SQUIRREL AND DUCK
MAIN CAST :
B1A4
PAIRING ::
BaDeul/CYoung/YoungChan/ChanDeul/CRo
DISCLAIMER ::
Fict punya author yaa … ^.^ plus plus Sandeul juga#di lempar BANA ke dorm B1A4 XP
Hai hai, readers … masih adakah yang menunggu saya ? semoga ada *puppy eyes* … ehehee … taukah ? setelah bertapa begitu lama(?) akhirnya saya baru bisa nulis fict ini kembali -.- karna otak saya yang tiba tiba buntu *lagi*
Tapi yang buat saya semangat, waktu kembali baca reviewnya readers … aah~ saya terharu TT . TT seneng rasanya, ternyata bisa ketemu teman teman BANA di sini #hug readers
Untuk yang chapter 2 kemarin, sebenarnya ada sedikit kesalahan karna kecerobohan saya yang agak bingung ngepost fanfict di sini =.=a semoga para readers memaklumi u,u
Okey, sepertinya curahan hati saya sudah cukup lumayan agak banyak dan panjang (?) sekarang saatnya menikmati
0-0
Flash back, 6 tahun yang lalu …
"dasar bebek gila !" suara makian itu terasa menggelegar di dalam gendang telinganya, belum lagi di tambah iringan tawa penuh rasa mengejek.
Tapi sang objek peghinaan hanya diam sambil tak lupa menyunggingkan senyumannya.
"ya ! Bebek gila, kau itu bebek ! Setidaknya jadilah bebek yang waras ! Hahahahaaa!" timpal gerombolan anak lelaki itu lagi sebelum mereka akhirnya bosan dan pergi menjauh dari anak lelaki bersurai coklat karamel itu.
Setelah di tinggal pergi, anak bercurai coklat karamel itu pun membalikkan badannya. Bergegas membereskan tasnya yang tadi di lempar gerombolan anak itu dengan beringas.
"kenapa kau tak melawan ?" sebuah suara sukses membuat anak itu menghentikan kegiatannya dan mendongak.
"aku tahu, kau pasti kesal sekali ..." ucapnya lagi.
Masih tak mengerti dengan ucapan anak asing di depannya, anak itu pun berdiri. Memandangi dengan teliti anak di depannya.
Surai hitam itu bergoyang pelan akibat di permainkan angin sore yang lembut. Kulitnya putih bersih, tak seperti kulit anak bersurai karamel yang berwarna putih pucat. Wajahnya pun tak kalah menawan. Dengan gigi kelinci yang membuatnya semakin terlihat menggemaskan.
Tapi ada apa dengan raut wajahnya ?
Alisnya tertaut, matanya memandang sengit ke arah depannya.
"kenapa kau tak melawan mereka tadi ?" ia kembali mengeluarkan suaranya, yang membuat namja bersurai coklat itu tersadar dari lamunannya.
"ah, itu tak berguna ... Untuk apa aku menghabiskan tenagaku jika besokpun mereka akan mengganggu ku lagi ?" terang anak bersurai coklat karamel itu.
"tapi itu membuat kau terlihat seperti pengecut !" anak bersurai hitam pekat itu mulai meninggikan suaranya.
.
.
.
"YA ! memangnya kau siapa berani .berkata seperti itu padaku ?! Kita bahkan belum pernah bertemu !" anak di depannya balas berteriak. Tak terima.
Anak berambut hitam itu tiba tiba terdiam. Dan sedetik kemudian menjulurkan tangannya.
"aku Cha SunWoo, panggil aku Baro !" ucap anak itu dengan wajah di palingkan. Tak ingin anak di hadapannya melihat semburat merah di pipinya.
*flasback end
KRIIIIING !
Mata Sandeul sontak terbuka lebar. Seperti biasa, tidur siangnya akan langsung berakhir saat alarm-nya berbunyi menggelegar di seluruh sudut sekolah.
Ia pun menegakkan badannya. Menatap ruang kelas yang sudah hampir kosong.
Beberapa detik kemudian barulah Sandeul menyadari, suara bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Berarti saatnya pulang*yaiyalah
"kau kenapa ?"
suara itu sontak membuat Sandeul menoleh. Ia menatap seorang anak dengan rambut pirang pucat itu masih duduk di tempat duduknya. Dengan tangan yang menyangga kepalanya yang terarah ke Sandeul.
"gwaenchana" balas Sandeul sambil menyunggingkan senyuman tipis.
Baro POV
"gwaenchana" ucapnya, ia tersenyum padaku.
Tersenyum ?
Itu adalah senyuman paling aneh yang pernah ku lihat. Ayolah, aku hanya tahu kalau bibirnya itu sedikit melengkung. Tapi tidak dengan matanya. Pernahkah kalian mendengar kalau mata itu cerminan perasaan ?
"habis mimpi buruk eo ?" tebakku. Yah, mungkin. Mengingat ia yang sedari pelajaran terakhir tidur. Dan keadaannya sekarang yang terlihat agak kacau dengan keringat yang membasahi pelipisnya dan wajah berantakan.
"ah, tidak juga ... Itu mimpi indah ..." jawabnya sambil mulai membereskan isi tasnya. Ia sama sekali tak memandangku. Seperti menyembunyikan sesuatu.
Ah~ aneh sekali ... Kalau di pikir pikir, untuk apa juga aku memperdulikannya ?
"aku pulang duluan, sunwoo-ssi" ucapnya padaku kemudian beranjak keluar kelas.
"Baro, cukup panggil Baro saja" timpalku sebelum ia benar benar keluar dari ruang kelas.
Ia menatapku bingung tapi kemudian memasang senyumannya lagi
"ne, Baro-ssi"
Baro pov end
o-o
"Gong Chanshik-ssi, ku harap kau jangan pulang dulu setelah pelajaran selesai" suara Kim songsaeng membuat namja bersurai hitam itu menoleh.
"ne ?" tanya namja bernama Gongchan itu.
"nilai test mu kemarin sangat mengesankan, chanshik. Tapi sayangnya nilai IPA mu sangat BURUK" ucap Kim songsae dengan senyum manis yang terlihat begitu menyeramkan di mata Gongchan.
"ku harap kau mau mengikuti pelajaran tambahan sepulang sekolah nanti" lanjut Kim songsaem.
Mendengar itu, Gongchan hanya menghela nafas berat. Pasrah sudah, padahal rencananya ia akan menghabiskan waktu siangnya bersama Sandeul. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Apapun akan ia lakukan agar bisa masuk ke kelas istimewa. Tempat hyung tersayangnya itu.
"ne arasseo kim songsaem !" jawab Gongchan seadanya. Tak lupa memberikan senyuman maut yang dapat membuat siswi siswi di sekitarnya memekik tertahan.
o-o
"hei, Lee Junghwan !"
pekik seseorang dari belakang. Sandeul yang merasa namanya di panggil pun menoleh.
"hm ?" Sandeul hanya berdehem pelan. Ia hanya memandang datar orang di depannya, walau sebenarnya jantungnya sudah berdetak 100 kali lebih cepat dari normalnya(?).
"kau terlihat terburu buru Junghwan-ah ... Apa ada masalah ?" tanya orang itu seraya mengeluarkan senyuman licik di wajah rupawannya. Ia mendekat beberapa langkah ke arah Sandeul. Sampai keduanya hanya berjarah setengah meter.
Secepatnya Sandeul mengkondisikan raut wajahnya. Tak sampai beberapa detik ia pun membalas senyuman namja di depannya.
"em, tidak juga hyung ... Kau ada perlu denganku ?" tanyanya ramah.
Namja di depannya itu mendesis menahan geram kepada Sandeul.
"ani, sebenarnya aku ada perlu dengan orang itu ... Tak ku sangka dia bisa dengan lancangnya berbuat nekat ..." ucap namja di depannya yang tampak sekali ada nada menyindir di dalamnya.
Dan Sandeul dapat menangkap maksud perkataan namja di depannya itu dengan cepat. Tanpa ia sadari, ia mengepalkan kedua tangannya kuat. Sampai ujung ujung jarinya memutih saking kuatnya menahan amarah yang mulai membuncah di dadanya.
"arasseo, Gikwang hyung ... Aku mengerti. Sangat mengerti maksud kalimatmu itu..." ucap Sandeul dengan suara yang terdengar parau
"tapi, kami hanya mengambil hak kami. Dan apa kalian masih belum puas dengan apa yang kalian dapatkan ?" tanya Sandeul tajam.
Namja bernama Gikwang itu pun masih memamerkan senyumannya. Tapi nafasnya mulai tak beraturan karna amarah pun sudah memuncak di dadanya.
Keduanya mungkin tak menyadari kalau mereka dalam keadaan yang sama.
Tak ingin terlihat lemah satu sama lain.
"tak tahu diri ..."
BRUAAGK
o-o
cit... cit...
Sebuah mahluk dengan ukuran kepala sebesar bola pingpong menyembulkan kepalanya di antara resleting tas ransel hitam yang tengah di bawa oleh Baro.
Cit .. Cit ...
Mahluk itu kembali bercicit. Membuat Baro pun akhirnya tersadar dan menoleh ke bawah.
"aiih, sejak kapan kau menyelinap ke sini ?" ia pun mendekatkan tangannya ke mahluk itu. Dengan cepat mahluk berwarna coklat muda itu mendaki(?) tangan Baro.
Baro hanya diam dengan perlakuan mahluk kesayangannya itu. Mahluk itu pun akhirnya menghentikan acara bermain di tubuh majikannya karna sang majkan terlihat tak meresponnya sama sekali.
Mahluk itu kemudian bergerak ke bahu Baro. Kemudian menggigit telinga yang sedikit tertutupi surai pirang pucat itu dengan kedua giginya yang besar.
"aaaakh ! Ya ! Appo !" pekik Baro. Ia pun menoleh ke bahu kanannya dan memberikan death glare pada mahluk itu.
Tapi mahluk itu berbalik diam dan menatap Baro seolah berkata
'siapa suruh kau mengacuhkan ku !'
dan Baro sudah seperti mengerti maksudnya pun hanya menghela nafas. Kemudian mengambil Mahluk itu dari bahunya dengan jari telunjuk dan jempolnya.
"kau, tupai nakal !" Baro kemudian menyentil pelan dahi TUPAI nya itu.
Setelah itu, sang tupai entah kenapa hanya menunduk. Seolah merasa sedih setelah di marahi majikannya. Baro menatap Tupai berbulu coklat karamel itu. Warna bulu yang selalu mengingatkannya pada seseorang.
"kira kira bagaimana kabar bebek itu ya ?"
buuuk
tubuh Baro tiba tiba terjerembak ke depan. Sukses membuat dahinya berciuman panas dengan lantai dingin koridor sekolah.
Dan entah apa kabar tupai yang tadi Baro pegang.
"mi .. Mianhae !"
sebelum Baro sempat mengeluarkan gerutuannya, tiba tiba ucapan maaf telah terlontar dari mulut orang yang tadi menabraknya.
"ma-maaf ! Aku sedang terburu buru ! Maaf !" setelah membungkuk beberapa kali, namja bersurai hitam itu segera berbalik dan pergi. Meninggalkan Baro yang masih terduduk dengan jiwa yang masih terbang melayang(?)
sampai 5 menit pun berlalu, Baro tersadar, kemudian mengedarkan pandangannya ke kanan dan kiri.
"ah, di mana tupai itu ?!"
o-o
Namja itu berlari sekuat tenaganya dengan brutal. Bahkan tak memperdulikan lututnya yang berdenyut setelah tadi tak sengaja ia menabrak orang.
Apa yang membuat namja tinggi itu begitu kalut ?
Jawabannya sekarang tepat berada di mata beningnya.
"hyung ..." panggil Gongchan lirih. sekarang ia sudah sampai di sebuah ruangan serba putih yang khas dengan bau pahit.
Merasa kenal dengan suara itu, namja yang sedari tadi duduk bersila di atas kasur menoleh.
"ne ?" tanya Sandeul dengan senyuman yang tak pernah absent dari bibirnya.
Melihat itu, Gongchan hanya menghela nafas berat. Seolah rasa khawatir sudah meluap entah kemana.
"gwaenchana ?" tanya Gongchan. Ia pun perlahan berjalan mendekati kasur, tempat Sandeul tengah duduk sambil memakan es krim yang sedikit belepotan di sekitar bibirnya.
"Apa lagi yang dia lakukaan ?!" tanya Gongchan kesal. Tangannya perlahan terangkat menuju wajah Sandeul dan menyeka es krim yang berada di sudut bibir Sandeul. Memperlihatkan memar kebiruan di kulit putih pucatnya.
"dan jelas ini bukan sesuatu yang bisa di bilang baik baik saja !" omel Gongchan cepat sebelum Sandeul membuka mulutnya.
Sandeul hanya bisa diam seribu bahasa. Begitu pula Gongchan yang membuat ruangan serba putih itu menjadi sunyi.
Sampai akhirnya Sandeul mulai memecah kesunyian.
"ah, bukannya kau ada tambahan, channie ? Kau tak segera pergi ?" tanya Sandeul semangat.
Berbalik dengan Gongchan yang malah menghela nafas.
"sepertinya aku tak akan pergi. Lebih baik mengantar hyung pulang dari ada mengikuti pelajaran yang memuakkan itu" keluh Gongchan.
"kau akan menyesal jika tidak mengikutinya Gong-ssi ..." ucap Sandeul tiba tiba dengan nada misterius. Membuat Gongchan mengerutkan alisnya bingung melihat hyung anehnya.
"apa maksud hyung ? Lalu kenapa hyung bisa tahu ?" tanya Gongchan penuh selidik. Pasalnya Sandeul cukup mencurigakan dengan senyum anehnya.
"apa sih yang tak ku ketahui tentang mu, channie~~ aku mengetahuimu luar dalam~" ucap Sandeul yang makin membuat Gongchan memasang wajah tak kalah aneh dengan hyung di depannya.
Buuugk
"apa yang kau tunggu ?! Cepat pergi ! Ku yakin kau takkan menyesal !" Sandeul pun dengan tak berperi kemanusiaannya menendang pantat roti Gongchan yang seksi(?)
"aiish, hyung ! Kau yakin tak perlu ku antar ?" tanya Gongchan.
Seperti perkiraannya, Sandeul menggeleng mantap.
"sudah sana pergi ! Belajar yang baik, Channie !" ucap Sandeul sambil melambaikan tangannya tinggi tinggi.
gongchan pun akhirnya dengan sedikit tak rela keluar dari ruang UKS.
tok .. Tok ...
Baru saja Sandeul kembali menyuapkan es krim-yang entah sejak kapan ia beli itu- pintu putih di hadapannya terbuka pelan. Tak lama sebuah kepala dengan topi hitam menyembul dari balik pintu.
"lee Junghwan ?"
o-o
"hei, sampai kapan kau mau mengikutiku ?" tanya Sandeul dengan nada kesal. Ia melirik tajam namja yang berjalan di sampingnya.
Namja itu hanya mengangkat bahunya tak peduli "aku mengantarmu ... Lagi pula aku sudah di mintai tolong dengan anak itu... Eem, siapa namanya ?"
"Gong Chan Shik..." jawab Sandeul dengan suara pelan tapi penuh penekanan. Bisa di lihat empat garis siku siku di dahinya.
Namja itu, Cha Baro tanpa sadar menatap lama Sandeul. Ekspresi tadi seperti tidaklah asing di memorinya.
Untuk beberapa detik, ia melupakan namja yang pertama kali ia lihat dengan anehnya bermain hujan di tengah lapangan dan tersenyum tanpa nyawa padanya.
Seseorang yang sangat berarti baginya ...
Sepuluh tahun yang lalu ..
Tes
Sandeul sontak menoleh ke arah jendela. Tak sampai sedikit, rintikan air dari langit kelabu turun deras.
Wajahnya sontak sumringah.
"aku pergi !" pekik Sandeul, kemudian berlari cepat keluar dari gedung sekolah.
Baro yang masih tak mengerti hanya membeku beberapa saat sampai akhirnya ia mengerti apa yang telah terjadi(?)
"aiish jinjja !" rutuk Baro. Ia pun segera berlari menyusul Sandeul yang berlari kegirangan layaknya anak kecil.
0-0
"YA ! Lee Junghwan apa yang kau lakukan ?!" pekik Baro kuat dari ujung teras sekolah. Tapi sepertinya sekuat apapun pekikan Baro, tak terdengar oleh orang di depannya.
Namja bersurai pirang pucat itu tahu sekali tentang keadaan namja di depannya.
Perkelahian singkat antara ia dan namja bernama Lee Gikwang yang tak terlihat seimbang karna tak ada pembalasan dari Sandeul. Dan tambahan dari namja bernama Gong Chanshik yang mengatakan pastikan Sandeul sampai ke rumahnya secepatnya sebelum namja itu ambruk di tengah jalan.
Dan itu cukup membuktikan betapa lemahnya namja bersurai coklat karamel itu saat tiba tiba terduduk di tengah lapangan dan memegangi kepalanya.
"YA ! Kau kenapa ?!" Baro kembali memekik. Rasa khawatir kembali menyelubungi hatinya. Hatinya mengatakan untuk berlari menolong namja itu. Tapi tidak dengan tubuhnya yang terasa kaku dan bergetar untuk keluar dari teras dan merasakan derasnya hujan yang turun.
Kejadian kejadian lampau kembali terputar dalam otak Baro. Membuat otaknya pun tak kalah pening dengan namja bersurai coklat di hadapannya.
Ia tak suka suara bising air yang jatuh di atas tanah yang lembap.
Ia tak suka aroma tanah yang basah yang tercium begitu menjijikkan baginya.
Namja itu, sekali lagi ...
Tak pernah menyukai hujan.
Tbc …
Sekian untuk chapter 3 ini, mian kalo agak aneh dan membosankan T.T
Ohya, tak mungkin lupa …
Thanks to :
Beakren, Ye'en, Yooooona, Rizzka, aul, xMingx, .5, choi Ryeosomnia, aoora, RizkyKey, rainy hearT, AIrzanti, cyn, , XXJia1993, is0live89, Jang Young Wook
/^.^/
