Maaf untuk para readers jika merasa tidak nyaman dengan beberapa tanda baca yang tidak sesuai..

Yah itu kebiasaan/mungkin ciri khas Author..

Banyak tanda titik., tanda ( _ ) (.,) dan tanda2 lainnya..

Harap maklum karena itu terjadi spontan., sekali lagi saya minta maaf dan terimakasih sarannya..

Pertanyaan tentang hubungan Gaara dan Sai akan saya jawab di chap ini..

Selamat membaca..

Dan maaf kalau tanda2 bacanya masih mengganggu..


Disclaimer

Masashi Kishimoto

Warning : Shonen Ai, OOC, gaje, dll

Pairing : NaruGaa


Chapter 3

"Aku lapar!" Naruto memegangi perutnya.

"Biar kucarikan buah-buahan dihutan," Tawar Sai.

Mereka semua sudah bangun dan merapikan diri masing-masing, Naruto sudah berteriak dari tadi menyuarakan rasa laparnya.

"Disekitar sini ada sungai, kita menangkap ikan saja!" Usul Naruto.

"Kau hanya akan membuat ikan-ikannya kabur Naruto!" Cibir Sasuke, "Sebaiknya kau siapkan kayu bakar saja untuk memanggang ikan," Lanjut Sasuke seraya beranjak pergi menuju sungai.

"Biar ku Bantu, ayo Gaara!" Sai mengikuti Sasuke dan mengajak Gaara bersamanya. Naruto pun berlari mengikuti teman-temannya.

"Duduklah disini Gaara," Ucap Sai pada Gaara. Sekarang mereka sudah berada dipinggir sungai dan Gaara duduk di bawah pohon yang ada didekat sungai.

"Aku bisa membantu mencari kayu baker," Jawab Gaara.

"Tak usah, aku saja sudah cukup kok," Naruto menawarkan dirinya untuk mencari kayu bakar sendiri.

"Gaara duduk saja disitu dan biarkan orang dewasa yang bekerja," Lanjut Naruto sambil nyengir lima jari.

"Cih., kau itu baru 18 tahun Naruto!" Cibir Sasuke sambil berkacak pinggang dipinggir sungai.

"Kau juga sama Sasuke!" Timpal Naruto tak mau kalah.

Lalu Naruto pun mulai mengumpulkan kayu bakar disekitar situ, Sasuke dan Sai mulai menangkap ikan disungai dengan keahlian masing-masing. Gaara duduk dan mulai menarik serulingnya, mencoba memainkah nada dipagi yang indah ini. Setidaknya itulah yang dirasakan Gaara sekarang. Dia tak lagi hanya berdua dengan kakaknya. Suara merdu dari seruling yang dimainkan Gaara membuat Sasuke dan Naruto menghentikan kegiatannya.

"Indah sekali!" Naruto menutup kedua matanya mencoba lebih menikmati alunan nada yang dimainkan oleh Gaara.

"Alam seolah ikut bernyanyi," Kali ini terdengar suara Sasuke.

'Nadanya terdengar seperti sedang menyuarakan rasa bahagia,' Batin Sai, 'Berbeda dari biasanya,' Sai tersenyum tipis sambil melanjutkan acara menangkap ikannya. Setelah dirasa cukup Sai dan Sasuke mulai membersihkan ikan hasil tangkapan mereka dan Naruto sudah menyalakan api unggunnya.


"Aku akan mencari buah dulu untuk makanan penutupnya!" Ucap Sai seraya beranjak dan menuju sungai.

"Mau ku temani?" Tawar Naruto.

"Tak usah, kau panggang saja ikannya dan tolong jaga Gaara sebentar!" Sai tersenyum hangat pada Naruto.

"Baiklah, serahkan saja padaku!" Jawab Naruto sambil menepuk dadanya.

Kemudian Sai pun menghilang dari pandangannya, masuk kedalam hutan. Sasuke duduk dibatu dekat api yang dinyalakan Naruto dan memanggang ikan-ikan hasil tangkapannya bersama Sai tadi. Gaara masih asik memainkan serulingnya, duduk agak jauh dari tempat Sasuke dan Naruto berada. Naruto sengaja menyalakan api agak jauh dari Gaara agar tak mengganggu kenyamanan si mungil itu.


"Ada apa?" Tanya Sasuke heran melihat Naruto yang terus memperhatikan Gaara.

"Aku penasaran seperti apa wajahnya? Apa seperti Sai-san? Tapi sepertinya rambutnya merah?" Pertanyaan meluncur tanpa jeda dari mulut Naruto.

"Jangan melakukan hal bodoh!"

"Eh? Siapa? Aku kan hanya penasaran Sasuke!"

"Dia bisa mendengarmu kalau suaramu sekeras itu!" Sasuke mengingatkan Naruto. Naruto segera menutup mulutnya dan melirik kearah Gaara yang ternyata masih asik bermain seruling.

"Tapi suara seruling ini rasanya aku pernah dengar," Naruto menutup matanya, "Hanya saja yang kali ini terdengar berbeda,"


Sai kembali dengan beberapa buah segar dan mencucinya di sungai. Sementara ikan yang dibakar oleh Sasuke dan Naruto juga nampaknya sudah bisa dimakan.

"Kemarilah Gaara!" Ucap Sai yang duduk dihadapan Sasuke dan Naruto. Gaara segera menghentikan permainan serulingnya dan beranjak menuju Sai dan yang lain.

"Duduklah disini!" Sai menepuk-nepuk tempat duduk disampingnya. Gaara segera duduk disamping kakaknya.

"Aku tidak mau makan ikan nii-san," Ucap Gaara setelah duduk. Sai hanya tersenyum mendengar perkataan adiknya.

"Tidak apa-apa, akan ku buang durinya," Jawab Sai sambil mengambil satu ikan kemudian mulai memisahkan daging dari durinya dan meletakkan ke atas daun yang tadi di bawanya.

"Hihihi, seperti anak kecil saja ya!" Naruto bicara sambil tertawa kecil.

"Apa boleh buat," Jawab Sai. Gaara hanya diam.

'Anak manja!' Batin Sasuke, dan mulai memakan ikan bagiannya.


Setelah selesai sarapan mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Menuju gunung tempat tinggal 'Bangsa Origin'. Gunung yang terdapat ditengah hutan dan terlihat sangat tinggi. Sasuke dan Naruto berjalan di depan diikuti oleh Sai dan Gaara.

Akan bertemu dengan orang-orang yang masih satu bangsa dengannya membuat Sai senang,ia berharap bisa bertemu dengan Origin lain secepatnya. Sudah lama sekali ia tak menemukan ras yang sama dengannya dan sekarang dia sedang menuju tempat dimana rasnya masih terjaga dengan baik.

Brukk!

"Gaara!" Sai segera menoleh dan mendapati adiknya sudah terjatuh di tanah. Diangkatnya tubuh mungil Gaara. 'Dingin,' Batin Sai.

"Ada apa?! Apa yang terjadi pada Gaara?" Naruto berlari dan menghampiri Sai serta Gaara,disusul oleh Sasuke.

"Apa dia kelelahan?" Tanya Sasuke.

"Nii-san..sakit.." Rintih Gaara memegangi dadanya.

Sial, bagaimana mungkin Sai tidak menyadarinya. Tentu ini akan berpengaruh buruk pada Gaara, berada sangat dekat dengan aura gelap yang sangat kental dan kuat.

'Kalau begini terus dia tak akan bisa bertahan' Batin Sai.

"Hoy Sai-san!" Naruto menepuk pundak Sai pelan, menyadarkan si pria dari lamunannya.

"Ah maaf, sepertinya kami tak bisa melanjutkan perjalanan. Kondisi adikku memburuk," Ucap Sai sambil merangkul Gaara.

"Bawa ke desaku saja dulu, ibuku bisa menyembuhkan!" Usul Naruto.

"Bagaimana Sasuke?" Tanya Naruto sambil menoleh pada temannya.

"Ya, kurasa bibi Kushina lebih ahli," Jawab Sasuke.

"Kita harus cepat!" Sai merasakan tubuh Gaara semakin lemah, yang ada difikirannya sekarang adalah membawa Gaara sejauh mungkin dari tempatnya sekarang berada. Dan tempat Leonaide mungkin akan jauh lebih baik jika mengingat bahwa mereka masih merupakan ras dari bangsa peri.

"Kita berlari," Ucap Sasuke. Dan merekapun berlari secepat mungkin menuju desa tempat tinggal Naruto.

Sai berlari sambil terus memegang Gaara erat dalam pelukannya. Naruto sesekali melirik kebelakang melihat kearah Sai dan Gaara, hanya untuk memastikan kalau Sai masih berada dibelakangnya.


"Kita sudah sampai!" Ucap Naruto saat melihat gerbang desanya sudah ada didepan mata.

"Apa mereka temanmu tuan muda Naruto?" Tanya Kotetsu sang penjaga gerbang.

"Iya paman, kami buru-buru. Temanku sakit parah!" Jawab Naruto sambil menunjuk Gaara yang masih ada digendongan Sai.

Tanpa babibu lagi Naruto segera berlari masuk kedalam desa, diikuti oleh Sasuke dan Sai dibelakangnya. Sesampainya dirumah Naruto segera membuka gerbang depan rumahnya dan mempersilahkan tamunya masuk.

"Kau sudah pulang Naruto?" Ucap seorang pria yang terlihat lebih tua dari Naruto, berambut merah dan berkulit putih.

"Paman Nagato apa ibu ada didalam?" Tanya Naruto pada pamannya tersebut.

"Masuklah semuanya sudah menunggu!" Jawab Nagato, kemudian melihat kearah Sai dan tersenyum hangat.

"Aku sudah tak apa nii-san," Tiba-tiba terdengar suara dari seseorang yang berada di gendongan Sai.

"Gaara kau sudah baikan? Syukurlah," Sai benar-benar merasa lega.

"Eh? Apa benar sudah tidak apa-apa?" Tanya Naruto heran.

"Masuklah, kita bicara didalam!" Nagato meminta kepada keempat anak muda tersebut.

Segera Sasuke masuk kedalam diikuti oleh Naruto dan Sai lalu Gaara yang memutuskan untuk berjalan sendiri.

"Ayah, Nii-san?" Sasuke Nampak terkejut melihat sang ayah dan kakaknya yang ternyata juga ada di dalam ruangan tersebut.

"Loh ada apa ini?" Naruto bingung melihat orang-orang penting dari kedua belah ras yang bersekutu itu ada dalam satu ruangan.

Tak banyak memang, Hanya ada Ayah, Ibu, Pamannya dan beberapa orang lainnya. Tapi yang lebih mengejutkan adalah kenapa bisa raja dari kaum Origin juga ada disitu.

"Kemarilah Sasuke!" Seorang pria yang mirip dengan Sasuke namun terlihat lebih dewasa melambaikan tangannya, meminta agar Sasuke duduk disampingnya.

"Kau juga Naruto!" Ucap Nagato kepada keponakannya.

"Kalian berdua juga duduklah!" Terdengar suara Minato.

"Maaf mengejutkan kalian, sebelumnya perkenalkan aku Namikaze Minato raja dari ras Leonaide. Dan ini sahabatku Uchiha Fugaku raja dari ras Origin," Ucap Minato memperkenalkan dirinya dan juga sahabatnya itu pada Gaara dan Sai.

"Siapa namamu?" Tanya Minato ramah.

"Saya Sai dan ini adik saya Gaara," Jawab Sai sopan memperkenalkan dirinya dan Gaara.

"Aku tak menyangka masih ada ras Origin yang lain selain kami!" Ucap Raja Uchiha sambil beranjak bangun dari kursinya.

"Berasal dari klan apa kau nak?" Tanya sang raja.

"Saya berasal dari klan para pengembara, namun hanya saya dan adik saya yang tersisa." Jawab Sai sopan.

Lalu sang raja beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju Sai, matanya yang semula hitam berubah menjadi merah menyala dan memperhatikan Sai. Sai yang mengerti langsung menunjukkan mata merahnya juga. Mata mereka saling beradu menatap dalam satu sama lain, tentu saja tanpa mengurangi rasa hormat Sai pada sang raja. Karena memang beginilah cara mereka mengenali saudara sesukunya. Sang raja semakin mendekat.

"Aaakkhh!"

Gaara terduduk dilantai dan memegangi dadanya. Sontak membuat Sai menoleh kearahnya.

"Gaara!" Sai memegangi tubuh Gaara yang mulai bergetar.

"Maafkan nii-san Gaara," Ucap Sai

Naruto yang melihat kejadian itu segera berlari kearah Gaara. Wajahnya Nampak sangat panik.

"Ibu tolong Gaara!" Pinta Naruto pada ibunya.

"Maaf, apa bisa yang mulia kembali ke tempat semula?" Pinta Sai.

Semua yang ada disana hanya bisa terheran-heran, apa yang sebenarnya terjadi?

"Sakit…se…ka..li…nii-san.." Ucap Gaara terputus-putus menahan rasa sakit. Sai memeluknya dengan erat.

"Maaf Gaara, Maafkan nii-san!" Ucap Sai pelan,

"Aku akan membawamu ke tempat tanpa kegelapan!" Sai mengeratkan pelukannya dan berniat beranjak dari tempatnya. Namun gerakannya terhenti saat merasakan sentuhan pelan dibahunya.

"Biar aku menolongnya," Ucap Kushina seraya tersenyum lembut pada Sai.

"Tak apa, kami bukan musuh," Kushina mencoba meyakinkan Sai. Tak ada kebohongan yang terpancar dimatanya. Membuat Sai luluh dan menerima tawarannya, lagi pula tak ada yang bisa dilakukan Sai untuk menolong Gaara.


Perlahan direbahkannya tubuh mungil Gaara pada kursi panjang yang ada diruangan tersebut. Kushina mulai mengambil alih dan mendekatkan dirinya pada Gaara. Sai sudah memasang tampang pasrah, tak tau harus berbuat apa. Perlahan Kushina segera membuka jubah yang menutupi bagian wajah Gaara, membukanya sampai seluruh wajah Gaara terlihat. Namun matanya membelalak kaget saat melihat wajah Gaara.

"Dia?! apa mungkin?" Ucap Kushina tak percaya. Perkataan Kushina dan sikap terkejutnya sontak membuat Naruto serta Minato berjalan kerahnya, namun merekapun tidak kalah terkejutnya dengan Kushina.

"Ini! tidak mungkin..bagaimana bisa?" Minato pun Nampak terkejut.

"Ayah?!" Naruto benar-benar tak percaya akan apa yang dilihatnya.

Semua yang ada di ruangan tersebut segera mendekat dan mengalami reaksi yang sama seperti Kushina, terkejut dan benar-benar tak menyangka akan apa yang dilihatnya. Gaara yang tanpa penutup wajahnya. Terlihat memiliki kulit yang putih seperti awan dan juga bibir yang mungil, rambutnya merah seperti darah dan bagian belakangnya panjang terikat rapih. Namun yang membuat mereka terkejut adalah bagian telinga Gaara yang agak panjang dan lancip dibagian atas juga sinar kuning keemasan yang terpancar dari wajahnya. Menandakan kalau dia berasal dari bangsa Elf dan bukan merupakan Dark Elf.


"Dia yang terakhir," Suara Sai terdengar pelan namun cukup untuk membuat semua yang ada diruangan itu dapat mendengarnya.

Perkataan Sai tadi membuat mereka tersadar dari keterkejutan.

"Jadi benar Gaara adalah Holy Elf yang berasal dari Middle-Eart?" Tanya Naruto.

Sai hanya diam.

"Baik, semuanya tolong kembali ketempat masing-masing!" Titah raja Namikaze, "Kita akan mendengarkan penjelasan dari Sai" Semua yang ada disitu segera kembali ketempat masing-masing kecuali Naruto dan Sai serta Kushina yang mulai menyembuhkan Gaara.

Sinar putih muncul dari kedua tangan Kushina dan menyelubungi tubuh Gaara, mengalirkan energy positif pada Gaara.

"Tubuhnya sangat rapuh," Ucap Kushina sendu.

"Apa dia akan baik-baik saja bu?" Tanya Naruto khawatir.

"Ya, dia akan baik-baik saja," Jawab Kushina, "Namamu Sai bukan?" Tanya Kushina lembut pada Sai sambil terus mengobati Gaara.

"Ya," Jawab Sai pelan.

"Kau kakaknya?" Tanya Kushina dan hanya mendapat anggukan dari Sai.

"Jangan khawatir adikmu akan baik-baik saja, kau sudah menjaganya dengan sangat baik!" Ucap Kushina menenangkan sambil tersenyum hangat.

"Kau bisa bercerita pada kami!" Ucap Minato.


"Sebenarnya dia bukan Elf biasa," Sai mulai bercerita, "Namanya Sabaku Gaara,"

"Sabaku? kalau begitu dia?" Terdengar suara Minato.

"Ya, yang mulia. Dia adalah putra dari raja Sabaku pemimpin Middle-Earth." Untuk yang kesekian kalinya semua yang ada diruangan tersebut dibuat terkejut.

"Ceritakan!" Pinta Minato.

"10 tahun yang lalu aku dan kakak ku menemukan Gaara dalam pelukan seorang wanita yang sudah sekarat, sepertinya dia berlari sambil melindungi puteranya," Mulai Sai.

"Aku dan kakak ku adalah ras terakhir dari klan pengembara dan kebetulan tanpa sengaja melewati daerah Middle-Earth pada saat pembantaian terjadi,"

"Wanita tersebut meminta kami untuk membawa lari Gaara, saat itu Gaara masih berusia 5 tahun dan kondisinya lumayan parah," Sai menatap sendu pada Gaara.

"Tak lama setelah menyerahkan Gaara dan memberitahu identitas Gaara pada kami wanita itu tewas. Aku dan kakak ku mencoba keluar dari sana, namun ada beberapa pasukan dari Dark Elf yang menemukan kami,"

Sai berhenti sejenak untuk melanjutkan kembali ceritanya.

"Aku yang sedang menggendong Gaara tak terlihat karena bersembunyi dibalik pohon, sebelum itu kakak memakaikan kalung pengenalnya dileher Gaara dan memaksaku pergi dari sana,"

'Cahaya harus diselamatkan, aku bangga padamu jika kau mau berkorban untuk membawa sang cahaya. Demi dunia ini Sai!'

"itulah kata-kata terakhir kakak yang kuingat sebelum akhirnya dia mengirimku dan Gaara menggunakan teleportasi ketempat lain yang jauh dari sana,"

Sai menundukkan wajahnya.

"Jadi sejak saat itu kalian terus berkelana?" Tanya Fugaku pada Sai.

"Ya., aku menyembunyikan sosok Gaara dengan menutupi seluh tubuhnya dan menyembunyika auranya menggunakan kalung yang dipakaikan kakak," Jawab Sai seraya tersenyum."

"Sejak saat itu dia menjadi adikku," Sai tersenyum miris.


"Nii-san!" Terdengar suara yang sangat pelan dari Gaara, namun matanya masih terpejam.

"Tak apa Gaara, mereka akan membantu kita," Ucap Sai menenangkan.

"Naruto sebaiknya kau bawa Gaara ke kamarmu! Terus berada disini hanya akan membuat keadaan Gaara lebih buruk," Ucap Kushina pada putranya.

"Eh, kenapa?" Tanya Naruto tak mengerti.

Kushina memandang kearah Sai yang sejak tadi berdiri agak jauh dari Gaara.

"Kemungkinan besar Dark Elf menyegel cahaya Gaara!" Sai nampaknya mengerti akan isyarat dari Kushina.

"Gaara adalah pembawa cahaya yang diramalkan akan menghancurkan kegelapan," Sai mengepalkan kedua tangannya.

"Mudah saja mengetahuinya dengan melihat tanda merah yang ada didahinya," Lanjut Sai.

Kushina mulai menjulurkan sebelah tangannya untuk menyingkap rambut yang menutupi bagian dahi Gaara. Benar saja disana terlihat sebuat tanda yang berwarna merah seperti darah, begitu indah.

"Bukankah Elf yang cahayanya dirampas akan mati?" Tanya Minato.

"Ya, itulah yang difirkan oleh pasukan negeri tengah. Mereka beranggapan bahwa Gaara sudah tewas," Pupil mata Sai mulai meruncing.

"Tapi Gaara masih bisa bertahan hidup, walau dengan tubuh yang lemah," Sai menatap lembut pada Gaara yang masih terbaring.

"Apa ada efek samping pada tubuhnya?" Tanya sang raja Uchiha.

"Ya, yang mulia," Jawab Sai seraya agak membungkukkan tubuhnya.

"Kondisi tubuh Gaara akan terus melemah saat dia berada dekat dengan kekuatan gelap,"

"Kalau begitu hidup bersamamu bukankah akan membuat kondisinya terus menurun?" Sang raja kembali bertanya. Benar Sai adalah ras vampire, walau dia tak bermaksud jahat namun pada dasarnya vampire adalah makhluk dari kegelapan.

"Kalau hanya saya tak akan ada pengaruhnya, lagipula saya selalu menekan kekuatan saya saat bersamanya," Jelas Sai.

"Jadi itu alasan kenapa kondisinya tiba-tiba melemah saat menuju gunung Origin?" Kali ini Sasuke yang angkat bicara.

"Dan aura yang ayah keluarkan tadi, juga semua vampire yang ada diruangan ini menjadi beban yang sangat berat bagi Gaara?" Lanjut Sasuke.

Tanpa babibu lebih lanjut lagi, Naruto yang sudah mulai mengerti situasi segera mengangkat tubuh mungil Gaara menggunakan kedua tangannya.

'Ringan!' Batin Naruto.

Naruto melihat kearah Sai seolah meminta izin, dan Sai hanya mengangguk lemah seraya tersenyum. Naruto yang sudah mendapat izin dari Sai segera berlari keluar ruangan dan menuju kekamarnya.


Naruto merebahkan tubuh Gaara di atas tempat tidurnya. Tubuh yang begitu lemah dan rapuh, entah kenapa rasanya Naruto sangat ingin bisa membantu Gaara. Ia tak tahan melihat kondisi Gaara yang seperti ini. Dadanya terasa sesak.


"Nii-san," Perlahan Gaara mulai membuka matanya.

"Kau sudah bangun Gaara? Apa masih terasa sakit?" Naruto membantu Gaara duduk.

"Siapa? Mana nii-san?" Tanya Gaara saat menyadari yang ada disampingnya bukanlah Sai.

"Eh? Ini aku Naruto! Apa kau lupa padaku?" Naruto menunjuk wajahnya sendiri.

Gaara hanya diam, pandangannya kosong dan tak focus. Naruto yang melihatnya sedikit mengerenyitkan keningnya, merasa heran dengan tingkah Gaara.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan di pintu kamarnya membuat Naruto tersadar.

"Masuk! Pintunya tidak aku kunci," Jawab Naruto.

"Ah sudah bangun ya?" Terlihat sosok Sai dari balik pintu.

"Nii-san!" Sontak Gaara langsung melompat dari tempat tidur mendengar suara kakaknya.

"Hati-hati Gaara! kau belum hafal dengan tempat ini," Sai segera berlari dan menghampiri Gaara.

"Ini dimana?" Tanya Gaara.

"Tadi kau pingsan dan Naruto membawamu ke kamarnya," Jawab Sai.

"Apa masih terasa sakit?" Nampak wajah Sai sangat khawatir.

"Tidak, sudah tidak terasa sakit sama sekali," Gaara menggelengkan kepalanya.

"Sepertinya tempat ini memang cocok untukmu!" Ucap Sai sambil mengacak-ngacak rambut Gaara.

"Apa pertemuannya sudah selesai?" Tanya Naruto yang sejak tadi diam.

"Ya, mereka sudah pulang," Jawab Sai.

"Syukurlah sudah bangun, sebaiknya kita makan dulu. Aku sudah meminta Ayame memasak masakan yang enak!" Kushina muncul dari ambang pintu.

"Waaahhh! Ibu memang paling tau! Aku lapar sekali!" Ucap Naruto sambil mengelus-ngelus perutnya.

"Ya sudah, ayo paman dan ayahmu sudah menunggu kita," Ucap Kushina.

"Gaara juga harus makan yang banyak," Lanjut Kushina.

"Kushina-sama benar, kau harus makan Gaara!" Sai berjalan sambil menggandeng Gaara.

"Sai sangat memanjakan Gaara ya, aku jadi iri," Celetuk Naruto tiba-tiba.

"Tidak, bukan memanjakan hanya saja.." Sai menghentikan kalimatnya, "Gaara belum terbiasa dengan tempat ini," Lanjut Sai.


Kemudian mereka berjalan menuju ruang makan, sesampainya disana Kushina segera mempersilahkan Sai dan Gaara duduk. Naruto duduk disamping ibunya dan berhadapan dengan Gaara, sementara Sai duduk disamping Gaara. Dikedua ujung meja tampak Minato dan Nagato.

"Makanlah yang banyak kalian pasti lelah, jangan sungkan!" Ucap Minato ramah dengan senyum hangat.

"Terimakasih, maaf sudah merepotkan," Jawab Sai.

"Nah ayo makan, bicaranya nanti saja!" Naruto sudah mengangkat sumpitnya.

"Aku mau makan buah saja!" Ucap Gaara tiba-tiba. Membuat yang ada di sana hanya diam, termasuk Naruto yang menghentikan sumpitnya di udara.

"Biar aku yang pilihkan makananya," Sai mulai memilih beberapa makanan dan memasukkannya ke piring yang ada dihadapan Gaara.

Naruto dan yang lainnya mulai memakan makanannya masing-masing, namun mata Naruto tak lepas dari sosok Gaara yang ada dihadapannya. Gaara makan dengan sangat pelan, membuat Naruto merasa gemas dan justru ingin memakan Gaara.

"Apa makanannya tidak enak? " Tanya Naruto pada Gaara.

"Enak," Jawab Gaara singkat.

"Lalu kenapa kelihatannya kau tak menikmatinya? Apa kau tak tergoda melihat makanan yang lezat-lezat ini?" Rasa penasaran sepertinya sudah sampai ke ubun-ubun Naruto.

"Aku tak bisa melihat!" Jawab Gaara enteng.

Jleb..!

Seperti ada pisau yang menghujam jantung Naruto mendengar jawaban Gaara barusan. Naruto menjatuhkan sumpitnya karena terkejut. Dan hanya diam seribu bahasa.

"Apa aku salah bicara?" Tanya Gaara.

Pantas saja pandangan mata Gaara kosong, pantas saja tadi Gaara tak mengenalinya. Dan pantas saja Sai terlihat begitu peduli pada Gaara. Waktu di hutan juga Sai memisahkan duri ikan yang aka dimakan Gaara, Sai tak membiarkan Gaara terlalu jauh darinya dan tak mengizinkan Gaara melakukan sesuatu sendiri. Jadi alasannya bukan karena Gaara yang manja atau Sai yang terlalu memanjakannya, tapi karena keterbatasan yang dimiliki Gaara.

"Naruto!" Kushina menepuk pundak Naruto menyadarkannya dari keterkejutan.

"Haah., anak itu," Minato hanya menghela nafas.

"Sudah lanjutkan lagi makannya, abaikan saja Naruto!" Ucap Nagato mencairkan suasana.

Dan acara makan pun dilalui dengan keheningan..


"Sejak kapan?" Tanya Naruto pada Sai.

Sekarang mereka sudah selesai makan dan sedang duduk di halaman samping rumah Naruto. Sementara Gaara dibawa oleh Kushina menuju mata air suci yang juga ada di halaman tersebut namun agak jauh dari tempat Naruto, Sai serta Minato juga Nagato yang sedang duduk.

"Sepertinya sejak cahayanya diambil," Jawab Sai sambil terus memandangi Gaara.

"Tapi kenapa saat di hutan dia seperti bisa melihat? Maksudku dia bisa berjalan tanpa menabrak sesuatu," Naruto menyuarakan isi hatinya.

"Dia bisa merasakan aura dari benda mati atau hidup yang ada disekitarnya," Jawab Sai.

"Bangsa Holy Elf memang hebat, tak heran Dark Elf memusnahkannya," Kali ini Minato lah yang berbicara.

"Ya, tapi aku benar-benar terkejut kalau masih ada yang selamat!" Ucap Nagato.

"Sudah ku bilangkan?" Naruto nyengir lima jari.

"Mungkin kau memiliki suatu ikatan dengan Gaara," Minato tersenyum penuh arti pada anak semata wayangnya. Sementara Naruto hanya nyengir-nyengir.

"Tapi sepertinya Gaara tak bisa merasakan benda yang kecil ya?" Tanya Naruto pada Sai.

"Hmm, sebenarnya tidak juga. Hanya saja dia tak suka makan ikan karena pernah tersedak duri waktu kecil," Sai tersenyum mengingat masa lalunya. "Dan dia juga tak kuat makan pedas atau asam, makanya dia tak mau makan hidangan yang disuguhkan tadi. Dia tak ingin merepotkan orang lain." Sambung Sai.

"Oh, pantas!" Ucap Naruto.

"Kita harus menyembunyikan tentang keberadaannya!" Ucap Minato.

"Ya ayah benar!" Naruto menatap Gaara yang sedang berada di mata air bersama Kushina.

"Tapi badai sudah mendekat!" Kali ini Nagato lah yang berbicara yah, dia memang memiliki kemampuan cenayan sama seperti Kushina kakak kandungnya.

"Gaara.." Wajah Sai terlihat sendu dan penuh kekhawatiran.

"Jangan khawatir, kalian tidak sendiri lagi sekarang!" Minato menepuk pundak Sai pelan seraya tersenyum hangat.

"Itu benar! Aku pasti akan melindungi Gaara dengan nyawaku!" Seru Naruto sambil menepuk dadanya dan senyum lima jari.

"Sayang sekali kau akan cepat mati, padahal keponakanku cuma satu!" Ucap Nagato sambil memegangi dagu dan berwajah serius.

"Pamaaaann! Jangan menggodaku!" Naruto langsung protes dan memanyunkan bibirnya. Pamannya yang satu ini memang sangat suka menggodanya.

"Hahahahaa…." Minato hanya tertawa melihat hal yang memang sudah biasa terjadi ini.

"Terimakasih.." Ucap Sai dan tersenyum. 'Terimakasih sudah mau menerima kami, aku percaya Gaara pasti akan baik-baik saja kalau ada Naruto dan yang lain.' Sambung Sai dalam hati.

TBC


Yosh!

ini Chap 3 udh aq update..

dan pertanyaan tentang hbungan Sai dengan Gaara terjawab sudah.

terimakasih masukannya

Seperti kata senpai saya Dark_san..

"Review itu seperti makanan buat Author"

Silahkan tinggalkan reviewnya please..,

Beri saya makanan untuk melanjutkan fic2 saya..

Arigato… Call me Kirin…!