Suara jeritan pilu terdengar menggema di kamar itu, si pemilik ekor terlihat berguling-guling di atas karpet kemudian duduk dan meniup-niup ekornya yang terasa ngilu.
Pelaku penginjakan ekor itu sudah menghilang dari kamar ketika Woojin sibuk berguling-guling tadi. Saat ini si pelaku sudah berada di dalam kamar mandi, sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja.
"Apa benar orang seperti dia itu mateku?! Aish!"
.
.
.
Lost and Found
Chapter 3
.
.
Produce 101/Wanna One Fanfiction
Romance, Humor, Fantasy, Catboy!AU, Yaoi
Main!Jinseob couple
Park Woojin 23 y.o
Ahn Hyungseob 21 y.o
Rating: T++ to M
.
.
Happy Reading! –Buttermints-
.
.
.
Seorang pria bersweater hitam tampak berlari memasuki pintu belakang cafe dengan rambut yang berantakan serta wajah yang dipenuhi oleh peluh. Kaki-kakinya segera ia langkahkan menuju locker room untuk mengganti bajunya dengan seragam cafe.
"Ah, good morning Seobie-hyung!" Tampak seorang lelaki bersurai golden blond berjalan melewati locker room dengan sebuah box berisi buah di tangannya.
"Morning Daehwi!" Jawabnya seraya mengaitkan kancing kemejanya dengan tergesa, merapikan sedikit rambutnya, kemudian segera keluar dari locker room menuju meja kasir.
Suasana cafe sudah terlihat cukup ramai, satu-persatu pengunjung mulai memasuki cafe yang sudah buka sejak 15 menit yang lalu. Pagi hari memang menjadi salah satu waktu teramai cafe ini selain pada waktu lunch dan dinner. Selain karena menu-menu yang selalu fresh dari dapur, pegawai-pegawai yang semuanya berwajah tampan menjadi daya tarik terbesar cafe ini.
Hyungseob tampak memperhatikan Dongho yang sedang melayani satu pelanggan di meja kasir. Ketika si pelanggan sudah selesai dengan pesanannya, ia segera menghampiri pria bertubuh kekar itu.
"Maaf aku terlambat hyung!" Lelaki bersurai hitam itu membungkukkan tubuhnya berkali-kali.
"Ah, Hyungseob! Ku pikir kau tidak datang karena kelelahan dengan shiftmu semalam." Dongho terlihat mengembangkan senyumnya, tangannya menepuk-nepuk pelan bahu Hyungseob. "Tak apa Seob-ah, sebenarnya hari ini kau boleh ijin tidak masuk karena sudah menggantikan shift Jinyoung semalam. Aku bisa menjadi kasir untuk sehari."
Kepala Hyungseob menggeleng cepat. "Tidak hyung! Aku akan tetap bekerja hari ini."
"Baiklah, tapi jika nanti kau merasa lelah atau semacamnya, kau bisa bilang padaku." Anggukan patuh Hyungseob membuat pria kekar itu kembali menyunggingkan senyum. "Aku akan kembali ke dapur, selamat bekerja."
Hela napas lega keluar dari bibir Hyungseob ketika Dongho sudah menghilang dari pandangannya. Ia lalu segera menempati posisinya di balik meja kasir.
"Untung saja hyung tidak marah." Gumamnya seraya menduduki kursinya, menunggu pelanggan lain datang. "Ini semua gara-gara si Woojin sialan itu!"
Raut wajahnya berubah menjadi sebal ketika ingatan tentang kejadian yang membuat ia terlambat kerja kembali berputar di kepalanya.
.
.
Hyungseob tampak merapikan rambutnya di depan kaca wastafel, senyuman puas tersungging di wajah manisnya. Dia baru saja selesai mandi dan mengganti kaosnya dengan hoodie hitam yang sudah dia siapkan tadi. Matanya kemudian melirik jam kecil yang tertempel di dinding kamar mandinya.
"Jam 7 pagi, satu jam lagi sebelum cafe dibuka. Ah, sebaiknya aku segera sarapan dan berangkat."
Setelah memeriksa kembali tampilannya di kaca, ia segera berjalan keluar dari kamar mandi diiringi senandung kecil yang keluar dari bibirnya. "Ya, Woojin aku akan berangkat bekerja, kau–" Seketika ucapannya berhenti dengan tangan yang masih memegang kenop pintu kamar mandi yang baru saja ditutupnya.
Matanya membola melihat keadaan kamarnya yang terlihat seperti kapal pecah. Ranjangnya terlihat mengenaskan dengan bedcover yang sudah terlepas dari bednya, bantal serta bonekanya sudah tergeletak tak berdaya di lantai berikut dengan koleksi komiknya. Bungkus snack kosong tampak bertebaran di atas karpet yang kini tengah diduduki oleh sosok bersurai cokelat kemerahan, dan sosok itu tampak mengunyah sesuatu di dalam mulutnya.
"A– APA YANG KAU LAKUKAN PADA KAMARKU?!"
Sekali lagi sebuah teriakan keras terdengar di rumah itu. Woojin yang tadinya sedang fokus memakan Cheese Rings seketika menolehkan kepalanya ke arah Hyungseob. Lalu sebuah cengiran tidak bersalah muncul di wajahnya.
"Aku kelaparan, jadi aku sedikit berkeliling di kamarmu dan menemukan semua ini." Ucapnya seraya kembali memakan Cheese Rings yang tersisa. "Ah, tadi aku mencoba untuk menggunakan kedua kakiku untuk berjalan, sayangnya aku terjatuh dengan berpegangan pada ranjangmu hingga membuat bedcovernya sedikit lepas."
Jemari Hyungseob memijat keningnya perlahan. 'Belum sampai setengah hari dia disini tapi dia sudah menghancurkan kamarku dan tidak ada sedikitpun rasa bersalah di wajahnya!' Suara geraman kesal keluar dari bibirnya.
Kedua netranya kembali menatap Woojin yang masih belum selesai dengan acara makannya. Ingin rasanya Hyungseob menjatuhkan lelaki itu dari balkon kamarnya saat ini juga, namun ia tidak mau menjadi buronan polisi karena sudah membunuh orang lain.
'Sekarang lebih baik aku segera memberikannya baju, membereskan semua kekacauan ini, lalu berangkat kerja. Aku akan mengurus orang menyebalkan itu nanti.'
Tanpa menunggu lagi, ia segera berjalan ke lemarinya dan memilih beberapa baju yang dirasa muat di tubuh woojin. Akhirnya ia menemukan sebuah sweater dan celana pendek berbahan kain berukuran besar di tumpukan baju paling bawah. Kemudian ia menghampiri Woojin yang masih terduduk di lantai.
"Pakai ini."
Hyungseob melemparkan sweater dan celana itu ke sebelah Woojin, lalu ia segera membereskan segala kekacauan di kamarnya tanpa menunggu komentar dari lelaki bersurai cokelat kemerahan yang kini tengah memandangi benda di sebelahnya.
"Aku tidak mau pakai celana."
Pernyataan yang dilontarkan Woojin seketika membuat Hyungseob menghentikan pekerjaannya, ia menolehkan kepalanya ke arah Woojin yang sedang memandangi celana berwarna abu-abu ditangannya. Kemudian sebuah perempatan kecil khas tokoh kartun yang sedang kesal muncul di dahi Hyungseob.
"Ya! Kau pikir aku sudi melihat pantat telanjangmu dengan mata suciku sepanjang hari?!"
"Kau bisa lihat yang lain, bagian depan misalnya." Woojin menyeringai.
Rona kemerahan seketika muncul di pipi Hyungseob dengan kurang ajarnya.
'What the...'
Hyungseob mengumpat dalam hati, ia segera melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat terhenti dan berusaha mengabaikan Woojin yang kini tengah menatapnya dengan tatapan menyebalkan. 'Tunggu saja pembalasanku nanti kucing jelek.' Ucapnya dalam hati.
Pekerjaan membersihkan kamar itu selesai dalam waktu 30 menit. Hyungseob mendesah puas melihat keadaan kamarnya yang kini kembali seperti sedia kala. Tak sengaja sepasang netranya menangkap angka yang tertera pada jam dinding, seketika matanya kembali membola.
"Setengah 8?!"
Suara pekikan terdengar dari bibir Hyungseob, ia segera menyambar tas ransel di atas meja belajarnya dan bergegas melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu, namun sepasang tangan yang tiba-tiba menyambar kakinya membuat lelaki bersurai hitam itu menghentikan langkahnya.
"Aku ikut."
Hyungseob menundukkan kepalanya dan menemukan Woojin yang kini sudah memakai sweater pemberiannya tadi tengah memegangi sebelah kakinya dengan kedua tangan.
"Bukannya tadi kau bilang tidak bisa jalan?"
"Aku bisa merangkak."
Hyungseob memutar matanya, 'Dasar keras kepala.' Pikirnya.
"Kau akan menghebohkan seluruh penjuru kota dengan ekor dan telinga kucingmu itu. Lagipula merangkak di tengah keramaian itu bukanlah pilihan yang bagus."
"Aku bisa menyembunyikan telingaku dengan topi dan ekorku kuselipkan dalam celana. Jadi, biarkan aku ikut."
Sebuah perempatan kecil kembali muncul di dahi Hyungseob. "Tidak."
Woojin menggeram kesal karena Hyungseob tidak mengijinkannya ikut ke cafe tempatnya bekerja. "Baiklah, aku akan tinggal. Tapi kau harus janji satu hal."
Dahi Hyungseob berkerut. "Janji apa?"
"Kau tidak boleh terlalu dekat dengan lelaki atau perempuan manapun."
Kekesalan Hyungseob semakin bertambah ketika mendengar pernyataan yang baru saja dilontarkan Woojin. 'What?! Memang dia pikir dia siapa? Kekasihku?!'
"Memangnya kenapa? Aish, aku dekat dengan siapa saja bukan urusanmu."
Tatapan mata Woojin yang semula lembut berubah menjadi tajam setelah mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Hyungseob. Seketika tubuh lelaki bersurai hitam itu mematung ketika Woojin melayangkan tatapan tajam yang terasa memerangkap matanya.
'A– Apa ini?'
Hyungseob merasakan aura dominasi yang sangat pekat di ruangan itu, aura yang membuat dirinya tidak bisa menggerakkan tubuhnya satu inchipun, seakan-akan lelaki di depannya itulah yang mengatur segala gerak tubuhnya.
"Kau itu mateku, milikku.Tak ada seorangpun yang boleh menyentuhmu selain aku. Paham?"
Kalimat bernada tegas dan penuh penekanan itu masuk ke telinga Hyungseob, kepalanya mengangguk, tanda ia menyetujui pernyataan Woojin. Seketika tatapan tajam itu kembali melembut, senyuman manis kembali tersungging di wajah pria bersurai cokelat kemerahan itu.
"Pergilah, hati-hati di jalan." Woojin melepaskan pegangannya pada kaki Hyungseob.
Hyungseob kembali menganggukkan kepalanya kemudian berlari keluar dari kamarnya. Karena, pertama, ia sudah sangat terlambat bekerja dan kedua, ia ingin segera pergi dari hadapan Woojin karena detak jantungnya menjadi tidak normal ketika lelaki itu menatapnya tadi.
Rasanya aneh... benar-benar aneh...
.
.
"Hello, aku mau pesan." Ucap seorang pria yang kini tengah berada di depan meja kasir seraya mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah Hyungseob.
Hyungseob mengerjapkan matanya ketika suara itu menyapa gendang telinganya dan membuatnya tersadar dari lamunannya, kemudian segera berdiri dari kursinya. 'Ah sial! Kenapa aku jadi memikirkannya.'
"A– Ah maafkan aku." Tubuhnya membungkuk cepat. "Selamat datang, mau pesan apa?"
Pria di depannya itu tersenyum. "Satu slice Apple Pie dan Hot Cappucino makan ditempat. Kemudian satu Vanilla Latte ukuran sedang, dibawa pulang."
Jemari ramping itu dengan sigap mencatat semua pesanan si pelanggan di komputernya. "Kuulangi, satu slice Apple Pie, Hot Cappucino, dan satu Vanilla Latte ukuran sedang."
Pria di depannya tampak mengangguk-nganggukkan kepalanya.
"Semuanya 7500 won. Ah, atas nama siapa?"
"Joo Haknyeon." Jawab pria itu seraya meletakkan uang di atas meja kasir.
Hyungseob menuliskan nama Haknyeon di komputernya seraya memasukkan uang ke dalam mesin kasir. "Terimakasih Haknyeon-ssi, mohon menunggu sebentar. Pesananmu akan segera diantar." Hyungseob menyunggingkan senyuman khasnya ketika menyerahkan struk pemesanan kepada Haknyeon.
Haknyeon menganggukkan kepalanya dan membalas senyuman Hyungseob sebelum akhirnya beranjak dari meja kasir menuju salah satu meja yang kosong untuk menunggu pesanannya.
"Tampaknya lelaki itu menyukaimu."
Hyungseob terlonjak mendengar suara yang berasal dari belakangnya, ia menolehkan kepalanya seraya memegang dada kirinya. Pria yang baru saja menegur Hyungseob tertawa melihat ekspresi konyol Hyungseob.
"Astaga Jisung-hyung! Aku tidak ingin mati muda karena serangan jantung! Aish."
"Lebih baik kau lihat lelaki yang baru saja memesan menu." Pria bernama Jisung itu menolehkan kepala Hyungseob ke arah Haknyeon yang sialnya sedang menatap tepat ke arahnya. "Dia sering datang kemari dan selalu memperhatikan dirimu yang sedang bekerja."
"Kau berlebihan hyung. Di tempat ini ada banyak orang selain aku." Hyungseob memutar matanya mendengar pernyataan Jisung, salah satu biang gosip di cafe ini.
"Ya! Pengamatanku ini tidak mungkin salah eoh! Kau lihat buktinya sekarang, dia sedang menatapmu." Balas Jisung menggebu-gebu.
Helaan napas keluar dari bibir yang terlihat puffy itu. "Bisa saja dia tidak sengaja, atau bahkan dia sedang menatapmu yang saat ini tengah berkelakuan aneh. Ah! Sakit hyung!"
Hyungseob memekik ketika dahinya mendapat jitakan yang sayangnya tidak pelan dari Jisung. "Kau harusnya bersyukur disukai oleh lelaki tampan sepertinya."
"Yatuhan... Kembalilah keasalmu hyung!" Hyungseob mendorong punggung Jisung ke arah dapur, kemudian kembali ke posnya, di meja kasir.
Jemari Hyungseob bergerak memijit pelipisnya yang sedikit pening akibat menanggapi orang-orang yang bersikap aneh hari ini. Mulai dari Woojin si manusia kucing, lalu Jisung-hyung penyandang ratu gosip di cafenya, setelah ini entah siapa lagi yang akan bertingkah menyebalkan padanya.
"Seobie-hyung, tolong antarkan pesanan ini ya... Aku harus menuntaskan panggilan alam yang sudah tidak bisa kutahan lagi."
Pria yang sedang membawa nampan itu terlihat meloncat-loncat kecil seraya menggigiti bibirnya, berusaha menahan sesuatu yang akan keluar.
Hyungseob segera menerima nampan itu. "Cepat cepat! Sebelum keluar disini!". Pria dengan nametag bertuliskan "Euiwoong" itu mengangguk dan segera berlari ke bagian belakang cafe.
"Ada-ada saja, untung belum keluar disini." Hyungseob menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian berjalan meninggalkan meja kasir untuk mengantarkan pesanan kepada pelanggan.
"Meja nomor 7." Ia bergumam seraya mencari-cari nomor meja pemilik pesanan itu. Matanya menangkap papan kayu kecil yang bertuliskan angka tujuh di atas meja yang sedang ditempati oleh orang yang disebutkan oleh Jisung tadi.
Orang bernama Haknyeon itu tengah menatap Hyungseob yang saat ini sedang berjalan ke arahnya, ia lalu tersenyum ketika Hyungseob sampai di depan mejanya.
"Apple Pie dan Hot Cappucino." Perlahan piring dan cangkir dipindahkan ke atas meja. "Vanilla Latte bisa di ambil di counter sebelah kasir nanti, selamat menikmati." Hyungseob membungkukkan badannya kemudian beranjak pergi dari situ.
"Ah, tunggu!" Dengan sigap Haknyeon meraih tangan Hyungseob, mencegahnya agar tidak pergi. Hyungseob membalikkan tubuhnya kembali menghadap Haknyeon.
"Umm... ada lagi yang bisa kubantu?"
"Apa aku boleh tahu namamu? Kau... tidak memakai nametag seperti yang lainnya."
"Ah, namaku Ahn Hyungseob, aku memang jarang memakai nametag saat bekerja." Jeda sejenak. "Jika tidak ada lagi, aku akan kembali bekerja, pelanggan lain menungguku."
"Kurasa tidak ada. Maaf telah mengganggu waktumu Hyungseob-ssi."
Ucapan lelaki itu hanya dibalas sebuah anggukan oleh Hyungseob, kemudian ia segera kembali ke meja kasir untuk melayani pelanggan lain yang sudah menunggu.
Lelaki bersurai cokelat menyunggingkan senyum lembutnya. "Ahn Hyungseob." Gumamnya seraya meminum Cappucinonya perlahan.
.
.
~Buttermints~
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 tepat, tandanya shift Hyungseob baru saja berakhir dan digantikan oleh Jinyoung. Pemuda bersurai hitam itu tengah mengganti seragam kerjanya di locker room, bersiap untuk pulang ke rumah dan beristirahat. Seketika ia teringat jika sesosok manusia kucing bernama Park Woojin saat ini sedang ada di rumahnya, sendirian.
"Semoga rumahku masih dalam keadaan utuh saat aku sampai nanti." Hyungseob mengemasi barang-barangnya dengan tergesa kemudian segera meninggalkan ruangan itu.
"Kau tampak terburu-buru, ada janji dengan seseorang?" Dongho menaikkan sebelah alisnya melihat Hyungseob yang sedang melangkahkan kakinya lebar-lebar.
"Aku ingin memastikan rumahku selamat dari kehancuran! Aku pulang dulu hyung!"
Sedetik kemudian tubuh Hyungseob sudah menghilang dari pandangan Dongho yang saat itu tengah memasang wajah bingungnya. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali melanjutkan kegiatannya mengangkat kardus berisi persediaan tepung ke dapur.
Hyungseob terlihat berlari keluar dari cafe, satu-satunya yang ia pikirkan saat ini adalah keselamatan rumahnya. Mungkin ia masih rela membereskan kamar yang berantakan seperti tadi pagi, namun jika seluruh isi rumahnya yang berantakan, sungguh Hyungseob tidak sanggup membayangkannya.
Beberapa kali tubuhnya menyenggol orang-orang yang berpapasan dengannya, namun Hyungseob tidak mempedulikan umpatan-umpatan kesal yang dilayangkan padanya. Rumah menjadi prioritasnya saat ini. Ia bersumpah jika sampai terjadi sesuatu pada rumahnya, ia akan mengubur Woojin hidup-hidup.
.
.
~Buttermints~
.
.
Napas Hyungseob terengah-engah ketika ia sampai di depan pagar rumahnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena lelah, ia membuka pagar rumahnya, kemudian melangkah masuk ke halaman rumah dan mengunci kembali pagar besi itu.
Helaian hitamnya terlihat menempel di dahinya yang berkeringat. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengipasi wajahnya yang dibanjiri oleh peluh. Hyungseob segera membuka pintu rumahnya yang memang sengaja tidak ia kunci, kemudian memasuki rumah itu dengan hati-hati.
Matanya mengedar ke sekeliling ruang tamu seraya melepaskan sepatunya.
'Ruang tamu selamat, semoga ruangan lainnya juga selamat.'
Hyungseob kembali melangkahkan kakinya untuk masuk lebih jauh ke dalam rumah. "Sepi sekali." Gumamnya, kepalanya menengok ke arah ruang tengah yang juga masih terlihat rapi, sama seperti sebelumnya. Ia kemudian melanjutkan langkahnya menuju dapur yang juga kosong.
"Ah kemana manusia kucing itu? Apa dia sedang tidur?" Ucapnya seraya membuka kulkas untuk mengambil sebotol jus, ia lalu mengedikkan bahunya. "Ah biar saja, lagipula kenapa aku harus mengurusi dia."
Hyungseob segera meneguk jus yang ada di tangannya.
"Kau mencariku?"
Seketika jus yang belum tertelan di mulut Hyungseob tersembur keluar dari mulutnya karena kaget dengan suara serta hembusan napas yang menggelitik telinganya. Dengan terbatuk ia menolehkan kepalanya dan mendapati Woojin yang tengah memunculkan cengirannya, tak lupa dengan ekor panjangnya yang bergerak-gerak aktif di belakang tubuhnya.
"K– Kau! Aish!" Hyungseob mendongak, menghadapkan wajahnya pada Woojin. 'Tunggu, bukankah Woojin bilang jika dia tidak bisa berdiri?' Ia menundukkan kepalanya mengamati kaki-kaki Woojin, kemudian matanya menangkap sebuah kruk yang sedang dipakai oleh Woojin.
"Darimana kau dapatkan tongkat kruk itu?"
"Ah ini? Aku menemukannya dibalik lemarimu. Jadi selama kau pergi tadi, aku belajar berdiri dengan tongkat ini, dan tada! Aku sudah bisa sedikit menggunakan kakiku."
Tongkat itu memang benar milik Hyungseob, dulu kakinya pernah terkilir cukup parah hingga harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Tapi tetap saja, Woojin tidak meminta ijin padanya untuk menggunakan tongkat itu.
Hyungseob mendengus. "Kau memakai barang orang tanpa ijin."
"Setidaknya kau tidak perlu repot-repot untuk membantuku berdiri, berterimakasihlah padaku karena aku sudah mau belajar berdiri secara autodidak."
"Ya ya, terserah kau saja." Jawab Hyungseob malas, ia membalikkan tubuhnya untuk kembali memasukkan botol ke dalam kulkas.
Suara pekikan meluncur dari bibir Hyungseob ketika ia merasa ada yang meremas sebelah pantatnya. Seketika ia menolehkan kepalanya pada pria bersurai cokelat kemerahan yang tengah menyunggingkan cengiran puasnya.
"Pantatmu lumayan juga. Aku suka itu."
"BERANINYA KAU BERLAKU TIDAK SENONOH PADAKU!"
Teriakan Hyungseob menggema di dapur berukurang sedang itu, disusul suara tendangan serta jeritan sakit dari Woojin.
"Akk! Ya! Ahk... masa depanku!"
Hyungseob meninggalkan dapur dengan menghentak-hentakkan kakinya, meninggalkan Woojin yang kini tengah menahan air matanya seraya memegang aset pribadinya yang baru saja mendapat tendangan manis dari Hyungseob.
.
.
TBC
.
.
Update update update hehe. Maafkan aku yang menyelipkan si Haknyeon dalam cerita ini XD. Sempet bingung mau nyelipin siapa dalam hubungan si Jinseob ini, dan akhirnya aku pilih Haknyeon setelah lihat foto dia yang lagi peluk Hyungseob.
Sekali lagi, aku ucapin terimakasih banyak buat yang udah ngefavorite, follow, dan review ff ini. Jangan bosen buat ngereview yaa, karena saran dan komentar kalian sangat membantu untuk kelanjutan ff ini.
Love
~Buttermints~
