Chapter 3

Title : sorcary fortunes in the different woods

Author: Hyo

Cast: Donghae, Ryeowook, Kyuhyun, Eunhyuk, Yesung, Sungmin, Leeteuk, Kangin, Siwon, Hanggeng, Heechull and other

Pair: Eunhae/Hyukhae (always be this couple),slight Yewook, Kyumin

Genree: fantasy (full), romance, angst, school life

Rate: T

Disclaimer: ide cerita dari otak author sendiri, jika ada kesammaan alur, mungkin dikarenakan ide yang kebetulan sama, difanfiction ini saya Cuma pinjam nama, semua pemain milik mereka sendiri dan tuhan yang maha esa.

Sunmarry: sebuah ramalan dari seorang menantu kelaurga Kim yang sangat dipercaya oleh setiap keluarga, melihat tiga anak manusia yang memasuki dunia yang berbeda karena tiga ekor rubah siluman, dimana terdapat mahluk-mahluk ajaib didalamnya, penyihir, monster, siluman, dan mahluk mistis lainnya seakan menjadi kenyataan disana, ketiganya mendapat ramalan dari orang yang sama, namun satu orang mendapatkan sebuah ramalan kematian dari sang bulan biru dan harus mengorabankan satu orang, bagaimanapun ketiganya punya kehidupan, dan mereka harus kembali kedunianya yang sebenarnya bersama.

Warning!: YAOI, TYPO bertebaran, mungkin ada beberapa bagian alur yang diluar nalar, jadi bagi yang tidak suka disarankan untuk tidak memaksa membaca.

n/a: author agak egois buat couple Eunhae, tapi author usaha'in biar couple lainnya juga bisa sama ukuran kayak Eunhae, hehe... mian eoh.

Gumawosomimnida! Selamat membaca!

Siwon meyandarkan kepalanya pada kursi kebesarannya, melepaskan semua beban pikirannya yang terus menerus bergumul dikepalanya, hingga sebuah kecupan singkat dipipinya berhasil membangunkannya, ia mendapati seorang namja cantik yang kini memeluknya dari samping, senyumnya mengembang, tangannya tergerak untuk mengelus surai sang kekasih, merasa mendapat perlakuan hangat, Heechul memberanikan diri untuk duduk dipangkuan Siwon, mengalungkan lengannya pada leher namja kekar tersebut, bergelut manja pada pelukan yang terasa begitu hangat baginya.

"jadi bagaiamana?". Siwon memulai pembicaraan, menarik Heechul agar lebih erat kepelukannya.

"apanya?".

"yaishh, bukankah kau bilang kalau aku akan mendapatkan mereka".

"hihi, bukan sekarang, aku bahkan baru memulainya chagi". Heechul terkikik geli melihat ekspresi sang kekasih yang terlihat kesal akan kelakuannya yang bisa dibilang memang lumayan menjengkelkan, atau lebih tepatnya kerena ia tak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.

"hasilnya?".

"agak jelek, aku hanya berhasil melukai seorang manusia yang berada didekat mereka, mereka melukai Heebum dan membuatku kesal, jadi kuputuskan untuk pergi dari sana".

"manusia? Ada manusia disana?". Siwon mengeriyitkan dahinya, ditariknya Heechul lebih dekat dengannya hingga tinggal beberapa inci.

"hmmm, 3 manusia".

"apa mereka menyulitkanmu?".

"aniyo! Justru sebaliknya".

"sebaliknya bagaimana? kau hanya melukai manusia itu tanpa melakukan apapun pada rubah-rubah itu".

"dengarkan aku dulu!, ketika aku melukai manusia itu, salah seorang diantara mereka terlihat sangat khawatir, dia bahkan tidak memperdulikan sihir pengikat yang kulemparan padanya, dan detik itu juga aku punya rencana untuk melumpuhkan mereka".

"apa itu?".

Heechul mengengkat kepalanya pada telinga Siwon, sebuah seringai tajam terukir diwajah namja tampan itu beberapa saat setelah Heechul menyelesaikan kalimatnya, detik berikutnya ia memeluk Heechul lebih dekat dengannya tak lupa juga memberikan sebuah kecupan lembut dikening sang kekasih.

"rupanya Witchku yang satu ini sangat pintar, aigoo...". Puji Siwon setelah kecupannya terlepas.

"Yak! Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Witch itu penyihir yeoja, aku ini namja tau!". Diluar dugaan, seorang dipuji kini justru terlihat marah dengan memukul pundak Siwon, membuang muka begitu saja kearah lain.

"wajahmu itu cantik seperti yeoja kan? Kalau tidak mau Witch, Lalu mau kusebut apa? Wizard? Atau diatasnya? seperti... Warlock? Kau akan sama denganku jika kau mengambil saranku yang terakhir". Siwon kembali terkekeh pelan, ia menyandarkan kepalanya pada pundak Heecul, sambil sesekali memberi kecupan dileher putih sang kekasih, membuat empunya tertawa geli, namun tak selang lama segera ia melepas kecupan Siwon, melemparkan sebuah senyuman cantik pada namja yang kini sedang memangkunya.

"tidak! Warlock terlalu licik untukku, lagi pula Warlock adalah sebutanmu chagi, aku tak bisa memakainya".

"lalu apa? Wizard atau Witch?".

"benar juga, apa ya? hmmmm... jika Wizard terlalu naif dan mereka juga terlalu baik untuk ukuran kelicikanku, jika Witch itu adalah panggilan para penyihir yeoja, dan jelas-jelas aku ini namja, eung... menurutmu apa?".

"apapun sebutanmu, kau akan tetap jadi penyihir terbaikku chagi".

Wajah Heechul langsung bersemu merah mendengar pujian yang dilemparkan sang kekasih padanya, ia semakin mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Siwon, membuat sang pemilik terkekeh pelan, mengangkat tengkuk Heechul dan mencium bibir pink itu cukup lama

?+?+?+?+?+?+?#!#!#!#!#!#!#!#!fortune!#!#!#!#!#!#!#!#!#?+?+?+?+?+?+?

Sedangkan didalam rumah tepatnya dikamar Kyuhyun, Donghae dan Kyuhyun terus bergelut dengan lemari obat, Kyuhyun terlihat sedang memeriksa beberapa obat luar, Donghae sendiri yang sendari tadi membantu saengnya terus bergelut tanpa menyentuh apapun mencari sesuatu diantara jajaran obat didepannya.

"waeyo hyung? Kau punya masalah?".

"eungg... begini, kuingat kau punya scorpivest kan? kau bisa gunakan itu untuk mengobatinya, meskipun...".

"kau gila hyung? itu kugunakan untuk lukamu dulu, sekali lagi itu untukmu, dan bukan manusia". botol obat yang dipegang Kyuhyun, langsung ia gebrak dari tempatnya, wajahnya tersirat raut terkejut juga marah yang terlihat jelas diwajah tampannya.

"lalu apa salahnya mencoba?! Siapa yang tau jadinya bagaimana". Donghae yang emosi menaikkan nada suaranya hingga tanpa sadar telah membentak Kyuhyun yang kini juga terlihat bingung.

"ANIYO! Kita tidak tau apa dampaknya pada Eunhyuk, siapa yang tau kalau nanti akan berakhir buruk untuk dirinya, pikirkan itu hyung! Jangan buat kesalahan yang sama seperti dulu! Kau harus mengorbankan seseorang hanya karena melakukan sesuatu tanpa memikirkan dampaknya". Kyuhyun sendiri sepertinya juga berada level emosinya yang sama dengan Donghae, dan kini bertambah kala menyadari bentakan yang dilemparkan sang hyung.

"la-lalu apa kau akan diam saja...?". Merasa kalimat sang saeng begitu menusuk hatinya Donghae mulai bisa mengontrol dirinya, terlihat dari suaranya yang memelan diikuti deru nafasnya yang tadinya memburu mulai memelan.

"hyu-hyungng mi-mianheyo, aku diluar kendali, aku tak bermaksud mengatakan hal kasar padamu, tapi tolonglah hyung jangan keras kepala, aku akan cari obat untuk mengeringkan bekas cakarannya, jangan ambil keputusan secara tergesa-gesa".

"Kyu kumohon...".

"waeyo? Kenapa kau ingin sekali melakukan itu?".

"aku tak ingin melibatkan orang lain dalam urusan pribadiku, terlebih dia tak sengaja datang kesini, dia harus pulang kedunianya dengan keadaan baik-baik saja".

"kau yakin itu alasanmu? Atau ada alsan lain? ".

"aenn... i-itu... ha-hanya saja..."

"baiklah, akan kulakukan untukmu hyung".

"huh?".

"kulakukan asal... jangan gegabah ketika melakukannya nanti".

"gumawo Kyu".

Donghae menghela nafas lega, senyum manis terpasang cantik diwajah bersihnya kala Kyuhyun membuka sebuah kotak kecil berwarna coklat yang tersembunyi dibalik obat-obatan, mengambil sebotol kecil cairan berwarna ungu gelap.

"tapi... kita tidak bisa menaruhnya langsung pada lukanya".

"waeyo?".

"kau ingat dia bukan sejenis dari kita? Tubuhnya mungkin tidak mudah menerima obatnya, mengingat kau sendiri yang dasarnya seorang siluman pernah hampir kehilangan nyawamu karena obat ini"

"lalu bagaimana?".

"aku tidak tau bagaimana ketahanan tubuh antara kita dan juga manusia, tapi kemungkinan pertahanan mereka lebih lemah dibanding kita, mungkin sedikit beresiko, tapi kita butuh pelindung untuk menyalurkan obatnya pada luka Eunhyuk, namun pelindung itu bersifat nyaman dan hangat juga bisa menutupi seluruh bagian luka, jika seenaknya mearuh pelindung tanpa memperhatikan kondisinya dia akan terluka sendiri nantinya".

"pelindung? nyaman dan hangat? itu seperti gundukan bulu yang lembut, Ah matta! kau bisa gunakan ekormu bukan?",

"gotcha!, Tapi hyung, kau pernah tanpa sengaja menyirampan air panas pada ekorku sewaktu aku masih kecil dan membuatnya sulit untuk tumbuh, dan alhasil ekorku jadi pendek dan ekorku tak bisa menutupi seluruh bagian luka, pilihannya kita menggunakan ekormu atau Wookie hyung untuk menjadi pelindungnya".

"tapi kukira Ryeong punya tubuh yang kecil, seingatku dia juga sering minta kau peluk karena bulunya yang agak tipis, jadi...".

"kita pakai ekormu!".

"e-ekorku? Ta-tapi... kau tau sendiri aku kesulitan mengubah wujudku...".

"aku minta kau keluarkan ekormu hyung, bukan mengubah wujudmu, kau bisa mengubah sebagian tubuhmu, tidak harus mengubah dirimu menjadi rubah seutuhnya".

"baiklah, aku akan mencoba".

"dan satu lagi...".

"mbwo?".

"berjanjilah kau akan segera bicara padaku jika terjadi sesuatu yang buruk padamu karena obatnya, kau tau kan masalahnya...".

"kau seperti tidak tau aku Kyu, kau tau aku punya kemampuan spesial dari klanku untuk membuat pelindung sihir".

"ini bukan sihir hyung, ini obat dan juga racun, jika terjadi kesalahan sedikit saja, kau mungkin akan cacat permanen nanti".

"baiklah, aku akan mengatakannya jika terjadi sesuatu nanti, puas? Sekarang segera obati dia".

"baiklah".

Kyuhyun mengangguk pelan menanggapinya, Donghae-pun segera merubah dirinya menjadi setengah siluman, ia menutup matanya beberapa saat, bola matanya berubah menjadi biru terang kala ia membuka matanya kembali, kulitnya berubah pucat meski hanya urat kecil yang keluar, dibelakang tubuhnya-pun mulai keluar gundukan bulu halus yang memanjang membentuk ekor layaknya rubah, berwarna puth dengan warna abu-abu gelap diujung ekor, kepalanya-pun mengeluarkan sepasang telinga yang memiliki warna yang sama.

"kajja!".

"ne".

Keduanya melangkah meninggalkan kamar Kyuhyun, menghampiri kelinci yang dibawa Sungmin tadi siang yang kini berada didekat pintu,menggendong kelinci putih itu bersamanya, dan seperti pagi tadi, sepasang mata dibalik jendela terus memperhatikan sepasang kakak beradik itu.

?+?+?+?+?+?+?#!#!#!#!#!#!#!#!fortune!#!#!#!#!#!#!#!#!#?+?+?+?+?+?+?

Ryeowook mengambil handuk putih yang sebelumnya sudah dicelupkan air hangat, membersihkan bercak darah sisekitar kulit Eunhyuk, yang kini sedang terbaring diranjang, Sungmin dan Yesung yang sendari tadi memperhatikan rubah manis itu berusaha membantu sebisa keduanya.

'ceklek'.

Semua tertuju pada pintu kamar yang terbuka, menampakkan seorang namja berambut ikal yang melangkah mendekati ketiganya.

"eotoke? Kau dapat obatnya?".

"ani, obatnya tidak ada, yang ada hanya...". Kyuhyun menggeleng pelan, tangannya tergerak untuk mengambil sesuatu disaku belakangnya, sebuah botol kecil yang terdpat cairan kental berwarna ungu gelap disana.

"tapi Kyu ini...".

"aku tau, ini kemauannya..". Ia menunjuk kearah pintu, semua orang mengalihkan perhatian pada seorang namja berekor rubah yang melangkah pelan mereka.

"Do-Donghae hyu-hyung, waeyo? Kau akan terluka sendiri nantinya".

"kata siapa? toh aku hanya menjadi pelindung agar obatnya tidak langsug berinteraksi dengan tubuhnya".

"Hae hyung...".

"aku akan baik-baik saja, asal kau percaya padaku".

"ta-tapi...".

"gwencana Ryeonggie".

Donghae segera duduk disamping Eunhyuk ketika medapat anggukan ragu dari Ryeowook, ia terdiam beberapa saat sebelum melilitkan ekornya pada perut Eunhyuk, beberapa saat kemudian ekornya dikelilingi cahaya biru shafire yang membentuk pelindung seperti bola api kecil yang berjumlah banyak mengitari luka disekujur tubuh Eunhyuk, perhatiannya langsung kembali keKyuhyun, ia tersenyum manis diikuti anggukan untuk menyakinkan sang adik.

Kyuhyun pelan-pelan meneteskan cairan kental itu pada ekor Donghae, sekitar 10 tetes dan itu berhasil membuat Donghae meringis menahan sakit, sepertinya tetesan obat itu benar-benar menyakitkan, lihat saja Donghae yang berulang kali meneteskan air matanya, Kyuhyun sempat hendak menghentikan kegiatannya tadi, namun kalau bukan karena Donghae yang memaksanya, ia pasti sudah menolong hyungnya sekarang, Donghae mengatur nafasnya pelan, ia tersenyum sembari terus memperhatikan ekornya yang kini tidak hanya dikelilingi warna biru, namun juga warna kunguan yang terlihat indah, setidaknya pemandangan itu bisa sedikit melupakan rasa sakitnya.

"hyung, sudah cukup! Kau sudah seperti ini dan masih ingin melakukannya?".

"Diam, dan lakukan tugasmu bocak tengik!".

"hyung, yang dikatakan Kyuhyun benar, tanganmu saja sudah bergetar hebat, kau masih ingin melanjutkannya?".

"toh nanti juga hilang, lakukan saja Kyu!- Sepertinya pernafasannya hampir teratur, kau ingin berhenti begitu saja?".

Donghae beralih pada Eunhyuk yang kini sepertinya tidak terlalu pucat seperti siang tadi, sebuah senyuman terukir diwajahnya kala mengelus pipi Eunhyuk, sedangkan empat orang yang terus memperhatikan keduanya sepertinya punya pikiran masing-masing.

"Wookie... apa kau punya pemikiran yang sama denganku?".

"hhm, kau benar, si cabul ini memang mirip dengannya, semuanya, namun aku tidak tau takdirnya".

"kuharap tidak seperti 200 tahun yang lalu".

"nadoya".

Dua orang lainnya yang berada dibelakang dua bersaudara itu, masih bergelut dengan pikirannya masing-masing mengenai kawannya yang masih belum bangun, keduanya mamsih khawatir meski keadaan Eunhyuk sudah sedikit lebih baik.

Kini hanya tinggal Sungmin dan Donghae yang menjaga Eunhyuk dikamar itu, Kyuhyun sedang menyiapkan makanan dan Yewook sepertinya punya urusan sendiri, Donghae masih setia melilitkan ekornya pada perut Eunhyuk, Sungmin sendiri sedang bermain dengan bunnynya yang tadi dibawa Kyuhyun, tanpa menyadari seseorang yang membawa senampan makanan memasuki kamar.

"hyung makanlah dulu".

"oh Kyu, taruh saja dimeja". Donghae mengangguk pelan menanggapinya, sambil menunjuk meja didakatnya dengan dagunya.

"hanya hyungmu? aku bagaimana?". Sungmin yang berada didekat Donghae mulai melemparkan protes kala melihat hanya sepiring makanan dinampan yang dibawa Kyuhyun

"ambil sendiri!". Kyuhyun hanya menjawab layangan protes itu dingin, dan langsung pergi dari kamar itu begitu saja, tanpa memperdulikan umpatan Sungmin yang terus diberikan padanya.

"Yaish! Setidaknya jangan hanya setengah-setengah menolong, dasar iblis biadab!".

"kau bisa makan milikku, aku juga blum lapar kok". Donghae yang tidak tahan melihat pertengkaran itu mulai melerai emosi Sungmin, diambilnya piring makanan diatas nampan, menyodorkannya pada namja bergigi kelinci didepannya.

"aniyo, gwencana, aku akan menunggu setan itu mengambilnya".

"dia tidak akan kembali jika hanya mengambil makanan untukmu".

"MBWO?! AISH! Aku bersumpah akan mengasapinya! Aku heran, kenapa sikapnya seperti itu, kau juga tahan punya adik seperti dia, Argh! Aku benci dia!".

"aku yakin kau akan menarik ucapanmu tadi jika kau tau dia yang sebenarnya".

"tidak akan! Bagaiamanapun kau akan mengatakan kalau adikmu itu adalah anak yang baik, ramah, suka menolong, aku tidak akan percaya!".

"tidak, aku tidak bilang begitu, dia memang tidak termasuk golongan orang yang kau sebutkan tadi".

"huh?". Sungmin menaikkan satu alisnya, Ia mulai melepaskan lipatan tangannya pada dadanya, memperhatikan Donghae secara saksama.

"sebelum itu, jawablah pertanyaanku, apa kau... menyukai adikku?".

"m-mbwo? I-itu tidak mungkin, kenapa kau berfikir seperti itu?!". Ditengah keseriusannya, pertanyaan pertama berhasil membuatnya terperanjat, sebaik mungkin ia kendalikan dirinya yang masih tak percaya dengan pertanyaan Donghae yang begitu frontal baginya.

"jinja? Padahal aku berharap kalau kau menyukainya".

"wa-waeyo?".

"bukan karena apapun, lupakanlah".

"Yak! Jangan buat aku penasaran!".

"kalau kau ingin jawaban jawablah secara jujur, apa kau myukai adikku? Jangan khawatir hanya karena kau mengatakannya pada hyungnya".

"mollayo, terkadang aku suka saat dia berperilaku pada saudaranya dengan hangat dan perhatian, tapi sepertinya dia punya dendam pribadi denganku, dia selalu mencari masalah baik kecil atau besar apapun itu".

"sudah kuduga, karena aku sendiri tidak tau kau menyukainya atau tidak yang jelas... sebenarnya dia menyukaimu...".

"jangan mengada-ngada, dia bahkan sepertinya membenciku".

"kau ingat ketika kau bertemu pertama kali dengan kami?".

"ne aku masih ingat, waktu dicamp kan? Kalau tidak salah aku melihat sesuatu dibalik pohon atau semak-semak saat itu".

"kauu orang pertama yang melihat kami, dan yang kau lihat itu Kyuhyun... Dia tidak suka, tapi kau manusia pertama yang membuatnya berani sedekat itu dengan lingkunganmu".

"sudahlah, itu hanya kebetulan saja".

"kalian saling menatap saat itu, tertarik satu sama lain".

"aniyo! Aku hanya penasaran, lagi pula kalau dia menyukaiku, bagaimana caramu penjelasanmu mengenai sifatnya padaku selama ini? menyukaiku? dengan sifatnya sekarang, itu tidak mungkin".

"dia tidak tau harus bagaimana, ia terlalu gugup saat bertemu denganmu, jadi dia bersikap dingin dan mengacuhkanmu, jujur saja, aku yakin makanan yang diantar dia tadi bukan untukku, dia hanya ingin membuatmu marah dan akhirnya dia bisa bicara denganmu secara tidak sengaja karena hanya menawariku makanan tanpa memperdulikanmu, dia tak pernah memberiku makanan apapun bentuknya, justru sebaliknya dia yang selalu mengambil milikku".

"dia orang yang hangat Sungminnie jika mengenalnya lebih dalam, dia hanya butuh perhatian agar dia bisa mengeluarkan sifatnya, aku harap kau yang memberinya perhatian itu".

Sungmin terdiam sejenak, dipikirkannya setiap kalimat yang dikatakan Donghae barusan, ia menggenggam telapak tangannya erat, mengatue nafasnya pelan.

?+?+?+?+?+?+?#!#!#!#!#!#!#!#!fortune!#!#!#!#!#!#!#!#!#?+?+?+?+?+?+?

Sungmin melangkah pelan menuju ruang tamu, didapatinya seorang namja tinggi berambut ikal yang kini sedang bersandar dikursi kayu, memejamkan matanya tenang dengan dengan kedua tangannya yang disilangkan didepan dada, sepertinya iblis kita ini sedang berada dialam mimpinya.

"Cho Kyuhyun...". Gumamnya pelan saat duduk disamping Kyuhyun, dengan senyum manis yang menunjukkan gigi kelincinya yang putih.

"kalau dilihat-lihat kau tampan juga jika kau diam seperti ini". Ia menggerakkan tangannya mendekat Kyuhyun, hendak menyentuh pipi dari namja tampan itu, namun sayang sekali, Kyuhyun membuka matanya saat tangan Sungmin sedikit lagi menjamah pipi putih itu.

"kau serius dengan ucapanmu tadi?".

"Huh? A-aku... Ja-jangan salah paham dulu, hilangkan semua fikiran tentang aku sekarang ini diotakmu, aku tidak bermaksud sep- Aishh! Pabo! Pokoknya aku tidak punya maksud apapun". Sungmin benar-benar terkejut dengan wajah datar Kyuhyun yang langsung menghadap kearahnya, membuatnya benar-benar dekat dengan namja berambut ikal itu, namun sesaat kemudian ia langsung menjauh darinya.

"lalu kenapa kau meraba wajahku?".

"eung... ta-tadi wajahmu kotor, jadi kubersihkan".

"jinja? lalu apa yang kau bicarakan dengan hyungku dikamar tadi? Aku ingin tahu karena aku mendengar namaku disebutkan".

"bukan hal penting".

"kalau bukan hal penting kenapa setelah selesai bicara menemuiku dan duduk disambingku, bilang kalau aku tampan dan ingin meraba wajahku?".

"aku hanya ingin memastikan saja".

"memastikan apa?".

"ha-hanya sa-saja, kukira kau seperti yang dikatakan hyungmu, ternyata aku salah besar, kau bahkan sudah berfikir tidak-tidak tentangku padahal aku tak punya maksud apapun".

"uh-oh, mianheyo, hanya saja... aku dengar semuanya tadi...". Kyuhyun tersenyum kikuk, namun langsung disusul raut sedih diwajahnya, segera ia menjaga jarak dengan Sungmin, kepalanya menunduk tak ingin menunjukkan jati dirinya yang lain pada Sungmin.

Chu...

Mata Kyuhyun terbelalak, merasakan bibir hangat yang menyentuh kulit pipinya lembut, tangannya tergerak untuh meraba pipinya yang baru saja dikecup Sungmin, ia menatap namja bergigi kelinci disampingnya ini tak percaya, antara bingung, kaget, senang? Entahlah.

"a-apa yang kau lakukan?".

"hyungmu mempercayaiku untuk menjagamu, aku tak ingin mendapat masalah darinya hanya karena aku membuat adiknya menangis".

"mbwo?". Kyuhyun menaikkan satu alisnya, ia tak mengerti dengan ucapan namja kelinci disampingnya ini.

"hyungmu bilang kalau kau menyukaiku, sulit kupercaya memang, mengingat perlakuanmu selama ini padaku, tapi akan kucoba untuk memabalasnya".

"aku? menyukaimu? Yang benar saja... kita bahkan baru bertemu dua hari yang lalu, dan jika kau melakukannya hanya karena merasa iba padaku, aku tak pernah percaya ucapanmu". Jawabnya kasar langsung membuang muka kearah lain

"KAU! YAK! Aku mencoba baik denganmu selama ini!".

"siapa peduli?".

" Kau benar-benar... Aku juga berusaha sebaik mungkin agar aku bisa nyaman denganmu dan juga menyukaimu sepenuh hatiku! Tapi dengan mudah kau bilang kalau aku menyukaimu hanya kerena iba denganmu? DENGAR CHO KYUHYUN! Aku tau benar kalau kau memang punya masa lalu yang pahit, namun bukan karena itu aku berusaha menyukaimu atau karena iba padamu, aku mengatakan kalau aku mencoba menyukaimu, tapi sungguh! Aku melakukannya dengan hatiku, aku tak peduli kau menyukaiku atau tidak, yang jelas aku... a-aku...".

"Ha-hanya berusaha menjadi salah seorang yang berarti untukmu... walau-pun memang benar kalau awalnya seperti itu, tapi... untuk sekarang, aku tak ada maksud lain selain berusahaa menyukaimu". Lanjut Sungmin pelan, melangkah meninggalkan Kyuhyun.

Grepp!.

Namja manis itu menghentikan langkahnya kala merasakan pelukan dari belakang, pelukan hangat yang bergetar ketakutan, bisa ia rasakan deru nafas cepat dipundaknya yang kini digunakan Kyuhyun untuk menyandarkan kepalanya.

"Kajima! Jebal Kajima!".

"Kyu-Kyuhyun...". Bisa Sungmin rasakan Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya, suaranya bergetar meski terdengar membentak.

"Mianheyo...".

Sungmin membalikkan badannya, menggenggam tangan Kyuhyun dan mengusapnya pelan, "kenapa minta maaf? Kau bahkan tidak punya salah apapun padaku". Ucapya tenang diiringi senyum manis kelincinya, dan dalam gerakan cepat mencuri kecupan bibir dari Kyuhyun.

"huh?".

"kukira aku tau alasan kenapa aku berusaha menerimamu".

"Su-Sungmin...".

"naega chuaso".

Senyum Kyuhyun mengembang menghapus raut sedih yang menghiasi wajah tampannya, bukan seringaian yang biasa ia lemparkan pada orang lain, namun sebuah senyum tulus darinya, ia memajukan satu langkah lebih dekat dengan Sungmin, tangannya tergerak untuk menarik tengkuk Sungmin, memejamkan matanya sembari mendekati wajah Sungmin

Chu..

Kyuhyun mencium bibir Sungmin lembut, Sungmin tersenyum simpul, ia-pun ikut memejamkan matanya menikmati kegiatan yang ia lakukan sekarang, disaat yang sama air mata Kyuhyun menetes, namun tidak sampai membasahi bibirnya sehingga Sungmin-pun tak menyadari namja didepannya ini sedang menangis.

Seorang anak kecil menangis histeris dipelukan seorang namja paruh baya yang semakin mengeratkan pelukan padanya, anak kecil itu terus mencengkram punggung namja paruh baya itu sambil terus menangis.

"aboeji! Andweyo! hiks... hiks... Aboeji!".

"Kyuhyunnie, jaga dirimu baik-baik dan hiduplah yang baik dengan dua hyung angkatmu ara!".

"andweyo aboeji! Aboeji jangan kesana, Kyuhyun tak ingin kehilangan aboeji, mereka akan menyakiti aboeji".

"Kyuhyunnie harus hidup dengan baik ara! Dan Kyuhyunnie tenang saja, mereka tak akan menyakiti aboeji". Namja itu melepaskan pelukannya, mengecup pucuk kepala anak kecil itu sebelum meninggalkannya.

"hiks.. hiks.. Aboeji kajima! Kajima!". Kyuhyun hendak mengejar appanya, namun langkah kecilnya terhenti dengan sebuah dekapan seseorang dari belakang.

"Kyuhyunnie, jangan menangis... hyung janji akan berikan apapun pada Kyuhyunnie, Kyuhyunnie jangan menangis".

"Hae hyung! Aboeji! Aboeji! Jangan biarkan dia kesana!".

Kyuhyun terus menunjuk aboejinya yang kini melangkah mendekati seorang namja berjubah yang tergeletak diatas tanah dengan nafas terengah-engah, merubah wujudnya menjadi siluman rubah dan langsung membunuh namja bejubah itu, namun disaat yang sama aboejinya langsung mengeluarkan cahaya dan hilang begitu saja disapu angin.

"ABOEJI! hiks.. hiks...".

'aboeji... bogosipo'

?+?+?+?+?+?+?#!#!#!#!#!#!#!#!fortune!#!#!#!#!#!#!#!#!#?+?+?+?+?+?+?

Sedangkan dihutan, dua orang namja dibalik semak terus memperhatikan seekor kijang yang kini memakan buah yang jatuh, bola mata salah satu diantara mereka berubah menjadi ungu terang, sedangkan yang satunya terus memperhatikan pergerakan sang kijang.

"kau ingin menangkapnya?". Bisik pelan namja yang berkepala besar menatap namja yang baru saja berubah menjadi siluman.

"hmmm, aku jarang dapat kijang, gerakan mereka sangat cepat dan terkadang beberapa diatara mereka hampir menyamai kecepatanku, jadi agak sulit".

"oh, kau pernah dapat kijang?".

"pernah, tapi bukan kijang dewasa, aku biasanya memburu yang masih kecil, hehe...".

"eomanya tidak mengejarmu karena kau membunuh anaknya?".

"kalau ketahuan, aku tidak jadi menangkapnya".

"tapi paling tidak, kau pernah menangkap yang dewasa kan? meski hanya sekali".

"tidak".

"MBWO? Lalu bagaimana kita menangkapnya?". Yesung langsung membulatkan matanya, ia beranjak dari tempatnya berjongkok, menatap emosi pada namja manis didepannya.

Brak!

"Yak! Kau membuatnya lari!". Ryeowook-pun ikut berdiri dari tempatnya, kala menyadari teriakan Yesung membuat kijang incarannya kabur menjauhi keduanya.

"percuma saja kalau kau tak punya pengalaman menangkap kijang dewasa, kau tidak akan mendapatkannya".

"tapi apa salahnya mencoba?".

"sudahlah, kita cari yang lain saja".

"ish... menyebalkan".

Keduanya melangkah menyusuri hutan, memperhatikan sekeliling, barangkali ada seekor hewan buruan yang bisa mereka temukan, namun bahkan hingga hari beranjak sore keduanya belum mendapat apapun.

"eung... Sunggie... bagaimana kalau kita berpencar? Mungkin akan mempermudah kita nanti mencarinya".

"ide bagus".

"tapi jangan terlalu jauh, aku tak ingin kejadian terakhir kali terulang lagi".

"baiklah, aku akan cari ikan disungai, bagaimana?".

"kalau begitu, aku akan coba cari ayam hutan atau burung yang bertengger didahan".

"baiklah".

Yesung melangkahkan kakinya menuju sebuah sungai kecil dengan bebatuan besar yang berada disekitar sungai, ia mulai melinting celana dan langan bajunya agar tidak basah kena air, melangkah pelan memasuki sungai sembari menjaga keseimbangannya.

"baiklah, sepertinya tidak terlalu dalam, mungkin aku bisa, Fighting!". Gumamnya pelan sebelum memasuki air.

Sekitar 30 menitan Yesung berkubang didalam sungai, namun yang ada hanya keringat yang bercucuran di pelipisnya juga baju yang basah karena lintingannya lepas, kini ia sedang duduk diam dibawah pohon, tepatnya diatas batu sembari mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, menikmati semilir angin tenang yang mulai mengeringkan keringatnya.

"Yak! Apa yang kau lakukan?".

"aigo!".

Namja tampan itu langsung tersentak, kala gendang telinganya menanngkap sebuah teriakan yang cukup melengking didekatnya, dilihatnya seorang namja imut yang kini melemparkan tatapan membunuh kearahnya.

"kenapa justru bersantai? Kau bilang ingin cari ikan".

"tidak ada ikannya".

"begitu ya...".

"baigaimana degan ayam dan burungnya?".

Tanpa menjawab pertanyaan Yesung, Ryeowook langsug melompat disamping namja tampan itu, ikut menikmati semilir angin yang nyaman.

"eopso, tak ada ayam atau-pun burung, mereka langsung lari saat aku hendak menangkap mereka, hufft aku lelah, kau tak keberatan meminjamkan pundakmu?".

"huh? a-a... i-itu... bo-boleh saja". Yesung tergagap dengan pertanyaan Ryeowook ia hanya mengangguk kaku sebagai jawaban, wajahnya terlihat lucu dengan ekpresi gugup yang mendominasi.

Ryeowook tersenyum simpul, disandarkannya kepalanya pada pundak Yesung sembari memejamkan matanya, ia memeluk lututnya yang ia tekuk.

"kau ingin lihat bintang?". Gumaman Yesung membuat namja manis itu kembali membuka matanya, didapatinya sebuah senyum hangat yang tenang, dilemparkan kearahnya.

"bintang? Tapi ini sore hari, mana ada bintang?". Ryeowook menaikkan satu alisnya, menatap aneh kearah Yesung yang kini masih tersenyum ditempat.

"sudah kuduga kau akan bilang begitu, tapi bintangnya memang ada, bahkan lebih indah dari bintang malam hari".

"eodi?".

Yesung mengeratkan jaraknya dengan Ryeowook, ditatapnya keatas, medapati tumpukan daun hijau yang disinari mentari yang masih agak tinggi.

"disana!".

Ia menunjuk dedaunan yang paling banyak disinari matahari, dedaunan tersebut disapu angin pelan, membuat lubang lubang tak beraturan yang mejadi celah beberpa sorot cahaya matahari melewatinya, menghasilkan titik cahaya yang menghasilkan kilatan berbentuk layaknya bintang diantara dedaunan hijau.

"wahh! yeoppo! kenapa aku tak pernah menyadarinya?". Pekik Ryeowook saat melihat sinar matahari yang melewati celah daun, yang terlihat gemerlap matahari berbagai ukuran yang bertebaran disekitar rimbunnya pepohonan.

Yesung tersenyum simpul, diperhatikannya wajah Ryeowook yang masih kagum dengan apa yang ia tunjukkan, wajah manis itu terlihat menawan kala cahaya mentari itu menyinari wajahnya, ditambah senyum indah yang terlihat senang.

"cantik kan?".

"hmmm, itu sangat indah".

"sangat neyaman dan menenangkan, saat matahari... Daun... dan angin bertemu... mereka terlihat luar biasa".

"bukan main, itu indah sekali".

Chu!

Namja itu mencuri ciuman dari pipi Ryeowook, senyum Ryeowook langsung luntur menjadi sebuah raut terkejut, ia menatap Yesung tak percaya dengan satu tangannya yang memegang pipi yang baru saja dicuri.

"kau... apa yang...".

"molla, aku hanya ingin melakukannya".

"tapi kenapa?".

"kukira aku tertarik padamu".

"mbwo?! ta-tapi kita baru bertemu?".

tanpa memperdulikan kalimat Ryeowook Yesung mengalihkan perhatiannya pada pepohonan, datar tanpa ekspresi apapun.

Plak!

Dipihak lain, Ryeowook yang merasa tak terima, langsung menampar pipi Yesung pelan, wajah imutnya memasangkan seringai lucu yang terlihat menggemaskan, ia hendak melemparkan pukulannya yang kedua, namun tangan Yesung berhasil menghentikan pergerakan Ryeowook, namja tampan itu menatap manik mata Ryeowook dalam, Ryeowook sendiri hanya diam diperhatikan terus seperti itu, namun lama-kelamaan ia-pun juga terus memperhatikan manik mata Yesung, hingga terjadilah saling melempar tatapan tenang satu sama lain.

"kau pernah menyukai seseorang sebelumnya?".

"huh?".

Lamunan Ryeowook pecah, kala Yesung melemparkan kalimatnya pelan, namun cukup mengejutkan karena sendari tadi mereka diam.

"be-belum, belum pernah".

"kalau begitu aku orang pertama yang kau sukai?".

"mb-mbwo?".

Chu...

Yesung mengecup bibir Ryeowook pelan dan tenang, mengunci bibir soft milik sang siluman, genggamannya pada tangan namja manis itu-pun mulai lepas, bergerak menuju punggung Ryeowook untuk menarik namja imut itu lebih dekat dengannya, merasa nyaman dengan perlakuan Yesung, Ryeowook menikmati kecupan itu, hanya menempel dengan lembut tanpa penolakan atau gerakan perlawanan.

Namun tak selang lama Yesung melepaskan kecupannya pada Ryeowook, Ryeowook hanya diam ditempatnya, antara terkejut, malu dan emosi, entahlah dia berada diatara tiga hal itu, jika ia ingin marah, apa yang salah? Jika ia malu, ia akan terlihat bodoh, jika terkejut, itu sudah lewat beberapa waktu yang lalu.

"mianheyo...".

"eung...".

"kau mungkin akan membunuhku, tapi entahlah, aku melakukannya diluar kesadaranku, kau bisa mencincangku dirumah nanti".

"tak perlu, toh kau sudah melakukannya, percuma saja, kalau aku membunuhmu sekalipun kau tetap mencuri ciuman pertamaku".

"tapi tetap saja, aku yakin kau tak menginginkannya, setidaknya aku ingin minta maaf".

"tapi sungguh, itu bukan masalah sam sekali, a-aku tak keberatan".

"mbwo? Tidak keberatan? Kau yakin? Biasanya orang akan marah ketika ciumannya dicuri begitu saja, terkecuali mereka saling menyayangi satu sama lain, maka bukan masalah".

"ja-jadi kau menyayangiku?".

"eung... bagaimana ya? itu mungkin saja terjadi, dan aku harap kau juga begitu".

"tapi... itu mustahil, kau pasti ngelantur karena keleleahan setelah mencari ikan, karena tidak dapat apapun pikiranmu jadi buyar".

"aishhh, kau ini bodoh ya? tak bisa bedakan oang frustasi dan jujur".

"yak! Kau kira kau siapa bisa mengatai aku bodoh seenaknya?".

"aku? Aku hanya seorang manusia kau tau, seorang manusia yang terjebak didunia aneh yang tak bisa kuketahui namanya".

"dunia aneh? Maksudmu tempat tinggalku ini?".

"bukan rumahmu, tapi diduniamu, Hatimu Kim Ryeowook".

"jangan menggodaku!".

"aniyo! Aku tak pernah menggodamu".

?+?+?+?+?+?+?#!#!#!#!#!#!#!#!fortune!#!#!#!#!#!#!#!#!#?+?+?+?+?+?+?

Sedangkan ditempat lain, tanpa diketahui Kyumin dan Yewook, ditengah-tengah kesenangan keduanya, seseorang sedang terkulai lemas tak berdaya, keringat dingin bercucuran dari pelipisnya, ia menggigit bibir bawahnya menahan sakit yang luar biasa, tubuhnya bergetar hebat dan tidak ada satu-pun orang yang mengetahuinya.

?+?+?+?+?+?+?#!#!#!#!#!#!#!#!fortune!#!#!#!#!#!#!#!#!#?+?+?+?+?+?+?

Malam menjelang, Donghae ditemani Kyumin berjaga dikamar sang fishy, Donghae masih setia melilitkan ekornya yang terus bercahaya pada perut Eunhyuk, namun Eunhyuk sendiri tak kunjung sadar sendari tadi, sedangkan Kyumin berusaha mengajak Donghae untuk bicara hal-hal kecil yang setidaknya membuat namja manis itu tak bosan.

"hyung, eoma Kim dan appa Kim akan pulang hari ini, aku akan kesana nanti malam, kau disini dengan Wookie hyung, tidak masalah-kan?".

"hmmm, tak apa, eung... Minnie, kau temani bocah itu ne?".

"ne".

Ceklek!.

Semua beralih kepintu yang terbuka, menunjukkan dua orang namja dengan baju yang berantakan, muka lusuh yang terlihat sangat lelah, sedangkan tiga orang didalam kamar hanya melongo mendapati pasangan yang paling sering bertengkar setelah Kyumin itu.

"biar kutebak, kalian tidak dapat apapun hari ini?".

"Kyuhyun sudah menjawabnya, jadi kukira aku tak perlu menjawab". Ryeowook menghela nafasnya berat, diambilnya segelas air diatas meja dan meneguknya pelan.

"kalau kau tidak dapat apapun, berarti kita semua tidak akan makan malam". Sungmin yang berada disamping Kyuhyun ikut bicara, bibirnya mengerucut kecewa namun lebih terlihat lucu.

"bukan kita semua Sungminnie, mungkin aku dan adik-adikku iya, tapi kalian masih bisa makan buah kalau kalian mau".

"tidak hyung, setidaknya kau harus makan, aku takut jika akan terjadi sesuatu yang buruk padamu, sejak tadi kau terus disini mengobati Eunhyuk".

"tapi ini sudah malam Kyu".

"aku yang cari nanti, hyung jangan memikirkanku, pikirkan dirimu sendiri".

"aku akan ikut!".

Suara Sungmin berhasil menghentikan pedebatan antara saeng dan hyung itu, dengan pelan-pelan ia menurunkan kelinci yang ia pangku kelantai, melangkah kesamping Kyuhyun dengan menunjukkan senyum kelincinya yang manis.

"ta-tapi...".

"sudahlah hyung gwencana, kajja!".

"baiklah". Dan diwaktu bersamaan Kyuhyun menarik lengan Sungmin ntuk meninggalkan kamar yang berukuran sedang itu.

"Kyu!".

"umur Kyuhyun sudah hampi 550 tahun hyung, jangan khawatirkan dia". Ryeowook langsung menahan tubuh Donghae yang hendak berlari mengejar Kyuhyun, diturunkannya hyungnya itu pelan-pelan kekasur, takut jika nanti lilitan ekor hyungnya lepas, karena jika dipaksa untuk dilepas nanti justru akan membuat Donghae terluka, ekornya hanya bisa lepas kala Eunhyuk sudah sadar, ekornya sudah menyatu dengan tubuh Eunhyuk.

"Mbwo?! 550 tahun? kalian tua sekali".

"YAK!". Dengan serentak 2 orang naja manis itu langsung menyemprotkan (?) cacian mereka pada seorang namja tampan yang kini tercengang dengan ekspresinya yang datar.

"waeyo? aku hanya mengatakan apa adanya".

"dengar ya, umur kami masih terbilang remaja tau, seekor rubah baru bisa disebut dewasa kala umurya sudah mencapai 1500 tahun, umur kami bahkan belum mancapai 1000 tahun, seenaknya saja kau bilang tua, aku bingung, kau dilahirkan dimana sih? bicara tanpa memikirkan dampaknya".

"siapa peduli?".

"Yak kau!-".

"umur kalian masing-masing berapa?".

"aku 700 tahun, Ryeonggie 600 tahun dan Kyuhyun, kau sudah mengetahuinya".

"wow! Daebak! Kami tidak bisa mencapai umur sebanyak itu, paling tua 100 tahun, dan hanya bisa makan bubur, kalian sudah berumur ratusan tahun tapi masih bisa makan daging dan juga berburu".

"itu wajar kan, kalian manusia dan kami...". Donghae menggantungkan kalimatnya, dipeluknya dua lengannya menyilang, seperti menahan dinginnya malamnamun ia lebih terlihat terkejut dibanding kedinginan".

"waeyo hyung? Kau tidak melanjutkan kalimatmu?".

"di-dia... bangun".

Disaaat itu pula ia beralih pada Eunhyuk, namja tampan itu masih diam ditempat, namun tak selang lama, tangannya pelan-pelan bergerak diikuti kelopak matanya yang terbuka, dan saat itu juga lilitan ekor Donghae langsung lepas dari perut Eunhyuk, diwaktu yang sama ia berubah menjadi wujud manusianya, namun segera ia menjauhkan diri dari 3 orang itu dengan berlari kearah pintu.

"Hyuk... gwencana?".

Tanpa memperdulikan sikap aneh Donghae, pasangan itu beralih pada Eunhyuk yang kini sepertinya sudah sadar, didapatinya namja bergusi pink itu mengangguk pelan diiringi senyuman sebai jawaban, keduanya menatap kearah luka Eunhyuk dibagian perutnya berangsur menghilang, bahkan hampir terlihat tak berbekas apapun.

"kau membuatku khawatir tau, kukira perkataan peramal itu benar terjadi padamu".

"peramal? nugu?". Ryeowook menatap Yesung penuh pertanyaan, terlihat seperti emosi dan marah, namun sepertinya ia menahan hal itu.

"orang ppertama yang kami temui ketika sampai disini, namanya kalau tidak salam Park... Jung Soo".

Ryeowook beralih keDonghae yang tersungkur dilantai dkat pintu, sedang mengatur nafasnya yang sepertinya tak beraturan lalu kearah Eunhyuk yang kini mulai bisa duduk, dan kembali pada Yesung, raautnya terkejut bukan main, diwajah manisnya terlihat amarah yang ditahan, namun amarah itu sepertinya akan keluar beberapa waktu lagi.

"apa yang dia katakan?! Jawab!".

"ke-kenapa kau jadi seperti itu?".

"jawab saja apa susahnya?".

"di-dia mengatakan kalau aku bisa melindungi seseorang, Sungmin bisa merubah sikap seseorang dan Eunhyuk... oh Hyuk, siapa yang kau temui malam itu?".

"malam?".

"hmm, malam bulan purnama biru, diarah jam enam ada 14 bintang yang berjajar tak beraturan, jika ia menemui orang itu maka dia akan...".

"aku akan mati".

JDER!

"kenapa kalian baru mengatakannya? Kalian tau kalau kalian tidak bisa bercanda dengan ramalan itu".

"waeyo?".

"mereka dari keluarga Park, mereka punya kelebihan bisa melihat masa depan, siapa yang kau temui pada malam itu? Ppali katakan!". Ryeowook terus memaksa Eunhyuk, sembari sesekali beralih pada Donghae, sepertinya namja imut itu sudah diuluar kendali terhadap emosinya.

Eunhyuk tidak menjawab, ia terus meperhatikan Donghae yang masih mengatur nafasnya, Donghae yang mengerti maksud dari tatapan Eunhyuk membulatkan matanya, kepalanya terus menggeleng tak mempercayai dengan apa yang baru saja ia ketahui.

"andwe! Andweyo! Jebal Andweyo!". Tubuhnya langsung bergetar, tangannya mencengkram kuat kepalanya, menahan sesuatu yang memaksanya untuk mengingat hal yang sepertinya tak ingin ia ingat.

"Donghae hyung!". Ryeowook langsung merengkuh tubuh Donghae, berusaha menangkan sang hyung, namun percuma, tubuh namja manis itu terus bergetar.

Seorang namja manis tengah merengkuh seseorang dengan darah yang berlumuran disekitar tubuhnya, namja manis itu terus menangis disana, ditemani dua saengnya yang kini hanya diam terpaku disampingnya.

"spencer, ireona! Jebal... hiks.. hiks... ireona!".

"hyung...".

"pabo! Pabo! Pabo Spencer jaegomal Paboya! Jebal...hiks.. hiks.. ireona!".

Sepotong kenangan itu terus menghantui Donghae, ia terus mencengkram rambutnya, bahkan ada beberapa rambutnya yang tercabut dari tempatnya karena Donghae yang menariknya paksa.

"Hyung! Kau hanya menyakiti dirimu sendiri, tenanglah!".

"semua akan baik-baik saja, kita akan cari cara untuk menjaga Eunhyuk, tak akan terjadi sesuatu padanya, ne?".

"Wookie... a-aku... a-aku takut".

"ada apa? apa masalahnya besar?".

Donghae mendongakkan kepalanya, mendapati seorang namja berambut coklat yang kini mulai mendekatinya.

"berhenti disana!".

"huh?".

"jangan bergerak dan jauhi aku".

"itu hanya sebuah ramalan bodoh yang tak memiliki arti apapun, aku bahkan tidak memperdulikannya, kenapa harus kau takutkan hingga seperti ini?".

"andai kau tau, apa yang kau sebut bodoh dan tak memiliki arti apapun itu hampir merenggut nyawamu, tak sadarkah kau? Kalau kau tau aku-lah yang membuatmu mati, harusnya kau menjauhi sejak pertama kau bertemu denganku!".

"menjauhimu? Apa menurutmu itu mudah? Aku tidak pernah memperdulikan hal itu".

"waeyo?".

Eunhyuk terdiam sejenak, diperhatikannya mata jernih yang menyipan begitu banyak kenangan kini terlihat sangat takut"aku tak bisa melawan keinginanku untuk mengetahui kebenarannya".

"kebenaran apa yang ingin kau ketahui? kebenaran itu hanya membuatmu harus pergi meninggalkan orang lain selamanya".

"apa salah jika aku ingin mengetahui dirimu? Aku tak bisa menahan diriku agar aku hanya diam ditempat sembari terus menjauhimu, aku ingin setidaknya membuat ramalan itu tak pernah terjadi dengan berusaha untuk dekat denganmu".

"apa kau bisa melawan keinginan takdir? Kau tau kalau kau hanya manusia dan hanya bisa menjalani keinginan takdir itu, kau tak harus melawan kata hatimu untuk melakukannya, kau hanya harus menghindarinya, hindari aku!".

"apa aku harus terus menghindarinya? Pada akhirnya aku harus melakukan kata hatiku sekeras apapun aku mencoba melawan ataupun menjauhinya".

"kenapa kau ingin melakukannya untukku? Kenapa kau lebih mementingkan aku dibanding sebuah ramalan kematian yang tepat didepan matamu? Kenapa kau harus mengorbankan dirimu sendiri hanya untuk menyelamatkanku? apa kau bisa menjawabnya?".

"i-itu...".

"tolong men- Argh...".

"Donghae!". Eunhyuk membulatkan matanya, kala Donghae yang memotong kalimatnya, diikuti dirinya yang sepertinya sedang menahan sakit luar biasa disekujur tubuhnya.

"menjauhlah dariku, kumohon... aku hanya ingin menjagamu, jadi tolong... mengertilah...".

"ta-tapi Donghae aku...".

Donghae melepaskan pelukan Ryeowook, namja manis itu berdiri dari tempatnya dan langsung berlari keluar kamar, Eunhyuk hendak mengejar, jikalau bukan karena tangan Ryeowook yang menahan lengannya.

"ada yang ingin kukatakan padamu...".

"mbwoya?".

?+?+?+?+?+?+?#!#!#!#!#!#!#!#!fortune!#!#!#!#!#!#!#!#!#?+?+?+?+?+?+?

Sungmin terus menggerutu didalam perjalanannya, terus diperhatikannya Kyuhyun yang kini dalam keadaan berantakan dan masih dalam tubuh silumannya, satu tangannya membawa seekor kijang berukuran sedang yang berlumuran darah, hingga mengotori baju Kyuhyun dan juga lengannya, membuat namja tampan itu lebih terlihat mengerikan dibanding keren. (?)

"setidaknya ubah wujudmu menjadi manusia".

"tidak mau, aku ingin berubah ketika aku nanti sudah sampai dirumah, jadi sekalian membersihkan badanku".

"kau terlihat sangat menakutkan kau tau? Aku bahkan tak bisa bayangkan kalau aku menyukaimu".

"jadi kau menyesal?".

"untuk sekarang, iya".

"dasar plin-plan!"

Keduanya terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah mereka, Kyuhyun sempat menghentikan langkahnya, namun segera ia percepat hingga kini mereka sampai didepan pintu rumah, ia terlihat ragu untuk membuka pintu, baru saja ia ingin memutak knop pintu seorang namja manis yang gemetar langsung mendahului gerakan Kyuhyun.

"Donghae hyung!".

"tinggalkan aku!".

"argh!".

Donghae berlari melewati Kyuhyun, tapi dalam gerakan cepat Kyuhyun meraih lengan Donghae, kalau diingat Kyuhyun belum merubah wujudnya menjadi manusia, sehingga kukunya yang masih dalam keadaan panjang dan meruncing langsung merobek kulit Donghae, menunjukkan ceceran darah berwarna merah gelap yang kental keluar dari kulit mulus itu.

"hyu-hyung, mianheyo".

"lupakan saja, tinggalkan aku sendiri".

Tanpa memperdulikan luka ditangannya Donghae terus berlalu dari Sungmin dan Kyuhyun, Kyuhyun yang sadar telah melukai sang hyung berubah menjadi wujud manusianya, terus memoerhatikan darah yang menetes disetiap ujung jari sang hyung.

"Minnnie, kau beri tahu yang lain aku akan mengejar Donghae hyung, perasaanku tidak enak tentangnya". Ucapnya kala sudah tak melihat sosok sang hyung dikegelapan malam.

"cepatlah kembali".

"ne".

?+?+?+?+?+?+?#!#!#!#!#!#!#!#!fortune!#!#!#!#!#!#!#!#!#?+?+?+?+?+?+?

Didalamsebuah rumah sederhana, dipinggir tebing yang cukup curam, seorang namja berparas malaikat yang berada dibalkon rumah terus menghadap kelangit, sorot matanya tak henti-henti memperhatikan setiap detail langit malam yang dihiasi bulan sabit dengan bintang yang bertebaran cukup banyak.

"ada apa yeobo?". Suara berat yang berasal dari dalam rumah, berhasil membuyarkan lauman namja cantik itu, ditatapnya sang suami yang kini melangkah mendekatinya.

"perasaanku tidak enak terhadap tiga anak itu".

"tapi bukankah, jika akan terjadi sesuatu yang buruk terhadap mereka kau akan langsung mengetahuinya? salah satu diantara mereka adalah keponakanmu Teuk-ah".

"entahlah, ini berjalan begitu lamban, aku bahkan sudah berusaha untuk mengetahuinya, tapi aku tak mendapat apapun, rasanya... ada seseorang yang menahanku untuk mengetahui kebenarannya".

"berusahalah, pasti ada seseorang yang punya rencana pada 3 anak itu setelah mengetahui ada manusia dikediaman mereka, aku takut jika nanti...".

"ini berhubungan dengan Donghae dan...".

Leeteuk kembali memperhatikan langit melam, ia menyipitkan matanya kala ia sedikit kesulitan memerhatikan bulan sabit dan beberapa taburan bintang lainnya, tertutupi awan hitam yang agak samar, dalam waktu singkat awan samar tersebut langsung menebal, menutupi seluruh bagian langit.

"Donghae! Kyuhyun!".

Brukk!.

"yeobo!".

Leeteuk beralih pada sang suami yang tiba-tiba tak sadarkan diri dilantai, didapatinya seekor kelinci yang duduk manis disamping sang suami, ia menyembunyikan satu tangannya dibalik punggunya dan berjalan pelan menuju sang suami tanpa melepaskan perhatiannya pada kelinci putih itu.

"expulsofroztero".

Tanpa diduga sebelumnya, Leeteuk langsung melemparkan sebuah cahaya kuning dari tangannya yang ia sembunyikan pada kelinci itu, dalam waktu singkat kelinci itu langsung terpental dan menghantam dinding, beberapa saat kemudian, kelinci itu dikelilingi cahaya hijau, cahaya tersebut semakin membesar dan semakin melepaskan diri dari tubuh sang kelinci, tak selang lama kelinci itu langsung mati dan cahaya itu-pun semakin berwarna gelap membentuk sebuah jubah hitam, hingga sepenuhnya menunjukkan seorang namja cantik yang kini menyeringai pada Leeteuk.

"siapa kau?!".

"aku? Aku orang yang menyerang salah satu putra angkatmu beberapa waktu lalu?".

"kau wizard yang melewati perbatasan itu?".

"wizard? Itu agak terdengar aneh untuk menyebutku, tapi aku terima panggilanmu itu".

"apa maumu? Kenapa kau menyerang kami? Kami bahkan tak menganggu kalian".

"aku harus menjalankan tugas dari tuan Choi, aku tak bisa menolak kemauan kekasihku bukan?".

"tugas? Apa yang kau rencanakan pada kami? Apa yang sudah kau lakukan pada suamiku?".

"aku hanya membuatnya tidur bebeapa jam, toh! bukan dia tujuanku kemari".

"mbwo?".

"yang kuincar adalah... seorang pewaris terakhir klan keluarga Park, satu-satunya Klan yang memiliki kemampuan melihat masa depan...".

"apa tujuanmu denganku?".

"kau mungkin akan mengetahui rencanaku, jadi aku harus menyingkirkanmu dulu".

"m-mbwo? apa mak-".

"conotrolezminezo!".

Sring!

Bruk!

Namja cantik itu, menarik jubah biru Leeteuk kasar, Leeteuk tak dapat berbuat apapun, tubuhnya terasa lemah bahkan hanya untuk bergerak, ia hanya pasrah ketika namja cantik berjubah hitam itu membawanya entah kemana, namun perasaannya mengatakan akan terjadi hal buruk sebentar lagi.

"tugas berikutnya... klan keluarga Cho...". Gumam namja cantik itu hilang begitu saja diterpa angin.

TBC...

Okeh, gimana fanficnya? Masih kurang memuaskan? mianyo hehe...

Hoho.. dan akhirnya ketemu file Hyo yang nyimpen tentang penyihir, dan Hyo salah masukin nama difanfic, Jaegomal mianheyo readers, Hyo sempet bingung nanti jadinya gimana, soalnya Hyo salah masukin nama, tapi yah... berubung otaknya udah mentok, jadi gini deh, jaegomal mianheyo, kalo fanficnya diawal agak berantakan, Hyo berusaha benerin nama penyihirnya doank kok, tapi ceritanya kemungkinan masih nyambung -_- (semoga ajah), dan lagi Dichap 3 ini alurnya terlalu cepat ya? Hyo lagi proses beberapa bagian yang menurut Hyo agak susah dichap depan, jadi Hyo percepat beberapa bagian disini, yah... mungkin agak susah nyambung, sekali lagi mianheyo...

Satu lagi, mungkin dichap 3 ini lebih sering typo, Hyo ga sempet ngecek keseluruhan, jadi sekali lagi mianheyo...

Aishhh, reviewnya chap 2 kurang memuaskan... Buat para reader, dimohon buat tinggalkan jejak setelah membaca ne!.

Bonus!

ini dia...

Semua saran, kritik, pertanyaan +permintaan dichap ini dan chap depan, Hyo bakal proses pelan-pelan supaya semua bisa masuk dan nyambung difanfic, serta tidak keluar alur, jadi jangan ragu ne!.

Bonus lagi: Kemaren dichap 2 yang minta Kyumin couple duluan, Hyo udah berusaha dan jadinya begini, semoga sama seperti permintaan readers, kalo belum memuaskan Hyo minta maap karena Hyo juga masih amatir dan bahasanya-pun masih agak kaku.

Jaegomal mianheyo!

Gumawosoimnida...