Mobil berwarna merah melaju dengan cepat di jalanan. Ban hitam bergesek dengan bumi. Membuat suara decitan-decitan lain. Masih dalam tahap mengejar mobil berwarna kuning milik Seungcheol. Semakin menambah kecepatan, kendaraan beroda empat semakin cepat layaknya tengah ikut balapan liar.

Terlihat mobil kuning masuk kedalam parkiran sebuah mall besar. Membuat mobil yang di tumpangi Chanyeol dan Baekhyun memutar arah balik. Beberapa kendaraan menyalakan klakson, tanda mereka kesal dengan sikap ugal-ugalan si pembawa mobil.

Baekhyun membatin dalam hati. Ia hanya ingin lelaki berwajah tampan dan kekar di sebelahnya segera pergi jauh. Harusnya saat ini ia sedang berlatih karate. Kalaupun ia ke mall, seharusnya dengan perasaan sangat tenang dan gembira. Bukannya kejar-kejaran dengan mobil lain seperti anjing dan kucing.

Mata hitam Chanyeol menatap dari kejauhan, melihat Seungcheol memarkirkan mobilnya di pojokan. Dengan mengendap-endap, ia melihat segala gerak-gerik Seungcheol. Pemuda itu membawa sebuah koper berwarna coklat. Dengan sangat santai, ia masuk kedalam mall.

Dengan tergesa-gesa, Chanyeol menyeret si wanita berbadan montok agar ikut pergi bersamanya, "Keluar. Ayo, cepat."

Baekhyun hanya pasrah. Ia masih sayang nyawa—walau sebelumnya si mantan Kolonel berkata bahwa tak akan membunuh Baekhyun, namun tetap saja wanita itu ketakutan. "Kalau kau terburu-buru, aku bisa—"

"Urusanku dengamu hampir selesai." potong Chanyeol cepat.

.

.

.

.

COMMANDO

Main cast:

[Park Chanyeol, Byun Baekhyun] Park Jihoon, and other.

Disclaimer:

This is remake of 'Commando.'

WARN! GS, OOC, TYPO, War!AU, Parody!AU.

I hope you enjoy this story~

.

.

.

.

Choi Seungcheol menaiki lift dengan tenang. Menatap para pengunjung yang tengah berbelanja. Sedangkan Chanyeol masih mencengkram erat lengan Baekhyun. Menaiki eskalator di tengah-tengah kerumunan para pengunjung lain.

Pintu lift terbuka, menampakkan dua gadis yang tengah menenteng kantung belanja. Seungcheol sempat mengedipkan mata, lalu kembali berjalan menuju sebuah mini bar. Di belakang sana, Chanyeol masih memata-matai; dengan mencengkram lengan Baekhyun keras—dan membuat wanita itu kesakitan.

Chanyeol memojokkan Baekhyun ke sebuah dinding. Menatap wajah cantik wanita itu dalam, "Dengarkan aku. Putri ku baru saja diculik. Dia salah satu kesempatanku untuk menemukan putri ku. Kalau dia melihatku atau aku kehilangan dia, mereka akan membunuh putri ku."

Wanita itu masih memandang takut. Pria dihadapannya terlihat sangat menakutkan. Chanyeol kembali berkata, "Aku mau kau mengikutinya, katakan kalau kau tergila-gila dengannya. Lalu, bawa dia kesini. Sisanya aku yang selesaikan. Lalu kau bisa kembali ke kehidupan normalmu, kau paham 'kan?"

Hah, yang benar saja?! Beberapa jam yang lalu, Baekhyun baru saja menolak mentah-mentah pria itu. Dan sekarang, ia harus berkata bahwa ia tergila-gila dengan pria tadi?!

"Tidak." jawab Baekhyun sembari menggelengkan kepala. Membuat Chanyeol sedikit cemas, "Aku mohon, bantu aku."

Lelaki itu menggenggam tangan lentik Baekhyun, memasang wajah memohon. "Kau satu-satunya kesempatan yang aku punya. Waktunya tersisa 10 jam lagi. Mereka akan membunuh putri ku."

"Okay, baiklah. Aku akan membantumu." Baekhyun akhirnya menyetujui permintaan Chanyeol. Ia segera berjalan masuk kedalam mini bar yang di kunjungi Seungcheol.

Chanyeol menyembunyikan diri dibalik dinding. Menatap Baekhyun yang masih ragu untuk memasuki bar. Mata hitamnya mengisyaratkan 'Cepat masuk.' dan si wanita mematuhinya. Oh, haruskah si manis Baekhyun kembali bertemu dengan si playboy itu?

Lelaki berbadan kekar menatap arloji berwarna hitam. Waktu sudah menunjukkan 9:40. Waktunya tinggal beberapa jam lagi. Ia harus bergerak cepat sekarang.

Baekhyun menatap takut isi bar. Beberapa orang bermain judi dengan jalang disisi mereka, wanita itu menatap tak suka. Ia segera berjalan mendekati seorang satpam yang berjaga, nama Kim Namjoon tertera disana. "Sir, disebelah sana ada pria jahat mengenakan kaos hijau."

Satpam bernama Kim Namjoon menatap Chanyeol yang masih mengawasi dari dalam. Baekhyun kembali berkata, "Dia seperti maniak gila, dan dia baru saja menculikku. Aku butuh bantuanmu."

Dengan nada memohon, wanita itu meminta tolong. Berharap agar lelaki berpakaian satpam di depannya membantu. "Aku akan memeriksanya."

"Terima kasih." ucap Baekhyun.

Namjoon keluar dari bar. Meninggalkan Baekhyun sendiri dengan orang-orang aneh didalam mini bar. Matanya menatap sosok pria yang menggodanya tadi di parkiran bandara. Ia tengah memberikan sebuah koper coklat pada lelaki berkumis. Baekhyun bisa memastikan jika mereka habis berjudi.

Chanyeol sedikit mengumpat ketika satpam menatap kearahnya. Membuat Namjoon semakin yakin jika pemuda Park adalah seorang maniak gila. Satpam itu kembali masuk kedalam bar, berjalan mendekat pada Baekhyun, lalu berbicara pada walkie talkie, "Halo, Park Jimin. Kau dengar? Pria disebelah sana itu kelihatannya sangat berbahaya. Aku rasa aku tidak bisa menanganinya sendiri."

"Aku akan segera kesana." sahut Jimin dari walkie talkie.

Mini bar masih terlihat tenang dan damai dari luar. Banyak yang berjalan mondar-mandir masuk untuk sekedar mabuk-mabukkan maupun berjudi. Chanyeol masih mengawasi, ia menaruh harapan pada wanita cantik yang baru saja ia temui di bandara.

"Tunggu disini, nona." ucap Namjoon.

Baekhyun lalu menjawab, "Terima kasih, sir."

Wanita itu lantas kembali menatap Seungcheol. Ia masih asyik berbincang dengan pria berkumis. Menuangkan alkohol pada gelas bening. Hah, inikah yang disebut dunia dewasa? Baekhyun hanya bisa geleng-geleng kepala.

Diluar sana, satpam bernama Park Jimin mengintai Chanyeol dari belakang, ia segera berbicara lewat walkie talkie. "Perhatian semua unit. Keadaan darurat di area pertunjukan. Tersangka, 6'2", berambut hitam. Dia terlihat seperti salah satu raksasa brengsek."

Seungcheol masih asyik berbicara. Menghisap sebatang rokok dengan sangat nikmat, "Disini pasti akan jadi sarang pelacur yang hebat."

Ia tertawa. Menatap sekeliling, banyak wanita murahan dengan rok pendek mereka bergoyang-goyang dilantao dansa. Bagaimana dua bongkahan gunung mereka bergerak kesana dan kemari. Membuat sesiapapun kaum adam akan terangsang melihatnya. Seungcheol menatap kebelakang. Tak sengaja menangkap sosok Byun Baekhyun yang masih berdiam diri di ujung sana. Oh, bahkan belahan dada wanita itu masih terpampang jelas.

"Aku rasa aku melihat sesuatu, sungguh." Seungcheol kembali berbicara. Dan sang pria berkumis hanya terkekeh.

Baekhyun yang tak tahan dengan suasana bar pun keluar. Membuat Seungcheol mau tak mau mengakhiri permainan judi, "Sampai ketemu."

Lelaki itu segera bangkit dari kursi empuk, lalu berjalan menuju sang pujaan hati dengan dada termontok. Diluar sana, satpam bernama Namjoon berjalan mendekati Chanyeol. Sang mantan kolonel masih menatap kearah bar—tak menyadari jika beberapa penjaga mall mengincarnya. Yang ia butuhkan hanyalah Baekhyun sekarang. Dan wanita itu keluar, lalu menatap takut kearah Chanyeol.

Beberapa satpam segera mengepung Park Chanyeol. Dan yang dikepung hanya menatap datar. Oh, ia mengerti sekarang. Ternyata Baekhyun tak benar-benar membantunya. "Apa yang Anda lakukan disini?" tanya Namjoon.

Dengan santai, Chanyeol menjawab, "Aku sedang menunggu."

Baekhyun masih memandang kearah Chanyeol.

GREP

"Hei, kau mencariku?" dengan sangat kurang ajar, Seungcheol memeluk tubuh langsing Baekhyun dari belakang. Menghirup aroma manis dari tubuh sang gadis.

Sedangkan Baekhyun yang terkejut tak dapat berkata-kata. Ia hanya menatap lurus kearah depan. Chanyeol yang melihat Seungcheol memeluk Baekhyun pun mulai memberontak, namun segera ditahan, "Ikutlah dengan kami."

BUG

Chanyeol memukul wajah satpam keras. Membuat lelaki itu terjatuh duduk dilantai. Lalu kembali menyerang beberapa satpam yang mulai menangkapnya. Ia memukul secara membabi buta. Membuat perhatian Seungcheol mengarah padanya sekarang. "C-chanyeol?!"

Dengan panik, Seungcheol melepaskan pelukannya pada Baekhyun. Lalu berlarian keluar bar. Yifan dan Junmyeon harus tahu hal ini. Baekhyun masih menatap dari pintu bar. Ia benar-benar tak mengerti apa yang terjadi. Ketika Chanyeol semakin membabi buta mematahkan tulang kaki para satpam, ia menatap Seungcheol yang berusaha kabur dari dalam mall.

Pemuda Park segera berlari mengejar, ia tak akan membiarkan pria tengik itu kabur begitu saja. Ia menabrak beberapa orang yang lewat. Sampai Seungcheol menembakkan sebuah peluru pertama. Membuat seluruh pengunjung berteriak ketakutan. Mall menjadi sangat ricuh. Chanyeol masih berlari mengejar pemuda Choi. Beberapa satpam berusaha menghajarnya, namun ia segera mematahkan tulang leher mereka.

"Dasar brengsek!" Chanyeol kembali memaki. Beberapa satpam menahan tubuhnya. Namun ia segera melempar tubuh sang satpam kearah tangga.

Seungcheol tak henti-henti menembakkan peluru. Beberapa salah sasaran, seorang satpam tertembak telak di jantung. Pemuda itu kembali menembakkan peluru, kakinya berlarian masuk kedalam lift, "Ayolah."

Chanyeol yang melihat Seungcheol masuk kedalam lift segera berlari menuju eskalator. Dari samping, seorang satpam mengacungkan senjata, "BERHENTI ATAU AKU TEMBAK!"

Baekhyun yang sedari tadi hanya melihat kini maju. Entah kenapa tubuh wanita itu bergerak sendiri. Berlarian menuju sosok satpam yang ingin menembakkan peluru pada Chanyeol, "Jangan!"

Wanita itu mendorong tubuh satpam kearah tangga. Membuat lelaki itu terjatuh kebawah. Oh, apa yang Baekhyun lakukan tadi? Seakan-akan dirinya tak ingin ada yang melukai Chanyeol. Ini semua salah! Ini aneh! Dan Baekhyun tak mengerti kenapa dirinya begitu.

Chanyeol masih mengejar Seungcheol. Terlalu jauh untuk dikejar. Ia tak memiliki banyak waktu. Matanya menatap beberapa balon karet membentang luas di langit-langit mall. Tangan kekarnya segera memegang benda karet itu, lalu melepas talinya. Ia menatap kebawah, cukup—sangat tinggi. Lelaki itu hanya berharap ia tak mati ketika mulai bergelantungan dengan balon karet panjang.

Beberapa satpam kembali menyergap, berusaha menahan Chanyeol. Namun pria itu tak putus asa, ia segera meninju dan menendang pantat dan wajah mereka. Siapapun yang menghalangi tindakannya, maka bersiaplah menerima sebuah tinju dan keretakan pada tulang punggung kalian.

Baekhyun hanya melongo, ia berjalan kearah Chanyeol. Lelaki itu tengah menghabisi beberapa satpam, lalu mulai mencengkram erat balon karet yang bisa membantu. Ia segera berayun-ayun di udara, dengan bantuan balon karet tentunya. Seungcheol hanya membatu, ia tak menyangka jika Chanyeol akan senekat itu.

Sang mantan kolonel mendarat tepat diatas lift. Membuat guncangan hebat dapat dirasakan Seungcheol. Lift telah sampai di lantai dasar. Pemuda Choi segera berhambur keluar, menjauh dari Chanyeol yang terlihat ganas. Sedangkan pemuda Park melompat dari atas, lalu mengejar Seungcheol keluar.

Pemuda Choi segera naik kedalam mobil kuningnya, lalu menancap gas penuh. Chanyeol berusaha menahan mobil itu, namun tubuhnya ditabrak dan tersungkur diatas tanah. Pemuda itu mendecak sebal, lalu ia segera berlari menuju mobil merah milik Baekhyun—dan beruntungnya mobil itu memiliki kunci cadangan didekat jok belakang.

Seungcheol mengendarai mobil dengan gegabah. Menabrak palang pintu hingga patah. Menambahkan kecepatan penuh pada mesin mobil. Ia ingin menelpon Yifan sekarang, Chanyeol benar-benar menggila.

Park Chanyeol tetap mengejar dari belakang. Menambah kecepatan penuh pada mobil yang sejujurnya bukan milik pria bermarga Park. Fokusnya hanya pada mobil kuning yang berusaha kabur. Membiarkan beberapa mobil lain menyalakan klakson akibat sifat ugal-ugalan.

Baekhyun berjalan ke depan mall. Menatap mobil kuning melintas dengan cepat. Ia melihat siluet mobil kesayangannya berlaju cepat. "TUNGGU AKU! JANGAN PERGI!"

Sang kolonel menatap wanita Byun berlarian. Walau begitu, mobil merah ini adalah milik sang gadis. Jadi, Chanyeol menghentikan laju kendaraan, membiarkan wanita itu masuk dengan wajah kesal. "Siapa kau ini sebenarnya, hah?!"

Chanyeol lantas tak menjawab. Ia hanya fokus menyetir, sedangkan wanita berambut coklat terang sibuk mengoceh, "Kau sudah curi mobilku, merusak kursinya, meculikku, kau memintaku untuk membantu menemukan putrimu. Kurang baik apa aku?! Kemudian kau membawaku ke acara baku tembak dimana banyak orang-orang terluka. Kau tendang semua satpam itu, mengayun dari lantai atas seperti Tarzan, lalu satpam-satpam menembakmu, dan aku menyelamatkanmu! Dan mereka mulai mengejarku! Apa kau akan menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?!"

"Tidak." jawab Chanyeol dengan suara berat.

Baekhyun hanya berteriak frustasi, "Tidak? Tidak?! Ya Tuhan!" wanita itu memegang kedua pipi, berusaha meluapkan segala perasaannya yang campur aduk.

"Awas!" sekali lagi, gadis berbadan montok itu berteriak ketika mobilnya hampir menabrak sebuah truk. Menyetir secara ugal-ugalan bukan hidupnya.

Chanyeol semakin mempercepat mesin kendaraan. Mengejar mobil Seungcheol yang berada didepan. Ia membelok kearah sana dan disini. Membuat mulut Baekhyun berteriak tiada henti. Ia berdoa dengan khidmat, semoga dirinya panjang umur, sehat selalu, dan masih diberikan kesempatan hidup.

Seungcheol membelokkan mobil kearah kiri. Melaju cepat menghindari kejaran brutal sang mantan kolonel. Chanyeol langsung membelokkan mobil merah secara mendadak, membuat Baekhyun semakim ketakutan. "Apa yang kau lakukan?!"

Lampu merah menyala tak dihiraukan. Pemuda Park semakin gencar mempercepat mesin. Membuat dirinya hampir tertabrak mobil lain, "AWAS!"

Mobil itu terkena tabrakan ringan, Chanyeol segera mengejar mobil kuning yang mulai menjauh. Ia menyetir dengan cara ekstrim. Seperti dalam film balap atau balapan liat di jalan raya. Baekhyun hanya bisa berpegangan erat, berusaha memposisikan tubuh dengan baik—karena pada dasarnya wanita itu tak duduk di kursi; yang membuat tubuhnya mudah oleng.

"Ini pasti bukan hari baikku!" teriak Baekhyun sembari memukul pintu mobil. Membuat Chanyeol sedikit menoleh.

Jalanan terlihat sangat sepi. Dua mobil berjalan menuju jurang dalam. Gelap dan senyap, siapapun yang lewat pasti akan berpikir dua kali. Namum tidak untuk Choi Seungcheol dan Park Chanyeol. Keduanya sangat nekat, mereka menerobos palang pintu lalu berjalan dijalan aspal—yang mana disebelahnya adalah jurang amat dalam.

Chanyeol berusaha menabrak mobil Seungcheol. Mengarahkan kendaraan beroda empat milik Byun Baekhyun pada belakang mobil Seungcheol. Menabraknya beberapa kali—membuat badan mobil sedikit rusak. Baekhyun hanya berteriak, ia sangat takut sekarang. Seungcheol membalas menubrukkan mobilnya pada Chanyeol. Membuat mobil merah sedikit rusak.

"Mobilku!" teriak Baekhyun. Namun tak didengar oleh si mantan kolonel.

Sekali lagi, Chanyeol menabrak mobil Seungcheol cepat. Seungcheol berusaha menembak kearah Chanyeol berapa kali, membuat wanita disebelahnya menunduk ketakukan. Namun mobil merah berulang kali kembali menabrak mobil kuning. Membuat kendaraan berwarna kuning terguling ke jalanan. Sedangkan mobil merah menabrak tiang listrik keras. Membuat mesin mobil menguap.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Chanyeol lembut. Ia mendekap tubuh Baekhyun yanv gemetar.

"Aku mati." gumam Baekhyun. Ia menghirup nafas dalam-dalam. "Kau baik-baik saja, tunggu disini." ucap pemuda Park.

Chanyeol segera memandang mobil kuning yang tergelinding, lalu pemuda itu berjalan mendekat. Menatap kearah Seungcheol yang tergencet diantara jalan dan mobil. Sebuah kunci tergeletak dijalanan, sang kolonel segera mengambilnya. Park Chanyeol segera menarik Seungcheol keluar, lalu menghempaskannya dijalan.

BRAK

"Dimana putriku?!" ucap Chanyeol kasar.

"Cium pantatku,"

"Aku tidak bisa mendengarmu!"

"Akan aku katakan dengan keras. Persetan denganmu." sahut Seungcheol geram.

"Kesetiaanmu sangat menyentuh, tapi itu bukan hal penting lagi dalam hidupmu, sekarang." Chanyeol segera menggendong tubuh Seungcheol. Mengangkatnya seakan tubuh lelaki itu adalah sebuah senjata.

Ia berjalan kearah jurang dalam. Lalu memegang satu kaki Seungcheol, membuat pemuda Choi ketakutan setengah mati. Menatap betapa gelap dan dalamnya jurang itu. "Yang terpenting sekarang adalah gravitasi." ucap Chanyeol.

"Aku sudah mengingatkanmu, Seungcheol. Ini adalah lenganku yang lemah." ucap Chanyeol sembari menahan lengannya yang mengangkat tubuh Seungcheol.

Lelaki itu berteriak ketakutan, "KAU TIDAK BISA MEMBUNUHKU. KAU MEMBUTUHKANKU UNTUK MENEMUKAN PUTRIMU!"

"Dimana tempatnya?" tanya Chanyeol.

Seungcheol menatap wajah sang kolonel dari bawah, "S-sekarang. Aku akan membawamu ketempat pertemuannya!"

"Tidak, aku tidak akan lakukan itu." sahut Chanyeol.

"K-kenapa tidak?!"

Pemuda Park menunjukkan sebuah kunci apartement, "Karena aku sudah memiliki ini."

Seungcheol menatap kearah jurang dalam. Sungguh, hatinya berdebar sekarang. Dan Chanyeol hanya menatap dingin, "Ingat janjiku kalau aku akan membunuhmu di urutan terakhir?"

"Y-ya, itu benar Chanyeol! Kau akan menepatinya!"

"Aku bohong."

Dan lengan Chanyeol melepas kaki milik Seungcheol. Membuat pria itu terjun le dasar jurang. Sang mantan kolonel kembali menatap kebelakang, sosok wanita berdiri dekat tiang listrik. Lalu ia menghampiri, "Sekarang kita tidak punya mobil." ucap Baekhyun.

Mata hitam Chanyeol menatap mobil kuning yang masih menyala. Ia bejalan, lalu mendorong mobil itu agar kembali berdiri dengan benar, "Sekarang sudah ada."

Baekhyun hanya tersenyum tipis. Lalu menyusul naik kedalam mobil kuning milik Seungcheol. "Apa yang kau lakukan pada Seungcheol?" tanya wanita berambut coklat terang.

"Aku membiarkannya pergi."

Lalu mobil kuning memutar arah menuju jalan raya.

.

.

.

.

Jihoon berjalan dengan tangan diikat. Beberapa pengawal berjaga disisi kanan dan kiri. Yifan dan Junmyeon mencengkram erat pundak gadis manis itu. Membawanya masuk kedalam mobil. "Jalan." ucap Yifan.

Kendaraan beroda empat berjalan dengan tenang dijalan. Menuju sebuah rumah yang akan digunakan sebagai tempat sandera. Gadis itu berusaha memberontak, namun tak bisa. Lelaki disebelahnya lebih kuat. Ia hanya berharap sang ayah akan datang menyelamatkan dirinya.

.

.

.

.

"Maaf sudah menyeretmu ke permasalahanku." ucap Chanyeol. Kini dirinya lebih tenang, membawa mobil tak ugal-ugalan macam tadi.

Baekhyun hanya tersenyum, "Katakan padaku, sebenarnya bagaimana masalahnya?"

Chanyeol lantas memberikan foto sang putri didalam dompet, lalu berkata, "Ini semua tentang dia."

"Ini putrimu?" tanya Baekhyun ketika menatap wajah manis seorang gadis didalam foto. Berponi dan pipi gembul.

"Seseorang menggunakannya untuk memaksaku melakukan sesuatu tugas. Kalau aku tidak mendapatkannya segera, mereka pasti membunuhnya." ucap Chanyeol dengan suara baritone.

Wanita itu masih memandang wajah Jihoon, "Apa kau sudah melakukan tugasmu?"

Chanyeol hanya menggelengkan kepala, "Belum. Mereka pasti membunuhnya juga meski aku sudah melakukannya."

Baekhyun menatap wajah Chanyeol. Hei, lelaki ini terlihat sangat tampan. Menatap rahangnya yang keras serta hidung mancung. Suara berat itu, kenapa Baekhyun baru menyadari hal itu sekarang?

"Kesempatanku untuk menemukannya adalah sebelum mereka tahu apa yang sudah aku lakukan." ucap Chanyeol.

Wanita itu masih memandang lelaki disebelahnya. Ia terpesona sekarang dengan ayah beranak satu. Dan Chanyeol masih fokus menyetir.

"Semua hal terpenting dalam hidupku sekarang adalah Jihoon."

.

.

.

.

A/N:

Hai, akhirnya saya bisa update fanfiksi ini. Hehe bagaimana? Semoga kalian menikmatinya xD

Terima kasih sudah membaca; ererigado, inspirit7starlight, Guest, rly, SexYeol, winkinie, Dikanasly, rufexo, yousee, myrceu, chanbaek1597, guest, lanarava6223, Guest, and all silent riders.

Dan, terima kasih kepada kalian yang sudah memberikan kritik dan saran! Ini sangat membantu saya untuk melanjutkan fanfiksi agar lebih baik lagi. :)

-levieren225