Gomen, chapter yang ini juga agak terburu-buru orz
Saya biasanya macet setelah chapter 2 orz
Also OOC warning dan drama, mungkin angst/tragedy/drama nya mulai keliatan o3o
I don't own Cardfight! Vanguard. Saran dan perbaikan dibutuhkan owo
-Chapter I-2 : Small Talk with the Manager-
The Last Chance
"Sudah berapa kali ku katakan kau tidak perlu mengetahui Vanguard?"
Sudah berapa kali? Aichi Sendou juga tidak begitu tahu.
Sudah sekian kali Morikawa dan Izaki mengajak Aichi; mulai dari membujuk hingga memaksa, namun orang yang selalu menghalau usaha mereka selalu sama, Toshiki Kai.
Dan itulah yang selalu Kai katakan setelah menyeret Aichi keluar dari toko. Dia akan membawanya ke tengah pertokoan, mengancam Aichi, lalu pergi begitu saja. Kemudian Morikawa dan Izaki akan menjemputnya dan mengantarnya pulang.
"Cih, dasar orang aneh." Cetus Morikawa sambil memandang marah langit sore yang kemerahan. "Berani sekali dia membatasi hak Aichi seperti ini."
"Sepertinya dia punya alasan tertentu..." Aichi membisik pelan. Dia bisa merasakannya; Mata Kai yang selalu kosong berubah menjadi amarah yang meluap ketika melihat Aichi mendekati Vanguard. Dan entah mengapa, Aichi tidak merasa marah kepada Kai.
Aichi ingin mengetahui tentang Kai.
Mengapa dia bersikap seperti itu padanya?
Mendesah pelan, Aichi memandang langit sore yang mulai gelap.
"Aichi, akhir-akhir ini kau selalu pulang terlambat."
Pagi itu, seorang gadis berambut jingga cerah memberanikan dirinya untuk bertanya pada Aichi. Gadis itu,yang tidak lain adalah Emi Sendou—adik Aichi. Meskipun tidak terlalu terlihat, dia sangat khawatir akan keselamatan kakaknya yang terlihat lemah dan tidak mampu melakukan apa-apa.
"Mm... Ada tugas sekolah..." Aichi tertawa pelan, dia mengambil roti panggang yang disediakan Emi dan mengolesinya dengan mentega. "Aku akan pulang sebelum makan malam kok."
Aichi tidak pandai, dan tidak suka berbohong, terutama kepada adiknya. Namun Aichi sendiri tahu kalau Emi bisa melihat kebohongannya.
Namun Emi hanya mendesah dan menggeleng pelan, memutuskan untuk membiarkan Aichi dengan kebohongannya. "Lain kali beri tahu aku jika kau akan pulang telat."
Dari sudut matanya, Emi melihat Aichi mengangguk pelan sambil mengunyah rotinya.
Hari ini tidak seperti biasa—setidaknya bagi Aichi, karena Morikawa dan Izaki tidak hadir.
Aichi mendesah. Meskipun mereka memiliki julukan 'Preman SMP Hitsue', mereka tidak pernah membolos, walau mereka sering datang terlambat dan tidak pernah memperhatikan kelas.
Aichi merasakan perasaan yang sudah lama ia lupakan sejak bertemu kedua sahabatnya itu; perasaan kesepian dan seolah terkurung dalam kotak sempit buatannya sendiri.
"Mungkin mereka ada di Card Capital..." Laki-laki berambut biru itu meyakinkan dirinya sendiri sambil menggeleng, seolah berusaha untuk menghilangkan rasa kesepian dan perasaan tidak enak yang sejak tadi ia rasakan. Dia membereskan barang-barangnya dengan terburu-buru dan bergegas meninggalkan kelas.
Entah mengapa jalan menuju Card Capital begitu sepi.
Firasat buruk Aichi semakin menjadi-jadi. Dia ingin segera bertemu dengan dua sahabatnya, berbincang sedikit, bahkan jika dimarahi Toshiki Kai akan lebih baik daripada keheningan ini.
Aichi menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan perasaan tidak enak itu, kemudian mempercepat langkahnya menuju Card Capital.
"Permisi..." Begitu Aichi memasuki Card Capital, Aichi tidak merasakan keramaian yang familiar, tetapi hanya ada keheningan dan kegelapan yang membuat Aichi seolah tidak bisa bernafas.
"Aichi-kun, selamat datang."
Aichi memfokuskan pandangannya, masih berusaha mencari sosok yang memanggilnya. Seorang laki-laki berambut hijau berjalan dari kegelapan. Dia mengenakan kemeja putih dan celemek biru cerah yang sama seperti gadis di belakang meja kasir. Di tangannya, dia menggendong seekor kucing hitam kecil bermata biru yang terus menatapnya tajam.
"Um... Kau...?"
"Shin Nitta, manajer Card Capital. Ini pertama kali kita bertemu seperti ini, bukan?" Sang manajer, yang matanya tidak bisa dibaca oleh Aichi karena tertutup oleh kacamata, tersenyum. Namun senyumnya entah mengapa membuat Aichi tergidik ngeri.
Ada yang salah.
Lari. Lari. Lari. Lari. Pergi dari tempat ini. Batinnya terus berteriak, namun dia tidak bisa menggerakkan satupun ototnya.
"Kau mencari teman-temanmu, bukan? Kau tidak akan menemukan mereka." Sang manajer tersenyum lagi, membuat Aichi agak ketakutan karena dia baru saja mengatakan sesuatu yang menakutkan sambil tersenyum. "Hei, Aichi-kun, tahukah kau dunia ini memiliki sebuah rahasia?"
"U-Un... Aku... Pernah mendengar hal itu di anime yang baru keluar akhir-akhir ini..." Aichi terkekeh.
"Fufu, kebetulan sekali, Misaki menyukai anime itu." dia tertawa. "...Suatu saat, dunia ini akan hancur. ...Dan kau tidak akan bisa melakukan apapun."
"E-eh...?" Semua yang dikatakan orang ini tidak masuk akal. Tidak, Aichi tahu dia mengetahui apa maksud orang ini. Dia ingin membantah kata-kata orang itu, namun tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Shin Nitta menyeringai; berbeda dengan senyum manis sebelumnya, namun seringai seolah dia telah menemukan hal yang menarik. Perlahan, Shin berjalan mendekati Aichi, yang hanya bisa menutup matanya dengan ketakutan...
"Cukup."
Ketika seseorang meletakkan tangannya di bahu Aichi, seolah ikatan yang mengikat Aichi menghilang.
Orang itu tidak lain adalah Toshiki Kai.
"Ah, Kai, selamat datang." Seringai Shin masih belum menghilang, namun dia tidak memperhatikan Aichi. "Bukankah suatu kebetulan kita bertiga ada di tempat ini?"
Aichi mendongak, berusaha melihat perubahan ekspresi Kai, namun tatapannya tetap kosong seperti biasa.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan." Kai menggenggam tangan Aichi dan menarik Aichi keluar dari Card Capital.
Namun entah mengapa, Aichi dapat mendengar bisikan Shin untuknya...
"...Tunggulah, Aichi Sendou. Aku akan menghancurkanmu."
Kai membawa Aichi ke sebuah taman;taman yang tidak asing bagi Aichi. Aichi selalu melewati tempat ini ketika masih SD. Dia selalu singgah ketika ingin sendirian sambil memperhatikan anak seumurnya bermain bersama.
Tetapi kali ini berbeda, Aichi bersama dengan Kai, orang yang tidak dia kenal. Hanya diam sambil menatap anak-anak bermain.
Aichi menarik nafas dalam-dalam, lalu memberanikan dirinya dan bertanya, "...Kai-kun, mengapa kau melakukan ini?"
"...Hm?"
"...Kenapa... Kau melarangku bermain Vanguard?"
Kai menatapnya dengan tatapan kosong, lalu mendongak menatap langit. "...Aku mengenal seseorang. Orang itu menderita karena permainan ini. Aneh, bukan? Menderita karena sebuah permainan."
Aichi agak kaget begitu melihat sedikit kesedihan muncul di mata hijaunya yang masih menatap langit.
"Orang itu... Seperti apa dia?"
Senyum kecil muncul di wajah Kai. "...Orang itu... bisa membuatku merasakan perasaan yang kulupakan sejak lama."
Ah.
Aichi tidak mampu melihat wajah Kai. Wajah itu, wajah kesepian namun bahagia dari lubuk hati itu, Aichi tidak ingin melihatnya.
Aichi merasakan laki-laki berambut cokelat berantakan itu berdiri dari sisinya.
"Besok jangan datang ke Card Capital." Kai berkata dengan nada datarnya seperti biasa, dingin dan tidak berperasaan. Kemudian, Kai berjalan menjauh dari tempat duduk mereka.
Aichi hanya memperhatikan punggung Kai menjauh. Benar, seharusnya seperti ini, bukan? Dia tidak perlu merasakan hal lain. Dia dan Kai hanya orang yang tidak tahu satu sama lain.
Kai juga pasti begitu. Aichi tersenyum kecil; senyum penuh kesedihan.
Kai... melihatnya sebagai pengganti 'orang spesial'nya.
