THE LAST HEART

A Minseok/Xiumin x ? Fanfiction

With other cast (Just find out them)

Story is MINE purely

(mungkin rada aneh yah)

Drama, Family, /Mystery, Hurt/Comfort, etc (temukan sendiri yaw)

WARN!

This is BOYS LOVE (DLDR)

lil OOC, non-EYD, Typo dimana mana.

Butuh Saran Bukan Bash. Makasih.

.

.

.

.

Happy Reading

.

.

Chapter 3

Sebuah kota yang telah berkembang pesat. Gedung-gedung tinggi semakin memenuhi setiap sudut kota dengan berbagai disain arsitekturnya yang beragam. Kota dengan lalu lintasnya yang tertib dan bersih. Fasilitas umum yang disediakan semakin memadai. Mulai dari bus umum yang bersih dan tertib sampai jalur pejalan kaki yang luas tanpa hambatan. Mobil-mobil pribadi juga semakin modern.

Seorang pemuda dengan gaya rambut lurus pendeknya berwarna cokelat pirang tengah berdiri dihalte bus umum kota metropolitan itu. Beberapa menit lalu dia baru saja turun dari sebuah taxi yang membawanya dari bandara menuju ke halte bus ini. Sempat terpikir oleh supir taxi itu kenapa penumpangnya tidak meminta untuk diantarkan ke rumahnya atau ke suatu tempat yang lebih menunjang. Tapi dia malah menurunkan penumpangnya di halte bus umum, seperti permintaan sang penumpang. Pemuda itu menggerak-gerakkan kakinya kecil seperti mengikuti alunan irama yang bersumber dari headset yang terpasang dikedua telinganya. Namun, kepalanya tidak berhenti untuk menengok kanan kirinya, melihat apa saja yang ingin dia lihat.

"Sudah berapa lama aku pergi dari kota ini? Banyak perubahan ternyata"

Pemuda yang memiliki mata besar ini bermonolog. Sedikit menikmati waktu menunggunya. Sudah beberapa menit berlalu, dia melirik sekilas jam tangan yang senantiasa terpasang manis di pergelangan tangan kirinya. Sudah setengah jam berlalu, dia menghela nafas sebentar. Ah dia sudah menduga ini akan terjadi. Sebenarnya dia ingin langsung menuju tempat tujuannya. Tapi atas permintaan orang yang tengah ditunggunya kini dia harus berdiri disini sekarang.

"Lihat saja, kalau kita bertemu nanti aku akan patahkan kaki panjangmu itu, Kris"

Merasa bosan, pemuda yang memakai setelan jeans, kaos putih dan jacket cokelat itu memilih untuk beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan-jalan disekitar halte. Memasuki dan melihat-lihat berbagai macam isi toko sepertinya menarik, pikir pemuda itu. Berjalan, mengikuti insting membawanya kemana. Keluar masuk toko, mulai dari toko pakaian sampai toko musik yang sekarang ini dia sedang melihat-lihat berderet CD musik jepang. Dia menemukan salah satu musik kesukaannya disana. Ah sayang dia sudah mempunyai CD itu jadi dia tidak membelinya. Langkah kakinya berjalan keluar dari toko musik itu, namun ketika dia baru saja ingin melewati pintu seperti ada yang memanggilnya.

"Minseok!"

Merasa terpanggil, pemuda bernama Minseok itu menolehkan kepalanya ke sumber suara. Seorang pemuda dengan usia yang sama dengannya kini sedang berjalan menghampirinya, agak sedikit berlari. Minseok sedikit mengernyitkan alisnya, mencoba mengenali siapa pemuda didepannya ini. Kenapa dia bisa tahu namanya, pikir Minseok.

"Kau ingat aku?"

Minseok hanya menggeleng singkat sebagai jawabannya. Sepertinya dia sedikit mengenali wajah pemuda ini tapi dia tidak begitu yakin dengan ingatannya. Pemuda yang berada dihadapan Minseok sedikit mengerang kecewa. Pemuda dengan warna rambutnya yang blonde ini ingin mencoba meyakinkan bahwa dia adalah teman kecilnya Minseok. Namun, perkataannya terpotong oleh sebuah panggilan telepon dari handphone canggihnya.

"Tunggu sebentar ya.."

Minseok sedari tadi hanya diam, benar-benar tidak mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan saat pemuda berambut blonde itu memintanya untuk menunggu sebentar dia malah tidak memberikan reaksi apapun. Dia sedikit lagi melirik jam tangannya, baru kali ini dia menunjukkan ekspresi terkejutnya. Hampir satu jam dia meninggalkan halte bus umum tempatnya menunggu tadi. Minseok berjalan keluar, tidak mengindahkan permintaan pemuda tadi. Dia harus segera kembali ke halte bus.

.

Pemuda bertubuh tinggi dengan kulitnya yang putih itu terlihat mencoba menghubungi seseorang melalui handphonenya berulang kali. Tapi bagaimanapun, ekspresi mukanya tetap datar. Aneh.

Untuk kesekian kalinya, dia mendekatkan handphonenya ke telinga sebelah kirinya. Berharap seseorang yang telponnya akan menjawab sambungan itu. sampai….

"Halo..Minseok.. Dimana kau?"

"Matikan telponmu itu, sekarang. Kris"

"Apa?"

Pip!

Dengan sadisnya si penerima telpon itu memutus sambungan telepon Kris. Decakan kesalnya keluar dari bibir kecilnya.

"Apa maksudnya?"

"Kau benar-benar tepat waktu."

Kris melonjakkan tubuhnya kaget. Suara disampingnya benar-benar datang tiba-tiba. Untung saja dia tidak punya penyakit jantung. Menghembuskan nafasnya pelan, dia tidak langsung menuruti perkataan Minseok.

"Kau kemana saja?"

"Berkeliling, sebentar"

"Sebentar? Aku sudah tiba disini hampir setengah jam yang lalu. Dan kau tidak ada"

"Aku disini sudah satu setengah jam yang lalu"

Minseok berlalu meninggalkan Kris yang masih memasang wajah bodohnya. Memilih memasuki bus umum yang kebetulan sedang berhenti dihalte itu. Kris menyadarkan dirinya merasa tas punggungnya ditarik seseorang kebelakang. Dan itu Minseok.

"Lepaskan tasku"

"Makanya cepat naik"

Kris merapikan sebentar penampilannya, ah juga tasnya. Kemudian dia menyusul Minseok yang sudah menaiki bus terlebih dahulu. Dan mengikuti Minseok duduk dibangku bus paling belakang.

.

Pemuda berambut blonde yang tadi berada di toko musik memasang wajah kecewanya. Salahkan sambungan teleponnya yang memakan waktu lama, membuat Minseok meninggalkannya, pikir pemuda itu.

"Hahh.. Minseok.. "

"Luhan hyung, bayarkan aku CD ini, ya…plissss"

"Iya..iya.."

Pemuda lainnya yang bertubuh lebih tinggi dari Luhan itu menghampirinya dengan membawa CD music kesukaannya. Setelahnya Luhan dan pemuda itu meninggalkan toko musik itu.

"Kau kenapa, Hyung?"

"Tidak apa, Sehun"

"Oh.."

Sehun, pemuda yang ternyata adalah adik dari Luhan hanya mengangguk-angguk kepalanya mengerti. Dia kini malah menyibukkan dirinya pada handphone kesayangannya, entah apa yang dia lakukan. Sedangkan Luhan, masih saja dia memikirkan Minseok. Minseok yang selalu dia cari kemana pun selama hampir 12 tahun lamanya.

.

Keheningan terjadi antara Minseok dan Kris. Mulai dari mereka duduk di bangku bus ini sampai sekarang, tidak ada diantara mereka yang memulai percakapan. Minseok terus saja melihat keluar jendela bus, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sedangkan Kris dia seakan tidak ingin menganggu Minseok untuk sekarang ini. Bagaimana pun juga ini adalah kedatangan pertama kalinya di Seoul setelah 12 tahun lalu.

.

.

.

.

.

"Tuan.. Apa kau tidak terlalu kejam kalau kau sampai mengincar putranya?"

"Tidak.. Itu akibat yang harus dihadapi bagi orang yang berani mengusik hidupku. Myungdae-ah"

Terlihat dua orang yang tengah berbicara didalam sebuah ruangan yang tidak memiliki pencahayaan lampu cukup. Salah satunya adalah pria berperawakan tinggi besar dengan kacamata hitam yang menutupi matanya. Dan yang lainnya adalah seorang pria dengan tatapan takut, seorang pria yang ternyata adalah orang yang berada pada saat kejadian Jeongsuk beberapa hari lalu.

"Maaf Tuan.. Sekarang anak itu tinggal bersama keluarga Jung"

"Astaga.. Anak itu memiliki perlindungan yang kuat ternyata"

Senyuman atau bisa disebut dengan seringaian tercetak jelas pada wajah pria berkacamata hitam itu.

"Siapkan segala yang kita butuhkan, Zhoumi-ya" ucap pria berkacamata hitam itu kepada salah satu tangan kanannya.

" "

Dengan cepat orang bernama Zhoumi itu meninggalkan tempatnya dari hadapan pria itu.

"Kita beri sedikit kejutan pada keluarga Jung, hahahahaa"

.

"Paman... Aku sudah tahu siapa orang yang berada di lokasi kejadian bersama Paman Kim"

Yunho mengutarakan pendapatnya setibanya dirumah paman Byun tanpa basa basi.

"Siapa?"

"Detektif Shin, dia adalah rekan kerja paman Kim."

Paman Byun yang tengah membereskan berkas-berkas diatas meja kerjanya langsung menghentikan pekerjaan tangannya itu. Menatap selidik pada Yunho.

"Kau tahu darimana?"

"Semalam, Minseok menceritakannya langsung padaku. Maka dari itu, aku langsung datang menemuimu sekarang"

"Lalu apa menurutmu dia terlibat dalam kejadian Jeongsuk?"

"Iya.. Aku yakin sekali Paman.."

"Baiklah.. Akan aku selidiki"

Byun Dongwook, nama lengkap dari orang yang selalu di panggil Paman Byun oleh Yunho kini sedang memulai segala sesuatu yang untuk menyelidiki kejadian dibalik itu semua.

"Kalau begitu, aku pulang dulu Paman. Aku takut appa tahu kalau aku berguru denganmu"

"Haha.. Kau ini.. Sudah jelas dilarang, tapi masih saja nekat.. Sudah sana pulang"

"iya..iya.."

.

"Iya.. dan aku ingin menjadi seorang detektif"

"wow..impian yang hebat ya.."

"Yeah.."

Minseok meninggalkan tempat itu dan juga Luhan. Kenapa dimatanya Luhan sangat tidak bisa diam. Dimulai dari perkenalannya di depan kelas mereka sampai detik tadi, Luhan seperti wartawan saja. Minseok berjalan menuju kelasnya, menghiraukan panggilan Luhan padanya.

'Aku akan masuk sekolah itu' batin Minseok.

"Yaaaa! Minseok, tunggu aku"

Minseok tidak menghiraukan teriakan Luhan yang memanggilnya. Dia hanya melambaikan tangan kanannya singkat sebagai balasan teriakan Luhan lalu berjalan memasuki kelasnya. Sedangkan Luhan, tentu dia berlari menyusul Minseok.

"Detektif?"

Kris memandangi sejenak pengumuman yang juga tadi diperhatikan oleh Minseok. Dia menolehkan kepalanya kepada Luhan yang sedang berlari menyusul Minseok yang memasuki kelas mereka.

.

Ayah Yunho sudah menunggu didepan gerbang sekolah Minseok. Dia menepati janjinya untuk menjemput Minseok. Tidak lama, Minseok keluar bersama dengan semua anak-anak lainnya yang juga akan pulang.

"Minseok!"

Jaehyuk, nama ayah yunho. Keluar dari mobilnya dan memanggil Minseok untuk segera menghampirinya. Minseok yang melihat itu membalasnya dengan senyum singkat.

"Ayo kita, pulang"

"Paman?"

"Yifan?"

Kris yang entah sejak kapan berada disamping Minseok menatap terkejut pada Jaehyuk. Seingatnya Jaehyuk adalah sahabat dekat ayahnya. Kenapa dia sekarang bisa bersama Minseok.

"Kenapa paman bisa bersama Minseok?"

Segera saja Kris melontarkan pertanyaannya pada Jaehyuk. Jaehyuk pun menyeritakan sedikit kalau Minseok adalah anak temannya yang kini tinggal bersamanya. Kris mengangguk mengerti dan memberikan suara 'oooo'.

"Apa kau ingin pulang bersama kami, yifan?"

"Ah tidak usah paman, aku juga akan dijemput sebentar lagi"

"Baiklah, kalau begitu kami pulang duluan ya"

"Iya, paman.. hati-hati ya.. Minseok hati-hati ya…"

Jaehyuk tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Kris yang sedikit OOC dari image yang biasa dia lihat dan Minseok yang tetap datar. Jaehyuk dan Minseok pun pergi meninggalkan Kris yang kini sudah ada Luhan.

.

Minseok dan Jaehyuk masih dalam perjalanan saat Jaehyuk menerima sambungan telepon dari nomor yang tidak dikenal.

"Halo. Jung Jaehyuk.. Jung Yunho ada bersama kami, kalau kau ingin menyelamatkannya. Serahkan kami anak itu"

Jaehyuk terkejut mendengar nama putranya disebut. Dan juga anak itu, sudah pasti Minseok. Dia yakin benar. Jaehyuk menolehkan kepalanya pada Minseok yang sedang memperhatikan jalan. Kekhwatiran jelas tercetak dalam pikirannya. Ini menyangkut putrnya juga Minseok. Tidak perlu dijelaskan lagi, Jaehyuk mengerti keadaan ini.

"Kau dimana?"

Blablabla…

Jaehyuk segera mengemudikan setir mobilnya menuju tempat dimana orang itu berada. Minseok merasakan sesuatu terjadi saat ini. Dia dapat melihat raut wajah pamannya itu sedikit khawatir. Tapi, dia tidak berani menanyakannya. Dia takut dengan dia bertanya justru semakin memperburuk keadaan.

.

Brak..

Mobil Jaehyuk menerobos pintu sebuah ruangan kosong yang luas. Klakson dibunyikannya berkali-kali. Minseok yang melihat itu sedikit bergetar takut. Sebenarnya apa yang terjadi.

Tidak lama berselang. Dua orang pria memasuki ruangan itu sambil membawa seorang pemuda yang tangannya diikat. Yunho. Minseok terkejut melihat apa yang sedang terjadi didepannya. Yunho, orang yang sudah menjadi kakaknya sekarang tengah disekap oleh dua orang asing disana. Jaehyuk menghadap pada Minseok.

"Apapun yang terjadi, jangan pernah keluar dari mobil. Paham?"

Minseok tidak menjawab Jaehyuk. Sedangkan Jaehyuk sudah keluar mobil sambil menyembunyikan pistolnya dibalik kemejanya.

"Lepaskan Yunho! Apa maumu sebenarnya Luo-ssi?"

Jaehyuk mengeluarkan nada membentak pada pria berkacamata hitam bernama Luo itu. Sedangkan Luo hanya tertawa keras, mengejek Jaehyuk.

"Aku? Aku hanya ingin bisnisku berjalan lancar tanpa ada gangguan dari manusia macam kalian! Kalian sudah berani-beraninya mengusikku. Kau! Jeongsuk. dan teman-temanmu lainnya sungguh membuatku jengah. Apa kalian pikir kalian bisa melumpuhkanku dengan otak kalian? Tidak, sama sekali."

"Lalu apa kau akan merasa hebat kalau kau hanya berani melawan anak kecil?"

"Cepat habiskan dia. Dan tarik anak yang ada dimobil itu"

Setelah Luo memberikan perintahnya pada anak buahnya, dia meninggalkan tempat itu. Berjalan santai keluar ruangan itu diikuti oleh orang yang tadi berada disampingnya tadi yang berperawakan tinggi dan memiliki bekas luka keras didagunya. Dari kejauhan, Minseok mengamati Luo dan satu orang itu dengan seksama.

"Tanganku terlalu kotor untuk mengurusi kalian. Biarkan mereka yang akan memangsa kalian"

Dalam sekejap beberapa anak buah Luo keluar dan mulai menyerang Jaehyuk. Sedangkan Yunho kini masih berada dalam sekapan salah satu anak buah Luo lainnya. Satu persatu anak buah Luo bisa ditangani oleh Jaehyuk, namun bukannya berkurang malah semakin bertambah anak buah Luo yang menyerang Jaehyuk.

Dorrr!

Lengan kanan Jaehyuk terkena tembakan dari salah satu yang menyerang dia. Yunho yang melihat itu begitu marah. Tidak dihiraukan lagi, kini dia berhasil melepaskan diri dari anak buah Luo dan berlari menghampiri appanya dengan sedikit melewati anak buah Luo dengan kemampuan hapkidonya.

"Appa!"

"Kau, pergilah. Jaga Minseok. Sekarang."

"Tapi, appa.."

"Sekarang!"

Dengan terpaksa Yunho meninggalkan ayahnya dan sekarang berlari menuju mobil ayahnya terparkir tidak jauh dari sana. Saat dia sedang berlari menuju Minseok, dia melihat Minseok sudah dipaksa keluar dari mobil ayahnya. Pintu mobil itu memang dikunci, namun anak buah Luo itu sudah menghancurkan kaca mobil milik ayahnya. Yunho mengambil sebuah pistol yang terletak dilantai ruangan itu, bekas milik salah satu anak buah Luo.

"Lepaskan dia.. Minseok, merunduk!"

Teriak Yunho dan menyiapkan pistolnya kearah yang sedang menyandera Minseok sekarang. Namun, tanpa Yunho sadari saat dia akan menembakkan pistolnya tidak jauh dibelakangnya ada salah satu anak buah Luo yang mengarahkan pistolnya pada Yunho.

"Hyung..!"

Minseok berteriak memberitahu Yunho. Yunho menolehkan kepalanya ke belakang, melihat orang yang sedang mengarahkan pistolnya. Sedetik kemudian orang itu melepaskan pelurunya mengarahkan ke Yunho. Namun,,,,,,,

"Appa!"

"Paman!"

.

.

.

.

.

"Minseok!"

Kris mengerang kesal. Sudah berkali-kali dia memanggil Minseok tapi dihiraukan oleh pemuda mungil ini. Untuk kali ini dia melancarkan ide jahilnya mencium pipi Minseok, singkat. Dan berhasil, sekarang Minseok sudah sadar dalam lamunan panjangnya tadi. Menatap marah pada Kris oleh tingkahnya barusan.

"yaaa!"

"Haha.. Maaf, lagipula dari tadi aku sudah memanggilmu lebih dari seratus kali. Tapi kau tidak menyahut. Aku kira kau kerasukan"

Sungguh, pernyataan Kris membuat Minseok ingin mengubur hidup-hidup Kris sekarang. Tanpa wajah bersalahnya dia malah mengatakan Minseok kerasukan. Ingat! Kalau saja Kris bukan orang yang membuat dia merasa berhutang budi padanya, bisa saja Minseok membunuhnya sekarang juga. Ah, MInseok butuh obat penenang kalau begini caranya, menghadapi Kris yang autis itu. Tapi anehnya, sekali lagi Kris hanya begitu kalau bersama Minseok. Hanya Minseok.

"Jangan! Jangan! Sebentar lagi kita akan sampai,"

Kris menaruh kedua tangannya di leher putihnya, melindungi dari tangan mungil Minseok yang seperti ingin mencekeknya. Hanya bercanda.

"Sekali lagi kau berbuat seperti tadi. Aku benar-benar akan mematahkan tulang-tulang yang kelebihan hormon-mu itu"

"Masih lebih baik daripada kau kekurangan hormon"

Sebenarnya itulah maksud Kris bersikap jahil. Ingin sedikit mencairkan suasana. Tidak lama kemudian, bus yang mereka naiki berhenti. Mereka berdua menuruni bus umum itu di halte yang setelahnya mereka akan berjalan kaki sekitar sepuluh menit menuju rumah mereka, kediaman keluarga Wu lebih tepatnya.

.

"Kami datang"

Kris dan Minseok memasuki kediaman keluarga Wu. Belum ada sahutan, sampai beberapa detik kemudian seorang wanita paruh baya muncul dari lantai dua rumahnya. Wajahnya menampilkan raut terkejut melihat pemandangan di ruang keluarga rumahnya ini. Wanita itu mendekati Kris dan Minseok lalu segera saja dia memeluk Minseok sayang.

"Minseok.. Bibi rindu padamu"

"Aku juga, bibi"

Wanita yang dipanggil 'bibi' itu adalah ibu Kris yang begitu menyayangi Minseok sejak pertama kali Minseok masuk ke rumahnya 12 belas tahun lalu. Ibu Kris mengajak Minseok untuk duduk di sofa panjang ruang keluarga ini. Begitu juga Kris, sedikit berbincang ringan.

"Yunho dan ibunya masih dijepang?"

"Iya, bibi.."

"Ah, apa kau lelah?"

"Hmm.. Sedikit.."

Kris menengahi perbincangan antara Minseok dan ibunya. Sudah berpa menit tadi dia dibiarkan begitu saja oleh mereka berdua. Sungguh menyedihkan.

"Minseok. Tidurlah dikamarku, kalau kau lelah. Maaf, setelah kau pindah ke jepang dulu kamar yang disediakan untukmu terpaksa diganti untuk kamar sepupuku yang sering menginap disini, tidak apa kan?"

"Santai saja"

Minseok menganggukkan kepalanya paham. Tidak seharusnya dia merepotkan keluarga ini lagi, kalau bukan karena permintaan Kris untuk membantunya menyelesaikan kasus yang ditanganinya saat ini sebagai seorang calon jaksa dia tidak akan ke korea dan lebih memilih untuk tetap berada di jepang. Sebuah kota yang sudah ditinggalinya selama 12 tahun ini. Kota yang membentuk dirinya menjadi pribadi lebih kuat dari dia yang dulu. Dikota itu juga dia terus tumbuh dan mempelajari apa yang sudah menjadi tujuan hidupnya. Mencari dalang dari kejadian yang merenggut nyawa sang ayah. Jadi, bukan karena terpaksa juga dia ke korea karena tanpa diketahui oleh siapapun termasuk Kris dia sudah menyiapkan segala sesuatu yang akan dia lakukan disini. Hanya satu orang yang tahu tentang rencana Minseok itu.

"Baiklah, kalau begitu. Bibi tinggal memasak dulu ya. Kau istirahat dulu"

"Iya.. Bibi"

.

Minseok langsung merebahkan tubuhnya pada ranjang milik Kris, tentu setelah izin terlebih dahulu pada pemiliknya. Sedangkan Kris sedang menyalakan laptopnya. Baru saja Minseok ingin mengistirahatkan matanya dia harus membuka mata besarnya lagi disebabkan teriakan Kris.

"Ada apa? Kau tidak lihat aku sedang ingin tidur"

"Hehe.. Maafkan aku. Tapi coba kau lihat ini dulu"

Terpaksa Minseok bangkit dari posisi tidurnya dan berdiri disebelah Kris yang sedang duduk di meja belajarnya. Kris mengarahkan telunjuknya pada sebuah gambar atau lebih tepatnya sebuah foto seseorang dengan rambutnya yang tidak beraturan dan terdapat sebuah bekas luka didagu orang itu. Keningnya mengerut melihat foto itu.

"Darimana kau dapat foto itu?"

"Dia.. Setelah diselidiki, memiliki hubungan dengan orang-orang yang kasusnya aku tangani"

"Apa? Kau yakin?"

"Iya.. Temanku baru saja mengirimkan fotonya tadi pagi"

Minseok mengepalkan kedua tangan kanannya. Memandang benci ke layar laptop. Dia masih bisa mengingat orang yang dulu membuat orang yang dianggapnya menjadi ayah harus juga pergi meninggalkan dia dan keluarga Jung.

"Orang itu lagi, ck!"

.

Luhan memarkirkan mobilnya dihalaman sebuah rumah yang biasa dia datangi ini bersama adiknya, Sehun. Seperti saat ini juga. Luhan dan Sehun keluar dari mobil mereka dan berjalan memasuki rumah itu.

"Ah, hyung lupa sesuatu, kau masuk duluan Sehun-ah"

"Hmm"

Sehun hanya menggumam menjawab kalimat kakaknya itu dan tetap berjalan. Berhubung langkah kakinya lebar, tidak sampai satu menit dia sudah berada di ruang keluarga rumah itu dan menemukan wanita paruh baya yang sedang menyiapkan makanan di meja makan yang terletak menyatu di ruang keluarga itu.

"Hai, Bibi"

"Oh.. Sehun? Kapan kau datang?"

Wanita yang ternyata adalah ibu Kris itu sedikit terlonjak kaget dari acaranya menata makan siangnya.

"Baru saja, oya dimana Kris hyung, bi?"

"Dikamarnya"

"Terima kasih"

Sehun maupun Luhan sudah biasa keluar masuk kediaman keluarga Wu. Mereka ada satu keluarga besar. Ibu Kris adala adik ayahnya Luhan dan Sehun. Dan rumah ini sudah menjadi rumah kedua bagi mereka. Bahkan ada satu kamar yang mereka sediakan untuk Luhan dan Sehun, walaupun tidak setiap hari mereka tidak tidur disini.

Sehun dengan kebiasaannya tidak mengetuk pintu saat memasuki kamar orang yang sudah dikenalnya itu langsung masuk saja ke kamar Kris. Keningnya mengerut melihat ada orang asing baginya berada dikamar Kris sekarang yang sedang berdiri disamping Kris memandang layar laptop milik Kris.

"Kris Hyung"

Sehun menghampiri kedua pemuda itu dan langsung duduk di ranjang milik Kris dengan santainya. Kris dan Minseok sontak menolehkan kepalanya ke arah Sehun yang kini sedang memperhatikan Minseok. Sampai dia menunjukkan wajah terkejutnya.

"Kau? Kim Minseok?"

Minseok mengangguk singkat. Sedangkan Kris, raut wajahnya seperti takut kalau saja Sehun mengenali Minseok dan membocorkan sesuatu yang Sehun ketahui tentang Minseok.

"Ah, benar.. Kau itu yang ada diwallpaper handphone Kri-"

Belum sempat Sehun menyelesaikan kalimatnya, Kris sudah bangkit dari duduknya dan membekap mulut Sehun sambil memasang senyuman anehnya pada Minseok. Mencoba menjelaskan ini tidak ada apa-apa. Sehun memang tidak begitu kenal dengan MInseok tapi dia cukup mengenal bagaimana rupanya karena dia selalu saja memakai handphone Kris dengan seenak hatinya dan semua isi handphone Kris itu tentang Minseok.

Minseok hanya menatap datar kelakuan dua orang didepannya itu yang sekarang malah sibuk bertengkar sendiri. Akhirnya Minseok memutuskan untuk kembali mengamati apa yang sedang dia dan Kris lihat dilayar laptop milik Kris tadi. Dia mengamati foto-foto yang terpampang dengan jelas didepannya. Namun, suara teriakan seseorang menganggu konsentrasinya.

"Yaa! Apa yang kalian lakukan?"

Minseok mengerang kesal. Sekarang siapa lagi? pikir Minseok. Minseok terpaksa membalikkan badannya untuk melihat siapa pelaku orang yang telah menambah kebisingan dikamar itu. Seorang pemuda blonde tengah memisahkan Sehun dari Kris dari acara aneh mereka. Minseok mengingat suara itu. Suara anak yang selalu menganggunya saat kecil dulu. Luhan. Dan sepertinya dia sudah bertemu dengan Luhan beberapa waktu lalu. Sedangkan Luhan pun sekarang sedang mencerna otaknya. Orang yang tadi dia temui kenapa bisa ada dikamar Kris sekarang. Keduanya sama-sama memandang.

"Luhan/Minseok?"

Bersamaan mereka mengucapkannya. Luhan reflek memandang Kris dengan tatapan mencekamnya. Kris seakan tidak mempedulikan tatapan sepupunya itu dan malah merebahkan tubuhnya santai. Dan satu-satunya orang yang tidak tahu menahu tentang apapun disini dia lebih memilih untuk ikut merebahkan tubuhnya disamping Kris.

"Kau harus jelaskan ini semua Kris.."

Nada bicara Luhan sungguh menyeramkan. Desisannya membuat bulu kuduknya manusia yang beraa didalam kamar itu berdiri semua. Kecuali Kris. Dia benar-benar santai.

"Nanti kau akan tahu sendiri, aku malas menjelaskannya"

Begitulah jawaban Kris menanggapi Luhan. Luhan benar-benar ingin mencekek leher s manusia naga itu kalau tidak ingat disini masih ada Minseok. Dia masih ingin menjaga harga dirinya didepan Minseok. Luhan menetralisir emosinya. Kini beralih ke Minseok yang sedari tadi menjadi penonton setia drama didepannya itu.

"Apa kabar kau Minseok?"

"Baik.. "

"Ah tadi di toko musik sudah bertemu, apa kau tidak mengenaliku?"

"Tidak, lagipula kau itu sekarang sedikit berbeda. Tadinya aku pikir itu kau, tapi aku takut salah. Jadi aku pergi saja"

"Ah..Begitukah?"

"iya"

"Minggir.. Minggir"

Luhan terjatuh dengan mulusnya. Kris seenak hatinya mengambil alih posisi Luhan tadi yang berdiri disamping Minseok. Minseok yang menyadari keadaan kini memilih untuk bangkit dari duduknya dan benar Kris langsung menduduki kursi itu. Jemarinya bergerak mengetik sesuatu diatas keyboard laptopnya.

"Diam dulu, kau Luhan."

Kris tahu dibelakangnya ada Luhan yang akan memprotes kelakuannya tadi. Dan Luhan tidak berkutik ketika Kris sudah seperti itu, bagaimana pun juga dia itu sepupunya yang tahu sifat-sifat dari Kris. Seperti saat ini, itu tandanya Kris sedang serius. Minseok? Dia sedari tadi tidak berhenti menggelengkan kepalanya dan kini juga sedang serius melihat ke layar laptop Kris.

"Akh! Aku bisa gila kalau seperti ini"

Kris berteriak setelah matanya terfokus pada sebuah halaman web dilayar laptopnya. Semua yang ada di kamar itu juga ikut melihat apa yang membuat Kris seperti itu. Terlebih Minseok, dia sama terkejutnya dengan Kris

.

Sekelompok pria-pria dewasa sedang berkumpul disalah satu ruangan disebuah rumah yang berada diantara padatnya perumahan disalah satu sudut kota metropolitan itu. Terlihat mereka sedang memperbincangkan suatu hal. Meja besar didepan mereka menjadi penyekat antara mereka satu persatu.

"Bagaimana? Apa rencana kita berhasil?"

Salah satu dari mereka yang berambut hitam pekat mengeluarkan suaranya yang berat. Tangannya diketuk-ketukkan diatas meja tidak sabar menunggu jawabannya dari pertanyaannya itu.

"Sudah, bos. Lalu apa selanjutnya?"

"Ck! Apa kau bilang? Pakai otakmu itu."

Pria bertubuh tinggi normal itu dengan rambutnya yang sudah mulai berubah warna sedikit tersedak oleh nada bicara bosnya. Sementara beberapa pria lain disana masih terdiam.

"Lakukan rencana selanjutnya, Park Sungmin"

.

'Kantor Cabang Daerah Gwangju XOXO Corp. kembali mendapati sebuah teror setelah beberapa waktu lalu sebuah pesan mengancam dan ditemukannya satu orang petugas keamanan tewas diduga saat sedang menjalani pekerjaannya malam hari '

Ctek!

Pemuda yang memiliki rahang keras itu menekan kasar tombol power pada remote control televisinya. Mematikan layar televisi itu. Dia meraih handphonenya lalu menelpon seseorang.

"Halo, Kris"

"…"

"Cepat kau buka internet"

"…"

"Jangan banyak tanya"

Pip!

Pemuda itu memutuskan sambungan teleponnya. Dia mengusap kasar wajahnya dan mengenggelamkan wajahnya pada selimut ranjangnya.

"Masalah yang satu saja belum selesai, sekarang apa lagi?"

.

"Diteror?"

Minseok, Luhan dan Sehun bersamaan. Tentu dengan berbeda nada. Minseok dengan nada khasnya. Luhan dengan stay coolnya padahal dia juga terkejut. Dan cuma Sehun yang berlebihan dengan ekspresi terkejutnya.

"Jadi, Kris. Kasus yang kau tangani itu yang mana?" tanya Minseok

"Tentu masih tentang XOXO Corp. Tapi aku rasa masalah ini semakin menjadi buruk."

"Ah.. Aku mengerti maksudmu"

Minseok terdiam, mencoba mencaritahu jalan keluar untuk membantu Kris. Sedangkan Kris hanya terduduk pasrah.

"Apa kalian perlu bantuan?"

Malangnya, perkataan Luhan tidak ditanggapin sama sekali. Padahal dia menawarkan bantuannya. Walau dia tidak bekerja dibidang Detektif atau apalah sejenisnya itu tapi dia memiliki banyak koneksi yang mungkin bisa membantu sepupunya dan Minseok, pikirnya. Luhan adalah seorang programmer.

"Hyung, jangan terlalu agresif untuk sekarang ini. Biarkan mereka berpikir dulu."

Sehun yang sedari hanya diam kini bersuara. Itu pun karena tuntutan dari sang perut yang sudah meronta-ronta untuk minta diisi. Sehun berjalan keluar kamar Kris, setelah dia yakin ketiga orang yang lebih tua darinya itu sadar dari pikirannya mereka masing-masing.

.

Malam hari, setelah melewati sedikit perdebatan kecil antara dirinya dengan ibu Kris yang menyuruhnya untuk menginap dirumahnya. Sekarang Minseok sedang berada disebuah rumah yang menjadi tempat tinggalnya dulu sebelum dia ke jepang bersama keluarga Jung. Bukannya Minseok ingin mengecewakan ibu Kris, hanya saja dia butuh ruang untuk sendiri.

Minseok menyandarkan tubuhnya disofa ruang tengah rumah itu. Tangannya memutar-mutar handphone miliknya selama dia sedang berpikir.

"Apa hubungannya paman Shin dengan kasus teror itu?"

Semakin saja dia benci kepada orang yang dulu dipanggilnya detektif Shin. Orang yang entah bagaimana sampai sekarang masih hidup, pikir Minseok.

Kringg! Kringg!

Lamunan Minseok tersadar oleh suara panggilan dari handphonenya.

"Halo. Ada apa hyung?"

"Tidak.. Hyung hanya memastikan kau sampai korea dengan selamat"

"Hyung, tenang saja. Bagaimana umma?"

"Dia sudah tidur, tadi sempat mengigau menyebut namamu. Sepertinya dia masih belum rela kau kembali ke korea"

"Yunho hyung sampaikan pada umma aku baik-baik saja"

"Iya"

"Hyung, kalau sewaktu-waktu aku butuh bantuanmu. Kau mau membantuku?"

"Pasti,"

"Terima kasih hyung"

"Tapi, apa kau yakin akan melanjutkan penyelidikanmu tentang kejadian yang menimpa ayahmu? Itu sudah terlalu lama"

"Percayalah padaku Hyung. Aku akan berhati-hati"

Setelah beberapa menit berlalu, sambungan telepon Minseok dengan Yunho terputus. Mereka sudah menjadi satu keluarga semenjak kepergian ayah Yunho. Dan Minseok memang memanggil ibu Yunho 'umma' sejak itu.

'Ayah. Sepertinya banyak halangan untuk menyelidiki kasus ayah dulu. Tapi, percayalah. Aku tidak akan menyerah sampai aku menemukan siapa orang itu'

.

Minseok berdiri didepan sebuah rumah berarsitektur sederhana. Menurut apa yang diberitahu oleh kakaknya ini benar alamat Paman Byun, Byun Dongwook.

Tingtong..

Minseok sedikit menunggu lama sampai seorang pria yang sudah berumur 50tahunan itu membukakan pintu gerbang kayu rumahnya. Minseok tersenyum setelah mengetahui bahwa dia tidak salah rumah. Pria itu menatap heran pada Minseok, maklum saja ini adalah pertemuan pertama kali mereka.

"Paman Byun?"

"Iya, Kau siapa?"

"Aku Minseok, Kim Minseok"

"Minseok.. ah! Kim Minseok putra Kim Jeongsuk?"

"Iya, paman.."

Dongwook mempersilahkan Minseok masuk ke dalam rumahnya. Minseok mengamati setiap sudut rumah paman Byun ini. Sepertinya tidak banyak yang berubah, dari cerita Yunho semua yang dilihatnya hampir sama.

"Duduklah.."

"Terima kasih paman"

Minseok dan Dongwook sekarang duduk disofa ruang tamu.

"Kau ternyata tidak begitu mirip dengan ayahmu, tapi sifatmu begitu mirip ya"

"Iya paman. Memang banyak yang bilang seperti itu"

Setelah obrolan singkat tadi. Minseok meyakinkan dirinya untuk mengutarakan maksud tujuannya datang bertemu Dongwook. Sudah sejak kemarin dia tiba di Seoul menahan dirinya untuk bertemu Dongwook tapi baru bisa hari ini.

"Em.. Paman, sebelumnya aku ingin meminta maaf. Aku ingin bertanya tentang kejadian yang menyebabkan ayahku meninggal 12 tahun lalu."

Pertanyaan Minseok tidak langsung dijawab oleh Dongwook. Melainkan Dongwook sedang sedikit berpikir sepertinya. Minseok sudah tidak sabar. Saat dia ingin mengulang pertanyaannya baru Dongwook bersuara.

"Hem.. Aku sudah menunggu keadaan seperti ini sejak lama. Dan ternyata kau datang lebih cepat dari perkiraanku."

"Apa maksudmu, paman?"

.

Minseok berjalan pelan dijalan yang memang disediakan dikota seoul itu untuk para pejalan kaki. Bahunya sedikit lemas. Pikiran Minseok melayang entah kemana. Langkah kakinya pun tidak beraturan, sudah berapa orang yang tidak sengaja dia tabrak dan sudah berapa kali dia mengucapkan kata maaf.

Langkah kakinya berhenti disebuah halte bus umum. Namun tidak ada niatan sedikitpun untuknya menaiki bus umum yang sudah berhenti didepannya membuat beberapa orang yang mengantri dibelakang Minseok berteriak kesal ditujukan ke Minseok. Minseok seakan tuli, akhirnya orang-orang itu mendahului Minseok dan otomatis tubuhnya yang memang mungil itu terdorong ke depan melewati batas pembatas halte bus dengan bus itu sendiri.

Bruk!

Sekali lagi Minseok terdorong, membuat dirinya berada tepat didepan bumper bus umum itu. Minseok masih belum tersadar dari lamunannya.

Tintin!

Suara klakson bus itu sedikit menyadarkan Minseok, namun sayang saat dia baru ingin beranjak dari tempatnya berdiri bus itu sudah mulai menjalankan roda besarnya. Membuat Minseok malah bingung harus berbuat apa. Sampai….

Minseok merasakan tangan kirinya tertarik oleh seseorang. Sedetik kemudian bus umum itu melaju cepat dari haltenya. Keadaan Minseok sekarang ini mampu menyadarkan dirinya sepenuhnya. Bagaimana tidak. Sekarang, detik ini, Minseok sedang dalam keadaan dipeluk seseorang dan entah sengaja atau tidak bibir manisnya menempel dengan bibir mungil milik seorang pemuda yang benar dia ketahui siapa itu. Pemuda yang tadi menarik tangannya, menyelamatkannya dari bus umum itu dan memeluknya saat ini, adalah

"Luhan.."

.

.

.

.

.

.

TBC

Saya tahu ini lama, maaf.. dengan segala hormat saya minta maaf.

Dan saya tahu ini rada gak nyambung, saya minta maaf.

Dan juga banyak typos

Saya butuh banyak masukan.. PM aja ya…

Saya ucapkan terima kasih kepada :

ainichanxiuhan1

lee seokie

casproduction

ryeo ryeong

Imeelia

feyy

Deer and Buns

Ve Amilla

fee lee

kim hyun soo

RusadanBakpao

adatiada73

ChaHkyeon

Cassiopeia1215

Blukang Blarak

1211dooty

Midsummernight99

Aduh… Maaf banget kalo chap ini mengecewakan, cerita detektifnya belum muncul.

Mau Menuhin janji dulu dichap ini udah pada chara dewasanya.

Tapi… masih berkenan review ga? Buat masukan ,, haduh.. saya ngerasa gak enak banget, sumpeh… ane zuzur…

Sampai ketemu di chap selanjutnya ya….