Chapter 3 : Perbedaan

A/N: Cast milik Tuhan, orangtua dan agensi mereka. Maaf kalau ada typo atau kesalahan dalam bentuk apapun, kesalahan hal yang manusiawi.
Ini adalah BoyxBoy(Yaoi). Yang tidak suka atau merasa jijik bisa tinggalkan laman.

Happy Reading

.

.

.

Taehyung dan keluarga Kim baru saja menyelesaikan malam malam mereka. Acara makan malam mereka masih sama seperti biasa, Taehyung-Kai yang berdebat dan Kyungsoo yang melerai keduanya.

"Tae, malam ini bagianmu yang mencuci piring, 'kan? Kalau ada sesuatu panggil ibu saja, ya?" Ucapan Kyungsoo dibalas anggukan oleh Taehyung yang sedang sibuk membereskan meja makan.

Ketika Taehyung tinggal mengeringkan sendok, sang Ibu kembali dan bertanya, "Tae? Sudah selesai, nak?"

"Sebentar, Bu." Taehyung mengelap sekitar wastafel yang basah kemudian berbalik, "Kenapa, bu?"

"Ada Paman Chan di depan. Dia ingin bertemu denganmu." Kyungsoo menarik Taehyung lembut meninggalkan dapur.

"Eh? Apa Jimin juga ada?" Taehyung bingung. Kenapa Chanyeol mencarinya? Padahal 'kan teman Chanyeol itu ayahnya.

"Biar nanti Paman Chan yang menjelaskan."
Taehyung mengangguk, dapat ia lihat Chanyeol sedang berbincang dengan Kai. Tapi ada yang berbeda dengan ekspresinya, Paman Chan terlihat sedih.

"Paman? Apa Paman mencariku?" Taehyung memilih duduk disamping ayahnya, melempar tatapan bingung pada Chanyeol.

"Aku ingin meminta bantuanmu, Taehyung-ah."

Taehyung makin kebingungan, "Bantuan apa?"

Dan Chanyeol mulai menjelaskan pertengkarannya dengan Jimin. Dimulai dari mereka yang sama-sama keras kepala sampai Jimin yang menolak makan malam bersama karena marah pada ucapan Chanyeol.

"Jadi, bisakah kau membujuk Jimin agar tidak marah padaku? Aku mohon bantuannmu, Taehyung-ah." Chanyeol menatap Taehyung penuh harap. Walau ini adalah masalah keluarganya, tapi Chanyeol tahu Jimin butuh seseorang yang seumuran dengannya untuk bisa membuat Jimin mengerti.

"Baiklah. Aku tidak berjanji, sih. Tapi akan kucoba. Aku pergi dulu." Taehyung beranjak dari duduknya dan membungkuk sebentar pada Chanyeol. Ia berjalan dengan beberapa pemikiran di kepalanya.

"Kupikir Paman Chan dan Jimin tidak pernah bertengkar. Eh, sekalinya bertengkar menyeramkan sekali." Taehyung geleng-geleng kepala, "Aku harus lebih hati-hati pada Jimin. Ia terdengar menyeramkan saat marah."

Terlalu banyak ber-monolog, ia tidak sadar sudah sampai di kediaman Chanyeol. Ia mematai semua rumah sederhana ini sebentar dan berjalan ke depan pintu kamar Jimin yang tertutup rapat.

Tok tok tok

"Chim? Kau sudah tidur?"

Tidak ada jawaban.

"Ini aku, Taehyung."

Masih tidak ada jawaban.

"Aku masuk, ya? Apa kau mengunci pintunya?"

Cklek.

Taehyung senang ketika tahu bahwa Jimin tidak mengunci pintunya. Ia masuk dan kembali menutup pintu. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat Jimin yang bergumul dibawah selimut.

"Chim? Kau belum tidur, 'kan? Ayo bangun. Aku perlu bic—WAAAHH DAEBAK!" Taehyung memekik dengan mata yang melotot tidak percaya dan mulut yang menganga.

"Tutup mulutmu, Tae. Jangan sampai liurmu menetes."

Taehyung langsung menghampiri Jimin yang sedang bersandar pada kepala ranjang dengan cepat.
"Apa yang kulihat nyata? Medali medali itu apa itu milik Paman Chan? Paman Chan dulu seorang atlet?"

Oke. Jadi yang membuat Taehyung terkejut adalah ketika melihat sebuah figura dengan foto Chanyeol yang sedang memegang sebuah medali. Disamping figura tersebut, terpajang banyak medali—yang langsung Taehyung asumsikan milik Chanyeol.

"Sepeti yang kau lihat." Balas Jimin datar.

"Sekarang aku mengerti." Taehyung menjeda, "Aku mengerti kenapa kau sangat ingin menjadi atlet. Kau ingin seperti paman Chan, 'kan? Tapi kenapa tidak menjadi atlet sejak kecil saja, Chim? Kenapa baru sek—"

Kau cerewet, Tae. Dasar sok tahu." Cibir Jimin, Taehyung tersenyum kotak, "Kalau tidak mau aku sok tahu, seharusnya kau menceritakan semuanya padaku." Taehyung mendekat pada Jimin, memasuki selimut yang sama, "Kau pasti tahu kenapa aku disini. Paman Chan sudah menceritakan semuanya padaku."

Jimin tidak menjawab, memilih menyandarkan kepalanya pada bahu Taehyung. Sifat manja-nya selalu muncul ketika bersama Taehyung.

"Kau tahu? Paman Chan terlihat sangat sedih. Dia punya alasan kenapa tidak mengizinkan mu masuk klub beladiri. Ia khawatir padamu, Chim."

"Khawatir terhadap apa? Kenapa harus khawatir pada sesuatu yang belum terjadi?" Jawab Jimin cepat.

"Mindset kita yang masih remaja berbeda dengan mindset Paman Chan. Mindset kita berkata 'untuk apa khawatir pada hal yang belum tentu terjadi?' Sedangkan mindset Paman Chan berkata 'harus selalu berhati-hati pada setiap hal yang mungkin terjadi', dan itulah yang mengirimkan sinyal khawatir pada otaknya." Jelas Taehyung.

"Tapi apa Papa harus se-khawatir itu? Tidak akan ada yang terjadi karena hanya aku masuk klub beladiri. Aku bisa menjaga diriku dengan baik." Jimin mengangkat kelapanya dan menatap Taehyung.

"Kau bisa menjaminnya?" Taehyung balas menatap Jimin, "Kau punya jaminan bahwa sesuatu tidak akan terjadi padamu?"

Jimin menggeleng lemah, "Apa itu artinya Papa tidak percaya bahwa aku bisa menjaga diriku dengan baik?"

"Aku yakin Paman Chan percaya kau bisa menjaga dirimu dengan baik, yang Paman Chan tidak percaya itu lingkungan sekitarmu."

Taehyung tersenyum pada Jimin, kemudian mengusap puncak kepalanya, "Seseorang bisa menjaga dirinya dengan baik agar tidak terluka, tapi itu bukan jaminan bahwa ia tidak akan terluka akibat dari kecerobohan orang disekitarnya."

"Kau benar, Tae. Itulah yang Papa khawatirkan." Jimin memeluk Taehyung erat, menenggelamkan wajahnya pada dada Taehyung.

Perkataan Taehyung membuat Jimin merasa bersalah pada Chanyeol karena sudah keras kepala. Dadanya berdenyut nyeri menyadari bahwa ia telah membuat Papa-nya sedih dan terluka, perasaan yang kemudian membuat otaknya bekerja untuk menghasilkan air mata.

"Hiks—a-aku, hiks—salah, Tae. Huuu" Jimin menangis tersedu-sedu seperti anak kecil, tidak perduli jika nanti Taehyung marah karena bajunya basah.

"Sstt. Ini bukan salahmu, bukan juga salah Paman Chan. Kalian hanya memiliki pemahaman dan pola pikir berbeda. Jadi, tidak apa-apa."

Taehyung mengeratkan pelukan mereka, mengusap dengan sayang rambut hitam Jimin. Beberapa menit mereka bertahan dalam posisi seperti itu, Taehyung ingin membiarkan Jimin tenang dulu. "Sudah puas? Jangan menangis lagi, ya? Kau bisa berbaikan dengan Paman Chan besok pagi." Taehyung tersenyum pada Jimin dan menghapus sisa air mata yang berada dipipi Jimin.

"Kau akan pulang, Tae?" Jimin menatap Taehyung polos, membuat Taehyung gemas setengah mati.

Bagaimana tidak? Selain tatapan Jimin yang polos, pipi dan hidung nya memerah. Demi apapun, itu sangat lucu bagi Taehyung.
"Jangan menatapku begitu." Taehyung berucap datar, "Juga, jangan pernah menangis lagi setelah ini." Titahnya.

"Eh!? Kenapa?"

"Kau terlihat sangat menggemaskan. Aku benar-benar tidak tahan." Taehyung akhirnya mencubiti pipi Jimin gemas, masa bodo jika nanti Jimin menyalahkannya karen membuat pipi pemuda pendek itu melar.

"Le-lephas, Ta-Twae." Jimin balas mencubiti tangan Taehyung agar mau melepas cubitan di pipinya.

"Hehe~ Maaf, maaf. Jangan terlalu menggemaskan makanya." Taehyung tersenyum kotak pada Jimin, menghilangkan semua rasa bersalah pada pemuda Park tersebut.

"Menginap saja, Tae. Sudah malam." Usul Jimin.

"Eyy apa kau sangat ingin tidur bersamaku?" Goda Taehyung.

"Berisik. Cepat sana tidur." Jimin mendorong tubuh Taehyung agar segera berbaring, kemudian ia juga ikut berbaring.

Sebelum mereka benar-benar menuju alam mimpi, keduanya saling melempar senyum dan mengucapkan kalimat pengantar tidur.

"Selamat malam, Chim."

"Malam, Taetae."

.

.

.

.

TBC

Sebelumnya, saya minta maaf kalau banyak typo dan chapter ini tidak memuaskan. Ini saya ketik ulang dengan ngebut karena file sebelumnya tiba-tiba rusak. Saya juga bilang makasih banyak sama yang udah Follow, favs ataupun yang berkomentar, itu sangat berharga buat saya. Sekali lagi saya minta maaf buat chapter ini.

kritik? saya butuh itu untuk dijadikan cerminan diri. ^^