On Rainy Days

Song by : beast

.

.

When the world turns greys

And the rain quietly falls

Guanlin menatap kosong langit-langit kamarnya, dia sedang terbaring diatas single bednya bersiap untuk tidur namun suara air hujan yang menepa atap rumah terdengar kuat dan membuatnya jadi susah tidur. Lamunannya terhenti saat suara guntur terdengar dan mengagetkannya.

Sebuah helaan napas keluar dari bibirnya "hujan sialan." umpatnya melempar bantal dengan kesal.

Everything is still same

Even today, without a doubt

I can't get out of it

I can't get out from the thoughts of you

Bayangan-bayangan itu kembali tergiang di ingatannya. Kenangan manis yang terasa yang sangat menyakitkan untuk diingat itu kembali menyerang Guanlin. Dia terduduk diatas ranjangnya dan mengusap wajah letihnya. Dia menangis untuk yang kesekian kalinya hari ini.

Suara guntur kembali terdengar, seolah-olah mengolok dan memarahi sikap bodoh Guanlin.

Now

I know that it's the end

I know that it's all just foolishness

"hyung, aku takut! Suara gunturnya sangat menakutkan."

Guanlin terdiam. Lagi. Bayangan seonho kembali menghantuinya. Guanlin tau bahwa sesosok Seonho yang ada dihadapannya itu tidak nyata, namun ia tetap tersenyum dan mecoba meraih Seonho.

"apa kau takut?" tanyanya kepada udara kosong dihadapannya.

Guanlin sadar tidak ada siapa-siapa disana, namun dia sangat merindukannya. Dia merindukan Seonhonya.

"aku juga. Aku juga takut" gumamnya "Seonho, aku sangat takut. Bisakah kau memelukku? Aku sangat takut Seonho." Guanlin terus bergumam seakan-akan Seonho yang dihadapannya itu nyata. Menyedihkan. Satu kata itu sangat tepat untuk keadaan Guanlin saat ini.

I am just disappointed in myself for

Not being able to get a hold of you because of that pride.

Guanlin meraih handphonenya dan mulai mengetik nomor Seonho yang selalu diingatnya. Suara dengungan yang menandakan nomor itu masih aktif terdengar.

"halo." Sebuah suara yang lembut terdengar. Itu suara yang sangan ia rindukan. Suara seonho

Guanlin hanya tersenyum miris dan menangis dalam diam. Lidahnya terasa mati dan tidak bisa mengatakan sepatah katapun.

Suara hujan terdengar semakin deras. Mereka terdiam, tidak ada yang berani mengucapkan sepatah katapun.

On the rainy days you come and find me

Torturing me through the night

When the rain starts to stop, you follow

Slowly, little by little you will stop as well

"guanlin, apa kau ada dirumah?" tanya Seonho di seberang sambungan.

Guanlin terdiam, dia bingung untuk menjawab apa. Bodoh. Rutuknya dalam hati.

"guanlin?" panggil Seonho memastikan kalau Guanlin masih ada disebrang sana.

Guanlin mengangguk "iya, aku ada di rumah." Ucapnya dengan suara sedikit bergetar dan mencoba setegar mungkin.

"apa aku boleh berkunjung kerumahmu sekarang?" Suara Seonho kembali terdengar, namun kali ini agak terdengar ragu.

Guanlin tersenyum senang.

"tentu Seonho. Aku akan menunggumu" ucapnya dengan semangat.

Sambungan telpon itu terputus. Guanlin menghela napas gugup. 3 tahun, Seonho selalu menolak panggilan dari Guanlin, dan hari ini Seonho menjawabnya dan berkata bahwa dia kan berkunjung kerumah Guanlin.

When the rain falls again

All the memories of you and i

I hid with effort

It all comes back, it must be looking for you

Dengan cepat Guanlin bangkit dari kasurnya dan merapikan ruang tamunya. Ia mengambil figura fotonya bersama Seonho sewaktu SMA, dan meletakkannya diatas nakas dekat sofa ruang tamu.

Harapannya yang tertimbun untuk kembali kemasa lalu, masa dimana dia dan Seonho bersama kembali muncul. Kali ini Guanlin tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti 3 tahun lalu.

Guanlin menatap gugup pintu rumahnya, kini dia sudah terlihat tampan dan rapi.

Sudah 30 menit dia menunggu dan sosok Seonho belum terlihat. Rasa khawatirdan takut kembali menyerangnya, dia takut jika ternyata Seonho hanya memberikannya harapan palsu dan tidak datang.

1 jam berlalu, hujan mulai reda dan berhenti. Namun Seonho belum datang. Guanlin terduduk di depan pintu. Disaat rasa kecewa mulai menggerogotinnya, suara ketukan pintu terdengar dari luar.

"guanlin?" tanya seseorang dari luar.

Guanlin tersenyum lebar, dia sangat ,mengenal suara itu. Itu suara Seonhonya. Dengan tergesa-gesa ia membuka pintu rumahnya.

What can I do about something that already ended?

I'm just regretting after like the stupid fool I am

Rain always falls so it will repeat again

When it stops, that's when I will stop as well

Ia dapat melihat Seonho tersenyum manis kepadanya.

Guanlin menggaruk lehernya dengan canggung. Ia memberikan senyuman terbaiknya untuk Seonho. mereka terdiam sejenak hingga suara Seonho memecahkan keheningan itu.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Seonho sedikit pelan dan ragu.

Guanlin tersenyum "aku baik. Kau?" balasnya dengan gugup. Dalam hati dia merutuki jawabannya sendiri yang terdengan singkat dan dingin.

Seonho tersenyum tipis "aku juga baik."

Keheningan kembali menyerang. Mereka berdiri canggung di depan pintu rumah Guanlin.

Guanlin menatap Seonho dan mencoba mencaikan suasana canggung diantara mereka "masuklah, sekarang sedang musim hujan. Diluar sini terasa dingin" ucapnya terbelit-belit.

Seonho terdiam dan mengigit bibir bawahnya. Jujur dia juga merindukan pria yang ada dihadapannya dan sangat ingin memeluknya. Hanya saja ia teringat dengan Jihoon, tidak mungkin Seonho akan merusak hubungan Guanlin dan Jihoon kan?

"tidak perlu," ucapnya pelan mencoba menahan air matanya "sebenarnya aku hanya ingin mengantarkan ini." Seonho memberikan sebuah kertas undangan yang berwarna biru langit.

"datanglah bersama Jihoon." Ucapnya dan berbalik meninggalkan Guanlin yang tersentak mendengar nama Jihoon.

On the rainy days you come and find me

Torturing me through the night

When the rain starts to stop, you follow

Slowly, little by little you will stop as well

Guanlin terdiam sesaat mencerna maksud dari Seonho. setelahnya ia kembali tersadar dan berlari mengejar Seonho yang sudah jauh. Hatinya terasa sangat berat dan nyeri melihat punggung Seonho yang meninggalkan dengan dingin.

Guanlin berhenti dan menatap kosong pemandangan di depannya. Seonho memeluk seorang pria yang tidak asing baginya. Itu Minhyun, kakak kelas mereka sewaktu SMA.

Guanlin memejamkan matanya dan menolak untuk melihat pemandangan didepannya. Seonho mencium mesra pipi Minhyun. Ini sangat menyakitkan. Guanlin terdiam dan membalikkan badannya ketika Seonho menyadari keberadaannya.

Guanlin tersenyum miris data membaca isi dari undangan tersebut. Ya, itu adalah undangan pernikahan Seonho dan Minhyun.

(To you)

Now there is no path for me to return

But looking at your happy face

I will still try to laugh since I was the one

Without the strength to stop you

End

Huwa akhirnya selasai satu cerita. Untuk cerita yang lain akan saya lanjutnya secepatnya

gutbay