Naruto© Masashi Kishimoto

Story© Kuchiki Mikan

Rated: T

Genre: Romance/Drama

Pairing: Sakura H/Sasuke U

Special Thanks To:

Poetrie-Chan

Keylan

Twistedlemonade

Van Sin-San

Saver Tomato

Sakura3uchiwa

FelsonSpitfire

Senayuki-Chan

Mauree-Da

Kuchiki Lover

Sungguh! Review dari kalian membuat saya sangat bersemangat hehe XD

どうも ありがとう みんな XD

Sasuke memacu motor sportnya lebih cepat lagi, entah apa maksudnya yang pasti hal ini sukses membuat kedua tanganku memeluk pinggangnya dengan erat, yang sebelumnya tidak kusentuh, aku masih merasa kesal dan marah mengingat apa yang dia lakukan tadi pada Naruto, tapi aku juga sedikit hawatir melihat luka lebam dan darah yang sudah mengering dipipinya.

Refleks aku merenggangkan pelukanku ketika motornya berjalan agak pelan, mulai menepi di sebuah danau yang tempatnya tidak aku kenal dan tidak pernah aku datangi sebelumnya. Aku beranjak dan duduk di sebuah kursi yang berada cukup dekat dengan danau itu, sejuk...

Tapi kesejukkan ini tidak serta merta mampu meredam rasa kesal dan amarah dari dalam hatiku, masih teringat dengan jelas kejadian tadi sore, mengingat seorang Uchiha yang begitu dingin itu rela mengenyampingkan Imagenya dihadapan orang banyak dengan bertindak bodoh seperti tadi. Ck.

"Siapa dia?"

Aku sedikit tersentak ketika mendengar suara yang begitu tajam dan menusuk secara bersamaan, Uchiha ini sedang marah, aku bisa tahu itu dari suaranya dan matanya, lalu wajahnya? Jangan berharap banyak, yang akan kau lihat disana hanya wajah datar seperti biasa yang tidak berekspresi.

"Temanku..."

Aku menjawab seadanya.

"Jauhi dia..."

Aku hanya tersenyum kecut, lucu sekali...

"Apa hakmu berkata demikian Uchiha-San...?"

Sedikit perubahan di wajahnya tertangkap oleh mataku, tapi ingatlah dia seorang 'profesional', sangat mudah baginya untuk menutupi semua itu.

"Kau milikku..."

Lagi, terdengar kata-kata yang bagiku cukup memuakkan setelah apa yang dilakukannya beberapa hari yang lalu. Ah, mengingatnya saja sudah cukup membuat dadaku sakit dan sesak...

"Ck, hentikan omong kosongmu itu Uchiha-San..."

"Hn.."

"Berhentilah menghabiskan waktumu yang berharga itu denganku Uchiha-San, pergilah dan teruskan hubunganmu yang menyenangkan itu dengan kekasihmu..."

Aku menghirup nafas dengan rakus setelah mengatakan kalimat itu dengan satu tarikan nafas, aku terengah-engah, sedikit merasa lega mengeluarkan beban yang selama ini aku simpan tepat di depannya, aku tak peduli jika aku terlihat memalukan seperti ini, aku lelah dan ingin dengan cepat mengakhiri semua ini, sebelum terlambat, sebelum terjatuh lebih dalam kedalam perasaan bodoh seperti ini.

Hening...

"Kekasihku...?"

"Ya... habiskanlah waktu bersamanya, dia terlihat baik manis dan sangat cantik, dan dari cara berpakaiannya aku sudah tahu dari keluarga mana dia berasal. Sungguh sangat serasi denganmu! Hanya itu yang ingin aku bicarakan, jadi mulai sekarang pergilah dari kehidupanku..."

Dengan cepat aku beranjak dari kursi yang sejak tadi kami duduki, aku tidak ingin terlihat lebih bodoh, sangat bodoh, dan sungguh aku tidak mengenali diriku yang ini. tanpa sadar setitik air mata jatuh dari emerald milikku, membuatku sadar dan melangkah lebih cepat lagi meninggalkan tempat ini, tidak ingin terlihat menyedihkan.

"Hmmp..."

Langkah kakiku terhenti, demi Tuhan, apa Uchiha itu sedang meledekku? Aku mendelik melemparkan pandangan penuh kebencian padanya. Tidak senang mendengarnya terkekeh kecil, disaat aku tersiksa seperti ini. sangat konyol. Aku merasa bahwa aku orang paling bodoh di dunia, dimana wibawaku? Kenapa aku bisa sebodoh ini saat bersamanya.

Dia melangkah kecil kearahku dan memeberikan senyuman lembut di wajahnya, Ck, jangan biarkan aku terperosok lagi kedalamnya, dengan memicingkan mataku aku memandangnya dengan tajam dan...

"GREP"

Aku memebelakkan mataku, lagi. Dia melekukan hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya, aku hanya bisa terdiam ketika dia memelukku dengan erat.

"Kau cemburu? Itu bagus..."

Lagi, aku hanya bisa terpaku ketika jemarinya mengusap kepalaku dengan lembut, hangat. Sekejap aku terbuai, entah kenapa rasa benci di dalam hatiku seperti lenyap hanya karena pelukannya ini...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ini sudah yang kesebelas kali kopi yang di pegangnya itu tandas, tak tersisa, Naruto melirik dengan pelan jam yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk, ini sudah hampir jam sebelas malam dan dia belum juga dapat melihat gadis merah jambu yang sejak tadi berada di pikirannya ini. sungguh dia sangat hawatir.

"Bodoh, Harusnya tadi aku menahannya pergi..."

Dia terus merutuk tidak jelas, dan sesekali menyumpahi pemuda onyx berambut mirip pantat ayam yang tadi membawa Caku-Channya pergi...

"Ck..."

Ia masih ingat dengan jelas apa yang dilakukan pemuda itu padanya,sungguh hal itu, membuatnya sangat emosi, pemuda itu mengaku ngaku bahwa Caku-Channya itu adalah miliknya? Hei, pemuda itu sungguh mengada-ngada.

Berbicara seenaknya, dan mengklaim Caku-Channya itu miliknya. Ck, dasar berengsek...

Tetapi sedikit demi sedikit kegelisahan mulai timbul di hatinya, apa Caku-Channya itu punya hubungan dengan pemuda itu?

Apa pemuda itu, yang membuat Caku-Channya menangis untuk pertama kalinya, di hadapannya.

Pertanyaan-pertanyaan ini mulai berputar di kepalanya membuatnya sedikit sibuk, sampai-sampai dia tidak menyadari sosok yang sejak tadi ada dalam pikirannya itu telah tiba dan sekarang tepat berada di hadapannya...

.

.

.

.

.

Aku menatap Naruto dengan hawatir, sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku, pandanganku lalu tertuju pada serakan gelas yang berada di atas meja di hadapan Naruto, tanpa sadar aku menghela nafas, dan tanpa menyapanya terlebih dahulu aku melangkahkan kakiku pelan, mengambil beberapa alat P3K yang kusimpan diatas meja kamarku.

Sekejap pikiranku terbang membayangkan apa saja yang terjadi tadi sore dengan Uchiha itu, dan tanpa sadar sedikit senyuman terukir di wajahku, ah... Uchiha itu telah menjelaskan bahwa semuanya itu hanya salah paham, tentu saja kalian bisa tahu bagaimana cara menjelaskan seseorang yang irit sekali bicara sepertinya. Singkat, padat dan jelas, tapi entah kenapa dengan semua itu hatiku terasa nyaman, sungguh lega mengetahui segala kebenarannya. Ah, lagi.

Jantungku berdetak dengan tidak normal, membuatku tanpa sadar memegangnya...

"Caku-Chan? Apa itu Kau?"

Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku ke arah pintu kamarku, dimana arah suara itu berasal.

"Naruto..."

"Apa kau Baik-baik saja?"

Terlihat dengan jelas pandangan matanya yang menyiratkan rasa hawatir yang amat sangat, dan aku membalasnya dengan sedikit senyuman, lalu melangkah mendekatinya.

"Apa kau baik-baik saja...?"

Tanpa membalas jawabannya aku mengelus pipinya yang lebam ada sedikit bercak merah di sudut bibirnya, hawatir.

Dan hal ini membuatnya sedikit terkejut. Aku hanya tersenyum...

Sungguh ini bukan aku?

Entah kenapa aku bisa dengan mudah tersenyum setulus ini...

Dengan pelan aku menarik tangannya lalu menariknya ke tempat semula dia duduk.

Dia tampak sedikit gugup dan menggaruk kepalanya, yang tidak gatal. Lalu memamerkan cengiran rubahnya yang seperti biasa padaku dengan kikuk.

Aku menuangkan sedikit cairan alkohol pada kapas yang kupegang lalu, dengan pelan mengarahkan dan mengelus bagian lebam dipipinya, dia meringis dengan pelan.

"Caku-Chan...?"

"Hmmh...?"

"Si Pantat ayam tadi itu siapa?"

Aku sedikit tersentak karena terkejut dengan pertanyaannya, dan tanpa sadar menekan luka lebamnya itu sedikit agak keras, dan sukses membuatnya meringis lebih keras lagi, wajar jika dia menanyakan hal itu, pasti dia panasaran dan kesal dengan seseorang yang tiba-tiba mamukulmu keras dan terjadilah kejadian yang tidak mengenakkan seperti tadi, dan semuanya itu hanya karena salah paham.

"Sasuke...?"

"Oh, jadi itu namanya? Dasar Laki-laki berengsek itu sungguh kurang ajar..."

Aku hanya terdiam bermaksud untuk tidak menjawab pertanyaannya.

Lalu dengan pelan aku menempelkan plester berwarna coklat di sudut bibirnya yang terlebih dahulu tadi aku berikan sedikit obat merah.

.

Hening...

.

"Caku-Chan...?"

"Hmmh...?"

Aku mengangkat wajahku dan tatapan itu, lagi-lagi...

Tatapan sayu yang mampu menjeratku untuk lebih menyelaminya...

Dia mengangkat tangannya lalu seperti yang kulakukan tadi, dia mengelus pipiku dengan ibu jarinya pelan...

Lembut...

Tatapannya jatuh kebibirku lalu tangannya menyusul, bergerak dan mengelus bibirku pelan...

"Entah kenapa perasaanku tidak enak Caku-Chan..."

Aku menundukkan kepalaku, aneh...

Dengan melihatnya yang seperti ini membuat hatiku menjadi sedikit resah...

Dengan pelan dia mengangkat daguku, dan...

"Naruto..."

Dia tersenyum dengan lembut...

"Aku tidak ingin kehilanganmu Caku-Chan..."

"Aku..."

Dengan pelan wajahnya beranjak, mendekatiku hingga jarak kami hanya terhitung beberapa centi saja...

Lalu dengan pelan Naruto memiringkan wajahnya. Dan Semuanya berlangsung dengan cepat.

Yang aku rasakan sekarang adalah tangannya yang semakin menarik kepalaku untuk membalas ciumannya yang mendominasi, terus bergerak dan melumat bibirku dengan pelan dan lembut...

Matanya terpejam tampak menikmati...

Naruto...

Tanpa sadar setetes air mata mengalir di pipiku...

Entah kenapa perasaanku jadi tidak menentu seperti ini?

Bimbang... semuanya terasa membingungkan...

Terlintas wajah Sasuke di benakku...

Aku sedikit terengah ketika dia melepaskan ciumannya, pandangannya terlihat sayu dan sedikit demi sedikit senyuman menghiasi wajahnya ... lalu tangannya kembali mengelus bibirku...

"Aku..."

"Aku... Mencintaimu Caku-Chan..."

.

.

.

.

"Ayah, ayolah?"

"Baiklah aku akan mengabulkan permintaanmu, lagipula kurasa itu juga bukan ide yang buruk! Lagipula ayahnya itu adalah sahabat sekaligus Kolega ayah..."

Shion tersenyum dengan senang, dengan cepat dia memeluk ayahnya. Dia memang sudah mengenal Sasuke sangat lama, keluarga mereka memang terbilang cukup dekat, tetapi Sasuke? Sepertinya pangerannya itu tidak pernah menyadari kehadirannya. Bahkan ketika dia bertindak seperti kemarin, spertinya Uchiha itu sama sekali tidak berpengaruh, bahkan membuatnya merasa sangat di permalukan, Tapi tak apa tekadnya sudah bulat, dia akan melakukan apapun agar Uchiha itu menjadi miliknya, apapun yang terjadi, ah, langkah awalnya berjalan dengan baik.

Untuk ini Shion sedikit menyeringai penuh kemenangan, sepertinya semuanya akan berjalan dengan lancar.

.

.

.

.

.

.

"Haruno!"

"Haruno?"

"HARUNO SAKURA?"

Aku terkesiap dan dengan cepat megalihkan pandanganku kesamping, ketika Ino menyikut tanganku dengan keras.

"Sakura... Kurenai-Sensei memanggilmu..."

Aku sedikit mengernyitkan keningku ketika Ino berbicara dengan berbisik, dan saat aku melihat Ke depan Semua pandangan sedang terarah padaku...

Dan satu pandangan lagi yang terlihat jengkel dan heran terpancar dari sosok cantik yang bergelar dosen disini...

"Kurenai-Sensei...?"

"Apa kau mengerti dengan apa yang kusampaikan tadi?"

Aku melirik papan tulis dengan datar dan rumusan-rumusan matriks yang ditulis disana, semuanya sudah kupelajari dan kukuasai beberapa minggu yang lalu, lalu aku mengangguk dengan pelan.

"Majulah... berikan aku jawaban dari pertanyaan ini..."

Perempuan yang memiliki keindahan mata yang menakjubkan itu lalu menunjuk soal yang dibuatnya tadi, dan aku dengan pelan melangkah maju dan menyelesaikan semuanya dengan cepat, membuat senyuman manis mengembang di wajahnya. Mungkin merasa puas dengan jawaban yang aku berikan.

"Baiklah kau boleh duduk.."

"Kalau begitu kita cukupkan sampai disini, sampai jumpa minggu depan..."

Terlihat Ino tersenyum senang kearahku, yang kusambut dengan senyuman tipis. Ah, pikiranku memang sedang kacau, semenjak kejadian itu hubunganku dan Naruto menjadi agak canggung, dan entah kenapa muncul perasaan bersalah ketika aku sedang bersama dengan Sasuke, semuanya terasa aneh, aku tidak mengerti dengan perasaanku, sungguh...

Aku tidak mengerti... semuanya begitu rumit...

"Sakura?"

Aku melirik Ino yang sedang membereskan buku-bukunya, mata Kuliah selanjutnya adalah Kimia.

"Apa Sabtu inikau ada acara?"

Aku menoleh padanya, sedikit mengerutkan keningku.

"Kurasa tidak..."

Ino tersenyum dengan senang.

"Kalau begitu temani aku ke suatu tempat yah..."

Aku hanya mengangguk tanda mengiyakannya, dan hal ini membuatnya semakin senang.

Hmmh... kurasa dengan sedikit hiburan dapa sediki mengurangi masalahku.

"Caku-Chan...?"

Suara ini...?

Dengan cepat aku melangkah, hendak pergi. Aku sedang tidak ingin menemuinya disaat seperti ini.

Tapi, refleksnya lebih cepat. Dengan gesit dia menangkap tanganku lalu menarikku pelan, kearahnya.

"Tunggu Caku-Chan aku ingin membicarakan sesuatu padamu..."

Aku hanya menatapnya datar, entah kenapa aku merasa ini bukanlah waktu yang tepat.

"He-hei kau Siapa? Sakura kau mengenalnya?"

"Dia temanku Ino..."

Setelah mengatakan itu, Naruto menarikku pergi, entah kemana dia akan membawaku. Aku hanya menurutinya saja.

Memang sudah lama sejak kejadian itu kami tidak saling bertemu, lebih tepatnya aku yang menghindar darinya.

.

.

.

"Caku-Chan..."

Aku hanya menatapnya datar lalu menundukkan kepalaku, tapi terhalang ketika dia memagut daguku dengan lembut untuk tetap menatap kearahnya, matanya...

Entah kenapa aku dapat menangkap kepedihan yang berlebih dimatanya, wajahnya sedikit agak pucat, dan tangannya yang menyentuh daguku sedikit agak hangat...

Apa dia sedang sakit...?

"Kenapa Kau menghindariku Caku-Chan...?"

Aku hanya terdiam, tidak merespon. Dan tatapannya...

"Apa kau marah dengan tindakanku malam itu Caku-Chan...?"

Aku menunduk, entah kenapa dadaku semakin sakit melihat tatapannya. Tidak ada lagi cengiran rubah yang biasa terlukis di wajahnya, tergantikan dengan tatapan terluka dari Shaphirenya.

Tapi yang bisa aku lakukan hanya diam, sekilas bayangan Sasuke melintas di benakku.

"Maafkan Aku Caku-Chan..."

Dia terlihat menundukkan kepalanya, dan hatiku semakin terasa sakit melihatnya begini.

"Naruto..."

Dia mengankat kepalanya lalu memaksakan untuk tersenyum. Dengan pelan aku menggenggam tangannya lalu tersenyum menenangkan, entah untuknya atau justru untukku.

Hangat...

"Apa kau demam?"

Kulihat wajahnya semakin pucat dan tangannya, terasa hangat sekali.

"Entahlah..."

Dengan pelan aku menyentuh keningnya, dan aku membelakkan mataku.

Panas sekali!

Kenapa dia bisa beraktivitas disaat suhu tubuhnya mencapai lebih dari 38 derajat.

Sekarang giliranku untuk menariknya, tidak ke gedung belakang kampus ini seperti yang dia lakukan, tapi aku menariknya ke ruang kesehatan yang tidak jauh dari sini, dia tetap saja seperti yang dulu. Ceroboh...

"Bodoh..."

.

.

.

.

.

Sakura tidak menyadari pandangan yang begitu menusuk dari kejauhan, terus menatap mereka dengan tajam. Tangannya terkepal erat, menunjukkan bahwa dia sedang sangat marah kali ini.

"Ck, Teman?"

.

.

.

.

.

To Be Continue

Tatsuya's Wife note: Dan berakhir dengan tingkat ke GAJE an yang mulai kronis(?) O.o #PLAK

Disini Porsi Sasusakunya hanya sedikit O.o #nunjuk2 keatas

Hehe #di bunuh

Tapi tenang, reader di Chap selanjutnya saya akan menampilkan Sasusaku lebih banyak Lagi hahaha XD

Baiklah, supaya tidak terjadi penularan Virus Gaje yang semakin akut (?)

Seperti biasanya saya meminta Saran, masukan, dan bimbingannya Minna... dan hal itu dapat dituangkan kedalam sebuah bentuk REVIEW XD #PLAK

ありがとう ございます みんな。。。XD