Chapter 2

Who Are You

Beberapa hari berlalu setelah Elyas menghadiri sekolah yang sama dengan Umi. Dan dalam beberapa hari itu juga dia sukses menjadi buah bibir siswa siswi di sekolah, bahkan ada yang dari luar sekolah datang kesini hanya untuk melihat Elyas. Elyas memang popular dikalangan cewek cewek SMA dengan mata biru rambut blonde khas bule, tubuh tinggi belum lagi begitu atletis, senyumnya yang dibilang sexy ada juga yang bilang "hot", membuat cewek klepek klepek kalau dipandangnya. Secara fisik, Elyas itu perfect. Dengan pesona yang sedemikian rupa ada satu sifatnya yang sangat membuat Umi gerah, dia seorang playboy. Merayu sana sini, pulang sekolah di kelilingi banyak cewek. Setiap saat hanya akan ada cewek di sekelilingnya. Kadang umi bersyukur karna dia bisa sibuk dengan dunianya dan meninggalkan umi bisa tenang dengan honoka. Tapi ada kalanya dia sempat memikirkan "beginikah sifat calon suamiku?" lalu umi akan menghilangkan pikiran itu dengan meyakinkan dirinya bahwa mereka tak kan pernah menikah di kemudian hari.

Umi melamun saat hendak ke ruang guru membuatnya menabrak seorang cowok yang tengah mendengarkan music lewat MP3 playernya. Tak ada yang jatuh, hanya saja mereka saling pandang tanpa ada satu patah pun yang keluar. Sang cowok berambut merah yang berpenampilan layaknya berandalan sekolah itu memandang lekat umi dan membuatnya bingung. Belum sempat umi bertanya kenapa, sang cowok langsung berlalu meninggalkannya.

"aneh" gumamnya "anak kelas satu sekarang ga ada sopan santunnya" umi pun segera menuju ruang guru yang menjadi tujuan awalnya.

"sensei memanggil saya?"

"ah, sonoda. iya. Saya punya permintaan"

"hm" umi membalas dengan anggukan

Sang sensei mengeluarkan sebuah kertas, seperti blanko registrasi, dan satu foto cowok berambut merah "kamu mengenalnya?"

"tidak, sensei" yang umi tau, cowok yang ada di foto itu adalah cowok yang menabraknya tadi.

"namanya Nishikino Maki, baru pindah dua hari yang lalu"

"…"

"tak ada yang berani mendekatinya, siswa bahkan guru. Jadi kami tidak bisa menjelaskan peraturan sekolah padanya, tak ada yang memperkenalkan seluk beluk sekolah ini padanya. Jadi …"

"biar ku tebak sensei. Sensei pasti menyuruhku menjadi guide nya kan?"

"tepat sekali" sang sensei menjentikkan jarinya sambil menyender ke meja guru.

"maaf, sensei, saya menolak" umi hendak meninggalkan ruangan itu tapi sensei nya memegangi pergelangan tangannya.

"tunggu dulu sonoda"

"kenapa harus saya?" protes umi dan membalikkan badannya untuk kembali menghadapi senseinya.

Sensei melepaskan pegangannya "karna saya yakin kamu bisa"

"itu bukan alasan, sensei"

"ayolah, kepala sekolah juga setuju, dan menyarankan kamu yang ambil alih soal kedisiplinan dia. Dia akan merusak citra sekolah ini jika terus berpenampilan urakan seperti itu. apalagi rambutnya yang di cat merah itu" jelasnya.

"tapi sensei.."

"bukankah osis juga bertanggung jawab atas kedisiplinan siswa?" kali ini sensei melipat tangannya e dadanya.

"sensei, anda memanfaatkan status saya"

"ayolah, aku yakin hanya kamu yang bisa"

"hah, I try" umi mengambil kertas yang dikeluarkan senseinya tadi dan menuju pintu untuk kembali ke kelas.

"kok cemberut?" sapa honoka "kamu pegang apa?" honoka menarik kertas yang dipegang Umi "Nishikino Maki" honoka mngeja nama yang ada disana "ah, inikan si brandalan dari kelas 1" tungkasnya kemudian.

"apa dia seterkenal itu, ini baru hari ke tiga di sekolah"

"umi, kamu ketua OSIS tapi ga kenal dengan masyarakat baru di sekolah ini" honoka menggeleng gelengkan kepalanya

"apaan sih" ketus umi.

"jangan marah gitu dong, jelek tau" honoka tertawa melihat kekesalan umi padanya. "udah ah, ngambeknya" bujuk sang pacar dan merangkulnya kemudian.

Perlahan air muka umi kembali tersenyum.

"cie… dimana mana mesra terus nih" ledek kotori yang sedari tadi memperhatian mereka.

Umi malu, honoka hanya bisa nyengir.

"Jadi ada apa dengan si Nishikino ini" honoka mengembalikan pembicaraan yang sempat tertinggalkan tadi.

"sensei nyuruh aku nasehatin dia biar taat aturan"

"wow, terdengar seperti tugas yang berat"

"hah"

"silahkan duduk di tempat masing masing, pelajaran akan dimulai. Dan buat kalian honoka dan Umi, berhenti pacaran di dalam kelas" kelas dipenuhi dengan bunyi "cieee" selagi guru nyengir ke kami.

"sensei" umi tak terima kenapa dirinya harus dipermalukan di depan teman teman sekelasnya. seluruh kelas tau kalau honoka dan umi adalah sepasang love birds. Saat Elyas datang, umi menjadi pembicaraan karna dia bertunangan selagi masih pacaran. Beberapa ada yang bertanya tentang kondisi itu dan hanya di jawab dengan senyuman olehnya. Jika mereka bertanya pada Elyas, jawabannya akan seperti "kami hanya bertunangan dan masih lama akan menikah, jadi kenapa harus terburu buru untuk menyudahi kesenangan masa muda dengan mengikat hubungan dengan satu gadis saja kalau aku masih punya waktu untuk main main dengan gadis lain" yang di respon positif oleh gadis gadis disekelilingnya. Jadi terciptalah image "Elyas bukan milik Sonoda Umi, tapi seluruh wanita selagi mereka belum resmi menikah". Slogan yang bodoh, rutuk umi.

Hari ini tugas OSIS menumpuk hingga akhirnya umi harus pulang malam. Biasanya honoka akan menemaninya jika umi akan pulang telat, tapi hari ini orang tuanya ada keperluan ke luar kota hingga honoka diminta untuk menjaga toko keluarga. Elyas? Jangan Tanya, sejak masuk sekolah ini dia tak pernah lepas dari gadis gadis penggemarnya, bahkan sedikitpun dia tak memandang umi di sekolah setelah hari pertama nya disini. Dan untuk masalah si rambut merah, mungkin baru bisa di temuinya besok.

"ah, udah selarut ini" keluhnya sambil mengunci ruang OSIS. Saat dia melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 pm. "semoga okaa san tidak memarahiku. Lagian tadi udah bilang bakal pulang telat" batinnya.

Saat dia berjalan di koridor gedung sekolah, Umi melihat seoarng laki laki mengenakan seragam SMA mereka. Rambutnya yang merah membuat umi lebih mudah untuk mengenalinya, seperti tadi siang, maki masih menggunakan headset putihnya "hah, kayaknya ga perlu nunggu sampai besok untuk menemuinya" bisiknya.

"Nishikino san, apa yang kamu lakukan di sekolah hingga baru pulang selarut ini?" Tanya umi setelah menyusulnya.

Maki melirik umi sebentar lalu memalingkan wajahnya kembali "…"

Merasa diacuhkan umi menghadangnya sambil melepas headset yang dipakainya dan mereka pun berhadapan

"apa mau mu?" bentaknya

"aku akan mengajarkanmu sopan santun" tekad umi.

"hah, emang nya kamu siapa ku?" maki mencoba merenggut headsetnya yang dipegang umi.

"dengar…" tunjuk umi padanya, tapi belum selesai bicara terdengar bunyi yang amat keras..

BANG….

Umi kaget dan terpatung, tapi tak begitu dengan maki. Sesaat kemudian maki bergumam "oh, sial, ini malam bulan purnama"

Umi pun bingung dengan gumaman pelan maki yang masih bisa didengarnya. "apa maksudnya dengan malam bulan purnama"

Tanpa isyarat maki langsung menarik pergelangan tangan umi dan lari dari pintu keluar gedung sekolah "ikut aku"

"apa yang kamu lakukan" berontak umi.

"sudah ikut aja"

Umi yang bingung terus terusan berusaha lepas dari maki, tapi genggaman tangan maki begitu erat. Mereka sampai di lab fisika.

"dengar, keributan apapun yang terjadi, kamu jangan keluar dan tetap disini, sebisa mungkin sembunyi" perintah maki padanya.

"aku masih belum mengerti apa maksudmu"

"dengarkan aja dan jangan membantah" bentak maki. Setelah mengatakan itu makipun keluar dari lab fisika.

Ada suara lain diluar, tapi itu bukan suara maki "disini anda rupanya, ouji sama" umi bisa mendengarnya dengan jelas apa yang terjadi di luar, bahkan dia mengintip di balik pintu karna penasaran.

"ah, hisashiburi. Mana temanmu yang lain. Mati kah?" balas maki santai

"hari ini cukup saya saja, lagian ouji sama juga tidak bersama baby sitter nya. Apakah tidak ada penggantinya kali ini?"

"ah, sangat disayangkan makoto harus mati karna kalian, padahal dia pengawal yang baik dan aku menyukainya dari sekian pengawal yang kudapatkan. Untuk itu aku pastikan akan membalskan dendamnya malam ini"

"percaya diri sekali anda"

Woosss… maki melemparkan api yang berasal dari tinjunya.

"wow, easy ouji"

Terdengar bunyi gaduh diluar sana, umi kaget saat melihat pertarungan antar api dan es dari balik pintu yang sedikit terbuka. "siapa mereka? Apa apaan dengan api dan es, apa mereka esper" otak umi berusaha mencerna apa yang dllihatnya sekarang, matanya tak lepas dari pertarungan yang sepertinya di dominasi maki.

Saat lawannya babak belur oleh pukulannya, maki bahkan tak tergores sedikit pun. Luka yang ada di tangan dan wajahnya bukanlah lukanya sendiri melainkan milik lawannya.

Satu pukulan dan maki akan mengirim lawannya ke alam mimpi tiada akhir. Tapi sebelum dia berhasil melakukannya "stop ouji sama"

Maki berpaling ke sumber suara, matanya membesar saat dilihatnya seorang berpakaian serba hitam menodongkan pisau keleher umi yang didekapnya dari belakang.

"oh sh*t" kutuknya.

Di waktu maki berkutat dengan lawannya, di lab fisika ternyata umi harus berusaha melarikan diri dari pria tegap berpakaian serba hitam yang sekarang ini menodongkan pisau padanya.

"kamu sangat bodoh untuk membawa pacar mu bersamamu malam ini, ouji" ucap si pria berpisau.

"dia bukan pacarku" umi berusaha berontak dalam posisinya. Rengkuhan pria ini begitu kuat hingga ilmu bela diri umi tak satupun dapat menyelamatkannya.

"hoho, dia tidak mengakuimu ouji"

Maki hanya menatap sang pria dengan tatapan tajamnya. "lepaskan dia, dia taka da sangkut pautnya dengan urusan kita"

BAM, satu pukulan dari pria yang dihajar maki tadi telak mengenai wajahnya. Maki terhuyung hingga jatuh. Rasa pusing dan perih di wajahnya membuat matanya berkunang kunang, maki menggeleng gelengkan kepalanya untuk dapat melihat jelas lawannya. Saat dia masuk mode bertarung lagi si pria berpisau berseru "jangan bergerak atau ku bunuh gadis ini"

Si lawan yang babak belur tadi tertawa histeris karna mulai detik itu keadaan akan berbalik.

BAM, satu pukulan lagi mengenai bagian wajahnya yang lain dan kembali sukses mengantarkan maki ke lantai.

Umi hanya bisa menggeleng kan kepalanya sambil menangis dan bergumam "tidak…hentikan" andai saja dia g tertangkap tadi mungkin keadaannya tidak akan begini. Itu yang ada dipikirannya.

"ouji, pacar mu ini punya bau yang enak sekali, bolehkah ku cicipi?" si pria berpisau menjilati leher umi membuat umi meronta ingin lepas dari rengkuhannya.

"b*ngsat, jangan coba coba menyakitinya" teriak maki.

Pukulan demi pukulan diterimanya sampai akhirnya maki kesulitan untuk bangkit.

"bawa dia ke mobil" perintah pria berpisau "kau juga ikut denganku, manis" bisiknya pada umi.

"siapa kalian?"

"saya adalah predator yang akan menyantapmu malam ini" kekehnya.

Saat posisi umi dan pria berpisau berdekatan dengan pria yang menggendong maki. Secepat mungin umi meraih pisau yang ditodongkan ke lehernya, si pria berpisau terkesiap saat pisau yang digenggamnya bersama umi menusuk perutnya. Pisau terlepas dari tangannya dan umi menebas lehernya. Si pria jatuh memegangi lehernya yang tersayat pisau.

"bos.." saat pria yang menggendong maki menoleh kebelakang, dia kaget bosnya udah sekarat di lantai. Secepat kilat umi menebas paha dan lehernya. Pria kedua juga sekarat dilantai dan ikut menjatuhkan maki.

"nishikino san, nishikino san" umi mengguncang guncang tubuh maki berharap si rambut merah ini terbangun. Maki begitu babak belur, wajahnya penuh memar, darah keluar dari dahi dan tepi bibirnya.

"hey, aku tak sanggup menggendongmu keluar, bangunlah" umi tetap berusaha membangunkan maki dalam kepanikannya.

"aku coba telpon honoka" umi mengeluarkan hp nya, saat umi meletakkan hpnya di telinga, tangan maki meraihnya dan menutup telponnya.

"jangan telpon siapa siapa. Apa alasanmu nanti kalau mereka bertanya tentangku? Belum lagi kekacauan dikoridor ini" maki berusaha bersandar di dinding dan sedikit terbatuk. Kondisinya lemah sekali.

"itu bisa dipikirkan setelah kamu dirumah sakit" umi mencoba menjangkau kembali hp nya.

"itu tidak membantuku"

"lalu apa yang bisa membantumu?"

Maki masih tersengal sengal, seperti setengah sadar, kepalanya begitu pusing. "give me your blood" bisiknya.

"apa?"

Mata yang tadinya ungu berubah merah.

"maki, ada apa dengan matamu?"

Maki mencengkram lengan atas umi erat sampai umi tak dapat bergerak. Ini bukan kekuatan orang yang babak belur. Apa yang merasuki maki. Perlahan umi melihat dua taring di gigi maki. Wajah maki perlahan mendekat ke lehernya.

"maki, who are you"

Umi tak bisa melawan atau lebih tepatnya tak mau melawan. Ada perasaan dihatinya kalau semua kan baik baik saja membiarkan maki melakukan apa yang diinginkannya. Saat umi merasakan maki menjilati lehernya sebuah bunyi tembakan menggema.

DOR…

Maki jatuh kesamping meraung menahan rasa sakit sambil memegang lengan atasnya yang mengalirkan banyak darah.

"aah, sepertinya monster yang ada padamu kembali bangkit, ouji" umi begitu familiar dengan suara yang menggema di koridor saat itu. saat umi menoleh, berdiri dengan gagah Elyas dengan setelan cowboy lengkap dengan topinya sedang menodongkan pistol berwarna silver pada maki. "apakah satu peluru bisa menidurkan monster mu, ouji"

Tak ada suara selain erangan yang keluar dari mulut maki. Dia berusaha melihat siapa yang menyerangnya "kau".

Elyas hanya tersenyum dan makin mendekati umi dan maki. "Mobilku ada diluar, saatnya pergi dari sini" perintah elyas sambil mengusap ngusap rambut merah maki yang makin lama kesadarannya makin hilang.

"apa yang kamu lakukan padanya, kamu mau membunuhnya?" umi memukul mukul lengan elyas. "dan lagi, siapa kamu sebenarnya, elyas, dan apa hubunganmu dengan nishikino. Dan… dan…" saking kaget dan paniknya umi tak tau mau bilang apa lagi. "siapa kalian semua?"

"okaa sama mu kan menjelaskan padamu nanti" Elyas berdiri sambil mengngendong maki di bahunya "dan tenang saja, dia ga akan mati" kali ini giliran umi yang diusap kepalanya oleh elyas dan mengambil langkah duluan untuk keluar dari gedung sekolah.

Bersambung…

Segini dulu, ini juga udah panjang. Maaf penggambaran situasi saat kelahinya g bagus, karna kelemahan author memang disana.