Tapi tunggu dulu.

Mengapa Shikamaru yang duduk di sebelah kiri Sakura—yang jelas-jelas tidur dengan dengkuran halusnya—tidak ditegur meski tidak memperhatikan pelajaran? Yang benar saja! Sakura mengerucutkan bibirnya, kesal. Ia men-deathglare Shikamaru yang masih saja tertidur dengan pulasnya.

.

.

.

Jerit pilu—ah, bukan. Itu bukan jeritan-jeritan pilu. Itu jerit kebahagiaan. Jerit yang sangat manusiawi, yang didengungkan oleh seluruh kaum hawa penghuni kantin pada jam istirahat SMA Konoha. Ada yang bertanya mengapa? Karena pemuda itu datang. Haruskah disebut pangeran? Tidak juga. Ia hanya seorang putra bungsu dari Wali Kota Suna, sebuah kota yang terletak sekitar 150 mil jauhnya dari Konoha.

Ya, Sabakuno Gaara saat ini sedang duduk di salah satu meja di tempat yang mirip kafetaria itu. Ia menopang dagunya dengan jemarinya yang bertautan. Ekspresi datar jelas tertampang pada wajah stoic-nya. Mata aquamarine-nya sesekali melirik ke kanan-depan-kiri dan seterusnya, seolah mencari sesuatu yang abstrak. Dan sepertinya ia sudah menemukan apa yang ia cari.

There she is.

Gadis itu di sana, baru saja memasuki areal kantin sambil berlari-lari kecil dengan senyum manis terkembang pada wajah ovalnya. Rambut permen kapas sebahunya menari-nari terbawa tekanan udara yang menerpa setiap kali ia melangkahkan kaki-kakinya.

Gaara melayang.

Aww~

Jeritan-jeritan sopran tadi kini terdengar sayup-sayup di telinga cowok bertato ai itu. Kedua bola matanya seakan terhipnotis oleh sosok sang kekasih yang agaknya masih celingukan mencari sosok Sabakuno bungsu itu. Sampai akhirnya iris emerald itu bersirobok dengan sang aquamerine.

Ahh, indahnya dunia ini.

Si gadis merah muda mempercepat langkahnya, menyongsong Gaara.

Gaara berdiri dan tersenyum tipis. Kedua lengannya sedikit merentang kaku. Kau mau apa, Gaara? Oh, mungkinkah ini di mana saatnya terjadi adegan-adegan fluffy dalam setiap kisah roman antara sepasang kekasih?

Sepertinya memang begitu.

Kedua tangan Sakura terulur ke depan. Ia semakin dekat dengan Gaara yang siap menyambutnya dengan pelukan hangat—mungkin.

.

.

Empat langkah lagi.

.

.

Tiga langkah lagi.

.

.

Dua langkah lagi.

.

.

Sakura menutup kedua bola matanya. Dan—

GREP

Indahnya duniaaa~

Sakura memeluk pemuda di hadapannya cukup erat. Sepertinya tidak bertemu dengan sang Sabakuno selama beberapa bulan ini membuat tingkat kerinduannya mencapai stadium akhir. Tapi, mengapa Gaara tidak balik memeluknya, ya? Bukankah tadi cowok itu sudah merentangkan tangannya? Mengapa Sakura tidak merasakan lengan Gaara di punggungnya? Lalu mengapa dagu Gaara jadi terasa berambut? Sejak kapan Gaara punya jenggot?

Sakura mengernyit. Ia membuka matanya perlahan, dan melepaskan pelukannya.

"Hn, peluk nee-san—lima puluh ribu Yen."

Suara menjengkelkan itu lagi.

Ternyata Sakura memang tidak pernah memeluk Gaara di kantin—di depan seluruh penghuni kafetaria itu.

Ternyata Gaara memang tidak pernah membalas pelukannya.

Dan ternyata Gaara memang tidak pernah berjenggot.

Karena pada kenyataannya, barusan itu Sakura sedang memeluk punggung adik laki-lakinya—Uchiha Sasuke, yang entah sejak kapan berdiri memunggunginya dengan seringai penuh kemenangan.

Sepertinya insting Gaara lebih peka. Paling tidak, ia bisa membedakan postur tubuh orang yang hendak dipelukanya. Sehingga ia membatalkan aksinya dan memilih diam—menatap onyx di hadapannya dengan ekspresi campuran antara kesal dan bosan.

"Sasuke-kun!"

Sasuke menoleh ke arah kakak perempuannya yang menatapnya penuh amarah. "Apa?" tanyanya dengan watados.

"Ngapain di situ? Minggir!" Sakura mendorong Sasuke ke samping agak kasar, membuat beberapa siswi kelas satu dan dua yang menyaksikannya menahan napas sejenak.

Sasuke melirik sang kakak sekilas dan mendengus kesal.

"Hai, Gaara-kun," sapa Sakura sambil tersenyum canggung. Pipinya merona merah, merasa sedikit tidak enak atas tindakan adiknya yang sister complex itu. "M-maafkan Sasuke-kun, ya? Kau 'kan tahu sendiri Sasuke-kun agak stres karena nggak laku-laku—"

"Aku punya banyak penggemar," potong Sasuke.

"—tapi dia menderita kelainan, sehingga nggak suka cew—"

"Aku masih normal."

"—jadi sebenarnya Sasuke-kun itu sedang bosan karena te—"

"Aku sengaja datang ke sini untuk menghenti—HEI!" Sakura menarik paksa lengan Sasuke dan menyeret cowok berambut raven itu ke pojokan kantin. Sasuke mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.

"Dengar, Sasuke-kun." Sakura mendesis, menatap Sasuke intens. "Ini bukan waktunya untuk bercanda, baka. Kau suka sekali menggangguku, sih. Sana kembali ke habitatmu."

"Ini kantin, Nee-san," ucap Sasuke. "Memangnya salah kalau aku mampir untuk beli segelas pudding?"

"Kalau begitu sana beli pudding dan duduk dengan tenang," lanjut Sakura dengan sedikit menggeretakkan gigi-giginya. "Nggak usah ganggu acaraku dengan Gaara-kun."

Sasuke menundukkan wajahnya. Ia tidak menjawab, menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangnya. Mata onyx itu menatap emerald di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Sakura mengernyit, sedikit bingung atas diamnya Sasuke.

"Sasuke-kun—"

"Aku cuma nggak suka nee-san pelukan sama orang itu," ucap Sasuke akhirnya.

"Gaara-kun pacarku, Sasuke-kun..."

"Aku nggak pernah bilang kalian resmi pacaran."

Sakura menarik napas panjang. Kumat sudah penyakit Sasuke-kun, pikirnya. "Sasuke-kun—dengar, aku tahu ini salahku yang terlalu—"

"Iya, iya," potong Sasuke sambil membuang muka. Ia kemudian menegakkan kembali punggungnya dan melirik Sakura sekilas. "Gomen," ucapnya pelan seraya beranjak pergi meninggalkan sang kakak yang masih terbengong.

Gadis berambut bubble gum itu menepuk dahi lebarnya pelan sebelum akhirnya membalik badannya dan menatap Gaara yang telah duduk sambil memandangnya dengan ekspresi—err... cemas? Sakura tersenyum kecut dan berjalan menghampiri sang kekasih.

Sakura duduk berhadapan dengan Gaara. Ia—sekali lagi—tersenyum canggung menatap aquamarine di hadapannya.

"Gomen ne,Gaara-kun," ujarnya pelan. "Aku benar-benar minta maaf."

"Nggak apa-apa, Sakura." Gaara tersenyum lembut. "Aku sudah terbiasa," lanjutnya. Ugh, sungguh Sakura tidak tahan dengan panorama di hadapannya. Senyumnya itu, lho! Ahh, andai saja saat itu sepasang kekasih itu sadar bahwa scene sederhana di tengah-tengah kantin itu telah membuat beberapa siswa pecinta roman picisan terkapar dengan wajah semerah udang rebus, dan beberapa kaum hawa klepek-klepek bak ikan kakap yang baru saja ditangkap nelayan dan diletakkan di lantai kayu perahu. Nyaris kehilangan nyawa.

Sakura dan Gaara akhirnya hanya ngobrol tidak jelas sambil sesekali tersipu malu dan menyeruput minuman dingin yang mereka pesan untuk menyejukkan suasana di sekitar meja itu—yang entah mengapa jadi sedikit lebih pengap.

Bukan sedikit.

Tapi memang benar-benar agak panas.

Sakura menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, clingukan mencari sesuatu yang tidak jelas—sumber panas itu mungkin?

Dan benar saja.

Di sebuah meja dengan empat kursi di arah jam empat, terlihat Uchiha Sasuke sedang menyedot segelas jus tomat dengan tidak sabaran. Wajahnya memerah, tatapannya tajam. Dari pucuk kepalanya, jika dilihat melalui teropong bumi—tampak kepulan asap keputihan. Di sebelah kanan-kirinya tampak Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata tengah mengipas-ngipasnya dengan beberapa lembar kertas koran bekas.

Sakura sweatdrop.

Ia kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke arah Gaara dan nyengir kuda. Gaara yang mengerti keadaan aneh yang Sakura rasakan hanya tersenyum ramah. Tangannya perlahan bergerak—merayap di atas meja. Sampai akhirnya tangan itu telah menemukan yang dicarinya—tangan mungil Sakura. Hendak digenggamnya tangan itu, namun—

"Pegang tangan nee-san—dua puluh ribu Yen."

Sontak Gaara dan Sakura menjauhkan tangan masing-masing. Ekspresi wajah Gaara tetap datar meski sebelumnya ia sempat merona dan sedikit gelagapan. Sedangkan Sakura menundukkan wajahnya dalam-dalam, menyembunyikan semburat pink pada kedua pipinya.

Mata emerald gadis itu melirik tajam pada sosok Sasuke yang entah sejak kapan duduk di salah satu kursi kosong di meja itu. Sakura kemudian melirik meja tempat Sasuke berkumpul dengan teman-temannya barusan, di arah jam empat. Dan di sanalah ia mendapati Naruto yang nyengir sambil membentuk simbol 'peace' pada jarinya, dan Hinata yang tersenyum kecut seraya menggaruk pipinya yang tak gatal.

Hah, apa asiknya pacaran di kantin jika adikmu yang mengidap sister complex selalu mengawasi gerak gerikmu? Sakura menggerutu dalam hatinya, mengeluarkan sumpah serapah dan bersumpah akan memberi pelajaran pada Sasuke jika pulang nanti.

Gaara yang cenderung pendiam hanya bisa menghembuskan napas panjang, dengan berat hati membiarkan saja Sasuke duduk di antara mereka. Sebenarnya bisa saja Gaara menghajar Sasuke karena telah mengganggu acara berharganya bersama Sakura yang hanya terjadi tidak seberapa kali dalam beberapa bulan. Hanya saja, bagaimanapun cowok bermata onyx yang kini tengah menatapnya tajam itu adalah adik dari sang kekasih. Tentu saja Gaara tidak mau reputasinya sebagai cowok bijaksana runtuh hanya karena hal sepele begini.

Gaara tidak menghiraukan tatapan Sasuke dan hanya fokus memperhatikan Sakura yang tengah bergelut dengan snack dan minumannya—dan juga perasaan tak enaknya. Cowok bertato ai itu tersenyum lembut ketika Sakura juga menatapnya dengan kedua iris emerald indah itu.

"Senyum ke arah nee-san—sepuluh ribu Yen."

Gaara dan Sakura sweatdrop berjamaah.

"Rangkul bahu nee-san—empat puluh ribu Yen," lanjut Sasuke.

.

"Mainin rambut nee-san—dua puluh lima ribu Yen."

.

"Pegang-pegang pipi nee-san—lima puluh lima ribu Yen."

.

"Ter—"

"Sasuke-kun!" bentak Sakura akhirnya. "Memangnya aku ini apa, hah?"

"Aku cuma minta duit," jawab Sasuke asal. "Kau anak orang kaya, 'kan?" mata onyx Sasuke mengamati Gaara.

Gaara tidak menjawab. Ia hanya membalas tatapan tajam Sasuke. Dan terjadilah perang deathglare antara dua orang cowok berwajah stoic di meja nomor 27 kantin SMA Konoha pada jam makan siang.

UGH~

Sasuke itu sebenarnya autis apa gimana, sih? Ahh, padahal 'kan Gaara hanya seminggu di Konoha. Dan Sakura tidak mungkin bisa sering menemuinya karena padatnya kegiatan klub. Sial.

.

.

.

"Ne, Sasuke-kun—kau pulang duluan saja, ya?"

Sakura menungkupkan kedua tangannya, seolah sedang mengucapkan permohonan pada saat berdoa di Kuil. Hanya saja, yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Uchiha Sasuke, adik laki-lakinya. "A-aku masih ingin jalan-jalan sebentar," lanjutnya pelan.

Sepasang kakak-beradik beda warna rambut itu tengah berdiri di tempat parkir siswa. Tidak memedulikan gemuruh celotehan murid-murid yang berlalu lalang mengambil sepeda di tempat itu, mereka masih saja beradu mulut kecil layaknya sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

Sasuke melirik kakaknya sekilas. "Nggak," jawabnya datar. Ia kemudian menuntun sepedanya pelan ke gerbang utama sekolah, diikuti Sakura dari belakang.

"Aku cuma sebentar, kok," pinta Sakura seraya mengimbangi jalan Sasuke.

"Kalau nee-san tetap memaksa, aku akan mengikuti nee-san sampai jalan-jalannya selesai," ucap Sasuke tanpa sekali pun menoleh.

Sakura mengerucutkan bibirnya, mengernyit—tampak berpikir keras. "Mmm... kau boleh pakai pengering rambutku selama seminggu, deh." Sakura menjentikkan jarinya sembari tersenyum lebar ke arah si adik.

Sasuke menghentikan langkahnya dan menoleh. "Aku bisa pakai punya kaa-san," ujarnya.

Sakura menggembungkan pipinya, kesal. Mata emerald-nya tanpa sengaja mendapati siluet seseorang yang sedang ditunggu-tunggunya tengah bersandar pada gerbang sekolah sambil menengadah menatap langit sore. Gadis berambut sewarna permen kapas itu tersenyum.

"Pokoknya Sasuke-kun pulang duluan!" ucapnya seraya menghadang Sasuke. "Bilang sama okaa-san, aku bakal pulang sebelum senja. Jya na~"

Dan tanpa berniat menunggu respon dari sang adik, Uchiha Sakura bergegas pergi dari tempat itu, meninggalkan Sasuke yang hanya bisa bengong.

"Kau nggak bisa terus-terusan membayanginya, Sasuke."

Suara serak-serak basah terdengar dari belakang Uchiha bungsu itu. Ia menoleh, mendapati kedua sahabatnya, Naruto dan Hinata sedang berdiri menatapnya dengan sedikit cemas.

"Hn, aku tahu." Sasuke merespon dan kembali menuntun sepedanya.

"Maksudku, kau carilah pacar," ujar Naruto sambil mengimbangi langkah Sasuke. "Yeah, paling nggak—gebetan."

Sasuke memutar bola matanya, bosan. Mengapa teman-temannya selalu saja menyuruhnya pacaran sedangkan ia tidak pernah sedikit pun tertarik dengan anak-anak perempuan? Well, sebelumnya ia memang tidak pernah punya teman perempuan yang cukup dekat. Paling-paling si Hinata. Itu pun pacarnya Naruto.

"N-Na-Naruto-kun benar," ucap Hinata terbata. "S-Sasuke-kun 'kan punya banyak penggemar cewek, j-jadi pasti gampang punya pacar."

Sasuke menghentikan langkahnya, membuat Naruto dan Hinata turut berhenti dan menoleh ke arah sang Uchiha. "Aku nggak tertarik," ujarnya kemudian.

Naruto dan Hinata saling berpandangan sebelum akhirnya mereka menghela napas berat bersamaan. Menyuruh Sasuke untuk cari pacar sama saja dengan menyuruh Lee berhenti maen sepak bola—tingkat kemustahilannya mencapai 99 persen!

Keluar dari gerbang sekolahnya, Sasuke celingukan mencari sosok Sakura. Namun tidak didapatinya di manapun di sekitar sekolah. Tidak mungkin mereka sudah jauh. Pasalnya, mereka hanya jalan kaki.

Mendecih kesal, Sasuke mengayuh sepedanya ogah-ogahan. Terasa janggal memang. Biasanya setiap kali berangkat atau pulang sekolah, bagian belakang sepeda tua itu akan sedikit lebih berat karena beban Sakura yang bonceng di sana. Seharusnya Sasuke bersyukur karena sepedanya jadi lebih ringan sekarang. Tapi pemuda itu hanya tersenyum masam mengingat hari-hari dalam kehidupannya, di mana ia dan Sakura selalu berboncengan ke sekolah, melewati jalan-jalan tikus jika agak terlambat, atau mendengarkan celotehan Sakura di balik punggungnya setiap kali mereka harus mampir ke super market saat pulang sekolah.

Sasuke lagi-lagi tersenyum kecut mengingat hari-hari itu. Tahun-tahun sebelum Sakura punya pacar pertamanya. Pernah saat Sasuke masih kelas lima SD, sepeda mereka rusak. Maka mereka harus jalan kaki pulang-pergi ke sekolah. Namun mereka malah tersesat saat melewati jalan pintas setapak di bukit belakang sekolah.

Ah, kalau dipikir-pikir, yang dulu-dulu itu sangat menyenangkan. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun SMA, Sasuke lebih memilih masa ketika mereka masih SD atau SMP berhenti saja. Dengan begitu ia tak perlu membagi kakaknya dengan orang lain.

Tapi, lupakah Sasuke bahwa siklus kehidupan senantiasa berputar? Bahwa suatu saat nanti, jika tiba waktunya, sepasang kakak-beradik pun harus menempuh perjalanannya masing-masing?

Sasuke tidak pernah menyesal memiliki hubungan darah dengan Sakura. Hanya saja, kadang rasa sayangnya memang agak berlebihan. Jika saja yang orang sebut reinkarnasi memang berlaku di dunia ini, Sasuke berharap ia menjadi orang yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Sakura di kehidupan yang selanjutnya. Namun keluarga Uchiha terlalu ilmiah untuk mempercayai hal-hal seperti itu.

Ketika sampai di perempatan, Sasuke melihat sosok Sakura yang sedang berjalan di taman kota sendirian, dan Gaara yang nampak menghampiri sebuah mesin minum otomatis. Reflek, Sasuke membelokkan sepedanya secara brutal—hingga ia tidak melihat seseorang yang hendak menyeberang di sampingnya.

"Sial!"

CKIIIIIIIIITTT

"Kyaaaa~!"

Sasuke ngerem mendadak hingga sepedanya sedikit oleng. Ia kehilangan keseimbangan, dan dengan cekatan melompat dari sepedanya yang berjalan tak tentu arah hingga menabrak tiang lampu jalan.

Sasuke menghembuskan napas lega. Tapi detik berikutnya ia baru sadar bahwa tadi ia nyaris saja menabrak seseorang. Sasuke segera bangkit, celingukan mencari orang tadi.

Di sana, tak jauh dari tempat sepedanya menabrak tiang lampu hingga sedikit reot, tampak seorang gadis seusianya terduduk di trotoar—menatap sepeda reot Sasuke dengan pandangan ngeri. Gadis berkacamata itu tampak ketakutan.

"Kau nggak apa-apa?" Sasuke menghampiri gadis itu dan menawarkan tangannya untuk membantunya berdiri. Anak SMA Konoha juga, pikir Sasuke ketika memperhatikan seragam sailor yang dikenakan gadis berambut merah sepunggung itu.

Gadis itu mengangkat wajahnya yang masih tampak ketakutan, menatap Sasuke dengan pandangan yang sulit diartikan. Dengan sedikit ragu, ia meraih tangan Sasuke dan berdiri dengan sedikit limbung. "A-arigatou, Uchiha-san," ucapnya seraya menundukkan wajah.

"Hn? Kau mengenalku?" sebelah alis Sasuke terangkat.

"Semua murid kelas dua pasti tahu pemain inti tim basket sekolah," jawab gadis itu.

"Hn." Sasuke merespon. Cowok berambut spiky duck-butt itu kemudian menghampiri sepedanya yang reot karena menghantam tiang lampu. Ia mendecih kesal. Sekarang bagaimana ia harus menjelaskan keadaan ini kepada sang ayah?

"A-anu... Namaku Karin, dari kelas 2-4." Suara perempuan itu lagi.

Sasuke menoleh, melihat gadis berkacamata tadi masih berdiri mematung di sana. Sasuke mengira gadis itu telah pergi sejak tadi, karena itulah ia jadi agak bingung. Apa-apaan itu? Mengapa gadis itu malah memperkenalkan diri? Adakah yang bertanya? Dan... mengapa wajah gadis itu jadi merona?

Sebelah alis Sasuke lagi-lagi terangkat. "Aa," responnya singkat.

Sekarang, the-Karin-girl malah nyengir. Ugh, mengapa sore ini Sasuke sial sekali? Sudah tidak bisa memantau acara jalan-jalan Sakura, sepedanya rusak, dan apalagi ini? Gadis aneh yang suka senyum-senyum sendiri dengan pipi memerah? Dan—tatapan macam apa itu? Sasuke—entah mengapa—jadi ngeri melihatnya. Dia nggak bakal memperkosaku, 'kan?, batinnya ngaco.

"Lho—Sasuke-kun?"

Dan alangkah kagetnya Sasuke ketika suara yang sudah dikenalnya sejak bayi itu terdengar jelas di belakangnya. Ia menoleh, mendapati sang pemilik suara berdiri memandanginya dengan tampang bingung.

Lalu emerald itu bersirobok dengan sepasang iris ruby di hadapannya.

Lho?

.

.

.

つづく

[to be continued]


Author's Note :

Aloha, semuanyaaa~! (^0^) rei datang lagi dengan chapter 2! TARAAA~! Kali ini gaara yang nongol, lhoo~ tapi sedikit ya scene GaaSaku nya? Gomen-nasai ne? Pengen bikin Sakura-centric tapi tetep aja rei nggak bisa lepas dari SasuSaku (TT^TT) hoeeee... Kishimoto-sensei~ nanti endingnya jadiin SasuSaku beneran yaa? *kicked* xD

TAPI FIC INI BUKAN INCEST! Rei kan uda bilang, rei nggak suka incest ato unique pairing lainnya, jadi nggak mungkin ini jadi incest. Ini bakal fokus SasuSaku brotherhood kok ^^a

Oke, jawab pertanyaan dari reviewers dulu~

1. Ada Itachi nggak? Ohh, Itachi pasti nongol kok, tenang aja ^^ dia 'kan suamiku #BHUAGG

2, Sebenernya SasuSaku itu sodara kandung bukan, sih? A-aaa... bu-bukaaann~ tanya tuh sama om Fugaku *dijitak*

3. Ntar Sakura sama siapa kalo Sasuke sodaranya? Sama sapa aja boleh~ asalkan Sasuke setuju. Tapi kayaknya bakal susah (=="a) iya nggak, Sas? xD

4. Sebenernya pacarnya Sakura itu siapa, sih? Wah banyak, sejauh ini author baru kepikiran neji, gaara, sasori, suigetsu, kiba. Nggak tau deh kalo ntar nambah lagi *dihajar rame-rame*

Hohoho itu dia acara tanya jawab yang berhasil rei rangkum dari review di chapter lalu ^^ yosh! TERIMA KASIH BANYAK buat :

Chousamori Aozora, Ricchu, Ellechi, Matsumoto Rika, Jasmine fu, no name, Uchiha Reiko Ichihara, vvvv, mayu akira, ruki-ruki chan, gieyoungkyu, Violet7orange, haruno gemini-chan, 4ntk4-ch4n, Uchiharu 'nhiela Sasusaku, Soraka Menashi, Zhie Hikaru-chan, ryukimisa-chan, Raion, Lau Xian, ruki ruu mikan head, sasusaku phoreper, kaoru shibuya, dan SEMUA silent readers jugaaa~ makasihh yaa (^^)/

Maaf kalo rei telat apdetnya. Bingung milah milah ide, sih (="=) yosh! Chap ini rei persembahkan buat yang udah setia menunggu, yang fave, yang alert, dan yang cinta Haruno Sakura! Maaf kalo jelek dan banyak typo. SEMOGA SUKAAA~ akhir kata, REVIEW please?

Salam,

Al-Shira Aohoshi

a.k.a Andromeda no Rei