Bagaimana jadinya bila DraMione dkk berada di Indonesia dan menjadi penganut agama Islam?
Untuk menyambut bulan Ramadhan, author mempersembahkan fanfict Islamic.
Tidak mengandung unsur rasisme.
-o0o-
Title : The Beautiful Thing I've Ever Known
Pairing : DraMione, tapi mungkin akan ada cinta segitiga atau segiempat(?) bersama tokoh lain
Disclaimer : Bunda J.K. Rowling always. Tetapi ide dan cerita pure milik author
Rated : T
WARNING!
Karena author merubah total (mungkin) karakter sebagian tokoh, maka author akan menjelaskan watak pemikiran author sendiri.
Hermione : Pendiam, sholehah, pandai, rajin, tetapi entah mengapa sangat benci & ketus hanya kepada Draco
Draco : Tidak terlalu intimidatif, pantang menyerah, pandai, dan terobsesi dengan Hermione
Harry : Cool, pendiam, tapi mempunyai sisi buruk yang akan terungkap di pertengahan fict
Ginny : Genit, centil, suka cari perhatian, dan plin-plan
-o0o-
Happy reading, and-don't forget to RnR please... :D
Hening. Draco dan Hermione sama-sama duduk terdiam. Bahkan, Draco, yang biasanya mencari perhatian kepada Hermione, sekarang hanya diam seribu bahasa dan sesekali melirik ke arah gadis di sampingnya yang sedang serius membaca itu. Tetapi sebenarnya Hermione tidak sungguh-sungguh membaca, pikirannya terasa kacau semenjak Harry menyatakan cintanya tadi pagi.
Di sisi lain ruangan, gadis-gadis sedang berkumpul untuk menggunjing. Ternyata—entah bagaimana caranya—berita tentang Harry yang menyatakan cinta kepada Hermione sudah menyebar begitu cepat ke seluruh sekolah.
"Hei, Hermione." panggil Katie Bell dari ujung ruangan.
Hermione menoleh ke arah Katie sembari tersenyum. Draco pun ikut menoleh, mencari tahu apa yang terjadi.
"Kenapa kau tak terima saja cinta Harry? Beruntung sekali, lho, punya kekasih yang terkenal, tampan, pintar, pokoknya perfect, deh." Teriak Katie.
Tanpa sadar, tangan Draco mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menggebrak meja dengan tinjunya sebelum pergi meninggalkan Hermione sendirian di bangkunya. Entah kenapa ia merasa marah dan gelisah semenjak mendengar percakapan Harry dan Hermione di UKS tadi. Apakah ini yang dinamakan cemburu? Entahlah.
Bahu Draco sakit lantaran ia tak sengaja menabrak seseorang yang tengah berpapasan dengannya. Ia tidak mendongak ataupun berbasa-basi meminta maaf kepada orang itu, ia bahkan tak tahu gerangan siapa yang menabraknya. Sebelum...
"Oh, kau lagi, Manusia-Tanpa-Sopan-Santun." Cemooh Harry di telinga Draco.
Mata abu-abu dingin Draco menatap Harry dengan sinis. Kenapa Harry tiba-tiba muncul saat ia sedang marah dengan kejadian tadi?
Draco hanya memandang Harry lewat ujung iris abu-abunya yang menyipit.
Harry terkekeh, ia menepuk pelan pundak Draco dan meremasnya dengan kuat. "Kulihat, kau selalu membuntuti Hermione kemanapun ia pergi. Apa kau er—menyukai Hermione juga, eh?" goda Harry, mencoba memancing emosi Draco.
"Bukan urusanmu, Potty." Ejek Draco, jelas, karena Potty berarti Pispot.
Sebelum Harry bisa membalas Draco dengan tinjunya, seorang pemuda berambut merah, berwajah tolol, dan terdapat bintik-bintik di pipinya, berteriak-teriak sembari berlari ke arah Harry dan Draco. Pemuda itu bernama Ron Weasley, sahabat karib Harry Potter sekaligus kakak Ginny Weasley.
"Eh, Harry. Sedang apa kau disini bersama—er... kau anak kelas dua, kan?" tanya Ron dengan tampang tidak tahu apa-apa kepada Draco dan Harry yang saling mengepalkan tinju.
Tanpa menjawab pertanyaan Ron, Draco memutuskan untuk melanjutkan langkahnya. Ia sedang malas berurusan dengan orang-orang yang tak berguna menurut pendapatnya.
Bunyi pantulan bola basket menggema memenuhi lapangan. Draco sedang mencoba kemampuan bermain basketnya di tengah-tengah waktu pelajaran. Lagipula, saat ini Professor Binss, guru sejarah, tidak hadir dikarenakan sakit. Jadi, Draco bisa melakukan apapun semaunya—termasuk bermain basket daripada duduk bersebelahan dengan Hermione.
Hati Draco masih saja kalut, sampai-sampai berdampak pada permainannya. Berkali-kali ia mencoba untuk memasukkan bola ke arah keranjang basket, namun berkali-kali pula gagal. Karena merasa kesal, Draco membanting bolanya dan memutuskan untuk duduk-duduk beristirahat di bangku tepi lapangan basket—persis dimana tempat Hermione duduk tadi.
Ia mengelap keringat yang bercucuran di dahinya menggunakan dasi abu-abunya. Mata abu-abu dinginnya terpejam, merasakan desiran angin yang membuatnya terasa lebih sejuk. Bayangan Harry dan Hermione masih bermunculan seperti kaset yang diputar ulang. Percakapan mereka pun masih sering terngiang di kepala Draco, membuatnya semakin kesal.
Tangannya meremas rambut pirangnya, mencoba mengusir bayangan itu keluar dari kepalanya. Namun semakin Draco ingin menghilangkannya, semakin jelas pula bayangan itu di kepalanya.
Hermione melamun. Ia tidak memperhatikan jalanan yang ia lewati. Otaknya masih bingung dengan perubahan sifat Draco, apa karena Draco mendengar percakapannya dan Harry sehingga—er... dia cemburu? Tunggu, cemburu? Bagaimana bisa Hermione berpikiran bahwa Draco menyukainya?
Dampak dari lamunan Hermione terjadi. Gadis itu tak sengaja menabrak motor besar yang sedang berhenti. Jelas, bukan motor itu yang jatuh, tapi Hermione. Sampai-sampai gadis itu terjungkir ke arah pohon-pohon teh. Pengendara sepeda itu turun dari motornya dan berlari menghampiri Hermione dengan masih tanpa membuka penutup helmnya.
Seragam Hermione kotor, telapak tangannya terluka, dan wajahnya kotor terkena tanah. Ia merasa malu kepada pengendara motor itu. Dan—ia jadi bertambah malu ketika sang pengendara itu membuka penutup helmnya. Ternyata orang itu adalah Draco Malfoy.
Mata Hermione berkaca-kaca hendak menangis. Sakit dan malu bercampur jadi satu. Draco memandang Hermione dengan dingin tetapi tersirat rasa kasihan di mata abu-abu dinginnya. Tangan pemuda itu mengambil sebuah sapu tangan hijau dari dalam saku jaketnya dan memberikannya kepada Hermione.
"Bersihkan wajahmu dari tanah pakai ini. Aku tak mau menyentuhmu." Ujar Draco dengan suara sedikit bergetar.
Tangan Hermione yang terluka mengambil sapu tangan yang diulurkan Draco, ia membersihkan wajahnya sesuai perintah Draco. "Maaf." Bisik Hermione dengan suara bergetar. "Tadi itu salahku, aku tidak memperhatikan jalan sehingga—sehingga—aku menabrak motormu. Apa—Apa ada yang rusak?"
Draco menoleh ke arah motornya yang kelihatan baik-baik saja. Ia menggeleng kepada Hermione. "Tidak." Ujarnya enteng. "Kau bodoh sekali, kenapa harus meminta maaf? Bukannya yang terluka itu kau?" bentak Draco.
Hermione terdiam. Ia mencoba untuk berdiri, namun terjatuh lagi lantaran lututnya juga ikut terluka dan mengeluarkan darah yang lumayan banyak. Draco mendecih dengan sebal.
"Biar kuhantar kau sampai ke rumahmu."
Mata Hermione terbelalak mendengar ucapan Draco. Ia terdiam sejenak, menimbang-nimbang tawaran Draco.
"Jangan berfikir bodoh dan nekat, Granger." Decak Draco.
Akhirnya, dengan malu-malu, Hermione mengangguk meng-iya-kan. "Ta-Tapi bagaimana dengan sepedaku?"
"Kau simpan saja di dekat pohon itu, nanti akan kuambilkan dan kuhantar ke rumahmu. Sudahlah—tak akan ada yang mau mencuri sepeda bututmu itu." Kata Draco dengan dingin.
Hermione mengerucutkan bibirnya dengan sebal, namun ia setuju dengan Draco. Ia pun berdiri perlahan dan berjalan dengan terpincang-pincang mengikuti Draco. Dengan hati-hati, ia naik ke motor Draco, namun tak berani berpegangan pada apapun.
Sesampainya di rumah, Hermione turun dibantu oleh Ibunya. Ia mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Draco, namun Draco tidak mendengarkan. Ia terpaku ke arah gubuk reyot Hermione yang—menurut Draco—bisa roboh sewaktu-waktu. Ia tidak menyangka, gadis sepintar dan secantik Hermione tinggal di dalam gubuk seperti ini.
"Er... Draco," panggil Hermione yang dipapah oleh Ibunya, "apa kau mendengarkanku?"
"Oh—ya—er... sama-sama. Aku—Aku akan kembali untuk mengambil sepedamu dulu. Assalamu'alaikum."
Setelah berpamitan kepada Hermione dan Ibunya, Draco pun langsung menancap gas menuju tempat sepeda Hermione tadi berada. Ia hanya tidak menyangka, gadis yang cantik, pandai, rapi, dan rajin itu ternyata anak orang yang tidak punya. Terbesit rasa kasihan di hati Draco. Pantas saja barang-barang Hermione begitu usang dan tua.
"Kek, apa kakek tahu keluarga Granger?" tanya Draco ketika sedang bersantai di belakang rumah bersama kakeknya, Abraxas Malfoy.
Mr Abraxas menurunkan cangkir kopinya dan mengangguk singkat. "Ya, Draco. Mereka adalah keluarga yang amat baik kepada penduduk desa yang lain, bahkan, Mr Granger, kenal akrab dengan kakek. Memangnya ada apa?"
Draco tersenyum kecil sembari menggeleng. Ia terdiam sejenak, sebelum bertanya lagi, "Uhm... apa kakek mengenal anak perempuannya?"
"Oh, ya. Hermione Granger, kan? Ya, kakek kenal baik dengan gadis cantik itu. Ada apa?" tanya Mr Abraxas mulai curiga kepada Draco.
"Er—tidak ada apa-apa, kek. Hanya ingin tahu. Apa—Apa kakek tahu kegiatan Hermione apa saja di kampung ini?"
"Sebenarnya tidak tahu-tahu amat, tapi—setahu kakek—ia aktif ikut Remaja Masjid, mengajar anak-anak mengaji di Masjid pada sore hari, ia juga aktif ikut pengajian-pengajian yang sering diadakan di Masjid. Yeah—dia anak yang baik dan sholehah. Kakek takjub kepadanya."
Mendengar jawaban kakeknya, tanpa sadar bibir Draco melengkung membentuk senyuman malu-malu. Ia dapat merasakan bahwa pipinya sekarang memanas.
"Kakek tidak heran," Mr Abraxas melanjutkan, "jika banyak pemuda yang pernah melamar gadis itu."
Draco tersedak serpihan biskuit yang ia kunyah ketika mendengar perkataan kakeknya. Banyak yang telah melamar Hermione? Hell, ia mengira bahwa saingannya hanyalah Harry Potter, namun ternyata...
"APA?" Draco berteriak, membuat kakeknya tersentak kaget, "ba—banyak? Banyak?" seketika tubuh-tubuh Draco terasa rontok dan lemas. "Kalau begitu, hantarkan aku untuk melamarnya, kek." Ucap Draco tanpa ia sadari.
Mr Abraxas tersenyum jahil ke arah cucu kesayangannya itu. "Aha, ternyata kau menyukai gadis itu, eh Draco?"
Baru saja menyadari apa yang ia katakan, Draco sesegera mungkin membekap mulutnya. Ia merasa malu telah berkata jujur kepada kakeknya akan keinginan yang terbesit di benaknya.
Mr Abraxas tertawa ringan melihat tingkah cucunya. "Aku berjanji akan menghantarkanmu untuk melamarnya, tapi—setelah kau lulus dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena jika tidak, mau kau nafkahi apa Hermione dan anak-anakmu kelak jika kau tidak bekerja, eh?" Mr Abraxas terkekeh.
"Ta—Tapi, kek, bagaimana jika ada seseorang yang mendahuluiku melamar Hermione?"
"Tidak akan." Ucap Mr Abraxas mantap. "Aku yakin Allah sudah mengatur semuanya. Berdoa saja supaya keinginan dan usahamu terkabul, Draco."
Sore harinya selepas menggantikan Hermione untuk mengajar mengaji di Masjid, Ginny datang menjenguk Hermione, namun dengan wajah sedikit iri. Berkali-kali Ginny bertanya kronologi jatuhnya Hermione sampai saat ia dihantar Draco sampai ke rumahnya. Hermione sedikit curiga bahwa Ginny cemburu dan—mungkin saja—sebal kepadanya.
"Enak sekali, kau bisa dihantar pulang sama Draco." keluh Ginny terus menerus dengan mengerucutkan bibirnya sehingga hampir menyerupai paruh bebek.
Berkali-kali Hermione menghela nafas ketika Ginny menyebutkan keluhan-keluhan itu lagi. "Tapi, Gin, bukannya kau juga pernah dihantar oleh Draco waktu kita pulang dari Masjid tempo hari?"
"Siapa bilang? Draco tidak jadi menghatarku pulang. Ia berdalih kalau motornya sedang rusak. Jadi—ya... aku jalan kaki sendiri." Ucap Ginny dengan suara bergetar menahan tangis lantaran sakit hati.
Hermione mendengus keras-keras, merasa kesal kembali kepada Draco karena menyampakkan Ginny. "Baiklah, Gin, besok akan kumarahi habis-habisan waktu di Sekolah. Dasar pirang, bisa-bisanya dia mencampakkan sahabatku yang paling cantik ini."
Ginny memeluk Hermione erat-erat. Setelah sekian detik mereka berpelukan, Ginny pamit hendak pulang karena hari mulai gelap. Setelah bersalaman dengan Mr dan Mrs Granger, ia pun segera berjalan menuju rumahnya.
Di tengah perjalanan, Ginny tak sengaja melihat Draco Malfoy berhenti dengan muka bimbang, tangannya memegang sebuah bingkisan yang dibungkus oleh kantong kresek berwarna hitam. Berkali-kali pemuda itu berjalan maju-mundur tanpa alasan yang jelas.
Merasa tak ingin kehilangan kesempatan, Ginny segera merapikan hijab dan bajunya—yang sebenarnya sudah rapi sangat—dan segera berjalan menghampiri Draco.
"Hai, Draco." sapa Ginny dengan sok malu-malu. Ia menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kanan-kiri dengan centil.
Draco hanya menanggapi sapaan Ginny dengan tersenyum tipis. Ekspresinya kembali bingung.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Ginny.
Draco menunduk menatap Ginny—yang tingginya tak lebih dari sebahunya. "Oh—ya... uhm... begini, bisa kau hantar aku ke rumah Hermione?"
DEG! Hati Ginny merasa tertohok. Dia sudah berharap lebih, namun ternyata Draco meminta bantuan untuk menemaninya ke rumah Hermione, sahabatnya. Dada Ginny terasa nyeri akibat ia menahan tangisannya. Dengan mengangguk pelan, ia bersedia membantu Draco—meskipun hatinya begitu berat. "Selesai sholat maghrib, akan kuhantar. Kita bertemu disini saja."
"Assalamu'alaikum." Ucap Draco sembari mendorong pelan pintu kamar Hermione, ditemani oleh Ginny dan Mrs Granger.
Namun tak terdengar jawaban dari dalam kamar Hermione. Ternyata, Hermione sedang tertidur pulas dengan masih mengenakan mukena. Sepertinya gadis ini baru saja menyelesaikan ibadah sholat maghribnya dan tertidur dengan masih mengenakan mukena. Tangannya memegang sebuah tasbih berwarna hitam yang berkilau tertimpa cahaya dari luar jendela yang terbuka lebar.
Mrs Granger maju menghampiri Hermione untuk membangunkannya, namun Draco mencegahnya. Ia tidak tega mengganggu Hermione dari tidurnya. Maka ia memutuskan untuk memberikan bingkisannya kepada Mrs Granger dan pamit pulang, disusul oleh Ginny setelahnya.
"Apa kau mengenal Hermione sangat dekat?" tanya Draco kepada Ginny di tengah-tengah perjalanan pulang mereka.
"Uhm... yeah, aku sahabat Hermione dari kecil. Me—Memangnya kenapa?"
Draco menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari tersipu. "Well, uhm... apa kau bisa memberitahuku bagaimana Hermione? Maksudku kepribadiannya atau semacamnya." Tanya Draco penuh harap.
"Oh, dia?" kata Ginny dengan dingin, "yeah... seperti itulah, Hermione."
Dahi Draco mengkerut, tak tahu apa yang tengah dimaksud oleh Ginny. "Seperti itu bagaimana?"
Namun langkah Ginny terhenti. Bibirnya mengkerut dan sepertinya ia hendak menangis. "SUDAHLAH! JANGAN TANYA-TANYA PASAL HERMIONE LAGI. AKU MUAK MENDENGAR KAU SELALU MEMBAHAS HERMIONE, HERMIONE, DAAANN... HERMIONE. KENAPA KAU SELALU MEMBICARAKANNYA? APA TIDAK ADA TOPIK LAIN DI HIDUPMU SELAIN HERMIONE?" bentak Ginny dalam satu tarikan nafas, hampir sama seperti Hermione ketika marah.
Bibir Draco menganga bodoh. Ia tak menyangka akan dibentak oleh Ginny seperti itu. "Ya—memangnya kenapa jika aku terus menerus membahas tentang Hermione? La—Lagipula, apa salahnya?"
Tanpa diperintah, Ginny berlari meninggalkan Draco berdiri sendirian di tengah jalan. Pemuda itu dapat melihat dengan jelas bahwa Ginny berusaha mengusap air matanya yang jatuh. Tetapi sungguh, Draco tetap tak mengerti kenapa Ginny tiba-tiba lari dan menangis seperti anak kecil. Draco pun menoleh kesana-kemari. Ia berpikir, mungkin saja Ginny lari dan menangis karena telah melihat hantu atau semacamnya. Maka tanpa basa-basi, Draco mempercepat langkahnya—takut akan hantu atau semacamnya.
"Assalamu'alaikum." Ucap Draco ketika memasuki rumah dengan terburu-buru seperti dikejar-kejar hantu.
Mr Abraxas yang tengah berkutat dengan radio tuanya, heran melihat Draco. "Wa'alaikumsalam. Ada apa, Draco? Kau—Kau seperti dikejar-kejar hantu saja."
Tiba-tiba Draco mengguncang perlahan bahu kakeknya. "Kek, apa ada hantu atau semacamnya di kampung ini?" tanyanya dengan sungguh-sungguh dan tegas.
Diam sejenak, kemudian tawa Mr Abraxas meledak tak tertahankan. Draco hanya menatap kakeknya dengan heran. "Kau seperti anak kecil saja, Draco. Kenapa kau bertanya begitu? Apa kau baru saja bertemu dengan hantu sehingga kau melangkah cepat-cepat untuk pulang ke rumah?" goda Mr Abraxas, yang masih tertawa geli.
"Tidak, kek, tentu saja aku tidak bertemu hantu atau semacamnya. Tapi aku heran dengan Ginny Weasley, ketika aku menanyakan hal tentang Hermione kepadanya, tiba-tiba saja ia berlari dan menangis seperti—seperti orang yang tengah melihat hantu. Jadi—ya... kukira dia melihat hantu." Jelas Draco dengan tampang polos seperti anak kecil yang baru saja menceritakan sesuatu kpada orang tuanya.
Mr Abraxas akhirnya berhenti tertawa. Ia menepuk pelan bahu Draco. "Kau belum peka juga tentang perasaan wanita." Ujarnya dengan sedikit terkekeh.
Dahi Draco berkerut, menandakan pria pirang itu tengah bingung akan pernyataan kakeknya. "Mak—Maksud kakek? Aku belum mengerti."
Senyuman meghiasi wajah keriput Mr Abraxas. "Yeah—apa kau belum mengerti, Draco? Nona Ginny Weasley, dia menyukaimu."
Mata Draco membulat sempurna lantaran mendengar penuturan kakeknya itu. Apa iya Ginny Weasley menyukainya? Tapi jika dilihat dari gaya centilnya setiap bertemu dengan Draco—masuk akal juga, sih.
Sekali lagi Mr Abraxas tertawa. "Kau bebas memilih wanita mana untuk menjadi istrimu kelak, Draco. Tapi ingat—jangan pernah sekalipun kau melukai perasaan gadis-gadis itu. Jika kau menyakiti perasaan mereka, itu sama saja dengan halnya kau menyakiti perasaan ibumu." Tutur Mr Abraxas dengan bijak. "Aku pecaya pada cucuku yang tampan ini." Sambung Mr Abraxas sembari berlalu.
Draco memandang punggung kakeknya yang berlalu dan menghilang di balik pintu kamarnya. Pikirannya jadi bimbang, apakah Hermione adalah jodohnya kelak?
Suara motor terdengar di depan rumah ketika Hermione tengah duduk di kursi reot sembari memakan sarapannya yang berupa singkong lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu depan. Ia mengernyitkan hidungnya dengan heran, siapa yang bertamu ke rumahnya pada pagi buta seperti ini?
Mrs Granger menyuruh Hermione untuk segera membukakan pintu, mengingat dirinya sedang membuat kopi untuk Mr Granger yang tengah memakan singkongnya sambil menatap televisi butut di hadapannya. Hermione menggeser kursinya dan dengan langkah yang perlahan, ia membukakan pintu.
Tampak pria berambut hitam berantakan tengah berdiri di depan Hermione, sebelah tangannya menenteng helm berwarna merah. Tubuh pria itu terbalut jamper merah-silver yang begitu serasi dengan helm dan motornya.
Hermione merasa gugup. Ia mempersilahkan Harry untuk masuk terlebih dahulu, namun pemuda itu segera menolaknya dengan halus. Sebaliknya, ia malah mengajak Hermione berangkat ke sekolah sekarang.
"Bagaimana? Sudah siap? Kemarin—aku mendengar dari Ron bahwa kemarin kau jatuh dan sepedamu agak rusak, benar?"
Hermione mengangguk singkat. Ia berfikir, pasti Ginny yang bercerita kepada Ron tentang kecelakaan kecil yang menimpa Hermione.
"Gara-gara cucu Kepala Desa, kan?" tanya Harry tiba-tiba.
Seperti sepasang cemeti yang memecutnya, Hermione segera menyanggah petanyaan Harry. "Bukan, kau salah faham. Itu salahku sendiri. Aku—Aku sedang melamun ketika melewati kebun teh yang menurun dan—tanpa sengaja—menabrak motor Draco yang tengah berhenti. Tentu bukan motor besarnya yang jatuh, tapi—aku." Jelas Hermione.
Ia tak ingin Harry salah faham kepada Draco.
Sepertinya Harry tidak yakin akan apa yang dibicarakan oleh Hermione, namun tetap saja ia mengangguk meng-iya-kan dan mengajak Hermione untuk segera berangkat.
Sesampainya di sekolah, bisik-bisik menyambut kedatangan Hermione yang dibonceng Harry. Gadis-gadis berkali-kali menunjuk Hermione terus terang sambil sesekali membisikkan-entah-apa kepada teman-temannya yang lain.
Hermione menunduk, namun Harry sebaliknya. Ia malah mengangkat dagunya dengan bangga dan berjalan berdampingan dengan Hermione. Sesaat, Hermione dapat melihat tubuh tegap Draco yang baru saja turun dari motornya. Jika ia tak salah lihat, iris abu-abu Draco terpancang ke arahnya dan Harry.
"Uhm... Harry. Se—Sebaiknya kau duluan saja." Kata Hermione sembari berhenti.
Harry berbalik memandang gadis itu dengan heran. "Kenapa? Ada apa? Apa kau malu berjalan berdampingan denganku?" tanya Harry dengan agak sinis.
"Tidak, tentu saja tidak." Hermione cepat-cepat menyanggah. "Tapi—hanya saja—aku tak mau ada gosip-entah-apa yang beredar di sekolah ini ketika murid-murid yang lain melihat kita berjalan berdampingan seperti sekarang."
Harry terdiam sejenak, menimbang-nimbang penuturan Hermione. Tetapi akhirnya—meskipun dengan berat hati—Harry mengangguk dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Hermione.
Pansy Parkinson dan teman-temannya mendatangi Hermione dengan lagak centilnya seperti biasa. "Hai, Granger. Gembira, eh? Sudah merasa paling cantik, paling kaya, gitu? Sehingga bisa mendapatkan Harry Potter yang tekenal?" ejek Pansy, disertai fake laugh dari kedua temannya.
Hermione melengos, ia melanjtkan jalan ke kelasnya saja daripada mendengar umpatan-umpata tidak penting gadis berwajah pug itu. Entah kenapa ia merasa malu jika disandingkan dengan Harry. Sadar, Hermione, kau bukan siapa-siapa. Kau tak pantas mendapatkan pria seperti Harry.
"Selamat ya, buat kalian berdua." Bisik seorang pria yang lewat mendahului Hermione. Rambut pirang Draco berkilau tertimpa cahaya matahari ketika pria itu menaiki tangga melewatinya.
.
.
.
-To Be Continue-
Assalamu'alaikum, Guys... ('-')/
Ketemu lagi di Chap 3 :D
Bagaimana yang satu ini? Lebih absurd kah? Atau... bagaimana?
Author merasa kurang maximal di chap yang ini :(
Langsung saja,
RnR, please...
Don't be Silent Readers, Guys! ;)
