Chapter 2 : Bestman or Worstman?
Setelah diusir secara 'halus' oleh manager restoran, Jongin meringkuk di jok belakang mobil Yifan. Ia tidak berani duduk di sebelah Yifan sambil mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Padahal nyatanya, ia jauh dari kata baik-baik saja sekarang. Apa yang tadi dilakukannya benar-benar konyol. Ia amat menyesali tindakannya itu lebih dari apapun. Kini, Jongin yakin.. dirinya akan terlihat semakin menyedihkan dimata Chanyeol dan Luhan. Mungkin, mereka sedang menertawainya sekarang. Jongin tidak bisa menyalahkan mereka kalau memang itu terjadi.
Well, dirinya memang bodoh, konyol dan pantas dijadikan bahan lelucon.
Air matanya semakin menderas. Sebenarnya, ia paling tidak suka menangis di hadapan orang lain termasuk Yifan. Ia paling tidak suka terlihat lemah. Walaupun nyatanya memang ia tidak sekuat yang mereka bayangkan. Jongin yakin Yifan sedang memperhatikannya dari kaca mobil. Mungkin, Yifan penasaran akan apa yang dipikirkannya sampai berani berbuat konyol seperti itu. Tetapi, seperti Yifan yang Jongin kenal, pria itu selalu tahu kapan saatnya ia harus diam atau kapan saatnya ia harus bertanya. Dan sekarang, Yifan tahu kalau sebaiknya ia diam saja.
Jongin mengangkat kepalanya sedikit masih menutupi sebagian wajahnya dengan lipatan tangan. Salah satu tangannya merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Yifan masih meliriknya dari kaca mobil. Bibirnya terasa gatal ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Jongin. Sementara itu, jemari Jongin sudah bermain lincah mengetikkan sebuah pesan untuk Sehun.
From : Jongin
Yang tadi abaikan saja. Anggap aku tidak pernah menelponmu.
Tidak sampai dua menit, Jongin langsung mendapatkan balasan dari Sehun. Balasan pesan dari pria itu membuat Jongin berusaha keras untuk tidak tertawa.
From : Sehun
Kau mabuk ya? IYA KAN?
From : Jongin
Aku tidak MABUK!
From : Sehun
BOHONG!
From : Jongin
Aku serius idiot!
From : Sehun
Oke, kalau kau tidak mabuk.. berarti kau punya gangguan mental, BOO..
That's it! Jongin tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia tertawa keras membuat Yifan menoleh ke belakang menatapnya dengan tatapan aneh. Mungkin, Yifan sedang mempertimbangkan kewarasannya sekarang. Jongin menutup mulutnya, tetapi dibalik tangannya senyuman masih merekah setiap ia melirik layar ponselnya.
"Aku tidak gila, oke?" ujarnya tiba-tiba membuat Yifan mendengus keras.
"Kau pikir aku bisa memercayainya kata-katamu setelah kau berlaku seperti itu?"
Jongin menggeleng pelan lalu kembali tertawa. Yifan hanya tertegun menatapnya dengan tatapan 'anak-ini-kenapa-sih?'. Tetapi, diam-diam senyuman juga merekah dibibir Yifan. Pria itu merasa sedikit lega melihat Jongin yang terlihat jauh lebihbaik daripada sebelumnya. Siapapun itu orang yang membuat Jongin tersenyum lagi.. Yifan ingin mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Terserah deh, lebihbaik kuantar kau pulang sekarang." ujar Yifan lalu menyalakan mesin mobil.
Jongin yang merasa sudah lebihbaik membuang pandangannya keluar mobil. Ia memperhatikan gemerlap lampu kota Seoul di malam hari dengan senyuman merekah. Ketika, ia sampai rumah nanti ia akan menelpon Sehun untuk sekedar mengucapkan terima kasih.
Dilain sisi, Sehun kembali mengecek ponselnya entah untuk ke berapa kalinya. Ia berusaha untuk fokus menonton serial televisi favoritnya, The Walking Dead, namun untuk pertama kalinya serial yang selalu dianggap Sehun sebagai 'media pengalihan terbaik' dari berbagai kesibukannya selama ini, bahkan tidak mampu menarik perhatiannya sedikit pun. Lama-kelamaan, mata Sehun hanya tertuju kepada layar ponselnya. Di dalam hatinya, ia menyangkal mati-matian kalau ia sedang menunggu balasan pesan dari Jongin.
Sehun menghela nafas. Ia ingin membanting ponselnya untuk mengakhiri perasaan yang menggantung ini. Apa Jongin sedang mengujinya sekarang? Apa ini semacam permainan baginya? Jika iya, dengan amat terpaksa.. Sehun mengaku kalah. Ia akan menelpon Jongin untuk mengakhiri semua ini.
Dengan perasaan campur aduk, Sehun mencari kontak Jongin dan langsung menelponnya. Tidak sampai dua menit, Jongin segera menerima panggilan darinya. "Halo?"
"Kenapa kau tidak membalas pesanku?" tanya Sehun menuntut penjelasan. Jauh di sebrang sana, Jongin yang baru saja sampai di rumahnya, terdiam sejenak mengerutkan keningnya. Orang ini kenapa sih? Lagi kumat atau apa?
"Kau kenapa sih? Aku tadi sedang sibuk." Jongin berusaha mengontrol suaranya untuk terdengar sedikit lebih ramah. Ia tidak mau menghancurkan kesan 'bersahabat' yang telah terbangun di antara mereka berdua setengah jam yang lalu.
"Memangnya sama sekali tidak ada waktu untuk memberitahuku kalau kau sibuk?" oceh Sehun panjang-lebar.
Mulut Jongin ternganga. Ia tidak mengerti akan situasi semacam ini. Kenapa Sehun begitu mementingkan satu pesan balasan darinya? Jongin duduk bersandar pada kaki ranjangnya. Ia menatap keluar pintu balkon kamarnya memperhatikan langit malam yang dipenuhi oleh ratusan bintang. Sejenak, ia hanya ingin terdiam merenungkan seperti apa masa depan nantinya. Akankah ia menemukan seseorang yang tepat untuk dijadikan-
"HEI, KAU DENGAR AKU TIDAK SIH?"
WHAT THE FUCK! "Tidak perlu berteriak juga, Mr. Oh."
"Habisnya, kau menghiraukanku sih!" Sehun terdengar begitu kekanak-kanakan sekarang. Entah mengapa, Jongin dapat membayangkan wajah jengkelnya yang membuat dirinya mengulum senyum kemudian.
"Ya, ya, maaf. Anyway, I want to say thank you for something."
"Something?"
"Yeah, something." Jongin tidak mau menceritakan apa yang terjadi di restoran tadi dan Sehun juga tidak mau mendesak Jongin untuk menjelaskan lebih jauh. "Sehun-ah, apa jadinya kalau kita menikah nanti?" tanya Jongin tiba-tiba.
Sehun memutar matanya beberapa kali berusaha memikirkan jawaban seperti apa yang Jongin inginkan. Ia tidak mungkin menjawab dengan frontal kalau kehidupan pernikahan mereka akan benar-benar kacau dan perceraian adalah jalan terakhir dari semuanya. "Aku tidak tahu. Belum pernah memikirkannya tuh." Bohong, Oh Sehun!
"Benarkah?" Sehun mengangguk meski Jongin tidak dapat melihatnya. "Aku mau memberitahu ayahku, Sehun-ah."
Sehun menelan ludahnya. Tanpa ia sadari, tangannya mulai menggaruk tengkuk lehernya. "Apa tidak terlalu cepat?"
Kening Jongin kembali mengerut. Kenapa Sehun terdengar ragu sekarang? Bukannya, dia yang mengusulkan ide gila ini? "Lebih cepat lebihbaik, bukan?"
"Tetapi, ini terlalu cepat!" teriak Sehun lalu buru-buru mengecilkan suaranya. "Maaf. Bukannya-"
"Lupakan saja, Sehun-ssi. Kalau kau tidak menginginkan pernikahan ini, kenapa kau mengusulkannya dari awal?" entah mengapa, penolakan tidak langsung Sehun barusan membuat hati Jongin terasa sakit. Ia tidak mengerti apa yang membuatnya sekecewa ini. Ia tidak menyukai Sehun atau bahkan mencintainya. Lalu, kenapa rasanya ia ingin menangis sekarang?
Apa mungkin karena ini adalah suatu bukti jika tidak ada satu pun orang yang menginginkannya? Semua orang lebih memilih Luhan daripada dirinya. Selalu begitu.
"Jongin-ah, dengarkan aku.. aku tidak bermaksud untuk mundur, oke? Aku hanya merasa ini terlalu cepat. Kita belum mengenal satu sama lain dan ini adalah pernikahan yang kita bicarakan. Maksudku-"
"Kau sadar kan kalau kita menikah karena satu tujuan dan bukan karena kita saling mencintai atau apalah itu?" pertanyaan Jongin menampar Sehun begitu keras. Pria itu langsung terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasakan perih di dalam hatinya. "Tidak ada yang namanya terlalu cepat untuk sesuatu yang bahkan tidak nyata."
Sehun lagi-lagi hanya bisa terdiam. Ia menggigit bibirnya berusaha menahan diri untuk tidak berteriak kepada Jongin. Tetapi, sebagian dari diriku menyukaimu.. dan itu nyata, batin Sehun sambil memejamkan matanya. Sebagai teman setidaknya.
.
.
Luhan bukanlah sepupu jauh seperti yang Jongin inginkan. Keluarga Luhan yang begitu dekat dengan keluarganya membuat Jongin mau tidak mau tertarik ke dalam persiapan pernikahan Luhan yang akan dilaksanakan besok. Jongin bangun dalam kondisi yang benar-benar mengerikan. Ada kantung mata di bawah matanya, rambutnya berantakan seperti orang gila dan ada dua botol vodka yang diselundupkannya semalam tergeletak di atas ranjang dan di bawah ranjangnya. Tiffany, salah satu teman baik Luhan yang anehnya lebih berpihak kepada Jongin, adalah orang yang membangunkannya di pagi Sabtu mimpi buruk ini.
"Wake up, Bitch." Dan seperti dugaannya, Jongin langsung bangun untuk memukul kepalanya.
Gadis itu memberikan Jongin waktu selama sepuluh menit untuk bersiap-siap sebelum dia dengan brutalnya menyeret Jongin keluar dari kamar. Tiffany tidur tengkurap di atas ranjang Jongin sementara Jongin menata rambutnya yang sulit diatur. "Aku masih tidak menyetujui pernikahan mereka sebenarnya." Kata Tiffany tiba-tiba. Jongin berhenti menjambaki rambutnya sendiri lalu mendengus keras. "Luhan pantas mendapatkan seseorang yang lebihbaik." Lanjut Tiffany kemudian.
Jongin berbalik menghadap ke arah gadis itu dan menatapnya tajam. "Kau pikir Luhan sesempurna itu, huh? Chanyeol-"
"So, you're still in love with him?" potong Tiffany sambil menyeringai.
"I was in love with him." Koreksi Jongin lalu kembali berbalik 'menjambaki' rambutnya.
"Kau tahu Jongin-ah, kau tidak perlu memasang senyum dan membantu kami mempersiapkan pernikahan bodoh ini. Kau bisa saja berpura-pura sakit atau entahlah. Aku berpikir kalau Luhan sengaja ingin menyiksamu dengan-" Tiffany menarik nafas berusaha menahan emosinya yang nyaris akan meledak. Jongin yang langsung berhenti menjambaki rambutnya sendiri (atau menata rambutnya), berbalik kembali menghadap Tiffany dan tersenyum kepadanya.
"Terima kasih. Ternyata, kau perduli juga kepadaku."
"Tentu saja, aku perduli! Kau ini juga temanku! Dan apa yang Luhan lakukan benar-benar kejam kepadamu. Aku tidak terima, Jongin-ah." Sahut Tiffany berapi-api. Gadis itu mengepalkan tangannya dan tiba-tiba saja meninju bantal milik Jongin berkali-kali. "Aku benar-benar membenci pernikahan ini!" teriak Tiffany, mungkin sedang membayangkan kalau bantal itu adalah Luhan dan Chanyeol.
"Ini tidak adil bagimu." Dan entah sejak kapan, air mata mengalir turun membasahi pipi gadis itu. Jongin tidak pernah melihat Tiffany menangis sebelumnya. Gadis itu adalah gadis paling kuat dan tegar yang pernah Jongin kenal. Dan sekarang, melihatnya menangis hanya karena dirinya membuat Jongin memeluk gadis yang lebih tua darinya itu kemudian.
"Ya, aku tahu. Mereka itu memang bajingan." Ujar Jongin sembari mengelus-elus kepala Tiffany. "Tapi, sungguh, aku masih bisa bertahan kok. Tinggal menghadiri pernikahan itu dan-"
"Luhan memilihmu sebagai bestman-nya." Potong Tiffany cepat membuat tubuh Jongin membeku.
"WHAT THE FUCK?!"
Jongin segera melepaskan pelukannya dan berlari keluar dari kamarnya. Ia menuruni tangga dengan terburu-buru dan matanya tidak berhenti berkeliling mencari ibunya yang pasti sedang bersama Luhan. Ketika, Jongin menemukan mereka berdua sedang mengobrol bersama dengan beberapa kerabatnya. Jongin langsung meledak. Ia tidak perduli dengan konsekuensi yang nanti diterima olehnya. Ia ingin mencekik Luhan sekarang juga.
"Kau ini waras tidak sih? Kau memintaku menjadi bestman-mu? Dasar gila!" teriak Jongin sambil menunjuk-nunjuk Luhan yang memasang wajah datarnya. Sementara, ibu Jongin dan beberapa wanita paruh baya lainnya langsung tercenung kaget. Dua orang sepupu Jongin yang tadinya sibuk memainkan PSP serta Iphone mereka langsung saling pandang dan menyeringai. "Aku tidak akan pernah sudi mendampingimu dengan Chanyeol di altar nanti!" karena seharusnya aku-lah yang berdiri di sana, mengucapkan janji suci, bersama dengan Chanyeol!
"Jongin, jaga bicaramu!" bentak ibunya, namun siapa yang perduli dengan wanita itu?
"Aku ini sepupumu terdekatmu Jongin-ah. Memangnya aneh kalau aku memilihmu sebagai bestman-ku?" Luhan terlihat tenang seolah ia tidak mengetahui siapa Jongin dan apa yang telah dilakukannya kepada Jongin. Jongin melangkah mendekatinya dan tiba-tiba saja, sebuah tinjuan melayang ke pipi Luhan.
"Tentu saja, aneh! Aku ini mantan kekasih calon suamimu, Brengsek!" teriak Jongin dan segera berlari keluar menyusul Tiffany yang sudah berdiri di ambang pintu rumahnya. Teriakan ibunya terdengar menggema dan kemudian disusul oleh berbagai pertanyaan 'apa kau baik-baik saja?' yang diberikan kepada Luhan.
Damn, harusnya mereka menanyakan hal itu kepadanya.
"Ponselmu dan kunci mobil." Ujar Tiffany seraya menyerahkan dua benda tersebut kepada Jongin. Jongin langsung mengantongi ponselnya dan berlari masuk ke dalam garasi rumahnya. Tiffany mendorong pagar garasinya sementara Jongin menyalakan mesin mobil. Sementara itu, salah satu pembantu di rumah Jongin mendorong pagar rumahnya.
Ketika, Tiffany sudah berada di dalam mobilnya. Jongin segera mencari kontak Sehun dan menelponnya. "Halo? Bisa tidak kita bertemu sekarang? Oh, oke. Di tempat yang kemarin saja, oke? Ya, ya, bye."
"Siapa?" tanya Tiffany yang sedang mencari lagu favoritnya. Ketika, suara Ariana Grande terdengar memenuhi seisi mobil barulah gadis itu bersandar kembali pada jok mobil.
"Seseorang." Jawab Jongin singkat. Dalam hati, ia membenci selera musik Tiffany yang bertolak belakang dengan miliknya. Jongin lebih menyukai musik-musik instrumen milik Bach daripada lagu-lagu pop seperti ini.
"Oh, oke." Tiffany memejamkan matanya lalu mulai menyanyikan lagu tersebut sambil menggerak-gerakkan tubuhnya.
"Jangan lupa pakai seatbealt-mu." Jongin memutar matanya. Ia melajukan mobilnya memutari air mancur yang berada di tengah rumahnya sebelum akhirnya melewati pagar rumahnya.
"This is the part when I say I don't wanna!"
"Shut up, Tiffany!"
.
.
Sehun langsung bersiap-siap setelah Jongin menelponnya. Ia yakin ada sesuatu yang tidak beres dan apapun itu pasti ada hubungannya dengan pernikahan Chanyeol dan Luhan besok. Sehun mengepalkan tangannya. Besok.. waktu berjalan begitu cepat dan hari yang benar-benar dibencinya akhirnya datang juga. Besok.. ia akan melihat orang yang paling dicintainya menikah dengan orang yang sempat menjadi sahabat terbaiknya.
Sehun membuka lemari pakaiannya dan matanya tertuju kepada kemeja putih polos yang tidak ada bedanya dengan kemeja lainnya. Namun, kenangan yang berada pada kemeja itu membuat kemeja itu special dan menjadi favoritnya selama ini. Sehun mengeluarkan kemeja tersebut dan menggantungnya dibalik pintu kamarnya. Besok, ia akan memakainya dan berharap somehow Luhan can still remember it.
Setelah selesai berpakaian, Sehun mengantongi ponselnya dan menggenggam kunci mobilnya. Ia berjalan cepat menuju garasi rumahnya, tempat dimana ia menyimpan koleksi mobilnya. Tahu kalau Sehun akan mengeluarkan salah satu mobilnya, dua orang pembantu di rumah Sehun segera membagi tugas untuk membukakan pintu garas dan pagar rumah.
Sehun memilih untuk menggunakan Mustang klasik miliknya. Ketika, ia sudah berada di dalam mobil tersebut. Sehun mulai merasakan nostalgia memenuhi dirinya. Mobil ini menyimpan banyak kenangan akan dirinya dan Luhan. Sehun dapat membayangkan Luhan yang duduk di samping dirinya, tertawa lepas, sambil menyanyikan lagu favorit mereka berdua. Sehun menyalakan mesin mobil dan salah satu lagu favoritnya memenuhi seisi mobil.
"We keep this love in a photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Hearts are never broken
And time's forever frozen still"
Sehun melajukan mobilnya keluar dari garasi. Jarak antara pekarangan rumah Sehun dengan pagar rumahnya cukup jauh. Jalan yang membawanya keluar dari rumahnya itu juga membawa nostalgia bagi dirinya. Rumah ini adalah miliknya. Ia membelinya atas rekomendasi dari Luhan. Ia masih ingat kalau Luhan menyukai jalan ini – jalan keluar yang diapit oleh pepohonan yang Luhan selalu katakan sebagai 'hutan kecil mereka'.
Di tengah jalan, Sehun menghentikan mobilnya. Ia tidak bisa. Ia tidak bisa melepaskan Luhan kepada Chanyeol. Ia tidak bisa membiarkan Luhan bersama dengan orang lain selain dirinya. Ia tidak perduli kalau Luhan telah mengingkari janjinya. Luhan tidak menunggunya dan ia pergi meninggalkannya bersama Chanyeol – seseorang yang dirinya minta untuk menjaga Luhan selama dirinya pergi.
"So you can keep me Loving can heal, loving can mend your soul
Inside the pocket of your ripped jeans
Holding me closer 'til our eyes meet
You won't ever be alone, wait for me to come home
And it's the only thing that I know, know
I swear it will get easier,
Remember that with every piece of you
And it's the only thing we take with us when we die"
Sehun menginginkan Luhan sekarang. Sehun ingin memeluknya dan membisikkan kalau ia tidak akan pernah pergi lagi darinya dan akhirnya mereka bisa bersama sekarang. Sehun mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang yang membuatnya tidak berdaya seperti ini.
"Halo?"
"Luhan.. aku kembali. Maaf, aku baru memberitahumu sekarang ini."
"Sehun?"
"Yeah, it's me, Love."
Dilain sisi, Luhan langsung mematung tidak tahu harus bereaksi apa. Sehun kembali. Dan dia kembali disaat yang benar-benar tidak tepat. Luhan melirik ke arah ibunya yang sedang memilihkan jas yang akan dipakainya besok bersama ibu Jongin. Ia berjalan keluar dari area fitting room dan bahkan tanpa dirinya sadari ia sudah berada diluar butik pengantin milik ibu Chanyeol.
"Chanyeol tidak memberitahumu?"
"Tidak."
"Tapi, dia mengundangku. Via pos. Haha, dasar bajingan." Luhan dapat mendengar tawa getirnya dan ia tahu kalau keadaan Sehun tidak sebaik harapannya. Dia pasti marah. Dia pasti kecewa. Dan yang paling utama.. dia pasti patah hati sekarang. "Luhan, aku merindukanmu. Aku harap aku bisa bertemu dengan sekarang. Aku tahu kalau aku tidak akan bisa menghentikan pernikahan ini. Mungkin, Chanyeol-lah pilihanmu selama ini dan aku.. aku rela. Namun, asal kau tahu saja.. selamanya aku tetap akan mencintaimu. See you soon, Love."
Kau bisa, batin Luhan lalu mengantongi ponselnya. Matanya berkaca-kaca dan pasti ia terlihat begitu bodoh sekarang. Ia berusaha menghapus jejak-jejak air matanya. Ia tidak bisa terlihat sedih disaat-saat seperti ini. Besok, ia akan menikah. Dan seharusnya, ia menjadi orang paling bahagia sedunia sekarang. Namun, setelah mendengar Sehun dan menyadari kalau Sehun begitu dekat dengannya sekarang. Ia tidak bisa tersenyum bahagia lagi. Ia ingin menjerit dan menangis sekarang. Ia terjebak di dalam situasi yang tidak pernah diinginkannya. Ia mencintai Chanyeol, namun ia juga mencintai Sehun. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Mungkin, memang benar. Tidak ada yang bisa menghentikan pernikahan ini. Luhan mendorong pintu butik dan berusaha keras untuk mengembalikan senyum lebarnya.
.
.
Tiffany berpisah dengannya di persimpangan jalan. Gadis itu memilih untuk berbelanja daripada menunggu seseorang yang bahkan tidak dikenalnya di Starbucks.
"I'm broken do you hear me?" Jongin memejamkan matanya, menyumpal kedua telinganya dengan earphone dan menyanyi di pojok Starbucks. Ia tidak perduli kalau dirinya terlihat seperti orang gila sekarang. Karena sesungguhnya ia meragukan kewarasannya sekarang.
Sudah setengah jam lebih ia menunggu Sehun dan pria sialan itu tidak kunjung datang. "That I see you on the street.." Jongin tiba-tiba jatuh berlutut dan lanjut bernyanyi, "And it's hard I get weak. My body fell, I on my knees praying!"
Sehun yang baru saja datang dan sedang mencari-cari Jongin langsung menemukan pria itu yang sedang berlutut dan menyanyikan More Than This layaknya orang gila. Well, mungkin dia memang gila. "Apa kita harus mengusir pria itu? Dia tidak memesan apa-apa daritadi dan-"
"Dia temanku." Ujar Sehun memotong percakapan dua pelayan Starbucks tersebut.
"Oh, oke. Maaf. Kami-"
"Aku pesan dua hot chocolate." Salah satu pelayan tersebut langsung melayani pesanan Sehun dan menyebutkan total harga pesanannya. Dengan acuh, Sehun mengeluarkan dua lembaran uang dan tidak perduli akan kembalian dari kasir tersebut. Ia langsung berjalan mendekati Jongin yang menjadi tontonan para pengunjung Starbucks.
Sehun berdiri di hadapan Jongin tepat disaat Jongin menyanyikan bagian, "I'll never had the word to say. But, now I'm asking you to stay!" Sehun memutar matanya lalu menendang lutut Jongin membuat pria itu membuka matanya dan mengangkat kepalanya bertemu pandang dengan Sehun. Menyadari apa yang telah diperbuatnya, Jongin langsung bangkit berdiri dengan wajah memerah. Sehun berusaha menahan senyumnya melihat reaksi pria itu.
"Kim Jongin, I think stuck with you it's not really that bad." Ujar Sehun lalu mendorong kening Jongin dengan satu jarinya. Dengan wajah memerah, Jongin hanya bergumam mengutuki pria itu.
.
.
Rin's note :
Jongin! Aku suka karakter dia yang gimana ya.. Jongin itu crazy, sweet and blunt!
Sooo, guys, what do you think of this chapter? Any thoughts about Sehun, Luhan, Chanyeol and Tiffany?
Anyways, for Christmas aku bukan open request.. kalau kalian mau request fic langsung aja ask aku di askfm ( ferineee) and tell me about your plot!
