Elsword belong to KoG

시간을달려서 (Rough) by 여자친구 (GFriend)

This story is mine

Warning : OOCness, AU, songfic(?), typos, alur kecepetan, agak panjang, dll.

Job Classes :

- Elsword (Calm,Dark,Fractious!Rune Slayer)

- Aisha (Elemental Master)

- Elesis (Blazing Heart)

- Rena (Wind Sneaker)

- Raven (Blade Master)

- Eve (Code Nemesis)

- Chung (Deadly Chaser)

- Add (Diabolic Esper)

- Ara (Yama Raja)

- Lu/Ciel (Noblesse / Royal Guard)

.

.

.

Happy Reading~


Semilir angin berhembus mengibarkan helaian rambut kesepuluh orang yang berdiri di atap saat ini, menambah suasana melankolis dan tegang diantara mereka. Manik amethyst itu sedikit membelalak, membalas tatapan yang sarat akan kesedihan terpancar dari manik ruby indah di hadapannya. Gadis bersurai ungu itu bingung, bibirnya ingin mengucap "ya", namun hatinya berteriak untuk mengatakan yang sebaliknya.

Dan kepalanya mulai sakit.

Amethyst itu bersembunyi sejenak, sebelum kemudian nampak kembali dengan sedikit air mata yang terlihat karena bias cahaya matahari yang sedikit mengintip dari balik awan. Menahan sengatan menyakitkan di hati dan kepalanya.

"Maafkan aku, aku... tidak mengingatmu." jawabnya dengan lirih. Aisha menundukkan kepalanya, takut dengan reaksi dari pemuda yang saat ini menjabat sebagai 'adik kelas'nya.

Elsword menarik napas panjang, mengisi paru-parunya yang serasa kosong, dan mengalihkan pandangannya ke langit biru yang menaunginya. Langit biru yang sedikit mendung. Sama seperti kondisinya saat ini, hanya saja hati Elsword sudah terjadi badai.

"Yah mau bagaimana lagi..." kekehnya, masih mendongak. "... salam kenal kalau begitu, Aisha. Aku Elsword, kelas 1-B." Mengulurkan satu tangannya untuk mengajak Aisha berjabat tangan, sambil nyengir lebar yang terlihat sangat dipaksakan sekali.

Aisha menatap sekilas tangan besar yang terulur itu, sebelum menjabatnya dengan tersenyum manis sampai sepasang matanya menyipit. "Salam kenal juga, Elsword. Ah, apa boleh kupanggil begitu? Rasanya tidak sopan–"

"Tidak tidak, panggil saja seperti itu, aku tidak keberatan." Asal kau tidak pergi lagi dariku, apapun akan kuiyakan untukmu mulai saat ini.

Masih berjabat tangan. Masih melempar senyum –dan cengiran–. Masih menikmati hangat dari tangan yang saling tertaut. Dan masih bergulat dengan segala macam perasaan yang membuncah di hati mereka.

Kedelapan orang yang lain sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

.

.

Setelah kejadian di atap, Elsword dan Aisha seperti sepasang teman dan senior-junior yang memang baru kenal. Tentu saja itu dilihat dari sisi Aisha. Dari sisi Elsword sendiri, ia seperti sedang merajut kembali kenangan-kenangan bersama Aisha, mulai dari nol. Meski hatinya sendiri tidak ikhlas. Sikap Elsword biasa, tidak terkesan buru-buru dan sangat tenang. Namun ada yang aneh, bocah merah itu sedikit menjauh, dan terkadang menghindari kontak fisik dan mata terhadap Aisha.

Jika ditilik dari sisi penonton, Aisha dan Elsword memang sering terlihat berjalan dan tertawa bersama, tapi itu bukan awal kebahagiaan mereka. Karena Elsword seolah bersikap itu adalah akhir dari semuanya, sementara dari Aisha itu adalah langkah awal untuk membangun hubungan mereka berdua. Entah sampai kapan hubungan seperti ini akan berlangsung.

.

.

"Els."

Gumaman terdengar.

"Elsword," yang memanggil mulai geram. Empunya nama angkat tangan sambil menggumam, "Hadir."

"Cebol!" seruan rendah nan jengkel terlontar kemudian.

"Apa, sih?!"

"SSSSSTTTTTT!"

Seketika itu juga bungsu Sieghart bangkit dari posisi tidur bertumpu kedua lengannya yang dilipat dan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan muka seraya melirik sengit sobat pirangnya.

Kekehan jahil terdengar kemudian. Disahuti dengan suara 'buk' agak keras. Kamus bahasa Inggris melayang menghantam kepala pirang rupanya. Belum sampai Chung membalas–

"Seperti biasa, duo onar selalu bikin ramai."

space lebar di samping Chung terisi oleh Rena dan –ini yang membuat Elsword langsung salah tingkah– Aisha. Rena mengucapkannya sambil menggelengkan kepala prihatin.

"Kau tidak perlu mengatakannya seolah kami sedang terkena masalah besar, Rena-senpai. Kami tidak se-memprihatinkan itu kok." cengiran tidak sampai mata terlihat di wajah rupawan sang pangeran Hamel.

"Tapi terbukti, kalian selalu membuat heboh dimana-mana." timpal Raven sarkastis yang sudah duduk nyaman di sebelah Elsword yang sedang pura-pura membaca buku –garis bawahi, itu kamus bahasa Inggris yang tadi digunakannya menggemplang kepala Chung–.

"Tidak perlu diperjelas." sahut Elsword, masih khusyuk membaca. Meski hanya bola matanya yang kesana kemari, entah mengerti atau tidak isinya.

Aisha yang duduk tepat di seberang Elsword, memiringkan kepalanya, seakan membaca judul dari buku yang dibaca oleh sang pemuda merah. Sambil tertawa kecil, Aisha berujar,

"Elsword, kamusmu terbalik loh,"

Rona merah terlihat samar di tulang pipi Elsword, sebelum menjalar cepat ke seluruh wajah dan kedua telinganya. Dengan cepat ia berdiri, dan keluar dari perpustakaan.

"Wow, kukira aku tadi melihat asap mengepul dari kepalanya." cetus Raven.

"Benar sekali, senpai. Aku juga sekilas melihatnya." sambung Chung sambil tertawa.

"Atau mungkin ia demam?" spekulasi Ara yang cukup –sangat– polos membuat kepala empat orang lainnya sweatdrop.

"Aku akan menyusulnya." ucap Aisha sambil berdiri. Dan membuat yang lainnya langsung jawdrop.

"Hei, Aisha, tidak perlu dianggap serius. Aisha!" pekikan Rena membuat koor 'sssstttt' lebih heboh dibanding tadi, kali ini Rena yang mengatupkan kedua telapak tangannya di depan muka seraya memandang penjaga perpustakaan yang sudah melempar tatapan maut dibalik kacamata pantat botolnya.

Raven facepalm.

"Elsword kemana ya kira-kira? Hujan begini. Kelas juga sudah usai." terka Chung sembari menyangga dagunya dengan dua tangan.

"Seiker-kun sendiri sedang apa disini? Tumben tidak langsung pulang?" gadis manis bersurai hitam legam langsung mengalihkan pandangannya kepada si surai pirang di sebelahnya.

"Aku dipaksa Els untuk mengajarinya grammar, senpai. Ia remedial bahasa Inggris. Tapi malah tidur disini tanpa mendengarkanku. Sekalian menunggu hujan reda katanya."

"Begitu..."

.

.

Berakhir di belakang gedung olahraga, Elsword menghirup napas sebanyak-banyaknya seraya mendongak. Surai merahnya lemas, wajahnya basah oleh air hujan, begitu juga celana dan sepatunya yang sudah kotor terciprat lumpur selama ia lari-larian tadi. Beruntungnya, jaket parasut yang dikenakan menyelamatkan tubuh atasnya kebasahan.

'Tapi kenapa aku berlari ya?' kebodohannya pun kumat. Bocah merah itu mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Belum habis ia merutuki dirinya sendiri, –tepat setelah tangannya turun dari wajah– ia disuguhi pemandangan Aisha yang sedang membungkuk di hadapannya, tersengal-sengal, dengan pakaian yang sudah sepenuhnya basah dan juga rambutnya yang kuyu.

"Aisha? Kenapa kau jadi ikut hujan-hujanan?" Elsword sweatdrop, sambil ikut membungkuk menyetarakan tingginya dengan gadis itu. Tapi gara-gara itu ia jadi melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat–

–apa itu yang berwarna ungu?

Elsword menegakkan tubuhnya dengan rona merah kembali menjalar di wajahnya –bahkan sekarang sampai ke telinganya–. Mengalihkan pandangan, Elsword berinisiatif menarik Aisha untuk berdiri di sebelahnya, seraya melepas jaketnya, dan masih tidak mau menatap ke arah gadis itu.

"Untuk apa?" tanya sang gadis sambil menatap jaket yang diulurkan padanya.

"Sudah jangan banyak tanya." jawabnya sambil memakaikan jaket merah marunnya ke tubuh kecil di sebelahnya dengan pandangan menuju ke pucuk kepala ungu yang lebih pendek darinya.

"Hangat ya." gumam Aisha tepat sebelum tangan Elsword melepas bahunya, setelahnya gadis ungu itu menyambung, "Tapi bau." sambil mengendus bagian dalam jaket itu.

Rasanya kepala Elsword seperti dihantam godam 1000 ton.

"Seharusnya kau bilang terima kasih, nona." gerutunya.

Elsword tidak tahu saja bahwa itu tadi adalah kalimat penyamaran dibalik kalimat 'Tapi bau maskulinmu melekat sekali di jaket ini, aku pernah menciumnya tapi dimana ya?'.

Hening.

"Jadi, untuk apa kau menyusulku?" tanya Elsword membuka obrolan.

"Kukira kau demam lalu pulang, tapi melihat tasmu masih di loker perpustakaan aku pikir kau masih berkeliaran di sekitar sekolah." Aisha mendongakkan kepalanya, menatap langsung ke manik ruby Elsword dimana ketika ia melakukan hal itu, rasanya kupu-kupu kembali berterbangan di dalam perutnya. Konyol.

"Heeeee." gumam Elsword sambil menatap langit mendung diatasnya.

"Elsword." panggil si surai ungu.

"Hm?"

"Kenapa kau menjauhiku akhir-akhir ini?"

"Apa maksudmu? Memang aku terlihat seperti menghindarimu?"

"Iya kau menghindariku! Pasti ada sesuatu yang membuatmu menjauhiku, kan?" suara Aisha meninggi beberapa desibel. Elsword diam, lebih tepatnya tidak bisa menjawab. Mana mungkin ia bilang ia takut ditolak jika mendekat secara tiba-tiba. Jujur saja si bocah merah itu tidak mau hal itu terjadi.

"Mana ada hal yang seperti itu?" sembari tertawa, Elsword menyangkalnya.

"Sangkal saja terus." dengus Aisha sambil beranjak dari sana.

Mata Elsword melebar, dan tindakan tanpa sadarnya menggamit lengan sang gadis, menariknya, dan mendekapnya.

"Maafkan aku yang terlalu pengecut, aku hanya takut tidak bisa membangun kembali hubungan itu." bisik Elsword tepat di telinga sang gadis.

Aisha membelalakan matanya, mencoba meresapi makna di setiap kalimat yang terlontar dari pemuda yang sedang mendekapnya itu. Tapi gagal. Membuatnya seketika berpikir, 'apa aku melupakan sesuatu yang penting? Terlebih tentang Elsword? Siapa dia sebenarnya?'

'Siapa aku baginya?'

.

.

Please know I mean everything I say

Even if I know I'm just clumsy


Dan sejak kejadian itu, Aisha menjadi sedikit sungkan jika berada di sekitar pemuda merah itu, rasanya ingin sekali berlari sejauh mungkin, yang penting tidak bertatap muka dengannya. Kepala ungu itu akan menunduk dalam jika telinganya mendengar suara cempreng Elsword menyapanya, hanya melempar senyum kecil yang tak sampai mata –bahkan netra amethystnya juga tidak menatap lawan bicara!– lalu berjalan cepat meninggalkan si kepala merah.

Banyak yang bilang jika Aisha menghindar, takut, ataupun sudah enggan menyapa Elsword, pemuda itu sedikit kecewa. Namun ia menerimanya. Ia akan mengikuti segala alur yang diciptakan Aisha untuknya.

Untuknya?

Memang Aisha masih mencintaiku? Mengingat saja tidak.

Elsword tersentak. Benar juga, Aisha melupakannya. Segala tentang Elsword sudah menghilang dari memori otaknya, pasti perasaan itu juga ikut pupus, kan?

Lalu aku harus bagaimana...?

.

.

Di lain sisi, dari luar Aisha memang terlihat tidak peduli pada gunjingan di sekitarnya. Seperti kata-kata 'belagu' atau 'sombong' sudah sering terdengar akhir-akhir ini. Hanya karena satu waktu Aisha berpapasan dengan Elsword di depan loker si gadis, dengan jaket merah marun si pemuda di tangan, namun ketika disapa Aisha malah berjalan cepat meninggalkan Elsword. Alasannya? Hanya karena malu dan tekad bulatnya untuk dapat mengingat semua hal tentang si pemuda merah sebelum kembali mengakrabkan diri padanya.

Dan hal itu dianggap masalah serius oleh para siswi yang mengenal –lebih tepatnya ngefans– sang badboy bersurai merah itu.

Semuanya tidak tahu apa yang kurasakan! Kalian pikir tidak tersiksa rasanya melupakan semua kepingan berharga dalam hidupmu?!

Tapi mau bagaimana? Upaya dengan cara seperti apapun tidak cukup mampu mengembalikan ingatan Aisha yang hampir setengahnya menghilang. Dan ketika ia bertanya pada Rena –yang katanya adalah sahabat satu sekolah sewaktu mereka masih kecil– gadis hijau itu hanya berkata,

"Pelan-pelan saja, Aisha. Semua pasti ada waktunya."

Aisha hanya mendengus kecil mendengarnya. Apa harus bertanya pada yang bersangkutan secara langsung? Pikirnya ngasal.

"Aisha, waktunya makan malam!" suara tenor dari lantai bawah mengacaukan lamunannya.

"Ya, aku akan segera turun!" balasnya juga sambil berteriak sembari menutup buku-buku yang berisi cara mengembalikan ingatan dan sejenisnya. Bisa gawat kalau ketahuan Richian, nanti ia disuruh pindah sekolah lagi.

Dan selama makan malam berlangsung, Aisha hanya menanggapi dengan gumaman pendek ketika Richian bertanya, pikirannya sedang tidak ada disini melainkan melayang-layang ke seputar juniornya yang beriris ruby tajam nan indah itu.

"Kau ada masalah lagi, Aisha-baby?" panggilan khas dari pria di hadapannya terdengar.

"Tidak ada, Richie."

"Lalu mengapa melamun?"

Denting sendok bersinggungan dengan piring kaca terdengar. "Aku baru tahu kalau melamun itu dilarang,"

"Gochisousama."

Richian dengan segera bangkit dari kursi seraya menggamit lengan kecil Aisha, mengajaknya duduk kembali tanpa bersuara. Dan Aisha menurutinya.

"Kukira ada yang salah darimu hari ini, kau tidak ingin berbicara denganku?" wow, baru kali ini gadis ungu itu mendengar nada bicara pria dengan surai senada dengannya itu normal sekali, tidak mendayu-dayu seperti biasanya.

Aisha diam sejenak, memikirkan apa yang hendak ia utarakan pada Richian.

"Richian." panggilnya terdengar ragu-ragu. "Kau mengasuhku hanya karena kau merasa bersalah padaku atau bagaimana?" lanjutnya lamat-lamat.

"Jadi kau ingin topik ini diangkat?"

"Tolong jangan melemparkan pertanyaan ketika ditanya."

"Ohohoho." tawa yang masih tetap menggelikan di telinga Aisha. Namun hanya sekejap, dan wajah tanpa kerut merut di usia yang sudah cukup matang itu kembali serius.

"Aku bukan hanya merasa bersalah padamu, baby. Aku bahkan merasa berdosa setiap kali kau menanyakan sesuatu yang sebelumnya familiar bagimu. Apalagi jika itu tentang orangtu–"

"Jadi benar aku bukan siapa-siapamu, Richian?" untuk pertama kalinya –setelah amnesia tentunya– Aisha berani melemparkan tatapan mengintimidasi pada lawan bicaranya.

Tiba-tiba saja Richian melepaskan satu gelangnya untuk digenggam di salah satu tangannya. "Begini saja, kau tebak dimana gelangnya? Hmm? Jika benar, akan kuberi tahu semua yang ingin kau tahu. Tentu saja jika fakta yang ingin kau tanyakan itu juga kuketahui."

Aisha jelas kehilangan minat untuk bertanya lagi, Richian selalu bisa membuatnya emosi. "Lupakan saja." Aisha beranjak dari kursi, menimbulkan bunyi decit kursi yang cukup menggambarkan kekesalannya.

Setidaknya ia tahu satu fakta, Richian bukan siapa-siapanya –termasuk bukan saudara jauh atau apapun itu seperti yang pernah pria itu katakan, hubungan mereka hanyalah korban kecelakaan dan pelaku yang mempertanggungjawabkan kesalahannya yang kebetulan mempunyai warna rambut sama, sudah.

"Jika kau menghindar, tandanya kau tidak akan mendapat yang lain."

Gadis purplette itu kembali geming, hanya menolehkan kepala sebagai respon. "...yang kiri."

Pria itu menyeringai tipis sambil menyembunyikan tangan kanannya dibalik punggung –yang ternyata ada isinya ketika jari-jari panjang itu terbuka perlahan. Namun saktinya, tangan kirinya juga menggenggam benda yang sama –gelang.

"Bingo. Lalu?"

Tekadnya telah bulat, sudah saatnya Aishanya mendapatkan apa yang selama ini ia cari. Aisha tampak memikirkan matang-matang apa yang akan ia tanyakan. Sebelum pertanyaan pertama menyembur dan membuat Richian mati kutu.

"Richie kenal Elsword? Anak bungsu keluarga Sieghart?"

.

.

"... yang benar-benar konyol, tapi ia sama sekali tidak tertawa padahal aku sudah terbahak-bahak!"

"Sepertinya kau mempermalukan dirimu sendiri, kak." tawa kecil meluncur dari bibir pemuda netra ruby yang sedang menata makanan di meja makan dibantu oleh kakak perempuannya yang sesekali menceritakan kejadian konyol di kampusnya.

"Ah tapi sungguh, dia tidak pernah berinteraksi dengan yang lain, dasar aneh." Elesis menuang minuman ke dalam dua gelas sambil menggerutu tidak jelas, mungkin topiknya masih satu kesatuan dengan yang tadi.

"Kau juga aneh, tahu." Elsword santai karena merasa pukulan kakaknya tidak akan sampai padanya langsung menangkupkan kedua telapak tangannya dan memulai acara makan malamnya. Begitu pula dengan sang kakak.

Sepasang kakak-beradik tersebut makan dengan tenang kemudian.

Usai makan malam, Elesis bertugas mencuci piring bekas makan jika ada waktu. Kalau tidak sempat, adiknya yang akan menggantikannya pagi-pagi sekali –dan ini mengingatkan sang kakak akan kebiasaan adiknya –Elesis merindukan Elsword yang suka bangun siang, sebenarnya– bangun pagi buta.

Merasa tidak ada pekerjaan setelah ini dan dilihatnya Elsword duduk santai di ruang tengah sambil menonton televisi, Elesis berniat mengeluarkan segala unek-uneknya selama tiga tahun terakhir yang dipendamnya.

Tawa dengan suara berat –namun anehnya, juga cempreng– mengalun di setiap sudut rumah. Seakan menguatkan niat sang kakak yang sudah siap menginterogasinya sesaat lagi.

'Mood Els sepertinya sedang baik.'

Berjalan pelan sambil memegang segelas susu menuju sofa tempat adiknya duduk, dan mengetukkan gelas tersebut diatas kepala merah itu. Elsword berhenti tertawa dan meraih gelas yang ada di kepalanya tanpa tahu apa isinya.

"Kenapa masih memberiku susu? Aku sudah 16 tahun, tahu!"

"Tapi kau masih pendek, adik kecilku sayang."

"Lama-lama juga aku akan tumbuh menyaingi tinggimu, kak. Kau lihat saja! Laki-laki itu cepat tingginya–"

"–jika diselingi minum minuman berkalsium tinggi dan berolahraga setiap pagi." Elesis menyahuti segala macam protes yang dilayangkan adik laki-lakinya itu seraya menyandarkan kepala di sandaran sofa. Kepalanya menoleh sedikit ke arah Elsword yang sedang menyeruput susunya. Tanpa sadar, tangan putih milik Elesis menyisir pelan rambut merah adiknya yang panjang.

"Yeah, aku olahraga kok setiap pagi." Elsword meletakkan gelasnya di meja dan mengganti saluran televisi kemudian. Cukup menikmati perlakuan kakaknya pada rambutnya.

"Sebutkan olahraga yang kau lakukan setiap pagi."

"Jogging?"

"Kenapa tiba-tiba doyan jogging? Dan rambutmu sudah cukup panjang, Els."

Elsword menelengkan kepalanya kearah Elesis sambil menggenggam tangan kakaknya yang masih bermain dengan helaian merah panjangnya, mengisyaratkan berhenti. Otomatis Elesis duduk tegak dengan benar.

"Ada apa?"

"Ada apa apanya?"

"Kenapa tiba-tiba mengomentari rambutku?"

"Karena seingatku rambutmu ini tidak pernah kau biarkan panjang, paling hanya tebal."

"Karena jika tebal kakak yang paling suka mengacak-acaknya, menyisirnya susah, tahu."

"Sekarangpun juga tebal," Elesis menyempatkan tangannya mengacak kasar rambut adiknya sebelum turun dengan lembut ke dahi Elsword. Ibu jarinya mengelus pelan menyingkirkan anak rambut yang mampir ke dahi Elsword.

Elsword tersentak, adegan ini melankolis sekali. "Kak...?" panggilnya ragu, dengan mata menatap kakaknya sarat akan tanya.

"Begitu banyak yang ingin kutanyakan padamu Els." Elesis memejamkan matanya, menolak bertukar pandang dengan ruby yang sama dengan miliknya.

"Tanya saja satu-satu." nada Elsword berubah jenaka, membuat Elesis membuka kelopak matanya. Dan disuguhi pemandangan adiknya nyengir lebar sampai kedua matanya tertutup.

Tangan gadis yang lebih tua itu merambat naik menuju puncak kepala adiknya, lalu turun kembali menuju tengkuk dan terakhir melingkarkannya ke pundak Elsword, memeluknya. Kepala Elsword bersandar pada pundak kecil milik kakaknya, matanya setengah terbelalak, cukup terkejut akan tindakan kakaknya.

"Apa–"

"Aku kakakmu kan, Elsword?" potong Elesis.

Elsword mengernyitkan dahinya, apa-apaan dengan pertanyaan macam ini?

"Tentu, kau bisa mengeceknya lewat DNA kan? Bahkan warna mata dan rambut kita sama, kenapa repot-repot menanyakan hal–"

"Kenapa kau begitu susah membagi masalahmu denganku?"

Ah. Jadi ini.

"Kau tahu, aku merasa ada yang salah padamu sejak kau berlari bak kesetanan keluar rumah dulu itu." Elesis melepas pelukannya, menangkup wajah adiknya dan menatapnya dalam.

"Kau pernah tidak pulang sehari. Kau kira aku tidak kalap mencarimu kemana-mana?! Aku tanya pangeran Seiker itu juga tidak tahu kau dimana! Pulang-pulang kau sudah berantakan dan tidak keluar kamar entah berapa hari sampai aku lupa!"

Tatapan Elsword mulai datar, seiring dengan naiknya desibel suara kakaknya.

"Lalu kebiasaanmu bangun dan meninggalkan rumah yang sudah bersih pagi-pagi buta sampai tidak pernah sarapan denganku selama genap satu tahun?! Heh, kau pasti sedang mengajakku bertengkar!" cuping telinga kanan Elsword jadi korban jeweran maut Elesis Sieghart, membuat sang adik mengaduh kecil.

"Dan kau tetap tidak mau buka mulut?!"

Bisa dikatakan amarah gadis merah bak api itu telah naik sampai ke ubun-ubun, jika mengingat perubahan adiknya. Elsword menggaruk pipi kiri dengan telunjuknya, pandangan berpaling ke layar televisi yang menyiarkan berita sambil berpikir.

Yah tidak ada salahnya kan mencoba terbuka pada kakak sendiri?

Dan sekali lagi di malam itu, Elsword menceritakan dengan lengkap awal penderitaannya sampai saat ini. Diselingi air mata yang tidak bisa lagi ditahan pelupuk matanya ketika bercerita –meski sambil tersenyum dan tertawa kecil–. Dan belaian lembut di belakang kepalanya.

Sieghart bersaudara menangis bersama malam ini.

Elesis melirik Elsword yang tertidur di pahanya, kembali memainkan helai merah agak gelap dari miliknya itu di sela jari tangannya. Matanya memerah, pertanda ia juga cukup menumpahkan banyak air matanya ketika mendengar kisah adiknya –sebenarnya lebih karena dipicu melihat adiknya menangis, sih–.

Sedangkan Elsword, biarkan ia menikmati tidurnya yang tenang diatas pangkuan kakaknya malam ini. Tanpa igauan seperti malam-malam biasanya.

.

Paginya, kakak-beradik Sieghart membuat kehebohan yang akhir-akhir ini jarang terjadi. Yang pertama, jam bangun mereka berdua dan morning task yang terbengkalai –meski bisa dibilang tidak ada yang perlu dikerjakan pagi ini kecuali membuat sarapan–; dan kedua, posisi tidur mereka.

"Kau yang menendangku!"

"Sekarang kakak pikir, bagaimana bisa aku menendangmu jatuh ketika posisiku ada diatas kakimu, hah?"

"Pokoknya kau yang menendangku!"

Elsword menghela napas lelah, mendapati Elesis yang mengamuk di pagi hari memang sudah menjadi kebiasaan –yang tidak akan pernah bisa 'biasa'– paten si bungsu Sieghart.

.

.

"Ohayou. Ada apa dengan matamu?"

Sapaan ringan disertai pertanyan yang tidak bisa dengan mudah dijawab terlontar dari pangeran muda Seiker. Elsword menjawabnya malas-malasan sambil masih menopang dagu dan menatap kearah lapangan diluar jendela.

"Digigit kak Elsa?" tebaknya diselingi tawa.

"Begitulah, ini karena gigi kakakku taring semua." Elsword berniat meladeni guyonan garing ala Chung Seiker sebelum mata pelajaran Kimia merusak segalanya.

Chung tergelak, sambil meletakkan tasnya di samping meja.

"Aku tidak bisa membayangkan gigi kakakmu taring semua. Kak Elsa kan cantik." desah Chung halus sambil menopang dagu dengan kedua tangan.

Tampak perempatan imajiner muncul di belakang kepala merah, lalu kepala itu menoleh kasar kearah si pangeran muda dan mencengkeram kerah kemeja putihnya.

"Berani sekali lagi membayangkan kakakku yang tidak-tidak–"

"Tunggu dulu Els! Ya ampun kau ini sister complex sekali –hei, hei aku hanya bercanda!"

"Sieghart?" nama belakang Elsword yang terdengar –meski samar– membuat duo dorky ini menghentikan aktivitasnya. Dan di depan pintu, keduanya melihat salah satu teman perempuan mereka sedang menunjuk kearah Elsword sebelum akhirnya nampak seseorang yang sedang mencarinya –oh, rupanya sang emotionless queen.

Elsword langsung berdiri dengan benar, seluruh tubuhnya bergidik. Chung memperhatikan sobat kentalnya ini sambil menahan tawa dibalik punggung tangannya. Selalu saja, jika Elsword bertemu Eve akan seperti ini reaksinya. Kata si merah itu, ia takut kena tamparan maut lagi.

"Els-kun, kau dicari kakak kelas nih!" teriak siswi tadi kemudian mengangguk kecil pada Eve dan melengang menuju bangkunya sendiri.

"Mampus..."

"Sudah sana, Eve-senpai tidak semenyeramkan itu, kok."

"Kalau aku ditampar lagi bagaimana?!"

Chung merotasikan netra hijau kebiruannya. Tanpa ba-bi-bu, pangeran Seiker itu mendorong punggung Elsword sampai ke depan kelas.

"Mungkin penting." Chung melambaikan tangan pada Elsword sebelum kembali menuju bangkunya.

Elsword sendiri dengan takut-takut menuju Eve. Ketika sampai di hadapannya...

"A-ada perlu apa y-ya, E-eve-senpai?" seluruh tubuh Elsword gemetar.

Eve hanya memandangnya datar. Pandangannya turun sampai ke kaki Elsword lalu kembali mendongak menatap netra ruby juniornya yang lebih tinggi darinya itu. Yang sukses membuat wajah si pemuda merah pucat pasi.

"Aku membawa pesan untukmu." secarik kertas terlipat diarahkan pada Elsword.

"Pesan?" secarik kertas itu berpindah tangan, "Dari siapa, senpai?" Elsword membolak-balik kertas itu, mencari petunjuk pengirimnya.

"Baca saja dan kau akan tahu dengan segera. Aku permisi." Eve berjalan menjauh. Si surai merah hanya menatap punggung kecil senpai yang tidak pernah tertawa itu sebelum pandangannya kembali jatuh pada kertas di tangannya.

"Dikira ini masih jaman apa mengirimkan pesan melalui surat begini?" gumamnya keheranan, sambil menutup pintu kelasnya dan melengang ke bangkunya.


I couldn't tell you, but I loved you

Like my dream when I was young, like a miracle

.

.

Belakang gedung olahraga, disinilah Elsword berada sekarang. Sembari menunggu pengirim surat datang –yang tanpa Elsword sangka adalah Aisha. Pasalnya, gadis purplette itu sudah menyimpan nomornya, kenapa ia tidak meminta Elsword bertemu melalui sms? Kepalang pusing, Elsword menggaruk kasar kepalanya. Rasanya ia ingin segera cepat pulang saja.

"Maaf menunggu lama, Els!"

Nah, déjà vu. Aisha yang menunduk sambil meraup rakus oksigen mengingatkannya insiden hujan-hujanan beberapa waktu yang lalu, yang berakhir ia memeluk gadis mungil tersebut. Aisha mendongak dan melempar senyum menyesal pada si merah.

Elsword nyengir, "Tidak masalah. Ada apa sampai meminta bertemu begini?"

"Ini. Terima kasih sebelumnya." bungkusan berlapis plastik bening disodorkan pada Elsword. Pemuda merah itu agak ragu menerimanya.

"Err... terima kasih. Tapi ini apa?"

"Jaketmu, sudah ku laundry. Jadi tidak lagi bau!" bangga si gadis ungu, seraya mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.

"Iya iya jaketku sangat bau sehingga butuh di laundry, terima kasih lagi." Elsword mengangkat bungkusan itu sambil tersenyum miring sedikit tidak ikhlas.

"Dipakai dong! Aku baru sadar jika penampilanmu ketika di sekolah itu cukup berantakan." tukas Aisha, matanya menyipit memandang kemeja putih Elsword yang selalu keluar itu.

"Bahagianya~ siswi baru yang teladan ini menceramahi cara berpakaianku~" ledek si merah, membuat satu pukulan mendarat di lengan kiri atasnya. Dan mereka pun tertawa bersama.

Bungkusan itu terbuka, dan wangi segar menguar kala jaket merah marun itu dikenakan oleh empunya. Elsword mengendus jaketnya sendiri, dan wangi itu adalah wangi cologne yang sama seperti yang dipakai Aisha dulu.

Apa Aisha masih menggunakan cologne itu?

"Kenapa? Kau tidak suka baunya ya?"

Elsword mencelos, apa aku kelihatan seperti itu? "Tidak, tidak. Baunya segar, kok." pemuda itu juga mengacungkan jempolnya sambil nyengir.

"Ah, syukurlah!" Aisha mendesah lega. Elsword menatap si purplette itu dengan tatapan tidak terbaca.

"Jadi," jeda sebentar sambil mengalihkan pandangannya. "Kau tidak mungkin hanya mengembalikan jaketku saja, kan?" Elsword menengadah menatap langit sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket.

"Memang," kepala ungu itu menunduk, memikirkan kalimat selanjutnya.

"Sedikit-sedikit kukira aku sudah mengingatmu, Elsword Sieghart."

Efeknya luar biasa, tubuh Elsword bagai disetrum beribu-ribu volt, kalimat itu sekaligus menggetarkan hatinya. Menggoyahkan seluruh pertahanannya. Manik ruby itu kembali menatap entitas yang ada di sebelahnya kini. Entah mengapa Aisha mengambil jarak yang cukup jauh dari Elsword.

"Mengingat? Apa maksudmu?" sekuat mungkin Elsword tetap bertahan pada mode-pura-pura-tidak-tahunya.

"Jangan lagi kau sangkal-sangkal! Kenapa kau tidak langsung menghujaniku dengan pertanyaan seperti kenapa kau tidak mengingatku? dan apa yang terjadi padamu?" napas Aisha memburu seiring dengan berkumpulnya air mata di pelupuk matanya.

Sang gadis menunduk, mencoba menyembunyikan wajah ingin menangisnya pada pemuda di hadapannya. "Kenapa kau tidak mencoba untuk membuatku ingat kepadamu?" ia memutar tubuhnya menghadap si merah.

Aisha maju selangkah menuju Elsword, "Kenapa kau bersikap seolah kita hanyalah kenalan biasa di masa lalu?"

Selangkah lagi, "Apa maksudmu menarik ulurku? Apa karena aku tidak penting lagi bagimu?" dan langkah terakhir Aisha membawanya berada tepat di depan Elsword. Si pemuda sedikit berjengit ketika melihat sungai kecil mengalir di pipi putih gadisnya, dan saat itulah Aisha sedikit memekik sambil memukul dada Elsword pelan dengan kedua kepalan tangannya.

"Apa aku tidak penting lagi bagimu?" ulangnya sambil memekik kecil. Aisha mendongak, menampakkan seluruh wajahnya. Gadis itu menangis. Karena dirinya.

Sudah cukup!

Elsword menyahut kedua pergelangan tangan Aisha, sedikit meremasnya. Kepala merah itu maju untuk menghilangkan jarak antara dirinya dan gadis di depannya. Tangan kecil yang sempat ia cengkeram itu ia arahkan untuk melingkari tengkuknya.

Kedua bibir tipis itu bertemu, menyalurkan berbagai rasa yang berkecamuk di dada masing-masing. Rasa asin mampir dalam ciuman –pertama– mereka, omong-omong. Tapi tidak membuat Elsword melepas kedua belah bibir manis milik Aisha. Dengan bibir masih bertaut, tangan kanannya terangkat, menghapus air mata yang kembali mengalir di pipi kanan Aisha. Sedang yang satunya hinggap di pundak kecil sang gadis.

Aisha yang semula membelalak, mulai memejamkan mata menikmati ciuman pertamanya dengan pemuda yang dulunya memiliki kehidupan monoton itu. Tidak bernafsu, hanya menempelkan ala kadarnya sambil sesekali menghisap bibir bawah Aisha dengan lembut.

Satu dari sepasang tangan kecil terasa menepuk punggung lebarnya, membuat Elsword sadar akan kebutuhan oksigen gadis yang baru saja ia cium. Semburat merah pekat nampak menghiasi tulang pipi Aisha, membuatnya jadi semakin manis. Elsword menutup mulutnya dengan punggung tangan sambil melemparkan pandangan pada tumbuhan rimbun yang mendadak menarik di matanya, wajahnya tidak kalah merah dibandingkan Aisha.

"Kurasa sudah saatnya aku mengaku, bukan begitu, Aisha?" gumamnya pelan.

"Aku menunggu jawabanmu." kurva itu terbentuk karena pertanyaan Elsword, membuat si merah mengembalikan atensinya pada si gadis dan balas tersenyum kecil.

"Aku pengecut, kau tahu." mulainya. Rasanya tubuhnya kehilangan energi sehingga mengharuskan ia untuk bersandar di tembok belakangnya.

Kepala merah itu menunduk, seraya menyilangkan kaki. "Aku tidak pernah sampai berpikir kau akan melupakanku. Itu kondisi diluar kehendakku, terlebih aku juga tidak tahu apa yang akan kulakukan jika kau benar-benar melupakanku." kaki panjang itu memainkan batu kerikil yang ada di dekatnya. Aisha bergeming, menyimak dengan seksama.

Baik Aisha maupun Elsword sama-sama memandang ke depan. "Saat aku mendengar suara mengerikan itu dari telepon, rasanya waktuku berhenti." batu kerikil ditendangnya jauh, dan kepala merah itu menengadah menatap langit biru.

"Aku tidak bisa percaya –tidak, lebih tepatnya aku tidak mau percaya. Berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa suara itu hanya halusinasiku semata. Aku keluar dari rumah dan berlari menuju rumahmu, tapi disana tidak ada tanda-tanda keramaian. Jadi, aku tenang dan melewati hari-hariku yang katamu monoton itu seperti biasa."

"Kau tidak muncul berhari-hari kemudian. Spekulasiku makin menjadi-jadi. Kuputuskan untuk mampir kerumahmu. Dengan harapan kau dengan berisiknya mengomeliku yang dengan brutal membunyikan bel rumahmu. Yah tapi kau tidak ada disana."

Aisha menahan air matanya mati-matian.

"Aku berhenti melakukannya –memenceti bel rumahmu tentu saja, setelah kulihat tanaman potmu itu layu semua. Aku masih tetap berdiri di depan pintu rumahmu, sambil berdoa dalam hati berharap kejadian dan suara mengerikan itu hanyalah mimpi." raut jenaka itu menghilang, digantikan seraut wajah muram.

"Tapi itu kenyataan," Elsword memandang Aisha yang kembali berkaca-kaca. Sebelah tangannya ia gunakan untuk membelai lembut surai ungu yang jatuh menjuntai sepanjang bahu milik Aisha. "Aku tidak lagi melihatmu selama kurang lebih tiga tahun," surai ungu itu ia arahkan ke wajahnya sendiri, menciumnya dengan penuh perasaan.

"Dan penderitaan, penyesalan, serta kebosanan melanda hidupku ketika kau tidak ada. Sesuai kata-katamu yang menyumpahiku di telepon terakhir kita." Aisha menutup mulutnya dengan satu tangan, menahan isakan yang ingin keluar.

"Begitulah. Aku hanya merasa belum cukup dewasa untuk membawamu kembali padaku. Jadi, kuputuskan untuk berlari menjauhimu meski kau sudah ada dalam jangkauanku." Elsword menunduk, menyejajarkan tingginya dengan gadis yang kini juga menunduk itu.

Jari Elsword masih bermain lembut dengan surai ungu Aisha. "Sekali lihat saja aku sudah tau jika kau berbeda, Aisha. Aku bukan tidak mencoba untuk membuatmu ingat kepadaku, ataupun sikapku yang memperlakukanmu seperti hanya seorang kenalan. Apalagi –apa tadi, tidak penting bagiku? Dasar bodoh." jari tangan yang menganggur menoel hidung bangir nan mungil milik Aisha.

"Kau yang bodoh." sahut Aisha parau. Kini ia berani menatap ruby yang memandangnya lembut itu.

Tawa ringan meluncur dari bibir si pemuda. "Aku sampai seperti ini, kau masih mengira kau tidak penting bagiku? Kalau begitu kau harus tanggung jawab."

"Maafkan aku." Aisha mengenggam tangan besar Elsword yang berada di helaian ungunya. Hangat. Hangat ini mengingatkannya kala ia dulu rasanya pernah juga mengenggam tangan –yang versi lebih mini, tentunya– Elsword, namun entah dimana. Tapi yang pasti ia tidak salah mengenali tangan ini.

Bungsu Sieghart itu membalas genggaman lembut dari Aisha, "Okaeri, Aisha."

"Tadaima, Elsword."

Dan Aisha merangsek maju mendekap tubuh yang lebih besar darinya itu, menumpahkan semua air matanya yang tertahan di dada Elsword. Pemuda itu kaget hingga terhuyung dan menabrak tembok di belakangnya, lalu merosot masih sambil memeluk tubuh mungil itu.

Ah, rasanya lengkap dan pas sekali.

"Jadi milikku, ya? Karena aku mencintaimu."

Meski Aisha tak bersuara, anggukan yang terasa di dadanya sudah cukup menjawab semuanya.

.

.

If I can become a grown-up through the time

I'll hug you


Please promise me this, promise me you'll never change

Promise me you'll smile at me like you do now

Suara derap kaki berat terdengar menghampiri gadis bersurai ungu yang tengah duduk di kursi taman. Meski taman itu agak ramai, gadis itu bisa melihat siluet merah menghampirinya.

"Yaaa kau terlambat sekali, reddie. Padahal ini kencan pertama." Aisha mencibir tepat ketika Elsword telah berdiri tegap di hadapannya sambil mengambil nafas kasar, udara berlomba-lomba masuk ke paru-parunya.

Setelah tenang, Elsword menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajah. "Gomen, tiba-tiba kakakku meminta tolong sesuatu. Maaf ya," sesalnya sambil nyengir.

"Ya ya," tanggapnya ringan. Aisha berdiri, meluruskan roknya dan menggamit lengan Elsword yang dilapisi jaket coklat. "Jadi, kita mau kemana?" tanyanya penasaran.

"Apa tidak masalah jika kita hanya ke toko buku? Aku janji sepulang dari sana aku akan mengajakmu jalan-jalan." Elsword memperhatikan outfit yang dipakai Aisha hari ini.

Gadisnya itu cukup –sangat! – manis dengan mini-dress berwarna ungu lembut untuk bagian atas dan putih sebagai warna bawahannya, dan itu rok. Aisha juga mengenakan sepatu yang ada heelsnya –meskipun tidak tinggi-tinggi amat–, dengan tas mungil berwarna senada dengan surainya menggantung di bahu. Rambut yang biasa ia kuncir dua kanan-kiri itu sekarang tergerai bebas dengan hanya dihias jepit sederhana untuk menghalau poninya jatuh ke wajah.

Penampilan yang bisa mengakibatkan Elsword diabetes!

"Tidak masalah, kukira aku juga akan lama jika kau mengajakku ke toko buku. Dan aku ingin menonton film sepulang dari sana." Aisha melempar senyum manis pada pemudanya, yang sukses membuat darah dengan cepat berdesir menuju wajah Elsword.

"Hentikan..." gumam Elsword. Wajahnya sudah panas, dan ia menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Pandangan ia alihkan pada yang lain –asal bukan pada gadis cerewet yang seenak udel membuat Elsword ingin pingsan!

"Eh?" Aisha tak paham, pasalnya wajah Elsword sudah merah hingga ke telinga. Dan suaranya itu hanya samar-samar terdengar.

"Nanti aku bisa mati." Elsword menyisir poninya sehingga menutupi kedua matanya. Sudah tidak sanggup lagi memandang Aisha.

"Kau ini bicara apa sih, Els?" si gadis purplette itu mulai kesal. Melepas tangannya yang semula melingkar di lengan si reddie, dan berganti kacak pinggang.

Elsword gelagapan, kala ia tak lagi merasakan tangan Aisha di lengannya. "A-ah lupakan, oke. Ayo jalan!" dan si reddie itu menggenggam tangan mungil gadisnya, untuk ikut dimasukkan ke dalam saku jaketnya.

"Dasar kagok."

Mereka berdua melempar tawa kemudian.

.

.

"Senyummu masih tetap indah, seperti dulu."

"Seharusnya yang bilang begitu aku, Aisha. Jangan menjatuhkan harga diriku. Dan lagi, kau belum mengingatku seutuhnya!"

"Kata siapa? Aku hanya cepat mengingat semuanya ketika ada nama 'Elsword Sieghart' melintas. Apa salah?"

"Cukup. Hentikan. Aku benar-benar mati nanti."

"Jangan, dong! Kalau kau mati aku dengan siapa nanti?!"

"Jadi kau berpikiran akan berpaling ke orang lain?!"

"Bisa saja, kalau kau tidak berhenti menatap tubuh Rena dengan pandangan menjijikkan seperti itu!"

Elsword berhenti berjalan, alisnya berkedut menahan emosi. Dan senyum mengerikan hadir setelahnya, membuat tubuh kecil Aisha bergidik.

"A-i-sha, kau diam atau aku akan–"

Belum habis Elsword berkata, secepat kilat benda kenyal yang terasa manis mampir di kedua belah bibir Elsword. Itu bibir Aisha.

"Kencan kita tidak akan lancar jika kita begini terus, kan?" si surai ungu mengedipkan sebelah matanya sambil berjalan menjauhi Elsword yang masih mematung dengan wajah semerah warna rambutnya.

Si surai merah menggelengkan kecil kepalanya sebelum berjalan cepat menyusul gadis ungunya. Dan menyahut tangan kecil itu untuk dicium punggung tangannya.

Sekarang Aisha yang bisa mati diabetes karena perlakuan Elsword.

.

.

.

END

(banzaaaii!)


AN :

Sudah end! #tebar confetti . nyiahaha maaf waktu aplodnya melebihi ekspektasi, banyak kegiatan yg bikin waktu pengerjaan ff ini lebih lama huhu T_T

Dan karena ff ini panjangnya melebihi ch 1 dan 2, saya harap setimpal dengan waktu yang molor lama xD happy end kan? :v

Maunya sih saya ceritain dari sudut pandangnya Aisha, gimana dia dari pasca-kecelakaan sampe hadir di Elrios Gakuen. Tapi saya rasa kepanjangan pake banget nyiahahah #ditabok . Mungkin bisa saya pertimbangin lagi untuk dibuat side story/sequel dari sudut pandang Aisha nya, itupun kalo banyak yang nagih #tehee

Yosh saya rasa semua review juga udah saya bales (yg login balasan ada di PM masing2 :v), jadi sekian cuap-cuap tak bermutu (yg kebanyakan banget /lagi/) dari saya, arigatchu sudah nyempetin baca fic abal pertama saya xD

Maafkan segala kekurangan, so lemme know your thoughts, jadi berminatkah kalian meninggalkan review sekali lagi? :'3