Katastrofe

BTS © Big Hit Entertaiment

Penulis tidak mengklaim apa pun selain plot cerita.


Pemuda itu bernama Kim Seokjin dan masih bangku perkuliahan. Dari data diri yang Namjoon baca, dia mengambil S2 tentang bisnis meski dia tidak bisa mengingat jelas lebih spesifik jurusan yang Seokjin ambil.

Kemarin, Namjoon meninggalkan Seokjin begitu saja, membuat Neneknya marah-marah karena menurutnya dia terlalu kejam. Padahal malamnya Namjoon menelepon Seokjin.

"Halo Seokjin, di mana kau sekarang?"

"Aku sekarang ada di rumah, Namjoon-ssi."

"Maaf tadi aku tidak bisa mengantarmu pulang. Pekerjaanku tidak bisa ditinggalkan." Namjoon berbohong, padahal dia melakukannya ada maksud dan tujuannya. "Juga, besok kau sibuk? Haelmoni ingin bertemu denganmu."

"Tidak apa-apa, Namjoon-ssi," ada jeda sesaat, "besok aku tidak ada acara."

"Oke, besok aku akan menjemputmu."

"Baik, Namjoon-ssi."

Hal yang tidak diketahui oleh Seokjin adalah, Namjoon menunggu di luar dan melihat siapa yang menjemputnya. Namjoon sengaja menunggu di luar tempat pertemuan, ingin mengetahui reaksi Seokjin diperlakukan seperti itu akan seperti apa. Ada bagian kecil dari Namjoon yang tidak suka dan penasaran siapa orang itu, tetapi dia mengabaikannya karena menurutnya itu bukanlah hal berguna.

Hari ini, Namjoon harus menjemputnya, karena Neneknya ingin bertemu dengan Seokjin. Makan siang lebih tepatnya. Jadi Namjoon sengaja menjemput di kampus Seokjin dan tentu saja memancing perhatian semua orang karena sebuah mobil sport mewah berwarna merah terparkir di depan gedung bagian bisnis.

"Namjoon-ssi."

"Seokjin," Namjoon balas menyapa dan Seokjin berjalan cepat ke arahnya, seharusnya Namjoon memanggil lelaki itu dengan hyung, tapi dia tidak suka, "kita bisa berangkat sekarang?"

"Ya."

Sepanjang perjalanan, keduanya diam dan Namjoon tidak suka kesunyian yang canggung ini. Namjoon masih penasaran dengan siapa Seokjin pulang kemarin. Apa orang itu kekasih Seokjin?

"Kemarin…," Namjoon sengaja menggantung ucapannya sebentar dan berdeham, "aku melihat kau pulang bersama dengan seseorang. Apakah dia kekasihmu?" Seokjin menoleh, sementara Namjoon melanjutkan perkataanya. "Apa tidak apa-apa kita menikah, sementara kau memiliki kekasih?"

"Aku tidak punya kekasih," entah kenapa, perkataan Seokjin itu membuat Namjoon lega, lalu dia kembali ditampar realitas saat mendengar lanjutannya, "lagipula seperti perkataanku kemarin, aku membutuhkanmu dan pernikahan ini."

Namjoon kadang lupa, kalau Seokjin menikah dengannya karena bisnis.

"Jadi dia temanmu?" tanya Namjoon yang menghentikan laju mobilnya karena lampu lalu lintas berwarna merah.

"Namanya Kim Taehyung, bagiku dia adalah dongsaeng-ku."

"Dongsaeng?" Namjoon mengkonfirmasi. "Kupikir dia menyukaimu."

Seokjin tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya. Sejujurnya Namjoon menyukai tawa itu, entah kenapa terasa spesial. Padahal orang-orang di kelab malam biasanya juga tertawa saat bersamanya, tetapi tidak memberikan sensasi seperti yang Namjoon rasakan sekarang.

"Taehyung? Dia tidak mungkin menyukaiku."

"Kata-katamu seperti berharap bahwa dia benar-benar menyukaimu."

Seokjin tidak langsung menjawab dan menatap Namjoon yang sudah menjalankan mobilnya. Lalu Namjoon mendengarkan pertanyaan Seokjin yang tidak terduga. "Pernahkah kau benar-benar mencintai seseorang, Namjoon-ssi? Maksudku … pernahkah kau jatuh cinta?"

"Kupikir aku tidak pernah jatuh cinta."

"Jangan sampai jatuh cinta padaku, Namjoon-ssi."

Entah kenapa, Namjoon merasa ditantang oleh Seokjin. Ini bukan pertandingan, mereka hanya berada di dalam lingkaran perjodohan. Seharusnya, Namjoon tidak terpengaruh dengan kata-kata itu. Namun, hal tersebut tidak bisa diabaikan begitu saja.

Seokjin seolah memberikan gambaran tentang masa depannya. Seperti suatu hari dirinya akan jatuh cinta pada Seokjin dan menjadi gila.


Nenek Namjoon sangat menyukai Seokjin, terlihat beberapa kali beliau tertawa dengan lelucon yang dilontarkan lelaki itu. Juga, Neneknya ikut bercanda bersama Seokjin yang sepertinya menikmati sesi ini. Namjoon jujur saja tidak menyukai kedekatan itu, bukan karena dia cemburu melihat Seokjin dekat dengan Neneknya. Hanya saja, Namjoon tidak menyukai neneknya dan apa yang dilihatnya sekarang terasa palsu.

Neneknya tidak sebaik itu yang mau menyapa orang lain. Namjoon yakin, setelah pernikahan yang diinginkan oleh Neneknya, Seokjin akan diabaikan seperti beliau mengabaikan Namjoon.

"Aku pergi ke kamar." Pamit Namjoon yang tidak ditanggapi oleh Neneknya, sementara Seokjin menatapnya sebentar, sebelum kembali fokus kepada Neneknya.

Namjoon menaiki tangga rumah besarnya dan menuju kamar. Meski sudah masuk ke dalam kamarnya dan dia merasa bebas selama beberapa saat, ada rasa bersalah yang muncul pada hati kecil Naamjoon karena membiarkan Seokjin mengadapi Neneknya sendirian. Ini rasanya tidak benar-benar baik baginya. Namjoon mengambil pigura yang ada di atas meja kerjanya—yang memang sengaja disatukan dengan ruangan kamarnya agar lebih efisien—dan kemudian melemparkannya ke atas kasur.

Rasanya menyebalkan melihat wajah seorang perempuan dan seorang laki-laki di pigura itu dan tidak bisa yakin benar kalau mereka adalah orang tua Namjoon. Lalu dia memikirkan perkataan Seokjin tadi, tentang mencintai seseorang. Sepertinya Namjoon tidak pernah benar-benar mencintai, tapi dia sering menyukai orang-orang yang akan dia tiduri.

Apa itu termasuk?

Namjoon mendengkus, dia mendecakkan lidahnya berkali-kali. Karena pertanyaan itu mampu membuat kepala Namjoon sakit.

"Kenapa dengannya? Kenapa dia bertanya seperti itu, jika tahu jawabannya?"

Kepala Namjoon sakit. Rasanya dia ingin melarikan diri ke kelab malam, menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Namun, kalau ada Neneknya di rumah, dia tidak bisa keluar rumah dengan bebas atau pulang dengan kondisi mabuk.

"Namjoon-ssi?" Namjoon sedikit terlonjak kaget saat Seokjin ada di kamarnya. Tadi dia memang mendengar suara ketukan pintu, tapi Namjoon pikir adalah sekretaris Min. Namun, dia tidak memberikan persetujuan kepada Seokjin untuk masuk dan dia sudah menerobos ke dalam kamarnya. "Eum … apa aku menganggumu?"

"Tidak. Apa urusanmu dengan halmeoni sudah selesai?"

"Iya," Seokjin mengangguk, "halmeoni sangat baik, aku senang berada di dekatnya."

"Dia tidak benar-benar baik. Suatu saat kau akan tahu halmeoni-ku seperti apa," Namjoon yang tadi duduk, kini sudah berdiri dan memengang kunci mobil, "kuantar kau pulang sekarang?"

"Halmeoni bilang, jika aku harus menginap di sini," Seokjin mengatakannya dengan tenang dan Namjoon meliriknya, "sepertinya kau tidak tahu, Namjoon-ssi."

"Tentu saja aku tidak tahu, haelmoni selalu membuat keputusan sesukanya." Namjoon menghela napas. "Tunggu sebentar, aku akan berbicara dengan halmeoni."

Namjoon langsung meninggalkan Seokjin sendirian di kamarnya. Karena jelas, Namjoon tidak mau satu kamar dengan orang yang baru ditemuinya kemarin. Neneknya sepertinya ingin membuatnya benar-benar taubat dengan melemparkan tanggung jawab kepada Seokjin. Padahal Namjoon tidak siap dan belum siap dalam waktu dekat ini.

Ketika Seokjin ditinggal sendiri di kamar, dia duduk di tepi ranjang, sambil kepalanya ditolehkan ke segala arah. Seokjin menyadari tidak banyak barang yang ada di ruangan ini. lalu tatapannya jatuh kepada ranjang yang dia duduki. Melihat pigura yang terbalik mendarat di sana. Seokjin mengambil pigura tersebut, melihat foto di sana ada dua orang. Fotonya seperti diambil beberapa puluh tahun yang lalu, karena mereka terlihat sangat muda.

Teriakan yang didengarnya membuat Seokjin meletakkan pigura di sampingnya dan tercenung mendengar kelanjutannya.

"Halmeoni tidak bisa melakukan hal itu! Bagaimana kami harus berbagi kamar, sementara kami baru bertemu kemarin?!"

Seokjin mengigit bibir bawahnya. Dia sudah berkekspetasi reaksi Namjoon seperti ini, tetapi mendengarnya langsung membuat bulu kunduknya meremang. Lalu Seokjin bisa mendengar suara tawa dan helaan napas dari nenek Namjoon.

"Dia akan tinggal di sini bersamamu. Seokjin sudah menyanggupinya."

Sebenarnya Seokjin tidak ingin, hanya saja karena masa depan keluarganya ada di tangannya, dia harus melakukan segala daya agar berhasil menikahi Namjoon. Meski itu berarti impiannya menikah dengan orang yang dicintainya sirna.

Namun, mendengar apa yang dikatan Namjoon selanjutnya membuatnya tanpa sadar tersenyum. Karena akhirnya ada seseorang yang bisa mengerti penderitaannya.

"Tentu Seokjin menyanggupinya, dia tidak bisa membantah segala otoritas yang ada!"

"Kim Namjoon!" suara tinggi nenek Namjoon membuat Seokjin terlonjak. Dia tidak menyangka jika wanita paruh baya yang ramah kepadanya sampai 5 menit yang lalu bisa membentak seperti itu. Lalu, yang di dengar Seokjin adalah suara lembut yang seperti pertama kali mereka bertemu. "Dia harus bersamamu malam ini."

"Haelmoni!"

Tidak ada jawaban dan Seokjin teringat percakapan mereka kalau malam ini nenek Namjoon akan menginap di resort keluarga Kim. Membiarkannya berdua bersama Namjoon di rumah sebesar ini dan mendadak Seokjin merasa takut.

Namun, perasaan itu tidaklah lama karena Seokjin merenung. Namjoon masih mengingat perkataanya tentang tidak bisa membantah dan terkenal penurut. Lelaki itu benar, dia sebenarnya ingin membantah, tetapi tidak berani. Diam-diam, Seokjin senang karena Namjoon mengingat perkataanya. Selama ini Seokjin terbiasa untuk dilupakan, sehingga apa yang dilakukan Namjoon sekarang terasa spesial.