Disclaimer: Naruto selamanya akan tetap milik Kishimoto-sensei xD
.
.
.
.
'Kudengar Namikaze Naruto melindungi gadis aneh itu. Cih, yang benar saja'
'Hey aneh! Dengar ya, sampai kapanpun kau tidak pantas bersanding dengan Naruto'
'Seharusnya kau berkaca siapa dirimu, apa perlu aku membelikan kaca untukmu?'
Hinata mengacuhkan suara-suara yang terus berdenging ditelinganya.
'Mereka hanya iri kepadamu, Hinata. Hanya iri'
.
.
.
4 November 2011
Hari ini adalah hari yang paling bahagia bagi seorang Namikaze Naruto. Ya, selain karena hubungannya dengan Hinata mulai membaik, Hinata juga mulai terbuka dengannya. Naruto menyukai senyum Hinata. Senyum yang mampu membuat siapapun terpesona, tanpa terkecuali playboy seperti Naruto. Seperti biasa, Naruto menjemput Hinata dirumahnya dan Hinata sama sekali tidak menolak. Hinata malah mengucapkan selamat pagi untuknya. Naruto tidak sedang bermimpi, kan?
"Kenapa? Ada yang salah denganku?" Hinata masih berdiri disamping mobil Naruto, melihat ekspresi Naruto yang terkejut, ia sedikit ragu untuk membuka pintu mobil mewah itu.
"Eh? Tidak.. Tunggu apa lagi. Ayo masuk!" Naruto kemudian membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Hinata masuk. Hinata dengan senang masuk dan duduk disamping Naruto yang sedang memegang alih kemudi. Naruto memandang sejenak kearah Hinata. Cantik, hanya kata itu yang bisa mendeskripsikan bagaimana Hinata sekarang. Dengan rambut berwarna raven panjang, wajah yang putih mulus, mata lavender yang meneduhkan jiwa, dan yang penting senyuman yang sangat langka. Oh, sepertinya sifat playboy Naruto sedang kambuh hari ini.
"Ke-kenapa? Ada yang salah denganku?" Hinata merasakan wajahnya bersemu merah, mungkin ini adalah kali pertama ia dipandang oleh seorang pria sedekat ini.
"Tidak, kau sekarang sudah lebih banyak bicara." Naruto mengeluarkan cengiran khasnya, sementara Hinata hanya tersenyum simpul.
"Bukankah kita teman?" Naruto adalah teman Hinata. Hinata yakin Naruto tidak akan menyakiti dirinya seperti orang-orang yang selalu menghinanya.
"Tentu saja." Naruto kembali fokus mengendalikan mobil mewahnya menuju ke kampus. Hinata merasakan kepalanya berdenyut hebat. Sial, mengapa disaat seperti ini penyakitnya kambuh sih? Apa karena dia tidak melakukan terapi? Hinata memegang kepalanya yang semakin pening, dia butuh obat itu, dia butuh morfin untuk pengendali rasa sakitnya. Secepat kilat Hinata mengeluarkan isi tasnya, dia harus menghentikan rasa sakit itu secepatnya. Hinata mengacuhkan pandangan curiga dari Naruto, dia sampai lupa jika Naruto ada disampingnya menatapnya curiga. Ah dapat! Hinata mengeluarkan obat itu dari bungkusnya dan hendak menyantapnya, tapi sayang pergerakan tangannya ditahan oleh Naruto.
"Obat apa itu?" tanya Naruto dengan tatapan penuh selidik.
"Aspirin."
"Aku tidak percaya." Naruto kemudian mengambil paksa obatnya, Hinata merasakan kepalanya semakin pening sepertinya Hinata sudah ketergantungan dengan obat itu. Hinata hanya terdiam sambil mencengkram kepalanya. Sial, Naruto sialan, mengapa harus menghalanginya sih?
"Katakan Hinata!" Teriakan Naruto kembali diacuhkan oleh Hinata, karena kesal Naruto kemudian menepikan mobilnya dan menghentikan dengan paksa, "Jawab Hinata, kita teman!"
"Morfin!" Hinata menjawab ketus dan merampas obatnya dari tangan Naruto. Tangan mungilnya memasukan obat itu kedalam mulutnya. Naruto hanya menatap Hinata tidak percaya, morfin. Berarti gosip yang mengatakan Hinata pecandu narkoba itu benar.
"Itu narkoba! Sekali kau menggunakannya kau akan terjerat selamanya."
"Apa pedulimu?" Hinata menjawab ketus pernyataan Naruto, dan Naruto kembali menatap Hinata heran. Apakah Hinata ini punya kepribadian ganda?
"Hinata, aku mohon. Jangan menggunakan obat itu lagi ya." Naruto menatap Hinata dengan tatapan tulus, entah mengapa Naruto bisa bersikap perhatian begini. Biasanya Naruto akan mengacuhkan gadis-gadis yang telah berhasil didapatnya. Ada sesuatu dari diri Hinata yang membuat Naruto begitu mengaguminya.
Hinata menarik nafasnya, sambil melirik kearah Naruto yang masih mencoba merayunya. Kali ini bukan merayu untuk menjadikan Hinata kekasihnya namun untuk menghentikan Hinata untuk mengkonsumsi obat haram itu.
"Aku tidak bisa melepaskannya." Hinata berencana akan menceritakannya ke Naruto. Menceritakan semuanya karena Hinata percaya Naruto, sangat percaya.
"Mengapa?" Sudah Hinata duga Naruto akan bertanya dan mendesaknya untuk berkata yang sejujurnya.
"A-ano, aku akan sakit tanpa itu." Hinata menunduk, mencoba menahan tangisnya.
"Maksudmu apa, Hinata? Ucapanmu itu terlalu bertele-tele, aku tidak mengerti." Naruto menggaruk-garuk kepalanya, kemudian kembali menghidupkan mobil mewahnya.
"Aku sakit kanker otak, aku butuh obat itu untuk menahan rasa sakitnya." Tahan Hinata, kau bukan wanita lemah yang menangis didepan seorang pria.
"A-Apa?" Mata Naruto membulat tidak percaya, "Tapi kau bisa berobat kan Hinata? kau tidak perlu menggunakan narkoba seperti itu. Itu dilarang agama." Naruto menasehati Hinata ala ustad yang sering ditonton Ibunya di rumah.
"Kau tidak mengerti keadaanku, Naruto." Hinata mengambil nafas sejenak, "Perusahaan ayahku sudah diambang kehancuran. Mobil dan semua benda berharga sudah kami jual, kami sudah tidak mempunyai uang, disaat seperti ini adikku sakit usus buntu, dan harus di operasi secepatnya, ayahku menggunakan uang terakhir dari hasil penjualan mobil untuk membiayai operasi adikku. Ayahku bingung, disatu sisi adikku harus operasi, dan disatu sisi menurut saran dokter aku harus menjalankan terapi," Hinata mengambil jeda sejenak, dan menatap Naruto yang sangat antusias mendengar ceritanya, "Sebagai seorang kakak, aku harus melindungi adikku, bukan? Untuk itulah, aku memutuskan tidak melakukan terapi. Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya, kan? Konsekuensi yang harus aku hadapi karena tidak melakukan terapi itu adalah penyakitku akan sering kambuh, dan barusan kau sudah melihatnya. Rasanya menyakitkan, Naruto, untuk itulah aku butuh morfin, untuk menghilangkan rasa sakit." Hinata masih mencoba menahan tangisnya. Kami-sama, Naruto kembali harus kagum dengan sosok Hinata. Naruto mengerti sekarang mengapa Hinata menjadi pendiam dan aneh, itu karena penyakitnya. Dibalik sifatnya yang aneh dan pendiam, Hinata adalah sosok wanita dan kakak perempuan yang sangat baik.
"Apa kau tidak ingin sembuh, Hinata?"
"Kebanyakan penyakit kanker akan berujung kematian." Hinata merasa pandangan matanya sedikit buram, air mata tergenang di mata lavendernya, namun Hinata sama sekali tidak ingin menangis di depan Naruto.
"Kau pasti sembuh, Hinata. Menangislah." Naruto kemudian menarik Hinata di dalam dekapannya dan menangis dipelukan Naruto. Naruto seakan tidak peduli bajunya basah oleh air mata, dengan lembut pria berambut pirang itu mengelus punggung gadis ringkih itu, "Aku akan membantu pengobatanmu sampai kau sembuh. Aku juga akan membantu keluargamu." Hinata melepaskan pelukannya dan menatap Naruto tajam. Tangannya menghapus air mata yang mengalir di wajahnya.
"Tidak perlu, Naruto." Hinata tidak ingin merepotkan Naruto. Dia tidak ingin di cap gadis matre yang gemar meminta uang kepada pria kaya.
"Hey, bukankah kita teman?" Kata-kata dan senyuman tulus Naruto membuat Hinata terpaku.
'Naruto, mengapa kau harus membantuku?'
'Naruto, mengapa kau mendekatiku?' Pertanyaan itu ingin Hinata tanyakan ke pria berambut blonde itu, namun ia tahan. Biarkan saja waktu yang akan menjawabnya.
Naruto langsung mengajak Hinata ke rumah sakit untuk memeriksakan kankernya. Sejak sakit kanker Hinata belum pernah melakukan terapi sesuai saran dokter, bahkan letak kanker di kepalanya saja dia tidak tahu, karena keterbatasan biaya. Dulu, Hinata memeriksakan sakitnya sendiri dengan mengumpulkan uang jajannya. Hinata merasa dunia akan runtuh saat dokter memvonisnya kanker otak, dan semenjak itulah Hinata menjadi gadis yang pendiam. Hinata melawan penyakitnya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Apabila dia muntah, dia membersihkan muntahannya sendiri, semuanya serba sendiri. Hinata memang tidak suka terlihat lemah dan dikasihani. Ayahnya dan kakaknya berjanji untuk mencarikan uang yang akan digunakan untuk pengobatan Hinata, namun Hinata mencegah hal itu. Hinata mengatakan sel kankernya sudah tidak berkembang. Hinata berbohong, demi adik dan keluarganya walaupun ia sadar, sel kanker tidak akan pernah diam. Hiashi dan Neji tersenyum senang ketika Hinata mengatakan dia tidak merasa sakit, bukankah lebih baik seperti itu, keluarganya tersenyum senang dan bahagia.
"Kau akan diperiksa oleh dokter favorit keluargaku." Cengiran khas Naruto hanya dibalas senyuman singkat oleh Hinata, "Maaf ya Hinata, kita harus bolos sekarang."
"Ya, tak masalah."
Setelah sampai di rumah sakit, mereka langsung menemui dokter bernama Tsunade.
"Nenek Tsunadeee!" Teriakan Naruto dihadiahi bogem mentah dari dokter bernama Tsunade.
"Aku belum nenek-nenek. Ada apa kemari?" Tsunade kemudian menoleh ke arah Hinata, "Ini kekasih keberapamu, Naruto?" tanya Tsunade sambil menunjuk Hinata.
"Heh, dia temanku tau!" Naruto mengerucutkan bibirnya, pasti Tsunade mengetahui hobi Naruto yang gemar gonta ganti pasangan dari ibunya, "Dia sakit kanker otak, apa bisa kau periksa sekarang?" suara Naruto mendadak serius.
"Apa kau sudah pernah diperiksa sebelumnya, Nona?"
"Ya."
"Kapan kalau aku boleh mengetahuinya? Pengobatan apa yang sudah kau lakukan?" Serentetan pertanyaan itu ditanyakan Tsunade tanpa jeda.
"Beberapa minggu yang lalu. Aku belum melakukan apa-apa." Hinata bisa melihat perubahan ekspresi dari Tsunade.
"Apa? Kau tahu kan perkembangan sel kanker itu sangat cepat. Baiklah, sekarang kita akan melakukan scan, untuk mengetahui dimana letak tumor di otakmu." Tsunade menunjukan alat yang akan digunakan, Hinata melakukan pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) . Pemeriksaan MRI merupakan salah satu bentuk pemeriksaan radiologi yang menggunakan prinsip magnetisasi. Medan magnet digunakan untuk proses magnetisasi komponen ion hidrogen dari kandungan air di tubuh. MRI dapat menggambarkan dengan sangat jelas dan kontras berbagai bagian organ tubuh. Hinata melepaskan semua aksesoris berbahan logam yang digunakannya. Waktu yang diperlukan berkisar 30-45 menit dan Naruto dengan sabar menunggu Hinata menjalani pemeriksaan.
"Hinata, berdasarkan tempat terjadinya tumor otak hingga menjadi kanker otak dibagi menjadi dua, yaitu tumor supratentorial yaitu tumor di atas tentorium atau pada otak besar, dan tumor infratentorial yaitu tumor yang ada di bawah tentorium, yakni otak kecil dan batang otak-" Tsunade menjelaskan dengan tatapan serius.
"Nenek, apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti!" Naruto memotong ucapan Tsunade sehingga kepalanya dihadiahi jitakan.
"Aku tidak bicara denganmu, Playboy!" Ucapan Tsunade membuat Naruto mengerucutkan bibirnya, julukan yang sangat buruk berhasil melekat pada dirinya, "Jenis tumor otak yang paling parah salah satunya,"Neuroblastoma". Kalau tumor ini letaknya di otak besar mungkin gejala yang timbul lambat, tapi, jika tumor ini terletak di otak kecil, maka gejalanya akan cepat terlihat." Naruto hanya mengangguk seolah mengerti dengan pernyataan Tsunade, "Kita berdoa saja, Hinata. Tumormu ada di otak besar, atau mungkin menghilang. Ini baru bisa dipastikan jika hasil MRI sudah keluar, kau bisa mengambilnya disini 3 hari lagi." Tsunade kemudian mengeluarkan beberapa obat-obatan dan menyodorkan kearah Hinata, "Ini obat untuk memperlambat sel kanker, tapi tidak untuk menghilangkan." Ujar Tsunade sambil tersenyum.
"Terimakasih, dokter Tsunade." Hinata memasukan obat-obatan itu kedalam tasnya. Setelah mengucapkan terimakasih, mereka kemudian menuju ke kampus.
"Naruto, tolong jangan memberitahu siapapun mengenai penyakitku."
"Baiklah, Hinata. Aku berjanji." Naruto membentuk huruf V dengan tangannya sambil tersenyum lebar. Hinata tersenyum simpul dan meninggalkan Naruto. Hinata lupa, dia ada kelas siang ini. Sementara Naruto, menggaruk-garuk kepala melihat kelakuan Hinata, "Dia selalu mengacuhkanku. Memangnya aku kurang ganteng apa." Ujar Naruto kemudian menuju ke kantin, disana sudah ada teman-temannya dan Shion, pacar keenam sekaligus pacar favoritnya sudah menunggu.
"Hey Naruto!" Kiba melambaikan tangannya saat melihat Naruto sedang kebingungan mencari mereka di kantin yang penuh sesak.
"Yo Kiba." Naruto mendekati mereka, kemudian langsung duduk disamping pacar keenamnya.
"Honey, kenapa kau tidak masuk kelas?" tanya Shion dengan nada manja yang dibuat-buat.
"Aku kesiangan," Naruto berkilah. Kiba dan Sasuke yang sudah mengetahui alasan Naruto terlambat hanya tertawa.
"Hah, aku sudah harus masuk kelas, padahal aku merindukanmu." Shion kemudian mengecup pipi Naruto.
"Aku juga merindukanmu, masuklah." Naruto menjawab ucapan Shion dengan dingin, membuat Shion sedikit tersentak, kemudian meninggalkan mereka semua.
Setelah memastikan Shion pergi dari kantin, Kiba memberanikan diri untuk membuka percakapan.
"Ada apa denganmu Naruto?" Kiba menyesap aroma cappucino hangat miliknya, "mengapa sedingin itu, bukankah Shion itu pacar tersayangmu?" sambung Kiba sambil menatap tajam temannya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Aku? Dingin? Aku bukan Sasuke." Mendengar namanya disebut Sasuke mendelik tajam. Kemudian melempar Naruto dengan tusuk gigi yang ada di meja mereka.
"Jangan sebut namaku." Sasuke menjawab sambil mengotak atik handphone barunya, seakan tidak peduli dengan Naruto yang sudah seenaknya mengambil makanannya.
"Aku serius, Naruto. Biasanya kau akan bertingkah berlebihan, seperti mencium dan memeluk Shion seperti seribu tahun tidak bertemu." Jawaban Kiba membuat Naruto sedikit salah tingkah.
"Begitukah?" Kiba hanya tertawa mendengar pertanyaan tidak berbobot dari Naruto.
"Bagaimana taruhan itu masih berlaku kan?" Sasuke menghentikan kegiatan mengotak atik handphonenya kemudian berganti menatap Naruto dengan tatapan licik.
"Khe, tentu saja. Namikaze Naruto tidak akan pernah mencabut ucapannya."
"Baguslah. Aku pikir kau lupa." Sasuke memasukan sebuah kentang goreng ke dalam mulutnya, kemudian mengunyahnya dengan anggun, "bagaimana hubunganmu dengan si aneh itu?" sambung Sasuke lagi sambil tetap mengunyah.
"Dia punya nama, Sasuke." Sasuke tertawa nyaring mendengar jawaban Naruto, dia bahkan lupa dengan imagenya sebagai cowok terdingin di kampus.
"Apa? Sejak kapan kau memperdulikan nama? Kau bahkan selalu mengetahui nama gadis setelah jadian." Sasuke menatap takjub kearah Naruto.
"Apa yang dia lakukan? Baru beberapa hari kau sudah berubah drastis." Kiba juga menatap Naruto takjub, Naruto yang dipandangi secara intens merasa tidak nyaman, sialan, dia seperti pejahat yang mencuri berpuluh-puluh ayam saja.
"Hinata tidak melakukan apa-apa. Aku kan hanya mendekati dia kan hanya karena taruhan kita. Setelah 30 hari, dan aku berhasil mendapatkannya, aku akan meninggalkannya. Puas?" Naruto memang mempunyai gengsi yang tinggi jika berhadapan dengan Kiba dan Sasuke. Naruto sangat menyukai apabila kedua sahabatnya ini memujinya. Apabila sahabatnya memuji kecantikan seorang gadis, maka Naruto akan berusaha mendapatkan gadis itu, bagaimanapun caranya.
"Baguslah, sebagai sahabat aku tidak ingin kau jatuh cinta dengan gadis aneh dan pecandu narkoba seperti dia." Naruto menatap Kiba tajam, hey jatuh cinta itu datangnya tiba-tiba dan tidak terduga.
"Tenang saja, tidak ada kata cinta untuk gadis aneh macam dia." Naruto terlihat seperti orang munafik sekarang. Didepan Hinata dia begitu baik, sementara dibelakang Hinata, dia menjelek-jelekannya seperti saat ini, hanya karena gengsi. Bukankah terkadang isi hati berbanding terbalik dengan realita?
.
.
.
.
To Be Continued.
.
.
.
Haloooo xD apakah masih ada yang menunggu fic ini? :p Jadi di cerita ini, Naruto itu orangnya gengsian dan selalu ingin terlihat menonjol dibandingkan temannya. Dia sangat senang kalau Kiba memuji dia, apalagi Sasuke? Beuh, senangnya bukan main wkwk. Dichapter ini, Naruto sudah kagum dengan sosok Hinata, dan dari rasa kagum bisa beralih jadi cinta bukan? Tapi karena sahabatnya itu menganggap Hinata gadis aneh, makanya Naruto bersikap seolah-olah dia sama sekali tidak akan pernah menyukai Hinata. Ya sudah, sekian dulu cuap-cuap chapter 3 nya mihihi.
See you di next chapter ya.
Balas review dulu.
Sora-san: Makasiii sudah suka :3 ini udah update lho chapter 3 nya :)
ArisaKinoshita-san: Makasiiih :D hehehe ini sudah lanjut :)
Lala-san: wkwkwkwk sama dong kayak saya, suka molor kalau penyuluhan heheh udah update nih. Terimakasih sudah baca :D
Paris-san: wehehehe emang rencananya entar Naruto bakalan bantu Hinata :D
NamikazeNoah-san: Ah, belum tau endingnya nih hehehe doain aja, happy ending yaaa xD
Hinatalover-san: mirip Sasuke ya? Gomen ne xD hihi udah update nih :D
-san: sudah update xD
fathiyah-san: hai! Salam kenal :D makasih.. ini sudah update loh xD
NaruGankster-san: iya morfin Narkoba dek.. Hoho. Aspirin itu obat penahan/penghilang rasa sakit :D makasih sudah suka yaa dek..
Huhu-san : sudah xD
Ara-chi -san : wkwk sudah update nih *ikutan ngesot*
Azu-nyan: hehehehe makasih. Udah lanjut nih xD
Siti-san: sudaaah update xD
Kyoswiztara: Haaiiii :D ini sudah update loh. Makasih :D
Ika-san : mihihi sudah update. Makasih ya :D
hehe terimakasih buat yang udah review dan baca. Kiss reader dan reviewer satu-satu :D
see you di chapter 4.
