Zyle Choi Presents

A FanFiction inspired by Autumn In Paris' Ilana Tan

.

Disclaimers

Some of the quotes and parts may belongs to Ilana Tan.

All similarity words and occurrences with Autumn In Paris by Ilana Tan is on purpose

Cover image credit goes to Light Year, via Ballerina_Petals on twitpic.

.

Warning(s)

No plagiarism, no harsh words, and no bashing characters allowed.

A newbie author, might be a boring story, might be late to publish the next chapter, might be stopped due to some reasons. No one knows what will happen.

I don't force you to read, so don't read if you don't like the story.

Thanks in advance and enjoy.

.


Seharusnya ia tahu. Seharusnya ia sadar. Mimpi tidak akan bertahan lama. Ia boleh saja hidup dalam mimpi, tapi cepat atau lambat kenyataan akan mendesak masuk.

.

Pria berambut hitam itu masih tetap terjaga. Dua jam ia berbaring di atas tempat tidur berseprai putih dengan corak tinta hitam itu namun tetap saja pikirannya tidak bisa berhenti mengulang dan mengelola kejadian-kejadian yang ia alami dalam beberapa hari terakhir.

Laptop putih berlambang apple masih menampilkan hasil diskusinya dengan seorang perempuan di negara lain. Sama sekali tidak terpikirkan dalam benaknya semua ini akan berbuah diluar dari pemikirannya. Terjebak dalam permainannya sendiri. Bukan keinginannya, ia hanya menjalankan perintah seseorang yang anggap saja berarti untuknya dan orang itu.

Seharusnya ia tau ini akan berunjung dengan dirinyalah yang menjadi korban. Bisa saja ia menghentikan semua ini, jika ia sudah sanggup untuk menerima kenyataan dan semua kemungkinan yang akan terjadi. It's not like he isn't ready, but he is just too scared.

.

Ia tidak bermaksud mengingatkan Heechul kepada Kibum. Hanya berusaha untuk tidak memaksakan Heechul menghapus semua ingatannya tentang wanita itu. Tujuh bulan ia mengenal Heechul, tujuh bulan juga Heechul mengaitkan semua hal yang ia ceritakan dengan Kibum. Walaupun berujung dengan carian bening yang turun dari pemilik mata obsidian itu.

Entah apa yang membuat sosok Kibum begitu spesial di mata Heechul. Semua yang Kibum lakukan selalu terasa benar. Apapun yang Kibum ucapkan selalu mendapat anggukan. Seorang wanita dengan kepribadian yang lembut dan calm seperti itukah yang membuat Heechul jatuh hati? Seorang wanita dengan senyum malaikat dan mawar putih kesukaannya kah yang mampu menyentuh titik rasa sayang terdalam dari seorang Kim Heechul?

Jika saja tragedi seratus depalan puluh lima hari yang lalu itu tidak terjadi, mungkin sekarang Heechul masih bersama Kibum. Masih menjalani kehidupan normalnya dengan wanita yang mampu membuatnya berlutut. Masih tertawa dengan bebas tanpa harus memikirkan mimpi-mimpi buruk yang mungkin saja terjadi. Bukan salah Kibum, hanya saja Heechul terlalu mencintainya.

Semua akan berjalan baik saja jika pria berperawakan –yang kata orang- sempurna itu tidak muncul. Semua akan terasa indah jika pria dengan nama lengkap Choi Siwon itu tidak menampakkan dirinya dan merebut semua dari Heechul. Semua akan baik-baik saja jika Heechul datang lebih awal. Atau semua akan baik-baik saja jika Heechul menggantikan posisi Kibum saat itu. Posisi yang kini memisahkan Heechul dengan Kibum.

Namun jika tragedi seratus delapan puluh lima hari yang lalu itu tidak terjadi, mungkin Heechul tidak mengenal pria berkebangsaan China yang sekarang menjadi orang terdekatnya. Pria dengan nama lengkap Tan Hangeng yang sekarang menjadi sandaran dari keluh kesah Heechul. Orang kedua setelah Kibum yang benar-benar mengerti bagaimana sifat dan adat dari seorang Kim Heechul.

Heechul bukan orang yang percaya dengan keajaiban Tuhan. Bukan orang yang percaya dengan hal-hal spiritual. Manusia adalah makhluk paling berkuasa di bumi, menurutnya. Bukan seperti ia membenci Tuhan, hanya kecewa. Kecewa mengapa Sang Pencipta harus memanggil kembali semua orang yang di sayanginya. Dan kekecewaan itu semakin memuncak pada saat Ia harus memisahkan Heechul dengan satu-satunya orang yang menjadi semangat hidup Heechul, Kim Kibum.

Masuk logika. Ia hanya terus bertanya-tanya sebegitu besarkah dosanya di kehidupannya yang lampau sehingga Tuhan begitu membencinya sekarang? Mengapa tidak ia saja yang dipanggil ketimbang orang-orang yang ia sayangi? Haruskah ia percaya dengan Sang Penguasa yang terus mempermainkan kehidupannya? Hey, ketidak percayaan itu beralasan.

Lain dengan pria itu, lain pula dengan pria yang lain. Jika Hankyung tidak bisa terlelap, lain pula dengan Heechul yang sudah menjelajahi alam mimpinya. Surai poni lembutnya menutupi wajah tanpa cacat yang terlelap itu. Jika saja tidak ada bekas air mata beranak sungai di pipi mulusnya, aku berani bertaruh bahkan seorang malaikat kematian pun akan tunduk pada pria berwajah cantik ini. Sedikit berlebihan, siapa peduli?

Tidak heran mengapa banyak orang memujanya. Bukan memuja dalam arti menyembah, lebih kepada mengagumi sosok wanita yang terjebak dalam tubuh pria, mungkin? Siapapun yang melihat Heechul bercross dressing ria pasti tidak akan mengira makhluk yang dilihatnya adalah seorang pria.

Omong-omong tentang cross dressing, jangan mengira Heechul melakukannya saat ia bersama Kibum. Tentu saja tidak. He's a normal person, you know? Dia memulai kebiasaan uniknya itu sejak Kibum, well, anggap saja sejak Kibum pergi. Jangan tanyakan mengapa Heechul melakukan itu, sama saja seperti kau bertanya kepada orang tuli yang tidak bisa berbicara. Got it? Berhentilah mengagumi sosok yang sedang tidur memeluk boneka kucing itu, pikirkanlah apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka.

.

Kedipan LED berwarna merah itu menyadarkan Hankyung dari lamunannya. Raut wajahnya yang semula tenang menjadi mengeras. Orang itu menepati janjinya pada diskusi terakhir untuk menghubungi Hankyung lagi pada saat yang tepat. Hankyung menarik nafas panjang sebelum akhirnya menekan tombol answer pada telepon genggamnya.

"Hankyung-ah.."

Suaranya masih seperti dulu, tidak berubah sama sekali. Suara yang sangat Hankyung kenali. Suara yang dulu memohon bantuan padanya untuk bersedia membantunya. Suara yang dulu mampu membuat Hankyung merasa empati dan memutuskan untuk campur tangan dalam masalah yang sebenarnya bukan kesibukannya.

"Hankyung-ah, kau di sana?"

"Ya, noona. Jadi bagaimana?"

"Dua minggu dari sekarang. Tunggu aku dua minggu lagi, Hankyung-ah. Setelah itu kau bebas dan boleh pergi."

Jawaban di seberang sana sama sekali bukan jawaban yang Hankyung inginkan. Kenapa orang ini harus kembali setelah selama ini pergi tanpa meninggalkan jejak untuk pria yang masih mencintainya? Mengapa harus pergi jika akhirnya akan kembali seolah tidak terjadi apa-apa?

"Aku menunggumu. Dan dia merindukanmu." Mata onyx itu menatap lurus ke depan. Bahkan sang pemilikpun tidak berani untuk mengalihkan pandangannya. Ibarat kau memegang sebuah gelas penuh dengan air, sekali saja kau memiringkannya, muatan dalam gelas itu akan tumpah. Begitu pula dengan air mata Hankyung. Ia bukan seorang pria yang cengeng dalam menghadapi kehidupan. Ia hanya tidak tau kenapa dan bagaimana perasaannya bisa sekakit ini mengetahui sebentar lagi ia akan berhenti dari tugasnya dan mengembalikan si malaikat kepada pemiliknya.

"Kau mengenalnya dengan baik, Hankyung-ah."

Hankyung tersenyum sinis. "Tentu saja aku tau, karena aku sering memperhatikannya. Karena sering memperhatikannya, tanpa sadar aku mengenal semua kebiasaannya."

"Kau tidak menyesal?"

Lagi, Hankyung menyerngitkan keningnya. Menyesal untuk apa? "Aku tidak pernah mengeluh. Apalagi menyesal. Setidaknya sedikit pengorbananku itu membuatnya senang."

Hankyung memutuskan sambungan teleponnya sepihak. Ia tau pembicaraan itu hanya akan berakhir sampai di sana. Dan ia pun sudah mendapatkan jawabannya. Dua minggu lagi.

Perasaannya hancur. Dan yang paling terasa sakit adalah hatinya. Ia menekan telapak tangannya di dada, seakan berusaha menutupi luka yang menganga di sana. Seandainya sekarang ia berada dalam pesawat di atas sungai Yang Tze, ia hanya perlu membiarkan dirinya jatuh. Setelah itu seluruh tubuhnya akan membeku. Rasa sakit ini juga akan membeku. Ia tidak akan merasakannya lagi.

Seandainya masih ada harapan sekecil apapun untuk mengubah kenyataan, ia bersedia menggantungkan seluruh hidupnya kepada harapan itu. Sayang, setitik harapan kecilnya musnah sudah. Kenyataan menghantam kepalanya, merobek-robek jantungnya dan menguras darah dari tubuhnya.

No matter how close we are, I know that I can't love you anymore. I can't miss you. Waiting for you makes me tired.

.

Kau tau, beberapa orang mengatakan semakin tua umurmu, maka kau akan merasa seperti waktu berlalu sangat cepat. Dan begitulah yang Hankyung alami. Sudah satu minggu lebih satu hari Hankyung tidak bertemu dengan Heechul. Sederhana, alasannya Hankyung memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dalam jangka waktu dua minggu, dan itu sebabnya ia tidak bisa bertemu dengan Heechul.

Tapi, hei, Heechul bukanlah seseorang yang baru mengenal Hankyung kemarin sore, tentu saja ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan pria itu. Tidak biasanya Hankyung selalu menolak untuk bertemu dengannya dengan alasan yang itu-itu saja. Sebenarnya bisa saja jika Heechul ingin mendobrak pintu apartemen Hankyung dan bertanya apa yang salah dengan otak namja China itu, tapi dia masih memiliki respect terhadap sahabatnya itu. But still, he has no idea what's going on with his beloved best friend.

.

Hankyung tau waktunya tidak lama lagi, ia memang bukan meninggal secara fisik, tapi ia meninggal secara mental dan perasaan. Pernahkah kau mendengar kalimat, just because you're breathing doesn't mean you're alive.? Aku rasa itu kalimat yang cukup masuk akal untuk mendeskripsikan Hankyung saat ini.

Hankyung pun sadar ia tidak bisa tetap terus berdiam diri di atas tempat tidurnya sengan bercarik-carik kertas yang ditulisnya sejak kemarin. Ia mengerti apa yang harus dilakukannya. Mengumpulkan tekad bulatnya, Hankyung mulai membersihkan kamarnya dan mengumpulkan semua tulisan itu, menumpuknya sesuai dengan urutannya dan meletakkanya dengan rapi di atas meja yang ia gunakan untuk menulis. Hankyung bergegas membersihkan dirinya, mata lembab dengan kantung mata hitam itu membuat Hankyung meringis, mengasihani dirinya sendiri. Selesai dengan semua penampilannya, Hankyung berdeham, mengembalikan kestabilan suaranya. Berdiam diri di rumah selama delapan hari membuatnya tidak banyak berbicara. Ia menatap cermin dihadapannya sebentar, Hankyung Is back. Ia merogoh ponsel di dalam saku jaketnya dan menekan tombol angka sembilan cukup lama, yang langsung menyambungkannya dengan nomor ponsel Heechul.

"HANKYUNG-AH! Demi Tuhan akhirnya kau menghubungiku!" teriakkan di sambungan sana membuat Hankyung terkekeh pelan, betapa ia merindukan suara ini.

"Aku kira kau tidak percaya dengan Tuhan, Heechul?"

"Tsk. Persetan dengan itu. Kemana saja kau, heh? China tidak tau diri, membuat orang khawatir dengan mengurung diri dengan alasan tugas. Kau pikir aku bodoh? Berapa lama kau mengenal aku, Yang Mulia Kim Heechul? Aku tidak semudah itu untuk dibohongi dengan alasan klasikmu itu, kau tau? Ah tapi yasudahlah, yang penting sekarang kau sudah kembali, benar? Hankyung-ah, cepat temui aku di tempat biasa! Dalam waktu 10 menit kau tidak sampai di sini, ucapkan kata-kata terakhir untuk kepalamu itu."

Pip. Sambungan terputus.

Hankyung bernafas lega, Heechul tidak marah atas sikapnya belakangan ini. Dan yang paling membuat Hankyung bersemangat adalah, Heechul mengkhawatirkannya. Ocehan tadi bukannya sebuah ocehan menurut Hankyung, melainkan sebuah kekhawatiran yang ditunjukkan Heechul. Heechul peduli padanya. Dan Hankyug bersyukur untuk itu. Buru-buru ia mengambil kunci mobilnya dan melesat menuju tempatnya bersama Heechul menghabiskan waktu selama ini.

.

Hankyung memakirkan mobilnya dan berlari ke arah pintu masuk café itu, gaya dorong yang diberikan Hankyung terhadap pintu membuat bel di atasnya berbunyi, spontan Heechul yang menyesap chocolate ice nya pun menoleh kepada pintu masuk dan tersenyum lebar mendapati orang yang ditunggunya sudah tiba.

"Hankyung-ah, sebelah sini!" Heechul berseru sambil melambaikan tangannya, memberi tanda kepada Hankyung untuk menghampirinya. Hankyung tersenyum sekilas, menuju ke kasir untuk memesan minumnya sebelum melangkahkan kakinya lebih lanjut menuju Heechul.

A glass of white coffee.

Hankyung menempatkan dirinya di depan Heechul dan tersenyum tanpa dosa. "Kemana saja kau?" pembicaraan itu dimulai oleh Heechul, seperti biasanya. "Aku sudah bilang tugasku banyak. Tidak perlu khawatir begitu. Hahaha"ada kehangatan tersendiri yang menyelubungi Hankyung saat mengingat bahwa Heechul mengkhawatirkanya. Tapi tetap, bukan Kim Heechul namanya kalau mengakui ia mengkhawatirkan seseorang.

Heechul memutar bola matanya dan menatap Hankyung malas. "Aku tidak khawatir, hanya kesepian. Kau tau kan aku tidak punya teman dekat selain kau. Jangan terlalu pede, Tan Hangeng." Pria bernama lengkap Tan Hangeng itu tersenyum. Satu lagi keberuntungan Hankyung yang tidak dimiliki orang lain, menjadi satu-satunya sahabat dekat Kim Heechul.

Hankyung tidak membalas jawaban Heechul. Menyebabkan keheningan terjadi di antara mereka. Suasananya pun mendukung. Tidak ada orang lain di café ini selain Hankyung dan Heechul, dengan para pelayan café tentunya. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Tidak dalam keadaan canggung. Mereka sudah terbiasa seperti ini. Tidak perlu berbicara, hanya mengetahui bahwa mereka ada di sisi satu sama lain saja sudah cukup membuat keduanya nyaman. Tapi bukan itu yang Hankyung rasakan sekarang. Melainkan sebaliknya. Hankyung menghela nafas panjang, mengalihkan perhatian Heechul menjadi menatapnya.

"Katakan saja, Han."

Itulah yang Hankyung sukai dari Heechul. Tidak peduli seberapa cuek sikap Heechul, jauh dalam hatinya Hankyung tau bahwa Heechul peduli. Hankyung tau bahwa Heechul pasti akan mengerti dirinya.

"Aku minta maaf untuk mengatakan ini, tapi aku akan kembali ke China minggu ini." Berhasil. Hankyung mengucapkannya dengan lancar.

Heechul membelalakan matanya menatap Hankyung tidak percaya. "Mengapa tiba-tiba sekali?" Heechul lebih suka mengajukan pertanyaan mengapa daripada apa ataupun bagaimana. Menurutnya satu kata mengapa cukup untuk Hankyung menjelaskan apa yang ingin Heechul ketahui.

"Ada beberapa urusan yang harus aku urus di sana. Kau tidak lupa kan aku masih memiliki tanggung jawab di China? Aku pergi ke sini hanya untuk sementara, aku mengatakannya sejak awal. Kalau kau akan bertanya apakah aku akan kembali, aku tidak tau. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Jangan khawatir, kita masih bisa berhubungan lewat jejaring sosial. Aku janji akan sering-sering menghubungimu jika kau merindukanku." Hankyung menjawab dengan kekehannya, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi tegang.

"You wish, Sir." Lagi-lagi mereka masih sempat tertawa di situasi seperti ini. Tapi Hankyung lega, setidaknya ia bisa melihat Heechul tertawa dan bukan marah atau malah mengusirnya agar cepat-cepat kembali ke tanah kelahirannya itu. Lama mereka terdiam, Hankyung menyesap white coffee-nya.

"Heechul-ah, kau akan mendapat kejutan besar setelah aku pergi. Aku janji kau tidak akan kesepian. Dan aku berani bertaruh kau akan lebih bahagia lagi." Hankyung memecah keheningan, kata-katanya barusan membuat Heechul mengerutkan dahinya. "Maksudmu?"

"Maksudku, kau lihat saja nanti. Jangan lupa kirimi aku kabarmu dan ceritakan semuanya padaku nanti, oke?

"Kau aneh, China gila. Aku rasa ada yang salah dengan otakmu. Barusan kau bilang kau yang akan menghubungiku, dan sekarang kau bilang aku yang harus menghubungimu. Apa-apaan?"

"Jadi kau berharap aku hubungi?"

"Again, You wish, Sir,"

Percakapan tidak penting itu selalu saja terjadi dan terus berlanjut sampai salah satu diantara mereka menyerah, walau kebanyakan Hankyung yang angkat tangan dan menjadi bahan tertawaan Heechul. Biarlah, biarkan mereka menikmati apa yang dapat mereka nikmati sekarang. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak ada yang tau apakah Hankyung akan kembali atau tidak. Tidak ada yang tau kejutan besar apa yang menunggu Heechul. Selama itu berlangsung, Hankyung hanya dapat memohon kepada Tuhan, jika memang Tuhan itu nyata, Hankyung hanya ingin meminta pembuktian.

Tolong jangan hapus senyum dan tawa itu dari bibirnya. Tolong jangan buat mata indah itu meneteskan air matanya. Tolong jangan buat pipi lembut itu menjadi lembab karena tangisannya. Tolong jangan biarkan telinga itu mendengar apa yang tidak ingin ia dengar. Tolong jangan biarkan hatinya yang lemah itu hancur. Tolong, tolong jaga Heechul untuknya. Jika Tuhan memang ada, tolong biarkan pria cantik dihadapanku ini berbahagia. Walaupun tidak bersamaku.

.

Dan ketika kenyataan mendesak masuk dan berhadapan denganmu, kau hanya bisa menerima.


Chapter dua selesai.

Masih, absurd dan boring.

Typo mohon dimalkumi, no edit soalnya.

Bahasa berantakan, alur cerita mengalir begitu saja tanpa kerangka dan dipikirkan terlebih dahulu.

.

Beberapa balasan review silahkan dilihat:

JokerKiller: Terima kasih supportnya, sangat memberi semangat untuk cepat mempublish chapter berikutnya, haha :)

kuncipintu: Hankyung dan Heechul kuliah, perbedaan umur tetap Hankyung lebih muda setahun daripada Heechul. Terima kasih:)

Kim Rae Sun: Big thanks buat kepekaannya dalam membaca, dan tidak, Heechul bukan seorang gay, dan Kibum genderswitch di sini. Terima kasih :)

.

Untuk yang ngerasa FF Hanchul udah jarang karena gak ada momentnya lagi, jangan khawatir.

Saat ini memang orang tua kita -anggap saja begitu- memang tidak diketahui hubungannya di hadapan publik, tapi di belakang publik, errr who knows? :))

Oh ya, sedikit mengingatkan kembali, FanFiction ini memang terinspirasi dari Autumn In Paris nya Ilana Tan, tapi bukan berarti semua ending dan alur cerita akan sama seperti novel tersebut.

Zy hanya mengambil beberapa quotes favorit Zy dan Zy gabungkan ke dalam FF ini. Jadi jangan salah paham ya, hehehe.

.

SPECIAL THANKS TO:

JokerKiller - Kim Rae Sun - JiJoonELF - Paradisaea Rubra - YunieNie

Volum48 - kuncipintu - hanchulship - psykkh - gengpetals

.

His singing ability is fine.

But his dancing skill are great.

I can't cook while that friend can.

I always curse, while that friend only laughs.