Don't look back
.
.
.
by Galang
.
.
Main chara:
U.Sasuke
U.Naruto
H.Sakura
H.Hinata
.
Genre:Suspense,Horror.
.
Disc:M.Khisimoto
.
.
.
Chapter 3: Hyuuga Hinata
"Naruto!! "
"Naruto... hey... Naruto bangun! "
Terdengar suara Sasuke yang mencoba membangunkan Naruto, Sasuke mengguncang-guncang tubuh Naruto dengan kedua tangannya, berharap pemilik tubuh akan bangun.
Sementara Naruto hanya meracau tak jelas dan masih menutup matanya, menggumamkan kata-kata yang sungguh membuat Sasuke dan Sakura bingung.
Mereka tahu saat ini Naruto mungkin tengah bermimpi, terlihat saat Naruto berbicara, berteriak, meminta tolong, tapi matanya masih tertutup.
"Baka!... bangun Dobe... hey" Sasuke menampar pipi Naruto agar segera bangun, tapi percuma saja.
Byuuuur!!
Siraman air sukses mengenai wajah Naruto. Sasuke menengok kesamping dan mendapati Sakura yang tengah memegang botol minuman yang sudah kosong. siraman tadi berasal dari Sakura, berharap Naruto sadar.
Dan benar saja, setelah menyiramnya dengan air, Naruto langsung terbangun, membuka matanya dan menampilkan dua manik safirnya. reflek bangkit setelah kesadarannya pulih karena dikagetkan dengan sensasi lembab dan dingin menerpa wajahnya.
Naruto yang kalap dan panik saat itu langsung melayangkan tinjunya tanpa mencerna keadaan sekitar.
Buak!
Sasuke yang paling dekat terkena pukulan Naruto dan sukses membuatnya tersungkur kebelakang.
"Hey apa-apaan kau Naruto! " teriak Sakura yang dengan cepat menghampiri Sasuke.
Naruto membulatkan matanya, otaknya sudah bisa mencerna keadaan sekitar. matanya terpaku pada Sakura yang kini membantu Sasuke bangun. Terlihat lebam diwajah Sasuke tepat dipipi kanannya.
"Apa yang kau pikirkan baka! " cerca Sakura lagi dan sedetik kemudian mencoba menyentuh pipi Sasuke, tapi Sasuke menahannya.
Naruto mangap, merasa otaknya tak bekerja, berusaha mencari kalimat apa yang harus ia keluarkan.
"Dobe kenapa kau memukulku?" tanya Sasuke sambil meringis sedikit.
"A... ah... anu... Sasuke... maaf aku langsung reflek" tergagap, seakan mulutnya susah sekali mengeluarkan kalimatnya.
Meski berusaha mencerna keadaan, tapi sebagian pikirannya masih melayang pada kejadian yang barusan dia alami. sedikit rasa lega terpatri dihatinya karena mengetahui itu semua hanya mimpi. Dan sedikit rasa takut karena merasa hawa tak enak pada Sasuke, mungkin dia akan mendapatkan balasannya.
Buak!
Dan benar saja. Sasuke. membalas meninju Naruto tepat dipipinya.
Malang baginya yang kini tengah meringis memegang pipi kanannya. rupanya sangat menyakitkan mendapat pukulan yang akan ia tahu datang padanya, berbeda dengan yang tiba-tiba mendapat pukulan. pasti lebih sakit yang sudah menerka kejadian itu.
"Makanya jangan asal pukul saja Naruto" ucap Sasuke sambil berkacak pinggang didepannya. mereka berdua kini sudah berada di luar tenda sementara Sakura masih berada di dalam tenda.mengingat hari sudah pagi.
Naruto hanya berjongkok sambil terus setia memegangi pipinya dengan kedua tangannya.
"Teme aku itu reflek, aku pikir kau nenek-nenek yang ada dalam mimpiku tadi" terang Naruto, raut wajahnya tampak menahan rasa sakit yang terasa dipipinya.
"Dan kau dengan seenaknya memukul wajahku? " balas Sasuke sambil menunjuk bekas pukulan Naruto dipipinya.
"Yah... namanya juga kaget Sasuke, aku kaget tiba-tiba bangun seperti itu, dan tanganku bergerak sendiri" elaknya berusaha menjelaskan. tapi percuma saja, semuanya sudah terjadi. biarpun menjelaskannya sampai berdebat sekalipun tak akan menghilangkan rasa sakit dipipi masing-masing.
Sasuke diam, Naruto pun diam. Sasuke memakluminya karena barusan Naruto bermimpi buruk. toh dia juga sudah membalasnya, anggap saja semuanya impas.
Naruto sudah menceritakan prihal mimpinya tadi malam pada Sasuke dan Sakura. keduanya menganggap itu adalah bunga tidur, atau mungkin lelah, bisa saja akibat pikiran yang didoktrin oleh suasana yang mereka alami.
Malah Naruto mendapat Nasehat panjang dari Sakura, agar setiap tidur tak lupa untuk ber-doa agar dilindungi sang maha pencipta.
"Sudah jam 08.00, tapi kabut disini masih tebal" ucap Sasuke setelah melihat sekilas jam yang terlingkar ditangan kirinya.
"Dan juga terasa dingin sekali... brrr" Naruto menimpali sambil memeluk tubuhnya.
"Naruto..." panggil Sasuke.
Naruto tak menjawabnya, ia hanya menoleh pada Sasuke.
"Kita pergi mencari sumur disekitar sini, agar bisa membersihkan tubuh kita"
"Kau saja Sasuke, ini masih dingin sekali, apa kau tak liat kabut-kabut tebal ini" Naruto seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Memang masih tebal, apa kau lihat persediaan air kita juga terbatas" Ucap Sasuke sambil menunjuk beberapa botol air mineral yang teronggok didalam tenda.
"Sasuke disini masih dingin, kita tunggu saja dulu matahari" Naruto tak mau kalah, berniat meninggalkan Sasuke dan beranjak dari situ.
"Hey Dobe, jangan seperti itu, ayo sekarang cepat ikut aku" paksa Sasuke yang sudah menarik ujung baju Naruto.
"Apa kau tak bisa mengerti keadaan baka! kubilang kabut masih tebal, aku juga kedinginan" bentak Naruto kesal, menoleh kebelakang dan menarik tubuhnya kasar agar pegangan Sasuke lepas.
Naruto menatap intens Sasuke, Sasuke nampak berbeda, terlihat dari wajahnya yang pucat hampir menyerupai kertas, dan terdapat lingkaran hitam di bagian matanya meskipun samar.
"Baiklah, biar aku sendiri saja"
"Hoy, jangan keras kepala Teme, ini bukan Konoha. apa kau mau tersesat? jangan seenaknya begitu" teriak Naruto saat melihat Sasuke yang sudah meninggalkan tenda.
Sasuke tak menanggapinya dan terus melangkahkan kakinya, hal itu berhasil membuat Naruto geram, dan langdung mengikutinya.
"Sakura, aku dan Sasuke pergi mencari air dulu" teriaknya tanpa menoleh. berharap Sakura mendengar Suaranya. kemudian berlari mengejar Sasuke yang nampak sudah jauh.
Sementara di dalam tenda, Sakura tengah asik mengobrol dengan seseorang. seseorang?.
"Naruto itu aneh, Sasuke-kun kan ada disini, ne Sasuke-kun apakah tak apa membiarkannya pergi sendirian?" tanya Sakura.
"Hn padahal tadi ia menolak saat ku ajak " balas Sasuke sambil membereskan alas tempat mereka tidur.
oOo
.
.
.
.
.
.
Naruto pov
Aku terus mengikutinya berjalan, entah kenapa dia seakan melangkah pasti seakan mengenal tempat ini. Cih si Teme ini menyusahkanku saja. dan lihat sifatnya itu, sudah kutebak si kepala ayam ini tengah merajuk.
"Hooy Teme, apa kau mendengarkanku?" ku teriakkan lagi suaraku, seakan tenggorokanku terasa kering karena dari tadi berteriak.
Dia mengacuhkanku lagi...
ku langkahkan kakiku secepat mungkin agar sejajar dengannya. Tapi entah kenapa aku tak bisa menyamainya. Aku berlari berharap dapat mengejarnya... aneh sungguh aneh, dia hanya berjalan dan aku berlari, tapi aku tak bisa dekat dengannya, malahan semakin lama ia terasa jauh dalam pandanganku.
"TEME!! " kuteriakkan lagi suaraku berharap ia mendengarnya, tapi nihil, aku terus berlari agar bisa mendekatinya. Berlari dan berlari sampai letih menguasai tubuhku.
Aku berhenti, nafasku tak beraturan, kakiku lemas meminta untuk istrahat. entah kenapa dingin semakin terasa dibagian tengkuk, kabut nampak semakin tebal. Kutatap punggungnya yang semakin jauh itu, lama kelamaan ia menghilang ditelan kabut.
"Sialan, akan ku hajar anak itu" geramku, emosi seakan memenuhi hatiku saat ini.
Tanpa pikir panjang lagi, aku segera berlari, memaksakan kakiku untuk bergerak cepat walau sudah sampai batasnya. Entah kenapa jantungku berdegup kencang, prasaanku mulai tak enak, luapan emosi tergantikan dengan kekhawatiran yang tinggi. Kabut seakan menyelimuti sekitar membuat pandanganku terasa kabur.
Suara kakiku yang yang terdengar, nafasku memburu, rasa panas mulai menjalari kepalaku. tubuhku seakan menolak untuk bergerak. Tapi ku acuhkan demi mengejar sahabatku itu.
Aku tak melihat apa-apa selain kabut, pandanganku terus terarah kedepan berharap melihat punggung Sasuke yang dibaluti kaos hitam.
Aku terus berusaha, berdoa dalam hati, memohon agar tak terjadi apa-apa padanya. Karena saat ini, entah kenapa aku merasa khawatir dan kabut-kabut itu membuatku sangat takut.
"Sasuke! Dimana kau?"
Tak kupedulikkan tenggorokanku yang mulai sakit akibat berteriak.
"Sasuke! tolong bersuaralah! jangan bercanda"
Tak kupedulikan kakiku yang minta istrahat.
"Kumohon! kumohon! Jawab Sasuke!"
Tak kupedulikkan suaraku yang mulai bergetar.
"Dimana... dimana kau Sasuke... "
Tak kupedulikkan isakkan tangisku yang sudah seperti bocah ingusan.
"Bersuaralah... Sasuke, kau ada dimana? jangan seperti ini... kumohon"
yang pasti saat ini, aku sangat...
Takut... dan suasana seakan mencekam.
Bruuk
Aku tersungkur karena langkahku yang mulai goyah, daguku terasa perih ketika menyentuh tanah yang lembab, telapak tanganku lecet bergesekkan dengan kerikil kecil.
Berusaha bangkit lagi, seketika aku kelelahan. tubuhku menolak perintah otakku, nafasku sesak, aku menghirup udara sebanyak mungkin.
Kuterawang depanku sekali lagi, aku tak melihat apa-apa selain kabut yang tebal. Rumah-rumah yang seharusnya berjejeran nampak menghilang karena adanya kabut ini.
Crik... crik... crik
Apa itu?
seperti suara percikkan air, suaranya berasal dari samping kiriku.
Byuur...
Sekarang suara guyuran air, sangat jelas tertangkap ditelingaku, suaranya agak jauh. Aku penasaran... tapi tetap saja aku takut. Apakah ini mimpi? tapi aku sudah terbangun tadi.
Dengan berani kulangkahkan kakiku ke arah suara itu, satu langkah, dua langkah, tiga langkah, terasa berat.
Entah dapat dorongan dari mana setelah langkah keempat, penasaranku jadi tinggi dan menimpa rasa takutku. seperti ada sesuatu yang memanggilku, Aura yang seakan menjanjikan kalau semua baik-baik saja, tersirat rasa kenyamanan dihatiku ketika meneruskan langkahku. Aku tak letih lagi, nafasku seakan tenang, jantungku berirama pelan. ku ikuti naluriku untuk terus menuju ke sumber suara.
Saat sampai di tempat asal suara. Semuanya terlihat jelas dimataku, tak ada lagi kabut yang tebal, Aku terkejut dengan pemandangan yang disuguhkan dihadapanku saat ini.
Seorang Wanita berendam dikolam yang ditumbuhi bunga disekeliling kolam itu. Wanita itu berendam sebatas dada, ia memunggungiku. terlihat punggungnya yang putih segar, rambutnya diikat, tangannya seakan mencipratkan air ketubuhnya.
Bisa kutebak wanita itu sedang telanjang. Dadaku terasa sejuk melihat pemandangan itu. Mungkin ini tak sopan karena melihat Wanita yang tengah mandi, tapi entah mengapa aku merasa santai saja.
"Nona... " aku memanggilnya.
Ia berbalik perlahan...
Aku tambah terkejut, Nafasku memburu, mataku terbuka lebar, kurasakan jantungku kembali berdegup kencang setelah melihat wajahnya... dia... dia...
Sangat Cantik...
Ia tersenyum, bibir ranumnya sangat menggoda, alis matanya, hidung mancung itu, oh... sungguh sempurna ciptaan tuhan ini.
Ternyata kolam itu tak dalam, begitu pikirku saat kulihat ia mulai berdiri dan menampakkan sebagian tubuhnya, hanya sebatas perutnya yang terendam air.
Aku kembali disuguhkan pemandangan yang membuatku seperti tersengat aliran listrik, tubuhku menegang kala memperhatikan betapa putihnya tubuh wanita itu. Buah dadanya yang tampak kenyal seakan memanggil tanganku untuk membelainya. Wanita itu tersenyum nakal padaku.
Aku melupakan tujuanku, apa yang sempat kupikirkan kini terganti oleh nafsu yang semakin meninggi, birahiku bergejolak, darahku seakan berdesir.
Tak pikir panjang lagi, dengan cepat kulepaskan semua pakaianku, sehingga aku tak memakai sehelai benang pun.
dengan tergesa-gesa tanpa dikomando kakiku langsung bergerak membawaku bergabung kekolam itu.
Ketika menginjakkan kakiku masuk kekolam aku tak mencapai dasarnya, serasa aneh saat kedua kakiku sukses kuceburkan di kolam itu. Aku tak bisa menapaki kakiku, aku serasa mengambang, tubuhku tenggelam.
Wanita itu memelukku, aku merasakan sensasi yang sangat dingin ketika dadanya rapat dengan dadaku. ia mencumbuku dengan kasar, memagut bibirku dengan buas. Kubalas pagutannya itu dengan menghisap bibir bawahnya, lidahku mengerayang tak jelas mengubek-ubek mulutnya.
tanganku bergerak kedadanya, ku ramas buah dadanya dengan kedua tanganku. sungguh nikmat, buah dadanya terasa kenyal dan masih kencang. pikiranku sudah tak menentu, yang kupikirkan saat ini hanyalah memuaskan nafsuku.
Aku ingin menyudahi percumbuan itu, berniat menghisap puting-puting buah dadanya yang menegang. tapi ia menahan kepalaku dan terus memagut bibirku, aku tak mampu menyeimbanginya, ia sangat ganas menghisap bagian bibirku, seakan bibirku seperti sebuah ice cream.
Lama kami bercumbu, pasokan udara semakin menipis, aku merasa sesak. aku berinsiatif untuk menghentikannya agar dapat menghirup udara. Tapi Wanita itu semakin gencar mencumbuku, dia semakin merapatkan ciuman kami, aku semakin sesak. Aku tak bisa bernafas. tanganku yang tadi meremas payudaranya kini berusaha mendorongnya. tapi ia tak mengindahkannya, ia terus merapatkan ciumannya pada bibirku, bibirku terasa pegal bergerak tak tentu, lidahku keluh. Kurasakan lidahnya menari-nari didalam mulutku menyapu semua gigiku, mengubek-ubek isinya. perasaanku ganjil, entah kenapa lidahnya yang aktif itu terasa sangat panjang.
Mataku memandangnya wajahnya tang seakan menempel rapat denganku
End Naruto pov
~oOo~
.
.
.
.
.
.
Terlihat seorang gadis yang keluar dari sebuah rumah. Gadis berparas cantik itu menutup pintunya dan memakai sandal yang ada didepan pintu.
Gadis berjaket putih mengenakkan rok selutut berwarna hitam itu menengokkan kepalanya kesamping kanan. Disana ia melihat sebuah tenda berwarna biru, tenda itu didirikan tepat ditengah-tengah kawasan rumah tua.
Manik Ametisnya membulat seakan tak percaya...
'Mungkinkah? '
Setelah semalam berpikir yang tidak-tidak tentang siapa pengetuk pintunya. Kini ia sudah mendapat jawabannya didepan mata. Ternyata mereka memang Manusia... yah Manusia, Manusia yang sangat ia harapkan.
Mengikat rambut indigonya, kemudian berlari menuju tenda itu, sejauh mata memandang ia melihat dua orang sedang berbincang-bincang tak jauh dari tenda itu.
Mereka laki-laki dan perempuan. Tapi ada yang aneh, bukannya mereka bertiga? seperti apa yang ia dengar waktu mereka mencoba meyakinkannya.
Ah mungkin salah satunya berada di dalam tenda, Begitu pikir Hinata. setelah sampai ditenda itu, Hinata langsung menyapa dua orang itu.
"Se... Selamat pa-pagi... "
Sasuke dan sakura langsung menoleh kesamping setelah mendengar orang yang menyapa mereka berdua. Keduanya langsung terkejut bukan main.
"Ma... maaf A-apakah kalian yang meng-mengetuk pi pintuku kemarin" tanya Hinata dengan wajah yang merasa tak enak.
Keduanya hanya terdiam, heran, kaget. ternyata memang benar ada orang di dalam rumah itu.
Hinata memandang kedua orang itu, kemudian menundukkan kepalanya. jujur ia merasa bersalah karena tak membukakan pintu kepada orang-orang itu.
Sempat hening beberapa saat, sampai Sakura berinsiatif untuk membuka suaranya.
"Iya benar... kami yang mengetuk pintumu kemarin" ucap Sakura sambil sesekali menatap Sasuke dengan ekor matanya.
Hinata menyunggingkan senyum canggung pada dua orang itu.
"Hmm... ma maaf, A-aku ta... takut saat itu, ma-makanya aku tak membuka pi-pintuku. sekali lagi maaf" ucapnya sambil menundukkan badan beserta kepalanya.
"Ahahaha tak apa-apa kok, itu wajar, karena kami orang asing disini, sungguh tak apa-apa kok" balas Sakura sambil menaruh kedua tangannya kedepan dengan gerakan menyilang.
Sasuke terdiam, ia memperhatikan Gadis itu, gadis bersurai indigo. Aneh rasanya, seperti mustahil. ternyata masih ada orang yang hidup disini.
"Siapa namamu?" tanya Sakura.
"Pe-perkenalkan Nama saya Hyuuga Hinata" jawabnya sambil memperlihatkan senyumnya.
"Ah iya, Namaku Haruno Sakura, panggil saja Sakura" ucap Sakura sambil tertawa sedikit canggung.
"Salam kenal Haru... eh Sakura-san" Hinata kini menatap Sasuke.
Sementara yang ditatap hanya membalas menatapnya penuh arti.
Sakura yang menyadari tatapan Hinata langsung menyikut Sasuke.
"Oh iya, Namaku Uchiha Sasuke, panggil saja Sasuke" Sasuke langsung bersuara setelah Sakura menyikutnya.
Hinata mengenal suara ini, Suara yang kemarin memberi instruksi untuk mengetuk pintu. Hinata langsung menebak, Sasuke-lah yang mengetuk pintunya.
"Ka... kalian dari Kota yah?" tanya Hinata kini memandang Sakura.
"Iya kami dari kota Hyuuga-san"
"Hinata... pa-panggil saja Hinata" potong Hinata cepat.
"Iya Hinata..." ucap Sakura yang kini berjalan mendekati Hinata.
"Ap-Apakah kalian ha-hanya berdua? " tanya Hinata sekali lagi.
"Hmm tepatnya kami bertiga, tapi teman kami tadi sedang pergi keluar mencari air, sampai sekarang belum juga kembali" jelas Sakura yang kini sudah berada tepat didepan Hinata.
Hinata terkejut mendengar penjelasan Sakura, matanya membulat tak percaya. Mereka orang luar, kenapa bisa dengan beraninya berkeliaran sendiri seperti itu.
Sakura heran dengan perubahan wajah Hinata yang jadi tegang itu. Sasuke hanya diam dan memperhatikan Hinata.
"Ada apa Hinata?" tanya Sakura penasaran.
"Sudah berapa lama ia tak kembali?" kini Hinata tak gagap lagi, dia seakan menuntut penjelasan Dari Sakura.
"Hmm mungkin sudah setengah jam, atau lebih, kenapa memangnya" tanya Sakura yang sempat melihat jam tangannya.
Sasuke memperhatikan gelagat Hinata, ia merasa ada sesuatu yang ditakutkan gadis ini.
"Kalian harus mencarinya, harus mencarinya sekarang juga!" ucap Hinata tampak tak tenang, ia maju selangkah dan memegang pundak Sakura dengan kedua tangannya.
"Sebenarnya kenapa Hinata" tanya Sakura yang masih bingung.
Sasuke mendekat pada dua Gadis itu.
"Apakah ada yang aneh setelah dia pergi? atau sesuatu yang ganjil?" tanya Hinata lagi dan masih menatap mata Sakura.
Sakura hanya diam, tak tahu mau berkata apa, pikirannya kalut karena tiba-tiba ditanyai seperti ini.
"Hn, ia berkata aneh sebelum pergi" kini Sasuke yang menjawabnya. Jujur saja Sasuke sangat penasaran, perasaannya mengatakan ada sesuatu yang terjadi pada Naruto.
Hinata melepaskan pegangannya pada pundak Sakura dan kini beralih menatap Sasuke, meminta penjelasan.
"Saat itu kami tengah berbincang, dan aku mengajaknya pergi mencari sumur, tapi ia menolaknya" jelas Sasuke
Flashback.
"Kita pergi mencari sumur disekitar sini, agar bisa membersihkan tubuh kita"
"Kau saja Sasuke, ini masih dingin sekali, apa kau tak liat kabut-kabut tebal ini" Naruto seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Memang masih tebal, apa kau lihat persediaan air kita juga terbatas" Ucap Sasuke sambil menunjuk beberapa botol air mineral yang teronggok didalam tenda.
"Sasuke disini masih dingin, kita tunggu saja dulu matahari" Naruto tak mau kalah, berniat meninggalkan Sasuke dan beranjak dari situ.
Akhirnya Sasuke pun menyerah dan mengikuti Naruto dari belakang. Sejenak ia melihat Naruto berhenti melangkah, saat Sasuke ingin melewatinya, ia melihat Naruto sedang berbalik kebelakang.
Tak ambil pusing,Sasuke terus menuju ketenda dan mendapati Sakura yang sedang melipat pakaiannya didalam tenda. Sasuke kemudian duduk membantu Sakura, ia berinsiatif untuk melipat alas tempat tidur mereka semalam. Sementara Naruto masih berada diluar.
"Sakura, aku dan Sasuke pergi mencari air dulu"
Terdengar teriakkan Naruto dari luar. Sasuke dan Sakura saling pandang satu sama lain, mereka menghentikan kegiatan mereka masing-masing.
"Sasuke-kun? Apa maksud Naruto?" tanya Sakura.
"Hn" Sasuke tak mempedulikannya, ia juga sedikit sibuk dengan pikirannya. apa maksud Naruto? pergi mencari air bersama dirinya?.
"Naruto itu aneh, Sasuke-kun kan ada disini, ne Sasuke-kun apakah tak apa membiarkannya pergi sendirian?" tanya Sakura.
"Hn padahal tadi ia menolak saat ku ajak " balas Sasuke sambil membereskan alas tempat mereka tidur.
End Flashback.
~oOo~
.
.
.
.
.
.
"Ia berkata kalau dia mau mencari air bersamaku, padahal aku berada dalam tenda" jelas Sasuke.
"Kita harus menyelamatkannya sekarang juga Sasuke-san, temanmu dalam bahaya!" Hinata kini menampakkan raut wajah yang sulit dipahami oleh Sakura dan Sasuke.
Sedetik Sasuke dan Sakura saling pandang, kemudian kembali memandangi Hinata yang gelagatnya mulai panik.
"Dalam bahaya? coba ceritakan, dalam bahaya bagaimana maksudmu?" tanya Sasuke mulai penasaran dengan kata bahaya.
"Tak ada waktu menjelaskannya, ayo kita pergi mencarinya, aku akan membantu kalian" Kata Hinata tanpa menghiraukan pertanyaan Sasuke.
"Coba jelaskan dulu... apa maksudmu dengan bahaya?" Sasuke tak mau tertelan penasarannya, ia ingin tahu penyebabnya Hinata seperti ini.
Hinata hanya diam sebentar, berpikir apakah ia harus menjelaskan tentang keadaan desa ini pada mereka?.
"Mungkin kalian menganggapku bercanda, tapi desa ini tak seperti kalian pikirkan, disini tempat terkutuk!" ucapnya lantang, mencoba memberi keyakinan disetiap kalimatnya.
"Jadi mungkin teman kalian sedang berada dalam bahaya sekarang ini" tambahnya lagi.
Sasuke terdiam, memang ada keanehan saat Naruto berpamitan pada mereka,katanya pergi mencari air bersama dirinya?. Saat itupun Sasuke mulai tak merasa enak, perasaannya seakan tak menentu.
"Aku akan mencarinya sekarang juga" ucap Sasuke yang kini mulai melangkahkan kakinya, tapi langsung dicegat Sakura.
"A.. aku ikut Sasuke" kara Sakura terbata, ia juga merasakan firasat yang buruk.
Sasuke memandang Sakura, mencoba mencari kepastian pada manik emerald itu. Kemudian Sasuke mengangguk.
"Aku juga ikut bersama kalian" timpal Hinata.
"Aku tahu seluk beluk desa ini, jadi aku akan membantu" tambahnya lagi.
"Baiklah... ayo kita pergi" ucap Sasuke cepat.
Mereka bertiga, Sasuke,Hinata,dan Sakura berlari ditengah-tengah kabut yang menyelimuti desa ini. Tanpa mereka tahu bahaya sedang mengikuti ketiga anak manusia ini.
Apa yang akan terjadi?
bagaimana nasib Naruto? siapa wanita yang tengah bersamanya.
Tbc
.
..
.
.
.
.
.
A/N: entah knapa chap disini pkiran sy langsung buyar, awalnya ceritanya udah sy susun baik-baik dikepala sy, tp pas diketik malah jadi lain dan tak sesuai yg sy rencanakan. memang ceritanua berubah banget kubuat tapi masih tetap ikutin cerita awalnya. mungkin kerangkanya akan sy ubah lagi. soalnya ad yg ksih masukan tentang endingnya.Kalian tahu gak pongko? semacam kuyang gitu. yang terbang hanya kepala dan organ tubuhnya.kalian masih percaya gak kalo makhluk itu ada?sy prcaya, soalnya baru-baru ini orng di desa sy nangkap gitu. meski dy udah gak brwujud setan.ah jd ngeri jg.
ya elah. sy dari chap kmarin mnta review. tp gak ad jg. mngkin ceritanya jelek yah atau monoton. ahahahaha sudah tebak sy. tp biarlah. sy tetap akan melanjutkan fic ini smpe tamat.
kritik,saran,dan flamenya kawan
