Naruto (ナルト) disclaimer Masashi Kishimoto
Sword Art Online (ソードアート・オンライン) disclaimer Kawahara Reki
RE:Life-in Underworld
Summary: Sebagai permintaan maaf Kaguya setelah membuat kekacauan di kehidupan Naruto sebelumnya, Kaguya melakukan Kinjutsu kepada Naruto agar hidup kembali dikehidupan selanjutnya, akan tetapi walau dia mendapatkan kehidupan baru, peperangan tetap ada di kehidupannya kini, bagaimana kisah Naruto di Dunia barunya kali ini.
Chara: Naruto Uzumaki, Kirigaya Kazuto, Eugeo, Alice Schuberg dan Canaria Schuberg (OC)
Rated : M
Genre : Adventure, Fantasy, Romance.
Warning : Ooc, Semi canon, tidak suka tidak usah dibaca
Maaf kalau ada kesamaan cerita dengan ficlainyaatau kesalahan penulisan karena fic ini karena setiap manusia tak lepas dari kesalahan.
RnR please .. hehehehehe
Arc 01 : Beginning
Chapter 03 : Naruto Sayonara!
Hari Ketiga, Bulan Ke 7, Tahun 372, Kalender Dunia Manusia.
Pegunungan Utara, Kerajaaan Norlangarth Utara
Hutan lebat yang terbentang di kedua sisi tiba-tiba menghilang, di depan mata adalah tebing curam abu-abu yang tidak rata terbentang ke atas. disisi atas, dapat melihat secara samar-samar langit biru yang melintasi barisan pegunungan berwarna putih murni itu dari kejauhan, tebing batu ini tanpa keraguan adalah, Puncak Barisan Pegunungan Utara.
"Inikah Pengunungan Utara?" gumam Naruto tidak percaya
"Kita telah sampai...? Ini, Puncak Barisan Pegunungan...Bukan? Bukankah ini sedikit terlalu cepat...?" gumam Kirito
Kirito, yang kelihatannya tidak mempercayainya, mengatakan itu dengan suara samar-samar. Canaria juga merasa tidak percaya kalau Pergi ke Pegunungan Utara bisa secepat ini, dirinya hanya diam sambil menatap intens dihadapanya, dan Itu juga sama seperti Alice, yang berbisik dengan mata birunya yang terbuka lebar.
Yah dihadapan mereka kini ada sebuah Pegunungan Utara yang konon tertutupi salju abadi meski Dunia manusia mengalami musim panas sekalipun. sebuah keagungan alam yang diciptakan oleh Dewi Stacia sebagai pintu perbatasan Dunia manusia dengan Dark Territory (Tanah Kegelapan).
Dan kini kelima bocah berumur 12 tahun tersebut sudah berada disana.
"Secepat inikah kita berpergian ke pegunungan Utara" gumam Alice
Seperti yang dia katakan. Itu sangat mungkin anak-anak dari desa—atau bahan orang dewasa telah melewati perbatasan itu tanpa menyadarinya. Memikirkan tentang itu, sekitar tiga puluh menit berjalan dari kolam kembar, ada suatu tempat yang sedikit ke atas dan ke bawah, apakah tempat itu adalah Perbatasan Utara?
Sementara Eugeo masih melihat keadaan sekitar dengan keraguan, bisikan Canaria dengan nada serius yang tidak biasanya mencapai telinganya.
"Jika ini adalah Puncak Perbatasan Pegunungan...Lalu di sisi lain adalah Tanah Kegelapan, bukan? Jika memang begitu...Kita hanya berjalan selama empat jam, jumlah waktu yang sama yang bahkan tidak akan membuat kita ke Zakkaria. Rulid...Memang berada di perbatasan dunia..." gumam Canaria
Eugeo berdiri dengan kebingungan menanggapi bisikan Canaria barusan, Kita tinggal di desa untuk waktu yang lama tapi kita tidak mengetahui dimana lokasi desanya di dunia ini? Tidak—mungkinkah bahkan orang dewasa tidak mengetahui bahwa Puncak Barisan Pegunungan itu sedekat ini? Selama tiga ratus tahun dalam sejarah, seseorang yang melewati hutan lebat yang terbentang dari bagian utara desa, selain dari Bercouli, adalah kita...? Bagaimanapun juga...Ini sangat aneh. Eugeo berpikir seperti itu. Tapi, dia tidak tahu kenapa itu aneh.
Setiap hari, di waktu yang sama, semua orang dewasa memakan sarapan mereka, pergi bekerja di lahan atau peternakan, menempa atau memintal di tempat kerja mereka seperti hari sebelumnya. Apa yang Alice katakan sebelumnya, bahwa empat jam tidak cukup untuk mencapai Zakkaria, tentu saja, mereka semua tidak pernah pergi ke Zakkaria sebelumnya, Aku dengar dari orang-orang dewasa bahwa itu membutuhkan waktu dua hari berjalan melewati jalan utama selatan untuk mencapai kota itu. Tetapi, berapa banyak orang dewasa yang pergi ke Zakkaria dan kembali...?
Memikirkan dengan cepat dari pertanyaan membingungkan yang muncul di pikiran Eugeo, segera tersapu oleh suara Alice.
"—Bagaimanapun juga, tidak ada yang dapat kita lakukan selain masuk ke dalam setelah kita datang hingga sejauh ini. Tapi sebelum itu, mari kita kita makan siang terlebih dahulu." Seru Alice
Dengan mengatakan itu, dia menarik keranjang rotan dari tangan Naruto, lalu merendahkan pinggangnya di semak pendek dimana itu berganti menjadi bebatuan.
"Ini yang aku tunggu, perutku sudah merasa lapar sedari tadi." Dengan suara bersemangat dari Naruto
"Begitu juga denganku" ujar Kirito
Sementara itu Eugeo juga duduk di atas rumput. Aroma harum dari pai menghilangkan sisa dari keraguannya, semua yang dapat dia ingat adalah perutnya mulai mengeluh karena rasa lapar.
Alice dan Canaria menghentikan tangan yang terulur dari Naruto dan Kirito dengan memukulnya sementara sambil memeriksa life dari masing-masing makanan. Setelah mereka berdua selesai memeriksa semua makanan yang masih memiliki banyak waktu yang tersisa, Alice langsung mengeluarkan pai isi kacang dan ikan, sedangkan Canaria juga menyusun pai isi apel dan walnut, dan buah persik kering ditempat selayaknya. Sebagai tambahan, Canaria juga menuang air Siral yang tersimpan di kantung air ke gelas kayu, ini juga sudah diperiksa untuk tidak segera menghilang.
Saat mereka berdua memperbolehkan ketiga bocah laki-laki tersebut untuk makan siang, Naruto yang sudah cukup kesal hingga tidak mengatakan apapun saat dia mulai memakan pai kacangnya, sementara Kirito juga langsung mengambil pai ikannya untuknya dan dia lalu bicara dengan suara yang tidak jelas saat menguyah makanan.
"Gua itu...Jika kita menemukan banyak es, maka kita tidak perlu terburu-buru untuk memakan makan siang besok." Ujar Kirito
"yah dengan begitu kita bisa makan siang dengan santai" ujar Eugeo
Menelan makanannya, Naruto berbalik untuk menghadapnya dan menjawab.
"Tapi memikirkan tentang itu, bahkan jika kita berhasil menemukan esnya, bagaimana kita dapat mempertahankan Lifenya dengan suatu cara sejak awal? Jika semuanya meleleh sebelum waktu makan siang besok maka tidak ada gunanya kita melakukan ini, bukan?" tanya Naruto kepada mereka semua
"Mu..." gumam Mereka semua akan tetapi berbeda dengan Kirito yang malah membuat gestur seakan-akan 'Aku tidak memikirkan tentang itu,' bahu Kirito menurun, lalu Alice berkata dengan nada yang tidak peduli.
"Jika kita membawanya dengan cepat dan menyimpannya di gudang rumahku, untuk beberapa malam sama sekali tidak masalah." ujar Alice
"Yah aku setuju dengan Nee-chan, mungkin itu cukup beberapa malam jika kita menyimpanya disana" ucap Canaria
"Yah memang begitu, seharusnya Kalian bertiga, sedari awal telah memikirkan bagaimana caranya. Masa hanya kami berdua saja yang memikirkan hal tersebut. " Ujar Alice
Saat mereka bertiga menyadari pemikiran mereka tidak berguna sama sekali, Eugeo, Naruto dan Kirito mencoba untuk menyembunyikan rasa malu mereka dengan memenuhi mulut mereka dengan makanan. Bahkan meskipun mereka masih memiliki banyak waktu, si Kembar indentik masih makan dengan kecepatan biasanya seperti sebelumnya sebelum meminum air Siral.
Setelah selesai, Canaria kemudian melipat dan menaruh kain putih dengan rapi lalu memasukkannya ke dalam keranjang rotan, setelah semua beres kini giliran Alice untuk mencuci gelas-gelas2 yang kotor tersebut, dia pun langsung saja berdiri. Kemudian dia berjalan menuju sungai terdekat dengan tiga gelas di tangannya, dan mencucinya dengan cepat di sungai.
"Uhyaa."
Dia mengeluarkan suara aneh saat masih menyelesaikan pekerjaannya, dan ketika dia kembali, Alice merentangkan tangannya, yang telah dikeringkan dengan menggunakan celemek, pada Eugeo.
"Air di sungai itu sangat dingin! Itu seperti air sumur saat di tengah musim dingin." Ucap Alice
Apa yang Eugeo lihat adalah telapak tangan kecil yang berubah menjadi kemerahan. Tanpa dia sadari, dia mengulurkan tangannya dan menggenggam itu pada tangan Alice, tentu saja untuk saling berganti rasa hangat dari tangannya dengan rasadingin di tangannya.
"Tunggu...Hentikan itu." Cicit Alice
Pipi kecilnya sekarang berubah menjadi warna yang sama dengan tangannya, dan Alice menarik kembali tangannya. Pada saat itu, Eugeo menyadari dia telah melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh dirinya yang biasanya, dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ah...Tidak, itu.." ucap Eugeo dengan gagap.
"Tidak.. apa hanya saja.." cicit Alice
"Baiklah, bukannya kita seharusnya berangkat sekarang, tuan dan nyonya sekalian yang terhormat ?" Intrupsi Naruto sembari tersenyum kearah mereka berdua layaknya seorang pengawal pangeran dan putri Kerajaan.
Sedangkan Kirito dan Canaria sendiri hanya terkikik halus mendengar godaan dari Naruto kepada Eugeo dan Alice barusan.
'Apa kau berencana untuk membantuku keluar dari situasi ini Naruto?' Eugeo tersenyum sementara mengatakan itu dan perlahan menendang kaki Naruto, dan setelah perbuatan kasarnya, dia mengangkat kantung air menuju bahunya, dan berjalan ke dalam gua tanpa melihat ke belakang.
Itu sangat sulit dipercaya bahwa sumber dari Sungai Ruhr, sungai jernih yang diikuti oleh mereka berlima sampai sekarang, akan menjadi sekecil ini. Dengan diameter sekitar satu setengah mel, sungai kecil ini mengalir keluar dari gua yang terbuka di tebing yang tinggi, dan di sisi kirinya, ada batu yang berukuran sama menonjol keluar, dia melangkah pada itu dan berjalan ke dalam gua.
Eugeo berpikir, Bercouli telah melangkah pada batu ini tiga ratus tahun lalu, saat dia mencoba yang dia bisa untuk masuk ke bagian dalam gua. Tiba-tiba, suhu dari sekelilingnya menjadi turun, dia menggosokkan kedua tangannya yang tidak tertutupi bagian lengan baju pendeknya.
Dia berjalan maju sebanyak sepuluh langkah sambil memastikan dua langkah dari belakang mengikutinya. Pada titik itu, Eugeo menyaadari dia telah melakukan kesalahan besar, dia menurunkan bahunya dan berbalik ke belakang.
"Oh tidak...Aku tidak membawa lampu. Kirito, Naruto, apa kalian membawa lampu?" tanya Eugeo
Bahkan meskipun dia hanya sekitar lima mel dari jalan masuk gua, suasananya sudah cukup gelap hingga dia tidak dapat mampu membedakan eskpresi dari mereka berempat. Kegelapan yang tebal di dalam gua itu, itu sangat normal untuk mempercayai harapan pada partnernya untuk menangani hal yang dia sendiri telah lupakan,
Tapi jawabannya adalah "Bagaimana mungkin aku dapat menyadari sesuatu yang kau tidak sadari juga?" dan "begitu juga dengan aku" ucap Kirito dan Naruto dengan nada yang penuh dengan kepercayaan diri yang aneh.
"S...Sungguh, kalian bertiga..." ucap Alice dengan nada geram, sementara Canaria sendiri hanya tersenyum kecil melihat tingkah ketiga bocah laki-laki yang begitu konyol itu.
Sementara Eugeo memikirkan berapa banyak dia suara yang hebat hari ini, dia melihat ke arah rambut pirang yang samar-samar berkilauan. Alice sejenak melihat ke sampingnya beberapa kali sebelum memasukkan tangannya pada saku celemek mereka dan mengeluarkan sesuatu yang tipis dan panjang. Itu adalah 2 pucuk rumput yang dia ambil ketika mereka memulai petualangan mereka.
Dia pun lalu memberikan 1 pucuk itu pada Canaria, setelah itu masing-masing dari mereka berdua menggenggam rumput di tangan kanannya, dengan tangan kirinya yang menahan ujungnya, mereka berdua menutup matanya. Mulut kecil mereka berdua ikut bergerak, upacara yang aneh dalam Pengucapan Suci yang Naruto tidak tahu yang mulai terdengar di udara.
Akhirnya masing-masing dari tangan kiri mereka berdua dengan cepat memotong simbol rumit, cahaya lemah yang pucat mulai bersinar dari ujung rumput yang mengembang lingkaran. Cahaya itukemudian meningkatkan sinarnya dalam waktu singkat, dan menjauhkan kegelapan dari gua dalam jarak yang cukup jauh.
"Ooo."
"Wow..."
" Sugooii"
Kirito, Naruto dan Eugeo tanpa sadar mengeluarkan suara kekaguman pada saat yang bersamaan.
Bahkan meskipun mereka telah mengetahui Alice dan Canaria telah mempelajari sacred art, mereka bertiga hampir tidak pernah memiliki kesempatan untuk dapat melihatnya sendiri.
Berdasarkan ajaran Sister Azariya, semua upacara dimana semua kekuatannya berasal dari dewi kehidupan Stacia, dewi matahari Solus atau dewi bumi Terraria— —kecuali darkness art yang digunakan oleh pelayan dewa kegelapan Vector— semuanya ada untuk menjaga aturan dan keseimbangan dunia, jadi itu semua tidak boleh digunakan secara sembarangan.
Sacred art yang digunakan Sister dan muridnya hanya ketika tanaman obat di desa tidak mampu untuk menyembuhkan penyakit atau luka. Karena Eugeo memahami tentang ini, dia berbalik pada Alice, yang memegang sepucuk rumput yang bersinar dengan warna aneh, dan tanpa sadar bertanya.
"Ah, Alice, Canaria...Mengunakan art seperti itu, apakah tidak apa-apa? Bukankah kalian berdua akan dihukum karena ini...?" tanya Eugeo
"Tenang saja, yang kita berdua lakukan ini adalah Sacred art biasa kok, jadi tidak masalah" ucap Canaria
"Hmph, lagipula jika sebanyak ini akan membuat kami berdua dihukum, tentu kami berdua pasti sudah tersambar petir sebanyak sepuluh kali." Ucap Alice
"..."
Setelah mengatakan itu, Alice memberikan rumput yang bersinar itu kepada Eugeo dengan senyuman. Dia mengambilnya memikirkanya sebelum bergumam 'Hiee', dan menyadarinya. Dan begitu juga dengan Canaria memberikan rumput yang bersinar itu pada Naruto.
"Kami berdua! yang berada didepan!?" Pekik Eugeo
"Tentu saja, atau kalian mau membiarkan dua orang gadis lemah berjalan di depan?" ucap Alice
"Eh tapi.. kan.." ucap Eugeo
"Sudahlah tenang saja, ada aku disampingmu Eugeo" ujar Naruto sambil menenangkan Eugeo.
Naruto dan Eugeo ada di depan, Alice dan Canaria berada ditengah sedangkan Kirito berjaga di belakang.
"Jangan menghabiskan waktu lagi, ayo cepatlah dan segera pergi." Ucap Alice
"Y-Ya."
Seolah-olah dia didorong oleh semangat, Eugeo mengangkat obor kecil itu dan berjalan dengan ketakutan menuju ke dalam gua.
Susunan batu yang berliku ini kelihatannya terus terbentang dengan terus menerus.
Dindingnya memperlihatkan cahaya biru keabu-abuan seolah-olah itu terlihat basah. terkadang, dia khawatir dengan gerakan gemerisik yang kecil di bagian gelap dimana cahaya tidak mencapainya.
Tetapi, tidak peduli bagaimana Naruto memfokuskan pandangannya, dia tidak dapat menemukan sesuatu yang menyerupai es sama sekali. Meskipun terkadang ada sesuatu yang berwarna abu-abu yang terlihat seperti es yang tergantung di langit-langit, dia segera tahu bahwa itu batu hanya dengan memandangnya saja. Setelah berjalan selama beberapa menit, Eugeo dan Naruto memanggil Kirito yang ada di belakangnya,
"Hei...Sudah pasti, kau mengatakan bahwa seharusnya ada es segera saat kita memasuki gua, bukan?" ucap Eugeo
"Aku mengatakan? Sesuatu seperti itu." Ujar Kirito
"Yah, tadi kau bilang seperti itu bukan" ucap Naruto
"Tapi memangnya aku mengatakan hal itu?" ujar Kirito
"bukannya Kau mengatakannya tadi!" tegas Eugeo
Saat Eugeo mendekati Kirito yang mengalihkan pandangannya dengan ketidaktahuan yang dibuatnya, Alice menggunakan tangan kanannya untuk menghentikan Eugeo dan dengan cepat berbisik.
"Hei, bawalah cahayanya sedikit lebih dekat." Seru Alice
"...?"
Eugeo membawa sepucuk rumput tadi mendekati wajah Alice. Dia membulatkan bibirnya sebelum menghembuskan nafas dalam pada cahaya.
"Ah..." gumam Alice
"Lihat, kau melihatnya bukan? Nafas kita menjadi berwarna putih, seperti saat musim dingin." Ujar Eugeo
"Wow, benar. Dan aku baru memikirkan mengenai bahwa itu telah menjadi dingin untuk waktu yang sekarang..."
Menghiraukan keluhan Kirito, Eugeo dan Naruto mengangguk bersamaan diikuti dengan Alice serta Canaria.
"Bahkan meskipun di luar musim panas, di dalam gua ini musim dingin. Sudah pasti ada es disini." Ucap Canaria
"Yeah, mari kita cari lebih jauh lagi." Ucap Naruto
Naruto pun membalikkan badanya diikuti dengan Eugeo disampingnya, Naruto sendiri memiliki perasaan bahwa gua ini menjadi lebih lebar sedikit demi sedikit saat mereka menuju lebih dalam, dia kembali dengan cara berjalan hati-hatinya sebelum berjalan maju.
Apa yang mereka dengar, selain dari suara dari sepatu kulit mereka yang bersentuhan dengan batu, hanyalah suara dari aliran air tanah. Bahkan meskipun mereka telah mendekati sumbernya, aliran air itu sama sekali tidak melemah.
"...Jika kita memiliki perahu, maka untuk pulang kembali akan lebih mudah." Untuk Kirito yang dengan santai mengatakannya dari belakang,
Eugeo memarahinya dengan "Jangan bicara terlalu keras." Saat mereka telah memasuki gua lebih dalam daripada yang mereka telah rencanakan, tentu saja, apa yang terpikir di pikirannya adalah
"—Hei, jika naga putih itu benar-benar keluar, apa yang harus kita lakukan?" gumam Alice
Alice membisikkan itu seolah-olah dia dapat membaca pikiran Eugeo.
"Tentu saja... apa lagi yang dilakukan, selain dari la..."
Jawaban dari pertanyaan bisikan tadi langsung dipotong oleh suara nekat dari
Kirito.
"Itu t-tidak-apa-apa. Naga putih itu mengejar Bercouli karena dia mencuri pedang harta karun miliknya, bukan? Itu sudah pasti tidak akan menghiraukan kita untuk mengambil es.—Hmm, tapi jika mungkin aku ingin mengambil sisik darinya bagaimanapun juga..." ujar Kirito
"Oi, apa yang kau pikirkan, Kirito?"
"Kau benar juga Kirito, jika kita dapat kembali dengan bukti bahwa kita telah melihat naga yang asli, Anak penjaga desa itu bersama teman-temannya akan mati karena perasaan iri terhadap kita." Ujar Naruto malah menyetujui ide gila Kirito.
"Jangan bercanda! Aku akan memberitahu kalian berdua sekarang, jika kalian berdua dikejar oleh naga itu, kita hanya akan meninggalkan kalian berdua dan lari dari tempat ini." Pekik Eugeo
"maaf Eugeo-kun, suaramu terlalu keras, aku khawatir kalau es tajam di atas tepat diatas kita akan jatuh akibat keributan ini." Tegur Canaria
"Itu karena Kirito dan Naruto mengatakan sesuatu yang aneh harus kau menegur mereka juga, Cana..."
Tiba-tiba kakinya membuat suara yang aneh, dan Eugeo berhenti bicara. Parin, itu adalah suara dari sesuatu yang pecah di bawah kakinya. Dia membuat cahaya yang ada di tangan kanannya mendekati kaki kanannya dengan cepat sebelum tanpa sadar membiarkan suaranya keluar.
"Ah, lihat ini." Seru Eugeo
Mendengar seruan Eugeo, semuanya pun membungkuk untuk melihatnya, Eugeo lalu menggerakkan kakinya dari tempat itu. Air yang terkumpul di batu berubah menjadi es tipis yang menyelimuti permukaan halus batu abu-abu tersebut. Dia mengulurkan jarinya untuk mengambil bagian lembaran tipis yang transparan itu.
Setelah menaruh itu di telapak tangannya untuk beberapa detik, benda itu meleleh menjadi tetesan air, mereka bertiga saling memandang satu sama lain dan tanpa sadar memperlihatkan senyuman.
"Ini es, tidak ada keraguan tentang itu. Pasti ada lebih banyak lagi di dalam sana." Ujar Eugeo
Eugeo mengatakan itu sementara menyinari sekelilingnya, sebagian besar cahaya biru yang terpantul sesuatu yang menyerupai air yang membeku. Dan itu tenggelam pada kegelapan yang pekat dari dalam gua, jauh di dalam...
"Ah...Bagaimanapun juga, ada banyak cahaya di sana."
Sama seperti yang Alice bilang, Eugeo menggerakkan tangan kanannya, dari titik cahaya yang tak terhitung jumlahnya, dia dapat melihatnya berkelap-kelip dan bersinar dengan lemah. Saat dia benar-benar melupakan tentang naga putih, dia berlari menuju arah itu.
Berdasarkan waktu yang mereka tempuh, kelihatannya mereka telah berjalan sekitar ratusan mel dalamnya. Tiba-tiba, dinding di bagian kiri dan kanan berakhir. Pada saat yang sama, pemandangan menakjubkan yang mendebarkan terlihat dihadapan mata mereka.
Luas. Itu sangat sulit untuk mempercayai bahwa mereka ada di gua bawah tanah, karena ruangan terbuka yang sangat luas. Luasnya sudah pasti beberapa kali lebih luas dari pusat desa yang ada di depan gereja.
Dinding melengkung, yang hampir mengelilingi seluruh keadaan sekeliling, tidak lagi terlihat seperti dinding abu-abu basah yang mereka sampai sekarang, tapi tertutup oleh lapisan biru terang, tebal, yang transparan. Lalu, setelah melihat pada permukaan lantai, akhirnya mereka semua memahami, serta mengerti, kalau tempat ini adalah sumber dari sungai Ruhr., itu adalah kolam raksasa—tidak, danau akan jauh lebih cocok.
Tetapi, permukaan airnya tidak bergerak sedikitpun. Itu membeku dengan kuat untuk semuanya, dari tepi hingga bagian tengah. Diantara jejak kabut putih di yang berada di sekitar danau, sesuatu yang berbentuk pilar aneh menonjol keluar, tingginya dengan mudah melebihi tinggi dari ketiga anakanak itu Itu memiliki bentuk pilar segi enam yang tajam dengan ujungnya sangat runcing. Itu seperti biji kristal yang pernah ditunjukkan kakek Garitta kepada Eugeo dan Kirito.
sebelumnya. Tapi, benda itu jauh lebih besar, dan jauh lebih indah. Tak terhitung pilar biru transparan yang tebal itu menyerap cahaya suci dari sepucuk rumput yang dipegang Eugeo dan Naruto, sebelum melepaskannya ke enam arah, yang juga memantul lebih jauh, menyinari seluruh ruangan luas itu. Jumlah dari pilar tersebut bertambah banyak saat itu mendekati bagian tengah, dan sepenuhnya menjadi menghalangi bagian paling tengah danau.
Itu es. Dinding sekelilingnya, danau yang ada dibawah kaki mereka, pilar aneh berbentuk segi enam, semuanya terbuat dari es. Dinding biru itu yang terbentang vertical, dan menutupi jauh di ketinggian, seperti kubah gereja.
Mereka berlima melupakan hawa dingin yang menusuk kulit, berdiri disana untuk beberapa menit sementara menghembuskan nafas putih. Tidak lama kemudian, Alice samar-samar berbicara dengan suara bergetar.
"...Dengan es sebanyak ini, kita dapat mendinginkan seluruh makanan di desa." Ujar Alice
" bahkan…. kita bisa menggunakannya es sebanyak sampai musim dingin tiba" ujar Canaria
"Atau lebih tepatnya, ini bahkan dapat mengubah desa menjadi di pertengahan musim dingin untuk beberapa waktu. Ujar Kirito
" —Baiklah, dari pada semakin penasaran, lebih baik mari kita periksa di dalam." Ujar Naruto
Segera setelah Naruto berbicara, Kirito dan Naruto kemudian berjalan beberapa langkah sebelum menaruh kakinya di danau es. Mereka berdua perlahan menaruh beban tubuh mereka diatas Danau beku itu, dan pada akhirnya mereka berdua melangkah pada itu dengan kedua kakinya, dan tidak ada satupun suara es tebal yang retak.
Mereka berdua selalu seperti ini. Bahkan meskipun Eugeo memiliki tugas untuk menahan perbuatan kenekatan kedua partnernya, tapi saat ini perasaan keingintahuannya jauh lebih unggul mengalahkan rasa cemasnya.
' jika memang benar-benar ada naga putih di dalam, Aku betul-betul ingin melihatnya tidak peduli apapun yang terjadi.' Pikir Eugeo
Memegang sacred light lebih tinggi, Eugeo serta Alice dan Canaria mengejar Naruto dan Kirito yang sudah berada didepan. Dengan hati-hati menghindari membuat suara keras langkah kaki, mereka bergerak dari bayangan satu es besar menuju es lainnya dengan bagian tengah danau itu sebagai tujuan mereka.
—Ini benar-benar hebat, jika kita melihat naga asli, untuk kali ini cerita tentang kita
akan terus diceritakan selama beberapa ratus tahun lagi, bukan? Dan jika, hanya jika, kita dapat melakukan apa yang yang tidak dapat dilakukan Bercouli...Dengan membawa pulang apapun dari harta karun yang tertimbun milik naga tersebut dengan kita, akankah kepala desa mempertimbangkan Sacred Task kita...?
"Mugu."
Di saat Eugeo memperluas mimpi di siang hari sementara masih berjalan, hidungnya menabrak bagian belakang kepala Naruto, yang tiba-tiba berhenti, dengan wajah merengut. Disaat bersamaan Kirito juga berhenti dan memandang apa yang Naruto lihat
"Oi Naruto, jangan tiba-tiba berhenti seperti itu." Tegur Eugeo
Tetapi, Tidak ada jawaban dari partnernya. Sebagai gantinya, rintihan pelan keluar.
"….Apa itu…." Gumam Naruto
"Eh….?" Gumam Eugeo
"Apa sebenarnya itu!" ujar Kirito
Eugeo memiringkan kepalanya di saat yang sama saat si Kembar identik tersebut berada di sampingnya, dan melihat ke depan dari samping Naruto dan Kirito.
"Sebenarnya apa yang kalian bertiga bica..." tegur Alice tetapi
Alice, yang melihat hal yang sama seperti ketiga sahabat laki-lakinya tersebut tidak dapat menyelesaikan kata-katanya. Itu adalah gunungan dari tulang belulang. Itu semua adalah tulang belulang yang terbuat dari es biru. Itu bersinar dengan kuat seolah-olah mereka adalah patung kristal. Setiap masing-masing darinya berukuran besar, berbagai bentuk tulang belulang saling bertumpuk satu sama lain, membuat sebuah gunungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tinggi ketiga anak-anak itu.
Di atasnya, sebuah bongkahan besar yang memberitahu mereka siapa pemilik makam ini. Sebuah tengkorak, mereka semua pun dapat mengerti hal itu hanya dengan menatapnya saja. Lubang matanya yang kosong, lubang hidung yang panjang, tanduk-tanduk yang menonjol keluar dari punggungnya, tak terhitung sejumlah taring seperti pedang berbaris di tulang rahang yang tergantung.
"Tulang belulang….Naga putih?"
Canaria berbisik dengan suara rendah.
"Apakah itu sudah mati….?" Tanya Eugeo
"Ah….Tapi, kematiannya bukan karena alasan alami." Gumam Naruto
"Kau benar, ini sangat mencurigakan" ujar Kirito
Rupanya jawabannya datang dari Naruto dan Kirito yang telah mendapatkan ketenangannya kembali, Eugeo sangat jarang melihat wajah Kirito seperti ini, begitu juga dengan Naruto, saat ini wajah Naruto, dia seperti mengalami emosi yang cukup sulit disiratkan.
Kemudian Naruto sendiri berjalan beberapa langkah, dari tempat di dekat kakinya, dia mengambil cakar besar yang kelihatannya berasal dari kaki depan naga itu.
"Lihat….Ada banyak luka disini, ujungnya juga hampir terpotong dengan rapi." Ujar Naruto
"Disini juga, ada beberapa bekas sayatan dibagian moncongnya" ujar Kirito yang juga memeriksa bagian kepala Naga itu.
"Naga itu bertarung melawan sesuatu….? Tapi, makhluk hidup yang dapat membunuh naga…." Gumam Alice
Pertanyaan yang sama dengan Alice melayang di pikiran Eugeo. Berbicara tentang «Naga Putih Utara», mahluk itu adalah salah satu yang hidup di berbagai tempat di Puncak Barisan Pegunungan, yang membatasi seluruh dunia, melindungi Dunia Manusia dari kekuatan kegelapan, penjaga terkuat dunia. Makhluk hidup seperti apa yang dapat membunuh sesuatu seperti ini...?
"Bertarung dengan hewan atau naga lain seharusnya tidak akan memberikan luka seperti ini."
Kirito berkata sementara menekan ibu jarinya pada moncong naga tadi.
"Hn, kau benar Kirito, ini seperti sayatan benda tajam" ujar Naruto
"Eh….? Kalau begitu, apa…." Tanya Canaria
"Ini adalah luka tebasan pedang. Apa yang membunuh naga ini adalah— manusia." Ujar Naruto
"T-Tapi….sebenarnya, bahkan Bercouli, pahlawan yang memenangkan turnamen di pusat bahkan tidak dapat melakukannya dan melarikan diri. Ini menggelikan, bahkan swordsman dari seluruh tempat…" jelas Eugeo
Berbicara sampai titik itu, Alice kelihatannya menyadari sesuatu dan tenggelam dalam keheningan. Beberapa saat dalam keheningan telah terjadi di danau es yang sekarang telah berubah menjadi sebuah makam besar.
Beberapa detik kemudian, bisikan yang dipenuhi dengan ketakutan mengalir dari mulut kecilnya.
"….Integrity Knight….? Integrity Knight dari Gereja Axiom membunuh naga putih….?" Gumam Alice terbata-bata.
Integrity Knight, penjelmaan hukum dan peraturan mutlak, dan juga simbol pelayan dari dewi, membunuh naga putih, yang juga penjaga Dunia Manusia. Jenis cerita seperti ini, yang umur sebelas tahun telah dijalani Eugeo, tidak pernah memikirkannya, jadi dia tidak berpikir bahwa dia dapat menerimanya dengan mudah.
Setelah menderita karena pertanyaan yang dia tidak mampu telan atau memikirkannya untuk sesaat, dia menggerakkan tatapannya ke samping, meminta jawaban dari kedua partnernya.
"….Aku tidak mengerti." Gumam Kirito
Tetapi, jawaban Kirito juga dipenuhi oleh kebingungan yang besar.
"Mungkin…..Mungkin juga Tanah Kegelapan juga memiliki seorang knight yang sangat kuat, dan knight itulah yang membunuh naga putih ini…Tapi jika itu memang benar, maka itu sangat aneh karena sampai sekarang bahkan tidak pernah satu kali pun pasukan kegelapan melewati Puncak Barisan Pegunugan. —setidaknya, ini bukanlah perbuatan oleh pencuri bagaimanapun juga…"
Setelah dia selesai berbicara, Kirito melangkah menuju sisa-sisa naga itu dan perlahan meletakkan kembali cakar tadi pada gunungan tulang belulang. Kemudian, dia menarik sesuatu yang panjang dari dasar gunungan tulang belulang itu.
"Uo….Ini benar-benar sangat berat…." Keluh Kirito
Dia memperlihatnya pada semuanya setelah dia terhuyung-huyung saat dia itu sekitar satu mel. Itu adalah pedang panjang, dengan gagang perak dan sarung pedang yang tebuat dari kulit putih. Penahannya dihiasi oleh pahatan mawar biru yang indah, dengan sekali pandangan saja, mereka mengerti bahwa nilainya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan semua pedang di desa.
"Ah…ini, mungkin…" gumam Alice
Alice berkata saat dia melihatnya, Kirito mengangguk pada perkataannya.
"Yeah. «Blue Rose Sword» yang Bercouli hendak curi dari pangkuan naga putih yang tertidur. Aku ingin tahu kenapa orang yang membunuh naga itu tidak mengambilnya…"
"Jadi ini pedang legendaris yang kalian berdua ceritakan kemarin" gumam Naruto sambil melihat pedang yang coba Kirito bawa
"yah aku yakin, tidak salah lagi, memang pedang ini adalah Blue Rose Sword" ujar Kirito
Dia menunduk sementara berbicara, dan mengangkat gagang pedang itu dari tanah dengan kedua tangannya, tetapi, bahkan dengan seluruh kekuatannya, dia hanya mampu mengangkatnya ke atas beberapa cens saja dari lantai.
"….Terlalu berat." Keluh Kirito
Kirito melepaskan tangannya saat berteriak, pedang panjang itu terjatuh ke lantai es sekali lagi dengan suara berat. Sebuah retakan kecil dapat terlihat di atas es tebal, pedang itu kelihatannya memiliki berat yang tidak dapat dibayangkan meskipun dengan penampilan tipisnya.
"….Apa yang akan kita lakukan dengan pedang ini?" tanya Kirito pada semuanya
"….Hmm, bagaimana kalau kita membawanya ke Desa, dan menunjukanya pada teman-teman kita, bahwa kita sudah mendapatkan pedang legendaris ini, aku yakin mereka semua pasti iri." usul Naruto
"Tidak bisa, tidak bisa, bahkan dengan kita bertiga mengangkatnya secara bersamaan, itu tidak mungkin membawanya kembali ke desa. Bahkan meskipun kita terbiasa menangani kapak penebang pohon setiap hari….Selain itu, kelihatannya masih ada banyak harta karun di bawah tulang belulang itu bagaimanapun juga…" ujar Eugeo
"….apapun itu, mungkin sebaiknya kita semua jangan berpikir tentang mengambil apapun dari tempat ini…." Ujar Canaria
"Benar yang dikatakan Cana-chan, Apalagi ini merupakan salah satu pedang Legenda, kita tidak bisa mengambilnya dengan sembarangan, karena akan banyak masalah muncul ketika kita membawa barang yang bukan berasal dari tempatnya.." ujar Alice
Mereka bertiga pun mengangguk atas teguran yang diberikan Alice dan Canaria.
Bahkan meskipun mengambil piala kecil kembali dan membanggakan diri pada anak-anak lain dengan mengatakan bahwa mereka telah mengambilnya tanpa membangunkan naga itu maka itu akan menjadi sebuah cerita petualangan yang hebat, tindakan mengambil harta karun dari tempat ini sudah jelas akan dianggap sebagai pencurian makam. Meskipun peraturan Taboo Index tentang «Mencuri» terhadap manusia tidak berlaku pada situasi ini, itu bukan berarti mereka dapat melakukan apapun yang mereka inginkan selama itu tidak dilarang.
"Mari mengikuti rencana kita, hanya mengambil es. Kalau hanya es saja, bahkan kalau naga itu masih hidup, naga itu akan memaafkan kita, pasti." Ujar Eugeo
Setelah dia mengatakan itu, Eugeo berjalan mendekati bongkahan es, dan menghentakkan kaki di kristal es kecil yang menonjol dari dasar es seperti tunas yang baru tumbuh. Pakin, dengan suara yang bagus, dia mengambil bongkahan yang hancur itu itu sebelum menyerahkannya pada Alice, yang membuka tutup keranjang rotan yang kosong dan menaruh es tadi kedalamnya. Begitu juga dengan Naruto dan Kirito melakukan hal sama seperti Eugeo, dan menyerahkan es tersebut pada Canaria dan Alice.
Mereka berlima berkosentrasi kerja untuk menaruh pecahan es ke dalam keranjang rotan tanpa berbicara untuk beberapa saat. Ketika dasar dari es tadi sudah habis, mereka bergerak menuju kolom es berikutnya dan mengulangi perbuatan mereka. Hanya dalam beberapa menit, keranjang rotan besar telah penuh dengan kristal es yang terlihat seperti permata biru transparan.
"Yo...sho-tto."
Canaria mengerahkan kekuatannya untuk mengangkat keranjang rotan sementara melihat kumpulan cahaya di antara tangannya.
"…..Indahnya. Entah mengapa, itu terasa sangat sia-sia untuk membawa ini pulang dan membiarkan itu semua mencair." Ujar Canaria
"Bukannya kita membawa pulang ini untuk memperpanjang Life kotak makan siang kita Cana-chan?"
Naruto mengatakan sesuatu yang merupakan fakta sementara mengerutkan dahinya, Canaria tiba-tiba menyerahkan keranjang itu pada anak laki-laki berambut pirang jabrik itu.
"Eh? Aku harus membawa keranjang di perjalanan pulang juga?" keluh Naruto
"Bukannya sudah jelas Naruto-kun ? Lagipula ini terlalu berat untukku, Lihat Kirito-kun bahkan membawa keranjang rotan dari Nee-chan" ujar Canaria sambil melirik Kirito sedang membawa keranjang rotan dari Alice.
Mencoba untuk melerai dari pertengkaran mereka, Eugeo dengan cepat mengatakan.
"Aku akan membantu kalian berdua, kita bisa bergantian membawanya?" tanya Eugeo
"Baiklah aku mengerti.." ujar Naruto
"—Baiklah, jika kita tidak segera kembali sekarang, kita tidak akan sampai di desa sebelum malam hari. Bukankah kita sudah berada di dalam gua ini selama satu jam?" ujar Eugeo
"Ah…karena aku tidak dapat melihat Solus, aku tidak tahu waktu sekarang. Apa ada suatu sacred art yang bisa menunjukkan waktu sekarang?" tanya Kirito
"Tidak ada!"
Alice dengan cepat memalingkan wajahnya, sebuah jalan keluar kecil dapat terlihat dari salah satu sisi danau es yang luas ini.
Kemudian, melihat sekitar, di sisi yang berlawanan ada jalan keluar lainnya. Alice dan Canaria pun bersamaan mengikuti jalan itu.
Kemudian, Alice menurunkan bahunya sebelum berbicara.
"—Semuanya, sebenarnya mana yang kita lalui saat datang barusan?" tanya Alice
Eugeo, Naruto dan Kirito dengan segera menunjuk ke arah yang mereka yakin sebagai jalan keluarnya. Tentu saja, mereka menunjuk jalan keluar yang berbeda. Seharusnya ada jejak kaki—sayangnya, tidak ada satupun jejak kaki pada permukaan es yang halus itu, sisi dimana air dari danau ini mengalir pasti jalan keluarnya—sayangnya, itu mengalir dari kedua sisi, arah dimana tengkorak itu melihat adalah jalan keluarnya—sayangnya, itu tidak melihat ke arah manapun setelah semua pilihan tadi telah berakhir sia-sia, akhirnya Alice mulai menjelaskan sesuatu yang kelihatannya menjadi petunjuk.
"Ingat, bukankah tadi ada genangan air membeku yang diijak Eugeo dan pecah? " ujar Alice
"hmm kalau begitu, mungkin Jika kita berjalan mendekati jalan keluar dan melihatnya, maka itu adalah jalan keluar yang benar." gumam Canaria
Aku mengerti, seperti yang mereka berdua katakan. Seolah-olah menyembunyikan perasaan malu karena dia sendiri tidak dapat memikirkan hal itu, Eugeo terbatuk, sebelum mengangguk.
"Baiklah, sudah diputuskan, mari kita mengecek sisi yang terdekat." Ujar Eugeo
"Aku berpikir jalan itu yang benar bagaimanapun juga..." gumam Naruto
Sementara Naruto menggerutu dengan enggan, Eugeo menggunakan tangan kirinya untuk mendorong punggungnya sementara memegang rumput di tangan kanannya dengan tinggi, dan melangkah menuju saluran air di depannya. Ketika kolom es yang memantulkan cahaya tadi telah menghilang dari sekeliling mereka, apa yang awalnya sacred light yang dapat diandalkan sekarang terasa tidak dapat diandalkan. Ketiganya mempercepat langkah kaki mereka.
"….Hmm, kita tidak tahu jalan pulang, hampir sama seperti Berin bersaudara dalam dongeng. Itu akan sangat bagus jika kita menebarkan kacang di perjalanan kota, karena tidak ada burung yang memakannya bagaimanapun juga." Gumam Kirito
Perkataan aneh dari Kirito entah bagaimana terasa dipenuhi dengan kepura-puraan, Jadi partnernya yang santai seperti dia bisa merasa gelisah juga, huh? Eugeo sebaliknya menjadi sedikit tertawa.
"Apa yang kau katakan? Kita tidak memiliki kacang sejak awal. Kalau kau mau memanfaatkan apa yang telah kau pelajari, bagaimana kalau kau meletakkan bajumu di setiap percabangan jalan yang kita lalui tadi?" ujar Eugeo
"Kau benar Eugeo, tapi sebelum itu aku malah bertaruh kalau Kirito bakal terkena flu musim dingin terlebih dahulu kerena melepas bajunya ditengah gua dingin seperti ini" ujar Naruto sedikit tertawa
"Kalian berdua, mana mungkin aku melakukan hal konyol itu!." pekik Kirito
Saat Kirito berbicara dengan nada tinggi, Alice menepuk punggungnya.
"Berhenti berbicara yang tidak berguna dan dan lihat tanah itu dengan hati-hati. Jika kita melewatkannya, ini akan menjadi masalah….atau bahkan…." Tegur Alice
Saat Alice memotong perkataan Kirito, dia mengerutkan dahinya sebelum melanjutkan berbicara.
"Hei, kita sudah berjalan cukup lama sampai sekarang tapi masih belum melihat genangan es yang pecah tadi…. Jadi, itu sebenarnya berada di jalan lainnya?" ujar Alice
"Tidak, mari pergi sedikit lebih jauh… Ah, dengar." Seru Kirito
Saat Kirito tiba-tiba meletakkan jarinya ke mulutnya, Alice malah berhenti berbicra. Kemudian Mereka semua mendengar dengan teliti. Memang benar, ada suara lain yang tercampur dengan suara dari aliran air tanah.
Itu terdengar seperti siulan sedih dengan nada yang naik dan turun.
"Ah...itu seperti suara angin." Ujar Canaria
Canaria bergumam. Memang benar, mereka semua juga menyadari bahwa suara ini mirip dengan suara puncak pohon yang dimainkan oleh angin.
"Jalan keluarnya sudah dekat! Itu sangat bagus kita mengambil jalan ini, ayo cepat!" seru Kirito
Saat dia memanggil mereka semua dengan perasaan lega, dia mulai berlari untuk melanjutkan perjalanannya.
"Hei, kau akan terpeleset jika kau lari di tempat seperti ini." Tegur Alice
Tapi bahkan meskipun dia berkata mengatakan itu, Alice juga mempercepat langkah kakinya. Mengikuti mereka dari belakang adalah Naruto, yang membuat ekspresi keraguan.
"Tapi...Apakah angin musim panas terdengar seperti ini? Entah kenapa….itu terdengar seperti suara angin dingin di musim dingin..." ujar Naruto
"Angin lembah yang kuat berhembus seperti itu. Bagaimanapun juga, mari segera keluar dari tempat ini." Ujar Eugeo
Cahaya di tangan kanan Eugeo terayun dengan keras saat dia mendekat menuju jalan keluar gua, Hatinya telah dipenuhi dengan perasaan yang menginginkan untuk cepat pulang menuju desa, ke rumahnya. dia yakin keluarganya akan terkejut saat dirinya memperlihatkan pada mereka pecahan es yang dia dapatkan dari si Kembar Identik tersebut.
Tapi, es ini akan dengan cepat mencair. Mungkin itu akan lebih baik jika dia mengambil satu koin perak dari tempat itu... ...Saat dia memikirkan hal itu, dia melihat sebuah cahaya kecil dari kegelapan yang ada di depan.
"Jalan keluar!" seru Eugeo
Dia yang berteriak dengan wajah tersenyum, kemudian mengerutkan dahinya. Cahaya itu berubah menjadi merah yang samar-samar. Mereka memasuki ke dalam gua sekitar waktu makan siang, itu kelihatannya waktu yang mereka habiskan di dalam sekitar satu jam atau lebih, itu kelihatannya mereka berada di dalam gua bawah tanah lebih lama daripada yang mereka sadari. Jika Solus mulai terbenam di barat, dan mereka tidak segera pulang, mereka tidak akan sampai ke desa pada saat waktu makan malam.
Eugeo mempercepat langkah kakinya. Suara angin keras yang menggema di dalam gua telah mempengaruhi suara sungai.
"Hei, Eugeo, berhenti sebentar! Ini aneh, ini baru dua jam telah berlalu tapi..."
Alice yang berlari di belakangnya menaikkan volume suaranya karena kegelisahan. Tetapi Eugeo tidak berhenti. Dia sudah merasa cukup dengan petualangan ini. Sekarang ini, dirinya ingin segera pulang ke rumah bahkan meskipun beberapa saat lebih cepat—
Berbelok ke kanan, berbelok ke kiri, dan berbelok ke kanan lagi, akhirnya cahaya itu benar-benar menyebar di seluruh pandangnya. Jalan keluar itu hanya tinggal beberapa mel di depan. Dia menyipitkan matanya yang sudah terbiasa dengan kegelapan sementara perlahan mengurangi kecepatan larinya, sebelum benar-benar berhenti.
Gua ini berakhir tepat di situ.
Tetapi, di depan mata Eugeo bukanlah dunia yang dia ketahui. Seluruh langitnya berwarna merah tua. Tapi itu bukanlah warna dari matahari yang tenggelam. Pertama dari semuanya, Solus tidak dapat terlihat di bagian manapun dari langitnya. Seperti jus dari dari anggur gunung yang menggantung yang terlalu matang—atau darah domba yang merembes keluar, hanya kepudaran, dari warna
merah tua pucat yang tersebar di sepanjang pandangannya. Tanahnya berwarna hitam. Di sisi lain terdapat barisan pegunungan curam aneh yang memiliki titik di depan pegunungan berbatu yang memiliki bentuk aneh, permukaan air yang dapat terlihat dari sini dan dari sana telah dikotori dengan warna hitam dengan sesuatu yang mengingatkan pada abu. Kulit yang membengkok dari pohon mati berwarna putih seperti tulang yang dipoles.
Angin, yang bertiup kencang seolah-olah ingin dapat merobek apapun menjadi bagian kecil, menggetarkan ujung pohon mati itu, menyebabkan suara menjerit yang keras. Ini adalah tanpa keraguan, adalah suara angin yang mereka dengar dari dalam gua.
Tempat seperti ini, sebuah dunia yang diabaikan oleh dewi, bukanlah Dunia Manusia yang Eugeo tinggali. Lalu—apa yang mereka sedang lihat, pemandangan ini adalah—
"Tempat apa ini..!" ucap Naruto terbata-bata yang sudah berada dibelakang Eugeo.
"Dark...Territory..." gumam Kirito
Suara serak Kirito dengan segera terbawa oleh suara angin. Tempat dimana kekuasaan Gereja Axiom tidak dapat mencapainya, tanah dimana suku mosnter yang melayani dibawah Dewa Kegelapan, Vector, dunia yang mereka pikir hanya ada di dalam dongeng yang dikisahkan oleh para tetua desa, hanya tinggal beberapa langkah ke depan.
Saat dia memikirkan hal itu, bagian tengah dari kepala Eugeo menjadi dingin membeku, dia tidak dapat melakukan apapun selain tetap berdiri. Seolah-olah mengetahui informasi itu untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sejumlah besar dari itu itu terbang terlintas masuk ke dalam bagian pikiran yang belum pernah dia gunakan sebelumnya, dia bahkan tidak mampu untuk mengendalikan pikirannya sendiri.
Di dalam kepalanya, yang dipenuhi warna putih bersih, terdapat satu kalimat yang tertulis dalam bagian awal dari Taboo Index, bersinar terang dan jelas. Bab pertama, kalimat ketiga, paragraf kesebelas yang seharusnya telah dia telah lupakan setelah berbicara dengan Alice hari sebelumnya.
『 Tidak ada seorangpun yang boleh pergi melewati Puncak Barisan Pegunungan yang membatasi batas Dunia Manusia』 .
"Tidak... jangan pergi lebih jauh lagi..." seru Eugeo
Eugeo dengan berani menggerakkan mulutnya yang kaku dan memaksa kata-kata itu keluar. Dia membentangkan tangannya seolah-olah mencegah Kirito, Naruto, Alice dan Canaria, yang ada dibelakangnya, agar tidak terjatuh. Saat itulah. Suara hantaman logam keras bergema dari atas, membuat tubuh Eugeo bergetar karena keterkejutan. Dia melihat ke atas pada langit merah dengan refleks.
Di dalam latar yang berwarna merah darah, dia dapat melihat sesuatu yang berwarna putih terjalin dengan sesuatu yang berwarna hitam.
Saat mereka terbang pada ketinggian yang menakutkan, mereka terlihat seperti cahaya yang kecil. Itu kelihatannya ukuran mereka yang sebenarnya jauh melebihi manusia. Di saat kedua tubuh yang terbang itu saling bertukar tempat, mereka
berpisah sebelum mendekat satu sama lain lagi, pada saat mereka tergabung, suara logam yang berhantaman bergema beberapa saat kemudian.
"Ksatria naga..."
Kirito yang melihat ke atas langit di samping Eugeo dan Naruto, berbisik dengan suara serak. Seperti yang dikatakan partnernya, keduanya yang bertarung satu sama lain memiliki leher dan ekor panjang, mereka adalah naga terbang besar, dengan setiap dari mereka memiliki sepasang sayap berbentuk segitiga. Tubuh penunggang mereka dapat terlihat di punggungnya, yang memiliki senjata pedang dan perisai.
Seseorang yang menunggangi naga putih memiliki armor berwarna perak putih, dan penunggang naga hitam adalah knight yang memiliki armor hitam legam. Pedang
mereka berwarna seperti itu juga, sinar cahaya menyilaukan dari pedang knight putih itu tertahan oleh cahaya hitam yang keluar dari pedang knight hitam.
Sementara kedua knight tadi saling bertarung satu sama lain dengan pedang mereka, suara gemuruh dari hantaman yang bergema, saat sejumlah besar percikan api yang kecil menari di udara.
"Kirito-kun, Aku ingin tahu jika knight putih itu adalah…. Integrity Knight dari Gereja lalu yang mereka lawan itu mungkinkah?..." ujar Canaria
Kepada perkataan Canaria, Kirito perlahan mengangguk.
"Benar….Knight hitam adalah Darkness Knight dari pasukan kegelapan" ujar Kirito
"Jadi, semua Knight hitam itu adalah Darkness Kngiht dan yang mereka lawan itu adalah Intergrity Knight!" gumam Naruto dengan rasa keterkejutannya.
"Yah begitulah" ujar Kirito.
Mereka semua terus melihat pertarungan kedua Knight yang bermusuhan itu, bahkan mereka semua sedikit terperangah melihat aksi dilakukan Intergrity Knight yang sedang berusaha menghabisi musuhnya tersebut. akan tetapi bagi Naruto kini, dirinya sepertinya mengetahui betul kalau pertarungan kedua Knight itu berjalan imbang, karena dia sendiri juga sudah berpengalaman dengan namanya pertarungan, jadi dia bisa menilai hal itu.
" bahkan, aku dengan mata kepalaku sendiri, aku dapat menilainya, kalau pertarungan mereka benar-benar imbang. Apa mungkin Darkness Knight memiliki kekuatan yang sama dengan Intergrity Knight, sehingga pertarungan mereka berjalan imbang." gumam Naruto.
"Tidak mungkin..." gumam Eugeo
Eugeo menggelengkan kepalanya dengan sembarangan.
"Integrity Knight adalah yang knight terkuat di dunia. Dia tidak dapat dikalahkan oleh seorang Darkness Knight." Bantah Eugeo
"walaupun begitu, Aku ingin tahu tentang perkataaan Naruto barusan, mengenai jalan nya pertarungan ini." Ujar Kirito seakan ingin membuktikan pendapat Naruto.
"kau bisa melihatnya, tidak terlalu ada banyak perbedaan dalam sword skill mereka. Keduanya tidak mampu menembus pertahanan lawan mereka. bahkan mereka saling bertahan satu sama lainya, aku jadi yakin kalau mereka masih menahan kartu As mereka masing-masing dalam pertarungan ini" Ujar Naruto.
Dengan segera setelah Naruto mengatakan itu. Seolah-olah mendengar suaranya, knight putih menarik tali kekang naganya dan menciptakan celah yang lebar. Naga hitam itu mengepakan sayapnya dengan keras untuk memperpendek jarak.
Tetapi, sebelum jarak itu dapat berkurang, naga putih itu membalikkan kepalanya secara tajam dengan membengkokkan lehernya, bersamaan dengan tindakan yang terlihat seperti mengumpulkan kekuatan. Dengan segera setelah itu, sementara masih tetap mengayunkan lehernya, rahangnya terbuka lebar. Sebuah api tidak berwarna menyembur keluar dalam garis lurus di antara taringnya, dan membungkus tubuh knight naga hitam secara keseluruhan.
Teriakan yang mempengaruhi suara angin yang menusuk telinga Eugeo. Naga hitam memutar tubuhnya dengan kesakitan, begetar dengan hebat di tengah udara dan menurun. Tanpa melewatkan kesempatan itu, Integrity Knight mengganti pedangnya dengan busur panah besar berwarna coklat kemerahan dan menarik tali busur hingga batasnya, sebelum melepaskan anak panah panjang. Anak panah samar-samar menarik sebuah jalur api di tengah udara, tanpa meleset, itu menusuk pada dada knight hitam itu.
"Ah..."
Canaria mengeluarkan suara kecil yang terdengar seperti jeritan.
Saat kulit dari kedua sayapnya benar-benar telah terbakar, naga hitam itu kehilangan kemampuan untuk terbang dan menggeliat dengan keras di tengah udara. Knight hitam terpisah dari punggungnya, dan dengan jejak darah yang keluar, yang mulai jatuh tepat menuju jalan masuk gua dimana mereka bertiga berdiri.
Pertama, pedang hitam tadi tertusuk ke dalam tanah yang tercampur kerikil, menciptakan suara keras. Selanjutnya, di tempat yang sepuluh mels jauhnya dari mereka bertiga, knight terjatuh. Terakhir, naga hitam tadi menabrak pada pegunungan berbatu yang sangat jauh jaraknya, menggerakkan ekor panjangnya sambil berteriak kesakitan, sebelum itu berhenti bergerak sama sekali.
Di depan kelima anak kecil yang menatap tanpa mampu mengatakan apapun, knight hitam menahan rasa sakit, mencoba untuk mengangkat bagian atas tubuhnya. Di atas armor metal pelindung dada yang bersinar pudar, lubang dalam dari luka tusukan anak panah dapat terlihat. Wajah knight, yang tersembunyi di balik pelindung wajah yang tebal, memandang lurus ke arah mereka bertiga.
Tangan kanannya yang sedikit gemetaran terulur keluar seolah-olah meminta pertolongan. Tapi dengan segera setelah itu, sejumlah besar darah segar tersembur keluar dari leher armor tersebut, knight itu terjatuh ke tanah. Cairan merah tersebar luas dari tubuhnya yang tidak lagi bergerak, membasahi pada celah pada tanah kerikil hitam itu.
"Ah...Ah..."
Suara lemah keluar dari Canaria yang berada di samping kanan Naruto. Bergerak seolah-olah dia terhisap menuju kesana, dengan terhuyung-huyung dia melangkah ke depan—menuju bagian luar gua. Eugeo tidak sempat bereaksi. Tetapi, Naruto di yang berada samping kirinya membuat teriakan pelan namun tajam "Jangan!" Canaria mendengar suara itu,
tubuhnya bergetar, mencoba untuk berhenti. Tapi kakinya tersandung, tubuhnya terjatuh ke depan. Kali ini Eugeo mengulurkan tangannya bersamaan dengan Naruto secara refleks, mencoba menggenggam baju Canaria.
Tetapi, ujung jari mereka terlepas, karena tak begitu kuat menahan licinnya, akibat kedua telapak tangan mereka terbasahi oleh cucuran keringat. Ketika Naruto dan Eugeo sudah pasrah karena mereka berdua gagal menangkap Canaria disana.
Alice dan Kirito berhasil yang merespon lebih cepat dengan menangkap Canaria, mereka berdua berhasil membawa Canaria keatas, akan tetapi setelah menyelamatkan Canaria barusan, membuat Alice melupakan hal penting, bahwa kondisi tubuhnya kini sangat rawan, dan membuat posisinya jatuh akibat retakan tanah yang dirinya pijak barusan, akibatnya…
Alice terjatuh ke tanah gua dan mengeluarkan suara nafas yang pelan, diikuti dengan jejak rambut pirang panjangnya.
Dia hanya terjatuh. Bahkan jika dia mengecek «Window», Life nya hanya berkurang satu atau dua point saja. Tetapi masalahnya bukan itu. Pada saat Alice terjatuh, tangan kanannya terulur ke depan, dan melewati sekitar dua puluh cens perbatasan yang anehnya terlihat jelas diantara lantai gua yang abu-abu kebiruan dengan tanah berwarna abu di depan. Telapak tangan putih bersihnya menyentuh kerikil hitam legam Tanah Kegelapan, tanah Dark Territory.
"Alice…!" pekik Naruto, Kirito dan Eugeo.
"Nee-chan..!" pekik Canaria
Mereka berempat secara bersamaan memanggilnya, kemudian dengan cepat Kirito dan Eugeo mengulurkan kedua tangan mereka dan memegangi tubuh Alice dengan erat. Normalnya, melakukan hal seperti ini akan membuat mereka dimarahi sampai mereka menyesalinya, tapi untuk kali ini, dia hanya berdiri saja seolah-olah dalam keadaan tidak sadar, dan ditarik kembali ke dalam gua.
Alice, yang berpegangan pada tangan Eugeo dan Kirito, mendapati matanya terbuka lebar saat melihat Knight hitam yang kalah, sebelum kemudian, tatapan matanya melihat ke bawah pada tangan kanannya. Di telapak tangan halusnya masih terdapat pasir dan kerikil kecil yang menempel, setiap butiran pasir tadi berwarna hitam legam.
"...Aku…Aku, ..." Alice bergumam dengan nada yang sangat ketakutan.
Melihat reaksi saudari kembarnya itu. secara spontan Canaria malah memeluk Alice begitu erat, dia benar-benar merasa bersalah karena dirinya membuat kakak Kembarannya itu menyentuh tanah terlarang. Dia benar-benar menyesalinya. Bahkan dia menangis saat memeluk Alice.
"Hiksss.. Nee-chan, maafkan Cana., karena.. Cana Nee-chan malah.. hiksss..hikss" gumam Canaria sambil menangis tersedu.
Saat itu juga Eugeo tanpa berpikir panjang mengulurkan tangannya pada tangan kanan Alice. Dia mengelus telapak tangannya, menyingkirkan semua butiran pasir dan berkata dengan sungguh-sungguh.
"T-Tidak apa-apa, Alice. Kau tidak keluar gua. Tanganmu hanya menyentuhnya saja. Itu, sudah pasti, tidak dilarang, bukan? Benar, Kirito, Naruto ?!" ucap Eugeo
"…."
Eugeo mengangkat wajahnya dan menatap pada wajah kedua partnernya seolah-olah mengandalkannya. Tapi Kirito tidak melihat pada Eugeo maupun si kembar identik itu, wajahnya hanya menekuk kebawah saja. Seakan-akan ada perasaan menyesal juga, kalau dirinya tak sempat menyelamatkan Alice.
Kemudian Kirito sendiri melihat kearah Naruto, dia berekspresi berbeda, saat ini Naruto sendiri menekukkan lututnya, tatapannya dengan tajam mengamati keadaan sekitarnya.
"A-Ada apa, Naruto?" tanya Kirito
"...Apa kau tidak merasakannya, Kirito? Ini seperti...seseorang...sesuatu….." gumam Naruto
Dia merengut dan mulai mengamati sekitarnya sekali lagi, tetapi, di dalam gua bahkan tak ada satu ekor pun serangga, lupakan manusia. Satu-satunya yang terlihat di pandangnya adalah tempat yang berjarak sepuluh mels jauhnya, knight hitam yang mati. Sosok dari Integrity Knight yang memenangkan pertarungan telah menghilang dari langit.
"Itu hanya imajinasimu saja, dibandingkan dengan itu..." ucap Kirito
Mari kita bawa Alice ke sisi lain gua ini dengan cepat. Di saat Kirito hendak mengatakan hal tersebut, Naruto memegangi bahunya dengan kekuatan yang penuh. Sementara merengut, Kirito mengikuti arah pandangan partnernya, dengan segera setelah itu, tubuhnya menjadi sangat kaku.
Di dekat langit-langit gua, ada sesuatu yang aneh. Sebuah lingkaran ungu tua berguncang seperti permukaan air. Dengan diameter kira-kira lima puluh cens, samar-samar yang melihat keluar dari tempat itu adalah—
—wajah manusia. Itu sangat sulit sekali untuk mengatakan bahwa itu adalah laki-laki atau perempuan, muda atau tua dari wajah datarnya. Kulitnya pucat, kepalanya tidak memiliki satu helai rambut. Kedua matanya yang terbuka lebar dalam bentuk lingkaran sempurna juga tidak memiliki emosi.
Tetapi, Kirito secara insting dapat menebak. Mata tersebut tidak melihat ke arah dirinya ataupun Naruto, tapi orang yang duduk dengan tidak sadarkan diri di tanah, Alice.
Mulut wajah asing itu mulai bergerak, melalui selaput ungu tua, kata-kata aneh dapat terdengar,
"シンギュラー・ユニット・ディテクティド。アイディー・トレーシング…"
Kedua matanya, yang terlihat seperti rumput bola berkedip sesaat, lalu sekali lagi, suara misterius itu mengatakan.
"コーディネート・フィクスト。リポート・コンプリート"
Lalu, Window ungu tadi tadi tiba-tiba menghilang. Saat Kirito menyadarinya meskipun terlambat bahwa kata-kata aneh itu mungkin suatu jenis kalimat upacara untuk sacred art tertentu, dia dengan cepat melihat kesemuanya dan lalu akhirnya dirinya sendiri, tapi dia tidak merasakan suatu hal yang telah berubah.
Bahkan meskipun begitu, kejadian itu terlalu aneh untuk diabaikan. Kirito bertukar pandangan dengan Naruto, lalu mereka berdua kemudian membantu Eugeo untuk menangkat Alice ke atas, serta membawa Canaria yang masih bersedih disana dan kemudian menenangkan dirinya kembali.
setelah Canaria sudah merasa baikan, mereka bertiga memutuskan untuk membawa si kembar identik itu, menjauh dari Dark Territory dan membawanya kembali ke dalam gua—dan mulai berlari ke arah dimana mereka datang sebelumnya.
Eugeo sendiri tidak dapat mengingat bagaimana mereka kembali ke Desa Rulid. Kembali melintasi danau dimana naga putih itu terbaring, dan terus berlari setelah mereka melompat menuju jalan keluar yang berada di sisi berlawanan. Mereka berkali-kali tergelincir saat mereka berlari di atas batu yang basah, tapi mereka menjelajahi gua yang panjang ini dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan ketika mereka datang, ketika mereka melompat ke dalam cahaya putih akhirnya mereka melihat, cahaya matahari sore masih bersinar menerangi hutan.
Tetapi, kegelisahan Eugeo yang berhasil terambil tidak mudah untuk menghilang. Bahkan sampai sekarang, dia masih memiliki perasaan bahwa Window ungu tua akan terbuka tepat di belakangnya, dengan wajah pucat aneh akan muncul sekali lagi, jadi dia tak membiarkan dirinya untuk beristirahat.
Dibawah pepohonan dimana burung berkicau, melewati tepi sungai dimana sekelompok ikan kecil berenang ke sana dan kemari, mereka bertiga berjalan dengan cepat dalam keheningan. Melintasi bukit yang seharusnya menjadi Perbatasan Utara, melewati dua kolam kembar, sebelum akhirnya mereka sampai di jembatan utara Rulid.
Dengan sedikit lagi berjalan, mereka telah kembali dan beristirahat di dasar pohon tua, yang menjadi tempat pertemuan mereka fajar tadi, tapi mereka masih belum banyak bicara. Mereka berlima bertukar pandangan sebelum sedikit tersenyum.
"Hei, Alice, ini."
Kirito mengatakan itu sementara menyerahkan keranjang rotan yang terlihat berat itu ke depan. Didalamnya dipenuhi dengan hasil petualangan mereka hari ini, «Es Musim Panas», Eugeo sekarang baru menyadari keberadaan keranjang yang benar-benar dia lupakan. Untuk meyembunyikan rasa malunya, dia berkata dengan wajah tenang.
"Ketika kau sampai rumah, kau lebih baik segera membawanya menuju ruang bawah tanah. Dengan begitu, ini seharusnya akan mampu bertahan sampai besok, bukan?" ujar Kirito
"...Ya, baiklah."
Alice yang biasanya tidak menurut segera mengangguk, setelah mengambil keranjang itu, dia berbalik untuk melihat kedua wajah anak laki laki itu, dengan sedikit ekspresi berbeda. Dan itu terlihat oleh saudari kembarnya tersebut.
"Nee-chan, apa benar nee-chan tidak apa-apa, mengingat kejadian itu semuanya adalah kesalahan Cana" ucap lirih Canaria
"Tenanglah Cana-chan, Nee-chan baik-baik saja kok, lihat Nee-chan saja sudah merasa seperti biasa, jadi jangan khawatir yah" ujar Alice akhirnya tersenyum cerah seperti yang biasa terlihat dari wajahnya tersebut.
"Uhmm baiklah kalau begitu Nee-chan" ujar Canaria
Melihat si Kembar Identik itu sudah baikan, membuat Kirito, Eugeo dan Naruto sudah merasa lega untuk saat ini.
"Ne..ne.. kalau begitu besok kita akan bisa menikmati makan siang lebih lama bukan" ujar Naruto dengan semangat.
"tentu saja, Kalian bertiga dapat berharap untuk kotak makan siang besok. Sebagai hadiah untuk kerja keras kalian, kita berdua akan melakukan yang terbaik bukan begitu Cana-chan." Ujar Alice sambil melirik adik kembarnya tersebut.
"Yah, tentu saja" ujar Canaria
Maksud kalian berdua Sadina-obasan yang akan melakukan yang terbaik, bukan? yang tentu saja, Kirito dan Eugeo tidak mengatakannya secara keras. Mereka berdua bertukar pandang untuk sesaat sebelum mengangguk pada saat yang bersamaan.
"….Hei, apa yang kalian berdua pikirkan?" tanya Alice
Alice bertanya sementara memperlihatkan ekspresi kebingungan, dua anak laki-laki itu menepuk bahu Alice, sebelum berkata secara bersamaan—
"Tidak ada apa-apa! Baiklah, mari kita kembali ke desa!" ujar Kirito dan Eugeo
Pada saat mereka berjalan menuju alun-alun desa, tempat dimana mereka berpisah, cahaya matahari terbenam yang sesungguhnya berada di langit yang melayang di atas mereka. Kirito dan Naruto tinggal di panti asuhan gereja, Alice dan Canaria pulang kembali ke rumah kepala desa. Eugeo tiba di rumahnya di sisi barat desa tepat beberapa menit sebelum lonceng jam enam malam berbunyi.
Eugeo tetap diam saja sepanjang makan malam yang pada saat dia tiba, hampir ketika waktunya. Meskipun dia sangat yakin bahwa saudara laki-laki dan saudara perempuannya, bahkan ayah dan kakeknya tidak pernah mengalami petualangan sepertinya hari ini, dia entah kenapa tidak mampu membuat dirinya untuk menceritakan hal tersebut.
Kelihatannya dia tidak dapat berbicara tentang fakta bahwa dia telah melihat Tanah Kegelapan dengan matanya sendiri—pertarungan sengit diantara Integrity Knight melawan Darkness Knight, dan kemudian wajah aneh yang muncul di akhir petualangan, karena sekali dia berbicara mengenai itu, itu tidak sulit baginya untuk menebak bagaimana reaksi keluarganya nantinya, dan itu yang membuatnya takut.
Malam itu, Eugeo yang pergi untuk tidur lebih awal yang berpikir dia akan melupakan semua yang dia lihat di akhir petualangannya. Tetapi dia tidak mampu melakukannya, sebab Gereja Axiom dan Integrity Knight yang begitu dia kagumi dan hormati sampai saat ini telah berubah menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda.
SKIP TIME.
Hari Keempat, Bulan ke 7, Tahun 372, Kalender Dunia Manusia.
Desa Rulid, Kerajaan Norlangarth Utara.
Solus telah terlihat, kemudian terbit—dan setelahnya, ini adalah kehidupan sehari - hari seperti biasanya, tanpa ada sesuatu yang berubah.
Normalnya, satu hari setelah hari libur, Eugeo akan pergi ke tempat kerjanya dengan sedikit muram, tetapi, hari ini dia entah bagaimana merasa lega. Dirinya sudah cukup dengan berpetualang, dirinya merasa penebang pohon setelah semua yang ia lalui kemarin. Sementara dia memikirkan hal ini saat dia berjalan keluar dari gerbang selatan desa, Kirito dan Naruto bergabung dengannya di perbatasan antara padang rumput dan hutan.
Eugeo menyadari sedikit perasaan kelegaan di wajah kedua partner yang telah dia kenal. Kedua partnernya juga menyadari ekspresi yang sama pada wajah Eugeo. Untuk sesaat, mereka bertiga saling bertukar senyuman untuk menyembunyikan rasa malu mereka.
Mereka berjalan menyusuri jalan yang sempit kecil di hutan untuk beberapa saat sebelum mengambil Dragon Bone Axe dari gubuk penyimpanan, lalu setelah berjalan untuk beberapa menit, mereka mencapai bagian dasar Gigas Cedar. Eugeo bersyukur ketika dia berpikir melanjutkan untuk menebang batang pohon ini seperti tidak ada apapun yang telah berganti.
"Baiklah, pastikan kalian berdua mendapatkan beberapa tebasan yang bagus dan mentraktirku Air Siral hari ini." Ujar Kirito
"Bukannya beberapa hari ini, kau yang melakukan hal itu, Kirito?" ucap Naruto
"Kau benar dia yang seharusnya dia sadar diri" ucap Eugeo tertawa mendengar penuturan Naruto.
Saat mereka saling berbicara satu sama lain, Eugeo mempersiapkan kapak. Serangan pertamanya membuat suara Gon bernada tinggi. Aku sedang dalam kondisi bagus hari ini. Eugeo berpikir seperti itu.
Saat pagi pagi hari telah berlalu, mereka bertiga selalui melanjutkan beberapa serangan bagus pada batang pohon. Alasannya adalah, saat mereka mengayunkan kapak, jika mereka kehilangan konsentrasi, pikiran mereka akan kembali pada kejadian yang mereka lihat kemarin—itu bukanlah sesuatu yang dapat dihindari.
Setelah menghantamkan serangan kesembilan dari lima puluh hantaman setiap bagian yang diperintahkan, perut Eugeo mulai merasa lapar.
Eugeo melihat ke atas langit sementara mengusap keringatnya, Solus telah mencapai bagian tengah dari langit. Seperti biasa, setelah satu serangan lagi, Alice akan membawakan makan siang yang sudah ditunggu mereka. Namun hari ini kami dapat memakan pai dan susu dingin secara perlahan. Perut kosongnya terasa sakit hanya dengan membayangkannya.
"Etto..." gumam Eugeo
Hanya memikirkan tentang makan siang saja membuat genggaman Eugeo menjadi tergelincir. Setelah menyeka kedua tangannya yang basah, dia dengan hati-hati menggenggam kapak dengan genggaman yang lebih erat.
Tiba-tiba, cahaya matahari menjadi meredup. Hujan yang mendadak? Itu sangat menyebalkan. . Eugeo berpikir sementara melihat ke atas.
Sebuah bayangan dapat terlihat terbang melintas langit biru di atas batang Gigas Cedar dengan kecepatan tinggi. Jantung Eugeo tersentak.
"Naga terbang...!?"
Eugeo tanpa sadar berteriak.
"Oi...Kirito, Naruto yang barusan itu!?" seru Naruto
"Tidak… salah lagi" gumam Kirito
"Ya, itu adalah Integrity Knight yang kemarin!" ucap Naruto
Suara kedua partnernya juga membeku dalam ketakutan. Naga terbang bersama-sama dengan knight berarmor putih keperakan yang duduk di punggungnya menyapu puncak pohon dan menghilang dari pandangan mata mereka menuju arah Desa Rulid.
Kenapa dia datang ke tempat seperti ini?
Di dalam keheningan yang menyeluruh, seolah-olah burung dan serangga dalam keadaan ketakutan, Eugeo berpikir dengan kebingungannya.
Integrity Knight bertarung melawan musuh Gereja Axiom dan menjaga aturan agar tetap pada tempatnya. Di dalam Dunia Manusia dimana empat kerajaan membagi dan memerintahnya, tidak ada kelompok pemberontak lagi, jadi selain dari tentara kegelapan, musuh dari Integrity Knight tidak ada sekalipun. Apa yang kudengar tentang pertempuran tanpa akhir di bagian luar Puncak Barisan Pegunungan, aku sebenarnya telah melihatnya dengan mataku sendiri kemarin.
Ini pertama kalinya aku melihat seorang Integrity Knight yang sesungguhnya. Semenjak aku dilahirkan, Integrity Knight tidak pernah datang ke desa. Dan meski begitu, kenapa sekarang—
"Jangan..jangan.." ucap Naruto terbata-bata
"Itu tidak mungkin...Itu tidak mungkin, Alice..." pekik Kirito
Kirito bergumam di sampingnya. Pada saat dia mendengar hal itu, suara aneh yang dia dengar sebelumnya kembali terdengar dengan jelas di telinga Eugeo. Dibalik window ungu tua itu, yang mengatakan keluar kalimat aneh dari mulut manusia dengan bentuk wajah aneh. Dia merasa hawa dingin dibalik punggungnya seolah-olah dia dimasukkan ke dalam air yang membeku.
"Ini bohong... ini tidak mungkin benar, hanya dengan itu... hanya dengan itu saja..."
Dia memandang wajah Naruto dan Kirito secara bersamaan, sementara dia mengatakan itu, seolah-olah untuk mencari persetujuan, namun kedua partnernya memperlihatkan ekspresi wajah serius yang jarang sementara menatap pada arah knight itu terbang. Beberapa saat kemudian, Naruto menatap lurus pada mata Eugeo dan Kirito sebelum memberikan sebuah perintah.
"Ayo kita kesana, cepat kita tidak mempunyai banyak waktu lagi" Seru Naruto sambil berlari menuju desa kemudian disusul Kirito
"Ayo pergi, Eugeo!" seru Kirito
Kirito kemudian mengambil Dragon Bone Axe dari tangan Eugeo sebelum berlari lurus menuju arah utara.
"O...Oi kalian berdua tunggu aku!" ucap Eugeo
Sesuatu yang buruk sedang terjadi.. Sementara dia memikirkan hal itu, Eugeo juga menghentakkan kaki ke tanah dan segera mengejar di belakang Kirito dan Naruto.
Mereka bertiga berlari melintasi jalan kecil yang mereka kenal di hutan dengan kecepatan penuh sambil menghindar dari akar dan batu, sampai ke tempat dimana jalan itu bergabung dengan jalan utama yang menuju ke arah ladang. Mereka tidak dapat melihat bayangan naga terbang di atas langit desa. Kirito sedikit melemaskan kakinya, dan dengan suara keras bertanya pada petani di antara rimbunan gandum, yang mengenakan pakaian biru dan sedang melihat ke atas langit.
"Ridack –ojisan! Dimana ksatria naga tadi pergi!?" tanya Kirito
Petani itu terlihat seperti dia baru saja terbangun dari mimpinya, setelah berkedip beberapa kali, dia akhirnya menjawab.
"A... Ah... hello, kelihatannya dia mendarat di alun-alun desa…." ujarnya
"Terima kasih!" ucap Kirito.
Setelah berterima kasih padanya dengan perasaan jengkel, mereka bertiga terus berlari dengan kecepatan penuh.
Di berbagai tempat sepanjang jalanan utama dan ladang, terdapat sekelompok penduduk desa yang hanya berdiri saja. Mungkin, bahkan di antara para tetua, tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar pernah melihat Integrity Knight sebelumnya. Semua orang hanya melihat ke arah desa dengan eskpresi wajah yang tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Naruto, Eugeo dan Kirito hanya berlari melewati mereka dengan susah payah.
Melintasi gerbang selatan desa, berlari melewati jalan pendek daerah pertokoan, dan, setelah menyeberangi jembatan batu kecil, mereka bertiga akhirnya melihatnya. Mereka menahan nafas mereka tanpa pernah menghentikan langkah kaki mereka.
Leher panjang melengkung dan ekor dari naga terbang tersebut menempati separuh bagian utara dari alun-alun di depan gereja.
Sayap besarnya terlipat di sampingnya, hampir sepenuhnya menutupi gereja dari pandangan. Sisik abu-abu dan armor besi di berbagai bagian dari tubuhnya memantulkan cahaya Solus, yang membuatnya terlihat seperti sebuah patung es.
Mata merah darah, yang tidak memiliki emosi, mengawasi alun-alun desa. Di depan sang naga, yang bahkan bersinar jauh lebih menyilaukan, adalah sesosok knight.
Badannya lebih besar daripada semua orang yang ada di desa. Armor berat yang dipoles hingga terlihat seperti cermin menutupi seluruh tubuhnya, tanpa ada satu kain sekalipun, juga semua persendiannya ditutupi dengan rantai perak yang dijahit dengan rapi. Bagian pelindung kepala yang menyerupai bentuk kepala naga yang memiliki bagian dahinya menonjol keluar, di bagian samping terdapat hiasan tanduk panjang yang terbentang ke belakang, wajah knight itu tersembunyi di balik pelindung wajah yang besar yang ditarik ke bawah.
Ada sebuah pedang panjang yang memiliki gagang perak tergantung di pinggang kirinya. Di punggungnya, dengan panjang sekitar satu mel, terdapat sebuah busur panah coklat kemerahan. Tanpa ada keraguan lagi, dia adalah Integrity Knight yang menembak dan membunuh Darkness Knight yang Eugeo telah lihat di jalan keluar gua kemarin.
Dari bagian berbentuk salib yang terbuka dari pelindung wajahnya, knight itu menatap tanpa mengatakan apapun ke arah bagian selatan selatan alun-alun, dan sejumlah penduduk desa yang berkumpul menundukkan kepalanya secara bersamaan. Di barisan terakhir, sosok dua gadis muda yang baru saja menunduk dengan keranjang rotan di tangannya dapat terlihat. Eugeo sedikit melepaskan ketegangan dari bahunya. Rupanya Alice yang memakai pakaian biru biasanya dan pinafore putihnya, memandang sosok Integrity Knight dari celah diantara orang dewasa bersama dengan Canaria disampingnya.
Eugeo menyikut pinggang Kirito sebagai sinyal, mereka menundukkan tubuh mereka dan bergerak, setelah mereka sampai di belakang Alice dan Canaria, Kirito berbisik.
"Alice, Canaria….." bisik Kirito
Merasa dipanggil mereka berdua pun berbalik, saat itu rambut pirang sikembar identik itu terayun ke samping.
"Kirito/Kirito-kun" ucap Alice dan Canaria melihat mereka berdua dipanggil oleh Kirito. Kemudian Naruto yang berada dibelakang Kirito bersuara sama seperti Kirito untuk memanggil Alice disana.
"Alice.. cepat kesini.." panggil Naruto
Alice sendiri membuat wajah kaget yang terlihat seolah-olah dia ingin mengatakan sesuatu. Akan tetapi Kirito dengan cepat meletakkan jarinya ke mulutnya, sebelum dengan pelan berbisik.
"Alice, tolong diam. Aku pikir kita harus pergi dari sini sekarang." Ucap Kirito
"Eh….Kenapa?" tanya Alice
Alice menjawab dengan bisikan pelan dengan volume yang sama, dia kelihatannya tidak mengetahui bahaya yang sekarang sedang mendekatinya. Eugeo berpikir dia tidak akan menyadari akan kemungkinan itu tanpa Kirito mengatakannya.
"Tidak...Integrity Knight itu mungkin…." Gumam Alice
Bagaimana seharusnya kami menjelaskannya mulai dari hal ini. Eugeo kehilangan kata-kata untuk sesaat. Dan di saat itulah. Beberapa suara pelan datang dari dalam kerumunan. Melihat ke sana, yang berjalan menuju alun-alun dari aula desa, seorang pria tinggi terlihat.
"Ah...ayah."
Alice dan Canaria bergumam. Pria itu adalah ayah kedua gadis tersebut dan di waktu yang sama, merupakan Kepala Desa Rulid saat ini, Gasupht Schuberg. Tubuh tegapnya memakai rompi sederhana, rambut dan kumis hitamnya tersisir rapi. Bahkan meskipun dia mewarisi Sacred Task dari kepala desa sebelumnya hanya semenjak empat tahun lalu, sikapnya yang sangat tegas dengan cepat membuat dia dihormati oleh seluruh penduduk desa.
Gasupht mendekati Integrity Knight sendirian tanpa sedikitpun tanda-tanda keraguan, sebelum meletakkan tangan di depan tubuhnya menurut etika Gereja Axiom, kemudian membungkuk. Setelah mengangkat wajahnya, dia memperkenalkan dirinya.
"Saya berperan sebagai sebagai kepala desa Rulid, Schuberg adalah namaku." Ucap Gasupht
Sang Integrity Knight mengangkat tangannya di depan tubuhnya sebagai balasan salam Gasupht, armornya membuat suara samar-samar ketika dia mengangguk, sebelum mulai untuk berbicara.
"Penjaga Istana Kerajaan Norlangarth Utara, Integrity Knight dari Gereja Axiom, Deusolbert Synthesis Seven." ucapnya
Sangat sulit untuk mempercayai bahwa suara itu datang dari tenggorokan mahluk hidup, karena suaranya menggema dalam intonasi yang sumbang. Suara yang benar-benar terasa seperti baja menggema di seluruh alun-alun, membuat setiap penduduk desa di area itu menjadi terdiam. Eugeo merengut saat suara itu terasa seolah-olah menusuk langsung melewati dahinya dibandingkan dengan masuk melalui telinganya, meskipun dia berjarak dua puluh mel jauhnya. Bahkan kepala desa Gasupht terdorong setengah langkah ke belakang dikarenakan tekanannya. Tetapi, seperti yang diharapkan dari keberaniannya, Gasupht memperbaiki posisi tubuhnya, sebelum mengeluarkan pidato mengesankannya sekali lagi.
"Ini adalah sebuah kehormatan dari Tuan Integrity Knight, yang menjaga ketertiban di seluruh penjuru Dunia Manusia yang luas ini, untuk berkunjung ke desa kecil kami di daerah terpencil ini. Jika saya tela mengetahui waktu anda datang terlebih dahulu saya akan mempersiapkan sebuah jamuan penyambutan." Ujar Gasupht
"Saya tidak dapat menerima hal tersebut saat aku haru menjalankan tugas resmiku." Ucap Deusolbert
Suara menggema knight itu mengatakan seperti itu, dan dengan tatapan seperti es di balik pelindung wajahnya—dia melanjutkan,
"Dikarenakan salah satu anak Gasupht Schuberg, Alice Schuberg telah melanggar pasal dalam Taboo Index, aku datang untuk menangkapnya untuk penginterogasian, yang diikuti dengan pengeksekusiannya." Ucap Deusolbert
Getaran dapat terlihat dari punggung Alice yang berdiri di dekatnya. Begitu juga dengan Canaria, jantungnya berdegup kencang saat mendengar penuturan sang Intergrity Knight itu. Tetapi, Naruto, Eugeo dan Kirito tidak dapat berbuat apa-apa, lupakan berbicara. Di dalam kepala mereka, kata-kata knight itu terus terdengar berkali-kali.
Tubuh kuat kepala desa itu juga terguncang untuk sesaat. Sebuah lengkungan kecil namun jelas dapat sedikit terlihat dari samping wajahnya. Setelah keheningan yang panjang, Gasupt berkata dengan suara yang telah kehilangan wibawanya.
"...Tuan Knight, dosa apakah yang dilakukan oleh putri sulungku?" ucap Gasupht.
"Taboo Index, bab pertama, kalimat ketiga, paragraf kesebelas, melewati batas Dark Territory." Ujar Deusolbert dengan nada dingin.
Pada saat itu, sebuah keributan yang besar terjadi di antara para penduduk desa yang sedang menahan nafas mereka, mendengarkan pembicaraan mereka sampai titik ini. Anak-anak membuka lebar mata mereka, saat semua orang dewasa yang mengucapkan ayat suci gereja sementara menggenggam simbol pelindung kutukan.
Saat itu juga melihat apa yang dilakukan oleh para penduduk desa saat ini, membuat Naruto menggertakan giginya dan mengepalkan tangan nya begitu kuat. dia tahu tatapan itu, manik mata itu dan padangan itu yang pernah ditujukan padanya di Konohagakure sewaktu berusia belia dulu kala, mereka membuat Alice terlihat seperti dirinya terdahulu, yah dirinya terdahulu sebagai Jelmaan Iblis Kyuubi no Yokou, yang pernah menghancurkan Konoha, dan membuat banyak kematian disana.
Jujur saat ini juga Naruto benar-benar merasa marah dan ingin sekali menghajar para penduduk Desa saat ini, Karena Alice dipandang oleh penduduk Desa Rulid seperti dirinya waktu kecil, dianggap sebagai sebuah kutukan tuhan, bencana, serta marabahaya yang harus disingkirkan secepatnya. Bayang-bayang itu bahkan terlintas kembali di ingatan Naruto, menyebalkan, menyedihkan dan menyakitkan, tentu saja itu sudah pasti. Oleh karena itu dirinya tidak ingin membiarkan ada lagi seseorang yang menjadi sepertinya dahulu kecil. Cukup itu untuknya saja mengalami hal itu, dan Dia sudah bersumpah akan hal itu, oleh kerena itu.
Naruto sendiri akhirnya bertindak, sebagian dikarenakan oleh sponitas. Dia mendorong dirinya untuk maju ke depan Alice, melekatkan bahunya, menyembunyikan gadis itu dari tatapan penduduk desa dibalik punggungnya. Melihat hal itu, membuat Kirito dan Eugeo tersadar yang dilakukan Naruto saat itu, dan akhirnya mereka berdua mengikuti apa yang Naruto lakukan, akan tetapi mereka betiga tidak dapat melakukan tindakan yang lebih jauh, karena pergerakan yang tiba-tiba akan menarik perhatian orang dewasa yang ada di depan mereka.
Di dalam kepala Eugeo, Apa yang seharusnya kami lakukan, apa yang seharusnya kami lakukan, adalah satu-satunya yang ada di pikirannya, dan terus terulang dengan sendirinya. Bahkan tanpa perasaan depresi yang memenuhi di dadanya saat ini, dia masih tidak akan tahu apa yang dia dapat lakukan.
Semua yang dia lakukan hanya tetap berdiri, menyaksikan adegan di depannya, melihat pada kepala desa Gasupht yang menundukkan kepalanya dengan dalam tanpa membuat gerakan lainnya.
Itu tidak apa-apa, jika memang orang itu. Eugeo berpikir seperti itu. Bahkan meskipun dia belum pernah berbicara dengan Kepala Desa Gasupht, dia seharusnya adalah orang yang paling dihormati dari semua orang dewasa setelah Pak Tua Garitta.
Namun—
"...Jika memang begitu, saya akan memanggil putriku, saya berpikir kita seharusnya mendengar alasan dari mulutnya sendiri." Tegas Gasupht
Kepala desa yang mengangkat kepalanya hanya mengatakan itu. Tidak, kita tidak dapat membiarkan Alice menuju ke depan knight itu. Selama periode waktu singkat Eugeo memikirkan hal itu, Integrity Knight itu mengangkat tangan kanannya saat armornya membuat suara yang pelan. Melihat ujung jarinya menunjuk kearahnya, jantung Eugeo berdegup kencang dengan perasaan tak nyaman.
"Itu sama sekali tidak perlu. Alice Schuberg ada disana. Kau, kau dan kau..." ucap Deusolbert
Knight itu menggerakkan tangannya dan menunjuk dua orang dewasa di antara kerumunan secara bergantian.
"Bawa anak perempuan kepala desa kemari." Perintah Deusolbert
Barisan penduduk desa di depan Eugeo dengan cepat terpisah. Apa yang berdiri di antara Integrity Knight dan Alice hanyalah Naruto, Kirito dan Eugeo saja.
Di jalan yang lebar tersebut, dua penduduk desa yang dikenalnya perlahan mendekat. Kulit mereka telah kehilangan warna karena kurangnya darah, namun ada cahaya aneh yang terlihat di dalam mata mereka.
Orang itu dengan menyingkirkan Narut, Eugeo dan Kirito secara paksa, yang menghalangi mereka, menuju Alice, dan mendorong mereka bertiga ke samping sebelum mengenggam tangan Alice. Canaria pun sempat berusaha untuk menahan tangan kakak kembarannya tersebut, akan tetapi karena genggaman nya tidak terlalu kuat membuat genggamanya terlepas.
"Nee-chan" pekik Canaria melihat kakaknya dibawa oleh para penduduk itu.
"Ah…." pekik Alice
Alice berteriak dalam suara pelan, sebelum menutup mulutnya dengan rapat. Sementara pipinya yang berwarna merah mawar memudar, sebuah senyuman tipis terlihat dari wajahnya. Tidak apa-apa. Dia mengangguk kepada mereka berdua hanya dengan seperti itu.
"Alice…." Seru Kirito dengan nada lirih
Ketika Kirito memanggilnya dengan suara pelan, keranjang rotan di tangan kanannya terjatuh dikarenakan tarikan yang kuat. Penutupnya terbuka, dan isinya menggelinding pada jalanan berbatu.
Kedua penduduk desa menarik Alice, tanpa membiarkannya mengambil keranjangnya, menuju Integrity Knight.
Tatapan Eugeo tertuju pada keranjang rotan yang tergeletak di sampingnya. Pai dan roti keras yang tebungkus dalam kain putih, dengan bongkahan es kecil mengisi celahnya. Sebagian kecil es yang terbuang keluar ke tanah memantulkan cahaya matahari dan bersinar terang. Pada saat itu, di atas permukaan batu, yang dipanasi oleh cahaya matahari, itu dengan segera menjadi mencair, berubah menjadi sebuah titik hitam kecil.
Di sampingnya, Naruto menarik nafas dengan kuat. Seperti yang diduga, dia mengangkat wajahnya dan mengejar punggung Alice, yang sementara ditarik pergi. Eugeo dan Kirito juga menggeretakkan giginya, memaksa kakinya yang kaku mengikuti partnernya yang sudah berlari duluan tersebut.
Kedua orang itu melepaskan tangan Alice di samping kepala desa, kemudian bergerak beberapa langkah ke belakang sebelum berlutut. Kedua tangan mereka mendekap saat mereka membungkuk dengan dalam, memperlihatkan kepatuhan pada knight itu.
Alice, yang telah dilepaskan, melihat ke arah ayahnya dengan wajah pucat. Gasupht memandang anak perempuan kesayangannya sesaat sebelum berbalik dan melihat ke bawah sekali lagi.
Integrity Knight itu perlahan mengangguk sebelum mengeluarkan sebuah alat aneh dari belakang armornya. Itu adalah rantai besi tebal dengan tiga sabuk kulit menempel padanya secara parallel, terdapat lingkaran besar di ujung rantai tersebut.
Knight itu menyerahkan alat tersebut pada Gasupht.
"Perintah untuk kepala desa. Ikatlah kriminal itu." Ucap Deusolbert
"..."
Saat kepala desa menerima alat pengekang itu saat menurunkan tatapan kebingungannya, sebelum Naruto, Kirito dan Eugeo akhirnya tiba di hadapan knight itu.
Pelindung kepala ksatria tersebut bergerak perlahan, sebelum menatap lurus pada mereka bertiga . Eugeo tidak mampu untuk melihat apapun yang ada di dalam lubang berbentuk salib pada pelindung wajah yang berkilauan, seolah-olah itu terbungkus dalam kegelapan yang dalam, tapi tekanan dari tatapan itu membuatnya merasakan kesakitan. Dia menatap ke bawah secara refleks, menginginkan untuk mengatakan sesuatu pada Alice yang berdiri di depannya, namun dia tidak mampu untuk melakukannya, seolah-olah tenggorokannya terasa seperti sedang terbakar.
Kirito juga menundukkan wajahnya, seperti Eugeo, sementara Naruto mengambil nafas dalam secara berulang-ulang, kemudian tiba-tiba dia mengangkat wajahnya dan berteriak dengan suara keras sementara.
"Knight-sama!" pekik Naruto
Dia mengambil nafas dalam sekali kali, dan melanjutkan.
"A...Alice tidak memasuki Dark Territory! Salah satu tangannya saja yang menyentuh tanah itu beberapa saat! Hanya itu saja!" ucap Naruto
Tetapi, jawaban dari knight tersebut hanyalah sederhana.
"Apa masih perlu tindakan yang lebih jauh?" tanya Deusolbert dengan nada datar.
Bersamaan dengan perkataan itu, dia melambaikan tangannya pada dua orang yang berlutut tadi. Penduduk desa itu berdiri dan menggenggam punggung Kirito, tangan Naruto dan leher Eugeo, sebelum mulai menarik mereka menjauh. Sementara melawan mereka,
Naruto berteriak sekali lagi.
"K…..Kalau begitu, kami juga melakukan dosa yang sama! Kami berada di tempat yang sama! Jika anda ingin membawanya, maka bawalah kami juga!" pekik Naruto
Tetapi, Integrity Knight itu tidak lagi melihat mereka.
Itu benar...Jika Alice melanggar Taboo, maka aku seharusnya menerima hukuman yang sama. Eugeo dan Kirito berpikir seperti itu. Mereka memikirkan itu dari dasar dalam hatinya. Lalu kenapa suara mereka berdua ini tidak mau keluar? Mereka berdua ingin berteriak seperti Naruto, tapi mulut mereka terasa seperti telah melupakan bagaimana caranya bergerak, semua yang dapat mereka berdua lakukan adalah menghembuskan nafas kuat.
Alice memandang dan menatap ke arah mereka bertiga untuk sejenak, Tidak apaapa. Dia tersenyum seperti mengatakan itu, dan mengangguk. Ayahnya, yang telah kehilangan ekspresi di wajahnya, memasangkan alat pengekang berbahaya itu di belakang tubuh langsingnya.
Dia mengeratkan tiga sabuk tadi pada bagian bahu, perut, dan pinggangnya. Wajah Alice untuk sesaat sedikit berubah. Setelah dia selesai mengeratkan peralatan logam itu, dia mundur beberapa langkah dengan terhuyung-huyung, dan menunduk sekali lagi. Knight itu berjalan menuju Alice, sebelum mengenggam ujung dari rantai yang tergantung dari punggungnya.
'Kuso!.. kalau seperti ini, aku tidak punya pilihan lain' pikir Naruto
Naruto, Kirito dan Eugeo ditarik mundur menuju bagian tengah alun-alun, kemudian secara paksa dijatuhkan dengan betumpu dengan lutut mereka. Naruto pun mendekatkan mulutnya ke arah Kirito dan Eugeo yang sementara berpura-pura terguncang, dan dengan cepat berbisik.
"Eugeo… Kirito Dengar, aku akan menggunakan kapak ini untuk menyerang Integrity Knight. Aku seharusnya mampu untuk mengulur waktu selama beberapa detik, kalian gunakan kesempatan itu untuk mengambil Alice dan segera kabur bersama. Larilah ke ladang gandum di selatan, berbaurlah ke dalam celah yang ada di ladang dan pergilah menuju hutan, kalian tidak akan mudah terlihat jika sampai di sana." Jelas Naruto
Setelah Eugeo dan Kirito menatap pada Dragon Bone Axe yang dipegang oleh Kirito, mereka berdua entah mengapa mampu untuk memaksakan suaranya untuk keluar.
"...Narutoo...apa kau sudah gila..." ucap Kirito
"Kirito. Benar.. apa kau yakin melakukan hal .. itu" ucap Eugeo
"Tidak ada pilihan lain.." ucap Naruto
"Naruto..tapi…" ucap Eugeo
Kemarin, bukankah kau sudah melihat skill pedang dan panah Integrity Knight yang mengerikan itu? Jika kau melakukan sesuatu seperti itu, dia akan segera membunuhmu…Sama seperti Darkness Knight. Seolah-olah dia dapat membaca pikiran Eugeo, yang tidak mampu untuk berbicara,
Naruto melanjutan.
"Tidak apa-apa, knight itu tidak akan mengeksekusi Alice tepat di tempat ini. Mungkin, tanpa interogasi terlebih dahulu, dia tidak dapat langsung membunuhku. Aku juga akan mencari kesempatan untuk melarikan diri. Juga…."
Tatapan mata membara Naruto yang tertuju pada Integrity Knight, yang sedang memastikan ikatan dari alat pengekangnya. Setiap kali dia menarik sabuk kulit tadi, wajah Alice berubah menjadi kesakitan.
"...Juga, tidak apa-apa bahkan jika kita gagal. Selama kita ikut dibawa pergi bersama Alice" ujar Naruto
"Kau yakin.. dengan hal itu, apa kau tidak memikirkannya dengan matang" ucap Kirito
"yah aku sudah memikirkannya dengan baik, dengar Kirito, Eugeo seharusnya masih ada kesempatan bagi kita untuk melarikan diri. Tapi sekarang ini, jika Alice dibawa pergi dengan naga terbang itu, maka tidak ada harapan lagi." Ujar Naruto
"Itu..." ucap Eugeo
Itu mungkin benar.
Tapi—sebuah ide berbahaya yang bahkan tidak dapat dianggap sebagai sebuah rencana, bukankah itu adalah «Pengkhianatan terhadap Gereja»? Taboo Index, bab pertama, kalimat pertama, paragraf pertama, yang ditetapkan sebagai, dosa terbesar—
"Eugeo, Kirito...Apa memang perlu kalian untuk ragu-ragu!? Siapa juga yang peduli jika itu Taboo?! Apakah itu lebih penting dibandingkan dengan hidup Alice!?" Suara pelan namun jelas dari Naruto terdengar di dalam telinga Eugeo dan Kirito.
"…"
"Dengar, aku tidak peduli menjadi sampah masyarakat sekalipun, lebih baik aku menjadi sampah karena menyelamatkan temanku, dari pada aku harus menuruti peraturan bodoh tersebut, karena manusia yang tidak mempedulikan temannya lebih buruk daripada sampah!" ucap Naruto
Bahu Eugeo dan Kirito mendengar penuturan Naruto kali ini begitu sangat bergetar, apa yang dikatakan Naruto Benar. seperti yang telah dikatakan olehnya.
Di dalam hati Eugeo dan Kirito, mereka berdua meneriakkan itu pada dirinya masing-masing.
—Kita berlima telah memutuskan bahwa kita akan terus bersama sampai mati. Bekerja bersama-sama, jadi satu orang dapat hidup demi empat orang lainnya, kita telah bersumpah untuk melakukan itu. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk ragu-ragu. Gereja Axiom dan Alice, diantara dua hal itu yang mana yang jauh lebih penting? Jawabannya telah diputuskan. Itu telah diputuskan. Itu adalah—itu adalah—
"Eugeo, Kirito…Apa yang kalian pikirkan tentang itu, jawab aku!" pekik Naruto
Suara yang sekarang terdengar seperti teriakan menyayat hatinya keluar dari Kirito. Alice yang melihat mereka bertiga. Dia menggelengkan kepalanya dengan ekspresi cemas.
"Itu adalah... itu... adalah..."
Sebuah suara serak keluar dari mereka berdua, seolah-olah itu bukan suara miliknya.
Tetapi, mereka berdua tidak dapat menyelesaikan kata-katanya. Bahkan di dalam kepalanya, mereka berdua tidak dapat membentuk sisa dari kata-kata tersebut. Zukin, rasa sakit yang tajam menjalar menuju mata kanan mereka berdua. Rasa sakit yang terus menusuk itu mengganggu pikiran mereka. Zukin, zukin, warna seperti darah tersebar di pandangannya, meyelimuti semuanya tanpa terkecuali, sementara perasaan dari anggota tubuhnya memudar.
Pada saat itu, kepala desa telah menyadari peristiwa yang tidak biasa terjadi, yang disebabkan oleh mereka bertiga. Dia perlahan menggerakkan tangannya, dan memerintahkan dua penduduk desa yang berdiri di belakang mereka bertiga.
"Bawa keluar tiga anak-anak itu dari alun-alun." Seru Gasupht
Dengan segera setelah itu, leher Naruto, Eugeo dan Kirito digenggam dan diseret ke belakang.
"Sial…..lepaskan aku! —Kepala desa Gasupht Schuberg!, Apakah tidak apa-apa!? Apakah tidak apa-apa membiarkan Alice diambil pergi dengan cara seperti ini!?" teriak Naruto
Naruto meronta-ronta seolah-olah dia menjadi gila, melepaskan tangan orang itu dengan memukul perutnya menggunakan siku tangan kanan miliknya, setelah berhasil melepaskan diri, dirinya mempersiapkan kapak di tangannya yang dia ambil dari Kirito, dan bersiap untuk menyerbu. Naruto kemudian berlari menggunakan Sushin miliknya dan melesat cepat kearah Deusolbert. Dan sesuatu mengejutkan penduduk Desa Rulid pun terjadi saat Naruto mengubah manik matanya.
Di saat itu Integrity Knight, yang telah selesai memastikan ikatan sabuk kulit Alice, dirinya hanya menatap Naruto yang sedang berlari, Dragon Bone Axe yang gagangnya dia genggam dengan erat yang dilapisi cakra anginnya. Tetapi diselingi itu dirinya merasakan keterkejutan saat melihat mata Naruto sudah berubah menjadi mata merah darah dengan disertai 3 tomoe miliknya. Yah rupanya Naruto sudah mengaktifkan Sharingan miliknya sejak ia berlari menuju arah Deusolbert.
'Mata apa itu, kenapa bocah itu memiliki mata yang aneh ' pikir Deusolbert
Dengan melesat cepat Naruto mulai mengayunkan Kapak Anginnya itu kearah Deusolbert dan hasilnya.
ZRAASSSSSSSSSHHHHHH…..
BRAAAAAAAKKKKKKKKKKKK…
Ayunan Cakra angin itu rupanya membelah pagar rumah salah satu penduduk Desa. Dengan seketika hancur terbelah menjadi 2 bagian. Membuat Deusolbert menjauh dari Alice untuk sementara, melihat hal dilakukan Naruto sontak membuat penduduk berlari ketakutan menjauhi Naruto dan Deusolbert. Akan tetapi bagi Kirito, Eugeo, Canaria dan Alice mereka begitu terkejut dengan apa yang dilakukan Naruto kini.
"Cepatlah Pergi Kirito, Eugeo, bawa pergi Alice menjauh dari sini" Seru Naruto
Mendengar perintah diserukan Naruto membuat Kirito segera mendekat pada Alice dan berupaya melepaskan ikatan sabuk tali yang terikat pada Alice, meski ia masih menahan rasa sakit dimata kanannya, akan tetapi Eugeo kini malah bergetar dan terdiam ditempat saat mendengar perintah Naruto barusan. Dia masih ragu untuk melakukan hal itu.
Deusolbert melihat serangan Naruto menggeram marah, ia sepertinya tidak boleh meremehkan bocah dihadapannya kali ini. Oleh karena itu dia akan segera mengerahkan kemampuannya.
"Kau sudah melakukan pelanggaran berat Gaki, menentang pihak Gereja, dan menyerang Intergrity Knight, kau harus dijatuhi hukuman berat" seru Deusolbert
"Heh.. aku tidak peduli dengan peraturan bodoh itu, sekarang yang hanya aku pedulikan saat ini berusaha mengalahkanmu disini dan membawa Alice keluar dari desa ini" ucap Naruto
"Baiklah, jika itu maumu, aku tak akan segan-segan lagi mengeksekusi mu sekarang juga" ucap Deusolbert
Deusolbert kemudian melepaskan pedang miliknya, dan kemudian melesat ke arah Naruto. Merespon cepat Naruto melesat dengan Dragon Axe bone yang dilapisi cakra angina miliknya.
Adu pedang pun terjadi diantara pedang dan kapak naga tersebut. Deusolbert mencoba bertindak ofensif dengan sword skill miliknya, dia melesatkan pedang berlapis api kearah sisi kiri Naruto, tetapi dengan menggunakan Sharingan Naruto berhasil membaca dan mengcopy seluruh pergerakan Deusolbert dengan cepat, sehingga ia pun berhasil menangkis serangan pedang Deusolbert tersebut.
Traaaaaaaaanggggggggggg...Triiiiiinggggggggggg... Traaaaaaaangggg...
Deusolbert begitu terkejut melihat Naruto mampu membaca dan mengcopy pergerakan sword skill miliknya meski kecepatan sword skillnya saat ini tidak mampu di ikuti mata telanjang, akan tetapi dengan memiliki Sharingan, Naruto mampu membaca arah pergerakan pedang Deusolbert, dengan melakukan sword skill copyan milik Deusolbert dia pun memulai serangan balasan, dengan menggerakan kapaknya kesisi dalam tubuh Deusolbert, akan tetapi Deusolbert mampu menangkisnya menggunakan bilah dalam pedang miliknya.
Traaaaaaannnnggggggg...Trriiiiiiiiiiiiiiinnnnnggggggggg...Traaaaaanggggg..
"tak kusangka, ada seseorang yang mampu melihat dan mengcopy pergerakan sword skill milikku, tetapi itu bukanlah apa-apa sebab kau akan kalah." ucap Deusolbert
Traaaaaaannnnggggggg...Trriiiiiiiiiiiiiiinnnnnggggggggg...Traaaaaanggggg..
"oke mari kita lihat siapa yang akan kalah dalam pertarungan kita!" ucap Naruto
Traaaaaaannnnggggggg...Trriiiiiiiiiiiiiiinnnnnggggggggg...Traaaaaanggggg..
"baiklah akan aku buktikan" ucap Seru Deusolbert
Traaaaaaannnnggggggg...Trriiiiiiiiiiiiiiinnnnnggggggggg...Traaaaaanggggg..
"lihat saja, aku pasti akan menang" ucap Naruto
Traaaaaaannnnggggggg...Trriiiiiiiiiiiiiiinnnnnggggggggg...Traaaaaanggggg..
"Aku pastikan akan membunuhmu saat ini juga. " ucap Deusolbert
Traaaaaaannnnggggggg...Trriiiiiiiiiiiiiiinnnnnggggggggg...Traaaaaanggggg..
"Ayo siapa takut." Ucap Naruto
Mereka berdua pun terlontar saat adu antara pedang dan kapak tersebut, mereka jatuh tersungkur akibat benturan tersebut, akhirnya mereka pun bangkit kembali dan melesat menyerang satu sama lain dengan kecapatan yang menganggumkan.
"Mati kau bocah!" ucap Deusolbert
"tidak akan. Aku tidak akan mati disini!" pekik Naruto
Traaaaaaaaaaaaaaaaangggggggggggggg...
membuat suara logam tajam sebelum terlempar keluar dari tangannya. Pedang milik Knight tersebut rupanya terlontar akibat serangan pamungkas milik Naruto. Deusolbert kini terkejut karena saat ini, pedangnya sudah terlontar kearah sisi berbeda sedangkan Naruto masih memegang kapak miliknya, dan bukan hanya itu saja yang membuatnya terkejut, karena saat ini, dirinya tak bisa bergerak akibat Genjutsu yang diberikan oleh Naruto saat beradu pedang barusan.
"Sial sejak kapan, kenapa badanku tidak bisa bergerak" keluh Deusolbert
"Saat beradu pedang tadi, aku sudah memberimu genjutsu Knight-san, harusnya kau tidak terlalu percaya diri saat menatap kedua mataku. akibat kau meremehkan hal itu, kau terjebak dalam Genjutsu milikku" ucap Naruto
"Sialan, kau bocah keparat..!" geram Deusolbert
Dilain sisi
Canaria dan Alice benar-benar takjub dengan pertarungan antara Naruto dan Deusolbert, mereka benar-benar disebut tengah bertarung dengan kelas Atas. Begitu juga dengan Kirito dan Eugeo merasa begitu, mereka berdua juga tahu akan hal itu karena mereka berdua sangat tahu betul ilmu pedang, Kirito dan Eugeo sendiri tak menyangka Naruto sangat mahir mengusai Sword Skill bahkan dirinya hanya bertarung menggunakan Dragon Axe Bone yang beratnya bukan main untuk mereka berdua, akan tetapi ditangan Naruto, Kapak tulang Naga itu bahkan bergerak bebas seirama dengan ayunan Naruto layaknya Naruto benar-benar mengendalikannya. Padahal baru 4 hari ia bisa mengayunkan kapak itu. Mereka semua benar-benar terkejut dengan rahasia yang dimiliki Naruto.
'Aku tak menyangka Naruto-kun sangat menguasai ilmu pedang' gumam Canaria.
'Dia.. dia bahkan bisa menggunakan Dragon Axe bone itu layak sebuah pedang' pikir Eugeo
'Sebenarnya siapa dirimu sebenarnya Naruto' gumam Kirito dalam batinnya
'Naruto. Kenapa kau melakukan semua ini untukku.' gumam Alice dalam hatinya.
Disisi Naruto dan Deusolbert.
Deusolbert kini menggeram marah, baru kali ini semenjak ia menjadi Intergrity Knight, ia berhasil dikalahkan bocah dalam adu swordskill. Kali ini ia tidak akan menahan diri lagi. Karena itulah ia akan mengerahkan kartu AS nya.
'Menarik-menarik sekali, aku tak menyangka ada monster seperti dia, lebih baik aku lebih serius menari dengannya sebelum aku membunuhnya' pikir Deusolbert
"Bagus, bagus sekali pertujukan kali ini bocah, tapi aku tidak akan kalah, karena aku yang akan menang" seru Deusolbert kemudian meningkatkan intensitas Energinya.
BLAAAAAAAAASHHHHHHHH….
Bagaikan seruan perintah dari Deusolbert, hempasaan angin pun menghempaskan mereka semua, itu membuat Naruto, Kirito, Eugeo, Canaria serta Alice terhempas ke sisi masing-masing.
Hempasan angina itu, membuat Naruto terhempas menuju bagian ujung alun-alun.
'Ini seperti Shinra Tensei, hanya saja ia menggunakan sihir aneh untuk menghempaskan ku menggunakan udara disekitaranya, sial aku benar-benar lengah kali ini' pikir Naruto
Naruto yang menerima hantaman yang berasal dari hantaman tidak biasa itu juga tubuhnya ditekan saat dia terjatuh. Pipi kanannya tertekan pada dinding berbatu, sementara dia memperlihatkan ekspresi kesakitan.
"Heh kau terlihat menyedihkan Gaki, mana ekspresi kepercayaan dirimu tadi, kalau kau tidak mengerahkan seluruh kekuatanmu, kau akan tamat Gaki" seru Deusolbert
Naruto pun segera bangkit berdiri dan mengelap tetesan darah yang mengalir dari bibirnya, dia pun mulai berdiri kembali untuk menantang sang Knight tersebut.
"Heh aku tidak akan tamat semudah itu Knight-san" ucap Naruto dengan lantang.
"Hahahahaha, baiklah kalau itu maumu, aku akan meningkatkan intensitasnya" ujar Deusolbert
Deusolbert kemudian melapalkan mantra Control Art miliknya yang terdengar asing untuk Naruto, setelah menyelesaikan itu Naruto dikejutkan dengan kilatan petir yang muncul dari tangan Deusolbert dan mulai menyambar area sekitar Naruto. Canaria, Kirito, Eugeo, bahkan Alice pun mulai berteriak cemas saat petir akan menghantam Naruto.
CLIPPP…..CLLLLIIIIPPPP…..CLLLIIIIPPP…..
BZZZZZZTTTTTTTT…BZZZZZZZTTTT..BZZZZZZZZZZZTTTTT…
JRASSSSSHHHHHHH…..JRASSSSSHHHHHHHHH…JRASSSSSSSSHHHHH…
'ini mirip Chidori-nagashi milik Teme, efeknya sangat berbahaya jika serangan itu mengenaiku, sial kalau begini' pikir Naruto
Naruto pun mulai merapalkan segel jutsunya.
Futon : Kamikaze no jutsu
Naruto pun kemudian meniupkan 2 buah angin puting beliung berskala kecil tersebut terhadap petir buatan control art milik Deusolbert. Dan hasilnya
BLAAAAAAARRRRRRRRRR…
Hasilnya membuat seluruh Alun-alun desa rulid rusak parah akibat hantaman kedua elemen yang saling berlawanan tersebut. Debu-debu, mulai bertebangan. Puing-puing pun mulai menghantam mereka disekitarnya, tapi untungnya bagi Canaria, Eugeo, Kirito dan Alice, mereka semua sempat menjauh dari area tersebut saat Naruto dan Deusolbert akan menghantamkan serangan mereka, alhasil serangan tersebut tidak memakan korban.
Belum selesai serangan pertama, Deusolbert kembali menggunakan Control Art miliknya, kali ini ia menggunakan elemen api mirip Katon : Goukkakyuo no Jutsu. Melihat api yang datang kearahnya membuat Naruto merapalkan kembali segel jutsunya.
Suiton : Suiryuudan no Jutsu
Naruto rupanya mengelurkan jutsu naga Air miliknya untuk beradu dengan Control art api milik Deusolbert dan hasilnya..
BLAAAAAAAASSSSSSSSSSSSHHHHHHHHHH…..
Hasil pertemuan dua serangan yang saling berbeda elemen tersebut menghasilkan kabut asap yang begitu lumayan tebal, sehingga menutupi medan pertarungan, menggunakan Sharingan miliknya Naruto memutar pandangan sekitarnya, dan tepat dibelakangnya Deusolbert sudah mengarahkan Tijuuannya tepat dihadapan kirinya akan tetapi Naruto berhasil mengantisipasi dengan menepis serangan tersebut menggunakan tangan kanannya.
Wussshhhhhhhhhh.
Taaaaaapppppppppppppppp
Keduanya pun berbenturan didalam kabut Asap, baik Naruto maupun Deusolbert, mereka berdua mengkonsentransikan Energi mereka ditangan andalan mereka masing. Beturan pun berjalan seimbang, sehingga mereka berdua terpental menuju keluar kabut.
Mereka berdua pun berhasil menghentikan lontaran tubuh mereka dengan berpijak disisi masing-masing.
Mereka pun kemudian saling melesat untuk melepaskan pukulan mereka, adu pukulan serta tendangan pun terjadi diantara mereka
Buaaaagggghhhhhh...Buaagggggggggggghh...Buaaaaggghhhhhhhhh...
Naruto pun melesatkan tinju kepada Deusolbert, Deusolbert kemudian menepisnya dengan tangan kanan miliknya, dengan sekejap Naruto pun melepaskan congkelan terhadap kuda-kuda Deusolbert, sehingga membuat Deusolbert kehilangan keseimbangan, Naruto pun menyerang Deusolbert dengan tangan kirinya, akan tetapi seakan-akan mengetahui pemikiran Naruto.
Deusolbert berhasil menepisnya menggunakan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya berpijak sebagai kesimbangan, Deusolbert pun melesatkan pukulan serangan balik, dirinya mencoba menghantam perut Naruto akan tetapi Naruto berhasil menahannya dengan tumitnya sehingga ia pun dengan bebas memukul perut Deusolbert, akan tetapi disaat bersamaan kaki kanan Deusolbert menghantam kepala Naruto, sehingga mereka pun terlontar kembali kearah berbeda akibat saling adu pukul disana.
BRAAAAAAAAKHHHHHHHH…..
"Cougghhhh" ucap Naruto sambil memuntahkan darahnya itu.
"Naruto/Naruto-kun" teriak Eugeo, Kirito, Alice dan Canaria melihat Naruto terlempar dan membentur dinding dan terluka cukup parah didalam. Bahkan ia sendiri mulai terbatuk mengeluarkan darah dari mulutnya tersebut.
Tidak begitu berbeda dengan Deusolbert, keadaannya juga sama, ia terluka cukup dalam, walau armornya sudah dilapisi Control Authority, akan tetapi pukulan dilapisi Cakra dari Naruto sukses membuat armor merah kebanggannya retak dan hancur sebagian. Ia bahkan memuntahkan darahnya sedikit karena pukulan dari Naruto barusan.
Dengan cepat ia membasuh darah yang mengalir dari mulutnya tersebut secara kasar, dan dia pun mulai berdiri dengan perlahan.
"Hahahaha menarik-menarik sekali bocah, kali ini aku benar-benar mengakuimu, kau adalah orang yang terkuat kedua yang pernah aku lawan, bahkan sihir serta bela dirimu sangat menganggumkan dan membuatku terhibur." seru Deusolbert
Naruto yang mendengar hal itu mencoba bangkit berdiri, walau sudah kesakitan dirinya tidak boleh kalah, karena jika ia kalah Alice akan dibawa pergi olehnya, oleh karena itu dirinya tak akan membiarkan hal itu terjadi. Alice yang melihat Naruto terluka parah hanya untuk bertarung demi menyelamatkannya itu hanya menitikan air mata saat melihat keadaan kacau dari Naruto.
"Kumohon, Naruto.. berhentilah sebelum semua ini terlambat" gumam lirih Alice.
Akan tetapi bukan Uzumaki Naruto namanya, jika dia orang keras kepala dengan tekadnya serta tidak mau menyerah dalam usahanya itu.
"Oh rupanya kau masih bisa menari juga, menarik-menarik sekali untuk orang tidak tahu diri, orang sepertimu seharusnya sudah menyerah disaat begini, tapi kau terlihat menarik dengan tekadmu kali ini, oh bagaimana jika kalau begini, aku akan melepaskanmu jika kau mau menyerah dan ikut bersamaku menghadap Megami-sama, aku yakin Megami-sama akan memaafkanmu jika kau ikut bersamaku, jadi bagaimana apa kau tertarik Gaki?" tanya Deusolbert
Mendengar hal itu membuat Naruto hanya menatap kosong Deusolbert, dirinya hanya berekspresi datar saat mendengar tawaran dari Deusolbert tersebut, dirinya kemudian hanya menatap tajam Deusolbert yang sudah menghina harga dirinya tersebut.
"Heh. Menyerah dan menghadap Megami-sama, Aku rasa itu adalah perbuatan orang idiot, aku tak akan melakukan hal hina itu, asal kau tahu aku Knight-san, aku tak akan menyerah dan aku tak akan menarik kata-kataku lagi, aku bersumpah akan mengalahkanmu disini" seru Naruto
Mendengar penuturan Naruto kali ini, membuat ia marah dan menggeram kesal, sesaat kemudian Deusolbert hanya menghembuskan nafasnya dengan dalam dan mulai menanggapi perkataan Naruto dengan nada datar.
"Baiklah.. baiklah.. kalau itu maumu, sayang sekali.. aku sudah memberikan banyak waktu untukmu. Tetapi kau tak mau menggunakan kesempatan itu, oleh karena itu kau akan mati disini Gaki!" ucap Deusolbert.
Setelah Deusolbert berkata seperti itu, ia pun mulai meningkatkan Energi mana miliknya, ia pun mulai memunculkan sebuah busur panah coklat kemerahan. Dia pun juga memunculkan anak panah sambil mengucapkan mantar aneh, Naruto tidak tahu apa itu tetapi ia harus segera membuat serangan akan tetapi.
"Cooouuugghhhh" suara batuk pun terdengar dari Naruto, kali ini begitu banyak darah mengalir segar dari mulut Naruto.
'Sial luka dalamku semakin parah, aku lupa kalau fisikku tidak lebih dari bocah berusia 12 tahun, aku sudah menggunakan jutsu Rank tipe B-A, akibatnya aku kehabisan cakra. Sial kalau saja aku bisa membangkitkan Rinnegan atau Senjutsu, mungkin hasilnya akan berbeda' pikir Naruto
"Naruto-kun" pekik Canaria saat melihat Naruto terbatuk. Akan tetapi Naruto hanya membalas dengan senyuman saat Canaria mengkhawatirkan keadaanya itu.
Integrity Knight meneriakkan kalimat terakhir dengan jelas.
"- Enhance armament!"
Armament Full Control Art
Dengan suara 'po', api orange telah muncul di tali busur yang putus menjadi dua dan tergantung di ujung. Api yang memusnahkan tali busur dalam sekejap mata dan lalu sesuatu terjadi pada saat itu mencapai kedua ujung dari busur besar.
Api gelap yang terbakar muncul dari seluruh busur tembaga. Dengan seketika Deusolbert mengarahkan beberapa anak panahnya kearah Naruto. Dia pun kemudian menembahkan beberapa anak panah api tersebut secara cepat mengarah pada Naruto..
BLASSSSSSSSSSSHHHHHHHHH….
BLASSSSSSSSSSSSSSSSSSSSHHHH…..
BLASSSSSSSSSSSSSSSSSSSSHHHH…..
Akan tetapi dengan susah payah Naruto sendiri berusaha menghindari busur-busur panah itu.
BLAAAAAAAAAAARRRRRRR…
BLAAAAAAAAAAARRRRRRR…
BLAAAAAAAAAAARRRRRRR…
Sebuah api yang kelihatannya cukup untuk membakar kulit seseorang, membuat Eugeo, Kirito, Canaria serta Alice terkejut bukan main. Jadi inikah kekuatan sejati dari seorang Intergrity Knight, ini memang diluar dari perkiraan mereka semua.
"Gagal yah, hnn bagaimana dengan 30 anak panah api sekaligus" ucap Deusolbert dengan lantang.
Deusolbert kemudian menembakan 30 panah api tersebut kearah Naruto.. sontak melihat banyaknya anah panak membuat Naruto kesulitan menghindar. Bahkan..
BLLLLAAAAASSSSSSSHHHHHH..BLASSSSSSH…BLASSSSSSSSSSHHH….
JLEEEEEEEEEEEEBBBB…JLEEEEEEBBBB…JLEEEEEEBBBB…..
"Coughhhhttttttt…ohhookkkkk...!" pekik Naruto sambil memuntahkan darah miliknya akibat terkena 3 buah panah api di kaki kanannya, bagian perutnya serta dada kananya, semua anak panah tersebut berhasil menembuh tubuh Naruto saat itu. Dan dengan perlahan membuat roboh Naruto ditempat akibat tusukan 3 anak panah api itu.
"Naruto/Naruto-kun" teriak Kirito, Eugeo, Alice dan Canaria melihat robohnya Naruto saat itu juga.
"Cougghhhttttttt" Naruto kembali memuntahkan darahnya saat ia tergeletak ditanah akan tetapi Naruto tetap saja berusaha sekuat tenaga untuk bangun, melihat keadaan itu Deusolbert hanya tertawa saat Naruto masih saja mau berusaha membangunkan dirinya itu.
"Hahahahaha. Apa kau ini bocah tak tahu diri, bukan kau seharusnya menyerah setelah kau merasakan kematianmu sudah dekat, lihat badanmu saja sudah banyak terkena luka bakar dan kehilangan banyak darah. Seharusnya kau sadar akan hal itu." ucap Deusolbert
Akan tetapi meski ia memuntahkan darahnya, ia tetap berusaha untuk bangun, walau dengan badan gemetaran sekalipun. Naruto berusaha membangkitkan dirinya kembali, meski sempat terjatuh, ia tak menyerah sampai akhir. Ia tetap berusaha untuk bangkit meski tubuhnya tak mendukung sekalipun.
"Couughhtt.. mes..ki.. aku .. coughhtt...harus.. mati.. coughhttt...itu..lebih. baik.. dari pada..aku.. menyerah.. ditanganmu.." ujar Naruto sambil menahan rasa sakit yang amat mendalam. Dia pun berusaha untuk bangkit akan tetapi ia malah terjatuh kembali.
"Hahaha baiklah, kalau begitu, aku akan mengabulkan permintaan terakhirmu Gaki, anggap saja ini hadiah karena sudah menghiburku" ucap Deusolbert sambil menyiapkan banyak anak panah api didalam busurnya tersebut.
Kirito, Eugeo, Canaria, dan Alice hanya terpaku kaku saat melihat banyak anah panah itu akan menghujam tubuh Naruto. Melihatnya ini seperti serangan terakhir yang akan menamatkan riwayat sahabatnya itu. Alice pun mulai menangis dan merasa teriris melihat Naruto kini, pengorbananya sangat luar biasa bahkan untuk dirinya yang berdosa itu.
Dia tak habis pikir, masih saja ada orang bodoh seperti Naruto mau mengorbankan nyawa hanya untuk melindungi dirinya yang sudah berlumur dosa itu. Hatinya pun begitu menjerit saat melihat sahabat pirang berkulit tannnya itu hanya meringis kesakitan saat mencoba untuk bangkit.
Alice benar-benar heran, kenapa dirinya tak berusaha untuk kabur, kenapa dirinya rela mengorbankan tubuhnya hanya untuknya menyelamatkannya, mengapa dia melakukan hal itu untuknya, dia bahkan tak bisa menerima dengan akal sehat mengenai apa yang dilakukan Naruto sekarang.
Oleh karena dari pada ia melihat Naruto mati. Lebih baik.. lebih baik Alice merasa menderita saat ini, oleh Karena itu. Dia..
"Dengan ini tamatlah riwayat kau Gaki" ucap Deusolbert
Saat Deusolbert mencoba melepaskan anak panah itu terhadap Naruto yang keadaan sudah mengkhawtirkan itu tiba-tiba saja.
"Kumohon Hentikan Knight-sama!" pekik Alice dengan lantang.
Sontak semuanya begitu terkejut melihat Alice berteriak, alhasil pertarungan pun terhenti akibat teriakan Alice barusan. Bahkan Deusolbert menghilangkan anak panah apinya saat mendengar teriakan Alice.
"Ali..ce" ucap lirih Naruto
"Hikks… Hikksss. Kumohon hentikan Knight-sama. Kumohonn.. sudah cukup untuk saat ini, aku mohon padamu.. " ucap Alice
"Heh memangnya aku akan mendengarkan omongan mu bocah!" seru Deusolbert
Mendengar hal itu membuat Alice sendiri mendekat kepada Deusolbert, dia pun segera bersujud dihadapan Deusolbert. Sontak perbuatanya kini membuat Kirito, Eugeo, Canaria, bahkan Naruto begitu sangat terkejut.
"Kumohon Knight-sama, aku akan menuruti apa perintahmu, asalkan Knight-sama tak menyerang Naruto lagi hiksss…" ucap Alice dengan lirih sambil menangis bersujud dihadapan Deusolbert.
"Ali…ce.. kumohon… jangan..lakukan itu.." ucap Naruto dengan nada serak..
Akan tetapi baginya, kini hidup Naruto jauh lebih berharga darinya oleh karena itu dia akan menuruti semua yang di inginkan oleh Knight dihadapnnya itu…
Deusolbert pun hanya menyeringai mendengar ucapan Alice saat itu juga. Dia yakin, cepat atau lambat Alice akan menyerahkan dirinya ketika ia melihat sahabatnya dalam keadaan kacau.
'Akhirnya sang wadah Megami-sama tunduk juga terhadap perintah gereja' pikir Deusolbert
"Baiklah aku akan berhenti menghabisinya, asal kau bocah, bersedia ikut bersamaku ke Gereja pusat"
"Aku bersedia, asalkan anda melepaskan Naruto saat ini juga Knight-sama" ucap lirih Alice
Mendengar hal itu sontak mengejutkan Kirito, Eugeo, Canaria dan Naruto.
"Alice/Nee-chan" pekik Kirito, Eugeo dan Canaria secara bersamaaan.
"Ali..ce.." gumam Naruto dengan nada samar.
Mendengar penuturan Alice membuat Deusolbert tersenyum puas, akhir dengan ini tidak ada kendala membawa sang wadah menghadap Megami-sama.
"Baiklah aku akan melepaskannya lagipula cepat atau lambat dia tak akan tertolong lagi, sekarang kau bocah ikut aku ke Gereja pusat"
Alice pun hanya mengangguk dan menyetujui apa yang diminta Deusolbert.
"Ali..ce.. ku mohon.. padamu.. jangan.. pergi…jangan..mengorbankan..dirimu…" ucap parau Naruto
Akan tetapi Alice hanya tersenyum lirih pada Naruto, dan tak menggubris perkataan Naruto, dirinya sendiri hanya menangis saat melihat keadaan Naruto kali ini. Oleh kerena itu dia harus berkorban untuknya, untuk pahlawannya kini.
"Al..iicee…..ku mohon jangan pergi….."
Naruto dengan susah payah berteriak.
"Eugeo, Kirito!, kumohon… Kumohon pada kalian, selamatkan Ali..ce!" ucap Naruto dengan nada samar
"A..."
Seluruh tubuh Eugeo dan Kirito menjadi bergemetar. Pergi. Aku harus pergi. Aku harus mengambil kembali Alice dari tangan knight itu, lalu melarikan diri menuju hutan selatan.
Suara samar-samar bergema dari ujung mereka berdua Tapi, dengan segera, sebuah rasa sakit yang tajam menyerang mata kanan mereka berdua seolah-olah seperti ditusuk, menghempaskan semua tujuannya. Bersamaan dengan cahaya merah yang bergetar itu, suara keras lainnya menggema seperti sebuah lonceng rusak.
Gereja Axiom adalah mutlak. Taboo Index adalah mutlak. Tidak mematuhinya adalah larangan. Larangan untuk semua orang.
"Eugeo, setidaknya tolong bawa lari ..kumohon padamu..." ucap Naruto dengan lemah.. akan tetapi Eugeo pun tak menanggapinya, karena badannya kini bergetar dengan kencang.
Integrity Knight itu tidak lagi mempedulikan apa yang diucapkan Naruto yang tengah terbaring tak berdaya di alun-alun, dia memasang ujung rantai tadi pada pelana yang ada di punggung naga terbangnya. Saat naga itu merendahkan lehernya, knight tadi memanjat pada pelana itu tanpa ada kesulitan.
Armor peraknya berkilauan dengan terang.
Dalam keadaan tertelungkup, Naruto berusaha bangkit sekuat tenaga untuk mencegah kepergian Alice, akan tetapi meski ia sudah berbuat sejauh itu, tubuhnya tak bisa lagi bergerak akibat dampak luka parah ditubuhnya tersebut. seolah-olah dirinya tak ingin Alice pergi dari hadapannya, salah tangan Naruto terus berusaha menangkap sosok si gadis bersurai pirang tersebut, tetapi sayangnya dalam keadaan tertelungkup, Naruto hanya bisa mengadahkan salah satu tangannya ke hadapan sosok Alice yang mamandanginya dengan pandang sulit diartikan dan penuh makna tersebut.
"Ali..cee... jang..an...pergi..!—"
Naruto berteriak saat dia memuntahkan darah.
Naga terbang putih itu mengangkat tubuhnya, dan membentangkan sayapnya secara keras terdengar dua, atau tiga kali.
Alice yang terikat pada pelana naga tersebut, memandang lurus pada Eugeo, Canaria dan Kirito sambil tersenyum. Seolah-olah dia mengucapkan 'Selamat tinggal,' dengan kedua mata birunya. Begitu juga ia tak lupa mengarahkan pandanganya terhadap Naruto tengah terluka parah, dia memandang Naruto dengan tatapan penuh makna dan sulit diartikan, dia pun menangis dan menitikan Air matanya.., Rambut pirang panjangnya terurai karena angin yang disebabkan oleh kepakan sayap, berkilauan dengan terang seperti armor knight itu.
"Alii…..ceeeeee….." teriak lemah Naruto saat melihat Alice dibawa pergi oleh Deusolbert menuju gereja pusat.
"Naruto.. Sayonara!" ucap Lirih Alice sambil memandangi Naruto.
Seakan tubuhnya tak sanggup lagi bertahan, pandangan Naruto mulai menggelap ketika ia melihat terakhir kalinya Alice untuk saat ini mulai tersenyum lirih padanya. Dan setelah itu dia pun roboh tepat ditengah Alun-Alun yang Kacau tersebut.
TO BE CONTINUED
Yosh ini adalah Chapter 3 is Done. Oke tanpa basa-basi Auhtor langsung saja menceritakan apa yang dibahas didalam Chapter 3, tentunya didalam Chapter 3 tersebut, ada sepenenggal kisah Ekpedisi menuju Pegunungan Utara, mulai ditemukan fakta yang begitu mengejutkan seperti kematian Naga putih, serta Inside pelanggaran Taboo Index yang dilakukan Alice, selain itu chapter ini juga menceritakan sepenenggal pertarungan Naruto VS Deusolbert sang Intergrity Knight, akan tetapi kali ini Naruto mengalami kekalahan telak, yang membuat ia sekarat dan juga Alice harus terpaksa pergi meninggalkan kampong halamanya.
Mungkin ini akan terlihat sangat membosankan apabila anda pernah membaca Arc Alicization tetapi Author sendiri berjanji akan mulai menampilkan beberapa perbedaan dari Canonnya. Oleh karena itu jika kalian ingin mengikutinya silahkan ikuti terus perkembangan Fic ini.
Maaf kalau masih ada penulisan yang Typo, Ambigu, Gaje dan sebagainya. Author akan berusaha terus untuk memperbaiki hal tersebut.
Silahkan RnR Minnaa...
