Lebih dari setengah tahun telah berlalu sejak pertemuan Sasuke dengan ibu dan saudara tiri nya. Namun ia masih tak bisa melupakan ucapan Itachi barang sedetikpun. Hati nya terasa sakit setiap kali mengingatnya dan ia berusaha keras untuk melupakan nya.
Semenjak bertemu dengan Itachi, ia bahkan merasa dirinya semakin hina dan untuk bertemu dengan Sakura pun ia merasa tak pantas. Ia khawatir jika perasaan nya semakin tak terkendali bila terus bertemu Sakura dan gadis itu mungkin saja merasakan perasaan yang sama padanya suatu saat nanti.
Sasuke telah memutuskan untuk tak lagi menemui Sakura meskipun perasaan nya sendiri pada gadis itu semakin dalam. Ia terlalu takut jika perasaan nya terlalu dalam dan ia tak bisa lagi membuang perasaan nya.
Sambil mengatur nafas nya dan mengendalikan jantung nya yang berdebar keras, Sasuke melangkahkan kaki jenjang nya memasuki sebuah restaurant. Ia memasuki ruanganVIP yang telah dipesannya dan mendapati Sakura yang tersenyum serta melambaikan tangan padanya.
Sasuke segera menghampiri meja Sakura dan duduk berhadapan dengan gadis itu. Ia tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum pada Sakura. Sudut bibir nya seolah terangkat secara refleks dan ia tersenyum pada gadis itu.
"Sudah lama menunggu, hn?"
"Tidak. Aku baru tiba lima menit yang lalu."
Pelayan menghampiri meja mereka dan memberikan menu pada Sasuke. Sasuke segera membuka buku menu yang diberikan pelayan itu dan menatap beberapa gambar makanan yang tampak menggoda selera.
"Aku pesan ini," ucap Sasuke sambil menunjuk gambar spaghetti bolognese. "Untuk minuman nya, aku ingin pesan tomato juice."
Pelayan mengulang pesanan dan segera meninggalkan meja. Sakura menatap Sasuke lekat-lekat dan berkata, "Ya ampun. Kau pesan tomato juice lagi?"
"Hn."
"Aish… rasanya hampir setiap kali kita makan bersama, kau hampir selalu memesan hidangan yang berbau tomat. Kau tidak bosan?"
"Tidak, aku suka tomat."
Sakura berdecak kesal, namun sesaat kemudian ia tersenyum pada Sasuke.
"Bagaimana jika aku memberikan hadiah satu kardus tomat untukmu jika aku berulang tahun?"
"Tidak apa-apa."
"Dasar maniak tomat," desis Sakura dengan jengkel.
"Apa, cotton candy?" balas Sasuke sambil menyeringai, membuat Sakura terkejut. Sasuke tak biasanya membalas ejekan yang ditujukan Sakura padanya, namun kali ini lelaki itu memutuskan untuk membalasnya, berharap Sakura akan jengkel padanya.
"Huh? Tidak biasanya kau membalas ucapanku, bokong ayam?"
"Tidak suka, haru no sakura?"
Sakura mengernyitkan dahi. Ia tidak suka dengan sebutan haru no sakura yang ditujukan padanya. Ia merasa muak mendengar hal-hal yang berkaitan dengan musim semi.
"Tentu saja tidak, pangeran tomat," balas Sakura sambil menatap tajam. "Omong-omong, apakah kau salah makan hari ini? Kau aneh sekali."
Sasuke menggelengkan kepala nya. Ia mengalihkan pandangan dari Sakura dan berusaha tak menatap gadis itu. Ia bahkan tak bisa mengatakan tujuan sebenarnya dari pertemuan nya dengan Sakura saat ini. Ia tak sanggup melihat ekspresi Sakura jika ia mengucapkan keinginan nya untuk tak bertemu lagi dengan gadis itu secara terus terang. Ia juga tak bisa terus menerus menghindari Sakura tanpa alasan.
"Kau baik-baik saja, Sasuke?" ucap Sakura dengan khawatir.
"Hn."
"Syukurlah," ujar Sakura sambil tersenyum. "Aku hanya kaget. Tak kusangka seseorang sepertimu bisa meledek seseorang."
"Semua orang juga bisa," balas Sasuke dengan asal.
"Kau berbeda, tahu. Orang yang biasanya pendiam sepertimu bisa bersikap menyebalkan juga rupanya. Persepsiku benar-benar salah."
Sasuke merasa heran dengan reaksi Sakura. Gadis itu tak terlihat benar-benar marah meskipun ia telah mengatainya. Hanya satu cara untuk membuat Sakura benar-benar kesal dan tak ingin berhubungan dengan nya lagi.
"Kau tak bisa menilai seseorang hanya dengan kepribadian yang nampak, Sakura."
"Oh. Kau memang benar, Sasuke," jawab Sakura sambil menganggukan kepala.
Seorang pelayan menghampiri meja Sasuke dan mengantarkan seluruh pesanan mereka.
"Itadakimasu," ucap Sakura dan Sasuke bersamaan sebelum memakan makanan pesanan mereka.
Sasuke menatap Sakura yang makan dengan lahap tanpa peduli jika gadis itu sedang bersama dengannya yang notabene merupakan seorang pria. Bahkan hanya dengan melihat Sakura yang sedang makan pun membuat mood nya membaik dan ia merasa lebih bahagia.
Rasa pasta yang bercampur saus Bolognese terasa jauh lebih lezat bagi Sasuke saat ini. Ia bahkan sampai harus menundukkan kepala demi mengendalikan debaran jantung nya sendiri. Ia tak pernah merasa gugup dengan wanita sebelum bertemu Sakura, dan ia tak terbiasa dengan perasaan yang tak pernah dirasakan sebelumnya.
"Oishii (enak)!" ucap Sakura setelah menyelesaikan makanan nya. "Bagaimana menurutmu, Sasuke?"
"Enak."
"Kapan-kapan aku akan kembali ke restaurant ini."
"Aku juga," balas Sasuke sambil meraih sedotan dan meminum sedikit tomato juice miliknya.
Sasuke mengepalkan tangan dan berusaha mengumpulkan keberanian nya untuk mulai berbicara pada Sakura. Sebelum ia berkata, ia telah menduga apa reaksi Sakura atas ucapan nya dan ia merasa takut.
"Hey, gulali, bukankah dulu kau pernah bertanya mengenai orang tua ku?"
Sakura menganggukan kepala, "Oh, ya. Aku pernah bertanya padamu. Maaf ya, aku menanyakan hal pribadi seperti itu. Rasanya jadi tidak enak."
"Aku adalah anak hasil pemerkosaan seorang supir terhadap nyonya keluarga kaya," ucap Sasuke dengan ekspresi datar meskipun hati nya kembali terasa tercabik-cabik.
Sakura terperanjat dengan ucapan Sasuke yang diucapkan secara tiba-tiba. Ia menatap Sasuke dengan tatapan tak percaya, "Bohong ! Kau bilang orang tua mu sudah tidak ada, kan? Kau sedang bermaksud mengerjaiku, kan?"
"Hn," jawab Sasuke dengan ucapan ambigu, "Memang tidak ada. Ibu ku tak bisa mengakui keberadaanku dan aku tak pernah bertemu dengan ayahku."
Sakura tak bisa berkata apapun atas ucapan Sasuke yang begitu mengejutkan. Ia menggelengkan kepala, "Lalu… bagaimana kau hidup selama ini?"
"Aku menjadi pria simpanan ibu teman ku sekaligus menjadi pianis di café."
Sakura membelalakan mata dan tanpa berpikir panjang ia meraih gelas minuman yang dipegangnya, hendak melemparkan isi nya pada Sasuke.
"KAU BENAR-BENAR KETERLALUAN!" bentak Sakura dengan suara meninggi. "Tidakkah kau pikirkan bagaimana perasaan teman mu jika dia mengetahuinya?"
"Aku tidak peduli, aku hanya butuh uang untuk biaya hidupku," ujar Sasuke dengan ekspresi dingin nan angkuh. "Kau tahu, melayani wanita tua sangat menjijikan. Aku muak dan bertahan hanya demi uang. Untuk memuaskan gairahku, aku memerlukan seorang wanita muda yang cantik sepertimu."
"Tidak !"
Sakura membuat gerakan defensive dan Sasuke segera bangkit berdiri. Ia berjalan menghampiri Sakura dan berusaha menyentuh tubuh Sakura. Namun beberapa langkah sebelum ia mendekati Sakura, Sakura telah melemparkan gelas berisi minuman ke tubuh Sasuke dan bangkit berdiri sambil membawa tas nya. Ia menampar Sasuke dan berteriak, "AKU BUKAN WANITA MURAHAN, BRENGSEK! AKU TAK SUDI MENGENAL BAJINGAN SIALAN TANPA HARGA DIRI SEPERTIMU!"
Sakura segera berjalan cepat menuju pintu dan membuka pintu, kemudian ia membanting pintu dengan keras, meninggalkan Sasuke sendirian dengan hati yang terluka. Sesuai ekspektasi, rencana Sasuke untuk membuat Sakura merasa benci dan menjauhinya berhasil. Namun hati nya teriris-iris saat mendengar makian Sakura padanya.
Ini bukanlah salah Sakura, dirinya sendiri yang bersalah dengan mengungkap rahasia terdalam nya pada Sakura hingga berpura-pura mencoba melampiaskan nafsu nya pada Sakura dengan cara biadab. Namun tetap saja hati nya terasa sakit, terutama jika kata-kata semacam itu diucapkan oleh orang yang dicintainya.
Ponsel Sasuke berbunyi dan ia menatap nama penelpon sebelum mengangkatnya. Ia menghembuskan nafas dalam-dalam untuk mengendalikan emosi nya, serta menjawab sang penelpon dengan suara lembut seperti biasanya.
.
.
"Sasuke-kun, bagaimana jika kita menginap selama dua malam?" usul Kushina sambil menggandeng tangan Sasuke dan merapatkan tubuh nya ke tubuh Sasuke.
"Bukankah suami mu akan melakukan perjalanan bisnis dua hari lagi, Kushina-chan?"
"Biar saja. Aku sudah sangat merindukanmu, Sasuke-kun," ujar Kushina sambil menatap Sasuke dengan tatapan menggoda. "Aku akan bilang jika aku pergi keluar kota bersama teman ku."
"Keluar kota? Bagaimana jika suami mu tanpa sengaja menemukanmu disini, Kushina-chan?"
Kushina tersenyum dan memeluk tubuh Sasuke dari samping dengan manja, "Kita memang akan keluar kota, kok. Kau mau mengemudi untukku, kan?"
"Tidak," goda Sasuke sambil tersenyum.
"Ayolah, Sasuke-kun," ucap Kushina dengan nada manja.
"Tidak, ah."
Kushina segera mendongakkan kepala dan ia mencium pipi lembut Sasuke. Ia memasang ekspresi memelas dan berkata, "Kau juga ingin berlibur, kan?"
Sasuke menganggukan kepala, "Baiklah, baiklah. Namun berikan uang jajan tambahan, ya. Sebagai gantinya, aku juga akan memberikan pelayanan lebih."
Sasuke dengan sengaja mengecup kening Kushina dan membuat wajah wanita itu memerah saat ia merasakan bibir lembut Sasuke di kening nya. Ia juga mencium aroma parfum Sasuke dan merasa bergairah.
"Berapa yang kau butuhkan, Sasuke-kun?"
"Dua ratus ribu yen."
"Hanya dua ratus ribu? Bukankah kau bilang sedang menabung untuk melanjutkan studi mu di luar negeri?"
"Hn."
"Berapa banyak yang sudah kau kumpulkan, Sasuke-kun?"
"Tiga juta yen," jawab Sasuke dengan jujur.
Kushina menggelengkan kepala hingga anting yang dikenakannya ikut bergoyang, "Itu belum cukup, sayang."
"Masih ada beberapa bulan hingga aku lulus, Kushina-chan."
Mendengar kata beberapa bulan membuat wajah Kushina muram seketika. Ia menatap iris onyx Sasuke lekat-lekat dan berkata, "Aku tak ingin berpisah denganmu, Sasuke-kun. Aku tak ingin hubungan kita berakhir."
"Aku juga, Kushina-chan," ucap Sasuke dengan muram sambil menatap sendu. Ia tak lagi memaksakan senyum di wajah nya dan merasa lega dapat menunjukkan kesedihan nya setelah Sakura meninggalkan nya di restaurant.
"Bagaimana dengan hubungan jarak jauh? Aku tak ingin kehilanganmu, Sasuke-kun."
"Akan berbahaya, Kushina-chan. Kau tak bisa sering menemuiku jika tak ingin dicurigai."
Mata Kushina telah berkaca-kaca dan ia memeluk Sasuke serta berjalan memasuki toko. Sasuke segera mengusap mata Kushina dengan lembut dan berbisik, "Dalam dua tahun, kau bisa menemukan lelaki yang jauh lebih baik dariku."
Kushina menggelengkan kepala, "Tidak, tidak. Aku hanya ingin kau, bukan yang lain."
Kushina mengecup bibir Sasuke cukup lama tanpa mempedulikan pengunjung pusat perbelanjaan yang lain. Ia berbisik pada Sasuke, "Kau berjanji tidak akan melupakanku, bukan?"
"Tentu saja tidak," sahut Sasuke sambil mengelus rambut Kushina dengan lembut. "Sudahlah, jangan bahas hal ini. Setidaknya kita masih bersama hingga dua hari lagi."
"Kau benar, Sasuke-kun," balas Kushina sambil mengenggam tangan Sasuke dengan erat.
Sasuke tersentak saat ia menatap kearah lain dan mendapati sosok Naruto yang sedang menatapnya dengan tajam. Sasuke terdiam dan tak mengenggam Kushina, namun Kushina masih tak melepaskan tangan Sasuke.
"Ada ap-"
Ucapan Kushina terputus saat ia menyadari seseorang melepas paksa tangan nya yang bertaut dengan tangan Sasuke. Naruto menatap Kushina dan Sasuke dengan tajam serta mengarahkan kepalan tangan ke wajah Sasuke dengan sangat keras hingga Sasuke hampir kehilangan keseimbangan.
"APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN, HUH?!"
"Tenang, Naruto-kun," ucap Kushina dengan panik. "Ini salah paham. Sasuke-kun sudah kuanggap sama sepertimu, Naruto-kun."
"Salah paham?!" ulang Naruto dengan suara meninggi. "Apakah berciuman bibir juga termasuk bentuk kasih sayang antara ibu dan anak laki-laki?"
"I-itu…"
Beberapa orang mulai berkerumun dan memperhatikan Naruto. Namun Naruto tak peduli, emosi telah menguasai dirinya. Ia merasa sangat marah dan terkhianati dengan perbuatan ibu dan sahabatnya sendiri. Selama ini ia menganggap Sasuke sebagai sahabat terbaiknya, namun lelaki itu malah berselingkuh dengan ibu nya.
"Pernahkah okaa-san memikirkan perasaan otou-san?! Tidakkah okaa-san merasa bersalah pada otou-san yang setia padamu?"
Kushina mulai terisak. Ia merasa malu dan juga bersalah. Ia tak menyangka jika Naruto akan mengunjungi pusat perbalanjaan yang sama dengan nya. Ia mengira telah berhasil menyembunyikan hubungan nya dengan Sasuke selama bertahun-tahun dan mengurangi kewaspadaan nya.
"DAN KAU, TEME! APAKAH KEBAIKAN ORANG TUA KU MASIH TAK CUKUP BAGIMU HINGGA KAU MENJADI SELINGKUHAN IBU,KU?!" bentak Naruto sambil menarik kaus Sasuke dan kembali mengarahkan kepalan tangan ke wajah Sasuke berkali-kali hingga darah mengucur dari hidung Sasuke. Naruto bahkan menendang tubuh Sasuke hingga lelaki itu terjatuh dan Naruto tak berhenti memukulnya. Sasuke tak melawan sedikitpun dan membiarkan Naruto memukulinya habis-habisan hingga kepala nya terasa pusing.
"Katakan padaku, apa alasanmu melakukan ini, huh?!"
"Aku… butuh uang, dobe. Maaf."
"DOBE?! KAU BERANI MEMANGGILKU DOBE?!" bentak Naruto sambil melayangkan pukulan ke perut Sasuke. Sasuke merasa mual seketika dan ia hampir memuntahkan isi perut nya jika saja ia tidak ingat jika ia berada di pusat perbelanjaan.
"Seandainya kau bilang padaku, maka aku akan memberikan uang padamu," ucap Naruto dengan lirih. "Setidaknya, aku akan memberikanmu pekerjaan."
"Maaf," ucap Sasuke dengan suara sangat pelan. Mulut nya terasa penuh dan ia hampir mengeluarkan isi perutnya.
"Kau keterlaluan," ucap Naruto dengan kecewa. "Aku benar-benar kecewa."
Naruto menarik pakaian Sasuke dan memaksa lelaki itu berdiri serta setengah mendorongnya, "Pergilah. Jangan menemuiku ataupun ibu ku lagi, teme."
Kepala Sasuke benar-benar pusing dan pandangan nya terasa gelap. Ia melirik Kushina yang menangis dan berusaha mendekatinya, namun Naruto segera menghalangi ibu nya dan menarik tangan wanita itu untuk pergi.
"Sayonara, Sasuke-kun," ucap Kushina dengan setengah berteriak dan Sasuke bahkan tak menjawabnya. Beberapa petugas keamanan yang baru saja tiba segera menghampiri Sasuke dengan khawatir.
"Silahkan ikut ke kantor kami untuk pertolongan pertama sementara kami memanggil ambulan," ujar salah seorang satpam sambil melirik wajah Sasuke yang tampak pucat.
"Tidak, saya baik-baik saja."
"Wajah anda terlihat pucat," ujar satpam itu sambil mencoba menyentuh lengan Sasuke, begitupun dengan salah satu rekan nya.
Sasuke hendak menepis tangan para satpam itu, namun pandangan nya terasa semakin gelap dan perut nya semakin mual. Ia membuka mulut nya tanpa sadar dan memuntahkan darah amis dari mulut nya. Kesadaran nya perlahan menghilang dan mata nya terpejam.
.
.
Aroma obat-obatan yang kuat tercium di indra penciuman Sasuke ketika ia membuka mata nya. Ia mendapati diri nya berada di ruangan serba putih dengan beberapa bagian tubuh yang terbalut perban serta jarum infus yang menancap di punggung tangan nya.
Sekujur tubuh Sasuke terasa nyeri, namun kepala nya terasa seolah akan meledak dan ia benar-benar lemas. Ia mencoba menahan rasa sakit nya dan berusaha untuk duduk serta menapakkan kaki nya ke lantai.
Namun sebelum Sasuke mencoba untuk berdiri, pintu ruangan nya tiba-tiba terbuka dan ia segera menatap kearah pintu. Seorang lelaki berjas putih memasuki ruangan dan tersenyum pada Sasuke.
"Anda sudah sadar, Sasuke-san?"
"Mengapa aku berada disini?" tanya Sasuke tanpa sedikitpun niat berbasa-basi.
"Anda pingsan dan petugas keamanan di pusat perbelanjaan menghubungi ambulans."
"Bolehkah saya pulang sekarang?"
Dokter itu cepat-cepat menggelengkan kepala, "Tentu saja tidak. Tubuh anda terluka parah dan anda baru saja menjalani operasi pada bagian hidung. Anda masih harus menjalani pemeriksaan."
"Hn? Operasi? Siapa yang menandatangani formulir?" Sasuke mengernyitkan dahi dan mencoba menyentuh bagian hidung nya yang dibalut perban. Namun dokter segera menghentikannya dan menahan tangan Sasuke.
"Salah satu rekan anda menandatangani formulir dan mengurus administrasi anda."
"Siapa nama orang itu?"
"Mohon maaf. Namun orang itu meminta saya untuk merahasiakan identitasnya."
Sasuke cukup yakin jika orang tersebut adalah Naruto, namun ia memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
"Hn."
"Kalau begitu saya akan meninggalkan ruangan. Silahkan menunggu, perawat akan segera mengantarkan makanan untuk anda. Jika memerlukan bantuan, silahkan menekan bel."
Dokter itu berjalan menuju pintu dan meninggalkan Sasuke sendirian. Ia kembali memejamkan mata dan tak membukanya hingga pintu terbuka dan seorang perawat membawakan sebuah nampan berisi makanan yang sama sekali tak menggugah selera makan nya.
"Arigato," ucap Sasuke pada perawat itu meskipun sebetulnya ia sedang tidak ingin mengucapkan sepatah katapun.
Perawat itu segera tersenyum dan meninggalkan ruangan setelahnya. Sasuke menatap makanan itu dan dengan terpaksa mengambil peralatan makan untuk memakannya. Ia menatap sekeliling sebelum memulai makan, entah mengapa tiba-tiba saja ia merasa kesepian. Biasanya, jika ia sedang sakit, maka Naruto akan memaksa untuk menemaninya meskipun ia berkali-kali mengatakan jika ia baik-baik saja dan tak perlu ditemani. Atau jika tak ada Naruto, ada Kushina yang menemaninya. Kini ia benar-benar sendirian dan merasa sangat tidak nyaman.
Sasuke membuka mulut nya dan memakan sedikit makanan hanya sekadar untuk mengisi perut nya. Makanan itu terasa hambar dan sama sekali tidak enak.
Sasuke segera memejamkan mata setelah ia selesai makan. Ia berusaha keras untuk tertidur, namun ia tak bisa berhenti memikirkan Naruto dan Sakura serta perasaan bersalah yang menghantuinya.
.
.
Sakura merasa benar-benar kesal dengan sikap Sasuke. Ia masih tak mengerti dengan sikap Sasuke yang tiba-tiba saja berubah seratus delapan puluh derajat, entah lelaki itu memang memanfaatkannya sejak awal atau memiliki penyakit jiwa. Namun jika lelaki itu menginginkan tubuh seorang wanita, ia yakin akan banyak wanita yang bersedia dan bisa dipatkan lelaki itu tanpa bersusah payah melakukan pendekatan selama berbulan-bulan.
Jika waktu dapat diulang, maka Sakura akan segera mengulangnya dan ia tidak akan bersedia bertemu dengan Sasuke, apalagi harus mengenalnya. Ia menyesal telah menganggap Sasuke sebagai pria yang baik selama beberapa bulan ini.
Ponsel Sakura berbunyi dan ia segera melirik nama penelpon. Ia bersiap menolak panggilan jika telepon itu berasal dari Sasuke, namun ia segera mengangkatnya saat melihat nama Naruto tertera di layar ponsel.
"Moshi-moshi."
"Sakura, bolehkah aku ke rumah mu sekarang?"
"Huh? Untuk apa?"
"Ada hal penting yang ingin kukatakan," ujar Naruto dengan serius. Nada suara Naruto bahkan tak terdengar ceria seperti biasanya dan membuat Sakura heran.
"Ya sudah. Datang saja."
Naruto mematikan telepon dan Sakura segera merapikan rambut nya serta berjalan keluar kamar. Ia segera menuju dapur dan membuka lemari es, mengeluarkan berbagai macam makanan untuk menyambut kedatangan Naruto.
Sakura meletakkan makanan-makanan itu di atas meja kecil dan ia segera menyalakan televisi. Iris emerald nya menatap berita yang sedang disiarkan di televisi tanpa menunjukkan sedikitpun antusiasme. Ia menekan tombol dan mengganti saluran televisi secara acak, namun tetap saja ia tak menemukan acara yang menarik.
Terdengar suara bel dan Sakura segera berlari menuju pintu dan membukanya. Di balik pintu, terlihat Naruto yang menampilkan ekspresi datar dan segera memasuki ruangan.
"Konbawa."
"Konbawa, Naruto," sahut Sakura dengan nada ceria. Ia berharap Naruto akan merasa sedikit lebih baik dengan sambutan nya.
"Omong-omong, aku sudah menyiapkan orange juice dan berbagai cemilan, loh."
Naruto menatap Sakura dan berpura-pura tersenyum meskipun sebetulnya ia masih merasa marah saat mengingat topic pembicaraan yang menjadi alasan nya datang ke rumah Sakura.
"Wah… Sakura, kau baik sekali hari ini! Benar-benar seperti santa claus."
"Oh, tentu saja. Kau selalu meminta ramen instan setiap kali datang kesini, dan kupikir cemilan yang kuhidangkan jauh lebih menyehatkan dibanding ramen instan."
"Padahal aku ingin ramen hari ini," ucap Naruto sambil menggembungkan pipi, mencoba merayu Sakura.
"Kau sudah makan telalu banyak ramen, baka," ucap Sakura sambil menggelengkan kepala dan mendudukkan diri di sofa serta menuangkan jus ke gelas Naruto yang masih kosong.
"Aku makan, ya?" ujar Naruto sambil mengambil sepotong jeruk yang diletakkan Sakura di dalam kotak.
Sakura menganggukan kepala dan ia ikut mengambil sepotong jeruk serta memakan nya.
"Hey, Naruto. Kalau boleh tahu, apakah Sasuke adalah tipe lelaki yang sering menggoda wanita?"
Naruto tersedak seketika dan ia segera meraih gelas serta meminum sebagian isi nya. Ia merasa agak kesal saat mendengar nama Sasuke disebutkan, namun ia berusaha tak memperlihatkan kekesalan nya dihadapan Sakura.
"Tidak. Setahuku dia juga tidak pernah berpacaran, hingga beberapa hari lalu," ujar Naruto dengan nada datar. "Memangnya kenapa?"
Sakura tersentak dengan apa yang diucapkan Naruto hingga ia melupakan sejenak apa yang hendak dikatakan nya.
"Eh? Berpacaran?!"
Naruto menganggukan kepala dan wajah nya muram seketika. Sakura berdecak seketika dan berkata , "Benar-benar keterlaluan. Kau tahu, beberapa hari yang lalu aku bertemu lelaki kurang ajar itu dan dia mengatakan jika dia menjadi simpanan ibu teman nya. Yang terparah, dia mengatakan jika dia memerlukan wanita muda sepertiku untuk memuaskan gairah nya."
Naruto terbelalak mendengar penuturan panjang lebar yang disertai dengan decakan kesal Sakura. Ia merasa geram dan rasanya ia ingin segera menemui Sasuke serta kembali menghajar lelaki itu habis-habisan. Ia sangat menyesal telah meluangkan waktu datang ke rumah sakit dan mengurus administrasi untuk Sasuke semata-mata hanya karena ia merasa menyesal.
"Mengapa kau tidak langsung memberitahuku, Sakura? Kalau saja aku mengetahuinya, aku pasti akan memukulnya jauh lebih keras dibanding yang telah kulakukan," ucap Naruto dengan suara meninggi.
"Eh? Kau memukulnya? Mengapa?"
"Rahasia, ya," ucap Naruto sambil menatap Sakura dan meletakkan telunjuk di depan bibir, "Sasuke adalah kekasih gelap okaa-san ku dan aku memergokinya sedang berciuman dengan ibuku."
Sakura membelalakan mata, masih terkejut dengan ucapan Naruto meski ia telah mendengarnya sendiri dari mulut Sasuke. Awalnya hati Sakura menolak untuk percaya dengan apa yang dikatakan Sasuke, namun ia benar-benar percaya setelah Naruto mengatakan hal yang sama.
"Keterlaluan," ucap Sakura dengan suara parau. Air mata telah menggenang di pelupuk matanya tanpa ia sadari. Ia merasa kecewa pada Sasuke dan menyesal telah jatuh cinta pada seorang lelaki brengsek seperti itu. Ia tak seharusnya menangis, namun ia seolah kehilangan kendali atas dirinya.
"Sakura? Kau menangis?" Naruto bertanya dengan khawatir dan ia segera mengusap air mata Sakura dengan ibu jarinya.
"Aku… baik-baik saja," ucap Sakura dengan suara serak disela-sela isakannya.
Sakura memeluk tubuh Naruto dan Naruto segera menepuk-nepuk punggung Sakura. Sebetulnya ia tak mengerti mengapa Sakura menangis, namun ia memutuskan untuk menghibur Sakura dan berusaha memahami perasaan gadis itu.
"Kau tahu, Naruto," ucap Sakura ketika isakannya mereda dan air mata yang mengalir mulai berhenti, "Aku benar-benar kecewa padanya. Kukira Sasuke adalah lelaki yang berbeda dengan kebanyakan lelaki. Ketika dia mengatakan padaku mengenai hubungan terlarang dengan ibumu, aku tak mengira dia serius."
Naruto ikut meneteskan air mata. Ia benar-benar marah pada Sasuke. Ia merasa terkhianati dan membenci lelaki itu. Namun di sisi lain, ia masih menyayangi Sasuke layaknya seorang sahabat, atau bahkan saudara. Ia sangat kecewa dengan perlakuan lelaki itu.
"Yah… aku juga sama kecewanya denganmu, Sakura. Aku tak tahu mengapa dia malah menghancurkan keluargaku."
"Kurasa aku benar-benar tak ingin berhubungan dengannya." Sakura mengangkat kepala yang sebelumnya tertunduk dan melepaskan pelukannya dari Naruto. Ia telah memutuskan untuk tak lagi menemui Sasuke dan membuang perasaannya terhadap lelaki itu.
"Ya. Itu hal yang bagus, Sakura. Aku tak akan membiarkan Sasuke kembali melecehkanmu."
"Sudahlah, jangan membahasnya. Mulai sekarang, anggap saja dia tak pernah ada."
Naruto menganggukan kepala. Ia tak yakin sanggup melakukan itu pada awalnya. Ia sudah menghabiskan waktu bersama Sasuke begitu lama. Namun ia harus melakukannya jika tak ingin merasakan sakit hati.
.
.
Sasuke menghabiskan kurang dari satu tahun untuk menyelesaikan studinya. Ia bahkan lulus dengan nilai tertinggi dan berhasil melanjutkan pendidikan ke sekolah musik di Prancis.
Musim dingin akan berakhir sebentar lagi dan kini Sasuke bersiap untuk meninggalkan Jepang melalui penerbangan ketiga hari ini. Sepuluh menit lagi ia dan penumpang lainnya akan memasuki pesawat dan kini ia memandang sekeliling ruangan, seolah menunggu sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang.
Iris onyx nya berpendar dan berusaha mendapati seseorang, atau mungkin dua orang yang ditunggunya. Namun ia hanya mendapati wajah-wajah yang tak dikenalnya dan kembali melirik jam di ponselnya, menampilkan ekspresi angkuh dan tak peduli pada apapun di sekelilingnya.
Sudah jelas, siapapun yang ditunggunya tak mungkin datang. Bahkan orang itu tak mungkin mengetahui kepergiannya. Sekalipun tahu, orang itu tak mungkin peduli. Orang itu sangat marah padanya dan tak pernah menghubunginya lagi lebih dari setengah tahun yang lalu dan ia pun tak pernah mencoba untuk menghampiri orang itu.
Terdengar suara seorang petugas bandara melalui pengeras suara yang mengatakan jika penumpang penerbangan menuju Paris dapat segera menuju pesawat. Beberapa orang segera bangkit berdiri dan membentuk antrian berupa satu garis lurus, begitupun dengan Sasuke.
Ia kembali menatap sekeliling, sekali lagi memastikan jika tak ada seorangpun yang mengantarnya. Seorang petugas memeriksa kelengkapan berkas Sasuke ketika gilirannya telah tiba dan mempersilahkannya menuju pesawat.
Ia berjalan melewati jendela kaca dan sekali lagi menatap kearah ruangan. Hatinya terasa benar-benar sakit dan untuk kesekian kalinya ia merasa kesepian dan hampa. Ia tak peduli dengan perjalanan menuju Paris dengan penerbangan first class yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan bagi setiap orang. Ia sama sekali tak merasa bahagia sekalipun berada di kursi terbaik sekalipun. Sumber kebahagiaan telah meninggalkan dirinya yang memang tak ditakdirkan untuk bahagia.
.
.
-Tiga Tahun Kemudian-
Sakura melangkahkan kaki memasuki sebuah café yang cukup ramai di jumat sore. Seluruh pengunjung mengenakan pakaian musim dingin yang tebal dan menikmati minuman hangat yang menghangatkan tubuh mereka.
Dua orang wanita muda yang duduk di meja dekat jendela melambaikan tangan padanya dan ia segera menghampiri wanita-wanita itu. Ino segera bangkit berdiri dan memeluk Sakura ketika wanita itu menghampirinya.
"Hisashiburi, forehead."
Sakura segera memeluk Ino dengan sangat erat sebelum melepaskannya dan memeluk Hinata yang tersenyum padanya.
"Hisashiburi, pig, Hinata."
Ino tersenyum dan menoleh kearah piano hitam yang terletak diatas panggung sebelum menatap Ino, "Tak kusangka kau mau bertemu dengan kami di café ini."
Sakura mengikuti arah pandang Ino dan tatapan nya sedikit meredup saat mendapati piano diatas panggung tanpa seorangpun yang memainkannya. Lebih dari tiga tahun telah berlalu sejak kunjung terakhirnya ke café ini dan café telah banyak berubah.
Suasana café terasa aneh tanpa keberadaan Sasuke dan membuat Sakura merasa asing meskipun ia pernah mengunjungi café ini setiap minggu atas paksaan Ino dan membuatnya merasa familiar dengan suasana nya. Ia bahkan masih mengingat euphoria pengunjung dan alunan lagu-lagu sedih yang dihasilkan piano diatas panggung itu.
"Sakura?"
"Ah? Oh, ya?" ucap Sakura dengan gelagapan saat tersadar dari lamunannya.
"Apa kau baik-baik saja? Sejak tadi kau menatap piano itu dan tak mendengarkan kami." Hinata bertanya seraya menatap Sakura dengan khawatir.
"Tentu saja. Apakah aku tidak terlihat baik-baik saja, Hinata?" jawab Sakura sambil tersenyum hingga matanya menyipit.
"Apakah kau merindukan Sasuke-kun, forehead?"
Sakura tersentak mendengar pertanyaan Ino dan menggelengkan kepala, "Mana mungkin? Kau sudah tahu apa yang dilakukannya padaku dan Naruto, kan?"
Ino menganggukan kepala, begitupun dengan Hinata. Mereka berdua merupakan salah satu dari segelintir orang yang dipercaya Naruto untuk menjaga rahasianya.
"Memang benar. Namun terkadang kita bisa jatuh cinta pada siapapun, meski seseorang yang tak sesuai dengan tipe kita," ucap Ino sambil menyesap cokelat hangat nya, "Tipe lelaki idamanku adalah pria seperti Sasuke-kun. Namun aku malah menjadi kekasih Sai-kun yang berbeda dengan tipe lelaki idamanku. "
"Jangan membuatku memikirkannya, pig."
"Kalaupun memikirkannya juga tidak apa-apa. Kau tak bisa membohongi dirimu sendiri, forehead."
Ya. Selama lebih dari tiga tahun ia telah membohongi dirinya sendiri dengan terus menerus berpura-pura telah membuang perasaannya pada Sasuke. Ia bahkan menjalani hubungan dengan beberapa pria dalam waktu yang berbeda-beda, bahkan dua diantaranya dalam jangka panjang. Namun Sakura tak pernah bisa membuang sosok Sasuke dalam hatinya dan seluruh hubungan percintaanya kandas.
Jauh di lubuk hatinya ia merasa yakin jika Sasuke memiliki alasan yang tak terungkap dibalik perbuatannya, alasan yang bahkan tak diungkapkannya pada Naruto. Baik dirinya maupun Naruto tak tahu banyak mengenai masa lalu lelaki itu yang mungkin saja menjadi alasan dibalik perbuatannya.
"Kalau kau menyukai seseorang, kau harus mengejarnya, Sakura," ucap Hinata dengan wajah memerah. Ia teringat dengan usahanya saat mengejar Naruto, lelaki yang kini menjadi kekasihnya.
"Mengejarnya? Aku bahkan tak tahu dimana dirinya."
Hinata membuka tas nya dan mengeluarkan dua lembar tiket dari tas nya serta menyerahkan tiket itu pada Sakura, "Untukmu."
Sakura menerima tiket yang diberikan Hinata dan menatapnya. Ia terbelalak saat menyadari tiket itu merupakan tiket VVIP di konser piano Sasuke yang akan diadakan di Tokyo Dome tepat pada malam natal. Sementara tiket lainnya adalah tiket meet & greet yang diadakan setelah konser.
"Sejak kapan…" gumam Sakura dengan suara pelan."
Hinata dan Ino menatap Sakura, berusaha mencerna ucapan wanita itu. Seolah mengerti keheranan kedua sahabatnya, Sakura segera berkata, "Sejak kapan Sasuke menjadi pianis professional?"
"Kau tidak tahu, forehead? Ia mulai terkenal sejak video kelulusannya dari sekolah musik tersebar di internet. Wajah tampannya telah memikat banyak fans, terlebih dengan kemampuannya yang meningkat drastis. Tiket konser solo perdana nya saja langsung habis dalam waktu tiga jam."
Sakura menggelengkan kepala. Mendadak ia merasa pesimis. Sasuke telah banyak berubah dalam waktu tiga tahun dan kini menjadi bintang yang tak dapat dijangkaunya.
"Sungguh tak disangka, bukan? Seorang pianis café ini dapat lulus dari Juilliard yang merupakan sekolah musik terbaik dengan gelar master dan menjadi pianis sekaligus composer terkenal." Ino berkat dengan penuh kekaguman.
Sakura kembali menatap piano di panggung dan tiba-tiba saja merindukan sosok Sasuke yang memainkan piano itu. Saat itu ia tak begitu menikmati permainan lelaki itu meskipun pengunjung-pengunjung lain seolah tersihir dengan melodi yang dihasilkan tuts-tuta itu, namun kini ia berharap dapat mendengarnya.
Kini pertunjukkan piano di café hanya diadakan selama dua setengah jam setiap sabtu oleh pianis amatir. Sisanya, piano dibiarkan begitu saja diatas panggung dan dapat dimainkan oleh siapapun yang ingin memainkannya.
Sejak Sakura tiba, sudah dua lagu dimainkan oleh pengunjung. Namun permainan kedua pengunjung itu tak sebaik Sasuke, meskipun salah satunya memainkan lagu dengan sangat baik untuk ukuran seorang amatir.
Terasa ada yang kurang dalam setiap melodi yang dimainkan pengunjung-pengunjung itu meskipun hampir seluruh pengunjung menikmatinya dna bahkan bertepuk tangan, termasuk Sakura.
Sakura meminum coklat hangat nya dan berkata sambil mengeluarkan dompet dari tasnya, "Terima kasih atas tiketnya. Aku akan memba-"
Hinata memotong ucapan Sakura dan menahan tangan Sakura yang hendak menyerahkan uang padanya, "Tidak perlu. Anggap saja itu hadiah ulang tahun dariku, Ino dan Naruto-kun. Kami juga akan datang ke konser itu."
"Ulang tahunku masih tiga bulan lagi."
"Tidak masalah, forehead. Belum tentu Sasuke-kun akan mengadakan konser tiga bulan lagi."
"Arigatou gozaimasu, minna," ucap Sakura sambil tersenyum dan memeluk kedua sahabatnya.
Hinata dan Ino ikut tersenyum saat menyadari Sakura yang kini tersenyum. Mereka kembali berpelukan sebelum melepaskan pelukannya.
Seorang pengunjung lelaki yang tampaknya masih terlihat muda menghampiri panggung dan duduk diatas kursi. Ia segera menyentuh piano itu dan mengusapnya. Jari-jari lentiknya mulai menari diatas tuts-tuts hitam putih piano itu dengan lincah, seolah telah terbiasa dengan piano itu sebeelumnya.
Para pengunjung seolah terbius dengan alunan melodi dari piano yang dimainkan lelaki itu, begitupun dengan Sakura. Ia kembali teringat dengan lagu yang sama dan dimainkan di tempat yang sama saat kunjungan pertamanya ke café. Lagi-lagi ia kembali teringat akan Sasuke berkat lagu yang dimainkan lelaki misterius itu.
Sakura memejamkan mata dan menikmati lagu itu. Ia begitu menikmatinya hingga ia tak sadar jika lagu telah berakhir dan penonton bertepuk tangan. Ia membuka mata dan mendapati sang lelaki misterius telah bangkit berdiri dan melangkah menuruni panggung sambil tersenyum tipis tanpa ia sadari, senyum yang mirip dengan senyuman Sasuke.
Wajah lelaki misterius itu tidak begitu jelas karena tertutup hampir setengahnya dengan scarf abu-abu tua. Namun mata dan sebagian hidung lelaki itu terlihat jelas dan ia menatap kearah meja Sakura sejenak. Ia menyadari Sakura sedang menatap kearahnya dan membalas pandangan wanita itu beberapa detik sebelum mengalihkan pandangan dan berjalan keluar dari café.
Sakura terkesima selama beberapa detik, hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lelaki asing itu terkesan familiar dan mengingatkannya akan seseorang. Namun senyuman tipis dan ekspresi dingin serta tatapan tajam namun sebetulnya kosong dan rapuh itu hanya dimiliki Sasuke seorang.
Sakura segera bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu secara refleks, mengabaikan tatapan heran Ino dan Hinata. Sosok lelaki misterius itu telah menghilang entah kemana. Namun Sakura yakin dengan instingnya. Tak salah lagi, lelaki itu pasti Sasuke.
.
.
Puluhan ribu orang berkumpul di Tokyo Dome sambil menatap objek yang menjadi atensi mereka, seorang lelaki yang memainkan piano dengan tenang.
Orang-orang itu berkumpul dan menikmati konser tanpa memedulikan cuaca yang semakin dingin dengan salju yang turun semakin deras di malam natal. Alunan melodi yang dimainkan sang pianis pujaan mereka seolah menghangatkan mereka di tengah dinginnya musim dingin.
Sakura duduk di kursi terdepan bersama dengan Ino, Hinata, Naruto dan Sai. Ia menatap kearah Sasuke yang memainkan piano dan menikmati pemandangan yang sama seperti yang dilihatnya di café beberapa tahun yang lalu.
Dalam tiga tahun, Sasuke telah banyak berubah. Tubuh lelaki itu semakin tinggi, bahkan model rambut lelaki itu berubah, begitupun dengan suara lelaki itu yang semakin berat dan wajah yang semakin terlihat dewasa.
Teknik permainan piano lelaki itu semakin meningkat. Kini ia memainkan lagu-lagu yang mayoritas merupakan lagu buatannya sendiri. Ia memainkan lagu dengan penuh emosi yang bercampur aduk, seolah membawa audiens untuk ikut merasakan perasaannya.
Permainan lelaki itu melengkapi permainan biola, cello, terkadang saxophone dan nyanyian vokalis di lagu-lagu yang dimainkannya. Melodi-melodi yang harmonis itu meresap dalam hati para audiens yang mendengarnya.
Mereka sama sekali tak sadar jika sebetulnya perasaan Sasuke sedang kacau. Ia kesulitan untuk berkonsentrasi meskipun sudah berusaha menenangkan diri dengan mengatur nafas. Sesekali ia melirik kearah Sakura dan Naruto yang duduk di kursi terdepan, merasa senang namun juga bertanya-tanya jika apa yang dilihatnya adalah ilusi atau nyata.
Ingin rasanya Sasuke menghampiri Sakura yang duduk di kursi terdepan. Namun ia tak yakin itu benar-benar Sakura meskipun wanita itu sangat mirip dengan Sakura.
Sakura tak banyak berubah dalam tiga tahun. Yang berubah hanyalah model rambut wanita itu yang kini pendek dan wajah wanita itu yang semakin cantik. Namun Sasuke merasa asing dengan tatapan wanita yang ia kira sebagai Sakura. Tatapan wanita itu menunjukkan kerinduan yang mendalam, juga kesedihan yang terpancar jelas dari matanya. Ia bahkan bisa melihatnya meskipun ia bukanlah tipe yang memperhatikan perasaan orang lain secara detil, apalagi orang yang tak dikenalnya.
Lagu telah berakhir dan Sasuke segera bangkit berdiri dan berjalan ke tengah-tengah panggung. Ia sangat jarang berinteraksi dengan para fans dan memilih untuk tidak melakukannya sama sekali jika sang manager tidak memaksanya, namun tiba-tiba saja ia merasakan keinginan yang begitu kuat untuk berinteraksi dengan para audiens.
Atensi para audiens tertuju padanya ketika ia berdiri di tengah panggung, termasuk wanita yang mirip dengan Sakura dan lelaki yang mirip dengan Naruto. Beberapa gadis mengatupkan mulut, menahan diri untuk tak berteriak histeris saat Sasuke menatap para penonton.
"Halo," ucap Sasuke dengan suara datar dan sedikit canggung. Tiba-tiba saja otaknya dipenuhi dengan kata-kata yang harus diucapkan meskipun biasanya ia harus berpikir keras memikirkan kata-kata yang harus diucapkan pada para fans nya.
"Senang bertemu dengan kalian. Aku sangat senang ketika mengetahui akan mengadakan konser di Tokyo sebagai bagian dari world tour. Aku rindu dengan Tokyo dan kupikir aku tak akan bisa kembali kesini."
Beberapa wanita di samping Sakura terkejut dengan kalimat panjang lebar yang dilontarkan Sasuke, begitupun dengan Sakura. Sasuke terkenal sebagai sosok yang jarang bicara dan menjaga privasi dengan sangat rapat. Lelaki itu tak pernah menunjukkan perasaanya dihadapan publik, sekalipun hanya ungkapan kerinduan terhadap kampung halaman. Dan kali ini lelaki itu mengucapkannya.
Sasuke sendiri terkejut dengan apa yang diucapkannya. Kata-kata seolah mengalir begitu saja dari mulutnya dan ia melirik kearah Sakura dan Naruto. Naruto menatapnya lekat-lekat dan mereka bertemu pandang, namun rasa bersalah membuatnya terbebani akan tatapan lelaki itu dan ia segera mengalihkan pandangan.
Sasuke tersenyum tipis pada para audiens, namun tatapan nya tertuju pada Sakura.
"Aku sungguh berterima kasih karena kalian bersedia menghadiri konserku. Khususnya beberapa teman lama yang bersedia meluangkan waktu mendengarkan permainan pianoku," ucap Sasuke dengan maksud melihat reaksi orang yang mirip dengan Sakura dan Naruto.
Sakura dan Naruto membelalakan mata dan menatap Sasuke lekat-lekat. Sasuke menatap kearah mereka dan tersenyum tipis, seolah mengatakan 'aku telah menemukan kalian disini'."
Jantung Sakura berdebar keras dan matanya tiba-tiba saja berkaca-kaca. Ia tak mengira jika Sasuke masih mengingatnya dan tersenyum padanya. Ia mengira lelaki itu tak akan mengenalinya, atau sekalipun mengenali, lelaki itu akan memilih untuk berpura-pura tak mengenalinya.
Sakura menangis. Ia seolah merasakan tekanan emosi yang begitu kuat dari atmosfir tempatnya berada. Kata-kata Sasuke yang seolah ditujukan padanya, juga sikap lelaki itu membuatnya semakin merasakan perasaan bersalah dan kerinduan yang perlahan mulai tumpah.
"Lagu yang akan kubawakan selanjutnya merupakan lagu terbaru yang berjudul 'Ballad of The Winter', kemudian dilanjutkan dengan 'That Moment'. Kuharap kalian menyukainya," ujar Sasuke sambil menatap Sakura. Ia terkesima saat menyadari air mata Sakura yang telah mengalir deras.
Sasuke kembali duduk diatas piano dan kini mulai memainkan lagu. Ia menatap Sakura dan menyadari air mata wanita itu mengalir semakin deras. Rasanya ia ingin mengusap air mata itu dan memeluk wanita itu dengan erat.
Selama tiga tahun ia berusaha keras untuk melupakan Sakura. Namun ia tak bisa melupakan wanita itu dan memutuskan untuk menuangkan perasaannya pada dua lagu yang dimainkannya saat ini.
Sasuke mengalihkan pandangan dari Sakura dan segera menatap tuts-tuts piano lekat-lekat. Ia sudah terlalu emosional saat ini dan ia harus mengendalikan perasaanya. Ialah yang seharusnya mempermainkan perasaan audiens melalui lagu yang dibawakannya, bukan perasaanya yang dipermainkan dengan keberadaan seorang audiens.
.
.
Sakura menahan diri untuk tak melirik Sasuke sepanjang konser, begitupun dengan Sasuke yang tak lagi menatap kearahnya. Perasaan lelaki itu sulit untuk terbaca. Raut wajah lelaki itu tetap datar meskipun perasaanya kacau.
Konser telah berakhir dan kini Naruto serta Sakura berada di belakang panggung bersama puluhan fans lainnya yang membeli tiket meet and greet. Jumlah fans yang menghadiri meet and greet dibatasi hanya tujuh puluh lima orang dan Naruto serta Sakura termasuk di dalamnya.
Para fans yang menghadiri meet and greet mulai berbaris ketika Sasuke muncul. Mereka semua mendapat kesempatan untuk berfoto dengan sang idola, berpelukan dan meminta Sasuke untuk membubuhkan tanda tangan pada salah satu official merchandise yang diberikan pada setiap fans dalam tas kertas yang berisi beberapa benda.
Sakura dan Naruto berbaris di tengah dengan Naruto yang berdiri di depan Sakura. Sakura menatap salah seorang gadis yang berdiri di baris terdepan menerima tas kertas dan menyerahkan ponsel pada salah satu penjaga keamanan serta meminta agar dirinya dipotret bersama Sasuke. Gadis itu tersenyum sambil memeluk tubuh Sasuke dari samping, kemudian memeluk lelaki itu dengan sangat erat dan meminta lelaki itu menandatangani poster yang diambil dari tas kertas itu.
Sakura merasa cemburu pada gadis yang beruntung itu. Seandainya saja ia tak langsung menjauhi lelaki itu, maka ia tak perlu merasa canggung untuk meminta lelaki itu memeluknya.
Menunggu terasa begitu lama, namun entah mengapa kali ini begitu cepat. Giliran Sakura akan tiba setelah giliran gadis didepannya selesai dan jantung nya berdebar jauh lebih cepat
"Selanjutnya," ucap salah lelaki berusia tiga puluhan akhir yang merupakan panitia seraya melirik Sakura.
Sakura melangkah maju dan berusaha mengatur nafasnya. Ia jelas menyadari Sasuke yang tampak terkejut sambil menatapnya, namun ia berpura-pura tak mempedulikannya dan berusaha bersikap biasa aja.
"Sasuke-san, senang bertemu denganmu," ujar Sakura seraya melangkah maju mendekati Sasuke. Jantung Sakura seolah akan meledak dan ia merasa ingin memeluk lelaki itu erat-erat, namun sisi lain dirinya melarangnya untuk melakukan hal itu.
Tubuh Sasuke seolah membeku seketika. Ia terdiam, hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia memberanikan diri memeluk Sakura dan menahan gejolak perasaannya sendiri. Ia berharap dapat melihat wanita itu lagi, namun ia terlalu malu untuk mendekati wanita itu setelah mengungkapkan aib-aib nya.
Sungguh aneh, Sakura merasa nyaman dalam pelukan Sasuke meskipun lelaki itu tampak canggung dan kaku saat memeluknya, berbeda saat memeluk gadis-gadis lain. Sakura segera menyelipkan sebuah kertas yang dilipatnya sangat kecil kedalam kantung celana Sasuke tepat saat ia melepaskan pelukan.
Panitia yang sama menawarkan diri untuk memfoto Sakura dan Sasuke bersama dan Sakura segera mengiyakan tawaran lelaki itu. Ia berdiri berdampingan dengan Sasuke tanpa saling menyentuh. Ia tak berani menoleh ke samping dan menatap Sasuke. Ia terlalu gugup untuk melakukannya.
"Sasuke-san, bolehkah aku meminta tanda tanganmu disini?" Sakura mengeluarkan selembar poster dari paper bag dan berpura-pura menjadi seorang fans wanita seperti gadis-gadis lainnya.
"Hn. Siapa namamu?"
Untuk sesaat Sakura terbelalak. Ia terkejut dengan ucapan Sasuke yang sama sekali tak mengenali dirinya, entah berpura-pura atau memang sudah tak mengenalinya.
Dunia Sakura terasa runtuh seketika. Pemandangan sekelilingnya seolah terlihat hitam putih bagi Sakura. Ia merasa kecewa pada Sasuke. Ia sangat kecewa dan sakit hati. Beginikah balasan untuknya?
"Haru." jawab Sakura sambil tersenyum pahit.
"Senang bertemu denganmu," balas Sasuke sambil tersenyum tipis, memaksakan diri untuk tersenyum seperti yang biasa dilakukannya pada fans-fans lain.
Sasuke segera mengambil spidol dan membubuhkan tanda tangannya pada poster itu serta melipatnya dan memberikan poster itu pada Sakura.
"Arigatou gozaimasu, Sasuke-san."
"Hn."
Sakura segera meninggalkan ruangan tanpa mempedulikan Naruto yang masih mengantri. Air mata telah menggenang di pelupuk mata dan ia menahan diri untuk tak terisak di depan umum. Ia berlari menuju toilet dan segera memasuki bilik tanpa mempedulikan petugas kebersihan yang menatapnya heran.
Sakura menutup pintu bilik dengan keras, menguncinya dan menangis keras-keras setelah menyalakan tombol suara air pada kloset. Air mata Sakura mengalir deras tanpa bisa ia kendalikan, mewakili perasaanya yang hancur.
Kini ia benar-benar merasa bodoh telah mengharapkan seseorang yang bahkan telah melupakannya. Ia merasa menyesal telah memikirkan kata-kata untuk surat yang diberikan pada Sasuke selama berhari-hari, siang dan malam.
Jika saja Sakura tahu akan seperti ini, ia tak akan mau menghadiri konser. Atau sekalipun datang, ia tak akan menyiapkan surat berisi harapan dan permintaan maaf pada Sasuke.
Sakura mengambil poster yang diberikan Sasuke dan berniat meninggalkan begitu saja tas kertas berisi merchandise yang didapatnya. Ia tak lagi memerlukannya dan berniat membiarkan orang lain memilikinya.
Ia merasa sedikit penasaran dengan apa yang ditulis Sasuke di posternya dan ia segera membentangkannya. Terdapat poster Sasuke berukuran 40 x 60 cm dengan tanda tangan Sasuke yang lumayan besar dipinggir kertas. Tanda tangan lelaki itu cukup simple, tidak begitu rumit dan tidak artistik seperti layaknya seorang seniman. Dibagian bawah tanda tangan ada huruf kanji yang dituliskan tdak terlalu besar.
'Terima kasih telah meluangkan waktumu untuk menemuiku, Sakura.'
Sakura menatap tulisan itu lekat-lekat. Tulisan itu begitu indah dan lelaki itu menuliskan nama nya dengan tepat bahkan tanpa ia katakan. Lelaki itu masih mengingatnya, namun bersikap seolah tak mengenalnya.
Perasaan Sakura membaik seketika. Setidaknya lelaki itu masih mengingatnya dan mungkin bersedia menemuinya, seperti yang dimintanya di dalam surat.
Sakura segera melipat poster itu dan memasukannya ke dalam tas kertas berisi merchandise. Ia segera keluar dari bilik kamar mandi sambil menenteng tas kertas miliknya dan meraih ponselnya yang bergetar.
Terdapat dua buah pesan, satu dari Naruto dan pesan lain dari nomor yang tak dikenal. Sakura mengernyitkan dahi dan membaca pesan Naruto. Ia semakin mengernyitkan dahi, keheranan dengan Naruto yang tiba-tiba saja pulang terlebih dahulu dan memintanya untuk membalas pesan dari nomor asing di ponselnya.
Rasa penasaran mendorong Sakura untuk membaca pesan dari nomor asing yang membuat jantungnya berdebar seketika.
From : 080-5885-23XX
Kau masih di lokasi fan meeting? Temui aku di depan pintu masuk lokasi fanmeeting sekarang.
Sakura merasa yakin jika orang itu adalah Sasuke. Tanpa mempedulikan kekhawatiran yang menyeruak di benaknya, ia segera melangkah dengan cepat menuju tempat orang asing itu menunggu.
Seorang lelaki dengan hoodie berwarna abu-abu dan masker yang menutupi separuh wajahnya telah menunggu di tempat yang ditentukan. Lelaki itu segera menatap Sakura dan menghampirinya.
"S-sasuke?" ucap Sakura dengan suara terbata-bata saat ia bertemu pandang dengan lelaki itu.
"Hn."
Nafas Sakura seolah tercekat dan seluruh kata-kata yang hendak diucapkannya menghilang seketika. Ia bahkan tak mampu membuka mulutnya. Ia tak tahu bagaimana harus mulai mengutarakan segala hal pada lelaki itu.
"Ikutlah denganku. Ada yang harus kubicarakan," ujar Sasuke seraya menyentuh bahu Sakura.
Dada Sakura semakin menghangat saat ia merasakan sentuhan tangan Sasuke yang menyentuh bahu nya. Lelaki itu berdiri begitu dekat dengannya hingga ia dapat merasakan aroma tubuh lelaki itu, aroma yang sama sekali tak berubah.
"Ikut denganmu? Kemana?"
Seorang lelaki menghampiri Sasuke dan menepuk bahunya, kemudian menatap Sakura lekat-lekat. Sakura merasa khawatir seketika, namun Sasuke segera berbisik di telinga lelaki itu dan lelaki itu segera menganggukan kepala.
Jantung Sakura berdebar semakin kencang dan wajahnya memerah saat Sasuke tetap menyentuh bahunya dan mengajaknya berjalan menuju pintu keluar dan memasuki sebuah mobil limousine yang telah menunggu.
Lelaki yang bersama Sasuke segera membuka pintu untuk Sasuke dan mempersilahkannya masuk terlebih dahulu. Sasuke segera masuk ke dalam mobil bersama Sakura, sementara lelaki itu menutup pintu dan masuk ke dalam mobil melalui pintu lain.
Beberapa fans yang masih berada di lokasi konser menyadari mobil Sasuke yang mulai menjauh dan berniat mengejar. Namun sang pengemudi mobil segera mengemudi dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan lokasi konser.
Sakura duduk berhadapan dengan Sasuke dengan lutut yang saling bersentuhan meski mobil sangat luas. Sesekali ia memandang lelaki itu, berharap lelaki itu memulai percakapan lebih dahulu. Namun lelaki itu hanya menatapnya, seolah mempersilahkan Sakura untuk berbicara lebih dulu.
"Sasuke, aku ingin minta maaf padamu," ucap Sakura dengan jantung berdebar, khawatir dengan reaksi Sasuke atas ucapannya,"Kau tahu, aku sangat menyesal karena tak berniat mencoba mencari tahu alasanmu. Seharusnya aku sadar ketika kau tiba-tiba saja bersikap tak seperti biasanya. Namun aku malah tak peduli dan segera menjauhimu."
Kata-kata mengalir begitu saja dan perasaanya terasa lebih nyaman saat telah mengungkapkan seluruh isi hatinya. Ia tak peduli jika Sasuke akan mengucapkan kalimat-kalimat yang menyakiti perasaannya.
"Mengapa kau berniat mencariku sekarang?"
Ekspresi Sakura berubah meskipun ia mati-matian mempertahankan ekspresinya agar tetap terlihat datar. Hatinya terasa sakit meskipun ia telah mempersiapkan diri sebelumnya. Ia memberanikan diri menatap mata Sasuke, dan mengumpulkan lebih banyak keberanian untuk menjawab lelaki itu.
"Aku ingin meminta maaf padamu. Aku ingin bertemu denganmu dan aku merind-"
Ucapan Sakura terputus dan ia tersentak saat menyadari Sasuke telah memeluknya dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskannya. Ia membalas pelukan lelaki itu dan saling merasakan kehangatan tubuh satu sama lain.
"Idiot," gumam Sasuke dengan suara pelan, "Mengapa kau masih berniat menemuiku setelah aku memperlakukanmu dengan buruk, hn?"
Sebuah kalimat panjang dan lebar mengawali curahan hati Sasuke yang hendak diluapkannya pada Sakura. Ia mempererat pelukannya dan berbisik di telinga Sakura.
"Seharusnya aku meminta maaf padamu dan kau tak seharusnya berhubungan denganku. Kau tahu, aku-"
Sakura menggelengkan kepala, "Aku sama sekali tidak peduli pada masa lalumu, Sasuke. Kau pasti memiliki alasan untuk melakukannya hingga mempertaruhkan dirimu sendiri. Bukankah begitu?"
Sasuke tak menjawab dan hanya menganggukan kepala. Perasaannya semakin kacau saat ini. Ia sangat merindukan Sakura dan ingin terus bersama dengan wanita itu. Namun ia masih merasa tak layak bersama dengan Sakura, meski hanya sebagai teman sekalipun.
"Kau tak seharusnya menganggap dirimu dengan rendah, Sasuke," bisik Sakura dengan lembut. Wajahnya memerah dan nafas nya seolah tercekat, "Aku mencintaimu, Sasuke."
Setelah mengucapkannya, ia menyembunyikan wajahnya dengan bahu Sasuke. Ia menyadari tubuh Sasuke yang menegang seketika akibat terkejut mendengar pernyataan Sakura. Namun lelaki itu tak melepaskan pelukannya dan Sakura tak bisa melakukan apapun selain menyembunyikan wajahnya.
Sasuke hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ini pertama kalinya menerima pernyataan cinta dari seorang wanita yang telah benar-benar mengetahui siapa dirinya, bukan seorang fans yang hanya melihat sisi sempurna darinya. Sebelum Sakura menyatakannya, ia sudah menahan diri agar tak menyatakannya. Dan kini ia merasa malu dengan inisiatif yang dilakukan Sakura.
"Aku juga mencintaimu," bisik Sasuke seraya mengelus rambut merah muda Sakura, menghirup aroma strawberry yang menguar dari rambut wanita itu.
"Sasuke-kun…" gumam Sakura dengan wajah semakin memerah. Sasuke telah membalas perasaannya dan ia merasa sangat bahagia.
"Sakura, aku ingin memulai segalanya dari awal. Kuharap, jadilah kekasihku."
"Tentu saja. Aku bersedia, Sasuke-kun."
Sasuke semakin mengeratkan pelukan sebelum mengecup kening Sakura dan melepaskan pelukannya.
"Wah. Salju sudah turun," ucap Sakura sambil tersenyum. Ia menatap butiran-butiran salju bak kapas yang perlahan menuruni langit.
Sasuke balas tersenyum dan ikut menatap kearah kota yang dihiasi dengan lampu berkerlap-kerlip dan salju yang berjatuhan. Atribut natal terpasang di gedung-gedung, menambah estetika pemandangan di musim dingin.
Sasuke mengenggam tangan Sakura dan mengenggamnya dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya. Sakura mengalihkan pandangan saat merasakan telapak tangan besar dan hangat yang menyentuhnya.
"Ingin menghabiskan malam natal bersamaku?"
Sakura menatap Sasuke dengan wajah memerah. Ia tampak gugup membayangkan malam natal pertama yang dihabiskannya bersama Sasuke, malam yang akan dihabiskan dengan menikmati pemandangan malam natal bersalju dan saling menghangatkan diri dengan bercengkrama atau melakukan hal-hal intim.
"Eh? Tentu saja. T-tapi…"
Sasuke menyeringai saat menyadari kegugupan Sakura. Ia mengeratkan genggaman tangannya dan berbisik, "Tenang saja. Kita tak akan melakukan apapun untuk saat ini."
Hembusan nafas Sasuke mengenai tengkuk Sakura dan wajahnya memerah saat menyadari sang kekasih mengetahui isi pikirannya.
Sasuke tersenyum saat menyadari wajah Sakura yang memerah dan terlihat menggemaskan. Ia kembali mengelus helaian merah muda sang kekasih, menikmati setiap momen kebersamaan dengan sang pujaan hati.
-The End-
