Disclaimer : The Hobbit © J.J.R. Tolkien
WARNING! : alternate reality, alternate ending, slash, boy x boy, gay, OOC, typo, dll.
.
.
Note : Hi guys! Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya pic ini di lanjutkan juga ^^
Awalnya kurang begitu niat melanjutkan, karena sedikitnya peminat dan mungkin pair-nya juga aneh. Tambah lagi, semua file untuk chapter selanjutnya hilang (kehapus) :(
Tapi karena ada yang review dan minta melanjutkan, akhirnya kembali semangat dan buat lagi. Yayy XD Big thanks untuk riinse0 ^^
.
.
-oOo-
.
.
Deburan air terjun membelai telinga Fili yang baru saja terjaga. Perlahan dia menggeliat, melemaskan tubuhnya yang terasa sangat kaku. Lukanya sudah jauh lebih baik, karena Elrond dan para tabib Rivendell tak pernah lelah merawatnya. Tapi luka dalamnya belum benar-benar pulih, sehingga dia masih memerlukan perawatan khusus.
Perlahan Fili menggeser tubuhnya hingga kedua kakinya terjuntai, menyentuh dinginnya lantai. Walaupun sempat kesulitan, dia akhirnya bisa mengangkat tubuhnya hingga berdiri tegak. Dia lalu melangkah, tapi kepalanya tiba-tiba berdenyut dan dadanya terasa seperti terhantam. Hal itu membuatnya kembali terduduk sejenak, lalu bangkit kembali dan mengatur nafasnya.
Dengan hati-hati, Fili berjalan tertatih menuju pintu keluar, namun sebuah cermin besar menyita perhatiannya. Ditatapnya lekat benda yang memperlihatkan pantulan dirinya itu. Rambut tergerai dan pakaian sutra khas para Elf membuatnya terlihat sangat berbeda. Tubuhnya pun tampak lebih kurus, tapi jauh lebih bersih dari biasanya. Fili tersenyum pada dirinya sendiri, lalu melanjutkan langkahnya untuk ke luar dari kamar.
Di luar langit tampak gelap, dihiasi bintang terang yang bertaburan di sekitar bulan. Fili menarik nafas dalam-dalam, menikmati udara malam yang sangat menyegarkan. Dia merasa sangat bosan karena sudah terlalu lama berbaring di tempat tidur. Suasana sekitarnya juga teramat sepi dan jarang dikunjungi oleh para Elf. Hanya Elrond, para tabib dan beberapa Elf tertentu saja yang pernah ke sana.
Kedua tangannya memegang erat dinding balkon yang setinggi dadanya. Setidaknya dia cukup tinggi untuk bisa melihat pemandangan indah di bawahnya.
.
"Sedang apa kau di sini?"
Suara asing yang tiba-tiba terdengar, membuat Fili terkesiap. Dia segera berbalik dan mendapati sosok yang dia cari sejak lama. Legolas.
"Mm, aku- aku hanya mencari udara segar." Jawab Fili yang sedikit gugup.
Legolas mendekat, lalu berdiri di sampingnya. "Seharusnya kau beristirahat, pangeran Dwarf."
"Terimakasih, tapi aku sudah terlalu lama beristirahat. Uhm, pangeran Legolas."
"Oh, tolong jangan memanggilku pangeran. Cukup Legolas."
"Baiklah. Tapi aku juga keberatan jika kau memanggilku pangeran."
"Tidak masalah. Tapi- aku tidak tahu namamu."
Fili tersenyum, nyaris tertawa. "Fili."
"Hmm, Fili."
"Aku sangat berterimakasih padamu, Legolas. Kau telah menyelamatkanku." Fili menatap wajah Legolas yang mulus tanpa cacat sedikitpun.
"Aku tidak menyelamatkanmu, itu hanya kebetulan." Ujar Legolas tanpa menoleh. Pandangannya masih terlontar jauh ke depan.
"Apapun itu, aku berhutang budi padamu. Dan aku tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa."
"Dengan sembuh seperti sedia kala." Legolas akhirnya menoleh dan tersenyum ke arah Fili.
Fili membalas senyumannya, menampakkan lesung pipi yang memperindah wajahnya.
"Mm. Legolas, aku sudah lama ingin berbicara tentang ini denganmu. Apakah- kau tahu bagaimana nasib keluargaku?"
Legolas terdiam sejenak, menatap wajah Dwarf di sisinya yang terlihat sangat bersedih. "Aku tidak tahu, tapi sejauh ini tidak ada kabar tentang kematian Dwarf Erebor. Kecuali-"
"Kecuali apa?"
"Kecuali berita tentang kematian pangeran mahkota. Kematian- dirimu." Lanjut Legolas sedikit terbata.
Fili tersentak. Ternyata tidak ada yang tahu jika dia masih hidup, bahkan keluarganya sendiri. Dia juga sangat ingin tahu mengapa para Elf tidak memberitahukan kabarnya pada Thorin. Apakah mereka mempunyai rencana lain? Atau ada pihak lain di balik semua ini? Pemikiran itu membuatnya merasa pening.
"Kau baik-baik saja. Fi?" Legolas menatap khawatir.
"Ya. Hanya sedikit pusing."
"Kau harus kembali ke kamarmu."
"Tidak. Aku baik-baik saja."
Mendengar itu Legolas mengangguk dan kembali memandang lurus. Keduanya tidak saling bicara, hanya desah nafas mereka saja yang terdengar. Cahaya bulan yang perlahan tertutup awan menyita perhatian Legolas hingga dia tidak menyadari jika tubuh Fili melemas. Dalam waktu yang sangat cepat, tubuh mungil itu ambruk ke belakang tanpa sempat ditahannya.
"Fili!" Legolas menjerit tertahan. Dia sangat panik melihat Dwarf pirang itu terbaring dengan nafas yang sangat memburu. Tanpa membuang waktu, dia segera mengangkat tubuh pingsan Fili menuju kamarnya.
Diletakannya tubuh lemah itu di atas tempat tidur berbalutkan sutra lembut. Legolas menggenggam tangan Fili yang sangat dingin, lalu meniupnya berkali-kali.
"Fili. Fili, sadarlah. Katakan sesuatu!" Legolas mengguncang pelan wajah Fili, hingga terdengar erangan lemah.
"Aku akan memberitahu tabib. Kau tunggu di-" Ucapan Legolas terhenti saat tangan Fili meremas lengannya.
"Temani aku di sini. Ku mohon." Gumam Fili, tanpa membuka matanya.
Legolas mengangguk, walaupun masih sedikit kebingungan akan permintaan Fili. Dia lalu melepaskan tangan Fili yang masih menggenggam erat lengannya. Dengan sedikit ragu, dia mencoba menyentuh dahi Fili dan menyeka rambut pirangnya yang sedikit berantakan.
Tanpa di sadari, dia telah memandangi Dwarf muda itu cukup lama. Mengagumi setiap inchi wajahnya, membayangkan jika suatu saat dia bisa melihat wajah itu setiap hari.
.
.
.
TBC
