The Cape of Storms by Reisuke Celestine

Chapter 3

Disclaimer: Belong to themselves

.

.

Warn: Pair macem-macem. Typos. Sho-ai (mungkin juga bakalan jadi yaoi dengan tambahan mature content—tergantung nanti juga sih :p). Dll.

.

.

"Kau yakin kalau orang ini tadi seperti akan terbangun?"

Hojoon menatap ragu pada namja yang lebih muda dua tahun darinya ini. Byungjoo tiba-tiba saja berlari seperti dikejar sesuatu. Ketika berpapasan dengan dirinya, dengan seenaknya anak itu langsung menariknya pergi ke kamar yang sebenarnya masih ia hindari. Tapi melihat Byungjoo yang seperti bingung harus melakukan apa (Byungjoo memang tidak pernah berhubungan dengan hal-hal berbau perawatan manusia atau makhluk lainnya, jadi wajar melihatnya sedikit panik hanya karena hal seperti ini), Hojoon jadi sedikit tidak tega.

Byungjoo mengangguk perlahan. Ia memang sekilas tadi melihat kalau salah satu jari orang ini bergerak, dan refleks langsung berlari keluar—mencari siapa saja untuk memberitahukan hal ini.

"Tapi dia masih menutup matanya."

Nah itu juga yang membuatnya bingung. Keadaan orang ini masih sama seperti sebelum iris gelapnya menangkap pergerakan dari namja bertubuh kecil itu.

Tidak ada tanda-tanda kalau orang ini akan membuka matanya atau sekedar pergerakan kecil tak berarti. Apa hanya—

"Mungkin hanya bayanganmu saja."

Deg.

"Uwaahh!"

Byungjoo sedikit terlonjak ketika sebuah suara langsung menyapa indera pendengarannya. Ia sontak menoleh dan mendapati namja lain berdiri tepat di belakangnya.

"Jongwoon-hyung! Jangan membuatku kaget!"

Kebiasaan buruk dari namja tertua keempat itu. Pergi dan datang tiba-tiba. Menyebalkan memang, apalagi dengan kemampuannya yang kadang secara sengaja menghilangkan hawa keberadaan, jadinya orang ini lebih mirip hantu.

Hojoon menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Bukannya ia juga ikut terkejut karena kemunculan tiba-tiba Jongwoon walau ia tidak mendapat penglihatan sama sekali soal kedatangannya, toh ia sudah tahu karena walau hanya sekejap, sihir Jongwoon sedikit terasa beberapa detik sebelum kemunculannya. "Jongwoon-hyung, sekali-sekali bagaimana kalau kau coba muncul dengan cara yang normal?"

"Kebiasaan sulit diubah."

Setidaknya kau harusnya ada usaha untuk mengubahnya, bukannya malah memelihara kebiasaan yang bisa membuat orang jantungan, batin Byungjoo.

Jongwoon tidak lagi berbicara, tapi iris gelapnya lebih memilih untuk memperhatikan namja yang masih tertidur itu. Ada beberapa hal yang menarik perhatiannya dari orang ini, terutama dengan fakta dari apa yang didengarnya bahwa ia terjatuh begitu saja di halaman belakang. Rasanya sedikit janggal, mengingat ada lapisan pelindung yang menyelubungi seluruh mansion ini dan tidak sembarang orang bisa menerobos masuk kecuali seizin si pembuat barrier.

—atau bisa juga pengecualian untuk beberapa hal.

"Hyung?" Hojoon sebenarnya tidak suka dengan aura yang kadang dikeluarkan oleh Jongwoon. Walau tidak segelap Hyosang, tapi ada kalanya Jongwoon bisa terasa jadi orang yang sangat berbahaya.

Jongwoon bukannya tidak mendengar panggilan Hojoon padanya, hanya saja mungkin pemuda bersurai perak itu memang sedikit banyak mengalihkan minatnya. Ia menyeringai tipis, kala teringat wajah si surai perak mirip dengan sosok yang tergambar di selebaran dari kerajaan selatan yang dilihatnya ketika berjalan di desa tadi.

Mungkin memang pemuda ini berbahaya—atau sebaliknya, kelihatannya sedang ada konspirasi besar-besaran yang kemungkinan akan melibakan mereka kalau masih menampung orang ini.

Menarik, kira-kira akan sampai sejauh mana ini akan melibatkan kami.

.

.

Sehun benci musim panas. Sebaliknya, ia sangat mencintai musim dingin. Alasannya, musim panas identik dengan matahari dan segala sesuatu yang berhubungan dengan panas, menyengat, dan cuaca cerah. Hujan mungkin kadang turun, tapi tidak bisa menutup fakta bahwa itu masih musim panas dengan suhu menyengat. Sedangkan di musim dingin, matahari tidak banyak bersinar dan udara benar-benar cocok untuk keadaan tubuhnya yang merupakan mayat hidup—bukannya ia benar-benar sosok tak punya otak yang berjalannya saja harus diseret-seret (ia tidak mau disandingkan dengan makhluk yang bahkan kadar kewarasannya saja sudah lewat dari nol persen), tapi kata 'mayat hidup' setidaknya lumayan cocok juga untuk menggambarkan bagaimana keadaan tubuhnya.

Dan berkeliaran di udara terbuka dengan cuaca seterik ini adalah hal yang paling dibencinya. Ada banyak makhluk lain yang bisa dijadikan kurir pembawa pesan sebenarnya, tapi dengan seenaknya tetua vampir malah menyuruhnya untuk pergi.

Itu modus sebenarnya. Bilangnya sih kurir pembawa pesan hampir semuanya sibuk, tapi ia tahu kalau itu sebenarnya hanya keinginan para tetua untuk membuatnya pergi sementara dari kediaman klan. Sisi baiknya, mungkin kalau beruntung ia bisa bertemu seseorang yang dirindukannya di mansion itu.

"Tapi… bagaimana caranya aku masuk?"

Sehun berdiri di depan pintu gerbang mansion yang ditujunya. Hanya berjarak satu meter dan ia tidak bisa beranjak lebih jauh lagi karena terhalang barrier. Ia memang tidak memberitahukan perihal kedatangannya, dan sepertinya si tetua bodoh di ujung hutan nun jauh di sana juga tidak melakukannya—kelihatannya sengaja. Intinya untuk membuatnya jauh dari rumah. Semakin lama ia diam seperti ini, semakin lama pula baru ia akan pulang.

Merepotkan.

Pemuda dengan surai pirang pucat itu menarik nafasnya perlahan—walau faktanya ia tidak lagi bernafas, mengacak sedikit rambutnya dan mendengus kesal. Dari apa yang didengarnya dari orang itu, di jam-jam seperti ini hampir semua penghuni mansion ini pasti sedang tidak ada di tempat—kemungkinan juga si pembuat barrier sama tidak ada di tempat. Dan dari orang itu juga, ia tahu kalau mereka biasanya kembali ketika matahari hampir tenggelam di ufuk barat sana.

Ini kesialan, atau karma berantai untuknya karena hobi membuat kekacauan di kediamannya?

Sehun tidak tahu, harus merasa bersalah pada dirinya sendiri atau merasa kesal pada tetua di sana. Toh kekacauan yang ia buat juga bukan tanpa alasan sama sekali.

"Sehun-ah?"

Ia tersentak, lalu menoleh. Hampir saja ia berlari ke sosok yang sebenarnya lebih pendek darinya itu dan memeluknya. Si penyelamat datang. Untungnya lagi, itu adalah si pembuat barrier. Tapi setidaknya ia bisa menahan dirinya untuk tidak melakukan hal OOC semacam itu, lagipula ia bisa dihajar karena sembarangan memeluk orang lain, apalagi penciuman orang itu sangat tajam kalau berhubungan dengan orang-orang yang ada di dekatnya. Sedikit sentuhan intim dengan orang lain, artinya satu bulan tidak akan mendapat kabar apapun darinya.

Memang merepotkan punya kekasih seperti itu, tapi di lain sisi rasanya menyenangkan juga.

"Luhan-hyung." Usia Sehun sebenarnya lebih tua dibandingkan dengan siapapun di mansion ini, tapi mungkin karena di klannya ia termasuk yang paling muda, ditambah wajahnya yang walau sebenarnya boros tapi masih bisa dikatakan seusia dengan Byungjoo dan beberapa orang lainnya, jadi banyak yang melupakan fakta kalau usia Sehun bahkan hampir mencapai satu abad.

"Kau mau masuk ke dalam?"

"Err… ya, begitulah."

"Di dalam harusnya masih ada orang yang tinggal, bahkan Jongin saja tumben sekali tidak keluar hari ini."

"Hah? Jinjja?"

Sehun hampir saja membenturkan kepalanya ke pohon terdekat mendengar hal itu. Satu kebodohan dilakukannya lagi. Ia lupa kalau ia sebenarnya bisa bertelepati dengan Jongin. Bahkan walau pemuda berkulit tan itu tidak berada di mansion, ia setidaknya masih bisa bertanya di mana orang itu dan tidak perlu terdiam di depan mansion seperti orang bodoh.

Luhan hanya terkekeh melihatnya. Usia Sehun bisa jadi jauh lebih tua dibandingkan dirinya yang ketika Sehun sudah mencapai satu abad, ia baru merasakan seperlimanya saja—dan ragu kalau ia akan bisa merasakan sampai usia digit tiga angka itu, tapi tingkahnya bahkan sama saja seperti remaja-remaja labil yang tinggal di mansion ini.

"Sudahlah, ikut aku."

Luhan melangkahkan kakinya melewati namja bertubuh jangkung itu. Sehun punya postur tubuh yang menarik, belum ditambah dengan wajahnya yang memang bisa membuat siapapun jatuh cinta padanya. Terlalu lama menatap wajahnya saja, ia khawatir kalau ia pun akan dipaksa untuk jatuh cinta juga padanya. Ia tidak tahu apa-apa soal kehidupan Sehun, mungkin banyak gadis di sana yang juga merasakan hal itu padanya. Dan mengherankan sebenarnya, ketika vampir muda itu lebih memilih Jongin sebagai pasangannya.

"Aku diizinkan masuk?"

Luhan menggerakkan telunjuk tangan kanannya membentuk sebuah pola berbentuk segitiga terbalik. "Untuk yang berarti bagi salah satu dari kami, maka izin untuk masuk akan secara otomatis dimilikinya."

.

.

"Kerajaan selatan itu adalah sekumpulan orang-orang menyebalkan yang hampir semua tindakan dan keputusan yang mereka buat sudah dipastikan akan merugikan kita—dan makhluk lainnya."

Jongwoon menghentikan langkahnya ketika mendengar suara itu. Ia menoleh ke ruangan dengan pintu coklat tua yang sedikit terbuka, hanya untuk mendapati dua sosok tertua di mansion ini sedang berbicara—hanya berdua. Ia yang tadinya ingin segera ke kamarnya, secara naluriah langsung mendekat. Beruntung, sejak keluar dari kamar tempat pemuda tak dikenal itu tertidur, ia sudah menghilangkan hawa keberadaannya, jadi tidak masalah kalau ia akan menguping… kan?

"Mungkin lebih tepat kalau dikatakan itu semacam cara melindungi diri sendiri dari orang-orang seperti kita. Kalau dipikir lagi, salah langkah sedikit saja kita bisa saja membahayakan siapapun kan—sama seperti Jongwoon-ah waktu itu."

Jongwoon bersandar pada dinding, menghela nafas lalu pergi dari sana. Tidak ingin lagi mendengar percakapan yang pada awalnya sempat menarik perhatiannya.

Yang dibicarakan oleh mereka, ia bisa sedikit menebaknya. Tidak sulit, Kim Heechul pasti sudah tahu banyak hal lebih dulu, dan kabar mengenai namja yang ditampungnya adalah buronan kerajaan selatan pasti sudah diketahuinya.

Nah, pertanyaannya adalah kenapa sikap dua orang itu seolah terlihat seperti bahwa mereka tidak akan melakukan apa-apa?

.

.

"Hojoon-hyung…"

"Hm?"

"Apa hyung bisa melihat masa laluku?"

Hojoon mendongakkan kepalanya. "Hah?"

Byungjoo mengusap bagian belakang lehernya, kentara sekali terlihat gugup. "Tidak, hanya saja aku sedikit penasaran."

"Dengan?"

"Aku baru pertama kali bertemu dengan namja ini," Byungjoo melirik pada si 'putri tidur', "tapi entah kenapa rasanya aku cukup familiar dengannya. Makanya siapa tahu kalau hyung bisa melihat masa lalu, kupikir hyung bisa mencari tahu kenapa aku bisa merasa seperti itu."

Hojoon mengerjapkan kedua matanya. Ia baru tahu itu. Byungjoo seperti pernah bertemu dengan namja ini? Bukankah ini aneh?

Tapi kalau memang benar begitu, mungkin ia bisa tahu sesuatu. Sedikit juga tidak masalah, asal ia bisa tahu kenapa ia merasakan firasat buruk berhubungan dengan namja yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali. Satu-satunya penglihatan yang didapatnya mengenai orang ini adalah dalam mimpinya tadi malam.

Hanya yang jadi masalahnya adalah, kenapa orang ini terlihat seperti tengah dikejar sesuatu tapi bahkan tidak ada siapapun di belakangnya?

Hojoon melangkahkan kedua kakinya mendekati Byungjoo. Patut dicoba sebenarnya, walau ia belum pernah sekalipun melakukan penglihatan terhadap masa lalu.

"Tutup matamu dan usahakan tubuhmu rileks seperti akan tidur. Aku akan mencoba masuk ke dalam pikiranmu. Jangan membuka mata dan jangan memikirkan apapun sampai aku menyuruhmu."

.

.

Hojoon belum pernah memasuki pikiran seseorang. Semua penglihatan yang dilihatnya selama ini muncul begitu saja dalam benaknya asal dia memikirkan orang yang bersangkutan, atau memang muncul begitu saja tanpa ia sadar melalui mimpi. Makanya, walau ia bilang akan mencoba, ia bahkan tidak yakin kalau ini akan berhasil. Seperti membuat mantra pembalik, ia mengucapkan pola sihir yang biasa dilakukannya untuk melihat masa depan secara terbalik.

Nyatanya itu terbukti berhasil.

Setiap sudut ingatan Byungjoo berwarna gelap—hampir seluruhnya. Dari apa yang pernah didengarnya dari Kim Kibum, ketika memasuki pikiran seseorang warna yang dilihatnya menggambarkan bagaimana kehidupan yang dialaminya dari lahir sampai sekarang. Semakin terang, artinya orang itu dilimpahi kejadian-kejadian yang jauh dari kata buruk. Begitu pun sebaliknya.

Hojoon mengerutkan alisnya. Gelap artinya banyak kejadian buruk menghantui hidupnya. Apa masa lalu Byungjoo memang separah itu? Memang tidak sepenuhnya gelap, tapi tetap saja. Menilik dari bagaimana tingkah Byungjoo selama tinggal di mansion ini, ia bahkan tidak bisa menebak sebenarnya bagaimana kehidupan Byungjoo sebelum tinggal di mansion.

Anak itu mulai tinggal di tempat ini sejak dua tahun yang lalu. Pribadi yang sedikit kekanakan, sering mengganggu yang lebih tua tapi sulit untuk dibenci—paling juga hanya merasa kesal padanya.

Hojoon melangkahkan kedua kakinya perlahan. Gelap yang menyelimutinya membuatnya sedikit ragu untuk melangkah maju. Pekerjaan seperti ini harusnya dilakukan oleh Kibum, karena di antara semua orang yang mempunyai kemampuan untuk mendapat penglihatan, hanya Kibum yang bisa membaca masa lalu—walau sekarang ditambah dirinya yang bermodalkan rasa nekat.

Ia mengacak rambutnya frustasi, di tengah kegelapan seperti ini memangnya apa yang akan ia dapatkan? Yang ada malah lama-kelamaan ia akan merasa gila sendiri.

Deg.

Zrshhh.

Apa?

Hojoon mengerjapkan kedua matanya. Visinya kini berganti, bukan lagi gelap pudar tapi sebuah tempat yang tak dikenalnya. Didera hujan, tapi ia tidak bisa merasakannya. Mungkin karena ia yang sekarang hanyalah sekedar roh dan bukan merupakan keberadaan yang seharusnya ada di sini.

"Hansol-hyung!"

"Eh?"

Itu suara Byungjoo. Ia tidak mungkin salah mengenalnya. Membalikkan badannya, ia melihat sosok yang dikenalnya itu tengah berlari ke arah namja bersurai perak yang tengah berdiri di tengah dataran luas yang ditumbuhi oleh rerumputan. Hojoon membulatkan kedua matanya, menyadari kalau sosok yang satunya lagi juga tidak asing di matanya.

"Tung—" dia kan…

Deg.

Namja bersurai perak itu menoleh ke arah tempatnya berada, alih-alih menanggapi panggilan Byungjoo dan menatapnya tajam—

—tunggu, harusnya di tempat ini, ia tidak terlihat atau bahkan disadari oleh siapapun yang bahkan hanya sekedar ingatan belaka seperti ini.

"Akh!"

Hojoon merasa tubuhnya seperti ditarik paksa. Ia memejamkan kedua matanya erat.

"Hojoon-ah, kau tidak apa-apa?"

Ia membuka kedua matanya, mendapati sesosok namja berkulit putih dengan raut datar di wajahnya—tapi kentara sekali bahwa ia tengah khawatir. Namja berkacamata itu memegangi kepalanya yang langsung terasa pening.

"Kibum-hyung?" ia tersentak, seolah teringat sesuatu, "Byungjoo!?"

"Hhh… dia tidak apa-apa, harusnya. Kurasa hanya tertidur. Lain kali jangan nekat membaca masa lalu seseorang, karena bahkan sebagian ingatan anak ini disegel oleh seseorang. Terlambat sedikit saja aku menarikmu keluar, mungkin kau tidak akan bisa kembali lagi."

Apa?

.

.

Hojoon masih memikirkan kejadian yang dialaminya dalam ingatan Byungjoo tadi. Kepalanya masih sedikit terasa sakit, walau Kibum mengatakan itu normal karena baru pertama kalinya ia mencoba melakukan hal itu. Ia tidak mungkin salah lihat. Keberadaannya memang disadari kala itu. Mungkin itu semacam proteksi agar tidak sembarang orang bisa seenaknya melihat ingatan Byungjoo.

Masalahnya, untuk apa?

Apa itu dilakukan oleh namja bersurai perak itu?

"Siapa sebenarnya orang itu?"

.

.

To Be Continued—

.

.

a/n pengungkapan misteri dan penambahan misteri lainnya. xD Entah kenapa lagi seneng bikin yang ini. Mungkin karena pilihan castnya banyak. #duagh #kebanyakanmalah Bahkan di tengah pekerjaan saya yang numpuk di kantor *lirik meja yang penuh dengan dokumen* saya masih sempet-sempetnya buka file ini. x'D #jangantiru

Okeh, segitu aja dulu yah, Sampai bertemu di chapter selanjutnya untuk lebih banyak misteri. xD #duagh