Ketika pertama kali Sasuke membuka matanya, ia sama sekali tidak mengenali tempat itu. Sejauh mata memandang, hanya terlihat petak-petak bunga mawar aneka warna yang kelopaknya bergoyang lembut diterpa angin dan langit di atasnya berwarna oranye tanpa awan menggantung.

Ia takut.

"Sasuke?"

Namun, begitu suara yang Sasuke kenali memanggil namanya lembut, ia merasakan serangan kelegaan. Di hadapannya, tanpa ia sadari, terhidang secangkir teh yang baru saja Sakura tuangkan dari teko teh kristal .

"Ini di mana, Sakura? Apa yang kita lakukan di sini?"

"Tentu saja kita sedang berada di taman belakang rumah kita. Kau yang membangun tempat ini untukku supaya aku bisa minum teh dengan tenang." Sakura tersenyum lembut.

"Begitu?" gumam Sasuke, lebih pada dirinya sendiri. Dipenuhi rasa bingung dan penasaran, ia mengangkat cangkir tehnya. Tapi, wajah yang terpantul di atas permukaan cairan berwarna merah muda itu membuatnya mengernyit.

Seorang laki-laki, mungkin berusia tiga puluhan akhir, dengan rambut yang lebih panjang plus poni samping yang menutupi sebagian mata tengah balik menatapnya. Lelaki itu mirip dirinya, hanya dengan fitur yang lebih dewasa dan saat Sasuke memiringkan kepalanya untuk melihat dari sudut berbeda, lelaki itu bergerak mengikutinya.

Apa itu dirinya? Pikir Sasuke.

Sasuke mengangkat wajahnya lagi dan menyadari bahwa Sakura pun nampak berbeda. Rambut pink panjangnya kini hanya tersisa sebahu. Wajahnya tetap ayu, tapi kesan keibuan tertangkap jelas lewat tiap gerak-geriknya.

"Oh ya," Sakura lagi-lagi menarik perhatian Sasuke, "sebentar lagi dia pulang."

"Siapa?" Sasuke balas bertanya.

"Ah! Itu dia!" tanpa menjawab Sasuke lebih dahulu, Sakura beranjak dari kursinya dan berjalan cepat menyongsong sosok di kejauhan.

Sasuke kesulitan melihatnya. Ia pun akhirnya menghampiri Sakura yang kini tengah memeluk orang itu yang tingginya hanya sepinggang Sakura hingga membuat istrinya itu berlutut.

Sasuke sudah cukup dekat, tapi ia tidak bisa melihat wajah orang yang Sakura peluk. Ia pun akhirnya bertanya, "Sakura, siapa dia?"

Sakura menoleh ke arah Sasuke dan perlahan melepas pelukannya. "Sasuke, ini Haru," jawabnya seraya berdiri. "Anak kita," tambahnya dengan senyum manis terkembang.

Sasuke langsung beralih pada sosok yang perlahan memunculkan diri dari balik tubuh Sakura. Dimulai dari kepalanya yang melongok malu-malu, hingga keseluruhan tubuhnya kini terpantul di lensa mata Sasuke. Dan tiba-tiba saja Sasuke menjerit, hanya saja tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Sementara itu, Sakura kembali memeluk dan mengelus kepala anak itu penuh rasa sayang.

Anak dengan rambut dan mata semerah darah.

Dandelion Wish

Naruto © Masashi Kishimoto

Story by CMA

Sasuke terbangun akibat dering ponsel Sakura di atas nakas. Benda mungil itu bergetar dan berdering dengan volume maksimal. Biasanya, Sasuke akan marah jika ada yang mengganggu tidurnya, tapi kali ini ia merasa bersyukur karena deringannya telah membangunkan Sasuke dari mimpi yang mengerikan.

Namun, kelegaan itu hanya bertahan sementara. Ketika Sasuke melongok ke samping, sisi ranjang di sebelahnya telah kosong dan dingin. Cepat-cepat Sasuke menyibak selimut yang melilit tubuhnya dan berlari menuju pintu. Tidak lupa menyambar ponsel Sakura yang masih juga mendengking-dengking.

Tidak, tidak. Dia tidak mungkin pergi.

Sasuke menenangkan diri. Efek mimpi barusan masih terasa. Napasnya masih memburu dan keringat dingin di dahinya menetes hingga dagu. Ini tidak bagus. Ia harus menemukan Sakura sekarang juga!

Dan begitu ia berbelok ke arah dapur—setelah sebelumnya mengecek ruang tengah—Sasuke mendapati sang istri yang tengah berdiri di depan wastafel dengan tali apron terjalin di belakang tubuhnya. Rasanya saat itu juga Sasuke ingin menangis. Tapi, tidak! Ia segera menghambur dan memeluk Sakura dari belakang.

"Hwa!"

Sakura yang terlalu fokus dengan pekerjaannya, tidak menduga akan ada tangan yang tiba-tiba memeluknya. Ia bahkan menjatuhkan spatula yang tengah ia bilas, membuat busa sabunnya terciprat ke mana-mana. Karena posisinya yang janggal, Sakura hendak memungut spatula itu, tapi tangan yang tadi melingkar di perutnya kini menarik tangannya juga untuk ikut memeluk dirinya sendiri.

"Sasuke?" Sakura tahu ada yang tak beres. Apalagi Sasuke hanya diam dan menyembunyikan wajahnya di bahu Sakura. "Sasuke, kau kenapa?"

Hening, hanya terdengar suara air dari keran yang tetap terbuka.

Sakura mencoba mengira apa yang terjadi pada suaminya. Tapi tadi ia masih tidur saat Sakura meninggalkannya. Sekarang kenapa ia bertingkah aneh begini? Hingga Sakura bisa merasakan debaran jantung Sasuke yang begitu cepat dan keras di punggungnya.

"Sasuke?" Sakura memanggilnya lagi, kali ini ia juga mencoba melepaskan diri dari pelukan sang suami. "Apa kau bermimpi buruk?"

Pelan-pelan, Sakura melepaskan cengkraman tangan Sasuke di tangannya yang kini mulai menjejak merah, kemudian menutup keran air setelah sebelumnya mencuci tangannya secepat kilat. Sasuke yang masih menunduk dan menghindari tatapannya membuat Sakura was-was. Kali terakhir Sasuke bertingkah seperti ini, berakhir dengan mereka yang bertengkar untuk pertama kalinya.

Akhirnya Sakura mencoba mengalihkan pembicaraan pada sarapan mereka yang telah terhidang di meja karena Sasuke hanya diam seperti patung. "Aku sudah buatkan sup tomat kesukaanmu. Kita sarapan, ya? Sudah tiga hari aku sakit dan kau tidak makan dengan teratur." Sakura menyibak poni depan Sasuke dan mendapati mata suaminya menatap lurus ke lantai. Ia tidak menyerah dan kembali membujuknya. Kalau Sasuke tidak mau bicara juga, ia harus dialihkan. "Sekarang cuci muka dan sikat gigi, OK?"

Ketika akhirnya Sasuke bergerak, suaminya mengulurkan ponsel Sakura yang rupanya sudah berhenti berdering. "Tadi ada telepon," ujarnya lirih sebelum berlalu ke kamar mandi.

Sakura mengabaikan ponselnya dan menyelipkannya begitu saja ke saku apronnya. Ia lebih memilih menyelesaikan cucian piringnya sebelum Sasuke kembali. Saat pria itu akhirnya muncul, wajahnya tampak biasa saja seolah kejadian tadi tidak pernah ada.

"Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat hari ini?" Sakura baru berani bersuara di tengah-tengah acara sarapan mereka. Setidaknya sup tomatnya bisa membantu menaikkan mood Sasuke.

"Kenapa?" sahut Sasuke tanpa menatap Sakura.

"Ini akhir minggu dan dua hari terakhir ini kau pasti kerepotan merawatku sambil terus mengurusi kantor. Kupikir, pergantian suasana adalah hal baik. Mungkin kita bisa main ke rumah orangtuamu atau jalan-jalan ke suatu tempat. Bagaimana?"

Sasuke menghentikan laju sendok supnya, nampak sedang berpikir. Sedetik kemudian, ia menjawab. "Tidak."

"Ah. Begitu?" Sakura mencoba tersenyum. "Baiklah. Kupikir istirahat di rumah juga ba—"

"Tidak. Bukan begitu," Sasuke memotong ucapan Sakura. "Aku tidak ingin ke rumah orangtuaku atau jalan-jalan." Kali ini, Sasuke mendongak dan Sakura bisa melihat mata hitam sang suami yang dingin dan tenang. Hampir menyerupai tatapan mata lelaki yang ia lihat di acara makan malam perdana keluarga mereka.

Hanya saja, mata itu juga menyorotkan rasa takut yang menari-nari di balik tatapan dingin yang coba Sasuke pertahankan dan Sakura bisa melihat itu.

"Lalu, kau mau ke mana?"

"Ke rumah ayahmu."

.

.

.

.

Sasuke mempertimbangkan untuk menjauhi Karin. Setiap kali mereka bertemu, Sasuke pasti membawa pulang rasa gundah yang tidak bisa dijelaskan yang akhirnya berakibat pada mood-nya yang rusak. Hanya saja, ia juga tak bisa menahan diri. Tahu kalau hanya Karin yang mengerti Sakura luar-dalam—selain lelaki itu—Sasuke berakhir dengan menceritakan kegalauannya dan meminta psikolog itu balik mengomentarinya. Lama-lama Sasuke merasa ia seperti seorang masokis karena jelas-jelas jawaban Karin makin memperkeruh suasana hatinya.

Seperti kali ini.

Ide tentang mengunjungi ayah Sakura tiba-tiba muncul begitu saja di kepalanya. Sepertinya karena akhir-akhir ini ia begitu memikirkan pembicaraannya dengan Karin kemarin lusa. Sejak saat itu, Sasuke semakin ingin tahu tentang Sakura, termasuk hubungannya dengan sang ayah.

Dan lagi, kalau dipikir-pikir, Sasuke ini agak kurang ajar. Ia tidak pernah mengunjungi mertuanya itu sekali pun. Setiap ada waktu di akhir minggu, mereka selalu mengunjungi orangtua Sasuke. Sepertinya Sasuke harus menambah satu hal lagi ke daftar 'ketidakpekaannya' sebagai seorang suami.

Tapi setidaknya, semua kebodohan Sasuke terbayar dengan senyum yang selalu terkembang di wajah Sakura. Segera setelah ia menyatakan keinginannya, Sakura cepat-cepat menyelesaikan sarapannya dan beralih menyiapkan pai apel ekstra kayu manis yang katanya adalah makanan favorit sang ayah. Melihat keceriaan Sakura yang tidak biasa, Sasuke menyimpulkan bahwa sebenarnya Sakura sudah sejak lama ingin mengunjungi ayahnya setelah terakhir kali Kizashi mengunjungi mereka, tapi sepertinya ia tidak ingin mengganggu Sasuke sebab letak rumah mertuanya itu lumayan jauh dan Sasuke menetapkan aturan bahwa Sakura harus selalu bersamanya saat keluar rumah.

"Sasuke, ayo cepat!"

Tapi, tidak seperti ini juga!

"Aku akan menghukummu kalau sampai kau jatuh sakit lagi," gerutu Sasuke sebal sambil menyusul Sakura untuk menaikkan syal di leher istrinya hingga ke bawah hidung dengan satu tangan. Tangannya yang lain memegang tas berisi pai apel yang lumayan berat. "Yang benar saja, Sakura! Kau baru saja sembuh!"

Sakura ingin mereka pergi menggunakan transportasi umum. Yang artinya, mereka harus berjalan kaki ke halte bus. Sebenarnya jaraknya pun tak terlalu jauh, hanya saja udara yang cukup dingin membuat Sasuke meradang dan hampir menyeret Sakura balik ke apartemen untuk mengambil mobil. Baru beberapa menit di luar, wajah Sakura sudah memerah—dan terlihat sangat cantik ngomong-ngomong, sampai Sasuke ngotot menaikkan syal Sakura agar pejalan kaki yang lewat tidak curi-curi pandang wajah istrinya.

"Oh, ayolah! Ini cukup menyegarkan, hitung-hitung olahraga." Sayangnya yang dikhawatirkan malah tidak peduli dan berjalan cepat di depannya sambil tersenyum menggoda. "Lagipula, apa kau tega menghukum orang yang sudah sakit?"

"Kita lihat saja," desis Sasuke dengan mata memicing tajam pada laki-laki yang berjalan berlawanan arah dengan mereka. Lelaki itu menatap Sakura sejak tadi dan langsung menunduk dalam-dalam ketika beradu tatap dengan Sasuke.

Dan seperti biasa, Sakura tidak terpengaruh dengan ucapan sinis Sasuke. Wanita itu melangkahkan kakinya ringan. Sedikit jengkel, Sasuke mengekornya. Ia ingin memastikan jarak mereka cukup dekat agar tidak ada yang mengira Sakura berjalan-jalan sendirian.

Tapi, tiba-tiba, langkah Sakura terhenti di depan pintu masuk sebuah taman. Terlepas dari suhu yang dingin, masih ada beberapa anak kecil yang berlarian di sana ditemani ibu mereka yang juga duduk berkerumun saling mengobrol. Namun, dari sekian banyak anak yang ada di sana, mata Sakura terpaku pada sesosok gadis kecil berambut hitam legam yang sedang menangis tersedu dengan lutut terluka.

Sasuke ikut berhenti dan mengamati ibu dari gadis kecil tersebut yang kini memeluk anaknya, membujuknya untuk tidak menangis dan meniupi luka lecet di lututnya. Hingga akhirnya anak itu berhenti menangis dan dibawa duduk ke kursi terdekat, Sakura masih juga memperhatikan, membuat Sasuke bingung hal apa gerangan yang begitu membuatnya tertarik.

Heran, Sasuke nyeletuk asal. "Kamu ingin punya anak?"

"Ya," sahut Sakura seperti melamun, matanya masih tertuju pada obyek yang sama sebelum menatap Sasuke dengan senyum terkembang di balik syal. "Dengan mata sepertimu."

"Dan aku mau anak perempuan," Sakura melanjutkan ucapannya seraya menggandeng tangan Sasuke dan mengayun-ayunkannya dengan semangat, "yang miriiip sekali denganmu."

Tanpa Sasuke bisa mencegah, bayangan anak kecil dalam mimpinya langsung muncul di kepala. Rambut merah, mata merah. Bukan hitam, bukan merah muda. Bukan hitam, bukan hijau daun. Merah.

"Benarkah?" lalu, terlontarlah pertanyaan skeptis yang terdorong rasa takut karena bayangan itu semakin jelas dalam benak Sasuke, hingga ia seperti melihat anak itu berdiri di tengah lapangan, di antara anak-anak yang berlarian.

Anak itu tersenyum.

Cukup!

"Aduh!"

Sakura memekik refleks akibat remasan kuat tangan Sasuke di tangannya. Pekikannya itu menyadarkan Sasuke yang segera melepaskan tangannya dan meminta maaf pada sang istri.

"Apakah sakit?" Sasuke panik, lebih karena rasa takut yang belum bisa ia usir. Apalagi saat Sakura menatapnya dengan sorot mata menyelidik. Tidak. Tidak. Ia tidak boleh membuat Sakura berpikir yang aneh-aneh. "Maaf, tadi a—"

Cup!

Sasuke terperangah saat Sakura tiba-tiba mengecup bibirnya di depan umum begini, meski hanya kecupan kilat. Tapi, Sasuke bersyukur karena hal itu secara ajaib mengusir semua perasaan buruk yang sejak pagi meliputinya.

Saat Sasuke menunduk untuk menatap Sakura, wanita itu sedang tersenyum ke arahnya dengan begitu manis dan cantiknya hingga memancing senyum lain terkembang di wajah Sasuke.

"Kamu lucu sekali sih, hari ini."

Dan saat Sakura kembali menggandeng tangannya, semua mimpi buruk itu terlupa. Karena Sakura akan selalu ada di sini, menggenggam tangannya—

—'kan?

.

.

.

.

Sakura itu pengamat yang jeli. Ia bisa memahami sesuatu dengan cepat. Jarang sekali ia tidak menyadari keanehan di sekitarnya. Kalaupun pernah, lebih karena egonya sendiri yang menolak kenyataan yang ada. Jadi, saat Sasuke bertingkah aneh pagi ini, Sakura dapat memahaminya dengan baik.

Terima kasih pada Karin yang sudah memberitahukannya tentang semua curahan hati sang suami. Meski Sakura juga tahu bahwa Karin banyak menghilangkan beberapa bagian ceritanya agar Sakura tidak khawatir. Namun, setidaknya Sakura dapat menangkap inti pembicaraannya dengan jelas : Sasuke ingin lebih mengenal dirinya.

Sakura ingin tersenyum mendengarnya, tersenyum miris, tapi. Suaminya rupanya hanya lelaki biasa pada umumnya, berbeda dengan anggapan awalnya. Hal itu memang manusiawi, tapi untuk saat ini Sakura tidak bisa memenuhi keinginan sang suami. Nanti, setelah waktunya tiba, Sakura tidak akan menutupi apapun hingga ke bagian terkecilnya.

Suaminya itu memang lamban mengerti soal cinta, jadi Sakura tak heran jika Sasuke masih saja bertingkah labil layaknya remaja belasan tahun. Sakura masih bisa melihat bayang-bayang kekhawatiran, cemburu, dan takut yang berkelebat di balik sorot mata tajam pria itu. Tak peduli berapa kali pun Sakura mengatakan kalau ia mencintai Sasuke, pria itu akan tetap meragu.

Sakura tak menyalahkannya. Sepuluh tahun itu masih bisa ia rasakan sendiri. Hingga saat ini, setiap hal di sekitarnya selalu mengingatkannya pada Sasori. Kenangan mereka terlalu banyak, memang, dan Sakura berusaha sebaiknya untuk tidak menunjukkannya di depan Sasuke, lagi-lagi, hingga saat itu tiba.

Saat Sasuke tahu, bahwa hanya dia pilihan yang ada untuk Sakura.

Diam-diam, Sakura mencuri pandang pada Sasuke yang tengah menatap ke luar jendela bus sementara tangannya yang besar melingkupi keseluruhan tangan Sakura, seolah menjanjikan keamanan. Ini ironi. Karena kenyataannya, bagi Sasuke, Sakura-lah yang paling berpotensi melukainya. Dan sekali lagi Sakura tersenyum miris karena ia tidak dapat melakukan apa-apa selain memberikannya waktu untuk belajar balas mencintainya.

.

.

.

.

Rumah itu masih sama hingga ke tiang-tiang lampu tamannya. Sakura bahkan bisa menemukan tiang bergores yang jadi sasaran tabrakan sepedanya ketika ia berusia empat tahun dan sedang belajar naik sepeda. Tapi, benda-benda dari masa lalu tak seberapa bandingannya dengan ingatan masa lalu yang berputar begitu saja di otaknya, lantas terproyeksi dengan nyata di hadapannya kini.

Tepat ketika kakinya menjejak jalan setapak yang diapit semak mawar, Sakura melihat dirinya sendiri yang berusia sembilan tahun tengah berlari di antara semak mawar yang tengah berbunga. Dalam pelukannya, ada kumpulan bunga daisi, bunga kesukaan ibunya. Beberapa meter di depan, ada sebuah paviliun kecil yang sering dijadikan tempat ibunya beristirahat dan menikmati teh merah. Ibunya lebih sering minum teh sendirian karena ayahnya selalu sibuk dan dirinya punya banyak PR. Hanya sesekali saja Sakura bisa menemani ibunya.

Tapi hari itu, Sakura kecil melihat seseorang tengah duduk berhadapan dengan sang ibu dan entah mengapa ibunya mulai tertawa lebar dan agak terpingkal-pingkal. Itu tawa yang belum pernah Sakura kecil lihat sebelumnya hingga tanpa sadar ia pun tersandung dan jatuh tersungkur. Suara jatuhnya yang disertai pekikan cukup keras membuat dua orang yang tadinya sedang asyik berbincang sambil menikmati teh, segera bangkit menghampiri Sakura.

Sakura dewasa mengawasi ketika sosok yang berlari di depan ibunya mengangkat dirinya versi umur sembilan tahun dari tanah, secara perlahan menyejajarkan manik matanya dengan wajah sang penolong yang masih diingatnya hingga kini.

Seorang pria, dengan bahu yang lebar terbalut jas hijau lumut, leher berhiaskan dasi merah, dagu yang sedikit terbelah, kumis tipis di atas bibir, pipi kemerahan—

—dan mata sewarna hijau zamrud seperti miliknya.

Tapi, rambutnya tidak berwarna merah muda kusam melainkan hitam, hitam yang sangat berkilau.

Sakura dewasa memalingkan wajah, setetes air mata terkumpul di sudut matanya tapi segera diusap cepat sebelum jatuh ke pipi.

.

.

.

.

Sasuke mengakui ia agak takjub dengan desain interior rumah itu. Tiap dindingnya tak luput dari sentuhan seni. Selalu ada guci, ukiran kayu, permadani, hingga lukisan dalam jarak beberapa langkah. Anehnya, bukannya terlihat sesak, ruang depan rumah itu tampak megah dengan adanya benda-benda seni yang Sasuke taksir harganya lebih dari delapan digit.

"Ayah biasanya memberi makan ikan koi di kolam belakang. Tapi karena udara cukup dingin, sepertinya ayah ada di ruang kerjanya." Sakura menjelaskan sambil menuntun Sasuke menuju tangga yang mengarah ke lantai dua.

"Tunggu," tahan Sasuke.

"Kenapa?"

"Aku ingin ke kamar kecil. Ada di mana?"

Sakura tersenyum geli, "Ada di ujung lorong ini," katanya sambil menunjuk ke sebelah kanannya. "Tapi, di atas juga ada kok."

"Nanti aku menyusul." Sepertinya Sasuke sudah tidak tahan karena cepat-cepat ia menyerahkan tas pai apelnya ke tangan Sakura dan melangkah lebar-lebar menuju arah yang dimaksudkan.

"Lantai dua, pintu ke tiga di kiri!" Sasuke bisa mendengar seruan Sakura yang bergema di lorong juga samar-samar suara dering ponsel Sakura sebelum jaraknya menjadi lebih jauh.

Setelah selesai dengan urusannya, Sasuke bermaksud untuk menyusul Sakura. Namun, di tengah jalan, ia melihat pintu tinggi berukir di tengah lorong yang sebelumnya luput dari perhatiannya. Entah mengapa Sasuke merasa penasaran dengan apa yang ada di balik pintu itu dan sebelum ia sadari, ia sudah berada di dalamnya.

Tapi sepertinya Sasuke sudah menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam neraka.

Segera setelah kakinya menjejak di dalam ruangan itu, Sasuke diserang oleh suara-suara yang berasal dari ratusan lukisan yang tergantung ataupun bersandar di dinding. Sasuke sebenarnya tidak percaya lukisan bisa hidup, tapi ia bisa mendengar dengan jelas—bahkan mencium—apa yang tergambar di lukisan itu.

Jangan kejar aku, menjauuuh, ih!

Terserah kau mau bilang apa, aku tidak akan melepasmu.

Aroma garam dan laut menguar dari lukisan di sebelah kanan Sasuke yang menggambarkan dua sosok muda-mudi yang berkejaran di tepi pantai—ia mengenali keduanya, meski entah mengapa warna rambut sang gadis berbeda. Sang gadis berusaha menghindari kejaran sang kekasih yang mengulurkan tangan, mencoba meraihnya. Mereka terlihat bahagia.

Di sisi yang lain, dua sosok yang sama tidur saling bersandar di bawah pohon sakura yang tengah mekar dengan indahnya. Mereka tidur dengan senyum lembut dan jemari tangan yang saling terjalin. Keduanya nampak saling mencintai meski dalam keheningan, dengan kelopak bunga sakura yang berguguran seperti salju.

Di lukisan yang lain, yang hanya berisi sosok sang gadis dengan bunga daisi dalam pelukan, Sasuke bisa mendengar suara tawanya yang bahagia. Bergema tanpa henti di telinga Sasuke bersama suara-suara lain yang kini memenuhi kepalanya.

'Kau cantik hari ini', kata sang laki-laki pada gadisnya yang berdiri dengan pipi merona merah menahan malu atas dandanannya yang tidak biasa untuk kencan perdana mereka.

'Aku akan melindungimu', terdengar lantang dari lukisan di mana lengan sang laki-laki memeluk gadisnya yang tengah menangis dalam pelukannya. Bibirnya mengecup lembut pucuk kepala berambut hitam panjang itu.

'Selamat ulang tahun!' Terdengar bersama ledakan konfeti yang meriah, berasal dari lukisan penuh warna dengan sosok sang gadis yang tengah tersenyum sambil meniup lilin di atas kuenya. Topi pesta terpasang miring di kepalanya, membuatnya terlihat lucu.

'Kehangatan dari ujung jarimu menghangatkan hatiku' yang dibisikkan dengan lembut oleh laki-laki bersyal merah pada sang gadis yang melepaskan sarung tangannya untuk membagi panas tubuhnya pada tangan sang kekasih yang membeku di tengah musim dingin.

'Anginnya sejuk, ya' terdengar di antara gesekan ilalang tinggi yang mengitari pohon berdaun rimbun, tempat keduanya berteduh. Sang gadis tertidur dengan paha sang pemuda sebagai bantalan sementara pemuda itu tengah membaca buku.

Sasuke merasakan dingin yang merambat di ujung-ujung jarinya, naik hingga ke dada. Matanya kini nampak sayu dengan wajah yang sudah tak dapat lagi dideskripsikan ekspresinya. Antara sedih, marah, kecewa, Sasuke sendiri tak bisa membedakan. Ingin rasanya ia tiba-tiba menjadi buta dan tuli, agar semua lukisan dan suara-suara itu berhenti memenuhi kepalanya karena tak peduli seberapa keras ia mencoba, matanya tak mau dipejamkan lama dan tangannya tidak bisa bergerak untuk menutup telinganya.

Ternyata memang mustahil. Mustahil ia bisa mengalahkan ini semua.

Dan hal itu dikokohkan dengan satu lukisan yang tergantung di tengah-tengah ruangan. Tiba-tiba saja kaki Sasuke bergerak dengan sendirinya mendekati lukisan itu. Lukisan dua orang yang masih tetap sama—meski jelas terlihat mereka bukan lagi remaja—kali ini saling bertatapan. Sang gadis menangis, sementara sang pemuda juga jelas menahan air mata.

Tangan Sasuke terangkat, menyusuri goresan air mata gadis itu dengan jarinya yang gemetar. Membuat gerakan menggaruk di akhir yang ditujukan untuk merusak lukisan itu meski sia-sia. Lagipula untuk apa? Tak peduli apa yang Sasuke lakukan untuk menghancurkan lukisan di hadapannya, pesan yang tersirat lewat tatapan mata mereka tak akan ikut hancur bersama kanvasnya.

Sebaliknya, pesan itu malah mengahancurkan dirinya.

' ... Aku mencintaimu'.

.

.

.

.

"Sakura, rambutmu sudah panjang sekali." Haruno Kizashi mengomentari saat putrinya itu mondar-mandir di hadapannya, sibuk memindahkan pai apelnya ke piring saji lantas disuguhkan di depan Kizashi. "Apa tidak mengganggu jika sepanjang itu?"

Sakura menatap ayahnya dengan tangan sibuk mengiris pai untuknya dan Sasuke. "Sedikit, sih." Ia tersenyum kecil.

"Sebaiknya kau potong," usul ayahnya.

"Aku tidak akan memotongnya, Ayah," Sakura masih dengan sabar memberikan pengertian pada ayahnya. "Soalnya aku suka sekali rambutku."

Ia lalu duduk di hadapan Kizashi setelah selesai menyajikan tiga porsi pai dan teh merah. Sesaat ia melihat sang ayah tertegun atas jawabannya sebelum kemudian pura-pura berdeham lantas mulai menyantap pai yang Sakura buat.

"Ini enak," gumam ayahnya di antara kunyahan.

"Syukurlah." Sakura menanggapi pujian ayahnya dengan senang. Matanya tak henti mengikuti gerakan tangan yang kurus itu ketika memotong sedikit bagian painya lantas dimasukkan ke dalam mulut.

Sudah berapa lama, sejak terakhir kali ia melihat ayahnya sedekat ini? Sebenarnya baru beberapa hari yang lalu, sih. Tapi, Sakura merasa rindu dan selalu rindu akan sang ayah. Kalau saja pekerjaannya tak mengganggu, atau Sasuke mau memberi sedikit kelonggaran, ia ingin lebih sering mengunjungi ayahnya. Di masa-masa tuanya, Sakura tidak ingin membuat ayahnya merasa kesepian lagi.

Ya, kesepian lagi.

Sudah cukup baginya mengabaikan sang ayah selama bertahun-tahun. Segera setelah ia menyadari kalau ia telah melakukan hal yang salah, Sakura mengerahkan semua daya upayanya untuk memperbaiki kesalahan yang ada. Tentu saja itu tidak sebanding karena waktu yang terbuang tak akan kembali. Kursi di ruang makan yang ia tinggalkan selama bertahun-tahun sudah mendingin terlalu lama dan tak mungkin menghangat dalam sekejap. Tapi setidaknya kursi itu tak lagi kosong.

Namun, Sakura harus rela meninggalkan ayahnya untuk tinggal bersama Sasuke. Itu jugalah yang diinginkan ayahnya. Sakura tidak bisa melakukan apa-apa selain menurutinya meski tiap malam ia tersiksa dengan bayangan sang ayah yang makan sendirian di ruang makan yang luasnya bisa menampung dua ratus orang.

"Apa Ayah makan teratur? Obatnya diminum?" tanya Sakura. Jika saja Sasuke di sini, maka dipastikan ia tidak akan mengenali istrinya. Sakura sudah bersikap lembut pada sang suami, tapi sikapnya terhadap sang ayah tidak bisa dibandingkan. Penuh kasih dan penghormatan seorang anak pada orangtuanya. "Maaf aku tidak bisa sering-sering berkunjung," tambahnya.

"Tidak apa-apa. Ayah mengerti." Kizashi menjawabnya dengan agak canggung. Ia tentu yang paling menyadari perubahan drastis sang anak yang tadinya mengacuhkannya hingga kini jadi begitu perhatian. Mereka sama-sama tahu apa alasannya, tapi membiarkan itu jadi cerita di belakang layar. Dan tentu saja Kizashi sedikit bingung menanggapi limpahan kasih sayang putrinya. Meski ia sangat bersyukur, jujur saja ini sulit. Jarak yang pernah dan masih ada di antara mereka belum bisa tertutupi oleh usaha Sakura sejauh ini. Mungkin karena mereka tidak pernah dengan gamblang membicarakan inti permasalahannya.

Sakura tersenyum lembut mendengar jawaban sang ayah, membuat Kizashi berilusi tengah berhadapan dengan sang istri yang memiliki senyum serupa. "Lalu, apa Ayah masih mengerjakan semua pekerjaan kantor? Atau Ayah sudah meminta tolong Paman Kakuzu untuk membantu Ayah?" Kakuzu adalah orang kepercayaan ayahnya. Meski tampilan luarnya menyeramkan, ia orang yang dapat dipercaya.

"Kebetulan, Ayah sebenarnya ingin meminta bantuan Sasuke. Untunglah kalian datang. Ngomong-ngomong, kenapa dia lama sekali?"

"Benar juga. Ini sudah hampir lima belas menit." Sakura melirik arlojinya. "Mungkin dia tersesat?" tanyanya geli pada diri sendiri. "Kalau begitu, aku pergi menyusulnya dulu. Aku jadi khawatir."

Sakura beranjak dari kursinya dan bergegas menuju pintu ruang kerja ayahnya. Namun, ketika tangannya sudah menyentuh kenop, suara sang ayah menghentikannya.

"Sakura?"

"Ya?" Sakura berbalik, menatap ayahnya yang entah mengapa nampak gelisah di kursinya. Hening sejenak sebelum ayahnya kembali bersuara. Bertanya, dengan nada sepelan bisikan yang sarat kehati-hatian.

"Apa kau bahagia?"

Sakura tertegun. Ia diam dan menatap ayahnya selama beberapa saat sebelum menjawab diiringi senyum tanpa beban yang melegakan Kizashi.

"Tentu saja aku bahagia, Ayah."

.

.

.

.

Apa Sakura berbohong?

Tidak.

Ia tidak akan pernah berbohong lagi pada ayahnya atau melakukan apapun yang menyakiti ayahnya. Mungkin dia 'agak' sedikit terbebani dengan kehidupan barunya dan hatinya masih tidak bisa lurus ke depan kadang-kadang, tapi Sakura yakin dia bahagia. Karena kebahagiannya adalah melihat ayahnya bahagia.

Terkait dengan suaminya yang kini menghilang entah ke mana ... Sakura juga merasakan hal yang sama. Ia bahagia bersama Sasuke. Dan ia akan lebih bahagia lagi jika suaminya itu berhenti mencurigainya. Namun, Sakura bisa memahaminya karena itu sesuai dengan prinsipnya sendiri.

Bagi Sakura, mencintai adalah proses belajar yang panjang. Pujangga lain mungkin mengatakan bahwa cinta sejati adalah yang tumbuh dalam satu tatapan mata, tapi bagi Sakura tidaklah semudah itu. Ia mengumpulkan sedikit demi sedikit hal-hal berharga yang ia temukan bersama Sasuke, lantas menjadikannya dasar bangunan cintanya. Pelan-pelan, hati-hati, karena mereka masih dalam tahap belajar mencintai. Sedikit saja kesalahpahaman bisa membawa mereka ke akhir hubungan. Itu juga yang menjadi alasan Sakura untuk tidak menceritakan apa yang selama ini ia rahasiakan pada Sasuke. Ia takut Sasuke akan melepaskan genggaman tangannya dan meninggalkannya sendirian.

Seperti keadaannya sekarang, sendirian mencari-cari keberadaan Sasuke. Lorong yang ia susuri tidak bercabang jadi mustahil Sasuke bisa tersesat. Ia juga tidak sebodoh dan selancang itu untuk pergi berkeliaran jauh-jauh. Jadi, pilihannya hanya tersisa pada satu pintu yang ada di tengah lorong.

Pintu yang Sakura pernah bersumpah tidak akan membukanya lagi. Bagaimana bisa ia lupa dengan pintu itu?!

Tapi ia harus mencari Sasuke dan sangat berharap ia tidak ada di sana. Sambil membisikkan doa di dalam hati, Sakura meraih gagang pintu itu dan mendorongnya terbuka.

Dan di sanalah suaminya, berdiri di hadapan lukisan-lukisan yang Sasori hadiahkan padanya. Sakura tidak ingin memercayai matanya, tapi punggung Sasuke yang ia lihat dari belakang nampak begitu rapuh. Detik itu juga Sakura sadari bahwa jarak di antara mereka yang belum lama ini merapat, kini renggang kembali. Malah mungkin jauh lebih renggang.

Tidak ada pembelaan yang bisa menenangkan Sasuke saat ini, Sakura tahu itu. Jadi saat Sasuke menyadari kehadiran Sakura lewat suara langkah kakinya, tanpa bicara sepatah kata pun, Sakura segera memeluk Sasuke erat dari belakang. Berharap dengan sangat suaminya akan berbalik dan balas memeluknya.

Tapi hal itu tidak pernah terjadi.

.

.

.

.

Sakura rasa ia sudah melihat segala sisi suaminya. Suaminya yang dingin, perajuk, hingga manja. Tapi, sisi ini ia tidak pernah lihat. Satu hal yang paling Sasuke benci yang Sakura ketahui adalah kepura-puraan. Akan tetapi saat ini Sasuke jelas-jelas melakukannya. Ia bersikap seolah tidak pernah melihat lukisan itu.

Ingatan Sakura kembali saat dering suara ponselnya memecah keheningan di antara mereka. Lalu, tiba-tiba saja Sasuke berbalik dengan ekspresi wajahnya yang biasa. Bertanya dengan santai tentang siapa yang meneleponnya.

"Kenapa tidak diangkat?" tanya Sasuke lagi saat Sakura mengabaikan teleponnya.

"Ti-tidak apa-apa. Ayo, kita ke ruangan ayah. Katanya ayah ingin minta tolong sesuatu padamu." Sedikit panik dan takut, Sakura menggandeng tangan Sasuke. Kali ini Sasuke balas menggenggam tangannya, membuat Sakura bisa sedikit merasa lega. Tapi, hawa dingin yang ia rasakan dari ujung jari Sasuke membuatnya tidak nyaman.

Kembali ke saat ini, ayah dan suaminya tengah membincangkan sesuatu yang Sakura tidak pahami. Ia hanya sekali-dua kali menanggapi tapi selebihnya ia hanya diam sambil memakan pai apelnya. Kegelisahan membuat rasa pai itu jadi tidak enak di lidahnya.

Tanpa Sakura sadari, pembicaraan itu telah berlangsung selama tiga jam dan Sasuke pamit undur diri pada Kizashi. Kelabakan, Sakura membereskan tasnya dan mengecup pipi ayahnya dengan buru-buru sebelum mengekor Sasuke yang turun ke lantai satu. Di depan pintu utama, ada mobil yang siap mengantar mereka pulang.

Dan seperti yang Sakura duga, sepanjang perjalanan itu Sasuke tak banyak bicara. Bahkan hingga mereka sampai di apartemen. Sasuke baru kembali bersuara setelah Sakura keluar dari kamar mandi dengan wajah tanpa make-up.

"Tadi Naruto telepon," katanya.

"Oh ya? Ada apa?"

Sasuke memberikan sebuah undangan padanya alih-alih menjawab. Sakura dengan cepat membacanya dan terbengong-bengong melihat nama kedua mempelai yang tercetak di sana.

"Naruto menikah dua hari lagi?!" pekiknya tekejut.

"Dia juga baru memberikan undangannya beberapa hari lalu." Sasuke yang tadi sudah melepas mantelnya, kini memakainya lagi.

"Kau mau ke mana?" tanya Sakura heran ketika semakin jelas Sasuke bersiap-siap untuk pergi keluar. Suaminya itu mengambil kunci mobil yang tersimpan di atas nakas.

"Naruto memaksaku datang ke pesta bujangannya," jawab Sasuke sambil mengancingi mantelnya.

"Di jam segini?"

"Aku akan menginap. Lagipula, ini pesta bujang. Pasti berlangsung semalaman."

Sakura punya banyak pertanyaan sebenarnya, tapi ia menahan diri untuk tidak mengatakannya. Akhirnya ia hanya meminta Sasuke untuk berhati-hati saat menyetir. "Jangan lupa makan di sana, kita tadi tidak makan siang di rumah ayah," pesannya sambil mengantar Sasuke ke pintu yang dijawab dengan anggukan suaminya.

Setelah memakai sepatunya, Sasuke membuka pintu. Namun, Sakura terkejut ketika suaminya itu berbalik dan menciumnya cukup lama, gerakannya pun tak selembut biasanya, membuat Sakura terengah ketika akhirnya Sasuke menarik wajahnya.

"Aku cinta kamu," katanya pelan tepat di depan wajah Sakura.

Detik berikutnya, pintu sudah tertutup dan Sasuke sudah pergi.

.

.

.

.

"Permintaan? Apa?" Sakura kecil keheranan. Ini pertama kalinya sang ibu meminta sesuatu padanya. "Ibu ingin aku belikan bunga daisi yang banyak?"

Ibunya menggelengkan kepala meski sambil tersenyum geli juga. "Bukan itu."

"Bukan? Apa dong, kalau begitu?"

Ibunya tersenyum lagi seraya menarik Sakura dalam pelukan erat untuk sesaat. Kemudian, ibunya melepaskan Sakura dan saling menumpukan dahi mereka.

"Ibu mau, Sakura mencintai ayah dan suami Sakura di masa depan nanti."

Alis Sakura kecil terangkat tinggi.

"Kenapa?" bisiknya dengan sedikit nada jengkel yang tersirat.

"Karena Ibu tidak mau Sakura—"

.

.

.

.

Jam 1.15 pagi. Sakura terbangun oleh suara dering ponselnya yang tak mau berhenti. Sejak kemarin memang ada banyak panggilan yang masuk, tapi Sakura tidak sempat mengecek siapa peneleponnya. Dengan mata masih lengket, Sakura meraba-raba nakas di samping ranjang dan menggeser icon telepon di layar ponselnya.

"Halo?" sapa Sakura dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Ia sebenarnya ingin mengumpat pada siapapun di ujung sana yang menelepon tak kenal waktu begini. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk mendengar dulu siapa peneleponnya.

"Sakura ... ini aku."

Mata Sakura terbuka sempurna.

"Sa ... sori?"

.

.

.

.

A/N :

Ng. Mau ngomong apa ya ...

Jujur aja fic ini ditulis dua hari menjelang ujian. Kenapa? Untuk melepas ketegangan dan stress. Dan lagi, review dari kalian adalah penyemangat yang bisa membuat saya sedikit lebih gembira di minggu ujian ini.

Btw, saya sadar ini gak seberapa. Dan saya minta maaf kalau fic ini membingungkan, gak jelas, atau gak sesuai ekspektasi kalian. Tapi, saya berharap kalian sudi meninggalkan review.

Saya juga mau mengucapkan terima kasih untuk kalian yang sudah mem-fave, follow, atau review dua chapter yang lalu. Juga kepada reader yang sedia menunggu munculnya chapter ketiga ini.

Chapter ini selesai jam 3.34 AM dan saya belum tidur, jadi otaknya udah gak sinkron dan gak tau mau nulis apa lagi. Kalau kalian ada pertanyaan, silahkan PM atau tinggalkan di kotak review.

Rencananya, ff ini ada 5 chapter. Jadi ada 2 chapter lagi. Chapter depan giliran SasoSaku, ya. Setelah itu baru deh end—itu juga kalau tidak ada perubahan rencana.

Oh iya. Biar nge-feel, bagi yang berminat silahkan download lagunya LADY ANTEBELLUM—NEED YOU NOW yang bakal jadi BGM chapter depan.

Jaa!