Because an Eyeliner
By : BoemWonkyu'98
Main Pair : HUNHAN
.
.
.
**HUNHAN**
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
'Kapan aku bisa memilikimu seutuhnya, Kai..' batin seseorang miris.
Nasibnya memang buruk. Ia rela menjadi orang ketiga, demi bisa bersama namja yang dicintainya. Sesorang itu, Kyungsoo. Dia menatap sahabat dan orang yang dicintainya itu dengan tatapan yang sangat miris. Sebenarnya dia bukan merasa miris pada dua orang yang masih diperhatikannya itu, melainkan miris pada dirinya sendiri yang bisa-bisanya mau menjadi orang ketiga dalam hubungan percintaan dua orang didepannya. Apalagi salah satunya adalah sahabatanya, orang yang sudah dia anggap sebagai hyungnya sendiri. Tapi mau dikata apa lagi? Cinta itu memang buta'kan?
Luhan dan Kai masih setia mempertontonkan kemesraan mereka pada semua orang yang ada di Kantin. Dengan tangan Kai yang masih setia memeluk pinggang ramping Luhan dan Luhan yang hanya tersenyum malu mendapatkan prilaku spesial dari kekasihnya itu.
Kai terlihat menatap Luhan yang asik mengobrol dengan Chen dan Tao. Dalam hati Kai berpikir, 'Apa aku masih pantas bersamamu, Lu?'. Kai berpikir dengan segala hal yang ia akukan dibelakang Luhan selama ini, apa ia masih pantas berada disisi orang yang baik dan setia seperti Luhan? Justru saat ini, Kai malah menyia-nyiakan orang seperti Luhan, dengan menghianti Luhan dan menjalin hubungan dengan sahabat Luhan.
Kai mengalihkan pandangannya dari Luhan, kini Kai menatap Kyungsoo yang terlihat tidak bersemangat. 'Maafkan aku, hyung.' Batin Kai. Kyungsoo yang merasa sedang diperhatikan seseorang mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya menunduk, ia lalu memberikan senyum manis pada orang yang sedang memperhatikannya. 'Aku tidak apa-apa, Kai-ah.' Kyungsoo menggerak-gerakkan bibirnya seolah sedang berbicara pada Kai yang ada disebrang meja. Kai yang mengerti, hanya tersenyum, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Luhan yang ternyata sudah memesan semangkuk ramen dan sedang memakannya.
"Hyung pelan-pelan." Kata Kai pada Luhan. Luhan makan dengan terlalu terburu-buru, sampaimembuat noda kecil disudut bibirnya.
"Aku terlalu lapar, Jongin-ah." Jawab Luhan. Kai hanya terkekeh pelan, lalu mengambil selembar tissue dan menyapu noda yang ada disudut bibir Luhan. "Sudah kubilangkan, pelan-pelan makannya." Ucap Kai. Seketika wajah Luhan memerah saat melihat wajah Kai yang berjarak cukup dekat dengannya. "A-aku bisa sendiri." Luhan langsung merebut tissue ditangan Kai dan membersihkan noda dibibirnya sendiri. Luhan merasa sangat malu dan jantungnya berdetak tidak karuan.
"Kyungie, jangan terus menerus menatap mereka, perasaanmu akan semakin sakit." Bisik Baekhyun pada Kyungsoo yang senantiasa memperhatikan pasangan KaiLu didepannya.
"Nan gwenchana, hyung." Balas Kyungsoo tak kalah pelan, bahkan hampir tidak terdengar.
Kalian bertanya kenapa Baekhyun bisa tau mengenai masalah Kyungsoo? Itu karena Baekhyun adalah sahabat yang sangat dipercayai oleh Kyungsoo. tapi bukan berarti Kyungsoo tidak mempercayai kedua sahabatnya yang lain terkecuali Luhan, hanya saja Kyungsoo merasa akan lebih baik jika dia memberitahukan masalahnya pada Baekhyun saja. Karena Baekhyun bisa menjaga rahasia dengan baik. Dan Baekhyun juga pemberi solusi yang baik untuk masalah yang sedang dialaminya.
"Aissh, kalian itu pengumbar kemesraan, aku jadi merindukan Baoziku yang manis itu." Ucap Chen dengan bibir yang dipajukan.
"Gege, kau tidak pantas merenggut. Salahmu sendiri kenapa membiarkan kekasihmu yang chubby itu pergi?" Tao kembali membuat candaan lagi dengan Chen.
"Memangnya aku salah mengumbar kemesraanku dengan, XiaoLu ku?" balas Kai.
"Apa kalian itu tidak lelah sedari tadi bercanda? Aku yang tidak ikut saja lelah mendengar kalian, Tao-ah, Chen-ah." Kini giliran Baekhyun yang angkat bicara.
"Kyungsoo-ah, kenapa kau diam saja? Apa kau sedang sakit?" tanya Luhan yang akhirnya angkat bicara melihat sahabat bermata bulatnya itu hanya duduk diam.
"Aku tidak apa-apa, hyung. Aku hanya sedang tidak ingin banyak bicara." Jawab Kyungsoo.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kau dan aku ketaman yang ada dibelakang sekolah? Bel masuk masih 10 menit lagi." Ajak Luhan pada Kyungsoo.
"Ide yang bagus. Kajja, hyung!"
Luhan dan Kyungsoo berdiri, hendak pergi dari sana, tapi tangan kai terlebih dahulu mencegah Luhan. "Hyung, mau kemana?" Tanyanya. "Nde, kalian mau kemana?" Tao mengiyakan pertanyaan Kai.
"Hanya ingin mencari udara segar." Jawab Luhan melepaskan genggaman tangan Kai.
"Kami ikut!" teriak Chen dan Baekhyun berbarengan. "Tidak, kalian tidak usah ikut. Kami hanya ingin berdua. Kajja, Kyungie!"
"Huh, tidak setia kawan!"
**HUNHAN**
"Hyung, apa kita tidak akan terlambat masuk kekelas?" Tanya Kyungsoo, ia merasa ragu ikut Luhan ke taman.
"Jika kau ingin ke kelas, pergi saja, Kyungie. Aku ingin tidur sebentar disini." Jawab Luhan sambi menyenderkan punggungnya disebuah pohon rindang dan besar ditaman.
"Baiklah kalau begitu. Tapi hyung, sebelumnya aku ingin bertanya."
"Bertanya apa?" Luhan membuka matanya yang tadi tertutup.
"Apa hyung merasa bahagia bersama Kai?" Tanya Kyungsoo, ia meremas tangannya begitu kuat.
"Eh? Kenapa kau bertanya seperti itu, Kyungie?"
"Hanya ingin memastikan hyungku tersayang tidak apa-apa bersama si hitam itu." Suara Kyungsoo terdengar bergetar saat mengucapkan kalimat yang seperti candaan itu.
Luhan tersenyum manis pada Kyungsoo. "Tentu saja aku bahagia. Jongin namja yang baik, ia juga menyayangiku dengan tulus, dan yang paling penting, Jongin menerimaku apa adanya." Ucapnya kemudian.
"Begitu yah, aku senang kalau hyung bahagia. Baiklah aku harus segera kekelas. Hyung jangan ulangi prilaku membolosmu lagi, nde. Sampai jumpa dikelas, paii paii!" Kyungsoo berdiri, ia menepuk-nepuk debu yang menempel dicelananya lalu lekas pergi meninggalkan Luhan.
'Hyung, aku iri padamu. kau namja yang beruntung.' Batin Kyungsoo sambil menyapu air matanya yang keluar.
.
.
.
"AKKH HENTIKHAN! KUMOHON BERHENTI! AKH AKH!" Luhan dengan tubuh yang telanjang terus berteriak histeris dibawah cengkraman seorang namja yang bahkan Luhan tak bisa melihat wajahnya. Yang Luhan lihat hanya seringaian menakutkan dari wajah namja itu.
"Kau tak akan lepas dariku, Xi Luhan!" Bisik namja itu sambil menjilat telinga Luhan lalu menggigitnya pelan.
"ARRGGHH! TIDAK! KUMOHON HENTIKAN! Nghhh, tidak. Jangan!" Teriak Luhan lagi. Namja diatasnya terus saja meracau karena kenikmatan yang bahkan Luhan jijik memikirkannya.
"Kau harus membayar semuanya! Kau milikku Xi Luhan!" Namja diatas Luhan terus membisikan sesuatu yang Luhan sudah tidak bisa mendengarnya. Bahkan Luhan sudah tidak bisa merasakan tubuhnya lagi. Air mata Luhan semakin deras keluar dan Luhan sama sekali tidak bisa mengkontrolnya.
"Nggh, kumohon henthi −Akkh−khan!"
.
.
.
"TIDAK!" Luhan terbangun dengan keringat dingin yang keluar dari seluruh tubuhnya. Ia meraba semua bagian tubuhnya, dan masih utuh. Luhan masih memakai seragamnya walaupun sedikit lebih berantakan dari sebelumnya. Luhan menghela nafas lega.
"Hanya mimpi, hanya mimpi." Ucap Luhan sambil mengusap dadanya yang terasa naik turun karena detak jantungnya berdetak tak beraturan.
"Tapi mimpi itu... terasa sangat nyata. Dan siapa namja yang mem...memper –Arrghh..." Luhan mengacak rambut hitamnya dengan frustasi.
"Ini mungkin karena aku bolos, iya, mungkin karena itu." Luhan berdiri lalu menepuk pelan debu yang menempel dicelananya, lalu pergi meninggalkan tempatnya terridur tadi.
**HUNHAN**
Saat ini Luhan sedang duduk dikursi dikelasnya sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya dan melihat keluar jendela. Tampaknya Luhan masih memikirkan perihal mimpi yang beberapa menit lalu ia alami.
"Kau harus membayar semuanya. Kau milikku Xi Luhan!" Seringaian mengerikan namja yang berada dimimpinya itu terasa tidak asing dan Luhan merasa pernah melihatnya, apalagi suara rendahnya.
"Arrghh!" Luhan kembali mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia harus melupakan mimpi itu. Tapi kenapa mimpi itu terus berputar di otak Luhan? Seperti kaset rusak yang terus berputar berulang-ulang begitu saja di otak Luhan.
"Gege!" Luhan merasakan tepukan keras dibahunya, ia langsung menoleh ke asal suara dan menemukan Tao yang sedang tersenyum lebar kearah Luhan.
"Tao-ah, Kenapa kau memukulku?" Tanya Luhan pada pelaku penepukan keras dibahuny yang ternyata adalah Tao.
"Habisnya, dari tadi kami panggil, tapi sama sekali tidak ada respon darimu. Jadi aku terpaksa menepuk bahu gege." Jawab Tao sambi menggaruk pipinya yang tak gatal.
"Memangnya kapan kau memanggilku?" tanya Luhan dengan polosnya.
"Kau terlalu asik melamun hingga tidak menyadari kami. Memangnya apa sih yang dilamunkan olehmu, hyung?" Tanya Baekhyun yang sudah duduk dikursi yang ada disebelah Luhan.
"O−oh, itu, a−aku hanya sedang memikirkan universitas mana yang akan aku pilih nanti saat sudah lulus sekolah." Jawab Luhan asal. Namun itu malah mengundang banyak tanya lagi dai sahabat-sahabatnya.
"Mana mungkin hyung memikirkan tentang hal itu. Padahalkan masih ada satu setengh tahun lagi untuk memeikirkan universitas. Kau aneh hyung." Ucap Cen seperti menyelidik.
"I−itu benar, ko. La−lagi pula apa salahnyakan memikirkan masa depan."
"Aku tau, hyung pasti sedang memikirkan masalahmu dengan Oh Sehun kan? Jangan dipikirkan hyung. Kami akan menemanimu untuk bertemu Oh Sehun itu. Benarkan teman-teman?" Chen merangkul Tao dan Baekhyun lalu tersenyum pada Luhan.
"Te−terimakasih. Kalian memang sahabat sejatiku." Kata Luhan lalu tersenyum.
.
.
.
"Kai... pelan−pelan. Nghh" Kyungsoo dengan wajah merah dan bibir bengkaknya terus mendesah dibawah kendali namja yang dipanggilnya Kai itu.
"Hyung, nghhh, ini nikmat ouh. Kau sangat sempithhh..." Kai terus menggenjot miliknya dalam tubuh Kyungsoo yang menungging didepannya.
"A−ahh... Kai... oohh, disanahh.." Tubuh Kyungsoo melengkung saat milik Kai menyentuh sweet spotnya, tubuhnya semakin terasa panas dan perutnya terasa melilit.
Kai menyeringai saat mengetahui letak sweet spot Kyungsoo semakin mempercepat temponya. "Ssshhh, Hyunghhh, a..akuh.. mau keluar... hhh..." Kai terus mendesah nikmat, dibalikkannya tubuh Kyungsoo lalu didudukan dipangkuannya dan miliknya masih keluar masuk dalam tubuh Kyungsoo.
"Akhh...sshhhh... bersama Kai.."
CROT
Kai mengeluarkan spermanya dalam tubuh Kyungsoo, sedangkan Kyungsoo menyemprotkan cairannya kepert kai. Nafas mereka berdua memburu. Kyungsoo yang merasa sangat lelah langsung memeluk tubuh Kai dan menyandarkan kepalanya didada bidang Kai yang terbalut kulit tannya.
"Terimakasih, Kai." Bisik Kyungsoo disela-sela nafasnya yang meburu.
"Ani. Harusnya aku yang berterimakasih padamu, hyung. Kau sudah memberikan 'sesuatu yang berhaga' itu padaku. Terimakasih atas segalanya, hyung." Balas Kai. Tangannya yang tadi terkulai kini balas memeluk tubuh Kyungsoo yang bergetar. Ehh, tunggu.. bergetar?
"Hyung, kenapa kau menangis?" Kai menatap wajah Kyungsoo yang sudah banjir air mata.
"Hiks... aku merasa aku menjadi orang yang sangat jahat. Hiks.." ucap Kyungsoo disela-sela tangisannya.
"Sshh, kenapa kau kau berpikir demikian, hyung? Kau tidak jahat, bahkan aku rasa kau adalah malaikat untukku." Kai mencoba menenangkan Kyungsoo dengan kata-kata manisnya. Namun percuma saja, tangis Kyungsoo malah semakin menjadi-jadi.
"Hiks... aku adalah orang jahat, Kai-ah. Hiks... aku sudah menyakiti Luhan hyung, aku sudah menghianatinya, aku sudah merebutmu darinya. Hikss..."
"Tidak hyung. Kau tidak merebutku dari Luhan hyung. Aku sendiri yang mau, aku... aku merasa aku lebih mencintaimu daripada Luhan."
"Hiks.. benarkah? Kau lebih mencintaiku daripada Luhan hyung?"
"Tentu saja. Hanya ada namamu yang terukir dihatiku."
"Terimakasih, Jonginnie." Kyungsoo memeluk tubuh Kai dengan erat.
.
.
.
"Jongin-ah, Kyungsoo-ah... kalian... hikss..."
.
.
.
**TBC**
Gimana? Gimana Chap tiganya? Tolong berikan komentar yang membangun, karena saya sangat butuh itu untuk mengoreksi fic gaje buatan saya yang ini.
Saya selaku author BoemWonkyu'98 dan seluruh keluarga saya mengucapkan HAPPY NEW YEAR 2014! Goodbye 2013, welcome 2014!
Insya Allah akan update lagi tahun depan.
BIG THANKS FOR MY READERS, LOVE YOU SO MUCH
Maaf gak bisa bales review kalian untuk yang kedua kalinya, semoga kalian bersedia mereview chap tiga ini
akhir kata...
Please give me review *puppyeyeswithSehun*
31-12-2013
