[A/N] Disclaimer: Sherlock Holmes adalah milik Sir Arthur Conan Doyle dan Hunter x Hunter adalah milik Yoshihiro Togashi

Listening To: Secrets - One Republic


"Sialan! Ternyata Moriarty celaka itu juga terlibat!" umpatku pada angin. "Bagaimana kau mengetahui ini sebelumnya?" tanyaku. Holmes hanya tersenyum.


FLASHBACK (Holmes' POV)

Aku sedang asyik-asyiknya memeriksa mayat Elena ketika handphone-ku berdering tanda SMS masuk. Dengan sedikit menggerutu, aku membuka SMS itu.

Dari: Nomor tak dikenal

Lihatlah ke luar jendela.

JM

Moriarty? Aku lalu membuka jendela. Tiba-tiba aku melihat titik merah yang menyilaukan dari gedung sebelah. Dan titik merah itu mengarah ke dadaku.

Aku lalu menerima sebuah SMS lagi.

Dari: Nomor tak dikenal

Kali ini akan kuampuni. Tapi jika kau terlibat lebih dalam, titik merah itu akan menjadi lebih dari sekedar ancaman.

I owe you a fall, remember?

JM

Seketika titik itu menghilang. Aku segera memasukkan handphone-ku ke dalam saku dan membalas pertanyaan Watson.

END OF FLASHBACK


"Begitu... Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanyaku. "Kau tahu metodeku, Watson," jawab Holmes. "Mengapa kau tak memberitahuku, Holmes? Ini dapat membahayakan nyawamu!" kataku marah. "Seingatku yang terancam nyawanya itu aku, bukan kau. Kenapa jadi kau yang marah-marah?" tanya Holmes sambil tersenyum simpul. Aku mengacuhkan pertanyaannya.

Holmes lalu berdehem. "Jadi," katanya, "Pertama kita harus resmikan ini sebagai TKP. Yang artinya kita harus memanggil polisi setempat."

Aku hanya mengangguk. Tanpa harus dipanggil, ternyata beberapa mobil polisi sudah datang. "Wah, polisi Jepang sigap juga," kata Holmes. Lalu keluarlah seorang polisi. Wajahnya khas Jepang, dengan kumis lancip ke bawah yang terlihat menusuk. Rambutnya hitam legam, tipis, dan panjangnya sebahu. Pupil matanya kecil tapi menohok.

"Inspektur Taka Misizawa," kata polisi itu sambil menunjukkan tanda pengenalnya. "Jika Anda tidak berkepentingan, Anda boleh pergi karena saya akan menjadikan tempat ini sebagai TKP."

"Yah, Tuan Misizawa," kata Holmes, "sebenarnya kami berperan sangat penting dalam kasus ini karena kamilah yang menemukan mayat tersebut. Nama saya adalah Sherlock Holmes, dan ini teman saya, Dr. John Watson."

Misizawa lalu terbelalak. Ia lalu meraba-raba pinggangnya sendiri. "Oh, tidak apa-apa, saya dengan senang hati melibatkan Anda berdua! Ayo, ikuti saya."

Aku dan Holmes lalu mengikuti Misizawa. Ia mendekati mayat itu.

"Hmm, lelaki, kira-kira berusia 20-30 tahun, dari sehelai rambut yang saya dapat," kata Misizawa sambil menjepit sehelai rambut dengan pinset, "dapat saya pastikan bahwa Ia berambut pirang."

Holmes lalu mengamati rambut korban. Ia lalu lanjut melihat tubuh korban. "Ia sudah tewas sebelum kebakaran," kata Holmes. "Apa yang membuatmu berpikir demikian?" tanya Misizawa.

"Posisi korban," kata Holmes, "kalau korban dibakar hidup-hidup, tangan korban akan menyilang di depan wajahnya sebagai bentuk pertahanan diri. Tapi seperti yang kalian lihat di sini, Ia terbaring begitu saja, jadi dapat dipastikan saat terjadi kebakaran, korban tidak dalam keadaan sadar."

"Benar juga," kata Misizawa sambil manggut-manggut. Holmes lalu melihat-lihat mayat pria itu. "Sebagian besar tubuhnya sudah gosong, sepertinya saya tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Saya serahkan kasus ini kepada forensik." Misizawa lalu mengangguk. "Terimakasih atas kerjasamanya. Kami akan menyampaikan perkembangan kasus ini secepatnya," kata Misizawa. Ia dan anak buahnya lalu menyisir TKP sementara kami diperbolehkan meninggalkan tempat.

Aku dan Holmes lalu berjalan-jalan di padang bunga. "Lalu apa?" tanyaku. "Setelah ini kita akan kemana?"

"Aku akan menghubungi Freecss terlebih dahulu, lalu kita akan pikirkan kelanjutannya," kata Holmes.

Tiba-tiba aku melihat segerombolan anak-anak di kejauhan. Anak-anak itu semakin mendekat sehingga aku dapat mengidentifikasi mereka.

"Holmes, itu kan anak-anak yang menginap di cottage yang terbakar itu!" kataku. Holmes hanya mengangguk. Anak-anak itu akhirnya sampai kepada kami.

"Tuan Holmes?" tanya seorang anak yang berambut hitam jabrik. "Ya?" balas Holmes sambil tersenyum. "Aku... Aku tahu siapa pria itu... Kami semua tahu..." kata anak itu. "Aku akan senang hati menerima informasi dari kalian," jawab Holmes. Anak itu lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Holmes.

"Dia... dia adalah Phinks... Dia anggota Genei Ryodan..."

Aku pun terkesiap. "Sebenarnya siapa kalian?" tanyaku.

"Namaku Gon, ini temanku Killua, Kurapika, dan Leorio," jawab anak berambut jabrik itu. "Bukan, bukan nama kalian, tapi sebenarnya siapa kalian?" tanyaku penasaran.

"Kami hunter profesional. Itulah mengapa kami mengetahui Genei Ryodan," jawab Gon.

Holmes hanya manggut-manggut. "Kami butuh bantuan kalian," kata Holmes. Gon pun tersenyum dan mengangguk.

"Sebaiknya kita menginap di mana?" tanya Holmes. "Aku tahu sebuah penginapan di sekitar sini. Mungkin tidak terlalu bagus, tapi nyaman. Ayo," kata Gon sambil memandu kami. Kami lalu berjalan ke arah utara sambil mengobrol santai.


Kami lalu sampai di penginapan yang dimaksud. Kami segera memesan kamar. Karena kami tidak membawa banyak uang, akhirnya kami menginap di kamar yang sama. Setelah mandi dan bersih-bersih, kami berkumpul untuk membahas kasus. Holmes lalu menceritakan pembunuhan yang terjadi sebelum Phinks, termasuk tentang Moriarty.

"Aku tahu kalau ini adalah pertikaian antara organisasi. Phinks dibunuh oleh Moriarty, jadi bagaimana dengan Elena?" tanya Holmes. Ruangan hening sejenak karena semua orang berpikir.

"Bagaimana kalau begini?" kata Kurapika, "Sebenarnya Elena adalah anggota Genei Ryodan, tapi Ia membelot kepada Moriarty. Chrollo yang mengetahui hal ini pun kalap dan membunuh Elena. Lalu Moriarty pun balas membunuh Phinks."

Holmes lalu manggut-manggut. "Analisa yang bagus. Kita masih punya pekerjan. Kita harus mencegah terjadinya pembunuhan oleh Genei Ryodan. Jika tidak, rantai pembalasan ini akan terus terjadi." Ruangan itu pun hening kembali. Holmes lalu menjentikkan jarinya.

"Watson, kau ingat Misizawa?" tanya Holmes. Aku mengangguk. "Tanda identitasnya palsu. Dan kau ingat saat Ia mengetahui namaku? Ia menggenggam pinggangnya kan? Disitulah tempat orang Jepang jaman dahulu menaruh pedangnya. Ia merasa terancam," kata Holmes.

"Bagaimana penampilannya?" tanya Gon. "Seperti orang Jepang biasa, tapi kumisnya tajam dan tipis," jawab Holmes.

"Nobunaga," kata Gon, "itu pasti Nobunaga. Ia adalah anggota Genei Ryodan."

"Tapi kalau Ia menyamar menjadi polisi, berarti Ia ingin menghilangkan berang bukti, kan? Buat apa anggota Genei Ryodan melakukannya?" tanya Kurapika.

Tampang Holmes pun berubah serius.

"Pembelot... Ya... Dia adalah pembelot..."


[A/N] Ha! Ya, gue suka banget sama Moriarty ya, semua cerita gue masukin Moriarty ihihi.

Udah ah.