Cherry's Scandal
A SasuSaku FanFiction for Haruna Sakura
Naruto©Masashi Kishimoto
Cherry's Scandal©Aiko Fusui
Pairing : SasuSaku, NaruSaku and another pairing
Warning : MissTypo(s), OOC, Alternate Universe, GAJE
Enjoy it!
-Cherry's Scandal-
Dengungan musik pop berganti balada rapp yang cepat. Dojo-Capoera itu tidak ramai. Tidak juga sepi. Ada empat orang lelaki, termasuk Sasuke dan dua orang wanita yang berlatih di atas matras. Semuanya memakai seragam putih-putih.
Kaki mereka terangkat lalu membelok cepat dengan tetap menjaga keseimbangan tubuh. Bunyi "Ha!" mengudara, menyaingi alunan musik yang energik. Beberapa dari mereka jatuh berdebam, tapi bangkit lagi. Kembali beraksi dengan kaki mereka. Sesekali mereka meloncat dengan memutar badan.
Seorang gadis disana, duduk ditepi Dojo memeluk lututnya. Matanya tak bisa lepas dari pemandangan asing yang keren di depanya. Baginya, saat ini dia seperti melihat sirkus akrobatik kaki. Saling menyerang dengan indah dan diselingi gerakan dance yang unik.
Kedua tangannya saling memilin jari.
"Sas, itu pacar lo?" seorang mendekat, berbisik di telinga Sasuke.
"Bukan." Dingin. Tak ada intonasi.
"Masa'? Dari tadi ngeliatin elo terus tuh," lelaki bertato merah di pipi itu memandang Sakura yang menatap Sasuke yang menunduk tak peduli. Sasuke diam. Tak menanggapi ucapan temannya. Cuek, ia kembali latihan.
Mungkin ia membuat kesalahan telah membiarkan gadis itu tetap disini. Teman-teman di Dojo malahan mengira gadis itu pacarnya. 'Sasuke punya pacar' kira-kira begitulah pikiran mereka saat itu.
Wah, berita hebat itu. Setelah hampir 2 tahun tak menyentuh hal semacam 'itu', dia kembali menjadi 'NORMAL' #dihajar-Sasu-FG
"BUKANN!" Sahut Sasuke keras waktu itu tadi. Ketika keadaan di dojo masih dalam radius waktu 30 menit yang lalu.
Ya, saat ia memergoki Sakura mengutak-atik ketenangan tas hitamnya tanpa ijin, pertanyaan "Dia pacar baru elo?" kepada Sasuke muncul di sana berulang-ulang. Membuat kepala si rambut raven itu semakin pusing.
Flashback
"Apa yang kau ambil?" hardik Sasuke galak seakan meminta sesuatu yang digenggam Sakura dengan isyarat mata mempesonanya (?), eh menyeramkannya.
Tentu saja Sakura menggeleng. 'Tidak apa-apa. Ini punyaku, aku hanya mengambil hak-ku' begitulah kira-kira arti gelengan Sakura. Sepertinya ia tak tahu siapa yang ia hadapi. Sasuke mendekat. Mendesis tepat di depan wajah kouhai manis itu.
"KEMBALIKAN SEKARANG JUGA!"
Bodohnya Sakura, ia malah menangis. Tapi, dia mendapatkan dua hal karenanya. Pertama, Sasuke yang tambah jengah dan hampir menerkam langsung tangan dibalik punggung itu. Karena Uchiha itu benar-benar penasaran. Sasuke mulai berpikir macam-macam Bagaimana kalau 'itu' diambil? Miliknya. Sesuatu yang tak seorang pun tahu kecuali ia sendiri dan err—Naruto.
Kedua, simpati teman-teman Sasuke di Dojo-Capoera itu yang sangat amat banyak membantu. Seorang gadis bertopi merah mendorong Sasuke. Menjauh. Lalu menarik Sakura, merengkuh lalu menepuk-nepuk kepalanya.
"Kau tak boleh kasar pada pacar sendiri, Uchiha-kun," kata gadis bernama Karin tersebut.
Sasuke membuang muka. Cuek. Memilih untuk menunggu beberapa saat hingga lady pink itu berhenti mewek.
-Cherry's Scandal-
Lima menit kemudian…
Sakura bangkit, mengusap bulir air mata yang masih nyisa di pipi ranumnya. Dengan suara yang serak, tubuh yang gemetar ia menjelaskan, "A-aku ngambil g-gantungan k-kunci-kku… soalnya tadi, errr~ ny-nyangkut di tas s-senpai pas di k-koridor s-sekolah t-tadi…"
Polos. Terbata-bata. Namun jujur.
Serabut DNA Sasuke terjalin seper-mega juta cepatnya. Berpikir. Lalu secercah ingatan muncul secara tiba-iba di kepala Sasuke. Akhirnya Uchiha itu sadar juga dengan apa yang menjadi topik menjengkelkan di sini. Dengan jelas, Sasuke mengingatnya. Tadi. Di koridor sekolah, ketika tubuhnya hanya berjarak sekian senti dari tubuh si kouhai. Tas saling beradu. Ho, ternyata ada yang nyangkut.
Uchiha itu membuang muka, lalu dengan geraman ia bicara, "Tunjukkan padaku." Tapi karena ia menggeram tanpa memandang Sakura, si lawan bicara itu tentu saja tak memahaminya. Dengan masih menyisakan aliran air mata di pipinya Sakura bertanya,
"Maaf?" sopan sekali.
"Tunjukiin!" Kali ini Sasuke bilang, cukup pelan walaupun nggak meninggalkan tekanan angkernya. Tapi melihat mata beriris onyx itu, Sakura menurut. Membuka dan menyorongkan tangan kanannya yang semula tergenggam ke hadapan Sasuke.
Satu detik…
Dua detik…
Tiga detik…
"Hoo…" koor teman-teman Sasuke di Dojo-Capoera itu. Kepala mereka yang semula menunduk mengerubungi telapak tangan Sakura, secara serentak mengangkatnya lagi. Saling pandang dengan senyum kelegaan.
Sesaat kemudian, lagi dengan serentak mereka menoleh pada Sasuke. Memandang pemuda itu tajam. Yang dipandang rame-rame itu bersidekap santai balas memandang mereka dengan tak kalah tajamnya.
Dalam proses bertemunya banyak mata Vs satu mata itu, rupanya ada dialog batin. Kira-kira beginilah bunyinya,
Sasuke: "Apa?"
OODDC: "Minta maaf!" (OODDC: Orang-orang di Dojo-Capoera)
Sasuke: "Ogah."
OODDC: "Minta maaf! Dasar cowok tengil, udah ngebuat pacarnya nangis, nggak ngerasa nyesel pulak!"
Sasuke: "Dia bukan pacarku!"
OODDC: "Sebodo amat, minta maaf sekarang juga!"
Sasuke: "KAGAK!"
Dan seterusnya sampai capek nulisnya…
Untuk beberapa lama, dua kubu yang kelihatannya tidak seimbang (dalam hal jumlah) itu tetap saling mendeath-glare.
Sakura?
Dia hanya bisa diam. Bingung. Terabaikan deh. Huh!
-Cherry's Scandal-
Hari-hari berikutnya setelah insiden penuh kesalahpahaman itu, Sakura semakin sering datang. Mulanya hanya melihat-lihat, ngintip-ngintip yang ngebuat Sasuke dan Sakura… huh lagi-lagi, ribut. Lalu semakin lama Sakura bilang,
"Aku ingin belajar Capoera!"
Terang. Girang. Jelas ditengah-tengah latihan anak-anak Dojo-Capoera itu.
"HAAA?" teriak mereka barengan.
Beberapa saat kemudian mereka membentuk sebuah munas mendadak. Bagai semut yang selalu menggerombol di segala suasana. Orang orang di Dojo-Capoera—minus-Sasuke itu membentuk lingkaran, menunduk membelakangi Sakura yang bengong plus bingung.
Mumpung Sasuke belum dateng.
Mereka bergerombol, berbisik saling adu mulut.
Memutuskan suatu keputusan yang menggemparkan seluruh jagad raya.
Apakah gerangan keputusan tersebut?
Jeng jeng jeng…
KERJAIN SASUKE!
Siapa sih yang betah ngajarin dance capoera sama cewek ambisius yang jatuh dari anak tangga pertama aja udah nangis?
Hallooo? Nggak ada yang angkat tangan 'kan? Lagipula, kapan lagi bisa ngerjain orang se-stoic Uchiha bungsu itu? Pelakunya rame-rame lagi. Nggak bakal ketahuan. Jadi, kapan lagi kalau bukan sekarang?
Lalu akhirnya munas itu pun mencapai mufakat resminya. Dua hari kemudian…
Dua orang dari pihak mereka menghubungi Sasuke dan Sakura.
Karin kebagian menghubungi Sasuke,
"Sas, ada murid baru. Tolong dong ajarin. Besok dia dateng ke Dojo. Elo kan pinter, jago banget gitu… yah?"
"Hn."
SUKSES!
Juugo kebagian menghubungi Sakura,
"Kouhai-chan, kamu jadi ikut dojo-capoera? Besok dateng ya~"
"IYA! IYA! IYA! ARIGATOOU~…"
"Yak, yak, STOP! STOP!"
BERHASIIL! Tapi Juugo, telinganya memerah, mukanya pucet. Aiyah, kapok deh ngomong sama anak manis yang suka sorak-sorak di telepon.
-Cherry's Scandal-
Esoknya…
Sepulang sekolah seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya, Sasuke datang ke dojo. Sendirian. Tapi kok sepi? Tak ada suara music pop yang biasanya sampai di halaman depan dojo.
'But, sebodo amat. Mungkin lagi pemanasan' pikir Sasuke yang terus melaju pelan. Semakin ia masuk, semakin aneh rasanya. Hening. Tak ada hentakan kaki dan lompatan yang beradu dengan lantai. Mau tak mau dia jadi khawatir juga. 'Tak ada yang Ultah 'kan?' inner Sasuke.
Tepat di depan pintu, ia deg-degan. Perlahan ia memutar kenop pintu, mendorongnya ke dalam. Masih tak ada tanda-tanda kehidupan. Lalu, dengan cepat menjeblak pintunya.
BRAAAKKK!
"Kyaaaaaaa~"
Suara cewek.
Sasuke menoleh ke sumber suara. Cewek yang tadi menjerit pun demikian. Berjongkok, sambil menatap Sasuke.
Terkejut. Kaget. Shock! (Author: I'm shocking sodaaa… *korbaniklan*)
Dan secara bersamaan, mereka berdua menudingkan telunjuk masing-masing ke arah berlawanan. Lalu bersorak bersamaan.
"K-KAU?
-Cherry's Scandal-
Hampir empat puluh menit mereka diam. Saling berjauhan dan tak memandang apalagi mencoba membuat pembicaraan. Yang cowok dengan cuek latihan sendiri di depan kaca besar. Sedangkan makhluk manis yang satunya hanya bisa diam. Duduk sambil memeluk lutut.
Cewek Haruno itu mendesah. Mata hijau beningnya menatap layar ponsel pink-nya yang tak bercahaya. Belum dibales. Ya, Sakura mengirim puluhan SMS ke nomor Juugo-san, tapi tak ada balasan satupun. Sakura mencoba menelepon, tapi tak bisa. Jaringan sibuk katanya.
Baru saja dia menghela nafas lelah, satu sms masuk. Dari Juugo-san. Terburu-buru, Sakura menegakkan punggung, memencet tombol hijau.
'Kouhai-chan, yang sekarang ada di dojo itu gurumu. Ganbatte!' ujar seorang diseberang telepon yang direfleksikan lewat tulisan pesan singkat.
Rasanya, dunia gempa seketika.
"TIDAAAAAKKKK…!" reflek ia teriak.
Tentu saja Sasuke yang merasa terganggu, menoleh. "Woy, bisa diem gak lo!", bentaknya kasar. Sehabis ngebentak begitu, mata onyx-nya menunduk. Saku celananya sedikit bersinar. Getaran ponsel memberitahukan bahwa satu pesan telah masuk ke dalam inbox-nya.
Dari Karin.
'Konnichiwa, Sasuke-kun. Murid baru itu cewek berambut pink yang sekarang lagi sama kamu di dojo. Hihihihi. Met Teaching!'
Nggak nunggu waktu berjalan sampai Sasuke ikut teriak juga.
"APAAAA!"
Akibat teriakannya itu, Sakura yang noleh ke dia sekarang, tapi tak bisa berkata apa-apa. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Menerima kenyataan ini, tentu saja hatinya berjedug-jedug gak karuan di dalam sana. Kaget? Yup! Takut? bangeeeetttt. Shock? Skaleeeee. Sampai gak karuan. Tapi, kok ada rasa senang yang nyempil juga ya? Entahlah.
Di lain pihak, si stoic Sasuke yang berusaha mengambil jalan se-rasional mungkin segera membereskan tasnya. Bersiap go home. Langkahnya cepat, menghentak-hentak kesal menuju pintu. Dan sebelum ia sempat mencapai pintu, suara cewek menghentikan langkahnya.
"Tunggu!" itu suara Sakura. Kedua pasang mata itu beradu pandang. Onyx bertemu Emerald. Yang punya mata emerald tampak memohon, beda sekali dengan yang punya mata onyx. Tampak galak.
Glekh!
Sakura menelan ludah. Meredakan segala perasaan yang bercampur aduk di dalam hatinya. Ia pejamkan mata beberapa detik, meyakinkan dirinya. Ini demi bisa gabung di Club Cheer, terlebih ini demii err~ Naruto-senpai!
"A-aku, ano… tolong ajari Capoera d-dance," lirih. Jika saja Sasuke bukan pendengar yang tajam, ia tak akan mendengarnya.
"Mau apa? Buang-buang waktu." ketus. Tapi aneh, Sasuke tak kunjung bergerak dari tempatnya. Seolah menunggu kalimat selanjutnya dari lawan bicaranya yang masih duduk di pojokan dojo.
Terbata-bata, Sakura menjawab,"A-aku ingin i-ikut c-cheer."
"BWAHAHAHAHAHA~"
Sakura terpana. Terpaku pada sosok stoic yang tertawa meremehkan. Satu hal yang membuatnya begitu tertarik hingga tak menarik pandangannya adalah; dari beribu frekuensi ekspresi kejamnun angker yang Sasuke keluarkan, ternyata tawa Sasuke, manis. Tapi sayang, cuma bertahan beberapa detik saja. Kemudian wajahnya kembali angker.
"Untuk apa? Menarik perhatian Naruto?"
JLEB!
Pas sasaran. Sakura mendongak, matanya membelalak tak percaya. Mukanya memanas, menunduk dalam lagi. "Bagaimana kau tahu?" katanya pelan. Bukan sifatnya jika harus menghindari kenyataan, jadi buat apa berbohong?
"Semua gadis di sekolah, rata-rata menyukainya. Si Dobe itu, benar-benar bodoh."
"Jangan sebut dia bodoh!" jerit Sakura tanpa kendali. Akibatnya, gema dari jeritannya terdengar menguar di ruangna yang lumayan luas itu.
Lima detik kemudian…
"Oh, oke kalau begitu. Good bye,"
Seperti dicambuk hingga memerah, Sakura sadar. Segera dia bangkit berdiri. Berlari mengejar Sasuke yang mengunci pintu dojo dari luar.
"Buka! Kumohon, jangan kunci aku disini. Buka!" teriaknya. Kedua telapak tangannya mengepal, menggedor-gedor pintu dengan keras.
"Buka! Tolong, bukain…"
Seolah tak peduli, Sasuke terus saja melangkah keluar dari sana. Langkahnya tak biasa, pelan dan terkesan menunggu. Seringai jahil muncul di wajahnya.
Entah kenapa, sepertinya Sasuke kembali ingin bermain seperti dulu.
"Please, BUKA!"
Jeritan Sakura masih terdengar hingga Sasuke sampai di halaman. Lalu, ia berhenti. Menunggu. Lima menit pun berlalu, tak ada jeritan lagi. Sasuke berjalan, kali ini lebih pelan.
Sampai di pagar, ia berhenti lagi. Masih tak ada suara dari dalam. Kepalanya menoleh khawatir. Sepuluh detik berlalu, tidak ada suara. Tanpa perlu dikomando lagi, Sasuke berlari masuk ke dalam.
"Dasar bodoh!" umpatnya.
Secara kasar, ia memasukkan kunci ruangan dojo lalu dengan cepat memutar kenop pintu dojo, mendorongnya dengan beringas. Kedua matanya menyiratkan gelisah dan kekhawatiran yang tak biasa.
Sial!
"WOY, JANGAN PINGSAN!"
"Eh? Siapa yang pingsan?"
Disana, di jendela dojo yang besar menghadap ke belakang, Sakura dengan setengah tubuhnya tak terlihat dibaliknya. Dia tersenyum, melambaikan tangan ke arah Sasuke seolah tak terjadi apa-apa. Dia berhasil keluar.
Saat itu, Sasuke rasanya ingin membunuh Sakura dengan tsukuyomi. Sayang, ia tak punya. Hihihi…
-Cherry's Scandal-
Hari pemilihan anggota baru di tim Cheer semakin dekat. Berlalu begitu saja. Tentu saja ini membuat Sakura semakin panic. Niat besarnya yang menggebu-gebu belum bisa melewati haling rintang terbesarnya. Dia harus bisa Acrobatic dance.
Tak ada sanggar khusus dance macam itu. Sirkus palingan. Karena itu, ia melirik Capoera-dance di dojo-nya Sasuke. Emang terdengar gak nyambung. Tapi disana kan ada break-dance juga, agak sama gitu dengan acrobatic-dance.
Karena itu, dengan niat tulus segenap hati, ia tak menyerah. Setiap hari sepulang sekolah, dia kesana. Berharap seseorangmau mengajarinya. Kecuali Sasuke. Pemuda itu tentu saja tak mau. Setelah kejadian 'Kau kunci aku tapi bisa keluar sambil senyum' itu, ia tak berani mendekati Sasuke. Soalnya, setiap kali ia ingin mendekat, aura membunuh pasti langsung mengelilingi tubuh Uchiha bungsu itu.
Serem.
Sayang, enggak ada orang di Dojo itu yang mau mengajarinya. Dengan alas an memegang janji dan kedisiplinan mereka dengan kompak berkata,"Maaf, gurumu Uchiha Sasuke. Dia yang terhebat disini."
"Hh…", Sakura mendesah lelah, duduk dipojokan Dojo seperti biasa. Tak ada yang bersimpati padanya.
Tak ada angin tak ada hujan, sosok yang belakangan ini ia jauhi, mendekat. Bukan dirinya yang dituju, melainkan tas punggung hitam yang ada di belakangnya. Bodohnya, Sakura tak menyadari itu. Ia menunduk takut sambil menutup mata. Berharap bukan ia yang dimangsanya hari ini.
"Minggir!"
Takut-takut, Sakura menengadahkan kepalanya tak mengerti.
"MINGGIR!"
Masih bengong.
"Minggir! Tas-ku dibelakang! Bodoh!"
Secepatnya dia menyingkir. Tapi pandangannya tak lepas dari sosok itu. Sasuke yang jongkok. Sasuke yang merogoh tas. Sasuke yang mengambil botol minuman. Sasuke yang dengan cepat menenggaknya hingga habis. Sasuke yang lalu berjalan menjauh lagi.
"Tunggu," agak ragu, Sakura berkata. Bukan apa-apa, dia mengatakannya dengan segenap keberanian yang ada.
"Hn?" ketus Sasuke.
Hening diantara keduanya. Hanya terdengar suara music pop mengalun di kejauhan. Tapi ada dialog mata yang terjadi. Dialog yang terlalu abstrak hingga author sendiri tak bisa melukiskannya.
Setelah satu abad lamanya *Lebay*
Setelah beberapa menit berlalu dalam diam, Sasuke memalingkan muka. Lirih, dia berkata. Satu kata, tapi sanggup membuat Sakura melayang hingga menembus Eksosfer terluar bumi. Sanggup. Satu kata.
"Oke."
-To Be Continued-
Terima kasih atas waktu para readers and reviewers untuk bertandang ke fict ini. Domo arigato minna-sama… jangan lupa buat REVIEW
REVIEW
REVIEW
REVIEW
Komentarnya yang membangun yak, biar kita bisa saling membuat bangunan persahabatan yang baik.
Best regards
Aiko Fusui n Haruna Sakura
