WARNING : OOC, AU, DIKSI BIASA AJA, EYD BERANTAKAN.
DON'T LIKE, DON'T READ
Don't be stubborn, I've warned you.
SUMMARY :
Apakah ini karma bagiku ?
Aku yang dulu membencinya.
Perasaan itu perlahan-lahan berubah seiring berjalannya waktu.
Kebersamaan kami selama ini.
Apakah ini cinta ?
.
.
.
.
.
.
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kisimoto
Rival Love © Fine-chan Uchiha (Carmelion Alyssum)
Pairings : Sasuke Uchiha – Sakura Haruno
.
.
.
.
RIVAL LOVE (CHAPTER 3)
Angin berhembus melewati dedadunan kering, menimbulkan irama yang khas. Aroma khas bulan September menguar dari setiap penjuru kota kecil ini. Terlihat semua orang tak luput dari Syal dan Mantel. Tak terkecuali untuk gadis berambut pink ini. Dengan syal berwarna putih gading melilit indah di leher jenjangnya, serta sebuah mantel berwarna serupa membungkus indah tubuhnya yang kedinginan. Hidungnya memerah, tangannya menggenggam erat buku yang (cukup) tebal—menurutnya. Ia berjalan tergesa-gesa menuju halte bus yang berjarak cukup jauh dari ia melirik arloji yang tersimpan rapi didalam saku jaketnya.
"Hhhhh…Ayolah, aku bisa terlambat." Gerutunya, ia menghentak-hentakan kaki jenjangnya pada trotoar yang diinjaknya. Sedikit menyesal karena kemarin ia memutuskan untuk bangun agak sedikit siang.
Sekali lagi ia melirik arlojinya, sudah lima menit berlalu sejak ia sampai di halte bus ini, akan tetapi bus yang ia nanti tak kunjung datang. Ponselnya bergetar, menandakan sebuah e-mail masuk.
From :Ino Pig
Forehead kau dimana? Bel bentar lagi bunyi, ulangan fisika jam pertama.
Dasar Sakura bodoh! Dia merutuki dirinya dalam hati. Tak lama kemudian bus yang ia tunggu-tunggu pun datang. Dia menghela napas lega.
.
.
.
Sakura berlari sepanjang koridor sekolahnya, sudah jelas ia kesiangan. Napasnya memburu, wajahnya memerah. Dia mengehela napas, mempersiapkan dirinya untuk menerima semua kemungkinan yang terjadi saat ia masuk kelas. Ia melangkahkan kaki jenjangnya memasuki kelasnya, seluruh pasang mata yang ada menatap padanya.
"Hontoo ni gomenasai Sensei, saya telat." Sakura ber-ojigi.
"Sudah kebiasaa—" Perkataan Orochimaru terpotong saat salah seorang muridnya yang lain masuk dengan terengah-engah.
"Gomenasai sensei." Pria berambut raven itu membungkukkan badannya di hadapan sang guru.
"Kebiasaan kalian terlambat saat pelajaranku." Kata Orochimaru tenang. "Sekarang, simpan tas kalian lalu berdiri di depan kelas selama pelajaranku. Kalian akan ikut ulangan susulan dengan 20 soal ekstra nanti sepulang sekolah."
"Ha'i sensei" Kedua insan tersebut menghela napas berat, lalu mengikuti apa yang diperintahkan oleh senseinya itu. Tanpa mereka sadari, sepasang mata aquamarine menatap mereka dengan tatapan cemburu.
===oOo===
"Hatccciiii!"
"Kamu kenapa sih? Daritadi bersin terus?" Seorang pria berambut raven memandang lekat-lekat gadis disampingnya.
"Hhhhhh….Diam saja baka!" Gerutu gadis berambut merah muda itu sembari mengelap hidungnya yang sudah memerah.
"Kayaknya kamu sering banget sakit ya jidat? Jangan-jangan kamu punya penyakit imunodefisiensi1 ya?" Kata Sasuke dengan nada menggoda.
"Sudah kubilang diam saja ayam baka!" Sakura memberikan deathglare andalannya pada Sasuke.
"Hn, yasudah." TImpal Sasuke Innocent.
.
.
.
.
Disudut ruangan itu, seorang gadis berambut pirang dengan mata Aquamarinenya yang tak henti-hentinya mengeluarkan bulir-bulir air mata. Isakkannya menggema diseluruh penjuru ruangan itu. Ditundukkannya kepalanya diantara kedua lututnya, tangannya mencengkram erat rok yang ia pakai.
"Bodoh! Kau memang bodoh Yamanaka Ino!" Gumamnya pelan.
Tak seorangpun tahu, bahkan dirinya sendiri pun tidak tahu perasaan apa yang selama ini selalu melingkupi relung hatinya. Perasaan sakit jika melihat Sasuke bersama gadis lain. Perasaan takut—takut akan kehilangan Sasuke. Perasaan benci pada gadis yang bersama Sasuke sekarang. Mungkinkah ia membenci Sakura, sahabatnya sendiri? Tidak mungkin! Ia mengelap air matanya, bangkit dari duduknya. Lalu melenggang pergi dengan sejuta kepedihan yang menghantui dirinya.
===oOo===
Jam sudah menunjukkan pukul 04.10 waktu setempat. Dan tak lama lagi bel pulang akan berdentang dan mengakhiri acara belajar mengajar disekolah ini. Akan tetapi, tidak bagi Sasuke dan Sakura. Mereka harus mengikuti ulangan susulan Fisika sore ini.
"Aku malas kalau harus ikut ulangan susulan kayak gini. Hatchhiiii!" Sungut Sakura pada Sasuke yang kini tengah berjalan disampingnya.
"Hmmm.." Dengan seenak jidat Sasuke menempelkan punggung tangannya pada dahi Sakura. Sontak wajah Sakura memerah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Sasuke. Sentuhan Sasuke memberikan sensasi tersendiri baginya. Perasaan bahagia menyeruak dalam dirinya. "Kau demam bodoh!" Lanjut sasuke menyentil dahi Sakura. Sakura hanya bergumam pasrah.
.
.
.
"Waktu kalian untuk mengerjakan soal ini hanya 30 menit, tidak lebih." Terang Orochimaru pada kedua muridnya. Kedua insan itu hanya mengangguk tanda mengerti.
Irama alam yang khas mulai terdengar, suara khas angin yang bergesekan dengan dedaunan kering menimbulkan alunan musik musim gugur. Suhu diruangan itupun mulai menurun drastis. Memaksa setiap orang yang berada didalamnya untuk lebih merapatkan mantel serta syal yang mereka gunakan.
Suara goresan pensil yang mendominasi serta Symphoni alam yang berdendang lembut diluar menjadi sebuah harmoni yang indah sore ini.
"Waktu kalian 5 menit lagi." Ucap Orochimaru dingin, mengalahkan dinginnya suhu saat ini.
"Sensei." Pria yang dipanngil sensei itu menoleh.
"Simpan disana." Jawabnya dingin seraya menunjuk tumpukan kertas yang disimpan rapi diatas meja guru. Tak lama kemudian gadis bermata Emerald mengikuti apa yang dilakukan pria berambut raven itu yaitu menyimpan lembar jawabannya diatas meja guru. Lalu mereka berdua melenggang pergi meninggalkan ruangan itu.
"Hatcchiii!" Suara bersin gadis bermata Emerald menggema disepanjang koridor sekolah, membuan pria disampingnya mengerutkan dahinya.
"Kuantar kau pulang. Aku tak akan membiarkanmu pulang dengan keadaan seperti ini." Kata Sasuke. "Hidungmu sudah memerah, pasti kau kedinginan jidat." Tambahnya dengan nada mengejek.
Sakura hanya memberikan deathglare andalannya pada Sasuke. Tiba-tiba Sasuke menggenggam tangan Sakura lalu memasukkannya kedalam saku mantelnya, tangannya masih menggenggam tangan Sakura. Wajah Sakura memanas, jantungnya berdetak sangat kencang, ia takut kalau-kalau sternum miliknya mengalami fracture2. Keringat dingin mengalir deras ditengkuk dan pelipisnya. Ia tak berani menatap Onyx milik Sasuke.
Keheningan yang menyelusup diantara kedua insan muda yang kini tengah berjalan beriringan, ditemani dengan symphoni alam yang mengalun merdu ditengah kota kelahiran mereka. Semburat orange yang sedari tadi menghiasi cakrawala mulai berganti dengan warna biru kehitaman. Membentuk sebuah gradasi yang indah dan mempunyai nilai estetika yang tinggi.
Mereka masih berjalan dalam keheningan, sepertinya tak ada yang berniat untuk memulai sebuah percakapan yang berarti. Sasuke masih menggenggam tangan Sakura dengan wajah stoic yang ia miliki, ia mencoba menyembunyikan perasaan aneh yang kini tengah menghangatkan seluruh tubuhnya.
"Sepertinya sampai disini saja kau mengantarku." Ucap sakura tanpa menoleh sedikitpun lawan bicaranya. "Rumahku tak jauh dari sini, setelah belokan itu."
"Hn, kau yakin hanya sampai sini saja?" Kata Sasuke. Ia enggan melepaskan genggaman tangannya pada tangan Sakura.
"Tak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja." Jawab Sakura masih memepertahankan pandangannya lurus kedepan.
"Jika itu yang kau mau, aku tidak bisa melarang." Sedikit tidak rela Sasuke melepaskan genggaman tangannya.
"Terimakasih sudah mengantarku." Kata Sakura masih tak berani menatap mata Onyx milik Sasuke.
"Hn, sama-sama." Balas Sasuke.
Dia belum beranjak dari tempatnya berdiri, menatap punggung Sakura yang kian lama semakin menjauh. Hingga pada akhirnya sosok itupun menghilang dibalik tikungan. Ia menghela napas berat lalu berjalan menuju kediamannya.
Sementara itu disisi lain. Sakura berjalan dengan sejuta opini melekat disetiap sel otaknya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang hari ini Sasuke lakukan padanya serta perasaan yang melingkupi dirinya ketika ia berdekatan dan bersentuhan dengan pria bermata Onyx tersebut. Seakan-akan setiap lapisan integument3-nya sensitive terhadap sentuhan yang diberikan oleh pria itu. Ada sensasi aneh yang menjalar diseluruh tubuhnya tatkala pria itu menggenggam tangannya. Dan (sedikit) perasaan tidak suka jika pria itu berdekatan dengan gadis lain. Semua ini membuatnya pusing. Apalagi dengan perlakuan Sasuke yang ramah—cukup ramah—sangat ramah.
Pada saat angin berhembus menerpa wajahnya membuat rambut merah mudanya sedikit berkibar (?), sebuah pertanyaan muncul didalam otaknya.
Apakah aku mencintainya….?
===oOo===
Keesokan harinya….
130 derajat Celcius, temperature yang cukup dingin untuk membuat setiap orang enggan beraktivitas. Suhu yang dingin serta suasana basah dan berawan yang diciptakan musim gugur membuat semua orang ingin bermalas-malasan dirumah dan enggan beraktivitas. Ditambah lagi hembusan angin musim gugur yang memaksa setiap orang memakai pakaian yang cukup tebal untuk melindungi dirinya dari terpaan angin.
Gadis itu—gadis berambut pink sebahu tengah menatap nanar pria bermata Onyx yang kini tengah menantinya didepan pintu rumahnya, dengan sebuah sepeda terparkir dibelakangnya.
"Ayo berangkat bareng." Ajak Sasuke.
"Kau ini ada-ada aja ayam." Jawabnya mencoba bersikap menantang.
"Hn. Ayo balapan kalo gitu." Sasuke menyeringai.
"Boleh. Aku pasti menang." Sakura balas menyeringai.
"Yakin Sekali menang." Sasuke meremehkan.
"Pasti." Sakura mengangkat jempolnya.
.
.
.
.
Saturday, 13.00 am
"Inooooooo!" teriak Sakura. Terlihat Ino tengah menulis sesuatu pada secarik kertas dan sesekali ia tersenyum. Membuatnya penasaran.
" Lagi nulis apa?" Sakura merebut paksa secarik kertas yang sedang Ino pegang itu.
"Jangaaaaan!" Ino mencoba merebut kembali kertas itu akan tetapi. Terlambat. Sakura sudah terlanjur membaca membaca tulisannya. Mata Sakura membulat, wajahnya pucat, keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Kertas itu terlepas dari genggamannya.
Aku yakin 100% Ino-chan pasti menyukai Sasuke-kun
Soalnya Ino-chan kan bilang padaku kemarin, kalau saat Ino-chan berdekatan sama Sasuke-kun, jantung Ino-chan selalu berdetak lebih cepat dari biasanya :D terus kalo Ino-chan ngeliat Sasuke-kun sama gadis lain Ino-chan cemburu. Itu semua berarti Ino-chan menyukai Sasuke-kun. : )
I—Ino menyukai Sasuke ? Jantung berdetak, cemburu. Be—Berarti aku juga…
Menyukai Sasuke-kun….
Keringat dingin mengalir deras di tengkuknya. Otaknya berpikir lebih cepat, lau ia melakukan hal yang tak terduga hari itu.
"Ino, ternyata kamu menyukai si ayam bodoh itu." Sakura tersenyum "Kenapa kamu gak bilang-bilang sama aku? Mungkin aja aku bisa bantu." Sakura menyentuh bahu sahabatnya itu.
"Hah? Kamu beneran mau bantu aku?" Aquamarinenya berbinar.
"Mungkin." Sakura mengangkat bahunya sembari tersenyum. Ino langsung memeluk Sakura.
"Makasih ya jidat." Ino menghapus semua pemikiran tentang Sakura didalam setiap sel otaknya. Ternyata asumsinya selama ini salah—bahwa Sakura akan menjadi musuhnya.
Ino tersenyum senang, sementara Sakura tersenyum miris.
===oOo===
Sungguh Sakura tidak menyangka bahwa Ino—sahabatnya sendiri menyukai Sasuke—pria yang disukainya. Setelah mendengar curhatan Ino siang tadi, Sakura berpikir bahwa ia hanya mempunyai 2 pilihan; menjadi pacar Sasuke dan membuat hati Ino hancur; atau membiarkan Ino menjadi pacar Sasuke dan tetap bersahabat dengannya akan tetapi hatinya yang hancur.
Suara ketukan pintu seketika membuyarkan seluruh imajinasinya.
"Sakura, ibu membawakan makan malam untukmu."
"Masuk saja bu, tidak dikunci kok." Jawab Sakura.
"Ini makan malammu, habiskan ya." Sakura tersenyum tipis.
"Kau kenapa? Ada masalah?" Tanya ibu Sakura. Sakura hanya menggeleng. Akan tetapi, sebelum ibunya keluar ia mendengar ibunya bergumam.
"Kalau ibu menjadi dirimu, ibu pasti akan memilih sahabat daripada laki-laki yang ibu suka."
BLAM…
Dan daun pintu itupun tertutup, meninggalkan satu kalimat yang membuat Sakura memantapkan pilihannya, bahwa ia akan memilih sahabatnya daripada laki-laki yang disukainya.
.
.
.
.
Keesokan harinya ia terbangun dengan perasaan yang (sedikit) lega. Ia memakai seragamnya, tak lupa dengan mantel serta syal miliknya. IA hanya sarapan dengan segelas susu dan sepotong sandwich. Ia berpamitan lalu memulai perjalanannya menuju sekolah. Ia berangkat pagi sekali, sebelum fajar menyingsing. Dia berjalan lambat-lambat, sedikit demi sedikit warna keemasan mulai terlihat dilangit. Kota yang semula beristirahat mulai bangun dan menampakan kehidupannya—jalanan mulai ramai oleh penduduk yang berangkat bekerja maupun yang akan berangkat sekolah.
Gerbang sekolah sudah didepan mata, belum terlalu ramai. Sakura melangkahkan kakinya memasuki lingkungan sekolah. Ia melihat Sasuke berjalan dihadapannya. Tapi ia akan bersikap tak acuh pada Sasuke hari ini. Ia tidak mengetahui bahwa hari ini akan menjadi hari yang menentukan kehidupannya selanjutnya.
"Ohayou." Sapa Ino pada Sakura didalam kelas.
"Ohayou." Sakura menjawab sapaan Ino padanya.
Dan disanalah mereka bertiga…
"Sakura…" Panggil Sasuke.
"Apa?" Jawab Sakura sama sekali tidak menoleh pada lawan bicaranya
"Aku menyukaimu. Kamu mau jadi pacarku?" Ucap Sasuke datar, mata Ino membulat. Sakura mempertahankan ekspresinya.
"Aku tidak bisa." Jawabnya datar.
"Hn." Sasuke beranjak dari kursinya lalu bergegas pergi entah kemana tujuannya. Ino yang masih dalam keadaan setengah kaget, berlari keluar ruangan dengan air mata membasahi pipinya.
Sementara itu Sakura yang tengah sendirian didalam kelas, menangis dalam diam. Sebenarnya aku ingin menjadi pacarmu bodoh. Batinnya dalam hati.
===oOo===
Hari demi hari dilewati Sakura dengan Ino yang memusuhinya serta Sasuke yang mengacuhkannya. Selama itu ia lebih sering menyendiri dan jarang tersenyum. Sebesar itukah rasa sakit yang dirasakan Sakura? SEtaunya INo tidak pernah menyetujuinya berpacaran dengan Sasuke. Sampai pada suatu hari Ino mengajak Sakura untuk berbicara dan itu membuatnya sedikit tercengang.
"Aku setuju kau pacaran dengan Sasuke." Ucap Ino to the point.
"Hmmm…" Sakura bergumam.
.
.
.
.
TBC
A/n :
1 Penyakit tidak mempunyai kekebalan tubuh.
2 Patah/retak tulang
3 Kulit dan Aparatusnya
Maafkan saya karena fic ini jadi gaje -,- #ojigi
Saya juga gak tau kenapa fic ini jadi melenceng kayak gini.
Sekali lagi maafkan saya =,,,=v
Saya juga menerima masukan untuk ending cerita ini. Bisa contact via PM, Facebook, atau Review. Jujur saya juga bingung endingnya ini mau jadi gimana -,,- #gubrak
Kalo ada yang ngerasa gak puas sama cerita ini (EYD,TYPO,DIKSINYA YANG BIASA AJA) saya mohon maaf. Karena saya masih amatiran dan sedang dalam proses belajar. Jadi mohon di maklumi saja -…-
Dan satu lagi, terimakasih banyak bagi yang sudah bersedia untuk membaca fic saya :D
Daripada saya banyak bacot gak jelas, akhir kata:
REVIEW OR CONCRIT PLEASE (lebih diutamakan concrit)
Sign.
Fine-chan Uchiha (Carmelion Alyssum)
