"Hana Kotoba"

Kuroko No Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Rated : T

Warning : OOC and anything

.

.

.

Story by :

Alice Klein and Sukikawai-chan

.

.

Happy Reading :D


Petunia Flower

"Sedikit yang menyadari eksistensimu. Namun, aku selalu bisa menyadari kehadiranmu di sisiku,"

.

.

.

Kagami Taiga berjalan dengan langkah lunglai. Tidak pernah merasa selelah dan seletih ini seumur hidupnya. Rasanya seperti kedua kakinya diberi beban berat sehingga ia merasa enggan untuk berjalan lebih jauh. Belum lagi ini adalah musim panas. Teriknya matahari menyengat tubuhnya tanpa ampun.

Ia dan anggota tim basket Seirin lainnya baru saja melakukan pertandingan persahabatan dengan sebuah tim basket yang terbilang cukup kuat. Tidak salah memang. Karena taktik yang lawan mereka pakai cukup untuk membuat Aida Riko—gadis yang merangkap sebagai pelatih tim basket Seirin—kewalahan dalam mengatur strategi timnya. Skor kedua tim berjarak tipis dan Seirin mengalami ketertinggalan. Untung saja di detik-detik terakhir pertandingan, pemuda bersurai merah gelap itu berhasil melakukan dunk. Dunk yang manis karena tepat setelah ia melakukan hal itu, suara peluit yang menandakan pertandingan berakhir pun berbunyi.

Dalam hatinya, ia merasa senang dengan kemenangan ini. Berkat operan bola dari Kuroko Tetsuya, ia mampu membuat dunk tersebut. Kuroko memang pintar mencari celah kelemahan lawan dan tidak jarang Seirin terselamatkan dengan taktik permainan Kuroko yang terorganisir dengan baik.

Ah, iya! Kagami lupa untuk mengucapkan ucapan terima kasih pada pemuda bersurai baby blue itu. Walaupun Kagami agak malu untuk mengucapkannya—mengingat dia juga memiliki sifat tsundere—, tapi tetap saja rasanya tidak enak kalau ia tidak mengatakan terima kasih pada pemuda yang menyukai vanilla shake itu.

"Hei, Kuroko..." Sapa Kagami kepada pemuda bertubuh lebih pendek darinya tersebut. Sekarang hanya tinggal mereka berdua. Para senpai serta anggota tim lainnya sudah pulang dan mengambil arah yang berbeda dengan Kagami juga Kuroko.

Kuroko mengalihkan wajahnya dan menoleh ke arah orang yang tadi menyapanya "Ada apa, Kagami-kun?" Tanya Kuroko kalem.

Kagami mengusap tengkuknya. Ia merasa canggung. "Itu...terima kasih atas operanmu tadi. Berkatmu, aku bisa melakukan dunk." Jawab Kagami.

Kuroko terdiam sebentar lalu tersenyum tipis. "Sama-sama, Kagami-kun."

DEG!

Sekilas Kagami melihat Kuroko tersenyum padanya. Kagami akui, Kuroko tampak sangat menarik juga...manis ketika tersenyum seperti tadi. Bahkan lebih manis dari vanilla shake kesukaan pemuda itu. Baiklah, sejak kapan pikiran Kagami jadi berlebihan seperti tadi?

Jantungnya mulai memompa aliran darahnya dengan cepat. Wajahnya pun telak berubah menjadi merah.

Kuroko Tetsuya memang seorang anak yang biasa saja. Keberadaannya pun jarang terdeteksi oleh orang-orang di sekitarnya. Auranya yang terlalu tipis adalah penyebabnya. Namun keberadaannya yang tipis tidak selamanya buruk. Kagami akui saat pertandingan basket, kemampuan—atau mungkin bisa dibilang bakat alami—seorang Kuroko Tetsuya sangat menguntungkan timnya juga Kagami sendiri. Walaupun awalnya Kagami ragu kalau Kuroko bisa bermain basket.

Namun akhir-akhir ini entah kenapa Kagami merasa aneh dengan dirinya sendiri. Apalagi saat berduaan saja dengan Kuroko seperti sekarang ini. Jantungnya sering kali berdetak lebih cepat dan tidak jarang ia jadi merasa canggung jika berbincang dengan pemuda yang memiliki ekspresi minim tersebut.

Kagami memang sering dianggap bodoh oleh rekan-rekannya. Tapi ia tidak sebodoh itu untuk menyadari kalau ia menyukai Kuroko Tetsuya. Walaupun Kagami sudah berusaha untuk menyangkal semua perasaannya dan menganggap kalau semua perasaannya itu hanya sekilas lalu, tetapi semakin ia menyangkalnya, perasaan itu tidak menghilang dan malah terasa semakin kuat.

Karena hal itu, satu pertanyaan muncul di benak Kagami dan terus berputar-putar dalam pikirannya sampai sekarang untuk mendapatkan jawaban yang tepat.

Bagaimana bisa ia—Kagami Taiga—menyukai pemuda biasa yang memiliki hawa keberadaan tipis tersebut?

"Kagami-kun, ada apa? Kenapa berhenti berjalan?"

Pertanyaan Kuroko membuyarkan lamunan Kagami. Apa katanya tadi? Berhenti berjalan? Kagami bahkan tidak menyadari kalau sudah berhenti berjalan dan melamun.

"A-ah! Maaf, sepertinya aku melamun," jawab Kagami. Ia yakin pasti wajahnya berubah menjadi semakin merah. Bisa-bisanya ia melamun dan menghentikan langkahnya gara-gara melihat senyum pemuda itu.

.

"Kehadiranmu di sini terkadang membuatku bingung dengan perasaanku sendiri. Apa alasanku bisa mencintaimu?"

.

Pemuda bersurai merah tua itu pun berlari kecil menyusul Kuroko yang sudah berjarak agak jauh darinya.

Ketika berlari, ekor mata pemuda itu tidak sengaja menangkap objek berupa semak belukar kecil di sebuah perkarangan kosong. Kagami menghentikan langkahnya sejenak dan melihat pada kumpulan semak itu. Sepertinya bunga di semak tersebut tengah mekar. Karena didorong oleh rasa penasaran, Kagami malah berlari menuju perkarangan tersebut. Setelah sampai, Kagami berjongkok agar dapat melihat bunga di semak-semak itu dengan jelas.

Bunga Petunia rupanya. Tapi kenapa bunga itu ada di tempat seperti ini? Mungkinkah ada seseorang yang merawatnya diam-diam?

Tiba-tiba Kagami teringat sesuatu. Ia ingat apa arti bunga itu. Bunga Petunia itu sama seperti dirinya saat ini.

Jangan tanya kenapa ia bisa mengetahui arti bunga tersebut. Dulu, salah seorang temannya di Amerika sana pernah memberitahunya dan akhirnya Kagami menyadari kalau arti bunga itu persis dengan dirinya saat ini.

Arti bunga Petunia adalah—

"Ah, bunga Petunia, ya?" Tanya Kuroko yang ternyata sudah berada di belakangnya. "Musim panas memang waktunya bagi Petunia untuk mekar dan yang ini sudah mekar dengan sempurna," Lanjut Kuroko.

Kagami masih terdiam dan terus menatap bunga tersebut dengan wajah memerah. Suasana hening pun menyelimuti mereka berdua.

"Ngomong-ngomong, apa Kagami-kun tahu arti bunga Petunia?" Tanya Kuroko untuk memecahkan keheningan yang terasa canggung.

DEG!

Jelas Kagami tahu artinya. Tapi ia berpura-pura tidak tahu dengan menggelengkan kepalanya.

Kuroko tersenyum. "Menurutku arti bunga ini mirip sekali dengan Kagami-kun,"

DEG!

Pernyataan Kuroko membuat wajah Kagami tambah memerah. Bagaimana Kuroko tahu kalau bunga ini mirip dengannya? Apa Kuroko sudah menyadari perasaannya selama ini? Padahal selama ini, Kagami selalu menutupinya dan tidak ada orang lain yang tahu perasaannya kecuali dirinya sendiri.

"Karena arti bunga ini adalah tidak pernah berputus asa," jeda sebentar, lalu Kuroko melanjutkan. "Mirip sekali dengan Kagami-kun saat bertanding basket, 'kan?"

Bukan! Bukan makna itu yang Kagami tahu!

Ada makna lain dari bunga Petunia yang tidak diketahui oleh Kuroko. Makna yang menjadi cerminan perasaan Kagami pada Kuroko. Makna yang sesuai dan menjadi jawaban untuk pertanyaan yang selalu berputar-putar dalam pikirannya.

Kagami lalu memetik satu tangkai bunga Petunia dan setelahnya bangkit berdiri. Kalau Kuroko tidak tahu arti lain dari bunga itu, Kagami sendiri yang akan memberitahukannya.

Kagami membalikan badannya agar dapat bertatap muka dengan Kuroko. Iris sewarna langit bertemu dengan iris merah miliknya.

Tanpa diduga oleh Kuroko, Kagami menyematkan bunga itu di sela-sela surai biru langitnya. Selanjutnya Kuroko bisa melihat kalau wajah Kagami sudah berubah menjadi merah.

"Kagami-kun?"

Kagami menyadari kalau selama ini jawaban untuk pertanyaannya itu mudah dan sederhana. Namun selama ini juga ia terlambat untuk menyadari kalau itu adalah jawaban yang tepat.

Arti dari bunga Petunia itu telah mengingatkannya. Arti dari bunga Petunia itu juga telah menyadarkannya.

Karena arti bunga Petunia, selain tidak pernah berputus asa adalah—

.

"Tetapi sekarang aku tahu jawabannya. Maka dari itu, terima kasih karena selalu berada di sisiku selama ini..."

.

kehadiranmu selalu kunanti karena kehadiranmu membuatku nyaman di sini.


Gloxinia Flower

"Sejak pertama kali melihatmu, kau membuat waktu seolah-olah terasa berhenti,"

.

Winter Cup telah berakhir. Kemenangan mutlak untuk Seirin. Rakuzan menerimanya dengan sportif.

Suatu kebahagiaan terbesar bagi Kuroko Tetsuya ketika peluit tanda berhenti berteriak, detik jam yang berhenti, hening sesaat dan dilanjutkan dengan suara teriakan kemenangan. Kuroko tentu ingat bagaimana wajah para senpai dan teman-teman satu klubnya, bahkan pelatihnya pun menitikan air mata begitu Seirin berhasil menjadi nomor satu di Jepang. Mengalahkan para pemain Kiseki no Sedai. Saat itu, bagi Kuroko Tetsuya, menangis dan berteriak adalah satu-satunya cara untuk meluapkan perasaannya saat itu.

Namun, satu minggu setelah Winter Cup berakhir, Kuroko sedikit mengeluh tentang kegiatan yang dilakukan selanjutnya. Simpel saja, ia bosan. Setiap kegiatan yang dijalaninya begitu Winter Cup selesai hanyalah diam di rumah. Sang pelatih sengaja memberikan waktu libur untuk latihan. Tidak ada hal yang ingin Kuroko lakukan selain bermain basket. Dan itu benar-benar membuatnya bosan setengah mati. Sehingga hal yang sering dilakukannya akhir-akhir ini hanyalah membantu ibunya di rumah, setelah selesai kembali ke kamarnya lalu membaca buku. Seperti sekarang ini. Ia lebih memilih duduk tenang di meja belajarnya sambil membaca novel.

"Ya, Tuhan!"

Kuroko terperanjat. Mendengar pekikan sang Ibu, dengan refleks tubuhnya berdiri, keluar dari kamar, menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa dan berlari menuju ibunya berada. Tepat di depan pintu keluar rumahnya.

"Okaasan? Ada apa?" tanya Kuroko khawatir begitu mendapati sang Ibu berdiri mematung dengan pintu terbuka. Kedua tangan wanita itu tersimpan di depan wajah, membekap mulutnya. Sorot di kedua matanya tampak terkejut.

Kening Kuroko berkerut samar. "Okaasan?" panggilnya sekali lagi, sebelah tangannya menepuk bahu sang Ibu. "Kenapa Okaasan—"

"Tecchan, lihat ini!"

"Eh?"

Kerutan di kening Kuroko semakin bertambah ketika Ibunya membungkuk sedikit, memgambil sesuatu yang mungkin tersimpan di depan pintu, setelah itu mengarahkannya tepat di depan Kuroko. Sorot di kedua matanya tampak berbinar-binar ketika menggenggam benda yang ditemukannya. Sedangkan Kuroko sendiri hanya menatap dengan datar dan tanpa minat.

"Bukankah ini indah sekali?" tanya sang Ibu antusias. Seulas senyum lebar tersungging di wajahnya. Kuroko mengangguk kecil. Ia heran. Orang macam apa yang dengan senang hati menyimpan sebuket bunga—yang Kuroko tidak tahu apa namanya—tepat di depan pintu rumahnya di pagi hari seperti ini?

"Siapa yang mengirimkannya, Okaasan?" dipandangnya dengan jeli buket bunga yang berada di tangan Ibunya. Well, bunga itu memang indah. Kelopak bunga yang besar dan bertumpuk-tumpuk dengan variasi di setiap sisinya membuat bunga itu terlihat unik. Sepintas bunga itu terlihat seperti bunga mawar, namun jika diteliti lebih dekat lagi bunga itu berbeda. Namun begitu indah.

"Entahlah. Begitu aku membuka pintu, buket bunga ini sudah berada di sana," wanita itu menatap Kuroko sebentar, lalu kembali pada bunganya. "Siapapun itu yang mengirimnya, aku sangat berterima kasih. Apa Tecchan tahu, bunga ini memiliki makna—oh! Tunggu, ada amplop yang terselip di dalamnya,"

Kuroko mengangkat sebelah alisnya. Terlebih ketika melihat sang Ibu menarik amplop yang dimaksud di antara bunga-bunga itu, menyerahkan buketnya pada Kuroko sedangkan satu tangan lainnya membaca nama yang tertera di amplop berwarna biru muda itu. Beberapa detik kemudian, sepasang alisnya saling bertautan.

"Tecchan, ini ditujukan untukmu," Kuroko mengernyit samar. Mengambil amplop yang diserahkan Ibunya. Dan memang benar, nama Kuroko Tetsuya tertulis dengan rapi di sana.

Nah, yang anehnya lagi, mengapa amplop itu tertulis atas namanya? Bukankah itu berarti buket bunga itu…ditujukan untuknya juga?

Penasaran, Kuroko membuka amplopnya, sedikit membuatnya lecet karena membukanya dengan cepat. Kedua matanya bergerak membaca setiap kata yang tertulis di kertasnya. Awalnya Kuroko bingung, keningnya berkerut samar, beberapa detik kemudian alisnya terangkat, setelah itu kedua matanya melebar.

"Dari siapa?"

Kuroko tersentak pelan. Dilipatnya kertas putih itu dengan asal, tersenyum simpul ke arah sang Ibu, lalu menyerahkan kembali buket bunganya. Pemuda itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Mengabaikan tatapan heran Ibunya.

"Bukan orang penting," sahut Kuroko kemudian. Mengacuhkan Ibunya semakin bingung, ia membuka pintu rumah, menoleh sedikit menatap sang Ibu lalu berkata. "Aku keluar sebentar, Okaasan,"

Baiklah, Kuroko Tetsuya saat ini benar-benar aneh.

.

"Kau memang tidak menyadarinya. Karena aku yang merasakannya. Namun yang jelas, aku sungguh tidak bisa melupakan bagaimana sosokmu,"

.

Lapangan itu sepi. Licin. Basah. Ditambah dengan suasananya yang dingin.

Tentu saja, Winter Cup baru saja berakhir. Itu berarti Tokyo masih berada di penghujung musim dingin. Walaupun begitu, entah apa yang merasukinya, Kuroko Tetsuya rela berlari dari rumahnya yang cukup jauh untuk sampai di lapangan basket pinggir taman kota itu. Napasnya terengah-engah begitu dirinya menginjakan kaki di tengah-tengah lapangan. Kedua matanya bergerak-gerak dengan jeli. Mencari sesuatu—ah, mungkin lebih tepatnya, mencari seseorang.

"Cuaca yang dingin, eh?"

Kuroko memutar kepalanya cepat.

Jujur saja, tak pernah terpikirkan olehnya kalau orang itu, orang yang belum dikenalnya dengan baik, akan datang jauh-jauh ke Tokyo dan memintanya datang ke tempat ini. Orang yang sudah menggantikan posisinya sebagai pemain bayangan. Orang yang pernah ditemuinya ketika pertandingan final Winter Cup. Namun, mengapa...pertemuan mereka harus didasari dengan hal yang tidak pernah Kuroko duga?

"Mayuzumi-kun?" sebelah alis Kuroko terangkat, bingung.

Sedangkan orang yang dipanggil hanya bisa mendengus pelan, berjalan ke arahnya dan berhenti tepat di depannya. Laki-laki yang begitu mirip dengannya itu menarik napas sejenak, setelah itu mengembuskannya pelan. Membuat kepulan uap keluar dari mulutnya.

Canggung dengan suasana di sekitarnya, akhirnya Kuroko memilih untuk membungkuk memberi salam.

"Lama tak berjumpa," ucapnya kaku, "Semenjak…Winter Cup berakhir," Oh! Salahkan cuacanya yang dingin, karena tepat pada saat itu, Kuroko bisa merasakan kalau tubuhnya menggigil. Kedua lengannya refleks memeluk tubuhnya sendiri. Satu pergerakan kecil yang berhasil ditangkap Mayuzumi Chihiro.

Siapapun tahu, orang itu, Mayuzumi Chihiro memang mirip seperti Kuroko Tetsuya. Entah itu fisik, penampilan, ataupun sifat datar dan wajah tanpa ekspresinya. Yang membedakan mereka hanyalah rambutnya. Tapi, satu hal yang Kuroko tidak ketahui, ada hal yang berbeda dari diri seorang Mayuzumi Chihiro.

"Di luar memang dingin," itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Namun, sebelum Kuroko menyahut atau bertanya, ia sempat dibuat tertegun ketika laki-laki di depannya melepaskan syal yang melilit lehernya, tersenyum simpul, lalu melingkarkan di sekujur leher Kuroko, dengan sedikit membenahinya. "Kenapa tidak memakai syal?"

Kuroko tidak perlu menjawab dan lebih memilih menyembunyikan wajahnya di balik syal. Ia terkejut. Mendapati sikap Mayuzumi seperti itu sungguh tidak terduga.

"Buket bunga itu…kau sudah menerimanya?"

Kuroko mengangguk. Tidak menyahut, atau menjawab.

"Lalu…" Mayuzumi terdiam sejenak. Sedikit ragu. Beberapa detik setelah keyakinannya terkumpul, ia melanjutkan. "Bagaimana...jawabanmu?"

Kuroko semakin menenggelamkan wajahnya di balik syal. Demi Tuhan! Ia begitu bingung. Entah apa yang harus dijawabnya. Sungguh! Hatinya begitu berdebar-debar tak karuan!

Apa yang baru saja kau lakukan, Mayuzumi Chihiro?

.

"Tecchan, apa kau tahu nama bunga ini?"

Gelengan kepala sebagai jawaban. Kuroko menatap sang Ibu lekat-lekat.

Ibunya tersenyum, lalu melanjutkan. "Bunga ini diberi nama bunga Gloxinia. Bunga yang memiliki makna cinta pada pandangan pertama, bukankah itu manis? Tecchan, ada seseorang yang menyukaimu!"

.

Aku menunggumu di lapangan basket dekat taman kota, Kuroko Tetsuya.

—Mayuzumi Chihiro.

.

"Kali ini saja, izinkan aku untuk mengungkapkan segalanya. Izinkan aku mengenalmu lebih baik lagi. Dan yang pasti...

...kau baru saja mengenalkan arti cinta untukku."

.

.

.


Alice & Suki : *jedukin kepala ke laptop*

Suki : Ampun! Alice! Fic ini sudah tertimbun lama!/eh

Alice : Salahkanlah dunia nyata kita, Suki *gaya detective/plak* Tapi akhirnya update lagi, yey!

Suki : Ups! Gomenne, yang request Ogiwara, Nijimura, Himuro belum terpenuhi *bow* abis lagi menentukan bunganya, huehehehe/dilempar.

Alice : Makasih buat yang review di chapter-chapter sebelumnya ya. Untuk Guest, Arros, dan Enchung (yang tidak memakai akun). Yosh! Ganbarimashouu! XDD Eh, Suki sedang apa kau?

Suki : Kekeke...mencari bunga yang cocok. Seperti Spiderflower, kira-kira bunga ini cocoknya untuk siapa ya?

Alice : Hah? Spiderflower?! Bunga dengan makna kawin lari itu?! Emangnya Kuroko mau diajak kawin lari sama siapa?!

Suki : Hanya bercanda/kemudian dilempar. Btw, sankyuu yang sudah membaca chapter ini sampai akhir *bow*

Alice : Dan yang pasti...

Alice & Suki : Review please? XDD *bow*