WOMEN

.

.

Disclaimer : Tokoh-tokoh yang muncul dalam fanfiction ini original by mr. Masashi Kishimoto sementara ceritanya sendiri murni dari hasil pemikiran autor.

Warning : Typo, AU, Sasuke/Karin/Suigetsu, Rated M, OOC, Mengandung unsur sex.

.

.

Wanita.. wanita.. selalu wanita... didunia ini hanya akan ada satu jenis wanusia yang bisa membuatku melakukan banyak hal. Bahkan rela melakukan apapun hanya untuk mendapatkan mereka. Sebagai seorang iblis dengan level teratas, iblis dengan predikat sahabat baik Lucifer, aku tidak pernah bisa tahan dengan aroma tubuh yang selalu menguar dari tubuh seorang wanita. Ahh, wanita... Hanya dengan membayangkannya saja sudah bisa membuat perutku lapar. Hanya dengan mencium bau mereka sudah dapat membuat sisi tergelap dalam diriku bangkit. Membuat mata eternal mangekyo level teratasku bangkit. Dan membuat libidoku naik secara tidak terkendali. Dan dari sekian banyak wanita yang kutemui dan kusantap. Aku punya enam orang santapan terfavorit. Enam wanita dengan aroma paling memikat. Enam orang wanita dengan rasa paling memabukkan.

.

.

MAWAR

.

.

Sesosok tubuh wanita dengan sebuah belati ditangannya terlihat dianjungan sebuah kapal besar dengan bendera bergambar tengkorak berkibar-kibar. Wanita itu terlihat tengah membacakan sebuah mantra-mantra dalam bahasa latin. Sebuah mantra pemanggil iblis. Sebuah gobled berisi darah segar diletakan ditengah-tengah lingkaran bintang pemanggil iblis.

Bibir ranumnya tanpa lelah melantunkan mantra-mantra pemanggil iblis. Pakaiannya yang tidak biasa dipakai wanita di era tahun 1868, kemeja putih bersih dengan tiga kancing yang tidak dikaitkan sehingga memamerkan belahan dadanya yang ranum serta celana ketat berwarna cokelat yang dikenakannya begitu kontras dengan sebuah sabuk besar melilit pinggang rampingnya, tak lupa sebuah korset melekat ketat ditubuhnya.

Kacamata berbingkai tebalnya tak lantas membuat penampilannya menjadi buruk, justru semakin menambah kecantikan eksotis miliknya. Rambut merah ikalnya bergerak seirama terpaan angin laut yang menerpa tubuhnya. Dan semakin cepat rapalan mantra yang keluar dari bibirnya semakin kencang pula angin yang menerpa kapal besar itu, dan kabut tebal yang tiba-tiba saja menyelimuti anjungan itu menghalangi pandangan mata wanita itu selama beberapa saat sampai mata indahnya menangkap siluet tubuh tegap milik seseorang muncul ditengah-tengah lingkaran bintang yang dibuatnya. Matanya semakin fokus memperhatikan sosok tubuh itu hingga asap tebal dan angin kencang itu perlahan menghilang dan semakin memperjelas sosok tubuh itu.

Sesosok tubuh pria tinggi tegap dengan dada bidang dan sorot mata merah yang menyeramkan. Rambutnya yang mencuat melawan gravitasi menambah kesan suram sosok dihadapannya. Kulitnya yang pucat tidak serta merta menghilangkan ketampanan pria itu. Wajah yang terpahat sempurna dengan bentuk tubuh yang sangat sexy membuat wanita itu kehilangan kendali dirinya untuk beberapa saat. Hingga suara bariton pria itu membuat kesadarannya kembali.

"Menarik, ini pertama kalinya aku mendapatkan panggilan dari seorang wanita." Seringai tipisnya yang khas menambah pesona pria dihadapannya.

"Apa kau Sasuke sang pemimpin Iblis?" Sasuke tak menjawab pertanyaan wanita itu, sebaliknya Sasuke berjalan mendakati wanita itu.

"Apa yang kau inginkan manusia?" Sasuke berdiri menjulang dengan gagahnya dihadapan wanita itu, dan dengan nada yang cukup yakin meskipun terdapat sedikit ketakutan dalam nada suaranya wanita itu menjawab.

"Namaku Karin. Aku... aku seorang bajak laut." Dan seringai itupun kembali terlihat.

.

.

"Jadi, apa maumu?" Sasuke menyamankan duduknya diatas sebuah kursi bersandaran tinggi diruangan pribadi milik Karin.

"Aku ingin kau memberitahuku dimana aku bisa menemukan letak harta karun milik Firaun." Karin berdiri satu meter dihadapan Sasuke.

"Ah, maksudmu harta yang pria psykopath itu gasak dari rakyatnya?" Sasuke mengangkat sebelah kakinya diatas meja.

"Apa ada harta miliknya yang lain?" Karin kembali bertanya dan hanya dibalas gelengan pelan Sasuke.

"Kalau begitu memang yang itu. Bisa kau beri tahu aku dimana hartanya?"

"Apa keuntungannya bagiku jika aku memberitahumu?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya.

"Apapun. Aku bahkan rela membagi hartanya denganmu." Karin berujar dengan yakin. Sasuke hanya mendengus pelan.

"Aku tidak membutuhkan harta itu." Entah bagaimana caranya kini Sasuke telah berada dibelakang Karin. Sasuke sedikit membungkuk untuk menyamai tinggi wanita itu.

"Yang aku inginkan adalah kau." Sasuke menjilat pelan telinga Karin membuat wanita itu menggeliat tidak nyaman.

"Apa tidak bisa yang lain?"

"Kalau begitu carilah iblis yang lain." Sasuke menjauhkan tubuhnya berniat meninggalkan Karin. Namun, wanita itu dengan cepat menangkap pergelangan tangan Sasuke.

"Kau tahu pasti itu tidak mungkin, hanya kau yang mengetahui dimana letak harta itu karena kaulah yang menyembunyikannya atas perintah Firaun. Dan lagi..." Karin memandang Sasuke dengan sorot mata yakin. Sasuke menunggu Karin menyelesaikan perkataannya.

"Sudah kubilang sebelumnya bukan. Aku akan memberikan apapun, termasuk diriku sendiri." Dan seringai itupun kembali terlihat dibibir tipis Sasuke.

.

.

Sasuke mendorong tubuh Karin hingga menabrak dinding kayu dibelakangnya. Sasuke merangkulkan lengannya ke tubuh Karin dan mengangkat tubuh karin dari latai. Wajah mereka sejajar-wajah Karin sudah benar-benar merah sekarang, ekspresi wajah Sasuke sebaliknya sekeras batu tak menunjukan banyak ekspresi disana. Dan dengan kasar Sasuke menguasai mulut Karin dengan jilatan lidahnya yang liar.

Tubuh karin bergetar, mulai dari bibirnya yang basah sampai pahanya yang ramping. Erangan meluncur dari mulutnya saat Sasuke menciumnya lebih dalam dan mengubah ciumannya jadi serangan yang menyiksa. Sementara Sasuke menjauhkan diri dari dinding dan mulai berjalan, jemari Karin mencengkeram rambutnya.

Tangan lentik Karin berusaha melepaskan kancing-kancing kemeja yang dipakai Sasuke sementara jubah panjang miliknya telah lebih dulu terlepas dari tubuhnya. Karin melingkarkan kakinya dipinggang Sasuke, mencium bibir bawah sasuke dan menggigitnya dengan sengaja membuat Sasuke sedikit mengerang.

Sasuke menjatuhkan tubuhnya dan Karin diatas ranjang milik Karin. Ciuman Sasuke semakin turun ke area leher jenjang Karin. Tangan Kekarnya tak tinggal diam, ia mulai melepaskan tali-telami korset milik Karin sementara mulutnya tak berhenti bekerja untuk memberikan tanda dileher dan pundak Karin. Karin terus mendesah dengan keras. Tak lagi dihiraukannya jika para bawahannya akan mendengarnya.

Dan, semakin lama pakaian yang melekat ditubuh keduanya telah hilang sama sekali, berhamburan disekeliling ruangan. Saat Sasuke mulai menyatukan tubuh mereka Karin menegang, berusaha menolak kehadiran Sasuke didalam tubuhnya. Sasuke sama sekali tidak peduli dan tetap fokus pada ritual penyatuan tubuh mereka. Dan saat tubuh keduanya telah menyatu Karin menjerit yang lalu dibungkam oleh sebuah ciuman panas dari Sasuke.

"Masih virgin, querida?" tanya Sasuke serak.

"Sim," terdengar jawaban terengah.

Kuku-kuku Karin mencengkram bahu Sasuke, lengkungan wanita itu adalah usaha naluriah untuk melawan Sasuke. Dan tentu saja Sasuke menyadarinya.

"Apa kau ingin aku berhenti?" Sasuke memandang wajah Karin dengan intens.

"Dan apakah jika aku menjawab 'ya' kau masih akan tetap memberitahuku dimana letak harta itu?" Karin menjawab dengan nafas terengah.

"Não." Sasuke menyeringai.

"Kalau begitu lanjutkan." Karin melingkarkan kakinya dipinggang Sasuke, menarik pria itu agar lebih mendekat.

Sasuke tersenyum geli melihat tingkah Karin, hanya untuk uang ia rela melakukan apapun tapi karena itulah ia masih tetap eksis sampai sekarang, karena keserakahan manusia. Dan permainan kembali dimulai.

.

.

Sasuke menyamankan duduknya diatas sofa didalam kamar, aroma percintaan masih tercium kuat diruangan itu. Sasuke telah berpakaian lengkap meskipun kancing-kancing dikemejanya belum ia kancingkan dengan sempurna. Matanya memandang lekat wanita yang tertidur dengan pulas diatas ranjang. Ia terlihat lebih cantik tanpa kacamata berbingkai tebal miliknya. Bahkan wanita itu tidak menyerah saat Sasuke menyerangnya habis-habisan.

Sasuke terus berpikir, apa yang melatar belakangi wanita itu mengambil langkah seekstrim ini. Menyalahi kodratnya sebagai seorang wanita dan lebih memilih menjadi seorang bajak laut bahkan rela melepaskan segalanya untuk bisa menguasai harta itu. Apa benar motifnya hanyalah keserakahannya akan harta semata?.

Sasuke masih terus memeperhatikan wanita itu saat Karin membuka matanya dan memandang balik padanya. Wanita itu sedikit meringis saat ia mencoba untuk turun dari ranjang dan hampir saja terjatuh kalau saja ia tak berpegangan pada meja disudut ranjangnya saat berniat menghampiri Sasuke, masih dengan keadaan telanjangnya. Dan Sasuke hanya memandangnya tanpa berniat untuk membantunya sama sekali.

"Bisakah kau sedikit membantuku? Bukannya hanya duduk tenang disana."

"Aku bukan pengasuhmu." Sasuke menjawab dengan ringan.

Karin menggeram kesal. Ia mulai memunguti pakaiannya dan memakainya satu persatu. Dan saat semuanya sudah terpasang sempurna ia kembali menatap Sasuke.

"Beri tahu aku dimana kau menyimpan harta itu."

"Aku sudah memberitahumu." Alis mata karin menaut, bingung.

"Kapan?"

"Saat kita bercinta."

"Tapi aku tidak mendengarnya." Karin tampak kesal.

"Sim, dengan desahan dan jeritan sekeras itu aku yakin kau tidak akan mendengar bisikanku."

"Beritahu aku sekali lagi." Karin berdiri dihadapan Sasuke, gestur tubuhnya menandakan ia sudah sangat marah.

"Bercintalah denganku sekali lagi." Sasuke memandang wajah Karin yang sudah memerah, menahan marah.

"Kau gila, iblis brengsek!"

"Itulah mengapa para pendeta selalu mengatakan untuk menjauhi iblis. Apa kau tidak pernah kegereja?" Sasuke bertanya dengan nada ringan, membuat Karin semakin geram dan memilih untuk meninggalkan ruangan itu. Sementara Sasuke hanya menyeringai puas. Setidaknya ia bisa mendapatkan hadiahnya duakali lipat.

.

.

Sasuke tengah duduk bersandar diatas patung putri duyung besar yang juga menjadi identitas kapal milik Karin. Sementara, dibelakangnya Karin memandangnya dengan tatapan mata membunuh. Disampingnya terlihat seorang lelaki berpakaian layaknya seorang bajak laut dengan gigi-gigi yang tajam.

"Siapa laki-laki itu?" lelaki bergigi tajam itu bertanya pada Karin.

"Dia iblis berengsek yang kujanjikan pada awak kapal kemarin akan membantu kita." Karin menggemeletukkan giginya menahan marah.

"Kupastikan dia tidak akan memberikan bantuan semudah itu. Ada yang dia inginkan bukan?" Karin terlihan semakin menahan marah. Sementara pria disebelahnya memandangnya dengan curiga.

"Dia menginginkan tubuhmu. Benar?" Karin masih belum mau menjawab. Tapi, ia terlihat semakin marah sekarang.

"Dan dari sikapmu sekarang ini, aku bisa asumsikan dia sudah mendapatkan tubuhmu." Tawa tegang keluar dari bibir ranumnya. Laki-laki itu menarik bahu Karin sebelum melanjutkan.

"Demi Tuhan, Karin. Aku tidak percaya kau sebodoh itu hingga kau bersedia memberikan hadiahnya sebelum dia memberitahu kita dimana letak harta itu." Karin masih belum menjawab. Ia terlihat semakin gusar. Sementara laki-laki itu mengusap tengkuknya dengan marah.

"Dia bilang tidak akan memberitahuku sebelum aku memberikan tubuhku, Suigetsu." Laki-laki itu-Suigetsu memandang Karin dengan intens.

"Aku tahu kau melakukan ini untuk membuktikan pada ayahmu, tapi tidak harus seperti ini." Suigetsu langsung pergi meninggalkan Karin sebelum wanita itu bahkan sempat menjawab.

Suigetsu benar-benar merasa kecewa. Dia dan Karin sudah bersahabat dari kecil, ia bahkan rela meninggalkan keluarganya hanya untuk bisa bersama dan menjaga sahabat kecilnya. Bahkan, mungkin membujuknya untuk pulang. Ia selalu berfikir bukan dengan cara seperti inilah yang harusnya dia tempuh untuk membuktikan keberadaannya yang selalu ayahnya ingkari karena ia seorang perempuan. Masih banyak cara lainnya.

BRAK!

Suigetsu memukulkan tinjunya kearah meja didalam kamarnya.

"Aaa, jadi seperti itu kejadiannya." Suigetsu segera menolehkan badannya ketika mendengar seseorang didalam kamarnya.

Dan ia langsung mendapati iblis berambut raven itu kini tengah bersender pada sebuah lemari. Dan ditangannya bertengger sebuah buku catatan bersampul coklat. Matanya seketika membulat saat menyadari buku apa yang sekarang berada dalam genggaman Sasuke. Buku hariannya. Buku harian yang menceritakan tentang persahabatannya, pengorbanannya untuk sahabatnya, dan juga tentang cinta sepihaknya pada sang sahabat.

Suigetsu segera berlari kearah Sasuke dan merampas buku itu dari tangan Sasuke. Ia langsung memasukkannya kembali kedalam lemari dan menguncinya rapat.

"Jadi ayahnya juga seorang bajak laut?" Suigetsu tidak menghiraukan pertanyaan dari Sasuke.

"Dan sang ayah tidak pernah mengakuinya sebagai anaknya hanya karena ia seorang wanita?" Suigetsu masih tidak memperhatikan Sasuke. Ia berjalan kearah meja kerjanya.

"Sepertinya aku harus minta maaf padamu." Suigetsu segera berbalik dan menatap Sasuke dengan tajam.

"Aku sudah lebih dulu menidurinya daripada kau." Seketika itu juga Suigetsu menerjang Sasuke dan menarik kerah lelaki itu.

"Kau, kau memang benar-benar empurrão!" kemarahannya begitu meluap-luap.

Sasuke memegangi pergelangan Suigetsu yang mencengkram kerah bajunya dengan sebelah tangan. Ia balik mengcengkram lengan Suigetsu dan melepaskannya dengan kasar hingga menyebabkan Suigetsu meringis. Ia memegangi pergelangan tangannya. Merasa cukup kesakitan.

"Empurrão adalah salah satu julukanku dari sekian banyak julukan lainnya." Sasuke merapikan kembali kerah bajunya. Ia lalu memandang kearah Suigetsu dengan tatapan mengejek.

"Kau sepertinya harus lebih ekstra menjaga wanitamu itu. karena mungkin ia akan kembali menyerahkan dirinya padaku malam ini." Sasuke keluar dari ruangan itu dengan santai. Sementara dibelakangnya Suigetsu memandangnya dengan tatapan marah.

.

.

Sasuke sedang tiduran pada sebuah ayunan dianjungan ketika tiba-tiba Karin berdiri disampingnya.

"Fazer amor comigo." Sasuke menolehkan kepalanya, memandang wajah wanita disampingnya. Sebelah alis mata Sasuke terangkat, mencoba mengingat sesuatu.

"Aa, kau ingin aku memberitahumu tempat harta itu." Sasuke mengangguk-anggukkan kepalanya.

Karin menarik lengan Sasuke dengan kasar. Dia menarik lengan Sasuke memasuki kamar pribadinya. Karin terlihat tengah melepaskan helai demi helai pakaiannya dengan gusar sesaat setelah ia mengunci kamarnya.

Sementara Sasuke hanya memandanginya dalam diam. Ia melipat tangannya didepan dada. Bersender pada meja kerja dibelakang tubuh tegapnya. Memperhatikan cara Karin melepaskan pakaian yang ia kenakan. Jemari lentiknya gemetar saat ia melakukannya. Dan saat dilihatnya Karin mencoba melepas kancing bajunya, Sasuke menghampirinya dan memegang tangan Karin.

"Suficiente." Karin memandang wajah tampan dihadapannya.

"Por qu." Karin bisa melihat Sasuke memandanginya dengan tatapan tajam.

"Kau lihat ini?" Sasuke mengangkat tangan Karin yang ia genggam kehadapan Karin.

"Tanganmu tidak berhenti gemetar saat kau melakukannya." Karin melihat tatapan Sasuke berubah mengejek.

"Aku tidak mau melakukannya jika kau masih setengah-setangah seperti ini." Sasuke menghempaskan tangan Karin. Ia berniat berbalik saat tiba-tiba saja Karin mencengkram lengan bajunya.

"Aku akan melakukannya dengan benar kali ini." Karin melepaskan lengan baju Sasuke yang ia cengkram dan langsung melepaskan kancing-kancing kemeja yang ia kenakan. Kali ini tangannya tak lagi gemetaran seperti sebelumnya. Ia terlihat lebih yakin.

Tapi, Sasuke bisa merasakan bahwa Karin tengah membuang segala harga dirinya, merendahkan dirinya serendah mungkin, mengotori dirinya sendiri dengan lumpur bercampur kotoran. Ia bisa merasakannya. Dan ia tidak menyukainya. Sasuke lebih suka jika dia sendiri yang memaksa mangsanya, melahapnya tanpa ampun seperti kemarin. Bukan seperti ini. Sasuke menghembuskan napasnya kasar.

"Kenapa kau melakukannya sampai sejauh ini?" gerakan tangan Karin yang tengah melepaskan pengait celana panjangnya terhenti. Ia memandang Sasuke.

"Apa kau pikir ayahmu akan berubah pikiran jika kau melakukan ini?" mata Karin membelalak saat Sasuke menyebutkan ayahnya.

"Bagaimana kau tahu tentang hal itu?" Sasuke tidak menjawab pertanyaan Karin. Ia terlihat tengah menunggu jawaban karin.

"Setidaknya aku sudah membuktikan pada ayahku kalau aku juga bisa melakukan apa yang dia lakukan meskipun aku seorang perempuan." Sasuke mendengus mendengar jawaban Karin. Karin terlihat menahan amarahnya.

"Kau tidak akan pernah mengerti apa yang aku rasakan." Suaranya sedikit meninggi,

"Kau tidak pernah dibuang dan diabaikan oleh keluargamu sendiri, kau tidak tahu seberapa sakitnya aku, kau tidak tahu seberapa seringnya aku menangis, kau-"

"Kau pikir aku tidak tahu?" Sasuke memotong perkataan Karin. Sasuke memungut kemeja Karin dan mendekati karin. Ia sampirkan kemeja itu kepundak Karin.

"Kau pikir bagaimana perasaanku saat tuhan membuang dan menghujamku hanya karena aku tidak mau menyembah ciptaan barunya yang jelas-jelas lebih lemah dariku?" Karin memandang wajah Sasuke. Karin bisa melihat semburat rasa sakit diwajah yang biasanya terlihat senga dan angkuh itu.

Sasuke melangkahkan kakinya menuju pintu. Dan sebelum dia membuka pintu ia berbalik menghadap Karin yang masih memandangnya.

"Kau hanya akan terluka semakin dalam jika kau melakukannya. Kecuali kau ingin menjadi makhluk sepertiku." Sasuke lantas melangkah keluar tanpa berbalik lagi.

Karin mencengkram kemeja yang tadi disampirkan Sasuke dibahunya. Badannya seketika limbung dan ia pun jatuh terduduk diatas lantai kayu yang dingin. Tangannya semakin erat mengcengkram kemejanya saat air mata tiba-tiba saja berjatuhan dari matanya.

Ini adalah pertama kalinya ia menangis setelah sekian lama ia mencoba untuk membatukan hati dan perasaannya, saat ia mengambil jalan yang sama seperti ayahnya, saat ia mencoba membuang segala perasaan halus yang ia miliki dan menggantinya dengan dendam dan tekad menjatuhkan ayahnya.

Dan pria iblis itu bahkan bisa merobohkan semua tegadnya hanya dalam hitungan detik, hanya dengan satu kalimat darinya. Sepanjang malam itu ia hanya menangis hingga ia tak sadar bahwa ia telah tertidur dilantai hingga seseorang datang kekamarnya dan memindahkan tubuhnya dari lantai keatas tempat tidur. Pria itu menyelimuti tubuh karin dengan selimut tebal, ia bahkan membelai sayang puncak kepala karin sebelum kembali beranjak dari dalam kamar itu.

"Muito romãntico." Pria itu memandang kearah suara yang mengagetkannya saat ia keluar dari dalam kamar Karin.

"Nenhum de seus negõcios." Pria itu yang tak lain adalah Suigetsu berjalan melewati Sasuke.

"Kenapa kau tidak mencoba untuk memiliknya hanya untuk dirimu sendiri?"

"Karena ini adalah keinginannya. Dan aku tidak ingin menjadi penghalang baginya." Suigetsu masih tetap melanjutkan langkahnya, tidak diperdulikannya Sasuke yang terlihat melayang-layang disampingnya.

"Dengan bersikap seperti itu kau justru telah menjerumuskannya kedalam jurang." Suigetsu menghentikan langkahnya, dan Sasuke berhenti melayang dan memilih untuk berjalan normal.

"Aku tahu. Itulah kenapa sekarang aku selalu mengutuk diriku sendiri." Suigetsu terlihat mengepalkan kedua tangannya. Sasuke berdiri dibelakangnya dan memperhatikan Suigetsu sebelum akhirnya terkikik geli.

"O que voc está rindo" Suigetsu memandang tak suka kearah Sasuke.

"Voc" Suigetsu mengangkat sebelah alisnya.

"Kau bersikap seolah besok adalah hari kiamat. Bersikap pengecut dan membiarkan orang yang kau cintai terjatuh seorang diri kedalam jurang."

BUAGH

Suigetsu meninju pipi Sasuke dengan keras, Sasuke sedikit bergeming saat pukulan itu datang namun tak membalas.

"Kau pikir aku senang dengan semua ini? aku juga ingin menariknya kembali dari jurang. Bahkan jika aku bisa aku ingin menukar tempatnya denganku. Tapi, bahkan ia tidak mau menerima uluran tanganku dan lebih memilih untuk semakin terjatuh lebih dalam." Ia memandang wajah Sasuke dengan sengit sebelum melanjutkan.

"Apa kau bisa mengambil jiwaku untuk menggantikan Karin?" suaranya sedikit melemah saat mengatakan itu. Sasuke memandangnya dengan tatapan tak terdefinisikan.

"Kumohon lepaskan dia. Biar aku menukar tempatnya." Suigetsu memandang wajah Sasuke dengan yakin. Sasuke mendengus sebelum berkata,

"Kau tiba-tiba saja berkata seperti itu setelah memukulku?" Suigetsu hanya menghentakkan bahunya tidak peduli.

Sasuke kembali menghempaskan napasnya. Ia terlihat tengah merogoh saku dalam jubahnya. Ia memandang Suigetsu dengan tatapan mengintimidasi sebelum melemparkan sebuah gulungan padanya.

"Vocẽ è o único que pediu" Sasuke melangkah kearah Suigetsu.

Mata sekelam malamnya berubah merah. Bola matanya telah berubah menjadi sebuah bintang didalam lingkaran. Ia menyentuh dada bidang Suigetsu dan menusukkan kuku-kuku tajamnya disana. Sementara Suigetsu berusaha meredam teriakannya mengeletukkan gigi-giginya menahan rasa sakit yang hampir tidak bisa ia tahan. Nyawanya terasa melayang sementara kemejanya sudah penuh dengan darahnya sendiri. Dan saat Sasuke menarik kembali jari-jarinya ia ambruk diatas lantai kayu. Badannya benar-benar sangat berat untuk digerakkan.

"Aku memberikanmu waktu sepuluh tahun. Aku akan datang lagi saat waktumu telah habis." Sasuke berbalik siap meninggalkan tubuh Suigetsu yang sudah tak berdaya saat tiba-tiba ia kembali berbalik menghadap Suigetsu.

"Aa, berikan gulungan itu padanya. Itu adalah peta dimana aku menyimpan harta itu." kemudian ia benar-benar pergi dengan kepulan asap pekat memenuhi kabin kapal.

Sementara suigetsu dengan susah payah kembali berdiri dan berjalan memasuki kamarnya. Ditangannya ia genggam erat gulungan yang Sasuke berikan padanya.

Ia segera melepaskan pakaiannya yang telah dipenuhi oleh darah pekat. Jantungnyanya serasa terbakar. Ia membasuh dadanya dengan air dingin untuk mengurangi rasa panas dan juga noda darah yang melekat disana. Saat noda darah itu hilang ia sama sekali tidak melihat bekar cakar Sasuke disana, sebaliknya yang ia lihat adalah sebuah lingkaran yang mengungkung sebuah bintang dengan berbagai simbol disekelilingnya. Ia mengusap perlahan tanda itu. bibirnya tersenyum miris.

"Haah, setidaknya aku masih diberikan waktu sepuluh tahun untuk menebus kesalahanku." Ia kemudian melemparkan kain yang ia gunakan untuk mengelap lukanya kesembarang arah dan segera menaiki tempat tidurnya.

Tanpa mereka sadari Sasuke tengah berdiri dengan angkuh diatas bendera bajak laut mereka. Ia tersenyum miris, tangannya mencengkram dadanya dengan erat. Ingatannya kembali melayang saat ia harus rela diusir dari surga. Mencoba mencari perlindungan pada saudara-saudaranya yang lain yang masih berstatus malaikat.

Castiel, Michael, bahkan kakak tertuanya Gabriel. Namun, yang ia dapatkan justru sebaliknya. Mereka justru ikut menistakan dirinya. Menyalahkan keangkuhan dirinya dan Lucifer. Dan saat itu ia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa sampai hari akhir nanti ia akan menyeret sebanyak mungkin anak cucu dari ciptaan baru Tuhan yang menyebabkannya jadi makhluk terkutuk untuk menemaninya didalam neraka. Dan hari ini, ia berhasil mendapatkan satu orang untuk ia bawa ke neraka bersamanya.

Tapi, entah kenapa hatinya tidak senang. Tapi, pikiran itu segera ia hapus. Ia sudah terlanjur masuk terlalu dalam kedalam dasar jurang. Dan ia tidak bisa kembali lagi sekarang. Yang bisa ia lakukan adalah setidaknya membawa semakin banyak orang untuk menemaninya didasar jurang agar ia tak kesepian.

Sasuke memejamkan matanya dan sebuah kepulan asapa pekat kembali mengelilingi tubuhnya. Dan saat asap pekat itu menghilang. Ia juga ikut menghilang.

.

.

Karin membuka matanya perlahan. Ia masih mengingat percakapan terakhirnya bersama Sasuke. Dan saat sadar bahwa ia bukan lagi berada diatas lantai melainkan diatas tempat tidur ia kembali tertegun.

"Suigetsu." Karin bergegas memakai kembali pakaiannya. Ia berniat membuka pintu saat seseorang membuka pintu itu lebih dulu.

"Karin, kau sudah bangun." Suigetsu tersenyum lembut padanya. Karin merasakan dadanya sakit saat memandang wajah Suigetsu.

Ia memeluk Suigetsu dengan erat. Entah kenapa perasaannya mengatakan ia akan segera berpisah dari pria yang tengah dipeluknya saat ini.

"O que há de errado com?" Suigetsu turut memeluk karin.

"Eu não sei. Aku hanya merasa kau akan meninggalkanku. Kau tidak akan melakukannya 'kan?" Karin semakin mengeratkan pelukannya. Suigetsu tertegun saat Karin mengatakannya. Dadanya terasa nyeri.

"Apa yang kau bicarakan." Suigetsu mengatakannya saat ia sudah bisa menguasai dirinya lagi. Ia lantas menarik Karin sedikit menjauh dan mengacungkan gulungan yang didapatnya dari Sasuke.

"Lihat apa yang kupunya." Karin memandang gulungan itu dengan wajah bingung.

"Apa itu?" Karin meraih gulungan dari tangan Suigetsu dan melihat isinya. Matanya membelalak tak percaya.

"Ini... ini peta harta karun itu. Bagaimana kau bisa mendapatkannya?" karin memadang wajah Suigetsu dengan antusias sebelum sebuah kerutan muncul diantara kedua alisnya.

"Jangan bilang kau..." Karin menggantung kalimatnya. Suigetsu sedikit was-was. 'Apa ia tahu kalau aku menukar jiwaku untuk mendapatkannya?'

"Apa kau tidur dengannya?" Karin memandangnya dengan tatapan horor.

"Hei." Kaget sekaligus lega dirasakan Suigetsu. Lega karena sepertinya Karin tidak menyadari apa yang telah ia lakukan. Dan kaget dengan opini gila Karin.

"Aku tidak mungkin melakukannya." Karin memandang Suigetsu tidak percaya pasalnya dia sendiri bahkan harus menyerahkan kesuciannya pada iblis itu untuk bisa mendapatkan gulungan ini dan hasilnya tetap nihil.

"Percayalah, aku tidak sehina itu sampai rela melakukannya dengan sesama laki-laki." Karin mengangguk-angguk mengerti.

"Lalu, bagaimana caranya kau mendapatkan gulungan ini?"

"Dia hanya meninggalkannya sebelum ia pergi entah kemana. Dan hey, harusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan dengannya kemarin sampai ia mau memberikan gulungan ini pada kita." Suigetsu mencoba mengalihkan perhatian Karin pada hal lain.

"Tidak ada. Kami tidak melakukan apapun." Karin sedikit gugup saat mengatakannya.

"Jadi dia sudah pergi?" Karin kembali bertanya pada Suigetsu dan hanya dibalas anggukan oleh Suigetsu.

Suigetsu terus memandangi Karin dengan pandangan menyelidik. Bagaimanapun ia penasaran apa yang mereka berdua lakukan kemarin sampai membuat karin tertidur diatas lantai dengan bekas air mata dipipinya dan kemeja yang tersampir dipundak mungilnya. Merasa dipandangi Karin merasa risih dan semakin gugup.

"A-ah.. sepertinya kita harus sampaikan kabar gembira ini pada semua awak kapal." Karin buru-buru meninggalkan Suigetsu.

Dan dengan semangat ia mengacungkan gulungan ditangannya dan memanggil semua awak kapan. Ia terliat begitu bersemangat mengumumkan berita gembira itu. senyumannya begitu lebar. Sangat cantik.

Suigetsu kembali memegangi dadanya. Senyum miris kembali terukir dibibirnya. Ia berharap selamanya Karin tidak akan tahu pengorbanan dirinya untuknya. Suigetsu segera menghampiri Karin saat dilihatnya wanita itu tengah melambai memanggilnya. Dan senyuman tulus ia sunggingkan untuk wanita itu saat ia berjalan kearahnya.

.

.

Keterangan (Bahasa Portugis) :

Querida : kekasih/sayang (Lelaki pada perempuan.)

Sim : iya

Não : tidak

Empurrão: brengsek

Fazer amor comigo : bercintalah denganku

Suficiente : cukup

Por quẽ : kenapa

Muito romãntico : Sangat romantis

Nenhum de seus negõcios : bukan urusanmu.

O que vocẽ está rindo : apa yang kau tertawakan?

Vocẽ : kau

Vocẽ è o único que pediu : kaulah yang memintanya

O que há de errado com? : ada apa denganmu?

.

.

Autor Note:

Hai mina-san~~ tak terasa sudah chap tiga yaa.. hehe ini memang chapter yang sudah dipersiapkan dari dulu jadi jangan heran kalau updatenya cepet ya. Hehe. Maap juga kalau lemonnya kurang greget saya kurang bisa bikin lemon sih T.T

Special thx to : dwi2, Go Minami Hikari Bi, Cahya Uchiha, dan para silent reader~~ lainkali tinggalkan jejak kalian ya ^^

Akhir kata saya cinta kalian semua 3