Chapter 3

--

Eh alurnya kecepetan ya, wah maaf! Rawon terlalu semangat buat ceritanya, hehe. OwO

Ne, semoga chapter ini memuaskan. Ow

--

Naruto berjalan santai di sekitar desa Konoha. Banyak orang yang sepanjang jalan menatapnya dengan jijik. Naruto menghela nafas, sekalinya aib tetap aib, bagi mereka itu takkan bisa dimaafkan.

Seorang pedagang tomat melemparinya dengan tomat busuk, insting Naruto berteriak untuk menghindar, namun Naruto tak menghindar.

Plek! Mengenai pipi kiri Naruto, pedagang tomat itu merasa puas, dan mengatakan, "Lebih baik kau mati, aib sialan! Kau hanya mempermalukan Hokage-sama!"

Naruto terdiam. Memilih mengabaikan kata-kata orang. Dia segera shunshin menuju apartemennya.

Flashback

Seorang pria berambut kuning pirang dengan jubah bertulis 'Yondaime Hokage', sedang melatih seorang anak berambut merah marun bernama Menma. Ya, mereka sedang latihan. Seorang perempuan berambut merah bernama Kushina sedang menyemangati mereka. Mereka tidak sadar adanya Naruto yang mengintip dari balik tembok.Naruto lalu perlahan mendekati ibunya, "Kaa-san, Naru lapar..."

"Wah, maaf ya, Naru. Kaa-san lagi sibuk, kamu beli aja sendiri ya."

Naruto terdiam, air mata mulai meluncur keluar. Tanpa permisi ia segera pergi. Namun ia pergi tak jauh dari sana. Ia kembali mengintip.

"Menma, sudah cukup. Kita istirahat dan makan. Pasti Kaa-san sudah membuatkan ramen!" ucap Minato.

"Wah, benarkah, Kaa-san?" Menma menatap Kushina berbinar.

"Iya, kaa-san sudah membuat ramen spesial! Ayo kita makan!" Kushina segera masuk diikuti Menma dan Minato. Naruto yang tak jauh dari sana hanya bisa menangis dan kelaparan.

Malamnya, setelah Naruto tidur, Minato berbicara pada Kushina."Aku akan membuang anak tak berguna itu. Kamu setuju kan, istriku?"

Kushina mengangguk. "Tentu saja! Dia hanya menganggu pertumbuhan Menma-kun!"

Minato segera masuk ke dalam kamar Naruto dan membereskan barang-barang Naruto. Lalu ia mengendong Naruto berserta barang-barang miliknya pergi.

"Aku pergi membuangnya dulu, Kushina-chan."

"Hati-hati, anata."

Hari berikutnya, Naruto terbangun di jalanan dengan barang-barangnya. Sebuah kertas terletak di atas barang-barangnya. Naruto segera mengambil kertas itu.

"Jangan pernah kembali lagi. Dan namamu sudah tercoret dari daftar keluarga Namikaze. Kau hanya membuat kami malu. Carilah apartemen atau apa untuk dirimu sendiri."

Ternyata kemarin malam ia dibuang oleh ayahnya, disaat ia tidur. Naruto menangis sejadi-jadinya. "Kalian tega... kalian tega!"

Naruto segera mengemasi barang-barangnya lalu pergi dari sana. Entah kemana ia akan pergi. Ia tak tahu.

End Flashback

Itulah mengapa Naruto tidak memakai nama klan. Naruto segera memasuki apartemennya dan berbaring di kasur.

"Melelahkan..." gumamnya.

Ia memutar ulang memori yang tersimpan. Kenangan itu seluruhnya menyakitkan. Hanya karena tidak ada chakra, ia dibuang. Hanya karena itu...?

Para unit-nya hanya bisa diam tanpa menenangkan Naruto. Mereka sadar hidup Naruto sangatlah berat. Dibuang hanya karena tidak adanya kekuatan dan dicoret nama klannya.

Naruto lalu bangkit, mengambil Gacha Book dan membacanya. Setelah beberapa lama, ia menutup dan menyegel kembali Gacha Book-nya, lalu pergi keluar untuk makan malam.

--

Setelah survival training, tim 7 dan 11 mengambil misi. Misi rank D, entah menyapu halaman, mencabut rumput, atau menemani belanja. Dan kini mereka disibukkan oleh Tora, kucing dari nyonya daimyo negara api, yang kabur ke perkebunan warga.

Naruto diam sementara tim 7 sudah sangat frustasi berusaha menangkapnya. Naruto kemudian berjalan mendekati ladang mentimun dan tada! Tora ada disana.

Naruto berjongkok, memberi isyarat pada kucing tersebut untuk mendekat. Tora mendekat dan hap! Naruto dapat menangkapnya tanpa harus merusak penampilannya.

Ia segera membawa Tora keluar sembari mengelus-ngelus bulu Tora. Kakashi memberikan eye smile dan mereka semua segera menuju kantor Hokage walau penampilan tim 7 hancur.

Setelah sampai, Kakashi segera memberi laporan. "Menangkap Tora sukses. Tim 7 dan 11 siap mengambil misi."

Nyonya daimyo api segera memeluk kucingnya setelah diserahkan Naruto. Lalu ia berjalan keluar meninggalkan mereka semua.

"Baiklah, tim 7 dan 11 membantu-"

"Tou-san! Berikan kami misi yang lebih tinggi!" Menma memasang wajah kesal. Kesal karena sudah 1 minggu menjalankan misi rank D. Sasuke memasang wajah stoic, Sakura menatap tajam Menma dan Naruto yang memasang wajah kalem.

"Ha... baiklah-baiklah. Misi kali ini rank C, kalian mengawal Tazuna-san untuk sampai ke Nami no Kuni. Tazuna-san, silahkan masuk."

Seorang pria masuk dengan sebotol sake. "Apa anak-anak bodoh ini yang akan mengawalku? Mereka kelihatan lemah."

Menma tentu emosi. "Heh! Timku yang paling kuat disini! Jaga mulutmu."

Naruto memasang wajah kalem, "Jangan remehkan orang hanya karena penampilan luar, Tazuna-san." ucap Naruto sopan.

Tazuna memutar bola matanya malas, "Baiklah, kumpul 30 menit lagi." Dan ia segera keluar.

Kakashi melihat anak didiknya. "Baiklah, kumpul 30 menit di gerbang!"

"Hai!"

--

Kini tim 7 dan 11 berkumpul di gerbang. Menma terlihat bersemangat karena ini adalah misi keluar desa pertamanya. Penampilan sudah serapi dan setampan mungkin dia lakukan. Mungkin saja dia bisa bertemu perempuan cantik.

Sasuke dalam keadaan cool. Baju kerah tinggi berwarna biru dengan lambang kipas khas Uchiha. Sama seperti Menma, ia berpenampilan sekeren mungkin.

"Kyaaa! Sasuke-kun dan Menma-kun memang tampan!" Sakura memandang mereka dengan mata love-love.

Naruto hanya diam sembari membaca Gacha Book miliknya. Penampilan Naruto kini mirip dengan Avenger Reed walau warna miliknya jauh lebih gelap, dengan tambahan sepasang belati dan kantong ninja. Dia tak begitu memperdulikan penampilan asal sopan.

Tak lama kemudian Kakashi dan Yamato tiba bersama dengan Tazuna.

"Semua sudah siap?" Kakashi memandang murid-muridnya.

"Ya/Siap/Hn/Hai."

Naruto melihat bahwa ada orang lain di tim mereka. "Ne, Kakashi-sensei, siapa dia?"

"Oh, dia Yamato, Jounin pembimbing pengganti tim 11 bila Uchiha Shisui sedang menjalankan misi lain." terang Kakashi. Naruto ber-oh ria.

"Yosh, kita berangkat!" ucap Menma semangat.

Mereka memulai perjalanan. Perjalanan terasa ramai karena kegaduhan Menma dan Sakura. Naruto sedang berbicara dengan unit party-nya ketika ia merasa ada hal aneh.

'Kalian merasakannya?' tanya Naruto kepada unit party-nya. Mereka semua mengangguk.

'Iya. Iblis bersaudara Kirigakure ada di dekat sini.' ucap Reed. Naruto kemudian mengobservasi sekitarnya. Ada genangan air yang berjarak 2 meter dari mereka. Naruto paham.

"Kakashi-sensei, hari ini panas ya." Naruto mengeluarkan kipas. Sakura segera menyahut, "Karena memang udah masuk musim panas, Baka Naruto!"

"Cih, kenapa orang lemah sepertimu harus mengambil misi ini? Kami jauh lebih kuat darimu." Sasuke menatap remeh Naruto. Begitu juga Menma.

'Naruto waspada!' X mengingatkan.

'Ya!'

Kakashi memberikan eye smile. 'Sensorik yang hebat.'

Tiba-tiba ada rantai yang mengikat Kakashi dan Yamato. Dan slash! Kakashi dan Yamato terpotong menjadi dua. Tim 7 menahan diri untuk tidak muntah dan menjerit.

"Dua tumbang dan beberapa ekor lagi harus dibereskan."

Naruto segera bertindak dan mengeluarkan sepasang belatinya, "Fire Element: Assassinate!"

Srak! Srak! Srak!

Salah satu diantaranya pingsan dihajar Naruto. Naruto sengaja tak membunuhnya karena ia kurang yakin bisa membunuh.

Menma membuat bola chakra yang ia padatkan. Ia kemudian berlari ke arah yang tersisa. "Rasenggan!"

Duar! Bola chakra itu mengenai target dan sang target tewas di tempat.

Sakura menelan ludah kasar. Ia akui ia lemah melihat orang mati karena diterjang bola chakra atau apapun jutsunya itu. Namun ia tak menyangka bahwa teman setim dengan dirinya akan melakukan itu.

Sasuke berdecih tak suka. Ia tak heran Menma akan maju, tapi ia paling tidak suka dengan orang lemah yang sok kuat bisa menghadang musuh. Lihat saja, dia hanya membuat pingsan korbannya.

Boft! Kakashi dan Yamato akhirnya muncul. "Bagus tim. Naruto, kau pintar. Kau mengobservasi terlebih dahulu medan yang dilewati. Hanya saja kau hanya membuat pingsan korbanmu. Kurasa ia akan bangun setelah 2-3 jam lagi."

Kakashi kemudian menatap Menma. "Kau juga hebat, Menma. Setidaknya satu musuh telah disingkirkan."

Yamato lalu menatap Tazuna. "Apa yang sebenarnya terjadi, Tazuna-san? Mengapa ninja yang dikirim adalah rank C?"

Tazuna menghela nafas, "Baiklah..."

(Skip penceritaan)

"Jadi begitu..." gumam Naruto. "Aku punya ide. Aku akan men-summon beberapa orang dari unit-ku untuk membantu berjaga-jaga."

Kakashi men-summon Pakkun. "Pakkun, tolong beri kabar ke Hokage-sama. Misi rank C berubah menjadi rank A."

Sasuke tampak berdecih, "Cih, dasar lemah."

Naruto menatap Sasuke. "Aku tidak meminta pendapatmu."

Mereka melanjutkan perjalanan hingga ke tepi sungai. Namun hanya tim 7 berserta Kakashi dan Yamato yang berada dalam perahu, karena Naruto memilih berjalan di air, yang membuat kaget kedua Jounin itu.

"Wah, jembatanmu cantik sekali, Tazuna-san." Sakura menatap kagum.

Tazuna menggaruk pipinya. "Haha. Terima kasih."

Akhirnya mereka sampai di seberang. Lalu mereka kembali berjalan. Naruto merasakan firasat bahwa ada yang mengintai mereka sedari tadi. Ditambah udara dingin yang membuat suasana terasa sedikit mencekam.

Naruto melebarkan matanya, lalu berkata, "SEMUANYA MENUNDUK!"

Wush!

Sebuah pedang besar melayang. Naruto bersalto dan mengambil gagang pedang itu lalu melemparkannya kembali.

Tap!

[Soundtrack: Crazy Hill: ON]

"Aku akhirnya bertemu denganmu, Kakashi no Sharingan." Seorang pria kekar dengan seluruh badan yang dipenuhi perban menatap Kakashi. "Sungguh keberuntungan yang tak terduga. Ah, dan juga Yamato sang pemilik Mokuton."

Kakashi menaikkan hitai-ate miliknya dan menujukkan sharingan dengan 3 tomoe. Sasuke terkejut melihatnya.

'Sharingan? Dia punya sharingan?' pikir Sasuke.

"Aku juga tak menyangka akan bertemu denganmu, pengguna pedang Kubikiribocho, Zabuza Momochi." ucap Kakashi dan Yamato bersamaan.

Zabuza tertawa. "Lepaskan pria tua yang bersamamu. Maka kau akan selamat." Namun Kakashi tak bergeming.

Naruto memandang Kakashi. "Sensei, biar aku saja. Karena pengguna pedang harus melawan sesama pengguna pedang."

Kakashi hendak melarang, namun Naruto sudah menerjang terlebih dahulu ke arah Zabuza.

Trang! Trang! Pedang Naruto bertabrakan dengan Kubikiribocho. Naruto tersenyum simpul. "Pedang milikmu hebat juga, Zabuza-san."

"Cih, terima kasih pujiannya, bocah."

Naruto kemudian mundur perlahan lalu menganti pedangnya dengan sepasang belati. "Fire Element: Assassinate!"

Tanpa ampun, kali ini active skill milik Reed yang digunakan olehnya, menghajar Zabuza tanpa memberi kesempatan. Luka bakar terlihat di sekujur tubuh Zabuza.

Di sisi lain, Menma, Sasuke dan Kakashi menghadapi Kinoshima (OC), sang pemegang pedang legenda Yoton no Tsurugi. Kinoshima mengalami luka sana-sini akibat combo Kamikaze dan Gokakyou milik Menma-Sasuke.

Sakura (dan juga Yamato) yang ditugaskan menjaga Tazuna hanya bisa diam. Mengingat dia sangat lemah dan hanya bisa berteriak fangirl.

"Sialan..." ucap Kinoshima sebelum pingsan. Kakashi hendak mengecek tubuh nuke-nin itu sebelum tubuhnya diambil dan dibawa pergi.

DUAR!

Naruto bersalto ke belakang menghindari bom asap. Saat asap menipis dan menghilang, tubuh Zabuza sudah tak ada lagi. Naruto diam disana sampai Kakashi datang.

[Soundtrack: Crazy Hill: Off]

"Naruto, bagaimana?" tanya Kakashi khawatir. Naruto berbalik dan mengangguk.

"Aku baik-baik saja. Terima kasih telah mengkhawatirkan diriku."

Kakashi mengangguk lega. Lalu ia menghadap ke arah Tazuna. "Mari ke rumahmu, Tazuna-san."

Mereka akhirnya menuju ke kediaman Tazuna. Sepanjang jalan banyak sekali orang yang kelaparan, menangis meminta makanan. Naruto kemudian berdiskusi dengan unit party-nya untuk menolong mereka.

"Tsunami, ini aku, buka pintunya." Tazuna mengetuk sebuah rumah kayu yang tak terlalu besar.

"Iya, sebentar." Pintu pun terbuka. "Okaeri, tou-san. Siapa mereka?"

"Mereka ninja yang kusewa. Ayo masuk, minna-san."

(Skip sampai makan malam)

"Terima kasih telah repot-repot, Tsunami-san, Tazuna-san." Kakashi menunduk hormat.

"Tidak masalah, ninja-san." Tsunami tersenyum dan mereka kemudian makan malam bersama.

Naruto mendapat sebuah ide. "Masakan Anda enak sekali, Tsunami-san. Bolehkah selama kami disini saya ingin belajar memasak bersama Anda?" Pertanyaan Naruto membuat mereka semua terkejut. Kemudian tak berapa lama Sasuke mengejek Naruto dan berkata, "Dasar banci." Namun Naruto tetap tersenyum kalem.

Sedangkan di mindscape Naruto, Mitsuko dan Lilith sudah ditahan agar tak mengamuk. Bahkan Kuku hampir memaksa keluar kalau juga tak ikut ditahan.

Tsunami mengerjapkan mata, "Tentu saja. Tapi kenapa?"

Naruto tersenyum lagi. "Seandainya saya atau orang yang bersama saya tersesat dan menemukan bahan makanan, setidaknya saya bisa tahu cara memasaknya agar tidak berbahaya bagi tubuh kami." Alasan yang cukup logis bukan?

Tsunami mengangguk. "Baik, akan aku ajari."

"Sekali lagi terima kasih, Tsunami-san."

Namun acara makan malam itu terhenti ketika seorang anak kecil mendobrak pintu, "Kalian semua takkan bisa menghadapinya dan kalian akan bernasib sama dengan 'dia'!" Dan berlari keluar.

"Maafkan Inari, semuanya." Tsunami menunduk.

"Tidak apa-apa, Tsunami-san. Tapi kalau boleh tahu siapa 'dia' yang dimaksud?"

"'Dia' adalah ayah Inari..."

Inari menangis di jembatan ketika ia merasa ada seseorang di belakangnya. Kemudian ia menghadap ke belakang dan mendapati Naruto yang bersandar di sebuah tiang dengan mata tertutup.

"Kau! Kenapa kau disini! Lebih baik kau pulang atau kau akan bernasib-"

"Jangan remehkan orang yang pertama kali kau lihat." Naruto membuka mata dan terlihat iris saphirenya berganti dengan warna merah-oranye. Yap, Reed menganti posisi Naruto selama 2 hari ke depan, karena Naruto ingin berdiskusi dengan para unit perempuan tentang membantu orang yang kelaparan.

Inari menyipitkan mata karena rambut Naruto tidak lagi kuning pirang panjang, namum kali ini pendek dan berwarna merah-oranye. Naruto, atau Reed, berjalan mendekati Inari dan duduk disampingnya.

"Kau bersyukur, kau masih bisa merasakan kasih sayang ayahmu sebelum ia mati demi desa ini. Aku... aku dibuang oleh kedua orang tuaku hanya karena saudara kembarku lebih hebat dan punya kemampuan..." Reed menggunakan kisah asli Naruto, karena kisah asli dirinya terlalu sensitif untuk diingat kembali.

"Pahlawan akan selalu dikenang. Dan kau jangan putus asa. Ayahmu disana pasti menaruh harapan untukmu agar kau bisa menyelamatkan desa ini. Manusia bisa mati kapan saja, dengan alasan apa saja, namun pahlawan mati jasanya akan selalu diingat. Seperti ayahmu."

Reed mengusap rambut Inari. "Kau baik, namun kau hanya dibutakan kesedihan. Dan dari itu, jangan pernah sedih lagi."

Inari terdiam, lalu menangis lagi. Bukan tangis kesedihan, namun tangis haru. Reed memeluk Inari dan mengusap rambutnya untuk tenang.

"Nii-san... terima kasih..." Inari sesegukkan di pelukan Reed. Reed tersenyum tipis.

"Sama-sama. Menangislah. Karena kali ini kamu akan menjadi pahlawan yang sesungguhnya." Reed memeluk Inari sampai Inari cukup tenang, baru Reed melepaskan pelukannya.

"Sudah cukup tenang?" tanya Reed. Inari mengangguk.

"Hai, Nii-san. Ayo kita pulang."

Reed tersenyum. "Ayo."

TBC

Huaaaa panjang sekali kali ini OAO; tangan Rawon pegel uuuuuu.

Cerita asli Reed kalau gak salah Reed itu semacam orang yang depresi lalu jadi assassin karena keluarganya dibunuh gitu? ._.

Dan disini sengaja buat Reed OOC hufh-

Semoga chapter ini memuaskan. Dan maaf atas kekacauannya. owo