Enjoy

.

.

"Oh.. baiklah.., kau memiliki semangat yang luar biasa ternyata."

"Yah.. ibuku juga bilang seperti itu sebagai alasan di balik semua barang yang tanganku rusak."

Oh.. tadinya Seokjin pikir pria di depannya ini adalah pria yang mencintai kebersihan dan tidak suka mengacau. Sedikit mengecewakan. Yah, jangan nilai buku dari sampulnya. Setidaknya pria ini hanya akan bertemu dengannya sekali bukan? Jika dilihat dari pakaiannya, sepertinya pria ini bukan berasal dari daerah sederhana seperti Seokjin.

"Baiklah.. kau suka menghancurkan barang.."

"Ekhm, secara tidak sengaja. Tolong ingat itu. Ah, bagaimana dengan ceritamu?"

Kau tahu? Persetan dengan status orang asing yang disandang pria dengan nama Namjoon di depannya ini. Seokjin hanya ingin menceritakan semuanya. Dan dia benar-benar menceritakan semuanya, mulai dari sebelum dia membuka toko sampai dia duduk di bawah pohon cemara. Memang cerita yang lumayan panjang, belum lagi ceritanya bercabang pada kepergiannya besok dan juga keluarganya. Seseorang bisa tolong ajarkan Seokjin cara untuk mengontrol mulutnya? Karena dia bisa saja terjebak dalam masalah jika dengan mudah membuka informasi tentang dirinya sendiri seperti itu.

"Ah, aku menyesal mendengar tentang nomormu.."

Seokjin berdecak. Sudahlah.. itu sudah terjadi, dia tidak bisa apa-apa.

"Bagaimana denganmu? Kau punya cerita yang ingin kau ceritakan?"

"Tentang kehidupan-"

"Namjoon!"

Seokjin tidak tahu siapa yang memanggil Namjoon, tapi.. sepertinya pamannya atau semacamnya.

"Paman Seo, kenalkan ini Seokjin."

Dan entah kenapa Seokjin merasa ada yang aneh dengan pria tua itu. Matanya menatapnya dengan berbinar-binar.. Seokjin jadi merasa.. takut. Informasi, ketakutan terkadang bisa mengambil separuh dari kesadaran yang kau miliki, jadi, jangan heran jika Seokjin berlindung di belakang Namjoon seraya meremas mantel yang Namjoon pakai dengan erat.. ekhm, meskipun Namjoon adalah orang asing baginya.

Namjoon?

Jantungnya sepertinya meledak-ledak dengan heboh di dalam sana. Jika saja saat ini Namjoon bisa berteriak, pasti sudah ada banyak kerumunan orang yang mengajukan protes padanya mengingat taman ini tidak begitu jauh dari pemukiman.

"Oh, maaf jika aku menakutimu nona muda. Ah, paman hanya bisa menemukan ayam goreng di dekat sini-"

"Kau bilang ayam goreng?"

Seokjin melepas genggamannya pada mantel Namjoon dan mendekati Paman Seo. Entah ada apa dengan bungkusnya, tapi Seokjin mengamati bungkusan ayam goreng itu dengan cermat, membuat Namjoon bingung dibuatnya. Terutama ketika tiba-tiba Seokjin merebut ayam goreng itu dan membuangnya ke tempat sampah yang letaknya tidak jauh dari tempat merek bertiga berdiri. Astaga.. Namjoon sudah sangat lapar dan ayam gorengnya lenyap..

"Seharusnya jangan beli ayam goreng di tempat Tuan Lee, dia menyuntik ayamnya agar menjadi besar."

"Pertama terima kasih telah menyelamatkan majikanku, kedua..-"

"Makan saja di rumahku, hari ini ibu memasak banyak hidangan karena besok aku akan pergi. Kurasa ibu tidak akan keberatan jika aku membawa tamu."

Dan rasanya dunia Namjoon seakan berhenti ketika Seokjin menyunggingkan senyumnya.

.

.

.

Seokjin eomma sama sekali tidak keberatan ketika putrinya kembali dengan dua orang pria setelah mendengar alasan yang Seokjin berikan. Putrinya adalah anak yang baik, jadi beliau yakin bahwa apa yang dikatakan putrinya adalah apa yang terjadi sebenarnya. Tapi sepertinya tidak dengan suaminya. Seokjin appa adalah pria ramah dengan hati yang lembut, jadi siapapun tidak akan bisa menemukan wajah masam atau tatapan tajam di wajahnya. Tapi, sepertinya pengecualian untuk kali ini.

"Kau yakin mereka orang baik, nak? Ayah rasa tidak."

Namjoon hampir saja mengeluarkan makanan yang dikunyahnya jika saja Paman Seo tidak menepuk pahanya pelan. Apa wajahnya terlihat seperti orang jahat? Atau mesum? Untuk jahat Namjoon meragukan itu, tapi untuk mesum.. mungkin efek apa yang dia lihat dari buku dan film? Haruskah dia membuang semua hal miliknya yang berhubungan dengan hal-hal itu?

Namjoon tadinya sangat ingin bertanya pada Seokjin eomma tentang apa yang salah dengannya saat Seokjin appa bangun dan membanting pintu yang Namjoon yakini sebagai pintu kamar orang tua Seokjin. Tapi Seokjin eomma mendahuluinya dengan berkata, "Maafkan Seokjin appa, dia hanya tidak suka saat Seokjin dekat dengan pria. Dia masih sangat ingin bersama dengan putrinya tanpa ada halangan dari pria lain."

"Ah, nyonya.. jangan menatapku, tatap majikanku saja karena-"

Puk!

"Uhuk.."

"Ah, paman seharusnya menutup mulut saat makan. Maafkan pamanku, bibi, Seokjin.."

Ok. Sekarang semuanya terasa aneh bagi Seokjin. Maksudnya.. dengar, Seokjin tahu bahwa Namjoon adalah seseorang dengan pendidikan tinggi yang tentu saja tahu bahwa menepuk pundak orang yang sedang makan dapat menyebabkan sesuatu yang disebut tersedak. Jadi, seharusnya Namjoon tidak melakukan itu, kecuali ingin membunuh seseorang. Berhubung Namjoon terlihat sangat menyayangi paman atau terserah saja siapa itu, Seokjin rasa tidak mungkin pernyataan kedua kedok Namjoon untuk menepuk pundak seseorang saat makan.

"Baiklah.., ekhm.. aku akan membereskan beberapa barang di kamarku."

Seokjin pun pergi. Dia tidak nyaman dengan hal aneh yang mengelilingi ruang makan kecilnya.

"Bibi, apa aku melakukan kesalahan? Kenapa Seokjin pergi? Kenapa wajahnya terlihat tidak nyaman? Apa aku mengganggunya?" Namjoon bertanya dengan begitu menggebu-gebu sampai Seokjin eomma tidak bisa menahan kekehannya. Sudah sangat jelas bagi Seokjin eomma bahwa pria bernama Namjoon ini menyukai putrinya, yah, beliau tidak masalah.

"Ya, dia merasa tidak nyaman, tapi bukan denganmu bibi rasa. Kau anak yang baik dan penuh dengan semangat, bibi saja menyukaimu, apalagi Seokjin."

Emm.. itu lampu hijau untuk Namjoon atau sebuah pertanda baik? Ah, keduanya sama saja! Boleh Namjoon berteriak? Ah.. dia ingin menjerit! Tidak.. jika dia menjerit, Seokjin appa akan merasa terganggu dan.. halangannya akan menjadi lebih banyak.

"Bibi, boleh aku kembali ke sini lain hari?"

"Jika untuk Seokjin boleh saja," Ekhm.. wajah Namjoon merona sekarang. "Tapi sayang sekali Seokjin akan pindah ke Seoul."

Seoul? Namjoon tinggal di sana, itu berita baik. "Aaah.., tidak apa, aku akan tetap kembali lain hari. Tapi mengenai Seokjin.. di mana dia akan tinggal nanti?" Oh ya, jangan berpikir bahwa Namjoon tidak akan menanyakan itu. Dia sudah menemukan seseorang yang pas di hatinya dan dia tidak akan melepasnya dengan begitu mudah.

"Dia akan tinggal dengan adiknya, tapi bibi tidak tahu di mana itu. Aish, berandal kecil itu, merahasiakan tempat tinggalnya agar bibi tidak bisa megirim uang untuknya."

"Kenapa?"

"Ingin mandiri katanya, cih.. sikapnya saja seperti dari planet lain, mandiri bagaimana?"

"Eomma, bisa ke sini sebentar?!"

Seokjin eomma tersenyum pada Namjoon sebelum menghampiri Seokjin di dalam kamar gadis itu. Omong-omong.., Namjoon penasaran rupa kamar Seokjin. andai Namjoon diperbolehkan masuk..

"Emm.., Namjoon, Tuan Seo, sudah sore dan Seokjin-"

"Eomma."

"Maksudku.., aku rasa lebih baik kalian menginap semalam. Perjalanan dari Paju ke Seoul cukup lama dan Seokjin- ah, maksudku aku rasa jalanan padat mengingat hari ini akhir pekan."

Namjoon tidak bodoh untuk menyadari bahwa itu semua adalah ucapan Seokjin sebenarnya. Ya ampun.., Seokjin peduli padanya.

"Terima kasih nyonya dan nona muda."

"Jangan memanggilku seperti itu tuan,"

"Tidak apa, lagipula nona muda akan menjadi nona muda bagiku nanti berhubung Namjoon-"

"Hooaamm.., entah kenapa aku mengantuk, boleh aku tidur sekarang?"

"Ya, kau bisa tidur di kamar Seokjin."

Demi apapun yang ada di dunia.. ini benar-benar membuat Namjoon ingin melompat dari jurang, emm.. hanya ungkapan.. kurang lebih, jangan dianggap serius. Namjoon hanya merasa tidak sanggup menahan debaran dari jantungnya yang semakin memburu. Namjoon ingin memberitahu orang tuanya.., tapi apa mereka akan setuju? Umurnya baru menginjak 22 tahun dan.. Seokjin hanyalah gadis biasa dimata orang seperti orang tuanya. Aah.., persetan, Namjoon bisa mengurus itu nanti.

.

.

TBC

Entah ada yang sadar atau ngga, tapi ceritanya ngebosenin yah.. karena itu makasih yang udah baca, terutama yang ngasih saran dan masukkin cerita ini ke dalam list cerita favorit kalian, makasih banyak yaa :). Ada yang tau film How to Train Your Dragon? Kalau NamJin jadi cast-nya gimana yaa? Anyway, have a nice day! Peace.