Bonus
Warning: sudut pandang Kai (bukan Kai's POV lho yaa!)
Inspired: EXO - Overdose
Kai mengacakrambutnya kesal. Matanya menyorot tajam pada laporan yang diberikan anak buahnya.
Gagal. Lagi-lagi transaksinya gagal.
Siapa lagi yang menggagalkan transaksinya kalau bukan Do Seungsoo si kepala polisi sialan!
Dia harus membuat perhitungan.
"Cari tahu tentang keluarga Do Seungsoo," perintahnya pada anak buahnya.
Kalau dia kehilangan uangnya, maka Do Seungsoo harus kehilangan sesuatu juga.
Itulah arti keadilan baginya.
Kai membaca email yang baru dikirimkan oleh anak buahnya. Matanya fokus menelusuri setiap tulisan dan foto.
Data pribadi dan data keluarga Do Seungsoo.
Tinggal di Gyeonggi-Do. Punya satu istri yang berwajah keibuan dan dua anak. Do Kyungsoo, laki-laki, 16 tahun, sekolah di SM High School. Do Jinri, perempuan, 6 tahun, sekolah di SM Elementary School.
Kai akui kalau istri si kepala polisi itu cantik, namun entah kenapa matanya terkunci pada foto seorang pemuda bermata bulat dan berbibir sexy.
Do Kyungsoo.
Dan mendadak perasaan itu muncul.
Kai menginginkannya.
Menginginkan sosok Do Kyungsoo untuk dirinya, ada dalam dominasinya.
Diraihnya ponsel hitam yang tergeletak di dekat laptopnya. Dengan cepat tangannya mengetikkan nomor entah milik siapa.
"Cari tahu tentang Do Kyungsoo,"
Katakan Kai terobsesi pada Do Kyungsoo. Selama satu tahun terakhir ini, Kai mengumpulkan semua informasi mengenai Do Kyungsoo. Semakin banyak yang Kai tahu, semakin bos narkoba itu terperosok lebih dalam oleh pesona si anak kepala polisi.
Kai benar-benar jatuh pada pesona Kyungsoo, bahkan tanpa pernah benar-benar bertemu.
Kai menatap semua foto yang tersebar memenuhi mejanya. Ada satu kesamaan dari semua foto tersebut. objeknya adalah orang yang sama.
Pemuda manis bermata bulat dan berbibir sexy. Do Kyungsoo.
Ada foto Kyungsoo sedang belajar di kelas. Ada foto Kyungsoo sedang mendribble bola basket. Foto Kyungsoo sedang tersenyum manis. Foto Kyungsoo sedang tertawa, membuat matanya terlihat seperti bulan sabit. Kyungsoo sedang berlatih bela diri. Kyungsoo sedang berkelahi dengan beberapa preman. Kyungsoo sedang mandi. Dan masih banyak lagi.
ya, katakan saja Kai menjadi seorang stalker.
Dari semua foto itu, yang paling banyak adalah foto Kyungsoo sedang bersama dengan seorang gadis kecil yang juga bermata bulat. Entah itu Kyungsoo sedang menggendongnya, menuntunnya, atau tertawa bersama.
Itu Do Jinri, adik satu ayah Kyungsoo. Orang yang paling disayangi Kyungsoo.
Sekaligus titik lemahnya.
Kai tersenyum lebar dengan sebuah rencana di harus dia lakukan adalah mencari alasan untuk rencana tersebut.
Hanya butuh waktu sedikit lagi, maka Do Seungsoo akan kehilangan miliknya yang berharga dan Kai akan mendapatkan yang dia inginkan.
Do Kyungsoo.
Lagi-lagi Do Seungsoo menggagalkan transaksinya. Semua kokain dan marijuana miliknya diambil oleh para polisi tersebut.
Tapi Kai tak marah, dia tidak marah sama sekali.
Sebaliknya, mulutnya menyunggingkan senyum licik. Ya, rencananya sudah dimulai.
Dengan tenang Kai mengetikkan pesan di ponselnya dan mengirimnya ke nomor ponsel pribadi sang kepala polisi.
Setelah selesai, Kai mengganti sim cardnya dan membuang yang lama.
To: 021xxxxxxxxxx90
Uang yang kau ambil dariku, anggap saja itu harga untuk anakmu. Dia milikku sekarang.
.
.
Di samping ruang interogasi, Do Seungsoo menggeram marah. Tangannya melempar ponsel di genggamannya hingga membentur tembok dan jatuh ke lantai. Anak buahnya yang lain hanya menatapnya bingung dan terkejut.
Entah kenapa pikirannya tertuju pada anak sulungnya. Apa Kyungsoo yang dimaksud kriminal itu?
Kai menatap pengeroyokan itu dari jarak yang tidak terlalu jauh. tapi tidak ada siapapun yang menyadarinya.
Kyungsoonya sedang berkelahi dengan berandalan-entah siapa.
"Kukira kau temanku!"
Kai terkekeh mendengar suara Kyungsoo. Dihianati oleh teman, eh?
Anak itu memang terlalu polos, terlalu naif. Karena itu, Kai akan menjaganya di sisinya, agar tidak ada seorang pun yang akan menghianatinya lagi, menyakitinya lagi.
Kai berjalan perlahan ke arah perkelahian. Dengan mudah dilumpuhkannya dua orang yang berdiri di hadapannya. Matanya menatap tajam dan tidak suka ketika si berandalan-mantan-teman-Kyungsoo itu mengeluarkan gunting. Itu sudah keterlaluan.
Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh Do Kyungsoo, apalagi menyakitinya.
Kai akan turun tangan, sekaligus menjemput mangsanya.
Kai menatap wajah Kyungsoo yang tertidur. Wajahnya terlihat lelah, bibirnya bengkak, rambutnya berantakan.
Tapi Kai menyukainya. Kyungsoonyaterlihat cantik.
Tangan tannya membelai tangan Kyungsoo yang terikat rantai. Sedikit perasaan kasihan menelusup di hatinya. Tapi ditepisnya perasaan tersebut. Anggap saja itu hukuman karena bocah ini sudah menawan hatinya.
Kai memperhatikan Kyungsoo dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bagaimana bisa ada makhluk Tuhan sesempurna ini? begitu cantik, mungil, lembut. Begitu menawan.
Diam-diam Kai berterimakasih pada Tuhan karena sudah menciptakan makhluk sesempurna ini untuknya.
Disibaknya selimut yang menutupi tubuh telanjang Kyungsoo. Pemuda manis itu sedikit terusik namun tidak sampai terbangun.
Entah untuk ke berapa kalinya hari ini, Kai mengagumi tubuh mahakarya Tuhan itu.
Tangan tan itu menyentuh dahi Kyungsoo, merapikan anak rambut yang menutupi dahinya. Sentuhannya turun ke pipi kenyal yang begitu halus. Bagaimana bisa anak lelaki memiliki kulit wajah sehalus ini? kai menggeleng pelan.
Kai terus tersenyum lembut.
Tangan yang begitu kontras dengan kulit putih Kyungsoo itu turun ke leher jenjang si pemuda manis. Disentuhnya setiap kiss mark yang tercetak jelas di kulit putih itu. Dalam hati, Kai bertekad tidak akan pernah membiarkan leher itu lepas dari tanda yang diberikan olehnya. Biar semua orang tahu Kyungsoo miliknya.
Sentuhan itu turun lagi ke dada putih yang naik turun teratur. Lagi-lagi smirknya terkembang melihat pola yang dibuatnya di dada putih tersebut dengan gigi, lidah, dan bibirnya. Sedikit bermain dengan puting kecoklatan yang terasa lembut di jari-jarinya, membuat Kyungsoo sedikit mendesah dalam tidurnya. Puting itu seperti menjadi magnet untuk mata tajam Kai.
Belaian itu berlanjut ke perut ramping Kyungsoo. Kyungsoo memang tidak memiliki six pack yang terbentuk sempurna seperti miliknya. Perut Kyungsoo cenderung datar dan langsing, sedikit mirip dengan perut perempuan. Tapi di mata Kai, perut Kyungsoo masuk dalam kategori sexy dan dapat membuatnya menelan ludah.
Turun lebih jauh, tangan itu melewati selangkangan menuju paha. Tangan Kai membelai paha bagian dalam Kyungsoo. Lagi-lagi mata Kai bisa menangkap kissmark-kissmark yang bertebaran di paha Kyungsoo. Dalam hati, Kai merasa paha itu memang lebih indah dengan hiasan kissmark hasil kreativitasnya.
Selesai tangannya berpetualang di tubuh Kyungsoonya, Kai kembali menutupi tubuh itu dengan selimut tebal.
Tangan Kai meraih ponsel yang diletakkannya di nakas.
"Siapkan semuanya. Kita akan pindah ke Kyoto."
Katakan kai paranoid, tapi Kai benar-benar takut kalau Kyungsoo akan direbut paksa darinya. Kai tidak akan tenang bila tetap tinggal di Seoul. Do Seungsoo mungkin saja menemukan mereka berdua.
Kai akan membawa Kyungsoo pergi jauh dari dunia yang selama ini ditinggalinya dan memberinya dunia yang baru.
Dunia dimana Kyungsoo tidak bisa pergi darinya.
Empat bulan sudah mereka menempati rumah baru Kai di Kyoto. Jauh dari Seoul, jauh dari keluarga dan orang-orang yang mengenal Kyungsoo. Siapa sangka Kyungsoo pandai berbahasa Jepang?
Orang-orang di lingkungan baru ini mengenal Kai dan Kyungsoo sebagai adik kakak pindahan dari Korea Selatan.
Kyungsoo hanya bisa menurut ketika Kai menyuruhnya mengiyakan anggapan orang-orang tersebut. ancaman mengenai adiknya selalu berhasil membuat Kyungsoo menurut.
Lagi-lagi mereka ribut tadi. Sebenarnya hanya satu alasannya, bersekolah.
Hati kai sedikit sakit ketika Kyungsoo berteriak bahwa dirinya memang hanya budak seks Kai sehingga tidak punya hak untuk bersekolah. Padahal bukan itu yang Kai maksud.
Kai hanya takut Kyungsoo akan lari darinya. Meskipun dia cukup percaya diri untuk bisa mengejarnya kembali.
Lagipula –Kyungsoo mungkin belum menyadarinya– Kai tidak menganggap Kyungsoo sebagai budak seksnya, tapi kekasihnya. Orang yang dicintainya sepenuh hati.
Tangan Kai mengelus kepala Kyungsoo yang tertidur di dada telanjangnya. Kyungsoo memang tertidur di atas tubuhnya. Mungkin pemuda bertubuh kecil itu kelelahan setelah Kai meng'hukum'nya akibat pertengkaran mereka tadi. Kejantanan Kai bahkan masih berada di hole Kyungsoo, dan bos narkoba itu tidak berniat untuk mengeluarkannya.
Di raihnya ponsel hitam di bawah bantalnya.
"Siapkan identitas baru untuk Kyungsoo dan surat kepindahan sekolah."
Katakan kalau Kai terlalu lemah untuk menolak keinginan Kyungsoo.
Setahun lebih sudah Kyungsoo menjadi budak Kai. Perlahan Kyungsoo mulai menyadari perlakuan Kai yang lembut padanya. Kyungsoo juga banyak mendapat hal yang baru tentang Kai.
Nama aslinya adalah Kim Jongin. Punya masa lalu kelam. Sebatang kara setelah kakaknya ditembak mati oleh polisi ketika remaja. Lebih tua delapan tahun darinya. Lulus dari K University saat umurnya 23 tahun. Bos dari jaringan narkotika terbesar ke-empat di Korea. Dan satu lagi fakta yang cukup membuat Kyungsoo terhenyak.
Kim Jongin sangat mencintai Do Kyungsoo.
.
.
.
Kai sedikit tersentak ketika tadi sore Kyungsoo mendatanginya dan menanyakan sesuatu yang membuatnya terdiam.
"Apa perasaanmu terhadapku?"
Apakah Kyungsoo sudah mengetahuinya?
Kai tersenyum lebar. Kalau begitu, lebih mudah untuknya mendapatkan hati Do Kyungsoo.
Sudah setahun Kyungsoo berubah marga. Kini namanya adalah Kim Kyungsoo. Hubungan mereka sudah bukan budak-majikan lagi (atau begitulah yang selalu Kyungsoo pikirkan selama ini). kini Kai atau Kim Jongin adalah suaminya. Suami yang sangat mencintainya.
Kadang Kyungsoo suka tertawa sendiri kalau mengingat kisah hidupnya.
Jongin pun sudah tidak takut kehilangan Kyungsoo lagi. Kyungsoo kini sudah bebas berkomunikasi dengan keluarganya, meskipun masih hanya lewat telepon. Jongin masih belum memperbolehkan Kyungsoo bertemu keluarganya.
Kyungsoo sangat senang adik kecilnya, yang kini berusia sembilan tahun masih ingat dengannya. Kyungsoo pun banyak berbicara dengan adik kecilnya itu.
Sekarang Kyungsoo tidak pernah menyesal lagi dengan pertemuannya dengan Kai. Dia bahagia dengan hidupnya sekarang.
Begitu juga dengan Kai.
.
.
FIN
Geje lagi ya? maaf yaaa..
entah kenapa author pengen bikin yang sejenis ini.. hehhehe..
maaf buat kali ini reviewer ga author tulis satu-satu. bukan author kurang berterimakasih, cuman author lagi ngebut bikin tugas yang mendadak deadlinenya dimajuin jadi besok #WTF!
ini juga nengok ffn karena inget ada janji ajaaa...
sekali lagi maaf yaaa...
buat yang ngerasa chap kemaren kecepetan, maaf yaa, kalo ga kaya gitu author ga yakin ini fic bakal beres 2shot. ga ada waktu buat bikin lagiii T.T
buat request fic, author usahain beres dan dipublish secepetnya.
#deepbow
gamshahamnida
minta review boleh?
