Gadis itu memasuki kamarku dengan tergesa— ketakutan. Entah sudah berapa kali aku mengajarkannya untuk tidak merasa takut akan hal yang dia lakukan, tapi dia tetap saja bersikap cengeng. Ah, tapi biar bagaimana pun, aku tetap memakluminya karena dia seorang wanita.

Kupeluk tubuhnya erat, lalu kubelai rambut panjangnya dengan lembut. "Terimakasih." Bisikku.

Dia tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya padaku; mengharapkan sebuah ciuman yang selalu kuberikan. Aku hanya tertawa, lalu mendorong tubuhnya hingga dia terhempas ke tempat tidur. Gadis itu memekik— bukan pekikan ketakutan melainakan pekikan kebahagiaan.

Mungkin dia tidak pernah membayangkan ini, tapi sedetik kemudian aku benar-benar menarik rambutnya— memaksanya bangkit. Dia terhuyung, tapi aku tidak peduli dan menyeretnya keluar. Dia terus berteriak hingga kami tiba di sebuah toilet tak terpakai dan kulempar tubuhnya ke sana.

Dia menangis. Kulihat darah membasahi wajahnya karena luka di kepalanya. "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyakitiku?" Jeritnya histeris.

"Karena kau bodoh." Jawabku singkat.

Tangisannya semakin keras. "Kau bilang kau mencintaiku."

"Dan aku berbohong, lalu kau percaya. Dasar wanita bodoh!" Ejekku.

"Aku sudah melakukan apapun yang kau minta. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu." Isaknya.

"Tidak. Tapi kau mencintai Kyo." Hardikku seraya mengunci pintu ruangan itu dan menutup semua ventilasi yang ada. Kini, satu bebanku hilang.


.

.

-oOo-

.

.


Disclaimer : Vocaloid milik Yamaha dan perusahaan lainnya. Kami hanya memiliki cerita dan meminjam karakter untuk berimajinasi semata, tanpa keuntungan komersial.

.

Warning : GORE, adegan kekerasan dan semacamnya. Adegan ambigu. Typo, tidak lulus EYD, bahasa campuran. NO YAOI!Hanya friendship dan brotherly love, OK? ^^

.

Sisi lain dari kesempurnaan by Kayone Fiio


.

.

Di depan sebuah kantor dinas kependudukan, Yuu menghentikan mobilnya. Atas saran Dex, mereka pergi ke tempat itu untuk mencari tahu data tentang Kokone dan tempat tinggalnya. Mereka memasuki kantor dan langsung disambut oleh seorang karyawan.

"Selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang perempuan muda dengan name tag Akita Neru.

Dex tersenyum, berusaha menyembunyikan kecemasannya. "Bisakah kami mendapat informasi tentang tempat tinggal seseorang di daerah ini?"

Neru mengangguk sambil tersenyum. "Tentu saja. Tapi sebelumnya, dengan siapa saya bicara?"

"Nama saya Dex Turner, dan ini teman saya Natsuki Yuu. Kami tinggal di daerah ini." Jawab Dex dengan bahasa seformal mungkin. Dia lalu menyerahkan kartu tanda pengenal pada gadis di depannya.

Neru mengamati kartu tanda pengenal mereka sejenak. "Baiklah tuan Turner. Silahkan sebutkan nama atau data lainnya dari orang yang akan anda cari."

"Kokone. Hikario Kokone." Jawab Dex setelah sebelumnya bertanya pada Yuu.

Neru mengangguk. "Mohon tunggu sebentar, kami akan membantu mencari." Ujarnya yang kemudian berlalu, meninggalkan kedua pemuda itu di ruang tunggu.

Yuu tampak gelisah dan tidak sabar, sementara Dex mencoba bersikap lebih tenang dengan mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Cukup lama mereka menunggu, hingga gadis berambut honey blonde itu kembali dengan folder berisi berkas-berkas.

"Maaf sekali, kami tidak menemukan data tentang Hikario Kokone ataupun nama lain yang berkaitan. Apakah kalian yakin itu nama yang benar?" Tanya Neru sambil menatap kedua pemuda di depannya secara bergantian.

"Ya, kami yakin. Kami berniat mengunjunginya dan dia memberi alamat di daerah ini." Kini Yuu angkat bicara.

"Apa sudah coba dihubungi?" Tanya Neru lagi.

"Sudah. Tapi dia sulit dihubungi dan alamat yang dia berikan tidak lengkap. Untuk itu kami menancari tahu kemari." Jawab Yuu.

Neru terdiam dan tampak kebingungan.

"Apakah mungkin jika yang bersangkutan tinggal di rumah orangtua atau saudaranya?" Tanya Dex kini.

Neru mengernyitkan dahi. "Jika memang dia tinggal bersama keluarga, data dirinya sebagai penduduk pasti ada. Tapi, di sini memang tidak ada catatan sipil tentang penduduk bernama Hikario Kokone."

Yuu dan Dex saling menatap dalam kebingungan dan kekecewaan yang sama.

"Uhm, mungkinkah teman anda memang tidak tinggal di sini, tapi tengah menginap atau semacamnya?" Tanya Neru, seakan memberi pencerahan.

"Ya, mungkin begitu." Dex mengangguk-angguk lalu menatap Yuu yang memberinya isyarat untuk pulang.

"Apa ada lagi yang bisa saya bantu?" Tanya Neru.

"Sepertinya tidak. Terimakasih banyak sudah membantu. Kami permisi dulu." Dex bangkit, disusul oleh Yuu.

"Sama-sama. Tidak masalah." Neru tersenyum ramah menyaksikan keduanya berlalu.

..

"Bagaimana sekarang?" Tanya Dex saat keduanya memasuki parkiran.

Yuu menggeleng. "Entahlah. Apa kita harus lapor polisi?"

Dex tanpak berfikir. "Sebaiknya tidak. Kita belum yakin apa Kyo benar-benar hilang atau belum kembali. Lagi pula, polisi hanya akan menindak lanjuti laporan jika seseorang sudah dinyatakan hilang selama lebih dari 3 hari."

Yuu menghela nafas berat. Keduanya lalu memasuki mobil dan terdiam sejenak. "Tidak adakah petunjuk lain dari alamat itu, Dex?"

Dex merogoh sakunya lalu menatap kertas alamat di tangannya. "Mungkin kita harus memulainya dari kedai ramen. Bagaimana?"

Yuu terdiam sejenak, hingga akhirnya membuka suara. "Memangnya tidak apa-apa? Aku merasa tidak enak merepotkanmu terus, Dex. Apa lagi kita baru saling mengenal." Kedua mata Yuu kini tampak berkaca-kaca. Pemuda itu lalu menunduk.

"Hey, apa maksudmu? Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Aku justru senang membantumu, Yuu." Hibur Dex, jujur.

Yuu menatap Dex, lalu mengangguk lesu. "Baiklah. Aku harap kita bisa menemukan Kyo di sana."


.

.


Kyo membuka matanya kembali dan mendapati dirinya telah terbebas dari ikatan. Dia bangkit dengan tergesa lalu menatap sekitarnya dengan cemas. Kali ini dia berada di ruangan kosong yang dipenuhi panel-panel peredam suara. Tidak banyak ventilasi di sana, tapi ruangan itu bersih dan tidak gelap seperti ruangan sebelumnya.

"Tolong!" Jeritnya sambil menggebrak pintu ruangan itu berkali-kali. Dia tahu itu percuma, tapi setidaknya dia telah berusaha.

Setelah berkali-kali melakukan hal serupa, pemuda bersurai coklat terang itu menyerah. Tubuhnya terasa lemas, walaupun sempat menelan makanan tadi. Sialnya, dia terpaksa memuntahkan makanannya saat gadis yang dia kenal lemah lembut itu menendang perutnya. Ditambah luka di pergelangan tangannya yang mengeluarkan cukup banyak darah, membuatnya merosot dan terduduk di pojok ruangan.

"Yuu." Gumamnya pelan. Dia benar-benar menyesal karena tidak menuruti perkataan Yuu yang melarangnya pergi sejak awal. Dia bahkan tidak tahu bagaimana keadaan sahabatnya itu sekarang.

Kyo mengedarkan tatapannya ke seisi ruangan, berharap menemukan celah untuk keluar. Namun tiba-tiba dia tersentak saat mendengar suara seseorang membuka kunci dari luar. Dia lalu berusaha mencari benda apapun untuk mempertahankan diri, tidak peduli jika itu vas bunga ataupun pigura hiasan dinding. Tapi ruangan itu benar-benar kosong, dan seseorang di luar itu sudah memutar kenop pintu.

"Selamat sore. Kau tidur lama sekali." Seorang pemuda terkekeh sambil menghampirinya. Dia mengenakan jaket hitam beserta hoodie yang menutupi kepalanya.

Kyo terbelalak melihat seseorang di depannya itu. Dia ingin berkata sesuatu namun lidahnya terlalu kelu. Dia bahkan tidak sanggup bergerak saat orang itu mendekat, dan mendorongnya untuk duduk di lantai.

"Aku dengar kau terluka." Gumam pemuda berkaca mata itu seraya meraih tangan kiri Kyo. Terlihat jelas luka sayatan yang masih mengeluarkan darah dengan darah kering di sekitarnya.

"Tidak." Desis Kyo ketakutan, namun pemuda di depannya justru tersenyum.

"Wanita itu memang gila." Lanjut pemuda di depan Kyo seraya menjilat luka di tangannya tanpa rasa jijik. Dia lalu membersihkan luka itu dengan cairan antiseptic yang ia bawa, dan membalutnya dengan perban.

"Lepaskan aku, ku mohon." Kyo mulai terisak. Air matanya jatuh tak terbendung, membuat pemuda di depannya menatapnya dengan sedih.

Pemuda itu lalu meraih tubuh gemetar Kyo ke dalam pelukannya. "Tapi tenang saja. Aku sudah membereskannya, jadi sekarang kau aman. Setidaknya— aman dari Kokone." Dia menyeringai.


.

.


Setibanya di kedai ramen, Yuu dan Dex mencoba masuk dan memesan. Suasana belum begitu ramai sehingga mereka bisa mengamati seisi ruangan dengan cukup leluasa.

"Semalam kami duduk di sini." Bisik Yuu.

Dex mengangguk. Mata keemasannya memindai sekitarnya. "Oh ya, bagaimana ciri-ciri temanmu itu?" Tanya Dex yang sama sekali belum tahu tentang hal itu.

Yuu merogoh saku jaketnya untuk meraih ponsel. Dia lalu menunjukkan sebuah gambar. "Ini fotonya."

Dex mengamati foto itu sejenak. "Rasanya aku pernah melihatnya. Tapi— hmm, mungkin salah lihat." Tersirat keraguan di wajahnya.

Yuu mengernyit. "Ya, dia memang tidak pernah ke sini sebelumnya. Tapi, apa mungkin kau melihatnya saat kau menolongku semalam?"

Dex menggeleng. "Bukan, bukan. Aku rasa hanya salah lihat. Sudahlah, ayo kita makan."

Yuu mengangguk, lalu beberapa saat kemudian ia tertawa kecil.

"Kenapa?" Tanya Dex heran.

Yuu berusaha menghentikan tawanya. "Tidak. Aku hanya merasa aneh pada diriku sendiri. Karena untuk pertama kalinya, aku tidak merasa lapar."

Dex terkekeh. "Benarkah?"

"Iya. Biasanya aku selalu kelaparan." Ujar pemuda pirang yang Dex anggap sangat lucu itu.

Bahkan jika dilihat-lihat, dari segi postur tubuh dan struktur wajahnya, Yuu lebih terlihat seperti perempuan. Tapi tentu saja Dex tidak pernah dan tidak akan pernah mengatakannya. Biar bagaimana pun dia menjunjung tinggi kesopanan, dan lagi mereka baru berkenalan hari ini. Tidak baik jika membuat orang lain tersinggung.

Keduanya pun kini menikmati makanan masing-masing, hingga tanpa mereka sadari, seseorang yang sejak tadi mengamati mereka dari jauh mendekat.

"Hi. Maaf menganggu." Ujar seseorang yang membuat keduanya menoleh.

Dex mengerjapkan matanya berkali-kali. "Hey, kau—" Kalimatnya terjeda karena dia tidak berhasil mengingat orang tersebut.

"Yowane Haku. Kau ingat?" Ujar gadis berambut serupa dengan Dex itu, namun lebih terang.

"Ah iya!" Seru Dex, sementara Yuu memilih fokus pada makanannya. "Sejak kapan kau pulang? Duduklah!"

Haku tertawa kecil. "Sebenarnya sudah sejak dua hari lalu, tapi aku belum sempat mengunjungimu. Rencananya nanti malam, tapi kita malah bertemu di sini sekarang."

Dex mengangguk tanpa menghilangkan senyumannya. "Yuu, perkenalkan ini teman kuliahku di Auckland. Dulu dia juga tinggal di sini, tapi sekarang dia pindah ke kota lain."

Yuu tersenyum ramah. "Natsuki Yuu." Ujarnya sambil mengulurkan tangan.

"Yowane Haku." Balas Haku yang juga menjabat tangannya. "Oh ya, kebetulan aku ingin bertanya sesuatu padamu, Natsuki."

Yuu tertegun dan menghentikan aktivitasnya lalu menatap Haku.

"Semalam aku melihatmu bersama temanku. Apa kau tahu di mana dia tinggal sekarang?" Tanya Haku membuat kedua pemuda di dekatnya kebingungan.

"Aku? Maksudmu Kyo? Kazuto Kyo? Kau mengenalnya?" Tanya Yuu ragu.

Haku mengernyit. "Bukan— aku fikir kau bersama Yohio?"

Yuu tampak kebingungan, begitu pun Dex. Namun pemuda berambut silver itu seperti teringat sesuatu.

"Yohio? Pemuda yang waktu itu bekerja satu perusahaan denganmu? Di perusahaan lama?" Tanya Dex memastikan.

"Iya. Aku pernah mengajaknya kemari, Kau ingat?"

Dex mengangguk, namun kini wajahnya berubah pucat. Dia melirik ke arah Yuu yang sepertinya tidak mengerti dengan perbincangan keduanya.

"Mungkin hanya tidak sengaja bertemu. Benar kan Yuu?" Tanya Dex sambil menginjak kaki Yuu, membuat pemuda pirang itu terpaksa mengangguk.

Haku terkekeh. "Baiklah. Mungkin lain kali aku akan mencari tahu tempat tinggalnya. Sudah lama aku kehilangan kontaknya, dan dia sudah tidak bekerja di perusahaan tempat kami dulu."

Dex hanya mengangguk-angguk lalu menoleh ke arah Yuu yang sudah menghabiskan makanannya.

"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. Senang bertemu denganmu, Dex." Ujar Haku seraya bangkit dan memeluk temannya.

"Aku juga. Berkunjunglah ke rumahku lain kali." Dex membalas pelukannya.

"Tentu saja." Gadis itu tersenyum, kemudian berlalu.

..

"Yuu, perasaanku tidak enak." Dex membuka suara.

Yuu menatap lekat Dex yang berada di depannya. "Aku tidak mengerti apa maksud gadis itu."

Dex tidak menjawab, namun melirik jam tangannya. "Kantor dinas kependudukan tutup jam 4. Kita masih punya waktu setengah jam. Ayo!"

Yuu tertegun. "Apa? Untuk apa kita ke—" Ucapannya terhenti saat Dex menarik tangannya secara paksa.


.

.

To be continued

.

.


Author's note:

Mungkin kalian sudah tahu siapa 'Aku' yang Fiio maksud. *pundung* Ya, benar! Itu adalah Longya /dia gak ikutan woy! *dilempar ke Eskimo*

Oke serius. Jadi di chapter ini udah mulai terbuka ya anu anu nya. Fiio gak bermaksud membuat semacam kejutan atau teka teki sih, tapi ya begitulah. Untuk chapter selanjutnya, mungkin akan lebih ke kekerasan, dan gore-gorean. Jadi, selalu baca warning di awal ya sebelum benar-benar baca.

Satu hal lagi yang ingin Fiio sampaikan; untuk budaya, kebiasaan, dan lain-lain Fiio menggunakan budaya Indonesia, karena Fiio tidak begitu tahu budaya Jepang. Walaupun begitu, cerita ini setting tempatnya di Jepang ya /apa maksud?

Ah pokoknya Fiio mohon maaf jika terjadi banyak kesalahan. Sekian dan terimakasih. Sampai ketemu di cerita selanjutnya *kiss*