Blue and Red Love

Disclaimer: K Project is not my own. It's owned by GoRa and Go Hand

Blue and Red Love is mine

Pairing: Munakata x Mikoto and Saruhiko x Misaki

Warning: Yaoi, Boys Love, Shonen-ai, B x B, OOC, AU

#03: Tour

Pantai merupakan salah satu objek wisata yang cukup menyenangkan. Ya, objek itulah yang kini sedang dituju oleh Munakata dan juga Mikoto. Bis yang mereka tumpangi sudah berjalan selama kurang lebih satu jam. Suasana didalam bis cukup menyenangkan karena para siswa ada yang bercanda dengan teman sebangkunya, ada yang mendengarkan musik bersama, ada yang memakan snack dan ada juga yang melakukan aktivitas yang disukai mereka. Begitu pula dengan Munakata yang duduk disebelah Mikoto. Seperti biasa, Mikoto tertidur di sebelahnya dengan wajah yang terlihat sangat tenang. Sementara itu, Munakata hanya mendengarkan lagu menggunakan headphone yang di bawanya. Tempat duduk Munakata dan Mikoto terletak di bangku belakang, sehingga mereka bisa bergerak agak leluasa karena guru yang ada di bis itu duduk di bangku bagian depan. Munakata yang sedang mendengar lagu memandang kearah Mikoto yang sejak awal perjalanan tadi sudah terlelap. Entah kenapa, tangan Munakata justru bergerak merapikan rambut Mikoto yang agak berantakan karena ia sedang tertidur. Sentuhan lembut dari Munakata itu justru membuat Mikoto terbangun. Melihat itu, Munakata tersenyum padanya dan menyapanya seperti biasa.

"Apa kita sudah sampai?" tanya Mikoto sambil membenarkan posisi duduknya.

"Belum, masih sekitar 1 setengah jam lagi." Ucap Munakata tenang.

"Sudah kubilang kan untuk membangunkanku ketika kita sudah sampai, Munakata..." ucap Mikoto sambil menghela nafasnya.

"Tadi sebenarnya aku hanya ingin merapikan rambutmu yang agak berantakan, tapi ternyata hal itu membangunkanmu. Lagipula dari tadi kau tidur saja. Kenapa kau tidak menikmati perjalanan kita ini? Ini kesempatan terakhir kalinya kita bisa pergi bersama-sama seperti ini selama masa sekolah. Apa kau tidak ingin membuat kenangan yang menyenangkan?" tanya Munakata sambil menautkan alisnya.

"Hh..." balas Mikoto. Pernyataan Munakata yang cukup panjang barusan hanya dibalas dengan helaan nafas oleh Mikoto. Munakata hanya tersenyum pasrah mendengar balasan yang diterimanya itu. Sudah biasa baginya untuk menerima balasan seperti itu. Kemudian, Munakata menunduk sejenak. Mikoto melirik kearah teman yang berada disampingnya itu.

"Nanti kita buat kenangan yang menyenangkan ketika sudah sampai di sana." Ucap Mikoto sambil mengelus kepala Munakata. Lebih tepatnya mengacak rambut Munakata. Perlahan Munakata memandang kearah Mikoto yang sedang tersenyum hangat padanya. Mata mereka bertemu satu sama lain. Mata violet milik Munakata memandang ke mata hazelnut milik Mikoto. Entah kenapa, rasanya Munakata merasakan sesuatu yang aneh saat melihat sorotan mata itu. Sorotan mata yang selalu membuatnya berpikir, kenapa Mikoto berhasil membuat jantungnya cukup berdebar-debar. Mikoto mengambil guide book yang ada ditangan Munakata, membukanya secara asal, dan menutupi wajah mereka berdua yang kini sedang menautkan bibirnya masing-masing. Mikoto membuat Munakata blushing seketika itu juga. Ini pertama kalinya Mikoto mencium Munakata. Entah kenapa Mikoto bisa melakukan hal yang belum pernah terpikirkan olehnya. Tapi, Munakata juga tidak menolak ciuman tersebut. Ia justru menikmatinya. Apalagi saat lidah Mikoto mulai berusaha memasuki mulutnya. Tanpa perlawanan, Munakata membiarkan sang 'sahabat' memasuki mulutnya. 5 menit mereka berciuman dan untung saja tidak ada yang merasa curiga. Sebab kalau ada yang melihatnya, bahkan Munakata yang terkenal jenius pun akan sulit menjelaskan alasannya. Menyuruh Mikoto menjelaskannnya, akan membuat mereka langsung berhadapan dengan bagian kesiswaan.

"Hmph. Kau belum ahli..." ucap Mikoto yang kini ingin kembali tertidur lagi. Namun, sepertinya Munakata berusaha untuk mencegah Mikoto untuk tertidur. Ia ingin berbicara dengan Mikoto lebih lagi. Ia tidak ingin hanya diam saja cuma mendengarkan lagu. Ia masih ingin mendengar suara Mikoto yang berbicara dengannya. Ia masih ingin disentuh oleh Mikoto. (oke, ini rate T)

"Apa?" tanya Mikoto sambil melirik kearah Munakata yang menggenggam tangan kanannya.

"Kau masih mau tidur?" ucap Munakata sambil menundukkan kepalanya.

Terlihat semburat merah muncul diwajah Munakata. Tangan Munakata memeluk lengan kanan Mikoto kini. Berusaha untuk menahan dia untuk tertidur. Wajah Munakata terlihat sedih, atau dimata Mikoto terlihat seperti anak kucing yang meminta belas kasihan. Tentu saja Mikoto tidak tahan melihat tatapan itu. Helaan nafas keluar dari mulut Mikoto. Tangan Mikoto kini merangkul Munakata hingga membuat Munakata sangat dekat dengannya. Kepala Munakata kini bersandar di bahu Mikoto. Lalu pemuda berambut merah itu mengelus kepala Munakata dan membuat pemuda berambut dark blue itu memejamkan matanya dan tersenyum.

"Baiklah, aku tidak tidur. Tapi sebagai gantinya, saat sudah sampai nanti, kau harus tidur denganku, Munakata." Ucap Mikoto sambil menyeringai.

"...Baiklah." ucap unakata sambil mengangguk pelan.

Mikoto tersenyum puas akan jawaban Munakata tersebut. Mereka pun kini berada di posisi yang kembali normal. Hanya duduk bersebelahan, karena tiba-tiba ada teman mereka yang mendekati mereka.

Yokohama (Beach Resort)

Bagaikan kutub utara magnet dan kutub selatan magnet, semenjak turun dari bis, Munakata dan Mikoto selalu menempel. Well, ini karena Munakata memang tidak ingin kemana-mana selain berada di samping Mikoto. Saat ini pembagian kamar sedang berlangung. Masing-masing kamar hanya diisi oleh dua orang murid. Karena resort ini cukup besar, jadi diputuskan untuk membagi kamar seperti itu.

"Suoh Mikoto dengan Kusanagi Izumo. Kalian berdua kamar nomor 102. Selanjutnya, Munakata Reisi dengan Totsuka Tatara, kalian dikamar nomor 103." Ucap Awashima.

Seketika itu juga, Munakata hanya tersenyum dengan memandang kearah teman sekamarnya, seorang pemuda berambut pirang yang wajahnya sangat mirip dengan seorang malaikat. Tatara hanya membalas senyuman Munakata dengan uluran tangan.

"Semoga kita bisa menjadi teman sekamar yang baik." Ucap Tatara.

"Hm..." balas Munakata.

Balasan yang tidak mengiyakan, dan juga tidak menolak dari Munakata. Setelah pembagian kamar, Munakata menuju tempat Awashima yang sedang berdiri didekat meja resepsionis. Wanita itu sedang mengecek jadwal untuk tour mereka 2 hari kedepan. Munakata memanggil wanita itu dan menyuruhnya untuk menukar teman sekamarnya.

"Memangnya ada apa? Apa kamu punya masalah dengan teman sekamarmu?" ucap Awashima sopan. Bagaimanapun juga, Munakata anak pemilik sekolah. Jadi yah... sosoknya cukup disegani, bahkan oleh guru sekalipun.

"Tidak, hanya saja saya sedang tidak ingin bersama dengan anak yang berasal dari kelas lain. Apa anda bisa mengganti teman sekamar saya dengan Suoh Mikoto?" ucap Munakata.

"Suoh..Mikoto? Hmm... baiklah. Lebih baik kamu saja yang mengurusnya dan menjelaskan kepada teman sekamarnya." Ucap Awashima. Wanita berambut pirang itu pun langsung mengedit dokumen yang ada ditangannya. Munakata hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada guru yang cantik itu. Padahal dalam hatinya, ia berteriak kegirangan. Munakata pun kini menghampiri kamar nomor 102 milik Mikoto dan mengetuk pintunya. Terlihat sosok pemuda berkacamata violet keluar dari kamarnya.

"Ah... Munakata Reisi. Ada perlu apa?" tanya Izumo.

"Awashima-sensei menyuruhmu untuk pindah kekamar 103. Jadi kau sekamar dengan Tatara sementara aku sekamar dengan Mikoto." Ucap Munakata dengan tenang.

"Hm? Dengan Tatara? Baiklah." Ucap Izumo yang langsung mengambil kembali barang-barangnya dan menuju kamar 103. Munakata pun tersenyum pada Izumo yang sudah meninggalkan kamar itu dan kini dia melangkahkan kakinya masuk kekamar Mikoto. Dilihatnya Mikoto kini tengah tertidur lagi di tempat tidur yang ukurannya cukup besar, namun tidak sebesar miliknya dirumah. Munakata pun membereskan barang-barang bawaannya dan setelah itu memutuskan untuk beristirahat sejenak di tempat tidurnya karena sepanjang perjalanan tadi, dia tidak tertidur sama sekali. Ia memutuskan untuk tertidur di sebelah Mikoto. "Sesuai janji tadi..." gumam Munakata.

Yokohama (Beach)

Jam sudah menunjukkan pukul 3.00 p.m. Kini Munakata mengajak Mikoto untuk berjalan di pantai. Mikoto tidak menolaknya karena ia sudah puas tidur tadi. Munakata pun tersenyum pada Mikoto yang sedang berjalan disampingnya. Sepanjang perjalanan di pantai, banyak gadis yang membicarakan mereka. Terutama Munakata yang memang pada dasarnya tampan sekali. Namun pada kenyataannya, Munakata merasa tergangggu dipandangi seperti itu oleh para gadis-gadis itu. Apalagi saat gadis-gadis itu kini menghampirinya. "Mereka benar-benar merusak suasana" ucap Munakata dalam hati.

"Hai. Mau bermain bersama kami?" tanya salah satu dari gadis-gadis itu.

"Tidak." Ucap Munakata singkat sambil berjalan melewati mereka dan menarik tangan Mikoto.

Mikoto pun sebenarnya juga tidak suka pada gadis-gadis itu. Hanya menganggu. Oleh karena tu, sekarang Mikoto pun mengikuti Munakata menjauh dari gadis-gadis itu dan menuju tepi pantai yang agak sepi. Munakata tersenyum puas. Munakata kini sedang duduk disebuah batu yang cukup besar untuk mereka berdua. Namun Mikoto memilih untuk berdiri dibawah batu itu dan hanya membiarkan Munakata yang duduk disana. Angin di pantai itu terasa sangat lembut menyentuh mereka berdua. Rasanya sangat menenangkan dan juga... agak romantis bagi pasangan. Mikoto memutuskan untuk membeli sebuah coconut ice untuk mereka berdua. Sehingga Munakata kini sedang duduk sendirian. Selagi menunggu Mikoto kembali, Munakata menelepon adiknya untuk mengecek keadaannya sekarang. Apakah masih baik-baik saja, semakin buruk, atau semakin baik?

"Fushimi..."

[Ah... Munakata-sama... ada apa?] tanya Fushimi diseberang telepon sana.

"Bagaimana keadaanmu?"

[Well... i'm okay since Misaki is here.]

"Souka. Don't make our house destroy, got it?"

[Ha'i... Munakata-sama...]

Selama menelepon, Munakata mendengar suara Misaki yang berteriak-teriak manja. Lebih tepatnya seperti suara desahan. Mendengar hal itu, Munakata hanya tersenyum dan berpikir dalam hati. "Aku telah membiarkan seekor domba masuk ke kandang serigala..."

[Hei, Munakata-sama. Kau masih disana kan?]

"Ya... douishite, Fushimi?"

[Bawakan aku oleh-oleh. Yang kudengar di pantai itu ada souvenir yang mewah yaitu kalung mutiara yang dihiasi oleh sapphire dan ruby, belikan aku barang itu, Munakata-sama~]

"Hm... baiklah. Jika kau tidak berbuat macam-macam selama aku pergi, kau akan mendapatkannya. Ingat itu, Fushimi."

[Ya...ya... kau tenang saja. Everything is under control.]

"Even for your desire to Misaki?" ucap Munakata sambil menyeringai.

[I'm just a fever boy here. Nothing i can do with him you know..]

"I see... Jadi apa kau sudah minum obat?"

[Yah... sudah, Munakata-sama.]

Melihat Mikoto sudah kembali dengan 2 gelas coconut ice, Munakata langsung memutuskan teleponnya.

"Bye for now, Fushimi."

[Seems Mikoto is there. Okay. Don't forget about my souvenir. Bye, Munakata-sama~]

Munakata hanya menghela nafasnya saat mengetahui kalau Fushimi bisa menebak apa yang terjadi sekarang. Mikoto kini duduk disebelah Munakata yang sedari tadi menunggunya.

"Ini." Ucap Mikoto sambil menyerahkan segelas coconut ice milik Munakata.

"Arigato.."

Hening menghampiri mereka saat masing-masing dari mereka meminum coconut ice mereka sambil memandang kearah laut. Warna air laut yang biru sungguh menenangkan. Pemandangan yang indah dihadapan mereka membuat suasana hati menjadi tenang. Tanpa Munakata sadari, Mikoto mencium kepala Munakata. Tentu saja Munakata kaget akan ciuman itu. Dan di wajahnya muncul semburat merah.

"Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi aku tidak yakin kau akan menerimanya dengan baik. Atau justru kau akan menganggap hal ini sebagai sebuah lelucon. Tapi... mungkin hal ini akan membuatku kecewa di kemudian hari jika aku tidak menyampaikannya padamu, Suoh..."

"Apa itu?" balas Mikoto singkat.

"Sebelumnya kau harus berjanji untuk tidak tertawa.."

Mikoto menganggukkan kepalanya dan kembali meminum coconut ice-nya.

"Aku... aku menyukaimu... Suoh." Ucap Munakata dengan wajah yang sangat memerah. Dia sepertinya sudah bersiap-siap untuk menerima balasan terburuk dari Mikoto. Ini pertama kali dalam hidup Munakata untuk mengucapkan hal seperti itu di hadapan Mikoto. Jantungnya sangat berdebar-debar. Padahal, selama ini saat dia menyampaikan pidato dihadapan ratusan bahkan ribuan murid disekolah, dia tidak merasa berdebar-debar seperti ini. Namun mengatakan hal yang terdiri dari 2 kata itu saja dihadapan Mikoto membuatnya berdebar-debar hebat seperti ini.

"Aku juga menyukaimu, Munakata." Balas Mikoto sambil mencium bibir Munakata dan memeluk tubuhnya.

To be continue

A/N: *masih ngatur nafas gara" pusing mikirin karakter Munakata di sini* Gomenasai, Munakata-sama... entah kenapa pas menulis bagian Munakata-sama rasanya seperti menulis karakter cewek *di sabit sama Munakata-sama* well... ini dia chapter 3~ saya paling suka melihat pantai, jadi saya memutuskan untuk membuat setting tempatnya di pantai. Tak mau tahu pokoknya harus pantai. Pantai! *ditampar* sepertinya di chapter ini full of MikoRei desu ne? Berhubung ini rated T, jadi saya tidak bisa memasukkan adegan yang macam-macam disini (-u-) waktu meneliti(?) karakter MikoRei, satu kesimpulan yang bisa saya ambil adalah... Munakata-sama uke yang cukup...banyak bicara. Ah... saya tidak bilang anda bawel, Munakata-sama. Hanya saja yang mendominasi percakapan mereka memang Munakata-sama. Selain itu Munakata-sama juga orangnya agak tsundere dikit. Dikit aja... hmmm... mungkin ini aja yang bisa saya bahas di chapter ini. At last, mind to review this fic? :D

Rahel-chan

Reviewers :

Niaa chan: arigato atas reviewnya *bows* soalnya dimata saya, mereka terkadang memang mirip seperti kakak adik apalagi waktu melihat doujinnya. Ini udah update chapter 3-nya. Moga suka :D untuk saat ini, Rate tetap T :3 lagi pusing rate M. Hope u like this

Bluegirl02 : Fushimi udah gak tahan nih~ *dihajar Misaki* wkwkwkwk sebenarnya agak ngakak juga saya saat menulis bagian akhir chapter 2 itu. Misaki benar-benar kayak orang yang mau kena rape. Iya, betul di Yokohama. (padahal saya sendiri kenyataannya gak tahu disitu ada pantai ato nggak) Ini sudah di update. Hope u like it

ChizuGawa : arigato atas reviewnya *bows* yah... berhubung ini Rate T... jadi mungkin agak fluffy aja(?) Munakata-sama memang cute kalo lagi jealous, cause saya udah dapat inspirasi waktu liat wajah dia cemburu dan itu totemo kawaii~ XD Fushimi-kun benar-benar sakit. Untuk kali ini Fushimi-kun aku buat sakit sementara. Fushimi gak bakal kubuat sejahil itu *hug Fushimi* Ini sudah dilanjutin. Hope you like it

Nisa Piko : arigato atas reviewnya *bows* gomen... di chapter ini gak ada SaruMi-nya... *hiks* habisnya karena kemarin almost full of SaruMi, jadi di chapter ini di fokuskan untuk MikoRei~ sa... meleleh ya... sama kayak saya waktu nulis bagian Fushimi blushing... *nosebleed* memang, maaf Fushimi-kun saya buat agak ecchi disini.. well, chap ini udah update. Hope you like it